“ Jangan Menyerah! “


Aku sedang berada di tengah-tengah orang banyak, berdiri bersama-sama mereka, melakukan apa yang mereka lakukan, mengatakan apa yang mereka katakan. Aku ada di sana, di samping orang yang sangat mengenalku dan yang sangat aku kenal. Suasananya hiruk pikuk, hingar bingarnya bagai sekumpulan belah yang berdengung tanpa lelah. Ruangan berpendingin itu memang tidak terlalu penuh seperti biasanya, aku datang lebih awal dari pada orang lain, tapi kenyamanannya tetap terasa menyenangkan, karpet tebalnya tidak pernah membiarkanku luput dari keinginan untuk tidur terlentang di atasnya dan merasakan empuknya.
Tapi sekarang aku terdiam di pojok ruangan, duduk di samping orang yang biasanya dapat membuatku merasa paling nyaman dengan banjir air mata, hati yang perih tertusuk dan punggungnya yang basah.
Aku menangis, dengan deretan syair itu mengalun di sekeliling ruangan.
…tak ada manusia yang terlahir sempurna…
…jangan kau sesali sgala yang telah terjadi…
…kita pasti pernah dapatkan cobaan yang berat…
…seakan hidup ini tak ada artinya lagi…
Aku adalah seorang artis sejati, yang menjamu perasaanku dengan begitu apik, menuruti apa kehendaknya tanpa mangeluh, bagaikan seorang hamba yang melayani rajanya yang angkuh. Begitulah hatiku, duduk menempati tangga tertinggi kehidupanku dan mengendalikan diriku dengan sesuka hatinya. Jika dia menginginkanku untuk menangis, maka menangislah aku. Tertawalah aku jika dia menghendakinya begitu, dan marahlah aku jika dia sedang kesal.
Sepertinya saat ini dia sedang kesal dan marah sekaligus, sehingga aku yang hanyalah budaknya ini harus duduk di pojok ruangan dan menangis tersedu di sana, di sekeliling kerumunan orang banyak, hanya karena sebuah lagu yang terdengar samar-samar di ruangan besar itu. Terdengar seperti orang bodoh, iya aku tahu. Tapi apalah dayaku jika dia yang memegang kekuasaan penuh terhadapku?
Iya, aku tahu bagaimana dan apa yang dirasakannya saat itu. Aku memaklumi jika dia begitu sedih, aku pun merasakan begitu sesak merasakan perasaan yang sama itu. Dia sedang begitu labil, begitu memperihatinkan, sangat perlu dikasihani dan bahkan perlu diselamatkan. Empat penjuru dinding berusaha menekannya dari berbagai sisi, tidak memberinya celah sedikitpun untuk keluar dan menyelamatkan diri. Dia merasa terancam, dia merasakan takut yang sangat mendalam dan sekarang dia berteriak meminta tolong.
Sebenarnya egonya sangat tinggi. Posisi yang di dudukinya sekarang membuatnya merasa harus menjadi seseorang yang kuat, yang tidak mudah di runtuhkan, yang tidak akan gentar walau tsunami ganas menyerang sekalipun dia berada di pinggir pantai. Dia melatih dirinya sendiri untuk bisa mengerakkan tamengnya dengan lihai dan menahan segala serangan dengan cepat. Dia harus kuat, apa pun yang terjadi, apa pun resikonya.
Tapi dia lupa kalau seekor tupai yang paling pandai melompat pun suatu saat akan jatuh juga, begitu pun dengan dirinya. Seberapa kuatnya dia bertahan, seberapa lihainya dia menggunakan tameng untuk melindungi dirinya, ada kalanya setitik kelalaian yang tidak di sengaja akan dapat dimanfaatkan orang lain untuk menyerangnya dari arah yang tak terprediksi sebelumnya, sehingga dia tidak bisa menghindar dan akhirnya terluka dengan begitu parah. Dia sendiri akan sangat terkejut melihat luka yang di deritanya akibat serangan itu dan itu membuat parahnya menjadi berkali-kali lipat.
