Ny. Lars – Part 26 -


Black Rabbit
" NY. LARS "
- Part 26 -

 
… Episode sebelumnya …
Kevin tahu sesuatu mengenai Cherry yang selama ini berusaha untuk di tutup-tutupinya, dan sekarang Jenny memutuskan untuk mencari tahu tentang rahasia itu. Dan ternyata rahasia itu cukup mengguncangkan juga. Pada akhirnya keduanya memutuskan untuk menyelamatkan Lars, sahabat mereka …

 
" Gua udah beberapa kali nyoba ngomong sama Cherry, tapi gagal. Lo kan sama-sama cewek, kali aja dia mau ngedengar omongan lo. Jadi, lo bisa nyoba ngomong sama dia pelan-pelan, dan gua bakal ngomong pelan-pelan sama Lars. "
Ini rencana yang disusun Kevin untuk misi penyelamatan kali ini, tapi sepertinya tidak semudah yang mereka bayangkan. Sekarang Jenny sudah bertemu dengan Cherry dan benar-benar berniat 'menyadarkan' Cherry, tapi kenyataannya berbeda. Cherry dan Jenny sedang sibuk membicarakan Lars.
" Lo inget waktu kita pertama kali ketemu? " Kata Cherry.
Dia mengenakan setelan tenis terbaik yang pernah Jenny lihat. Cherry memakai baju serba biru muda, dengan rok tenis warna senada. Tungkainya mulus putih tanpa bulu (benar-benar waxing yang bagus!) dengan telapak kaki yang dibalut sepatu olahraga polos beraksen biru yang lebih tua. Handban nya berwarna putih polos dan bandana yang melingkar di kepalanya berwarna putih bergaris biru. Benar-benar paduan yang sempurna disertai dengan make up minimalis yang membuatnya kelihatan manis.
Jenny mengangguk menanggapi pertanyaan Cherry tadi sambil mengamati penampilannya sendiri. Celana jeans bertali silang dari paha hingga mata kakinya dan tank top ketat. Benar-benar ketinggalan jaman dan tidak serasi jika dibandingkan dengan Cherry. Tidak heran kalau Cherry dikagumi banyak laki-laki, terlepas dari kenyataan kalau ternyata Cherry punya kelainan.
" Gua inget banget. Lars mabuk berat sekaligus babak belur gara-gara berantem. Trus gua nelpon lo dari ponsel Lars. Muka lo keliatan panik banget loh waktu itu. "
" Oh iya? "
" Iya! Gua aja jadi nggak enak sama lo. Tapi untung deh ada lo, kalo nggak gua nggak tau mesti bawa Lars kemana. "
Mereka berdua tertawa bersama, padahal di dalam hati Jenny sedang berpikir keras mencari cara untuk mengalihkan pembicaraan ke arah semula.
" Jen, sebenernya lo suka sama Lars, kan? "
Jenny berhenti berpikir karena kaget. Dia yakin sudah mengubur ingatannya akan hal itu, tapi kenapa ketika Cherry mencoba menggalinya sedikit, rasanya semuanya keluar lagi dengan cepat? Jenny panik. Dia benar-benar harus menemukan jalan kembali ke tujuan awal.
" Cherry, gua—"
" Dari awal ngeliat lo sepanik itu waktu tau Lars babak belur, gua tau kalo lo suka sama Lars. " Cherry mengatakan semuanya dengan begitu tenang, sedangkan Jenny malah panik tidak keruan.
" Lo udah lama memendam perasaan lo, kan? Gua tau lo udah dua taun kenal sama Lars, jauh lebih lama dari pada gua. Kenapa lo nggak ngomong aja langsung? Kenapa lo—"
" Cher, sebenernya gua mau ngomong sama lo. " Potong Jenny dengan semantap mungkin. Sekarang Cherry yang diam. " Beberapa minggu yang lalu, gua ngeliat lo jalan sama cewek jangkung. Mesra banget. Padahal lo bilang sama Lars kalo lo ada rapat. Untung aja Lars nggak ngeliat lo, kalo ngeliat gimana? "
Cherry tampak kaget, tapi memilih untuk tetap diam.
" Terus, gua ngeliat lo berpose nyaris bugil di studio lukis bokap gua, sama cewek yang sama. Gua juga ngeliat foto-foto lo sama cewek itu di kamar bokap gua. Jadi, gua mau denger penjelasan dari lo. Langsung. " Akhirnya setelah selesai, Jenny diam menunggu jawaban atau reaksi apapun dari Cherry. Kini giliran Cherry yang berbicara untuk menjelaskan semuanya kepada Jenny. Tapi Cherry hanya diam. Dia terlihat seperti putri Cinderlela yang sedih melihat sang pangeran yang mencari pemilik sepatu kaca tetapi tidak menghampirinya, pemilik sepatu kaca yang asli. Bedanya, Cinderlela yang satu ini mengenakan setelan tenis terbaik di dunia.
" Cewek itu… " Cherry mulai berkata, tapi langsung diam seribu bahasa lagi. Sepertinya masih enggan menjelaskan apa-apa.
" Dia Tommy Mariam Pratama. Anak sulung dari Hendrawan Surya Pratama, orang ke lima terkaya di Indonesia. " Kata Jenny menimpali, Cherry memejamkan kedua matanya lalu mengangguk pelan.
" Iya. Dan dia… orang yang gua cintai. "
