Selamat datang ke dalam duniaku ...
Dunia dimana kau tidak akan bisa keluar begitu menginjakkan kakimu di dalamnya ...
Dunia yang lebih rumit dari pada sebuah labirin ...
Tapi juga bisa dilalui dengan sangat mudah seperti sebuah jalan bebas hambatan ...
Dan dapat begitu menghanyutkan layaknya aliran sungai ...
Kau bisa sangat membencinya sekaligus juga sangat menyukainya ...
Nikmati saja, karena ini adalah duniaku ...

STAR TREK INTO DARKNESS


Jika ada satu film mengenai penjelajahan luar angkasa yang dikenal semua orang dan sangat ditunggu-tunggu kehadirannya, mungkin serial Star Trek adalah salah satu nama film yang akan disebut selain Star Wars yang tak kalah fenomenalnya. Setelah sukses menghantarkan reboot Star Trek pertamanya pada 2009, kali ini sang sutradara J.J Abrams kembali menyajikan kelanjutan kisahnya.
Awal kisah Star Trek kali ini menceritakan Kapten James T. Kirk (Chris Pine) yang harus mendapatkan hukuman karena melakukan kecerobohan pada salah satu tugas mereka di sebuah planet bernama Nibiru. Walaupun sebenarnya Kirk berusaha menyelamatkan nyawa Spock (Zachary Quinto), sahabat sekaligus Perwira Pertama-nya, tapi para petinggi di Starfleet Enterprise tidak memberi sedikit pun kelonggaran. Mereka menurunkan jabatan Kirk menjadi Perwira Pertama dan menyerahkan tugas mengepalai pesawat penjelajah luar angkasa USS Enterprise tersebut kembali kepada Admiral Christopher Pike (Bruce Greenwood). Dan bukan hanya itu, Spock yang merupakan keturunan ras Vulcan yang sangat patuh dengan peraturan dan tidak bisa berbohong malah menyalahkan Kirk dan sama sekali tidak berterima kasih kepada sahabatnya karena telah menyelamatkan nyawanya. Persahabatan mereka pun terancam.
Sementara itu, salah seorang mantan anggota Starfleet, agent John Harrison (Benedict Cumberbatch) meledakkan markas Starfleet Enterprise sector 31 yang penuh rahasia dan melakukan penyerangan saat pertemuan para petinggi Starfleet dilaksanakan untuk membahas peledakan tersebut. Harrison lalu kabur ke planet Kronos di mana planet tersebut dihuni oleh ras Klingon yang tidak terlalu akur dengan para penghuni bumi. Penyerangan mendadak itu mengakibatkan terbunuhnya Pike yang membuat Kirk sangat terpukul. Dengan penuh kesedihan dan niat untuk membalas dendam, Kirk meminta izin Laksamana Alexander Marcus (Peter Weller) untuk mengejar dan menangkap Horrison ke planet Kronos. Marcus memberikan izinnya dan membekali Kirk dengan 72 Photon Torpedo sekaligus perintah jelas untuk membunuh Harrison dengan menembakkan torpedo itu di tempatnya bersembunyi.
Walaupun harus rela kehilangan Chief Engineer-nya, Montgomery ‘Scotty’ Scott yang mengundurkan diri karena tidak setuju mengangkut 72 buah Photon Torpedo yang misterius, tapi Kirk yang kembali menjadi Kapten tetap memimpin pesawat USS Enterprise untuk melakukan tugas militer pertama mereka dengan didampingi oleh Spock, Nyota Uhura (Zoe Saldana), Dr. Leonard ‘Bones’ McCoy (Karl Urban), Pavel Chekov (Anton Yelchin) dan para awak lain yang setia. Tapi ternyata tugas ini tidak semudah yang dibayangkan. Saat ingin menangkap Harrison, Kirk malah bertemu dengan para Klingon yang ingin membunuh mereka. Dan tiba-tiba Harrison muncul untuk menyelamatkan mereka dan mengatakan bahwa dia bersedia untuk menyerahkan diri sesudahnya.