Itulah yang dirasakannya saat ini, saat lagu itu masih terngiang-ngiang di telinganya seperti dimainkan eksklusif di dalam kepalanya oleh sang penyanyi itu sendiri. Hanya air mata itu yang bisa membuktikan bahwa dia sedang sakit, sedang terluka parah dan meminta pertolongan sehingga dia tidak lagi memperdulikan egonya yang sebenarnya tidak mengizinkannya untuk meneteskan air mata di manapun dan untuk alasan apa pun dalam keadaan apa pun dan di hadapan siapapun. Semua itu hanya akan menjadi aib yang membuatnya tambah terpuruk.
Tapi lupakan semua itu sejenak, dia baru saja memintanya kepadaku dengan nada suara yang terdengar seperti memelas dan nyaris memohon. Ya ampun, dia benar-benar sedang butuh pertolongan. Dia terluka parah…
…syukuri apa yang ada, hidup adalah anugrah…
…tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik…
…Tuhan pastikan menunjukkan kebesaran dan kuasanya…
…bagi hambanya yang sabar dan tak kenal putus asa…
…jangan menyerah…
Aduh, air matanya tidak berhenti juga. Ini rekor terlama dia terpuruk setelah sekian lama aku bersama dengannya, menjadi sebagian dari dirinya. Tidak pernah aku melihatnya seperti ini, kasihan juga. Dengar, kau harus belajar lagi, sobat. Management ikhlas, itu materi yang tepat untuk kau pelajari sekarang. Kau perlu menyadari bahwa sebenarnya kendali tidak berada di tanganmu, ada sebuah tangan lain yang lebih kuat dan lebih pandai untuk bisa menangani semua itu. Kau hanya perlu berusaha melakukan segalanya dengan baik dan jangan menyerah. Buang jauh hidung besarmu yang menjengkelkan itu dan coba lihat di sekelilingmu, ada begitu banyak hal lain yang bisa kau lakukan dengan lebih baik dari pada hanya sekedar merasa hebat dan kuat padahal sebenarnya kau lebih rapuh dari pada seonggok kayu yang sudah di makan rayap dan jamur.
Lihat, ada seseorang di sampingmu yang selalu ada untuk membasuh air matamu yang menjijikan itu tanpa mengeluh, yang mau menatap hidung besarmu yang jelek itu setiap kali menanggapimu berkoar-koar dengan besar kepala, yang telah kau basahi punggungnya dengan air matamu itu, yang telah kau buat malu dengan membiarkan dirimu menangis di tengah orang banyak seolah dia yang telah menyebabkan air mata itu mengalir. Bersyukurlah karena dengan adanya dia di sisimu kau bisa bernapas lega selama ini, bisa merasa jauh lebih tinggi dari pada biasanya. Tidakkah kau sadar bahwa dialah yang telah menganggatmu jauh lebih tinggi lagi?
Seharusnya kau berterima kasih kepadanya, bukannya selalu menghujat dan merepotkannya dengan keegoisan yang menyebalkan itu.
Coba lihat dia? Dia malah tersenyum dengan sangat sabar melihat hidungmu yang merah karena menangis. Dia malah mengelus kepalamu dengan sayang sewaktu kau memukul punggungnya untuk melampiaskan emosimu. Dan lihat, dia malah menciummu saat kau mencibir kepadanya. Apa lagi yang kau inginkan darinya? Haruskah dia membelah dadanya untukmu?
Sudahlah, cukup. Lagu terkutuk itu sudah selesai. Usap air matamu, angkat dagumu tinggi-tinggi dan busungkan dadamu. Kau gadis yang kuat, bukan saatnya menangis dan menunjukkan emosimu yang memalukan itu kepada orang banyak. Apa yang kau harapkan? Mendapatkan simpati lagi dari orang-orang di sekelilingmu? Atau malah ingin lebih mempermalukan dirimu sendiri di depan orang banyak ini dan meruntuhkan sosok diri yang telah susah payah kau bangun selama ini?
Ayo bodoh, berhenti menangis!
Serangkaian pengumuman sudah terdengar dari pengeras suara yang di letakkan dengan tersembunyi di pojok ruangan, sudah saatnya aku beranjak pergi dan menjalani kehidupanku lagi. Ada sebuah perjalanan yang harus aku arungi bersama orang lain, aku harus menghadapinya, aku tidak bisa menghindar. Jadi aku kembali membaur ke lingkungan itu, lingkungan yang selalu siap dengan tali gantungan di setiap langkah yang aku pilih.
~Na~