47 RONIN

Pada tahun 2013 ini ada begitu banyak film sekuel yang ditunggu-tunggu oleh para penonton dan merajai tangga box office. Sebut saja film kedua The Hobbit yang baru rilis beberapa hari yang lalu: The Desolution Of Smaug, juga ada film kedua The Hunger Games: Catching Fire, film kedua Thor: The Dark World hingga film kedua Percy Jackson: Sea Of Monster dan masih banyak lagi. Tapi bukan berarti stand-alone movie tidak ada yang rilis, loh. Terdapat Ender’s Game, Elysium, Pacific Rim, Gravity, World War Z dan masih banyak lagi stand-alone movie yang dirilis pada tahun ini dan berhasil menancapkan taringnya dangan cukup kuat di kancah pertarungan box office dunia. Salah satu stand-alone movie yang dirilis pada akhir tahun ini adalah film yang dibintangi oleh Keanu Reeves berjudul 47 Ronin.

Benar, 47 Ronin adalah film yang diadaptasi dari sejarah Jepang yang benar-benar terjadi pada abad ke-18, tepatnya pada 1701. Di Jepang sendiri, kisah fiktif mengenai ke-47 Ronin disebut Chushingura yang sudah sangat terkenal dan melegenda sehingga begitu sering diadaptasi dalam berbagai film, literature, novel, teater bahkan hingga pertunjukan kabuki dan acara televisi Jepang. Kali ini Universal Studios mengangkat legenda ini ke dalam sebuah film layar lebar dengan mengaet seorang sutradara baru bernama Carl Erik Rinsch untuk melakukan debut penyutradaraan film layar lebar pertamanya.

Sama seperti legenda aslinya, 47 Ronin bercerita mengenai 47 samurai tak bertuan yang dipimpin oleh Kuranosuke Oishi (Hiroyuki Sanada) berkeinginan untuk membalas dendam atas kematian tuan mereka Asano Naganori yang harus melakukan ritual bunuh diri (seppuku) untuk mempertahankan kehormatannya yang telah dituduh mencoba melakukan pembunuhan terhadap tamunya yang bernama Kira Yoshinaka (Tadanobu Asano). Untuk menangani tragedy ini, seorang Shogun yang memiliki kekuasaan lebih besar dan yang sedang bertamu di sana dalam rangka menghadiri sebuah turnamen, memutuskan bahwa sang putri mahkota Mika (Kou Shibasaki) yang kini sudah yatim piatu harus menikahi Kira demi melanjutkan masa depan kotanya. Sang putri mahkota tentu saja keberatan karena dia telah lebih dulu jatuh cinta kepada Kai (Keanu Reeves), seorang anak haram keturunan Inggis-Jepang yang dibuang di hutan Tengu dan sudah diangkat anak oleh Asano. Tapi sang putri tidak bisa melawan kekuasaan sang Shogun sehingga dengan berat hati dia harus mengubur dalam-dalam rasa cinta yang tak akan pernah bersatu itu.

Sementara itu Kira Yoshinaka ternyata memiliki hasrat lain di balik semua peristiwa yang telah terjadi. Diam-diam dia ingin menguasai seluruh Jepang dan untuk mendapatkan semua itu dia dibantu oleh seorang penyihir bernama Mizuki (Rinko Kikuchi) yang begitu licik dan jahat. Nah, di sinilah konflik sebenarnya di mulai. Para penduduk Jepang yang sangat kuat menaati budaya leluhurnya sama sekali tidak setuju dengan kehadiran Kai yang dinilai ‘mengotori’ budaya mereka. belum lagi Kai diduga memiliki kekuatan sihir juga karena dibesarkan oleh para ‘hantu’ di hutan Tengu. Kai sendiri tidak pernah mempraktekkan ilmu sihir apa pun dan dia menghormati ilmu samurai yang dikuasainya dan munjunjung tinggi adat Jepang, sama seperti para penduduk asli Jepang itu sendiri. Tapi dengan adanya keterlibatan seorang penyihit, Para Ronin tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima Kai menjadi salah satu di antara mereka jika mereka ingin berhasil membalas dendam.

Untungnya setelah mengenal Kai dan mendapatkan berbagai bantuan berharga darinya, perlahan tapi pasti para Ronin dapat menerima kehadiran Kai yang memiliki keinginan yang sama besarnya untuk membalas dendam kematian ayah angkatnya.

Menurut saya terdapat dua sudut pandang yang haris diperhatikan dalam menilai film yang satu ini. pertama: kita harus menilai dari sisi legenda asi Jepang itu sendiri. Jika ditilik dari sisi ini, film ini memang sangat melenceng dengan cerita aslinya. Beberapa penggemar fanatic sejarah Jepang pasti dengan senang hati akan mencaci maki film ini dengan alasan tidak menampilkan sejarah Jepang dengan autentik. Dalam sejarah Jepang, kisah ini tidak dibumbui dengan kehadiran seorang half-blood dan seorang penyihit di dalamnya. 47 Ronin adalah sebuah sejarah yang murni menceritakan kisah perjuangan para samurai tak bertuan, tanpa ada embel-embel fantasi sama sekali.

Tapi kita harus menilai film ini dari sisi kedua, yaitu sisi Hollywood, yang telah mengadaptasi film ini dan menyebarkannya ke seluruh dunia. Tidak bisa dipungkiri, peranan Hollywood sebagai tonggak perfilman dunia memang sudah tertanam sangat dalam dan menancapkan akarnya dengan sangat kuat di seluruh dunia. Jika sebuah film diproduksi oleh Hollywood, maka besar kemungkinan film tersebut akan dikenal  oleh semua orang, tak peduli jika dari segi pendapatnnya terhitung flop atau tidak. Konsekuensinya? Film yang ingin diproduksi dalam skala Hollywood harus rela mengalami ‘adaptasi’ untuk ‘disusupi’ cirri khas barat di dalamnya. Dalam 57 Ronin ini, Hollywood menambahkan tokoh Kai yang berdarah campuran dan seorang penyihir yang diperankan oleh seorang aktris berbakat bernama Rinko Kikuchi.

Untungnya_menutur saya, jika dilihat dari sudut pandang film, bukan sejarah aslinya_penambahan tokoh ini cukup menarik dan menambah bumbu dalam cerita. Dengan alur yang cepat dan tidak bertele-tele, konflik yang tadinya cukup simple dapat sedikit diperumit dengan adanya jalinan cinta yang tidak mungkin bersatu antara sang putri dan sang ‘monster’. Karakter para tokohnya begitu mudah untuk diterima penonton, entah untuk dicintai atau pun dibenci, dengan kualitas acting yang tidak kalah dengan actor/aktris sekaliber Hollywood, walaupun kebanyakan menggunakan orang-orang asli Jepang. Yang membuat saya sangat kagum adalah setting lokasi, make up dan costume design dalam film ini. Dengan perpaduan warna yang indah dan sinematografi yang menakjubkan, film ini begitu memanjakan mata.


Walaupun terdapat cukup banyak kendala dalam memproduksi film ini dan sempat dipertanyakan keputusan Universal Studios dalam memilih sutradara ‘amatir’ untuk memproduksi film dengan biaya dan cerita sebesar ini, saya rasa film ini cukup berhasil. Saya akan memberikan tida setengah dari lima bintang untuk film ini karena saya sangat menyukai setting dan cerita yang dibangun di dalamnya. Dan bagi kalian pecinta film fantasy petualangan yang ingin mendapatkan penyegaran dengan latar belakang cerita dan setting yang berbeda dari biasanya, film ini sangat sayang untuk dilewatkan.



THE HOBBIT: THE DESOLATION OF SMAUG

Pada 2001 hingga 2003 para penggemar film dan, khususnya, para penganut Tolkienisme di seluruh dunia telah dihebohkan dengan kehadiran trilogy Lord Of The Rings yang diangkat dari novel terkenal karangan J.R.R.Tolkien ke layar perfilman dunia dan berhasil mendapatkan berbagai macam penghargaan bergengsi. Kini sejak 2012 sang sutradara: Peter Jackson menghadirkan sebuah kisah prekuel dari petualangan para pembawa cincin tersebut yang kembali_dengan berani, kalau saya boleh menambahkan_dipecah menjadi tiga bagian. Dan pada Desember 2013 tahun ini, sekaligus memperingati natal dan tahun baru, sutradara asal New Zealand ini ‘menghadiahkan’ seri kedua dari rangkaian trilogy The Hobbit berjudul The Desolation Of Smaug.

Masih menceritakan kisah mengenai seorang Hobbit bernama Bilbo Baggins (Martin Freeman), film kedua ini melanjutkan kisah dari film pertamanya: An Unexpected Journey, di mana film pertama berakhir saat Bilbo dan ketiga belas Dwarves yang dipimpin oleh Thorin Oakenshield (Richard Armitage) dan didampingi oleh Gandalf The Grey (Ian McKellen) diselamatkan oleh sekelompok elang besar dari serangan kelompok Orc penunggang Wargs yang dipimpin oleh seorang Orc albino bernama Azog (Manu Bennett).

Kali ini rombongan yang sedang dalam misi merebut kembali Lonely Mountain dari kekuasaan sang naga Smaug (Benedict Cumberbatch) ini masih harus lari dari kejaran para Orc yang kali ini dikepalai oleh anak Azog: Bolg (Lawrence Makoare) dan tangan kanannya yang kejam dan tanpa ampun: Narzug (Ben Mitchell). Dalam keadaan terdesak, rombongan ini berlindung di sebuah rumah milik seorang skin-charger bernama Beorn (Mikael Persbrandt) yang bisa berubah menjadi seekor beruang besar. Walaupun Beorn tidak terlalu menyukai Dwarves, tapi Beorn lebih tidak menyukai Orc sehingga dia mau membantu rombongan melarikan diri dengan memberikan perbekalan dan kuda. Tapi begitu sampai di pinggir hutan Mirkwood, hutan para Elves, Gandalf harus meninggalkan mereka untuk melakukan sesuatu yang penting di Dol Gundur bersama Radagast The Brown (Sylvester McCoy). Akhirnya para Dwarves dan Bilbo pun masuk ke dalam Mirkwood tanpa kehadiran Gandalf.