Kirk yang mengira tugasnya sudah akan selesai dengan memutuskan untuk menyerahkan Harrison kepada Marcus harus mengalami penundaan karena kapal luar angkasa mereka mengalami kerusakan Warp. Saat itu Harrison mengatakan bahwa kerusakan tersebut diakibatkan oleh 72 torpedo yang dibawa Kirk di cargo yang membuat Kirk dan para awak kapal kebingungan. Dan bukan hanya itu, Harrison pun mengatakan bahwa sebenarnya dia bernama Khan, seorang manusia super yang tidur di dalam tabung Cyrogenic selama lebih dari 300 tahun. Dan Khan mengatakan bahwa Marcus yang telah membangunkannya dari tidur panjang dengan keinginan untuk membuat sebuah senjata canggih yang dapat melawan Kerajaan Klingon.
Apakah yang dikatakan Khan adalah benar? Siapakah dia sebenarnya dan apa hubungannya dengan Marcus?
Sebelum membahas lebih jauh mengenai film ini, saya ingin membuat pengakuan dulu. Sungguh, ini serius.
Selama beberapa tahun belakangan ini saya sudah bulak-balik masuk bioskop, menonton berbagai macam jenis film dengan berbagai genre. Dan selama itu pula saya tidak pernah merasa benar-benar jatuh cinta dengan tokoh antagonis dalam film-film tersebut. Serius, loh. Tokoh antagonis memang cukup susah untuk dicintai. Bagaimana tidak? Tokoh antagonis biasanya bersifat jahat, bermuka sadis dan sangat menyebalkan. Pokoknya sama sekali tidak menarik, terutama untuk kaum wanita.
Tapi eh tapi, setelah saya menonton film Star Trek Into Darkness semua pandangan saya mengenai kejelekan peran antagonis hilang sudah! Serius! Ini Benedict Cumberbatch KEREN banget! Dia ganteng! Actingnya keren banget! Dan dia orang Inggris! Sumpeh, Benedict I Love You!!!
… … …
Ehm! Oke, kali ini saya mau membahas tentang filmnya, jadi saya harus serius dan melupakan sejenak ‘cinta pada pandangan pertama’ saya ini.  Ehm-ehm!
Secara keseluruhan saya sangat suka dengan cerita Star Trek kali ini. Scene pembuka film ini cukup seru dan menggugah adrenalin sekaligus rasa penasaran. Alurnya cepat, shocking scene-nya terasa tepat, para tokoh juga memiliki ciri khas yang kuat dan penuh karakter. Beberapa twist memang dibuat dengan kompleksitas yang cukup tinggi sehingga bisa sedikit membingungkan, tapi akhir dari twist-twist tersebut tidak mudah ditebak dan cukup menghibur. Jika berbicara tentang animasi, tentu saja tema Star Trek dan paduan tangan dingin J.J Abrams tidak perlu diragukan lagi.
Gabungan semua ini terasa begitu pas dan begitu menghibur sehingga dengan senang hati saya akan memberikan empat dari lima bintang untuk film ini. Tentunya dengan dengan nilai paling besar saya berikan kepada pemeran sang tokoh antagonis Benedict Cumberbatch yang bisa mengalahkan sang tokoh utamanya untuk hampir di semua aspek.
Jadi, untuk kalian pecinta franchise yang diciptakan sejak tahun 1966 ini atau untuk kalian pecinta film bergenre science fiction yang penuh animasi memanjakan mata dan kualitas acting yang mumpuni dari para pemerannya, film ini benar-benar sayang untuk dilewatkan. Dan kalau kalian berniat untuk menonton Star Trek Into Darkness ini, saya titip salam untuk Khan yah… ;3



Questions Book ( page 66 )


