…… CERPEN 3 ……


BUKAN CINDERLELA
Aku sedang membaca.

 
... lalu Cinderlela duduk dan mencoba sepatu kaca itu. Semua orang terperangah saat sepatu kaca itu masuk dengan pas kedalam kakinya, tidak kebesaran seperti pada kaki kakak perempuan pertamanya, atau kekecilan seperti pada kaki kakak keduanya. Dan sang Pangeran langsung melamar Cinderlela menjadi istrinya, and they live happily ever after...

 
Kalian tahu cerita ini, kan? Dongeng Cinderlela yang terkenal itu? Kalian juga pasti tahu, bahkan mungkin sudah menghapal diluar kepala, bahwa kisah itu berakhir dengan bahagia, sama seperti dongeng percintaan lain. Tapi apa kalian yakin dongeng ini benar? Apa tidak ada rekayasa di balik cerita ini? Apa benar Cinderlela dan Pangeran akhirnya hidup bahagia selama-lamanya padahal kalian tidak pernah tahu sampai saat ini siapa nama Pangeran itu? Kalau kalian mau tahu, jawabannya: tidak.
Aku perkenalkan: Cindy Armadela, Cinderlela yang sebenarnya. Dia adalah temanku, dan kenapa aku mengatakan bahwa dia adalah Cinderlela yang sebenarnya? Karena kisah Cinderlela adalah kisah hidupnya. Cindy tinggal bersama ibu tiri dan kedua kakak tirinya yang memperlakukannya dengan tidak terlalu baik. Dia juga pergi ke sebuah pesta dansa yang diadakan keluarga besarku yang memang (bukan maksud menyombong) adalah keturunan bangsawan. Dan dipesta itu dia bertemu Martin, sepupuku, pangerannya. Mereka jatuh cinta tanpa ada insiden sepatu kaca karena waktu itu Cindy mengenakan sepatu biasa. Dan tentu saja tidak ada yang namanya ibu peri. Tapi akhir yang bahagia seperti pada dongeng Cinderlela itu tidak ada. Martin dipaksa pergi ke Amerika, ayahnya ingin membuka lahan perkebunan disana sehingga mereka harus berpisah. Jadi lihat? Tidak ada akhir yang bahagia, itu hanya bumbu pemanis cerita dari tukang dongeng.
Satu lagi yang membedakan Cindy dengan Cinderlela adalah kenyataan bahwa Cindy adalah anak tomboi, tidak feminim seperti Cinderlela. Cindy berambut panjang berwarna merah (yang cukup indah, kalau kau tanya pendapatku) tapi rambut itu selalu di ikat ekor kuda. Cindy senang menggunakan pakaian laki-laki, bukan mengenakan gaun panjang dan besar seperti gadis lain. Dia suka tertawa terbahak-bahak dengan mulut membuka lebar, tidak seperti wanita lain yang biasanya hanya akan tersenyum malu atau tertawa di balik kipas. Cindy juga menyukai teater, hal yang biasa dimainkan laki-laki. Dan dia suka memakai sepatu boot, sepatu kaca tidak akan bertahan lama dikakinya. Sehingga bisa disimpulkan bahwa kisah Cinderlela itu kurang otentik.
Dan apa yang membuatku ingin menceritakan hal ini? Ini semua semata-mata hanya karena satu hal: aku telah dengan tidak sengaja jatuh cinta dengan Cinderlela itu. Dengan Cindy, maksudku.
Ini jelas bukan masalah sederhana bagiku. Pertama, kenyataan bahwa Cindy adalah gadis yang dicintai sepupuku tidak bisa dihilangkan begitu saja. Walaupun aku menganggap kalau sepupuku itu telah melakukan kesalahan besar karena meninggalkan Cindy demi perintah ayahnya, ini tetap tidak mengubah kenyataan. Dia bahkan menitipkan Cindy kepadaku, dan ini menambah dilema tersendiri bagiku.