Sialnya, instruksi Gandalf yang meminta mereka untuk tidak meninggalkan jalan setapak tidak bisa dilaksanakan dengan mudah. Mereka pun tersesat dan hampir saja menjadi makan malam para Laba-laba raksasa penghuni Mirkwood. Untung saja mereka dibantu oleh kehadiran para Elves yang dipimpin oleh Legolas (Orlando Bloom) dan Tauriel (Evangeline Lily). Rombongan itu menjadi tawanan para Elves dan dibawa untuk menemui raja Thranduil (Craig Hall). Dengan bantuan Bilbo yang kembali mengenakan cincin yang ditemukannya, para Dwarves berhasil kabur dengan cara masuk ke dalam tong-tong anggur kosong dan sampai di kota Esgaroth. Di sana mereka mendapat bantuan dari seorang penduduk bernama Bard (Luke Evans) yang menyelundupkan mereka masuk ke dalam kota.

Dari sana petualangan mereka masih terus berlanjut, masih didominasi dengan usaha mereka untuk melarikan diri dan bersembunyi dari sebuah bayangan hitam yang terus mengikuti mereka. Tujuan mereka juga masih sama: merebut kembali Lonely Mountain dan semua harta yang dijadikan naga Smaug sebagai tempat tidurnya. Dan bagaimana usaha Thorin untuk mencari pusaka keluarganya: Arkenstone yang juga dikuasai Smaug?

Saya sudah pernah menyinggung bahwa untuk membuat sebuah film kedua adalah bukan pekerjaan yang mudah. Ekspektasi penonton menjadi berkali-kali lipat setelah menonton film pertama. Belum lagi sudah terbentuk kelompok penonton yang sudah ‘kadung’ terlalu jatuh cinta dengan film pertamanya sehingga belum apa-apa mereka sudah menetapkan standart mereka sendiri untuk sebuah film kedua. Nah, menurut kalian bagaimana dengan film kedua The Hobbit ini?

Menurut saya sih, film kedua ini benar-benar diluar dugaan saya. Jujur saja, saya termasuk kelompok penonton yang meragukan keputusan Peter Jackson untuk memecah kisah The Hobbit ini menjadi tiga bagian. Saya sendiri pecinta The Hobbit, jauh lebih suka dari pada kisah Lord Of The Rings. Jika dibandingkan dengan novelnya yang tidak terlalu tebal (hanya 348 halaman, terbitan Gramedia tahun 2002) rasanya memecah filmnya menjadi tiga bagian terlalu berlebihan. Dua bagian saya rasa sudah lebih dari cukup.

Memang kisah yang ditawarkan masih sama menariknya seperti kisah pada film pertama. Hadirnya beberapa tokoh baru, termasuk tokoh-tokoh yang sebelumnya telah lebih dulu tampil dalam Lord Of The Rings juga memberikan penyegaran. Sinematografi, animasi dan semua special effect sudah tidak perlu diragukan lagi, apa lagi dengan menggunakan teknologi yang semakin canggih sehingga semua terasa sempurna untuk dilihat. Tapiiiii…… saya tetap tidak bisa mengenyahkan kenyataan bahwa alur film ini terasa sengaja dilambat-lambatkan, seperti karet gelang yang ditarik jauh lebih lebar dari pada yang diperlukan.

Untungnya, Peter Jackson dengan lihai menyiasati kelemahan ini dengan cara menceritakan beberapa cerita yang sebelumnya tidak diceritakan di versi novelnya dan menambahkan beberapa karakter baru yang masih terkait dalam kisah ini. Peter Jackson juga memberikan porsi aksi yang lebih banyak dalam beberapa scene (terutama dalam scene saat para Dwarves melarikan diri dari Mirkwood melalui sungai deras dengan mengendarai tong anggur kosong) yang sebenarnya tidak ada dalam versi novelnya. Dan Peter Jackson juga sengaja menggunakan alur yang meloncat-loncat dari satu kisah ke kisah yang lain agar gereget yang dirasakan penonton tetap terjaga.


Well, walaupun saya tidak terlalu mendukung pembagian kisah The Hobbit ini menjadi tiga bagian, tapi saya bukan termasuk dalam golongan hatters sehingga saya masih bisa menikmati kisah ini dengan sepenuh hati. Tiga setengah dari lima bintang untuk film ini akan saya berikan dengan senang hati. Dan saya dengan sangat tidak sabar akan menunggu kisah pamungkasnya yang direncanakan akan dirilis pada 2014 mendatang.




ONCE UPON A TIME – SEASON 1

This is the first time I write a TV series review. It’s quite challenging, but I won’t make a review if this series didn’t worth to watch, at least for myself. So, please prepare to amaze. =)

Serial televisi yang ditayangkan mulai 23 Oktober 2011 hingga 13 Mei 2012 di ABC channel ini bergenre fantasy drama action yang menceritakan kisah mengenai seorang Evil Queen bernama Regina (Lana Parrilla) yang berkeinginan untuk membalas dendam kepada anak tirinya: Snow White (Ginnifer Goodwin). Diceritakan ketika kecil Snow tanpa sengaja telah melakukan suatu kesalahan yang membuat Regina kehilangan cinta sejatinya sehingga membuat kekuatan jahat dalam diri Regina berkembang menjadi niat membalas dendam yang berakibat buruk. Sangkin ingin membalas dendam kepada Snow, pada hari pernikahan Snow dan cinta sejatinya: Prince ‘Charming’ James (Josh Dallas), Regina menghadiahkan sebuah kutukan di mana semua orang di negeri itu akan kehilangan ‘happy ending’ mereka. Lalu Regina menculik semua orang dan memindahkan mereka ke sebuah kota kecil di Maine bernama Storybrooke di mana waktu seakan berhenti berjalan dan semua makhluk dongeng itu sama sekali tidak ingat dengan masa lalu maupun perbuatan Regina. Kutukan itu hanya bisa dipatahkan oleh Emma (Jennifer Morrison), anak perempuan Snow dan James yang akan datang menyelamatkan mereka pada ulang tahunnya yang kedua puluh delapan setelah berhasil diselamatkan dari kutukan Regina dengan cara ‘memindahkannya’ ke dunia lain sesaat setelah dilahirkan.

Dua puluh delapan tahun kemudian, seorang gadis yatim piatu bernama Emma Swan yang tinggal di Boston kedatangan tamu seorang anak kecil berumur sepuluh tahun bernama Hendry Mills (Jared S. Gilmore) yang mengaku sebagai anak laki-laki yang ditinggalkan Emma di sebuah panti asuhan sepuluh tahun yang lalu sesaat setelah Emma melahirkannya. Hendry meminta Emma datang ke Storybrooke untuk menyelamatkan semua orang dari jerat kutukan sang Evil Queen berdasarkan sebuah buku yang diberikan gurunya. Emma tentu saja tidak percaya begitu saja. Bagaimana mungkin semua makhluk dongeng bisa berada dalam satu kota dan sama sekali tidak mengingat siapa diri mereka karena sebuah kutukan yang diberikan oleh seorang penyihir jahat yang adalah ibu angkat Hendry sendiri? Tapi Hendry berhasil meyakinkan Emma untuk datang ke Storybrooke dan membuktikannya sendiri. Walaupun pada awalnya Emma sama sekali tidak berniat untuk menetap di sana, tapi demi sang anak, Emma bersedia tinggal beberapa hari lebih lama hanya untuk mendapati bahwa semua hal dan semua orang yang terdapat di Storybrooke telah menyita perhatiannya.

Dalam waktu beberapa hari saja, Emma menduduki posisi sheriff di sana. Semakin lama tinggal di sana, dia mengalami berbagai kejadian yang menguatkan kecurigaannya bahwa Regina menyimpan rahasia besar. Tanpa Emma sadari, keinginannya untuk mencampuri semua kegiatan di Storybrooke membuat kekuatan kutukan itu perlahan melemah dan satu per satu penduduk Storybooke mengingat siapa mereka sebenarnya. Tentu saja Regina tidak tinggal diam melihat ini. Regina yang menjabat sebagai walikota di Storybrooke berusaha sekuat tenaga dengan berbagai cara agar Emma bisa pergi dari kota itu dan tidak lagi mencampuri urusannya. Tapi Regina sendiri bahkan lupa bahwa terdapat seorang evil witch yang jauh lebih jahat, jauh lebih kuat dan jauh lebih licik yang juga terkurung di Storybrooke. Dia adalah Rumplestiltskin (Robert Carlyle) yang menjadi seorang tuan tanah di Storybrooke bernama Mr. Gold.

Dan dia memiliki rencananya sendiri.

Ini adalah serial televisi pertama yang menyajikan dua dunia dalam satu film sekaligus: dunia nyata dan dunia dongeng. Dengan kisah yang menarik dan disusun rapi oleh dua orang penulis scenario yang sudah sangat berpengalaman Edward Kitsis dan Adam Horowitz mampu menghasilkan kombinasi yang sangat menarik untuk ditonton.

Alur kisahnya cepat dan setiap tokoh memiliki karakter dan latar belakang masing-masing yang sangat menarik. Tema yang diambil serial ini sangat unik dan dikemas dengan bagus dan pas sehingga mudah diikuti walaupun menggunakan alur maju-mundur dan latar belakang para tokoh yang diceritakan tidak berurutan. Tapi tenang saja, semua formula itu hanya menambah rasa penasaran dan membuat kita semakin tidak sabar menunggu episode selanjutnya.