Ada saat di mana aku begitu ingin menghambur ke pelukanmu
Berteduh di sana dengan nyaman
Di tempat yang kau sebut sebagai tempatku berlindung
Aku yakin ada rasa aman di sana
Ada rasa nyaman yang bisa aku dapatkan
Tempat kedua di bumi di mana aku bisa merasakan semua itu
Ada saatnya aku ingin melupakan ketidaksanggupan yang melingkupi kita
Ketidakberdayaan yang diam-diam membuatku lemah
Membuat setengah hatiku lumpuh
Kau ingat dengan bayangan kita yang saling melepas rindu itu?
Kau ingat rasa menggebu-gebu itu?
Aku yakin kau ingat
Sebagaimana aku bisa mengingat dengan jelas kata-katamu waktu itu
“Sayang tak selamanya harus memiliki”
Tapi aku yakin sayang itu masih terasa manis
Tak akan pernah hilang
Seperti pancaran binar matamu yang masih sama
Tak peduli apakah setengah hatiku telah membatu atas nama orang lain
Perasaan itu akan tetap sama
Entah sampai kapan.

130513 ~Black Rabbit~

RAPID FIRE QUESTION

wahhh.... saya dapet rangkaian pertanyaan yang menarik banget dari sahabat saya, +Ria Tumimomor
karena pertanyaannya seputar buku dan tulis menulis, jadi saya mau banget ikutan jawab....
ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab, antara lain:

- Pertanyaan WAJIB:
1. nambah atau ngurangin timbunan buku?
Me: nambah. tapi untungnya saya cukup pemilih soal buku yang saya beli, jadi nambahnya nggak terlalu banyak. kecuali dapet buku bagus yang lagi discount. hehehehe...
2. pinjam atau beli buku?
Me: lebih suka beli. lebih bebas bacanya. :D
3. baca buku atau nonton film?
Me: wah susah nih. saya suka dua-duanya. suka banget. tapi saya lebih suka baca buku, sih. lebih seru dan lebih bebas berimajinasi. :)
4. beli buku online atau offline (tobuk yang temboknya bisa disentuh)?
Me: offline,  bisa lebih bebas milih soalnya....
5. (penting) buku bajakan atau ori?
Me: ori dong.... biasanya kualitasnya lebih bagus...
6. gratisan atau diskonan?
Me: diskonan aja deh. soalnya kalo yang gratisan belum tentu buku yang saya mau.
7. beli pre-order atau menanti dengan sabar?
Me: menanti dengan sabar juga nggak masalah....
8. buku asing (terjemahan) atau lokal?
Me: jujur aja, nih. saya lebih suka buku terjemahan soalnya materinya (biasanya) lebih menarik.
9. pembatas buku penting atau biasa aja?
Me: kalau ada sih ya bagus, kalo nggak ada juga nggak apa-apa. saya kan punya koleksi bookmark yang lain. hehehe....
10. bookmarks atau bungkus chiki?
Me: maksudnya apa yah ini? kalo buat buku ya mendingan bookmark, tapi kalo lagi laper yah chiki aja deh! :D

- Pertanyaan tambahan:
1. novel atau komik?
Me: dulu sih dua-duanya, sekarang lebih suka novel.
2. disampul atau nggak?
Me: disampul dong... biar covernya awet!
3. notes FB atau blog?
Me: defenitely BLOG!
4. cover atau sinopsis?
Me: sinopsis. cover bisa menipu!
5. dijual atau disumbangkan?
Me: pengennya sih dijual biar bisa beli buku baru lagi. hehehehe.... XD

- Pertanyaan tambahan dari Sista Ria:
1. Facebook atau Twitter?
Me: Twitter. di facebook udah banyak yang nyebelin. paling cuma share twit aja ke FB.
2. tidur di angkot atau membaca di angkot?
Me: tidur. baca di dalam angkot suka bikin pusing.
3. mengetik atau menulis?
Me: menulis, ada sensasi lebih dari pada mengetik walaupun tetep aja ujung-ujungnya harus mengetik juga. hehehehe....
4. lebih enak buku atau e-book?
Me: buku. baca e-book terlalu lama bisa bikin pusing dan sakit mata. entar minus mata bisa nambah lagi.....
5. buku baru atau baju baru?
Me: BUKU DONGGGGG..... udah beli buku baru beli baju. hahahaha....

