Ny. Lars – Part 23 -


Black Rabbit
" NY. LARS "
- Part 23 -

 
… Episode sebelumnya …
Hubungan Jenny, Kevin dan Lars semakin membaik, mereka bertiga semakin akrab. Untuk sejenak, Jenny bisa melupakan hubungan dan perasaannya yang membingungkan antara dia dan Lars. Tapi suatu siang Jenny melihat Cherry sedang jalan berdua dengan seorang perempuan tomboy. Siapa perempuan itu, ya? …

 
Ayah Jenny bernama Alexander Muller. Dia seorang pelukis yang cukup terkenal di Jerman, negara asalnya. Setelah berpisah dengan Lili yang sangat dicintainya, Alex memilih hidup sendiri dan mengabdikan dirinya untuk melukis. Kini sang ayah mengajak Jenny menemuinya di studio lukisnya, mengizinkan Jenny datang kapan pun dia mau. Jenny benar-benar gembira mendengar kabar ini. Jadi hari minggu itu, pagi-pagi sekali dia sudah mandi dan berpakaian rapi, dia akan menemui ayahnya.
Studio lukis milik ayahnya berada dipinggir kota, disebuah rumah kayu dipinggir danau. Sebenarnya studio lukis itu adalah villa keluarga Muller. Saat berpisah dengan istrinya, ayah Jenny mendapatkan villa itu sebagai bagian dari harta gono gininya. Karena tidak ada tempat lagi, maka villa itu yang dijadikan sebagai studionya. Perlu waktu sekitar satu jam untuk sampai ke villa itu, dan begitu sampai Jenny langsung disambut oleh Mbok Ilah yang sudah menjaga villa itu dari dulu dan sekarang sudah menjadi pembantu ayahnya.
" Ya ampun, neng… Apa kabar? Udah lama nggak ketemu, neng makin cantik aja… "
" Makasih, mbok… " Jenny tersenyum. " Ayah mana, mbok? "
" Ada di studio, neng. " Jenny melangkah ke studio, tapi mbok Ilah buru-buru menghentikannya. " Katanya, Tuan nggak boleh diganggu. "
" Kenapa? "
" Tuan lagi ada tamu. " Jawab mbok Ilah dengan sedikit berbisik.
" Tamu? Yang mobilnya ada di depan, ya? " Mbok Ilah mengangguk. Tadi Jenny memang melihat ada sebuah mobil di tempat parkir. " Nggak pa-pa deh, mbok. Kan Jenny mau ngasih kejutan… "
" Tapi, neng… "
Terlambat. Jenny sudah melangkah tanpa bisa di hentikan lagi.
Jenny melenggang melewati ruangan-ruangan kayu yang sudah sangat dirindukannya. Sudah hampir dua tahun dia tidak kesana menemui ayahnya, bukan karena dia tidak merindukan ayahnya, tapi lebih karena dia menghormati kesendirian ayahnya. Ayahnya memang seorang penyendiri, dia lebih suka menghabiskan waktunya dengan melukis sendirian. Karena itu, Jenny hanya mau menemui ayahnya kalau ayahnya itu memanggilnya datang.
Jenny masih berjalan melewati ruangan-ruangan yang penuh dengan wangi lilin dan cat ke pintu di pojok ruangan yang besar. Tanpa mengetuk lebih dulu, Jenny masuk dan langsung berteriak: " Ayah! "
Tapi pemandangan yang menyambut teriakannya membuatnya langsung terdiam. Jenny melihat ayahnya duduk di balik kanvas besar, menggenggam sebuah kuas di tangan kiri (ayahnya kidal) dan palet di tangan kanannya. Seperti biasa, ayahnya mengenakan topi baret kotak-kotak berwarna hijau tua dan celemek lusuh yang sudah dipenuhi noda cat berwarna-warni. Dan sebuah kaca mata bergagang tanduk menutupi mata birunya.