Jenny tidak punya rasa kaget lagi yang tersisa untuk menanggapi pengakuan Cherry ini.
" Gua kenal dia hampir seumur hidup gua. Dia temen gua dari kecil, dan dari kecil kita nggak pernah pisah. Dia anak sulung keluarga Pratama, emang. Awalnya keluarganya pengen punya anak cowok, tapi yang lahir malah cewek, mangkanya dari kecil Tommy diperlakukan kayak anak cowok. Pake celana, main mobil-mobilan, sampe dikasih nama cowok. "
Jenny terus menyimak cerita Cherry, sementara yang bercerita tidak pernah menatap wajah Jenny sedikit pun.
" Masuk kuliah, kita mulai sadar kalo kita berdua nggak bisa pisah lagi. Kita saling ngebutuhin, bukan hanya secara fisik, tapi juga secara emosi, secara perasaan, secara hati. "
" Jadi sejak itu, kalian… "
" Iya, kita jadian. " Cherry berhenti sebentar untuk meneguk teh manisnya. " Semenjak itu gua mengalami hari-hari paling indah bareng Tommy. Dia orang yang paling tau tentang gua, orang yang paling bisa pahamin gua. Tapi waktu orang tua kita tau, semuanya jadi kacau. Mereka ngebuang kita. "
" Ngebuang? " Ulang Jenny tidak percaya.
" Iya. Mereka mau ngebiayain gua sama Tommy di Amerika, asalkan kami nggak pulang ke sini dan bikin mereka malu. Lo mau ngomong kalo gua harus mutusin Lars, kan? "
Jenny mengangguk dengan kikuk.
" Sebenernya, gua juga nggak mau nyakitin dia. Lars cowok yang baik, tapi gua hanya manfaatin dia buat jadi 'obat' gua. "
" Obat? "
" Gua pulang kesini buat ngobatin 'sakit' gua. Gua nggak mau terus-terusan di pandang jelek sama orang, gua nggak mau Tommy di jelekin mulu. Mangkanya gua nyari cowok buat nyembuhin gua. Gua ketemu Lars, dan gua langsung ngerasa kalo dia bisa ngobatin gua. Tapi gua salah. Gua nggak bisa ngelupain Tommy. Semakin gua berusaha ngelupain Tommy, gua malah semakin cinta sama dia. "
Jenny tahu benar perasaan seperti itu. Dia pernah merasakannya. Tapi… tapi bagaimana dengan Lars? Tanya Jenny dalam hati.
" Tapi gimana sama lars? Dia serius banget sama lo, nggak pernah seserius ini selain sama lo. Lo calon nyonya Lars-nya! " Tanya Jenny dengan sedikit berteriak, bertanya panik dan sedikit memohon sambil memegang tangan Cherry. Cherry dengan tenang melepas pegangan tangan Jenny dan menggenggam tangan Jenny itu dengan mantap.
" Gua nggak pantes jadi nyonya Lars. Ini sebutan yang cocoknya buat lo. " Jenny diam, mencoba mencerna perkataan Cherry dengan keyakinan seratus persen lebih. Cherry melanjutkan perkataannya: " Lo cinta sama Lars, dan Lars juga cinta sama lo. Kalian cocok, tapi kalian nggak pernah sadar. "
" Nggak. Gua bukan calonnya. Dia nggak suka sama gua, gua cuma asisten Lars, nggak lebih! " Jenny panik membayangkan sesuatu yang hanya menjadi angan-angannya selama ini. Lars tidak mencintainya, Lars hanya menganggapnya sebagai asisten, semua keinginan untuk menjadi nyonya Lars itu hanya angan-angan Jenny saja. Dia tidak berhak meminta lebih. Sudah sangat beruntung Lars bisa menerima Jenny sebagai sahabatnya.
" Kalau Lars nggak peduli sama lo, buat apa dia selalu ngomongin lo di depan gua? Kenapa cuma nomor ponsel lo yang ada di memori teleponnya? Setelah ngedapetin gua, mungkin Lars bakal mikir kayak yang lo bilang tadi. Tapi sebelum gua dateng, sebelum Kevin ada, apa yang dia rasain sama lo? Lo tau? "
Jenny menggeleng, lalu diam lagi. Dia merasa kalau keadaannya sedang terbalik. Seharusnya saat ini Cherry yang sedang bingung seperti ini, bukan dia.
" Lo sama Kevin baru pacaran dua bulan, bukan setaun kayak yang lo bilang sama Lars, kan? "
Jenny diam lagi. Iya. Perjanjian itu masih berlangsung sampai sekarang, tapi Jenny sudah lupa tujuan awal perjanjian itu. Awalnya Kevin dibutuhkan hanya untuk meyakinkan Lars kalau Jenny memang sudah memiliki pacar, tidak lebih. Kalau berdasarkan hal itu, tugas Kevin seharusnya sudah selesai sejak sebulan yang lalu. Tapi semuanya masih berjalan, Jenny lupa untuk mengakhirinya. Atau tidak berani?
Cherry berkata lagi, kali ini dengan wajah Jenny tepat didepannya. Pandangannya lembut dan sarat akan keseriusan.
" Gua tau apa yang harus gua lakuin, tapi gua mau yakin dulu kalo lo juga harus ngelakuin apa yang harus lo lakuin dari dulu. "
" Apa? " Tanya Jenny dengan bingung.
" Dapetin Lars. Omongin perasaan yang selama ini lo rasain sama sia. Jadi nyonya Lars buat dia. "

 
...Bersambung...