yes, udah dijawab! saya nggak bakal nge-tag yang lain deh. kan saya baik.... apa coba...
buat kalian yang mau menjawab pertanyaan macam ini, silahkan bikin di blog masing-masing dan mention linknya ke saya via twitter @black_rabbit13. nanti saya RT deh... (^_^)

LAWLESS


Hai! Ketemu lagi di rublik review film. Jangan bosen baca review film saya yang suka ngaco ini, yah… J
Kali ini saya akan membahas sebuah historical crime drama film yang baru saja saya tonton hari Sabtu kemarin, judulnya Lawless.
Film ini menceritakan kisah mengenai keluarga Bondurant pada tahun 1931 yang memproduksi minuman keras sejenis Whiskey terenak dan cukup terkenal di wilayah Franklin Country, Virginia. Di daerah tersebut keluarga Bondurant memang termasuk keluarga yang disegani dan terkenal sebagai keluarga keturunan Indian yang bersifat keras, kuat dan ‘tidak bisa mati’. Sang kakak tertua, Howard Bondurant (Jason Clarke), terkenal sebagai seorang kakak yang sangat melindungi adik-adiknya. Sedangkan anak kedua, Forrest Bondurant (Tom Hardy) begitu idealis, karismatik dan cukup ditakuti semua orang. Sementara itu, anak bungsu keluarga Bondurant, yaitu Jack Bondurant (Shia LaBeouf) sedang berada di usia puber di mana keinginan untuk membuktikan diri dan ‘menyamaratakan’ namanya dengan kedua kakaknya begitu menggebu-gebu. Tapi keinginan tersebut malah sering kali membuatnya terjerumus pada keadaan sulit.
Suatu ketika, seorang petugas perwakilan dari Virginia Commonwealth Attorney Mason Wardell bernama Charley Rakes (Guy Pearce) datang ke wilayah tersebut untuk meminta pajak yang cukup besar kepada para pengusaha di daerah tersebut. Forrest yang cukup keras kepala dan idealis sama sekali tidak ingin membayar dan mengancam akan membunuh Rakes jika dia berani datang menemuinya lagi. Tapi Rakes tidak menyerah begitu saja. Dengan bantuan Sheriff dan petugas lain yang terpaksa mematuhinya, Rakes mengintai keluarga Bondurant untuk mengetahui tempat pembuatan minuman keras mereka yang terkenal itu.
Sementara itu, Jack yang masih berniat membuktikan diri kepada kedua kakaknya mencoba membuat minuman baru yang jauh lebih enak dengan bantuan sahabatnya: Criket Pate (Dane DeHaan). Tapi karena masih begitu ceroboh, Rakes malah menemukan gubuk tempat Jack dan Criket menyuling minuman mereka dan memukuli Jack. Jack kembali kepada kedua kakaknya dengan wajah babak belur dan mengirimkan pesan bahwa Rakes ingin Forrest tunduk kepada perintahnya. Tapi tentu saja Forrest tidak mau. Tindakan Forrest yang keras kepala ini membuat Rakes semakin kesal. Dia membayar dua orang preman untuk datang ke restoran keluarga Bondurant dan mengganggu pramusaji mereka yang baru: Maggie Beauford (Jessica Chastein). Forrest yang diam-diam menaruh hati kepada Maggie memukul kedua preman tersebut dan mengusir mereka. Tapi saat restoran itu sudah tutup, kedua preman itu kembali untuk menggorok leher Forrest dan memperkosa Maggie.