Pemandangan didepan ayahnya-lah yang membuat Jenny tercengang-cengang. Terdapat dua orang wanita disana, berbaring di atas tempat tidur rotan yang diselimuti kain putih dan bantal-bantal berwarna putih juga. Sepertinya kedua wanita itu sedang berpose: satu wanita berambut panjang tidur diatas kasur tanpa busana, badannya yang coklat mulus hanya ditutupi selembar kain putih dari dada sampai pahanya; disampingnya terdapat wanita yang lebih tinggi tidur disamping wanita yang pertama, juga tidak mengenakan apa-apa, juga diselimuti kain putih yang sama. Mereka berdua saling berpelukan dengan sangat mesra. Jenny tidak pernah melihat adegan se-vulgar ini, apa lagi di rumah ayahnya. Lagipula kedua wanita itu adalah orang yang dikenalnya: yang berambut panjang Jenny yakini sebagai Cherry dan wanita yang lain adalah wanita yang sama yang dilihatnya bersama Cherry di depan restoran beberapa hari yang lalu.
Kedua wanita itu dan ayahnya menatap Jenny dengan wajah terkejut yang sama.
" Jenny, kok dateng nggak telepon dulu? " Tanya ayahnya.
" Kata ayah, Jenny boleh datang kapan aja, jadi Jenny pikir… " Jenny tidak bisa menyelesaikan perkataannya, dia sedang sibuk menelaah wajah Cherry dan mencari kebenaran kalau dia tidak salah lihat.
" Ya udah, gua masih ada tamu, kamu tunggu aja di kamar dulu, entar lagi kita selesai. " Kata ayahnya lagi.
Jenny mengangguk. Dia mundur dan menutup pintu pelan-pelan sambil meyakini dirinya kalau wanita yang dilihatnya itu benar-benar adalah Cherry. Bahkan Jenny sempat melihat wajah Cherry yang memucat diatas ranjang tadi.
Kamar ayahnya berada di lantai dua, kamar yang lebih mirip gudang. Bedanya, gudang itu mempunyai sebuah ranjang ukuran dua di pojok ruangan dan ada sebuah lemari yang berisi buku-buku melukis dan sebuah meja kerja, membuat keadaan ruangan menjadi lebih mirip sebuah kamar. Kamar itu di dominasi dengan lukisan-lukisan ayahnya yang menumpuk, jumlahnya mungkin hampir seratus buah. Ayahnya memang bercita-cita untuk mengadakan pameran seratus lukisan master piece-nya sekaligus, karena itulah selama ini lukisannya tidak pernah dia jual satu pun, walaupun sudah ditawar ratusan juta rupiah. Semua lukisannya dia kumpulkan di dalam kamar itu.
Jenny berjalan menyeberangi ruangan ke arah meja kerja ayahnya dan menemukan selembar amplop coklat. Karena penasaran dengan isinya, Jenny mengambil amplop itu dan berjalan ke arah balkon yang menyajikan pemandangan danau yang luas dan membuka amplop itu disana. Jenny kembali terkaget-kaget.
Dia menemukan tiga lembar foto ukuran besar didalam sana. Foto pertama menunjukkan gambar dua orang wanita mengenakan pakaian dalam Victoria's Secret warna hitam. Saling berpelukan erat dan berciuman mesra. Foto kedua memperlihatkan dua orang wanita yang sama berdiri sejajar. Wanita yang jangkung memeluk wanita yang satu lagi dari belakang dan mencium pundak wanita itu dengan mesra. Dan foto ketiga memperlihatkan sesuatu yang lebih vulgar lagi. Dua orang wanita yang sama, berdiri sejajar. Kali ini gambar yang ditunjukkan hanya setengah badan, wanita yang lebih tinggi berada di depan, memejamkan mata dan menelentangkan tangan, sementara wanita yang lain berdiri di belakangnya, memeluk wanita yang tadi sambil menutupi payudara wanita yang jangkung tadi dengan kedua tangannya. Dan keduanya tanpa berbusana.
