Ny. Lars – Part 14 -


Black Rabbit
" NY. LARS "
- Part 14 -

 
… Episode sebelumnya …
Louise mengingatkan lagi kepada Jenny betapa baiknya Kevin dan betapa Kevin bisa membahagiakannya, sesuatu yang selama ini tidak pernah Jenny bayangkan bisa dilakukan oleh orang lain selain Lars. Dan Louise juga meyakinkan bahwa Kevin bisa menjadi seorang penyelamat yang baik saat acara double date mereka nanti. Jenny sendiri masih tidak yakin …

 
Hari ini hari Sabtu, hari double date yang dijanjikan Lars dengan Jenny. Hati Jenny sudah berdebar-debar sejak sore tadi karena menunggu acara ini. Beberapa hari yang lalu Jenny sudah mencoba menelaah lagi perasaannya terhadap Lars karena kata-kata Louise waktu itu. Mungkin saja Lars memang bukan untuknya, mungkin saja Kevin memang cowok yang baik dan cocok dipacari, mungkin saja selama ini Jenny salah jatuh cinta, dan masih banyak kemungkinan yang lainnya. Tapi herannya, semakin dipikirkan seperti itu, Jenny malah semakin yakin kalau Kevin bukan untuknya, Lars memang laki-laki yang diidamkannya sedari dulu, dan keseriusannya untuk mencintai Lars yang playboy sama mantapnya seperti pertama kali dia memutuskan untuk membiarkan Lars masuk kedalam hatinya.
Kalau kita ambil perumpamaan, mungkin perasaan Jenny saat ini sama dengan perasaan yang dirasakan Rose dalam film Titanic saat dia diminta terjun ke kapal penyelamat lebih dulu dan meninggalkan Jack di kapal yang akan tenggelam. Tapi semakin dilepas seperti itu, dia malah semakin tidak ingin meninggalkan Jack yang dicintainya sendirian, sehingga Rose meloncat kembali ke dalam kapal dan mengejar kembali kepelukkan Jack lagi (You'll jump, I'll jump, right?). Dalam kasus Jenny kali ini, Rose diperankan dirinya sendiri sedangkan Jack adalah Lars. Anehkan? Entahlah, Jenny juga merasa aneh. Mungkin cinta itu terdiri dari magnet yang saling tarik menarik dan kutub utara dan kutub selatannya adalah sepasang kekasih.
Jam antik diatas meja rias Jenny sudah menunjukkan pukul 18.15 sore, sebentar lagi Kevin akan menjemputnya. Jenny memoleskan blush on sebagai sentuhan terakhir make up minimalisnya lalu melihat dirinya lagi di cermin. Bayangan di cermin memperlihatkan Jenny yang mengenakan gaun hitam panjang model kemben dengan motif tali dipunggung yang memamerkan punggungnya yang halus dan putih hingga ke pinggang. Dia memilih sandal berwarna hitam dengan hak tiga senti yang tidak terlalu tinggi dan menenteng sebuah tas hitam kecil. Rambut coklatnya dibiarkan tergerai dan dia mengenakan mantel coklat sebagai penghangat tubuhnya. Udara di bulan yang rawan hujan biasanya tidak terlalu bersahabat.
Pintu diketuk dari luar dan setelah Jenny berteriak mempersilahkan masuk, datang seorang pelayan.
" Maaf nona, Tuan Kevin sudah menunggu di ruang tamu. "
" Udah deh, nggak usah manggil 'Nona' dan 'Tuan' segala, ini bukan istana. " Jawab Jenny sambil meraih sisir dan menyapukannya di rambut. Pelayan itu hanya tersenyum. " Dia nunggu sendirian? " Tanya Jenny lagi.
" Tidak, nona, ada nyonya yang menemaninya. "
" Hah? "
