Stupid Rapunzel…


Tahukah kau bahwa ada sebuah dongeng yang menceritakan mengenai seorang putri yang dikurung oleh seorang penyihir jahat di atas sebuah menara yang sangat tinggi. Sang penyihir memenjarakan putri itu agar tidak ada satu orang pun yang bisa menemui putri itu dan mengganggunya kecuali sang penyihir itu sendiri. Jika sang penyihir ingin mengunjungi putri itu untuk membawakannya makanan atau hanya sekedar mengecek situasi, sang putri akan menjatuhkan gulungan rambutnya yang sangat panjang ke bawah menara melalui jendela agar sang penyihir bisa memanjat naik. Jadi begitulah, sang putri tidak pernah turun dari menara dan terbelenggu di sana sampai suatu saat ada seorang pangeran yang secara tidak disengaja ataupun tidak menemukan menara itu, jatuh cinta kepada sang putri, membunuh sang penyihir dan membebaskan sang putri. Tamat, akhir yang bahagia, habis perkara.
Tapi bagiku, perkaranya tidak hanya sampai disini saja.
Aku ingin sekali mencari dimana letak menara tinggi itu. Aku tidak perduli jika ternyata masih ada sang penyihir jahat di dalam menara itu, aku juga tidak perduli dengan ada atau tidak adanya pangeran yang akan menyelamatkanku dari atas menara itu. Aku tidak butuh semua itu, yang aku butuhkan dan sangat aku inginkan hanyalah berada di atas menara itu, sendirian, tanpa gangguan, jauh dari jangkauan orang lain.
Baru kali ini aku merasa begitu ingin menyendiri. Selama ini aku selalu takut sendirian, seolah kata itu dapat menelanku dan menjauhkanku dari segala hal yang bisa menenteramkan. Kesendirian sepertinya mampu membunuhku dengan perlahan dan begitu meyakitkan. Menjauhkanku dari harapan, dukungan dan perhatian yang menenteramkan hati. Tapi kali ini aku rasa aku bisa menerima sedikit kesendirian, bahkan aku rela berada di menara tinggi itu sendirian untuk beberapa waktu, karena aku harus merenung.
Apa yang akan aku renungkan?
Aku sendiri juga tidak yakin.
Oke, mari kita sederhanakan pertanyaan-pertanyaan itu terlebih dahulu.
Apa yang membuatku ingin merenung?
… cinta…
Ada sebongkah cinta yang telah mempengaruhiku dengan sedemikian rupa sehingga berhasil membuatku melakukan hal-hal yang selama ini aku pikir tidak akan pernah bisa aku lakukan sebelumnya.
Memangnya apa yang telah aku lakukan?
Aku sempat berupaya membuka hatiku untuk orang lain dan bahkan rela menuruti apa yang diinginkannya untuk sekedar mencoba bagaimana rasanya mencicipi hati orang lain. Padahal aku sama sekali tidak mengenal orang itu. Iya, aku tahu, aku memang bodoh. Tapi apa lagi yang bisa aku lakukan kalau aku sudah merasa seperti terhipnotis oleh sesuatu yang sangat kuat yang dinamakan cinta? Cinta semu, cinta sesaat, cinta gorilla, entah apa istilah yang tepat untuk menyebutnya. Seharusnya aku ingat sebuah nasihat yang mengatakan bahwa tidak baik berbicara dengan orang asing, apa lagi mudah dipengaruhi olehnya.
Ya sudahlah, apa lagi yang bisa aku lakukan? Semua itu sudah terjadi.
Dan apa hasil yang aku dapatkan?
Aku tidak mendapatkan apa-apa.
Setelah semua pengorbanan yang telah aku lakukan, setelah semua keinginannya aku turuti, setelah setiap jalan yang diinginkannya aku ikuti telah kujalani, yang aku dapatkan hanyalah ucapan terima kasih.
Oh, kau menyebutnya sebuah pertemanan.
Aku mengisi hatimu saat kau merasa kosong tapi lalu harus segera pergi dari kedudukan itu saat sebuah kesempatan besar pengisi hatimu yang 'kosong' datang di depan matamu. Kedengarannnya seperti ban serep.
Sial!
Dan yang lebih memuakkan lagi adalah kenyataan bahwa aku tidak boleh mengeluh, mengumpat atau bahkan mengundurkan diri, karena tanpa sadar aku telah menyetujui semua syarat-syarat itu saat aku memutuskan untuk mengikuti jalan yang disediakannya. Sepertinya aku telah menandatangani kontrak bunuh diriku sendiri, tanpa aku sadari.
Ya Tuhan, ini semua adalah ulahnya. Tak tiknya begitu jitu sehingga apa pun yang akhirnya dia pilih semuanya akan berdampak bagus bagi dirinya sendiri. Peduli setan dengan nasibku, apa pedulinya dengan nasib orang lain.
Aku tahu, seharusnya aku sudah menyadarinya dari awal. Bodoh.
Jadi seharusnya aku tak perlu sebegini terpuruk dan menderita, karena… aku juga sudah mengatur strategiku sendiri, bukan? Ingatkah kau bahwa sebongkah cinta yang lain selalu siap untukmu, untuk memuaskan keserakahanmu atas cinta dan kasih sayang? Iya, benar juga. Bahkan cinta itu jauh lebih besar dan jauh lebih dalam juga jauh lebih membahagiakan bagiku. Cinta yang nyaris selalu berkobar dan tak pernah padam atau bahkan meredup. Jadi tak perlu bergaul dengan kecemburuan, lupakan khayalan tingkat tinggimu, ambil saja cinta itu.
Memang beginilah akhirnya. Dari awal memang akan menjadi seperti ini.
Aku meletakkan sisirku di atas meja dan merasakan semilir angin yang bertiup dari jendela yang juga adalah pintu masuk menara tinggi itu. Bayangan wajahku yang dipantulkan cermin di hadapanku kelihatan sulit untuk di tebak. Seperti gabungan antara raut wajah sedih, pasrah dan kecewa juga tenang membaur menjadi satu.
" Hallo, my princess… "
Itu dia pangeranku. Dia datang menemuiku untuk menyelamatkanku dari menara tinggi ini. Lihat, dia tidak perlu naik menggunakan gulungan rambut panjangku, aku juga tidak perlu berteriak dengan begitu keras untuk meminta tolong. Dia datang begitu saja, seolah tahu bahwa aku sedang berada dalam bahaya dan segera butuh pertolongan.
Tentu saja, dia kan memang pangeranku.

 
200809~Black Rabbit~