Saya sangat terkesan dengan berbagai twist yang mampu memberikan rasa penasaran yang konstan dalam setiap episodenya sehingga sama sekali tidak membosankan untuk diikuti. Dan bagaimana mereka bisa menyatukan berbagai kisah dongeng yang sudah sangat dikenal semua orang ke dalam satu cerita baru yang masuk akal dan sangat menarik merupakan hal lain yang sangat patut diacungi empat jempol. Benar loh, hampir semua tokoh dongeng ada di sini, seperti Snow White dan tujuh kurcaci beserta sang Pangerannya yang menjadi salah satu tokoh utama dalam film ini. Ada juga Pinocchio, Geppetto dan Jiminy Cricket, juga Red Riding Hood dan sang nenek, Hansel dan Gretel, Cinderella, bahkan Belle dari dongeng Beauty and The Beast dan Mad Hatter dari Alice In The Wonderland. Mereka memiliki kisah hidup masing-masing yang ternyata saling terkait satu sama lain tanpa mereka sendiri menyadarinya.

Saat ini Once Upon A Time sudah memasuki season ketiga sejak 29 September 2013 hingga sekarang dan sebuah spin-off berjudul Once Upon A Time In Wonderland juga sudah ditayangkan di stasiun TV yang sama sejak 10 Oktober 2013 hingga sekarang. Kesemuanya benar-benar layak untuk ditonton, loh. Untuk season 1 ini saya rela memberikan empat dari lima bintang untuk semua twist cerita yang bikin gregetan, scenario yang luar biasa dan karakter tokoh yang kuat.



Can’t wait to watch more of it! =D

THE HUNGER GAMES: CATCHING FIRE

Setelah seri Harry Potter dan The Twilight Saga telah merampungkan seri mereka, penonton seolah kehilangan film seri yang akan sangat ditunggu-tunggu kelanjutannya di setiap tahun. Tapi rasa kehilangan ini segera terobati saat sebuah film berjudul The Hunger Games yang merupakan adaptasi novel trilogy karya Suzanne Collins diluncurkan pada Maret 2012. Film pertama ini mendapatkan sambutan yang sangat luar biasa sehingga project lanjutannya pun segera dibuat, bahkan seri pamungkasnya pun akan dipecah menjadi dua film seperti yang dilakukan film-film seri berdasarkan novel pendahulu mereka yang menuai sukses luar biasa.

Akhir tahun ini, tepatnya pada November 2013, sequel dari The Hunger Games yang berjudul Catching Fire pun dirilis. Berbeda dari film pertama, film kedua ini disutradarai oleh Francis Lawrence yang bukan saja sudah berhasil menelurkan karya-karya berkualitas seperti Constantine, I Am A Legend dan Water for Elephants, tapi sang sutradara asal America ini pun merupakan sutradara video clip yang sudah malang melintang dan menangani begitu banyak penyanyi terkenal seperti Backstreet Boys, Britney Spears, Justin Timberlake, Beyonce dan bahkan sang Lady Monster: Lady Gaga.

Catching Fire masih mengisahkan dua pemeran utamanya: Katniss Everdeen (Jennifer Lawrence) dan Peeta Mellark (Josh Hutcherson) yang sebelumnya telah berhasil memenangkan pertandingan tahunan Hunger Games ke-74 sebagai satu-satunya dan pertama kalinya pemenang yang merupakan dua orang sepasang kekasih. Padahal sebenarnya Katniss tidak memiliki perasaan special terhadap Peeta sementara Peeta menyimpan perasaan yang tidak berbalas terhadap teman satu Districtnya itu. Tapi hubungan pura-pura mereka sudah menjadi konsumsi public, dan Presiden Coriolanus Snow (Donald Sutherland) sendiri mendatangi Katniss di rumah kemenangannya di District 12 untuk memastikan sekaligus mengancam Katniss agar mau melanjutkan acting mereka sebagai sepasang kekasih bersama Peeta sepanjang tur kemenangan ke seluruh District yang akan mereka lakukan bersama. Katniss sama sekali tidak bisa melawan. Dia bahkan rela untuk mengumumkan pernikahan di depan seluruh District dan di depan kamera walaupun itu berarti dia harus membohongi semua orang lagi dan lagi.

Tapi ternyata pengaruh yang dibawa Katniss dan Peeta tidak hanya sekadar hubungan romantis mereka saja, tapi juga perbuatan mereka yang melanggar peraturan dan menentang Capitol membuat berbagai orang di hampir seluruh District tergerak untuk melakukan pemberontakan terhadap Capitol. Hal ini membuat Presiden Snow semakin kebakaran jenggot. Dengan niat yang sangat mengebu-gebu untuk ‘memusnahkan’ Katniss, President Snow yang dibantu oleh ketua komite Hunger Games yang baru: Plutarch Heavensbee (Philip Seymour) merencanakan permainan Hunger Games yang berbeda dari pada sebelumnya. Dalam rangka memperingati Hunger Games yang ke-75, Presiden Snow dan Plutarch mengadakan Quarter Quell ke-3 di mana dalam Quarter Quell ini para pemenang sebelumnya dari seluruh District akan diundi dan harus bertarung lagi untuk mendapatkan seorang pemenang di antara para pemenang yang lain. Sebagai satu-satunya pemenang wanita dari District 12, Katniss sama sekali tidak bisa mengelak untuk mengikuti Quarter Quell tersebut bersama Peeta yang langsung mengajukan diri setelah sebelumnya mentor mereka: Haymitch Abernathy (Woody Harrelson) yang terpilih.

Bersama tim kemenangan yang sama seperti sebelumnya: Haymitch sebagai mentor, Effie Trinket (Elizabeth Banks) sebagai ‘manager’ dan juga Cinna (Lenny Kravitz) sebagai penata busana, Katniss dan Peeta pun harus mempertaruhkan nyawa sekali lagi. Menurut Haymitch, kali ini Katniss dan Peeta harus bisa berkoalisi bersama para peserta dari District yang lain agar mereka tidak menjadi sasaran empuk pertama yang akan dibunuh di medan pertempuran nanti. Bagi Katniss yang sama sekali tidak mudah bergaul dengan orang lain, ini adalah hal yang cukup sulit, tapi untunglah dengan kekakuannya Katniss akhirnya bisa bersahabat dengan Finnick Odair (Sam Claflin) dan Mags (Lynn Cohen) dari District 4, Wiress (Amanda Plummer) dan Beetee Latier (Jeffrey Wright) dari District 3 dan juga satu-satunya peserta dari District 7 yang arogan Johanna Mason (Jena Malone). Di arena, mereka saling membantu untuk bisa mempertahankan diri dan melancarkan rencana mereka yang ternyata sangat diluar dugaan, bahkan oleh Katniss dan Peeta sendiri.

Dalam sebuah film yang terdiri dari beberapa seri, memang tidak mudah membuat sebuah sequel. Biasanya film kedua akan mendapatkan ekspektasi yang cukup besar dari penonton film pertamanya. Mereka telah mendapatkan sebuah fondasi yang bisa dibilang cukup kuat dari film pertama tersebut dan mengharapkan sebuah kisah lanjutan yang setidaknya harus bisa lebih baik dari pada film pertama. Jika sebuah seri film berdasarkan novel laris, ini merupakan sebuah tantangan tambahan yang sangat memerlukan perhatian tambahan. Pasalnya, para penonton akan terdiri dari para pembaca yang sudah lebih dulu membaca dan tahu bagaimana kisah dalam buku dan film kedua ini akan berakhir. Sang sineas harus bisa ‘menerjemahkan’ film kedua ini dengan sangat baik jika tidak ingin dicerca para pembaca PLUS dicerca para penonton film pertamanya. Benar, membuat sebuah sequel film sangat tricky. Bahkan film seri sebesar Harry Potter, Twilight Saga dan juga Pirates Of The Caribean pun cukup kewalahan membuat sebuah sequel yang bisa memuaskan berbagai pihak.

Tapi sequel The Hunger Games ini sepertinya cukup berhasil. Saya memberikan tiga dari lima bintang. Beberapa media review film yang menampung berbagai komentar dari penonton di seluruh dunia mendapatkan nilai yang cukup bagus untuk film ini. Bahkan para kritikus pun menyetujuinya. Dengan alur yang cepat, plot yang jelas dan karakter tokoh yang sudah cukup kuat di benak para penonton, rasanya memang semua komentar bagus tersebut tidaklah terlalu berlebihan. Ditambah lagi, jajaran pemain dalam film pertama kembali menempati posisi mereka yang membuat para penonton lebih mudah mengingat karakter dan peran mereka seperti sebelumnya. Kualitas acting mereka pun tentunya tidak perlu diragukan lagi, di mana Jennifer Lawrence yang baru saja memenangkan Academy Award dan berbagai penghargaan lain beberapa waktu yang lalu memang bermain sangat apik di sini.

Menurut saya pribadi, film ini cukup menghibur. Memang actionnya tidak terlalu mendominasi, begitu pula dengan romance scene nya yang bisa dibilang minim. Tapi film ini lebih mengutamakan plot dan tema politik yang kompleks, isu social dan mengacu pada kisah di dalam novelnya yang pastinya akan membuat para penggemar novel trilogy ini akan bersorak gembira. Untuk para penonton yang tidak pernah menonton film pertamanya atau lupa dengan kisah Hunger Games yang ditampilkan satu tahun yang lalu, mungkin akan mengalami sedikit ‘lost’. Mungkin jika beberapa peraturan atau hal kecil mengenai Hunger Games bisa sedikit diingatkan kembali dalam film ini, kendala ini akan bisa teratasi. Yah, saya sih menyarankan untuk menonton bersama teman yang memang mengetahui dengan pasti kisah Hunger Games ini atau mungkin bisa menonton film pertamanya lebih dahulu agar tidak merasa ‘lost’ seperti itu.