Saat Forrest sedang dalam masa pemulihan, Jack merasa mendapat kesempatan untuk membuktikan diri kepada kedua kakaknya. Dia menjual semua persediaan minuman keras yang sudah dikumpulkan Forrest kepada seorang gangster bernama Floyd Banner (Gary Oldman) dengan harga dua kali lipat. Dan bukan hanya itu, Floyd juga memberikan alamat kedua preman yang telah menganiyaya Forrest dan Maggie sehingga Forrest dengan bantuan Howard bisa membunuh preman-preman itu untuk membalas dendam. Walau pada awalnya Forrest dan Howard begitu kesal dengan kelancangan sang adik, tapi pada akhirnya Floyd Banner menjadi pelanggan tetap mereka. Dengan harga yang lebih mahal dan jumlah pesanan yang banyak, kakak beradik Bondurant akhirnya mampu mengembangkan produksi minuman keras mereka menjadi lebih besar dan berhasil mengumpulkan lebih banyak uang lagi.
Rakes naik pitam mengetahui hal ini. Dengan mengikuti Jack yang membawa pacarnya, Bertha Minnix (Mia Wasikowska) ke tempat penyulingan terbesar mereka di pinggir hutan, Rakes menggerebek tempat itu, meledakkannya sehingga rata dengan tanah dan membunuh Criket. Hal ini membuat seluruh anggota keluarga Bondurant marah sehingga pertempuran berdarah pun tak bisa dihindari lagi.
Film yang disutradarai oleh John Hilcoat, salah seorang sutradara asal Australia yang cukup menjanjikan ini terasa begitu pas untuk saya. Saya suka ceritanya yang diangkat dari sebuah novel berjudul The Wettest Country In The World karangan Matt Bondurant yang memang diambil dari kisah nyata sang kakek beserta paman sang penulis sendiri. Alurnya juga tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat, dengan detail cerita yang rapi, dialog yang mudah dimengerti dan twist yang tidak berlebihan. Setting cerita juga bagus, dengan costum dan make up yang pas. Para tokohnya juga unik dengan karakter tokoh yang terbentuk kuat. Apa lagi para actor dan actress yang berperan di dalam film ini memang sudah tidak perlu diragukan lagi kemampuan beraktingnya, sehingga emosi penonton dapat tercipta dengan baik. Saya secara pribadi ingin ‘mengangkat topi’ setinggi-tingginya untuk acting Tom Hardy dan Guy Pearce yang spectacular di film ini.
Memang adegan kekerasan dan pertumpahan darah dalam film ini cukup sadis dan bisa membuat bulu kuduk merinding, tapi saya sempat merasa heran karena film yang menyandang rating R (Resticted) ini justru tidak terlalu menonjolkan unsur nuditynya. Sejujurnya, kenyataan yang satu ini membuat saya senang karena selama saya menonton film bioskop, sebagian besar film dengan genre serupa akan dengan senang hati  menambahkan adegan nude sebagai salah satu daya tariknya. Tapi bahkan costum para actress pun tidak menonjolkan keseksian yang terlalu berlebihan atau dibuat-buat. Paling tidak dengan begini saya yakin film ini digarap dengan serius.
Saya dengan senang hati memberikan empat dari lima bintang untuk film ini. Dan dengan jajaran nama besar lain yang muncul, seperti Gary Oldman yang legendaries, Shia LeBauf yang sedang naik daun dan juga Jessica Chastain yang baru saja memenangkan Golden Globe Awards untuk kategori Best Actress-Drama dan Best Actress In a Movie pada Critics’ Choice Movie Awards, film ini tentunya akan sangat sayang untuk dilewatkan. Apa lagi bagi kalian penggemar historical movie yang penuh drama serta action sekaligus.