Kedua, mencintai seorang gadis biasa yang bukan dari keluarga bangsawan, yang darahnya tidak biru, yang uangnya tidak menggunung di brangkas kamar mereka adalah hal tabu dalam keluargaku. Kalau ayah Martin hanya memerintahkan Martin untuk pergi ke Amerika demi usahanya memisahkan Martin dan Cindy, maka keluargaku beda. Pikiran mereka lebih kolot, cara mereka lebih kejam. Keluargaku akan dengan rela melakukan sesuatu agar kami tidak hanya akan berpisah, tapi juga akan saling membenci dengan cara yang tidak terduga. Kalian tidak akan percaya kalau ternyata mereka bisa berbuat seperti itu.
Sudah berkali-kali aku mencoba untuk berpikir lebih rasional lagi. Aku tidak bisa jatuh cinta dengan Cindy. Dunia kami berbeda, terlalu banyak hal yang menghalangi. Aku bukan Martin, yang bisa mengacuhkan orang tuanya mengamuk atau orang lain mencibir karena dia telah jatuh cinta dengan seorang gadis biasa. Bukan berarti aku juga peduli dia bangsawan atau bukan, tapi terlalu banyak yang harus diperjuangkan jika kami ingin bersama. Lagipula, Cindy kelihatan sangat mencintai Martin, dia bahkan rela menunggunya selama setahun ini, jadi aku tidak akan pernah bisa jatuh cinta dengan Cindy.
Roy, sahabatku, sudah sering memperingatkan kalau aku tidak boleh jatuh cinta dengan Cindy. Dia bilang Cindy memang gadis yang gampang dicintai orang (mengingat betapa manis dan supelnya dia, aku setuju), tapi Cindy bukanlah calon yang akan membuat orang tuaku langsung menikahkan kami jika kami mengumumkan bahwa kami saling mencintai. Aku setuju itu, tapi semakin aku berusaha mengerti, aku malah semakin menyukai Cindy.
" Ethan! "
Itu dia Cindy. Dia sedang berlari kearahku, mengenakan celana dan sepatu boot seperti biasa, rambutnya masih dikuncir ekor kuda, wajahnya menyeringai. Otomatis, aku juga ikut menyeringai. Dia sampai didepanku, mengibaskan ekor kudanya ke belakang dan sambil terengah-engah berkata:
" Ethan, kau sudah berjanji akan berlatih denganku hari ini, ayo mulai! "
Aku mengangguk lalu Cindy duduk disebelahku dan menyerahkan buku naskah kepadaku. Kami bermain dalam teater yang sama dimana sekarang kami sedang mempersiapkan pementasan untuk dua bulan lagi. Dalam pementasan itu, kami berdua menjadi pemeran utama yang merupakan sepasang kekasih. Kecut juga kalau ingat bahwa kami berdua bisa menjadi sepasang kekasih hanya di dalam teater.
" Kau kenapa? Latihanmu jelek, tidak biasanya seperti ini. " Kataku sambil memandang wajah cantik itu. Dia memang tidak seperti biasanya, dialog yang dibacanya terpatah-patah dan berhenti tidak pada jeda yang tepat. Matanya juga tidak berbinar-binar lagi, seringainya menjadi jarang muncul. Dia menggeleng, aku melotot tidak percaya, dan akhirnya dia tertunduk.
" Boleh aku pinjam punggungmu? "
Matanya langsung berkaca-kaca, air mata malah sudah menetes dan sebelum aku sempat menjawab, Cindy sudah memutar badanku dan menangis dipunggungku.
Mungkin ini salah satu alasan aku jatuh cinta dengannya. Aku melihatnya tertawa, berjuang, bahkan menangis dengan mata kepalaku sendiri. Aku hanyut kedalam perasaannya, berbagi rasa dengannya, sesuatu yang tidak bisa dirasakan Martin, sehingga perlahan rasa peduliku berubah menjadi rasa sayang dan ingin melindungi. Bahkan sekarang aku begitu ingin memeluknya, biar dia bisa membasahi dadaku saja, jangan punggungku.