Oh iya, untuk para penonton ‘baru’ atau yang tidak mengikuti kisah dalam novelnya, jangan kesal dulu dengan ending film yang menggantung itu yah. Maklum, film kedua ini memang merupakan film lanjutan dan juga merupakan ‘perpanjangan’ dari film pertama ke film ketiga: Mocking Jay yang akan dibagi menjadi dua bagian itu. So, silahkan gregetan aja deh… ;)

ENDER’S GAME


It’s a very long story to tell, let me tell you.

Untuk kesekian kalinya film berdasarkan novel dibuat lagi. Kali ini film bergenre science fiction action ini dibuat berdasarkan karya Orson Scott Card dengan judul yang sama. Sebenarnya novel ini memiliki begitu banyak seri dan pertama kali dipublish sebagai sebuah cerpen pada tahun 1977 yang akhirnya dijadikan novel pada tahun 1985 dan serinya terus berlanjut hingga yang terakhir (walau mungkin bukan seri pamungkasnya) dipublish pada tahun 2008 lalu. Sebagai sutradara, Gavin Hood yang telah berhasil membawa film Tsotsi berhasil memenangkan Academy Award pada tahun 2005 lalu dan dinilai cukup berhasil menyutradarai X-Men Origins: Wolverine pada 2009 ini juga berperan sebagai penulis sricptnya.

Film ini menceritakan kisah mengenai seorang anak bungsu bernama Andrew ‘Ender’ Wiggin (Asa Butterfield) yang direkrut oleh Colonel Hyrum Graff (Harison Ford) untuk masuk ke sebuah sekolah militer bernama Battle School. Di sana, beberapa anak muda menjalani pelatihan militer yang keras untuk mempersiapkan diri menghadapi serangan alien serangga yang disebut Formics. Col. Graff sendiri sangat mengungguli Ender sebagai calon pemimpin dan penyelamat dunia yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Tapi sebagai seorang psikolog dalam sekolah militer tersebut, Major Gwen Anderson (Viola Davis) mengkhawatirnya perkembangan psikologis Ender yang cukup terpengaruh dengan sifat keras sang ayah: John Paul Wiggin (Stevie Ray Dallimore), sang kakak yang psycho: Peter Wiggin (Jimmy Pinchak) dan sangat menyayangi sang kakak perempuannya yang lemah lembut: Valentine Wiggin (Abigail Breslin). Tapi Col. Graff tampaknya tidak peduli.

Sebagai anak baru di sekolahnya, Ender sering mendapat perlakuan buruk dari senior-seniornya, terutama dari ketua asrama Salamender bernama Bonzo (Moisés Arias). Tapi sifatnya yang tidak mengenal takut dan kritis juga sering kali membuat orang lain jengkel sekaligus kagum. Lambat laun, walaupun mendapatkan banyak musuh, Ender juga berhasil menjalin pertemanan dengan beberapa anak, seperti Petra Arkanian (Hailee Steinfeld), Bean (Aramis Knight), Dink (Khylin Rhambo), Bernard (Conor Carroll) dan lainnya. Kariernya di sekolah militer itu pun terus menanjak, berkat perhatian ekstra yang diberikan Col. Graff dan beberapa pelajaran tambahan, termasuk melalui permainan mind game yang diberikan Major Anderson. Dalam waktu singkat, Ender pun mendapat kepercayaan untuk mengetuai asramanya sendiri, Dragon Army.
Dan akhirnya kesempatan besar yang dinantikan Ender pun terwujud. Walaupun diawali dengan sebuah insiden yang menyedihkan, Ender pun dikirim ke pusat Internasional Fleet di sebuah planet bernama Eros. Di sana dia mendapat seorang mentor baru: Mazer Rackman (Ben Kingsley). Mazer adalah pahlawan pada infasi Formics terakhir yang terjadi pada lima puluh tahun yang lalu. Selama ini Mazer dianggap sudah meninggal, tapi sebenarnya dia membangun sebuah program simulator yang digunakan untuk melatih para Army seolah-olah berperang dengan alien Formics sungguhan. Pada ‘ujian terakhir’nya, Ender yang dibantu dengan teman-teman dekatnya yang menjadi pemimpin skuadronnya berperang dengan alien Formics dan berhasil menghancurkan satu planet. Dan ternyata, ‘ujian terakhir’nya itu dapat mengubah segalanya.

Menonton film ini seperti menonton Star Trek, Starship Troppers dan Harry Potter sekaligus. Sejak awal film, alur ceritanya sangat teratur. Penokohannya juga kuat, setiap tokoh hadir untuk tujuan yang jelas dan diperankan dengan sangat apik oleh setiap pemain plus percakapan yang efisien. Settingnya luar biasa dan sangat memanjakan mata. Tak heran, pihak produser yang juga termasuk sang penulis sendiri, Card, memang menyediakan dana yang tidak sedikit untuk special effect yang ditangani oleh perusahaan milik James Cameron: Digital Domain.

Ditambah lagi, kisah ini memiliki focus yang kuat. Sang sutradara dan sang penulis yang memang bekerja sama dengan sangat intens saat menulis script telah memberikan patokan yang jelas seberapa jauh penonton bisa mengetahui seluk beluk cerita tersebut. Hasilnya, penonton tidak perlu menebak-nebak akan ke mana cerita ini akan berakhir, tapi cukup menikmatinya saja tanpa perlu banyak bertanya.

Bagi saya pribadi, film ini memberikan alternative tontonan yang sangat unik dan berkualitas. Tidak seperti kebanyakan film sci-fic action alien lain yang biasanya sudah sangat kita kenal pattern ceritanya (invasi alien-manusia bertahan-war-happy ending), tapi Ender’s Game menyajikan cerita yang sudah diarahkan dengan sangat jelas sejak awal. Alur sederhana di awal cerita diakhiri dengan ending yang lebih rumit serta di luar dugaan. Rasanya seperti film ini yang mengarahkan penonton, bukan sebaliknya. Dan eksekusi film ini memberikan penggambaran yang berbeda terhadap alien yang selama ini dianggap musuh sehingga dapat dilihat dari sisi yang berbeda dan lebih masuk akal dan manusiawi.

Bagi yang belum tahu synopsis lengkap kisah ini pasti banyak calon penonton yang mengira bahwa Ender’s Game adalah film yang ditujukan bagi anak-anak. Tapi mereka salah. Film ini sendiri menyandang rating PG-13, yang walaupun cocok ditonton anak-anak, tapi butuh dampingan dari orang tua atau orang yang dituakan untuk memberikan pengertian yang jelas mengenai kompleksitas cerita, taktik perang dan beberapa hal lain. Bagi saya, film ini malah lebih cocok ditonton oleh orang dewasa, di mana taktik perangnya yang luar biasa, kecerdikan Ender dan sifat negative serta positifnya serta begitu banyak hal lain begitu menarik untuk diperhatikan. Walaupun, dengan minimnya adegan aksi perkelahian dan adegan romance yang nyaris nihil, tidak sedikit kalangan yang akan menyebut film ini membosankan.


Dengan senang hati saya akan memberikan empat dari lima bintang untuk film petualangan yang satu ini. Dengan keunikannya saya rasa Ender’s Game berhasil berhasil memberikan ‘rasa’ yang berbeda dari film-film alien dan luar angkasa pada umumnya dan ini merupakan factor yang menyenangkan. 

THOR: THE DARK WORLD

Ini dia film kedua dan film kedelapan dari instalement Marvel Cinematic Universe bertajuk Thor: The Dark World. Dalam film keduanya kali ini diceritakan Thor (Chris Hemsworth) yang sedang sibuk memperbaiki kehancuran yang diakibatkan ulah adik tirinya: Loki (Tom Hiddleston) yang untungnya telah berhasil dijebloskan ke penjara. Dia harus berperang untuk merebut kembali kesembilan universe yang berada dalam satu kesatuan pohon kehidupan yang disebut Yggdrasil agar kembali tunduk di bawah kekuasaan sang ayah: Odin (Anthony Hopkins).

Sementara itu, sang kekasih Jane Foster (Natalie Portman) yang tidak pernah lagi bertemu dengan Thor sejak dua tahun yang lalu memutuskan untuk mencoba menjalin hubungan dengan seorang pria bernama Richard (Chris O’Dowd). Untunglah perkenalan yang tidak berjalan dengan lancar itu diselamatkan dengan kedatangan pegawai magangnya: Darcy Lewis (Kat Dennings) yang mengatakan bahwa beberapa anak kecil menemukan fenomena semacam anti gravitasi atau portal antar dimensi di sebuah pabrik tua yang tidak digunakan lagi. Saat menyelidiki tempat itu, Jane malah menghilang ke sebuah tempat di mana terdapat kekuatan aneh yang disebut Aether dibuang.

Aether dibuang ke sana bertahun-tahun yang lalu saat terjadi peperangan antara Dark Elves yang dipimpin oleh Malekith (Christopher Eccleston) dan kakek Thor bernama Bor (Tony Curran). Saat itu, para Dark Elves mengalami kekalahan dan berhasil ditumpas habis, tapi Malekith bersama tangan kanannya yang setia: Algrim (Adewale Akinnuoye-Agbaje) berhasil melarikan diri. Ketika tanpa sengaja kekuatan Aether yang ditemukan Jane merasuk ke dalam tubuhnya, Malekith dan pasukannya terbangun dari tidur panjang dan memutuskan untuk mengejar Jane untuk merebut Aether itu kembali dan mewujudkan keinginannya untuk mengubah seluruh universe ke dalam kegelapan.