IRON MAN 3


Apa yang kalian harapkan dari film superhero yang menampilkan tokoh yang sama untuk ketiga kalinya di bioskop? Sebuah prekuel mungkin? Atau sebuah sekuel lain yang menampilkan musuh yang jauh lebih kuat atau jauh lebih terkenal dari pada dua film sebelumnya? Well, kurang lebih pertanyaan semacam inilah yang memenuhi otak saya saat mendengar bahwa salah satu film superhero jebolan Marvel, Iron Man, akan dirilis pada akhir bulan April ini.
Film yang kali ini disutradarai oleh Shane Black yang sebelumnya menyutradarai Kiss Kiss Bang Bang pada tahun 2005 ini masih menceritakan kisah seputar Tony Stark (Robert Downey Jr.) dengan alter egonya sebagai Iron Man. Pada film ketiga ini, Tony mengalami hubungan yang tidak terlalu harmonis dengan kekasih/assistentnya, Virginia ‘Pepper’ Potts (Gwyneth Paltrow) karena Tony terlalu berlebihan mengurusi armor-armornya. Walaupun pada akhirnya Tony malah menjadikan Pepper sebagai CEO Stark Industries tapi Pepper tetap merasa Tony masih kurang memperhatikannya.
Sementara itu, Tony dihadapkan oleh kesalahan masa lalunya di mana pada penghujung tahun 1999 lalu dia dengan seenaknya membuat seorang penemu bernama Aldrich Killian (Guy Pearce) menunggu di atas gedung hotel yang dingin pada malam tahun baru sendirian. Tadinya Tony mengatakan bahwa dia berniat mendanai penelitian yang dilakukan Aldrich, tapi Tony malah menghabiskan waktu dengan Dr. Maya Hansen (Rebecca Hall) yang merupakan seorang Botanis. Merasa sakit hati karena tidak ditanggapi, Aldrich berusaha mengembangkan penelitiannya sendiri dan bertahun-tahun kemudian datang ke Stark Industries untuk ‘membalas dendam’ dengan menawarkan penelitiannya lagi kepada Pepper yang merupakan CEO baru di perusahaan besar itu. Tidak disangka bahwa ternyata sebelumnya Pepper dan Aldrich pernah menjalin hubungan.
Di lain pihak, sebuah terror terjadi dalam pemerintahan Amerika. Seseorang yang mengaku bernama Mandarin (Ben Kingsley), meng-hack semua stasiun televisi dan menyiarkan aksi terorisme yang dilakukannya untuk mengancam Presiden Ellis. Semua pemboman yang dilakukan Mandarin merupakan pemboman yang tidak biasa karena keberadaan bom tersebut tidak bisa terdeteksi dan tidak ada jejak yang ditinggalkan selain bayangan hitam para korban yang seolah lenyap ditelan api bersuhu 3000°C. Kemudian Mandarin berhasil menjebak Col. James Rhodes (Don Cheadle) yang digunakan pemerintah Amerika sebagai Iron Patriot/War Machine dan menangkapnya lalu menggunakan armor itu untuk menculik Presiden Ellis yang sedang berada di dalam Air Force One. Aksi terror Mandarin tidak hanya sampai di situ. Dilatarbelakangi dengan kekesalan Tony karena salah satu bodyguard paling setianya menjadi korban bom misterius itu, Tony dengan penuh emosi menantang Mandarin untuk mendatangi alamatnya sehingga dia ‘dihadiahi’ penyerbuan besar-besaran yang mengakibatkan rumah Tony beserta isinya hancur berantakan.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya? Apakah kali ini Iron Man akan benar-benar berakhir? Dan bagaimana hubungannya dengan Pepper? Dan juga bagaimana nasib Presiden Ellis yang disandera oleh Mandarin?
Sebelum saya melanjutkan untuk ‘membedah’ film ini, perlu saya kabarkan bahwa sebelum menonton film ini di bioskop, sebuah stasiun televisi sudah sangat baik hati menayangkan dua film Iron Man sebelumnya berturut-turut sehingga otak saya merasa disegarkan kembali. Dan otomatis akan lebih mudah bagi saya untuk membandingkan film terbaru dengan kedua film sebelumnya. Jadi, bersiap-siap saja yah, pembedahan saya kali ini sepertinya akan cukup ‘menyakitkan’. Hohohohoho…. *evil laugh*