Jenny menutup mulut dengan salah satu tangannya karena kaget. Lebih kaget lagi karena dia tahu kalau kedua wanita itu adalah wanita yang sama, yang sedang berpose di depan ayahnya tadi, tamu ayahnya.
Pintu diketuk dan mbok Ilah masuk membawa segelas jus jeruk. Jenny memasukkan kembali foto-foto itu kedalam amplop dengan tangan gemetar.
" Neng, katanya neng disuruh tunggu dulu. Ini mbok bawain jus jeruk. "
Jenny hanya mangut-mangut karena belum bisa berkata apa-apa, hanya tangannya yang masih bergetar hebat.
" Neng kenapa? " Tanya mbok Ilah khawatir.
Jenny buru-buru menggeleng. " Nggak pa-pa, mbok. Tolong taruh aja minumannya disitu. " Kata Jenny menunjuk meja kerja ayahnya. Mbok Ilah menuruti perintah Jenny lalu keluar kamar dan meninggalkan Jenny sendirian lagi.
Jenny mencoba mengatur napasnya lagi, melangkah masuk untuk mengambil jus jeruk tadi dan meneguknya. Asam jeruk itu membuatnya sedikit tenang. Ditaruhnya lagi amplop coklat itu di tempat semula dan kembali ke balkon dengan membawa jus jeruk. Dia sedang berusaha mencerna semua yang sudah dilihatnya, menyangkut pautkan dengan semua kenyataan yang ada dan mencoba menentukan sendiri mana yang benar dan mana yang salah.
Cherry adalah wanita yang cantik, sedang berhubungan dengan Lars lebih dari sebulan ini. Tapi sekarang Jenny menemukan Cherry yang sedang berpose sangat-sangat-sangat 'berani'. Bukan dengan laki-laki lain_ini mungkin masih bisa dimakluminya_tapi Cherry dengan seorang wanita. Ini mencengangkan dan jelas sangat membingungkan. Sebenarnya Cherry sedang melakukan apa? Berpose seperti itu hanya untuk sebuah lukisan? Dan bagaimana dengan foto-foto itu? Begitu banyak pertanyaan dan berbagai penjelasaan yang cukup masuk akal bagi Jenny untuk dikategorikan sebagai 'alasan yang pas'. Mungkin Cherry sedang bekerja sampingan menjadi seorang model yang mau berpose vulgar. Atau Cherry hanya sedang iseng membuat lukisan dirinya bersama sahabat terdekatnya saja, tidak ada alasan aneh lain. Atau diam-diam Cherry bekerja sebagai foto model majalah playboy?
Ayah Jenny masuk ke dalam kamar dan langsung menemui putrinya yang berdiri di balkon sambil memandangi danau yang luas dan dalam itu.
" Sorry ya, gua kelamaan. "
Jenny memeluk dan mencium pipi ayahnya lalu duduk di atas pagar balkon. Ayahnya masih mengenakan baju dan kaca mata yang sama seperti yang dilihat Jenny di studio tadi, hanya saja celemek penuh cat tadi sudah tidak dipakai dan topi baret kotak-kotak itu sudah dilepas, memperlihatkan kepala ayahnya yang mulai botak karena penuaan dan warna rambutnya mulai berubah putih. Ayahnya kelihatan bertambah tua dibandingkan saat Jenny melihatnya terakhir kali, tapi semangatnya tidak pernah berubah.
" Gua tau dari Louise kalo lo udah pindah ke rumah Mommy lo. " Ayahnya memulai percakapan dengan nada cuek yang tidak pernah berubah dari dulu. Cuek tapi bersahabat, malah membuat Jenny rileks, seperti mengobrol dengan sahabatnya saja.