Mengetahui Jane berada dalam bahaya, Thor memutuskan membawa Jane ke Asgard untuk mendapat perawatan, tidak peduli Odin yang tidak senang melihat kedatangan Jane. Tapi Malekith tidak menyerah begitu saja. Dengan menyusupkan Algrim sebagai tawanan yang bertugas menghancurkan shield yang melindungi Asgard, Malekith dan pasukannya berhasil menerjang masuk. Untuk melindungi Jane, sang ibu: Frigga (Rene Russo) pun kehilangan nyawanya, membuat Loki sangat berduka.

Dalam keadaan genting, Thor yang dibantu oleh Volstagg (Ray Stevenson), Fandral (Zachary Levi) dan sang penjaga gerbang Bifröst: Heimdall (Idris Elba), memutuskan untuk membawa Jane pergi dari Asgard. Masalahnya, Bifröst, satu-satunya pintu gerbang yang bisa dilalui untuk pergi dari Asgard sudah dikuasai oleh Dark Elves. Hanya satu orang yang pernah berhasil keluar dari Asgard melalui jalan lain, yaitu Loki. Jika Thor tetap ingin memastikan Jane selamat, dia harus mau meminta bantuan sang master of trick, master of manipulation dan musuh bebuyutannya untuk saling bahu membahu memusnahkan Dark Elves. Apakah Loki memang bisa dipercaya?
Sang sutradara yang sebelumnya telah berhasil menyutradarai cukup banyak serial TV bermutu, termasuk Sex and the City, The Sopranos dan Game Of Thrones yang sangat terkenal itu kini mencoba menyutradarai film superhero pertamanya. Dan, bisa dibilang, sang sutradara asal Amerika itu memberikan bumbu yang menarik dalam seri kedua Thor ini.

Alurnya cepat, dengan special efek yang menakjubkan dan setting yang luar biasa. Beberapa asal muasal kisah yang disajikan dijelaskan dengan cukup detail sehingga para penonton tidak perlu bertanya-tanya. Hanya saja, penjelasan mengenai beberapa penelitian yang terkait dengan dunia Asgard tidak terlalu mudah untuk dimengerti. Ini cukup membuat saya bingung dan merasa lost. Dan kondisi ini terus terbawa sehingga kisah memasuki babak klimaks dan anti klimaks. Untungnya, semua itu tertutupi dengan joke-joke segar yang tersebar di sepanjang film dan alur cepatnya yang konstan.

Lagipula, duet antara superhero yang terlalu serius: Thor dan superhero dadakan yang manipulative dan ringan mulut: Loki, ternyata adalah paduan yang sangat unik dan menyegarkan. Keduanya mampu membawa twist cerita menjadi sesuatu yang segar ditonton sekaligus menjebak, in a good way.

Jadi, lupakan karakter tokoh yang tidak tergali dengan baik, lupakan beberapa penjelasan rumit yang tidak bisa kita ‘tangkap’, lupakan beberapa scene yang terlihat sangat tidak mungkin dan lupakan ending yang membuat geregetan itu. Jika dilihat dalam satu paket utuh, Thor: The Dark World adalah film yang sangat menyenangkan dan pastinya sangat sayang dilewatkan, bukan hanya agar timeline tentang Marvel Cinematic Universe kita tidak ‘bolong’, tapi film ini memang sangat seru ditonton.


Tiga setengah dari lima bintang untuk film ini.



ESCAPE PLAN

Film yang disutradarai oleh seorang sutradara Swedia bernama Mikael Håfström dan mendapatkan rating R ini menceritakan kisah mengenai seorang pengusaha jenius bernama Ray Breslin (Sylvester Stallone). Dia memiliki sebuah agensi bernama Breslin-Clark yang khusus menguji escape-proof pada penjara-penjara yang memiliki tingkat keamanan maksimum di seluruh dunia. Selama ini dia telah berhasil kabur dari begitu banyak penjara dengan kemampuan observasi, pengetahuan dan keberaniannya.

Suatu saat, seorang agen CIA bernama Jessica Miller (Caitriona Balfe) mendatangi Ray untuk menawarinya sebuah pekerjaan dengan kontrak bernilai jutaan dolar. Yang perlu Ray lakukan hanya menguji escape-proof sebuah penjara yang berbeda dengan penjara yang pernah Ray masuki sebelumnya. Penjara ini terkenal dengan tingkat keamanan yang tinggi, menggunakan para penjaga yang sangat berpengalaman dan dihuni oleh berbagai narapidana yang paling berbahaya di dunia. Dan bukan hanya itu. Demi menjaga keamanan, letak penjara ini sangat dirahasiakan. Merasa tertantang dan disemangati oleh partner bisnisnya: Lester Clark (Vincent D’Onofrio), tanpa mempedulikan saran asistennya Abigail Ross (Amy Ryan) dan ahli komputernya Hush (Curtis ’50 Cent’ Jackson), Ray pun menerima tawaran ini tanpa pikir panjang.

Keesokan harinya, Ray mengalami penculikan dan dibius hingga pingsan, begitu terbangun dia sudah berada di dalam penjara yang dikenal dengan sebutan ‘The Tomb’ itu. Tapi penjara itu tidak seperti yang dibayangkannya. Bukan hanya kepala penjara yang merupakan satu-satunya orang yang mengetahui tugasnya di penjara itu ternyata tidak ada, Ray sama sekali tidak tahu di mana letak penjara itu sebenarnya, plus kode evakuasinya tidak berlaku. Ray pun sadar bahwa semua ini adalah jebakan. Ada seseorang yang menginginkannya terkurung di penjara itu tanpa bisa keluar selamanya, dan dia berusaha untuk mengetahui siapa orang itu.

Di dalam penjara Ray bertemu dengan Emil Rottmayer (Arnold Schwarzenegger) yang sangat bersemangat membantu Ray dan ingin mengetahui asal usul Ray. Walaupun pada awalnya Ray merasa terganggu dengan kehadiran Emil, tapi beberapa kali Emil membuktikan bahwa dia bisa membantu Ray merencanakan pelarian mereka. Sehingga akhirnya, dengan kemampuannya dan juga bantuan beberapa tawanan lain, mereka pun melakukan berbagai cara untuk kabur dari pengawasan sang kepala penjara yang kejam: Willard Hobbs (Jim Caviezel).

Sepertinya Stallone sedang getol-getolnya mengumpulkan para dedengkot action lawas untuk berakting bersamanya. Setelah cukup sukses menggarap Expendable 1 dan 2, dan sekarang sedang menggarap film ketiganya, kini, sebagai ‘proyek sampingannya’ dia menggaet Arnold Schwarzenegger sebagai lawan mainnya. Dan seperti film-film ‘reuni’-nya yang lain, kali ini genre yang diambilnya masih tetap action thriller, dengan formula film yang hampir sama pula. Mungkin dalam Escape Plan kali ini ada beberapa formula baru yang digunakan Stallone, misalnya menyajikan cerita yang sedikit lebih kompleks. Tapi, menurut saya, semua formula itu tidak digarap dengan cukup baik.

Alurnya cepat, tidak bertele-tele dan actionnya menarik, tapi penokohannya tidak cukup ‘lengket’ di hati pembaca. Bahkan ada beberapa tokoh yang tadinya saya kira akan menjadi tokoh pembantu utama ternyata tidak mendapatkan peran cukup penting, sedangkan tokoh pembantu lain yang pada awalnya terlihat tidak berperan cukup banyak malah mendapatkan peran yang penting menjelang akhir cerita. Twist yang digunakan terkesan terlalu memaksakan dan penjelasan di ending cerita pun sama sekali tidak membantu. Untungnya beberapa joke dan kekonyolan Schwarzenegger memberi penyegaran dalam film ini. Dan jelas keputusan mantan Gubernur California ke-38 ini untuk bermain bersama Stallone merupakan keputusan yang tepat, mengingat debut film comeback solonya kemarin yang berjudul ‘The Last Stand’ terhitung floop dipasaran.

Tapi jika mengingat kebiasaan Stallone yang menggarap film dengan skrip ‘seadanya’ dan terlalu mengedepankan action saja, rasanya sangat disayangkan, yah. Dengan nama besar yang disandangnya, kalau saja skripnya dapat digarap dengan lebih baik, mungkin akting Stallone dan actor lainnya akan tereksplore dengan lebih baik juga dan para penonton dari berbagai kalangan pun bisa tertarik dan terpuaskan. Karena tidak semua penonton mau menonton film hanya karena ingin bernostalgia saja, ada juga kalangan penonton muda yang jauh lebih kritis, yang jika berhasil digaet dengan baik akan menjadi penonton yang sangat potensial dan loyal.


Saya hanya bisa memberikan tiga dari lima bintang untuk film ini, itu juga dibantu dengan satu scene memorable di mana Schwarzenegger dan Faran Tahir yang menjadi lawan mainnya berpose sangat konyol di kamera pengintai.


GRAVITY

Gravity adalah sebuah survival drama film yang menceritakan mengenai upaya bertahan hidup seorang Mission Specialist bernama Dr. Ryan Stone (Sandra Bullock). Dia adalah seorang Bio-medical Engineer yang baru pertama kali melakukan misi luar angkasanya. Sementara pendampingnya adalah seorang veteran astronot yang melakukan misi terakhirnya sebelum memutuskan untuk pensiun bernama Matt Kowalski (George Clooney). Mereka sedang mengecek Hubble Space Telescope di luar angkasa saat sebuah satelit Russia meledak dan mengakibatkan serangkaian ledakan beruntun di beberapa satelit lain. Akibatnya, terjadi hujan sampah ledakan yang juga menghancurkan telescope yang sedang mereka perbaiki sehingga mereka berdua terhempas ke luar angkasa dan terombang-ambing di sana tanpa arah. Dengan persediaan oksigen yang menipis, saluran komunikasi ke pusat yang terputus dan sebuah roket yang mulai kehabisan bahan bakar, mereka harus bisa menyelamatkan diri dengan cara mendatangi stasiun luar angkasa milik Negara lain sebelum hujan sampah ledakan menghancurkan satelit-satelit itu dan menggagalkan usaha mereka untuk kembali ke bumi.