Tadinya Jenny berniat untuk membiarkan Kevin menunggunya sedikit lebih lama, sekaligus menguji seberapa sabarnya seorang laki-laki yang bernama Kevin itu, tapi setelah mengetahui kalau ternyata Kevin tidak sendiri, melainkan ditemani ibunya, Jenny langsung melesat keluar dan menemui Kevin secepat yang dia bisa. Tidak baik meninggalkan tamu dengan seorang ibu yang menyebalkan seperti Lili. Lagi pula, Jenny pernah membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa orang yang berambisi kuat tidak akan cocok dengan orang yang keras kepala. Jangankan untuk berhubungan, berteman saja bisa menyebabkan pertengkaran hebat, begitu kata artikelnya. Jenny yakin benar kalau Kevin adalah salah satu orang paling ambisius yang pernah ditemuinya, sedangkan ibunya adalah seorang yang keras kepalanya lebih keras dari pada batu, mereka akan langsung bertengkar bahkan sebelum mereka sempat resmi berkenalan. Jenny berlari ke ruang tamu dengan takut setengah mati, dia sedang membayangkan kalau ibunya sudah siap mencengkram leher Kevin, atau bisa-bisa anggar yang diletakkan di dinding ruang tamu untuk dipajang itu bisa mereka gunakan untuk saling menyerang.
Kalau kamar Jenny di dekorasi seperti kamar seorang putri di abad ke-17, lain halnya dengan ruang tamu. Ruangan itu didekorasi dengan berbagai macam senjata sehingga keadaannya hampir mirip dengan gudang senjata. Terdapat sepasang pedang anggar yang disilangkan diatas perapian, pistol rakitan dari abad ke-16, tombak-tombak yang digunakan pendekar Cina seperti di televisi, sampai samurai dari zaman Edo di Jepang. Yang membedakan ruangan itu dengan gudang senjata hanyalah satu set sofa besar yang berada ditengah ruangan yang mengelilingi meja berukiran naga dan perapian asli disudut ruangan. Walaupun senjata-senjata itu tidak pernah digunakan lagi, tapi tetap masih bisa digunakan oleh 'si ambisius' dan 'si keras kepala' untuk berperang.
Saat Jenny sampai diruang tamu, Jenny menyaksikan pemandangan yang sama sekali berbeda dengan apa yang diperkirakannya tadi. Ibunya sedang duduk dan memangku salah satu koleksi hamsternya yang tergemuk ( ibunya menamai hamster itu Sisi). Sementara disebelahnya ada Kevin yang duduk berdampingan dengan ibunya, sedang mengelus hamster yang dipegang ibunya di tangan kiri dan mereka tertawa bersama. Astaga, ternyata artikel itu bohong! Teriak Jenny dalam hati.
" Ah, itu dia Jenny… sebaiknya kalian pergi sebelum terlambat... "
Lili dan Kevin melihat Jenny yang diam tak bergerak di depan pintu, lalu Kevin tersenyum dan beranjak dari duduknya. Kevin berpamitan dengan ibunya lalu KEVIN MENCIUM KEDUA PIPI IBUNYA!!! Tanpa berpamitan Jenny berjalan keluar dan mendengar ibunya menjerit " Have Fun! " sebelum menutup pintu.
" Kalian ngomongin apa aja tadi? " Tanya Jenny dengan sengit setelah dia dan Kevin sudah berada di dalam mobil BMW milik Kevin.
" Cuma ngobrol biasa aja, kok sewot gitu? Lagian nyokap lo menyenangkan juga ya, dan punya hobi yang sama kayak gua. "
Jenny memukul tangan kirinya ke jidat lalu menempelkan sikunya di daun pintu mobil. " Jangan bilang kalo lo juga suka hamster. "
" Emang kenapa? I do like hamster. Gua pelihara dua hamster Rumania di rumah. "
" Ya ampun… Gua benci hewan pengerat. "
" Hamster bukan hewan pengerat. "
" Dia punya gigi, hidung dan muka kayak tikus. "
" Bukan berarti dia hewan pengerat. Dia cuma makan daun dan biji-bijian. "
" Terserah, deh. " Jawab Jenny sambil masih memegangi kepalanya
" Use your seatbelt, gua mau ngebut, kita udah telat. By the way, you look beautiful tonight. " Kata Kevin sambil memindahkan perseneling ke gigi satu dan mulai menjalankan mobilnya. Sementara Jenny sendiri malah terdiam. Bukan gara-gara dia takut kalau Kevin ngebut, tapi karena dia kembali teringat kalau sekarang dia sedang berada di perjalanan menuju mimpi terburuknya yang bersangkutan dengan Lars dan wanita lain. Dan jujur saja, Jenny belum memutuskan akan bersikap bagaimana saat bertemu mereka nanti.

 
...Bersambung...