" Cuma tiga bulan, mom sendirian di rumah gede itu, jadi dia minta gua nemenin dia. "
" Lancar? "
Jenny menggeleng cepat. " Kacau! Ayahkan tau mom orangnya kayak gimana? Gua kayak dipenjara, ini salah, itu salah. Ngomong aja salah. "
" Yah… Mommy lo emang kayak gitu. Dia nggak pernah berubah dan terlalu keras kepala. "
Jenny memperhatikan wajah ayahnya saat dia sedang membicarakan soal ibunya. Ada pandangan sendu disana, tapi senyum lepas yang mengiringinya malah terlihat seperti senyum penyesalan. Menyesal karena istrinya_ralat_mantan istrinya, tidak berubah sedikit pun untuk menjadi seseorang yang lebih baik.
" Wie ghet dein tage? ( Bagaimana harimu?) " Ayahnya memandang Jenny dan mata mereka saling bertemu. Kehangatan yang kali ini terpancar dari matanya.
" Nein gut. (Tidak bagus) Gua baru patah hati. "
" Sama siapa? Cowok yang lo ceritain itu? Siapa namanya? Lars, ya? " Jenny mengangguk, dia memang pernah menceritakan Lars kepada ayahnya. " Kenapa? Kalian cocok kok. " Lanjut ayahnya masih dengan semangat yang sama.
" Dia nggak cinta sama gua, dia cinta sama orang lain. " Jenny mendadak teringat kembali dengan Cherry dan Lars yang sedang bermesraan juga Cherry dan teman wanitanya difoto tadi.
" Nggak usah sedih, masih banyak cowok di dunia ini. Lo berhak ngedapetin cowok yang lebih baik dari pada dia. " Jawab ayahnya sambil menepuk pundak Jenny dengan lembut. Jenny tersenyum, berpikir bahwa 'banyak cowok lain di dunia ini' mungkin salah satunya adalah Kevin. Kevin yang sekarang sudah memiliki rambut model Tintin yang membuat Jenny lebih lega waktu mengingat sosoknya.
" Gua mau ngomongin lukisan ke lo, Jen. " Kata ayahnya lagi, kali ini kelihatan lebih serius. " Lo tau kalo gua punya cita-cita pengen ngadain pameran seratus lukisan sekaligus, kan? " Jenny mengangguk. " Well, semuanya udah di depan mata sekarang. "
" Maksudnya? "
" Tinggal beberapa lukisan lagi, semuanya genap seratus buah. Gua juga udah dapet sponsor dan mereka mau gua buka pameran di Jerman. "
" Jerman? "
" Iya, Jerman. " Ayahnya mengangguk. " Jadi nggak lama lagi, gua bakal pulang ke Jerman. "
" Kapan? "
" Secepetnya. Gua baru dapet order bikin empat lukisan, tiga dari foto. " Jenny langsung ingat lagi dengan foto-foto tadi. Jadi itu akan dijadikan lukisan? " Gua bisa selesain kira-kira satu bulan, bisa lebih. Dan gua mau, lo ikut sama gua ke Jerman. "
Jenny terkejut. Ayahnya mengajaknya tinggal bersama! Di Jerman lagi!
" Ke… Jerman… " Kata Jenny seperti mengigau.
" Nggak usah jawab sekarang, gua tau lo masih bingung. Pikirin aja dulu. " Ayahnya mengelus kepala Jenny dengan lembut dan memandang Jenny dengan pandangan yang seolah mengatakan: 'I want the best for you'. Dan Jenny akhirnya terdiam.
Oke, kembali ke permasalahan awal yang ingin ditanyakan Jenny sedari tadi, yang membingungkan dan membuatnya penasaran.
" Yah… Tadi yang si studio itu siapa? " Tanya Jenny akhirnya.
" Oh… Mereka orang yang mau dilukis dan yang pesen lukisan dari foto itu. " Jenny diam, berpikir. " Posenya memang terlalu vulgar, ya? " Ayahnya melanjutkan dan Jenny tersenyum seadanya. " Gua hanya ngelukis, mereka sendiri yang mau berpose kayak gitu. "

 
...Bersambung...