Benar, inti cerita film ini bisa saya simpulkan dalam satu paragraph saja. Dan satu paragraph ini dapat menghasilkan sebuah film berdurasi 91 menit yang sangat-amat menakjubkan. Film ini disutradarai oleh Alfonso Cuarón yang sebelumnya berhasil menyutradarai film Harry Potter ketiga: Harry Potter and the Prisoner Of Azkaban dan Pan’s Labirinth. Dan bukan hanya itu saja, Cuarón juga memproduseri dan mengedit sendiri serta menulis scenario film ini bersama sang anak: Jonás Cuarón. Cinematografi film ini ditangani oleh sahabatnya sendiri: Emmanuel Lubezki yang sudah sering kali bekerja sama dengan Cuarón dan sudah dinominasikan sebanyak lima kali dalam Academy Award untuk berbagai film termasuk A Little Princess, Sleepy Hollow dan The Tree Of Life.

Yang lebih menakjubkan lagi, film berbudget $80-$100 million ini hanya dibintangi oleh Sandra Bullock dan George Clooney saja, sementara beberapa orang lain hanya menyumbangkan suaranya. Hampir 80% film ini terpusat pada Sandra Bullock sebagai pemeran utama dan acting actress berusia 49 tahun yang telah memenangkan begitu banyak penghargaan ini benar-benar luar biasa. Sandra Bullock berhasil membawa emosi para penonton untuk merasakan bagaimana kepanikan seorang astronot pemula yang harus terombang ambing di luar angkasa sendirian. Dia juga berhasil membawa karakter tokohnya yang merasa depresi dan kesepian, yang tidak punya tujuan dan begitu putus asa dengan baik. Sebagai tokoh central dalam film ini, di mana tidak ada cukup banyak pemeran pembantu yang dapat mengalihkan perhatian para penonton, kualitas actingnya benar-benar patut diacungi empat jempol sekaligus, atau bahkan pantas diganjar sebuah penghargaan lagi.

Tema sederhana yang dipadukan dengan penyutradaraan yang bagus, acting yang luar biasa, scenario yang mumpuni, cinematografi yang mengagumkan, setting yang tidak biasa dan special efek yang nyaris tanpa cacat, rasanya penonton tidak membutuhkan adegan action yang penuh ledakan atau aksi kejar-kejaran yang berlebihan di sini. Semuanya tetap terasa menegangkan dan penuh emosi. Terasa pas dan tidak berlebihan. Tidak diragukan lagi, saya akan memberikan empat setengah dari lima bintang untuk film ini.


Astaga, saya tidak pernah menyangka akan bisa membuat sebuah review film sependek ini dan memberikan begitu banyak bintang untuk sebuah film berdurasi satu setengah jam yang hanya menampilkan dua pemeran saja. Film ini memang benar-benar ruarrrr biasaaaa…. =)

BEAUTIFUL MISTAKE

Oh damn, I think that’s the best kiss I’ve ever had.

Ever.

Aku membuka pelupuk mataku dan menemukannya di hadapanku. Wajah kami hanya berjarak beberapa senti, bahkan kedua bibir kami jauh lebih dekat lagi. Dalam satu langkah singkat saja aku bisa meraih bibir itu lagi, melumatnya sekali lagi dan merasakan sensasi itu lagi. Benar, itu adalah sensasi yang begitu membuat sakau. Seolah ada sebuah kupu-kupu menyusup ke dalam dadaku dan mengepak dengan liar di sana, membuat napasku memburu. Napasnya lebih berat dari pada napasku dan dengan jarak sedekat ini aku bisa mencium bau tembakau menguar dari tubuhnya. Beberapa detik yang lalu aku baru saja merasakan sensasi pahitnya tembakau itu dari lidahnya dan walaupun aku membenci rokok, tapi bau itu mampu menghipnotisku.

Aku melonggarkan kedua tanganku yang melingkari lehernya, memberi jarak pada kedua bibir kami sehingga aku bisa mengatur detak jantungku yang berantakan. Kedua kaki telanjangku akhirnya bisa menapak dengan benar ke atas bumi setelah sebelumnya aku tekuk untuk berjinjit, berusaha menggapai dosa manisku tadi: bibirnya. Walaupun aku bisa merasakan bahwa dia enggan melepas pelukannya dari pinggangku, tapi dia juga memberi jarak tanpa perlu melepaskan pelukannya. Dan aku sama sekali tidak keberatan. Aku memang tidak ingin berada terlalu jauh darinya.

Aku kembali menatap kedua matanya. Letaknya beberapa senti di atas mataku sehingga aku harus sedikit menengadahkan kepala, membuat poni panjangku bergerak menghalangi. Aku sedikit memejamkan mata untuk menahan rasa sakit saat poni itu menusuk mataku, sama sekali tidak sudi untuk memindahkan kedua tanganku yang sedang memeluk lehernya untuk menyingkirkan poni yang mengganggu itu. Tapi seperti bisa membaca apa yang aku inginkan, dia melepas salah satu pelukan tangannya dari pinggangku dan menyingkirkan poni itu dengan lembut. Ujung jarinya bertahan di pipiku selama beberapa detik sebelum kembali melingkari pinggangku dan kehangatan yang membuatku merinding memancar dari sana dan bertahan lebih lama lagi. Dengan kedua mata yang begitu dekat, aku dapat menikmati kedua matanya yang bersinar penuh kehangatan itu dengan leluasa, seolah kedua mata itu hanya untukku. Lalu pandangan mataku mengarah ke hidungnya yang sedikit mancung, ke tulang pipinya yang tegas dan berhenti di bibirnya. Oh ya ampun, aku ingin sekali merasakan bibir itu. Lagi. Berkali-kali.

Tiba-tiba bibir itu tersenyum dengan begitu manisnya, membuatku tersadar bahwa sang pemilik bibir itu pastilah sadar aku sedang memandangi bibirnya dengan pandangan penuh rasa ingin tahu. Otomatis pandangan mataku kembali kepada dua bola matanya, dan benar saja, ada pandangan penuh persengkongkolan yang aku temukan di sana. Secara perlahan dan pasti senyumnya mengembang makin lebar, membuatku salah tingkah. Dan detik berikutnya dia mulai berbicara sambil mengunci kedua mataku dengan pandangan matanya yang tajam.

“Apakah kau tahu bahwa kau punya mata coklat yang sangat menakjubkan?”

Perlu waktu beberapa detik bagiku untuk mencerna kata-kata yang diucapkannya dengan sedikit berbisik itu. Sepertinya bau tembakau yang menguar dari kotak rokok yang ada di saku kemejanya telah berhasil menghinoptisku semakin dalam sehingga aku tidak bisa berpikir dengan benar. Aku bahkan tidak bisa bernapas dengan baik. Oh, dear…

Tapi aku berhasil menguasai diri dengan cepat dan ingat bahwa apa yang dikatakannya tadi sudah pernah aku dengar diucapkan oleh orang lain, orang yang selama ini telah memiliki bibirku. Begitu kesadaran itu menyerbuku, semua rasa yang menggetarkan itu lenyap seketika, seolah kupu-kupu yang sedari tadi terbang di dadaku mendadak mati. Aku melepaskan kedua tanganku dari lehernya dan mundur satu langkah sambil buru-buru berbicara dengan terbata-bata.

“Aku… sorry…”

Sorot matanya berubah dengan sangat cepat menjadi begitu menyedihkan untuk dilihat. Dengan sigap diraihnya kedua tangan yang aku lepaskan dari lehernya tadi dan menghentikan gerakannya sehingga kedua tanganku berada tepat di dalam lingkup kedua telapak tangannya. Aku memejamkan mata dengan cepat, berusaha sekuat tenaga untuk menyingkirkan perasaan nyaman yang menyerbuku dengan sangat tiba-tiba saat kedua tangan besarnya itu begitu hangat dan pas melingkupi kedua telapak tanganku yang kecil. Tapi begitu sulit untuk menghilangkan perasaan itu, apalagi dengan adanya dia di hadapanku, menatapku seperti itu.

“Ada apa?” tanyanya, sedikit ragu.

Aku menggelengkan kepalaku dengan cepat sambil menghembuskan napas panjang dan memejamkan kedua mata dengan frustasi. Ya ampun, apa yang telah aku lakukan?

“Aku… minta maaf…” kataku setelah berusaha berbicara dengan susah payah.

“Kenapa? Apa salahmu? You’re a very good kisser and that’s the best kiss I ever had, so far.”

Me too. Tapi, itu dia masalahnya. Semua ini tidak seharusnya terjadi. Aku telah melakukan kesalahan dan bagaimana caranya aku bisa memperbaiki kesalahan ini? Aku memejamkan mataku lagi dengan jauh lebih frustasi. Aku mencoba menarik napas panjang untuk menenangkan diri lagi, tapi bau tembakau itu kembali tercium, membuat semuanya terasa semakin sulit.

“Kamu menyesal karena ciuman tadi?” tanyanya lagi yang kali ini membuatku buru-buru menggeleng.

Aku sama sekali tidak menyesal karena pernah merasakan ciuman ini. Aku hanya menyesal karena berani melakukannya, melakukan sesuatu yang salah tapi begitu sulit untuk disesali.

“Hanya saja… selama ini aku telah berusaha untuk tidak melakukan sesuatu yang bisa saja aku sesali nantinya.”

“Apakah itu artinya kamu sudah lama menginginkan ini? Maksudku, apakah kamu memang ingin menciumku?” dia bertanya lagi dan aku kembali menutup kedua mataku dengan frustasi.