Oke, dari mana saya harus memulai? Oh, seperti biasa, saya akan mulai dengan membedah ceritanya terlebih dahulu. Dan satu kata untuk film Iron Man 3 kali ini: kacau. Ide cerita mengenai terorisme sebenarnya merupakan ide yang menarik, tapi bumbu dendam pribadi yang ditambahkan malah membuat ceritanya bertambah aneh. Alurnya kacau, kadang melompat-lompat ke sana kemari. Terlalu banyak adegan kebetulan, juga penuh dengan joke yang sama dengan dua film sebelumnya sehingga terasa basi. Dialognya tidak terlalu mudah dimengerti. Bayangkan jika kalian tidak diingatkan kembali pada dua film sebelumnya sementara cukup banyak unsur joke atau dialog yang berkaitan dengan kedua film tersebut tapi tidak mendapatkan penjelasan yang cukup. Saya rasa penonton akan cukup bingung dibuatnya. Juga cerita yang cukup rumit ini membuat film ini tidak cocok bagi anak-anak.
Tokoh yang dihadirkan terlalu banyak sehingga karakter masing-masing tokoh tidak bisa tergali dengan baik. Walau begitu, seperti biasa, animasinya masih patut diacungi jempol. Tapi beberapa armor tambahan hanya mampu memukau saya sebentar saja dan akhirnya terlupakan. Dan apa yang terjadi dengan tokoh antagonisnya?! Aduh, saya berusaha untuk tidak memberi terlalu banyak spoiler di sini, tapi saya tidak tahan untuk tidak menjerit tentang hal ini: KENAPA MANDARIN MENJADI SEPERTI ITU?!?! Memang saya tidak terlalu kenal sosok Mandarin sebelumnya, saya hanya tahu bahwa Mandarin adalah tokoh antagonis utama dalam komik Iron Man. Dengan begitu, saya kira tokoh ini akan begitu memukau, tapi ternyata…. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa acting Ben Kingsley tidak bagus, malah menurut saya actingnyalah yang paling memukau di sini. Tapi, sekali lagi, kenapa Mandarin jadi seperti itu, sih?!?!?!
Belum lagi, menurut saya, endingnya terlalu memaksakan dan tidak masuk akal. Ada begitu banyak pertanyaan yang menggantung di dalam hati dan tidak ada perasaan puas saat film ini selesai saya tonton. Oh iya, jika kisah para tokoh superhero Marvel ini diurutkan, maka Iron Man 3 seharusnya merupakan kisah kelanjutan setelah kisah The Avenger terjadi. Ini bisa dibuktikan dengan sedikit trauma yang dirasakan Tony Stark di film ini, walaupun mungkin fakta ini tidak bisa ditangkap penonton dengan mudah. Tapi kok, Tony sama sekali tidak menyinggung mengenai superhero yang lain? Atau bahkan nama salah satu tokoh The Avenger pun tidak. Bahkan S.H.I.E.L.D pun berperan sangat sedikit di film ini. Itu merupakan salah satu pertanyaan yang tidak saya temukan jawabannya bahkan setelah film ini selesai.
Mungkin sebelumnya saya terlalu banyak berekspektasi pada film ini. Atau mungkin saya sudah terlalu banyak mendapat beberapa bocoran adegan kerennya melalui berbagai preview dan iklan yang beredar sehingga akhirnya saat saya menonton adegan itu secara langsung, tidak ada lagi sensasi takjub yang saya rasakan. Dan yang lebih disayangkan lagi, ternyata tidak ada adegan wow lain yang disisakan untuk bisa memukau penonton lagi.
Mohon maaf untuk para penggemar Iron Man yang membaca review saya kali ini, tapi dengan sangat terpaksa saya hanya memberika dua setengah dari lima bintang untuk film ini. Eit, jangan marah-marah dulu. Saya juga termasuk salah satu fans Iron Man dan Robert Downey Jr. tapi saya tetap harus menilai secara objectif dan seperti inilah penilaian saya. Yah, sebagai tambahan saja nih, partner saya sampai mengatakan kalau di film Superman berikutnya tokoh Lex Luthor yang merupakan antagonis utama mendapatkan nasib yang sama dengan Mandarin, dia akan ‘membunuh’ sutradaranya. Sebagai penggemar berat Superman sekaligus Lex Luthor, saya rasa dia cukup serius :D.