‘Val’phobia ( part 9-end )


…Cerita Sebelumnya…
Ketakutanku terbukti benar. Tiba-tiba Val mengajakku pergi ke suatu tempat dan menyatakan cintanya kepadaku! Dia bahkan menciumku! Tentu saja semua itu menggoyahkan keputusan yang tadinya sudah aku yakini, tapi ternyata…

 
Malamnya aku tidur dengan berderaian air mata, pikiran yang kusut, perasaan yang sangat tidak nyenyak dan tidak nyaman. Aku memimpikan Val lagi, memimpikan ciumannya dan bibirnya yang lembut, memimpikan kata-kata manis dan janji-janjinya. Tapi aku sangat kaget karena tiba-tiba mendengar sebuah suara memanggilku. Aku kenal betul suaranya, itu suara Daniel! Aku bergegas mendorong Val menjauh dan menoleh ke belakang…
" Hei sayang, bangun dong. Ini sudah pagi! "
Aku melihat wajah Daniel tepat berada di depan wajahku dan langsung terlonjak kaget. Buru-buru aku melihat sekelilingku, mencari sosok Val yang baru saja menciumku tadi sekaligus berharap Daniel tidak melihat Val dan menjadi marah. Tapi aku tidak menemukan Val dimana pun, aku malah menemukan kamarku sendiri.
" Flor, bangun dong… sudah aku cium kok belum bangun juga. Batal deh jadi 'sleeping beauty'-nya. "
" Dan… kamu kok ada disini? "
" Aku kangen sekali denganmu, soalnya kita dipingit tidak boleh bertemu. Jadi aku sengaja datang ke rumah sewaktu tante pergi. Tapi kamu malah enak tidur. Nyenyak sekali, ya? "
Aku mengangguk dan tersenyum.
" Kok mata kamu basah begitu? Mimpi buruk? " Lanjut Daniel dengan sedikit khawatir. Aku meraba kelopak mataku dan merasakan sisa air mata disana. Aku benar-benar menangis. Aku kembali menatap wajah Daniel, dia tersenyum manis lalu mengecup kepalaku dan membuatku tersenyum juga.
" Sudah, cuci muka sana! Bertemu calon suami kok mukanya banyak kotoran matanya begitu? Jorok! "
Aku tersenyum lalu memeluk Daniel dengan sangat-sangat-sangat gembira. Entah kenapa, wajah Daniel seolah-olah telah menenangkanku, rasanya dia telah menyelamatkanku dari jeratan seorang Val di mimpi tadi dan tanpa aku sadari rasa sayang Daniel telah menjawab semua keraguanku. Aku beranjak untuk pergi ke kamar mandi sementara Daniel beranjak untuk keluar kamar dan menungguku di ruang tamu. Tepat saat Daniel sampai di depan pintu dan aku sampai di depan pintu kamar mandi, Daniel menoleh ke belakang dan berkata:
" Tadi handphone kamu berbunyi, ada SMS dari yang namanya Valentino, maaf yah aku buka SMS-nya. "
Aku malah menggeleng pelan, mengatakan secara tidak langsung kalau aku tidak keberatan. Rasanya tindakan Daniel yang melanggar privasiku itu malah terasa seperti perwujudan rasa sayangnya yang mendalam.
" Hm… siapa sih dia? Teman? " Tanya Daniel lagi, cukup berhati-hati.
" Iya, teman lama. " Jawabku dengan jujur.
" Oh, ya sudah. Aku tunggu di depan, ya. " Daniel keluar dari kamarku dan aku meraih ponselku. Tidak ada simbol pesan yang belum dibaca di layar monitor handphoneku, berarti Daniel memang membuka dan membaca SMS itu.
Benar, itu SMS dari Val. Dia menanyakan kabarku seperti biasa dan memintaku untuk secepatnya menghubunginya lagi. Aku meneleponnya saat itu juga. Pembicaraan Val memang sedikit membingungkanku, aku tidak mengerti apa yang ingin dikatakannya. Dia mengatakan bahwa pertemuan terakhir kami tidak berjalan dengan baik tapi malah menyisakan salah paham yang semakin meruncing. Val mengatakan bahwa kami harus bertemu lagi, kami harus meluruskan masalah-masalah itu, dia tidak mau mengulang kesalahan yang sama seperti dulu saat dia membiarkan kesalahpahaman kami begitu saja sehingga hubungan kami menjauh.
Aku setuju kalau pertemuan terakhir kami memang tidak berjalan dengan mulus, tapi aku tidak bisa bertemu lagi dengannya. Walaupun aku sudah menetapkan hati untuk memilih Daniel, tapi aku tidak mau mengambil resiko bertemu dengan Val yang akhirnya malah akan menggoyahkan keteguhan hatiku lagi. Aku tidak mau terhanyut dengan pesonanya lagi, dengan rayuannya, dengan kata-kata manisnya, dengan tatapan tajam matanya yang harus aku akui akan tetap membuatku tertarik dan luluh. Bagaimanapun Val memang adalah seseorang yang sangat istimewa bagiku, aku tidak bisa mengubah kedudukan itu dan membohongi hatiku. Tapi ketetapan hatiku sudah bulat, aku tidak ingin mengubahnya lagi.
Jadi aku hanya mengatakan kalau aku sudah melupakan kejadian tidak mengenakkan itu dan mengganggap semuanya tidak pernah terjadi. Val terdiam untuk beberapa saat, mungkin tidak menyangka kalau aku akan menjawab setegas itu. Tapi akhirnya dia meminta maaf karena kembali membuat hubungan kami menjadi renggang. Aku juga meminta maaf dan mengatakan kalau kami masih bisa berteman dan akhirnya Val terdengar lebih rileks dan santai.
# # #
Kurang lebih dua minggu kemudian acara pertunanganku dengan Daniel pun akhirnya dilaksanakan. Tidak terasa beberapa menit lagi aku akan resmi menjadi calon istri dari seorang Daniel.
Tidak bisa aku bayangkan betapa leganya aku saat ini, berada di tengah-tengah acara pertunanganku, menggandeng calon suamiku tersayang, lega karena semuanya tampak berjalan dengan lancar sebagaimana mestinya. Semua orang tampak sangat gembira, apa lagi kedua orang tua kami. Aku mengenakan gaun yang sudah aku pesan dengan Mas Sammy waktu itu dan Daniel mengenakan setelan jas berwarna coklat gading yang membuatnya kelihatan tambah ganteng. Pokoknya semuanya berjalan dengan sangat lancar.
Sejak perbincangan terakhir antara aku dan Val itu, lagi-lagi Val hilang dari kehidupanku. Dia tidak pernah mengirim SMS lagi, tidak pernah meneleponku lagi, bahkan tidak datang ke acara pertunanganku, padahal dia sudah berjanji akan datang. Tapi aku tidak perduli. Val sudah menjadi masa lalu yang memang sudah seharusnya aku lupakan. Biarkan semuanya kembali pada keadaan yang semestinya, keadaan seperti saat aku belum bertemu dengan Val. Hubunganku dengan Val memang sudah selesai sampai disini saja, jadi biarkan aku menjalani hidup sesuai dengan keputusanku sendiri dan mempersiapkan hati untuk menjadi istri seorang Daniel satu tahun mendatang.
Selamat tinggal Valentino Pratama.
SELESAI