Iya, aku sudah berusaha sekuat tenaga menjauhkan keinginan untuk menghambur ke arahnya dan menciumnya. Seharusnya aku bisa menahan keinginan itu lebih lama lagi, atau mungkin membuang jauh-jauh keinginan bodohku itu. Tapi semua usahaku itu langsung terlupakan begitu saya setelah dia pergi selama beberapa waktu tanpa pamit dan tidak bisa dihubungi. Lalu tiba-tiba dia mendatangiku dan menyodorkan gelang itu tadi. Dan aku langsung menghambur ke pelukannya begitu saja, tanpa ingat untuk berpikir. Bodoh, aku tahu. Tapi aku tidak bisa menemukan alasan lain untuk tetap mempertahankan usaha itu. Aku sudah memutuskan untuk lebih jujur terhadap perasaanku sendiri. Dan inilah yang aku inginkan dan inilah yang aku lakukan, dari lubuk hatiku yang paling dalam. Jadi, apa yang bisa aku lakukan kecuali menganggukkan kepalaku untuk menjawab pertanyaan terakhirnya tadi?

“Kalau begitu, sepertinya aku harus sering-sering pergi tanpa mengabarimu, supaya bisa mendapatkan moment seperti ini lagi.”

Begitu mendengar kata-kata itu terlontar dari mulutnya, aku langsung melepaskan genggaman tanganku dengan kasar dan memukulkan tinjuku ke dadanya yang bidang dengan sekuat tenaga. Tapi dia malah tersenyum geli dan buru-buru menggenggam kedua tanganku untuk menghentikan pukulanku. Aku tidak menyerah, dengan kesal aku kembali menumpahkan amarahku melalui omelan.

“Jangan sekali-sekalinya kau berani pergi tanpa kabar seperti itu lagi. Kau membuatku khawatir!”

Dia menunduk untuk menatapku dengan kedua tangan yang masih menggenggam tanganku di depan dadanya, lalu menjawab lagi.

“Kau baru saja mengabarkan sebuah keputusan yang sangat mengagetkan untukku. Aku perlu menenangkan diriku lebih dulu.”

Aku menundukkan kepala lebih dalam lagi, semakin merasa menyesal. Dengan enggan dan nyaris berbisik, aku menjawab.

“Aku… sudah memutuskan.”

“Aku tahu.” Jawabnya dengan cepat. Dia melepaskan genggaman tangan kanannya, meraba cincin di jari manisku dengan cepat lalu meletakkan telapak tanganku di depan dadanya dan meraih daguku dengan tangan kanannya yang bebas. Kini, kedua mata kami sudah kembali saling menatap, mengunci.

“Karena itulah seharusnya aku yang meminta maaf. Walaupun aku sama sekali tidak menyesali semua ini, tapi aku tahu, seharusnya aku menghormati keputusanmu. Dan aku pun tahu, seharusnya aku tidak boleh menciummu, atau memberikan gelang itu sebagai hadiah perpisahan, atau bahkan memelukmu seperti ini. Tapi, aku hanya ingin… memilikimu. Paling tidak sekali dalam hidupku, aku ingin merasakan bagaimana rasanya jika aku memilikimu, seutuhnya.”

Aku tidak tahu apakah aku akan bisa menahan air mataku lebih lama lagi agar tidak jatuh ke pipiku. Penjelasannya kali ini benar-benar mengundang air mata.

Sepertinya dia melihat kedua mataku yang sudah mulai berkaca-kaca, karena itulah dia buru-buru berkata lagi.

“Aku mohon, jangan menangis. Aku tidak akan mengatakan bahwa aku mencintaimu. Aku tahu itu sudah terlambat, kata-kata itu sudah tidak ada gunanya lagi. Tapi aku hanya ingin kau tahu bahwa apa yang aku rasakan adalah perasaan yang tulus. Jadi, aku mohon, jangan menyesali apa pun. Izinkan aku menyelesaikan ini dan menciptakan sebuah kenangan indah di antara kita. Walaupun penuh kepura-puraan.”

Aku tidak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya dan aku tidak pernah menyangka bahwa aku akan merasakannya. Aku rasa ini memang bukan sebuah kesalahan. Ini adalah sebuah pembuktian, pembuktian akan kekuatan cinta yang tidak bisa saling memiliki, pembuktian bahwa sebuah keputusan membutuhkan pengorbanan, pembuktian bahwa sebuah kesalahan belum tentu salah, hanya butuh dibuktikan agar dapat dimengerti. Dan kini, aku mengerti bahwa perasaan ini adalah benar, hanya waktu dan tempat yang kurang tepat, seperti yang selama ini telah disadarinya.

“Tolong, jangan sesali aku.”

Itu adalah kata-kata terakhir yang aku dengar dari mulutnya karena detik selanjutnya bibir kami telah bertemu kembali. Kali ini lebih lembut, lebih manis, lebih menggetarkan hati. Kupu-kupu tadi kembali terbang lagi di dadaku dan lidahku kembali merasakan tembakau yang pahit. Napas kami saling memburu dan kedua lengan kami saling memeluk. Lalu, hampir sama cepatnya seperti ciuman itu dimulai, semua itu berakhir. Aku mundur satu langkah sambil merenggangkan lengan kiriku, memberi jarak pada kami berdua. Lalu aku memandanginya, memberikan senyum terbaik yang bisa aku berikan, dan berkata dengan mantap.

“Terima kasih, untuk semuanya.”

Aku berbalik dalam satu gerakan, meraih tasku yang terletak di atas meja dan pergi tanpa menoleh ke belakang lagi. Aku tidak merasakan tangannya yang menahan kepergianku atau suaranya yang memanggilku untuk berhenti. Aku hanya merasakan tangan kiriku yang menggenggam erat gelang perak yang baru saja diberikannya kepadaku dan berjanji di dalam hati bahwa aku akan mengenakan gelang itu selamanya tanpa rasa menyesal sedikit pun.


160913 ~Black Rabbit~

RIDDICK

Film ini merupakan film ketiga dari seri The Chronicle Of Riddick yang ketiga filmnya disutradarai dan ditulis oleh David Twohy. Film pertamanya berjudul Pitch Black yang dirilis pada tahun 2000 mendapatkan keuntungan yang berlipat dibandingkan dengan budgetnya yang rendah walaupun mendapatkan nilai yang tidak cukup bagus dari para kritikus. Film keduanya berjudul The Chronicle Of Riddick dirilis pada tahun 2004 dengan budget yang lebih besar tapi malah mendapatkan apresiasi yang kurang bagus, baik dari penonton maupun dari para kritikus. Untungnya pemeran tokoh utama sudah terlanjur jatuh hati dengan tokoh yang diperankannya di film ini sehingga walaupun sudah berselang tiga belas tahun dari film pertamanya, Vin Diesel dengan senang hati melanjutkan kisah ini. Bahkan hanya di film ini Vin diesel mau berperan sebagai tokoh utama yang merupakan seorang villain.

Riddick masih menceritakan kisah Richard B. Riddick (Vin Diesel), buronan di seluruh galaksi yang memiliki bola mata berwarna perak, sadis dan sangat pintar melarikan diri. Kali ini Riddick yang sudah menjadi pemimpin para Necromongers di Planet U. V. merasa dirinya berubah menjadi makin lemah. Dia ingin kembali ke Planet Furya, kampung halamannya. Mengetahui bahwa Commander Vaako (Karl Urban) adalah satu-satunya orang yang mengetahui letak Planet Furya, Riddick berjanji akan menyerahkan kepemimpinannya kepada Vaako asalkan Vaako mau memberitahu keberadaan Planet Furya. Vaako yang memang sangat ingin menjadi pemimpin Necromongers langsung menyetujuinya dan mengirim beberapa orang pengawal untuk menemani Riddick. Tapi ternyata Vaako berbohong. Dia mengirim Riddick ke planet yang salah dan memerintahkan para pengawal untuk membunuh Riddick begitu mereka tiba di sana. Walaupun pada akhirnya Riddick bisa menyelamatkan diri, dia mengalami luka yang cukup serius dan kaki yang patah.

Setelah berhasil menyelamatkan diri dan secara tidak sengaja memiliki seekor peliharaan, Riddick baru menyadari bahwa akan datang sebuah badai dahsyat yang akan membuat makhluk-makhluk aneh penghuni planet itu keluar dari sarang dan memburunya. Untungnya Riddick menemukan sebuah markas pembunuh bayaran yang tidak berpenghuni. Sadar bahwa satu-satunya cara agar bisa selamat adalah pergi dari planet itu, Riddick memutuskan untuk memberitahu kepada seluruh pembunuh bayaran yang mengincarnya tempat di mana dia bersembunyi. Cara ini ternyata berhasil. Tak lama setelahnya, dua pesawat pembunuh bayaran datang.

Pesawat pertama dipimpin oleh Santana (Jordi Molla), seorang pembunuh bayaran yang kejam dan urakan yang membawa beberapa anak buahnya. Sedangkan pesawat kedua adalah milik tentara bayaran yang dipimpin oleh Boss Johns (Matt Nable) yang memiliki perlengkapan lebih canggih dan lebih sedikit anak buah. Berbeda dengan Santana yang ingin menangkap Riddick untuk memenggalnya dan meletakkan kepala Riddick ke dalam kotak, Johns ingin menangkap Riddick hidup-hidup karena ingin menginterogasinya. Walaupun awalnya kedua group ini saling bertentangan, tapi akhirnya mereka setuju bekerja sama untuk menghadapi Riddick yang kejam dan bergerak sangat cepat.