Cindy perlahan kembali berbalik ke hadapanku, mencoba tersenyum dengan matanya yang sembab lalu berbagi cerita. Dia bilang kalau dia sedang sedih menghadapi keluarga tirinya yang menyebalkan dan dia sedang sangat merindukan Martin. Ini adalah hal lain yang paling menyebalkan dari Martin yang dia sendiri tidak menyadarinya: dia selalu membuat Cindy menangis.
" Kau tahu? Pedih sekali rasanya jika kau sedang sangat membutuhkan seseorang tapi ternyata orang itu tidak ada disana untukmu. Rasanya seperti ada di pinggir jurang tapi tidak ada yang membantumu menyebranginya. "
" Aku tahu. "
" Tidak, kau tidak tahu. " Kata Cindy menyelaku. Dia tidak tahu bahwa perasaan seperti itulah yang aku rasakan terhadapnya. Ingin menggapainya, tapi tidak pernah bisa tergapai.
" Paling tidak, kau masih punya aku. " Kataku lagi yang membuat Cindy tersenyum lepas kali ini, tidak kecut seperti tadi, tidak dengan mata sembab, tapi benar-benar tersenyum.
" Itulah istimewanya kau dimataku. Kau selalu ada saat aku membutuhkanmu. Kau sudah menjadi lebih spesial dari pada Martin di hatiku. "
Cindy menatapku agak lama, mata ke mata, tapi aku malah menangkap sesuatu yang lain dari mata itu. Dia berpaling lalu berkata lagi:
" Aku mau cuci muka dulu, sekarang pasti terlihat lebih kusut dari pada tadi. "
Dia berbalik. Tapi entah sedang berpikir apa, aku malah menahan kepergiannya dengan memegang lengannya dan langsung menariknya kepelukanku lalu menciumnya. Cindy kelihatan kaget sekali, tapi dia tidak mendorongku, dia membiarkan aku menciumnya selama hampir semenit lalu baru dia mendorongku. Matanya jadi lebih berkaca-kaca lagi.
" Kau! Apa-apaan sih? " Cindy memelototiku dengan mata berkaca-kacanya lalu pergi. Aku yang baru saja sadar, sekarang panik mengejarnya sambil berteriak-teriak.
" Cindy! Cindy, aku minta maaf! "
Aku berhasil meraih tangannya dan menariknya berhenti.
" Apa yang kau lakukan? Kenapa kau menciumku? Apa yang kau pikirkan? "
" Aku minta maaf, tapi aku menciummu dengan sepenuh hati! Aku menyukaimu, Cindy. Aku menyayangimu. Mendengar keluh kesah dan senyum ceriamu malah membuatku tambah menyukaimu! " Aku tidak bisa berpikir, aku hanya bisa berbicara tanpa berpikir.
" Tapi aku pacar sepupumu! "
" Aku tahu. "
" Lagipula-lagipula, kita tidak akan bisa bersatu, derajat kita jauh berbeda, orang tuamu hanya akan membencimu seumur hidup! "
" Tapi aku menyukaimu! "
" Aku juga! " Aku langsung terdiam. " Iya! Aku juga menyukaimu, Ethan, tapi aku tidak bisa bersamamu. Kita berbeda, aku tidak mau kau berkorban untukku, cukup aku dan Martin yang merasakan susahnya pengorbanan itu! Jangan menciumku lagi. Jangan menciumku lagi dan menyesalinya nanti. "
Cindy pergi, kali ini aku tidak bisa menghentikannya. Dia sadar dengan cintaku dan sekaligus dia sadar dengan keadaan keluargaku, itu membuat kakiku tidak bisa bergerak. Kami terlalu berbeda dan dia tahu itu. Dia bahkan tidak ingin aku dibenci orang tuaku seumur hidup. Pikiran kami sama, tapi cinta kami ternyata tidak sejalan.
Sebulan kemudian Martin pulang, menikahi Cindy tanpa perduli dengan orang tuanya dan membawa Cindy ke Amerika. Mereka hidup bahagia selama-lamanya disana.
Sial, ternyata dongeng itu memang berakhir dengan bahagia.