Dengan menghabiskan budget yang tidak terlalu besar, hanya $38 million saja, film ini bisa dibilang luar biasa. Para aliennya sangat meyakinkan dan acting para tokohnya yang tidak terlalu banyak pun cukup bagus, walaupun tentu saja sang tokoh utama sangat berperan besar dalam cerita ini. Tapi Vin Diesel memang sangat pas memerankan karakter Riddick yang lincah, dingin, tegas tapi juga nyeleneh dan sensitive. Setting lokasinya juga keren sekali. Tempo alurnya cepat, twistnya bagus dan adegan laganya cukup membangkitkan adrenalin. Temanya cukup sederhana tapi dikemas dengan baik sehingga tidak membosankan.

Jika membandingkan film ini dengan kedua film sebelumnya, sebenarnya formula yang digunakan pada film ketiga ini sangat mirip. Bahkan beberapa tokoh yang muncul, seperti tokoh yang suka berdoa, makhluk planet yang keluar dalam waktu yang bersamaan dan bahkan misi untuk mengambil komponen utama yang akan membawa mereka pergi dari planet itu sangat mirip dengan formula yang digunakan di film pertamanya. Tapi dengan tempo yang cepat, aksi yang apik dan tokoh utama yang iconic, rasanya semua itu bisa dimaafkan. Vin Diesel membuktikan bahwa dengan cinta yang besar dia berhasil menyulap film berbudget rendah menjadi sebuah film science action fiction yang bagus. Para penonton setia seri ini bisa seolah bernostalgia dengan kisah ini, sedangkan para penonton baru pun bisa sangat menikmati kisahnya yang ringan tapi menegangkan.


Empat dari lima bintang untuk film ini. No doubt!



THE MORTAL INSTRUMENT: CITY OF BONES

Here’s another adventure fantasy film based on novel.

The Mortal Instrument: City Of Bones berkisah mengenai seorang gadis muda bernama Clary Fray (Lily Collins) yang tinggal di New York bersama ibunya Jocelyn Fray (Lena Headey). Ibunya adalah seorang pelukis dan Clary pun mempunyai keterampilan yang sama. Saat sedang pergi bersama sahabatnya: Simon Lewis (Robert Sheehan), tanpa disengaja Clary melihat seorang laki-laki yang dibunuh oleh sekelompok anak muda bertato. Saat Clary menceritakan apa yang dilihatnya kepada Simon, ternyata hanya Clary yang bisa melihat pembunuhan tersebut. Salah satu anak muda dalam kelompok itu yang bernama Jace Wayland (Jamie Campbell) mendatanginya dan mengaku sebagai seorang Shadowhunter. Dia bertanya bagaimana Clary bisa melihat mereka sementara orang lain tidak bisa. Tapi Clary tidak bisa menjawabnya, sama seperti dia tidak bisa menjawab symbol apa yang sering dilihatnya dalam beberapa hari belakangan ini.

Sementara itu, sang ibu yang sedang berada di dalam apartemen sendirian diculik oleh dua orang anak buah Valentine (Jonathan Rhys Meyers), seorang ex-Shadowhunter yang berkhianat. Mereka mengacak-acak seluruh apartemen dan meninggalkan seekor monster anjing mengerikan yang hampir saja membunuh Clary. Untungnya, Jace datang membantu. Setelah berhasil mengalahkan sang monster anjing, dia menemani Clary mendatangi tetangga mereka Madame Dorothea (C. C. H. Pounder) yang ternyata adalah seorang penyihir. Menurut Madame Dorothea, ibu Clary adalah seorang Shadowhunter dan Valentine mengirim anak buahnya untuk mencari sebuah Mortal Cup, salah satu dari tiga instrument yang diberikan Angel Raziel kepada manusia agar bisa menjadi manusia setengah malaikat dan membantunya memusnahkan demons yang berkeliaran di bumi. Valentine meyakini bahwa Mortal Cup tersebut disembunyikan ibunya. Madame Dorothea tidak tahu ke mana anak buah Valentine membawa ibunya hingga akhirnya dengan bantuan Simon yang sudah bisa melihat Jace, mereka bertiga pergi menemui teman dekat ibunya: Luke Garroway (Aidan Turner) untuk mencari tahu apakah Luke tahu di mana Jocelyn berada. Saat tiba, Clary malah mengetahui bahwa Luke sebenarnya juga mengincar Mortal Cup.

Dalam keadaan bingung dan tidak tahu lagi harus mencari sang ibu ke mana, Jace mengajak Clary dan Simon ke Institute, tempat berkumpulnya para Shadowhunter yang tersisa. Di sana, Clary bertemu dengan dua bersaudara Alec Lightwood (Kevin Zegers) dan Isabelle Lightwood (Jemima West) dan pemimpin mereka Hodge Starkweather (Jared Harris). Di sana, Clary juga mengetahui bahwa selama ini sang ibu berusaha menyembunyikan kenyataan bahwa Clary adalah keturunan Shadowhunter dengan cara memblokir pikiran Clary dengan bantuan seorang Sorcerer bernama Magnus Bane (Godfrey Gao). Tapi jika Clary ingin menemukan dan menyelamatkan sang ibu, dia harus bisa mengingat segala hal yang selama ini telah terpaksa dia lupakan. Karena itu Clary, Simon dan ketiga Shadowhunter lain datang menemui Magnus untuk memintanya mengembalikan ingatan Clary.

Tapi serangkaian kejadian lain kembali menghampiri Clary dan teman-temannya. Dimulai dengan Simon yang diculik oleh sekelompok vampire, pertemuannya dengan sekelompok Warewolf, kisah romantic Clary, pengakuan Simon, hingga terungkapnya pengkhianatan lain dan kenyataan yang ternyata jauh lebih pahit dari pada yang pernah dibayangkan Clary sebelumnya. Semua itu mengubah dunia Clary yang tadinya biasa saja menjadi jungkir balik.

Film ini diadaptasi dari novel fantasy dengan judul yang sama karangan Cassandra Clare, seorang penulis Amerika. Saat diterbitkan pada 2007, buku pertama dari enam buku seri The Mortal Instrument di mana seri keenamnya baru akan dirilis pada 2014 nanti ini telah memenangkan begitu banyak penghargaan di seluruh Amerika. Cassandra Clare juga terkenal dengan buku The Infernal Devices Trilogy, The Dark Artifices Trilogy dan juga menulis Fan Fiction mengenai tokoh-tokoh Harry Potter.

Bisa dibilang, The Mortal Instrument: City Of Bones ini merupakan salah satu film fantasy adaptasi novel yang sangat ditunggu-tunggu kehadirannya, terutama oleh para penggemarnya. Dan sepertinya sang sutradara: Harald Zwart yang cukup berhasil menggarap Karate Kid pada 2010 dan The Pink Panther 2 pada 2009, tahu benar akan hal ini. Buktinya sang sutradara tidak segan-segan menggunakan para actor dan actress yang sudah cukup berpengalaman. Seperti Lily Collins, putri penyanyi terkenal Phil Collins yang mulai naik daun sejak memerankan tokoh love interest Taylor Lautner dalam Abduction (2011) dan juga peran menawannya bersama Julia Robert di Mirror Mirror (2012). Selain itu juga ada Jamie Campbell Bower yang tampil di layar bioskop lewat film-film seperti Sweeney Todd: The Demon Barber od Fleet Street (2007) bersama Johny Deep, The Twilight Saga sebagai salah satu vampire di klan Volturi dan bahkan dalam Harry Potter and the Deathly Hollows – part 1 (2010). Robert Sheehan yang berperan sebagai Simon juga sudah lama berada di industry perfilman dan televisi, seperti juga Kevin Zegers yang terkenal sebagai Josh Framm di seri Air Bud. Juga ada Lena Headey yang terkenal dengan perannya sebagai istri Leonidas di 300 (2007) dan bahkan ada Jonathan Rhys Meyers, sang playboy yang bermain apik di Mission Imposible III (2006) dan bersama John Travolta dalam From Paris With Love (2010).

Tapi… entah kenapa, menurut saya film ini agak terlalu… padat. Dengan tema yang sangat menarik, kisah ini mencoba menawarkan sebuah universe baru yang penuh intrik, rahasia dan kisah cinta. Tapi, ada terlalu banyak element di dalam film ini. Dengan durasi 130 menit dan semua element tersebut, film ini terasa terlalu ‘penuh’. Kombinasi ini membuat para penonton tidak bisa menikmati element-element penting sehingga adegan yang seharusnya bisa meninggalkan kesan mendalam di dalam hati akan langsung menguap dari ingatan penonton begitu scene berikutnya dimulai. Belum lagi ada beberapa setting yang sama digunakan beberapa kali sehingga alurnya terkesan meloncat-loncat. Tokoh yang dihadirkan pun terlalu banyak dan tidak ada cukup waktu bagi para penonton untuk mengenal para tokohnya lebih jauh lagi. Alhasil, film ini terasa ‘tidak utuh’. Dan sebagai film pertama dari enam seri, saya berharap akan mendapatkan penjelasan di awal film mengenai universe baru yang ditawarkan di sini, entah itu penjelasan mengenai terciptanya Shadowhunter atau bagaimana para demons bisa berkeliaran di bumi. Sayangnya, saya tidak mendapatkan penjelasan ini sehingga sejak awal saya harus mencoba menebak-nebak sendiri.


Mungkin para penggemar buku ini tidak akan sependapat dengan saya, tapi saya belum membaca buku ini sama sekali dan sebagai penonton yang ‘buta’ dan, jujur aja nih, yang selalu tertarik mengenai dunia fantasy, saya cukup penasaran untuk mengetahui kelanjutan film ini. So, sorry for being a little objective at this point, tapi saya akan memberikan tiga dari lima bintang untuk film ini dengan harapan film keduanya akan diproduksi sehingga saya bisa membuktikan kembali apakah film ini benar-benar bagus atau tidak. (^_^)