 
# # #

 
Suara tepuk tangan bertalu-talu menggema memantul di ruangan luas itu. Aku tersadar dari lamunan kilatku karena sebuah tangan menarik lenganku dan membawaku ke tengah panggung yang sedari tadi aku naiki. Sudah ada sederet orang ditengah panggung itu, semua mengenakan kostum abad pertengahan dengan make up tebal. Kami semua membungkuk ke arah penonton yang masih saja bertepuk tangan, naik lagi, lalu satu per satu kembali ke belakang panggung.
Dibelakang panggung, situasinya tidak kalah meriah. Walaupun tidak banyak dipenuhi orang, semuanya ikut bertepuk tangan sehingga para pemain satu per satu membungkuk lagi dengan lebih santai dan menyengir lebar.
" Bangus banget, Lan. Lo mainnya bagus banget. "
Seseorang menepuk punggungku dan saat aku berbalik, aku menemukan Mas Agus, sutradara drama teater yang baru saja selesai aku mainkan tadi. Aku menggumamkan terima kasih dengan lemah.
Kalau yang tadi hanya pementasan teater, maka inilah yang sebenarnya: aku adalah Alan, seorang pemain teater yang baru saja selesai mementaskan sebuah drama dengan sangat sukses kalau dilihat dari sambutan penonton tadi. Drama teater yang kalian saksikan tadi berjudul 'Bukan Cinderlela' yang menceritakan _seperti yang kalian ikuti tadi_ mengenai seorang laki-laki keturunan bangsawan yang mencintai gadis bernama Cindy yang kisah hidupnya mirip dengan kisah Cinderlela. Dan Cindy adalah pacar sepupunya sendiri.
Secara sangat kebetulan, drama teater ini memang menceritakan kisahku yang sebenarnya. Aku sama dengan Ethan _nama tokoh yang aku perankan dalam drama teater ini_ yang (memang) menyukai seorang gadis bernama Cindy _yang dalam kehidupan nyataku bernama Dwi. Dwi sama seperti Cindy. Dia adalah gadis tomboi yang cantik dan sama seperti Cindy _yang juga sangat disayangkan_ Dwi juga sudah punya pacar. Nama pacarnya adalah Ben, yang untungnya bukan sepupuku. Dwi tidak tinggal bersama keluarga tirinya, dia tinggal dengan kedua orang tua kandungnya yang sangat menyayanginya.
Jadi sebenarnya yang kisah hidupnya sangat mirip dengan cerita itu, bahkan nasibnya pun sama, adalah aku dan Ethan.
Setelah membersihkan semua make up di wajahku, setelah mengganti baju dengan baju biasa milikku sendiri dan setelah memastikan handphoneku sudah aman di dalam tas, aku melangkah keluar dari ruang ganti untuk pulang dan beristirahat. Ditengah jalan, tepatnya di depan pintu keluar, jalanku terhenti karena aku melihat Dwi disana. Tampaknya dia ingin pulang juga tapi terhenti oleh seorang laki-laki tampan yang menyodorkan serangkaian bunga kepadanya. Itu Ben, pacarnya. Dwi menerima bunga itu sambil tersenyum manis lalu dia merangkul pacar gantengnya dan mereka berjalan beriringan keluar.
Aku terpaku ditempatku, tidak sedang memikirkan apa-apa, hanya tiba-tiba ingat dialog yang dibacakan Dwi saat dia sedang berakting di atas panggung sebagai Cindy bersamaku tadi.
" Pedih sekali rasanya jika kau sedang sangat membutuhkan seseorang tapi ternyata orang itu tidak ada disana untuk kita. "
Aku mengangguk untuk diriku sendiri. Benar juga, seperti berada di pinggir jurang tapi tidak ada orang yang mau membantu menyebranginya, kataku kecut di dalam hati. Sambil tersenyum pahit mengejek kemalangan nasib kisah cintaku sendiri, aku melanjutkan langkahku keluar dari gedung teater untuk menyongsong hari-hariku yang lain yang masih tetap tidak ada Dwi-nya ataupun Cindy-nya.

 
SELESAI