APA KATA MEREKA TENTANG 'THE TWO RINGS' ??


"Menurut gua 'The Two Rings' karya yang unik dan banyak kejutan, rasanya seperti makan permen aneka rasa ( nano-nano ) yang ramai rasanya, cukup menggelitik lidah dan membuat penasaran tapi tetap enak untuk dinikmati."
( Puji Purwanti Lestari, Penikmat buku )

"Konfliknya menarik, manusia melawan kematian, dikemas dalam konfilk-konflik kecil dengan plot yang tak terduga! Membaca novel ini kita dibawa pada alam fantasi dunia magic yang luar biasa!"
( Agnes Bemoe, Penulis )

"Ide ceritanya unik. Jalan cerita menarik. Ciri khas tulisan Vinna tetap terlihat. Membacanya membuat penasaran. Dan akhir cerita benar-benar dibuat tak terduga. Novel yang sayang untuk dilewatkan."
( Anataffia 'Nata' Salama, Penulis dan Ibu Rumah Tangga )

“Selintas membaca judulnya, seolah mengingatkan pada serial ‘The Lord of the Rings’. Juga tokoh utamanya Caraveena yang tinggal di negeri penyihir sementara dirinya adalah peramal, sedikit banyak mengingatkan saya pada cerita sihir J.K Rowlings yang ternama-Harry Potter. Tetapi, Vinna punya kekuatan imajinasi tersendiri yang membawa saya seolah ‘tersihir’ masuk dalam kisah cinta yang indah antara Marlon-pemimpin Negeri Nimbus dan Cara. Isi cerita yang mengungkapkan misteri kematian, setidaknya juga merupakan pertanyaan bagi banyak manusia, dikemukakan dengan cara yang menarik. Cinta dan persahabatan dikemas dengan gaya imajinatif dibumbui fantasi yang tinggi oleh Vinna. Suatu kisah yang tidak lazim, tetapi tetap saya sukai. Acungan jempol buat Vinna dan karyanya.”
( Fonny Jodikin, Penulis-Ibu Rumah Tangga, berdomisili di Ho Chi Minh City-Vietnam )

“ Seru, asik, menghibur di tengah kepenatan. Buku yang pas untuk mereka yang ingin santai. “
( G. Lini Hanafiah, Founder Via Lattea Fondation & Yuk Nulis!, Penulis )

“ Ceritanya unik dan imaginatif, tokoh-tokoh dan konflik batin mereka menarik, terutama Marlon dan Yellow. Endingnya juga nggak gampang terduga…”
( Yenny Ibrahim, Seorang Guru dan Penulis )


Buat yang udah mulai penasaran, novel ‘THE TWO RINGS’ sudah bisa dicari di toko buku, jangan sampai kehabisan. Untuk yang mau pesan, silahkan sms ke no: 081-863-8038 atau e-mail ke: nuansa.market@gmail.com. Hanganya cuma Rp. 39.000 aja… Enjoy…

Untuk yang sudah baca dan mau share comment, kritik atau saran silahkan hub saya di:
Facebook         : vinna13@gmail.com
Twitter              : @black_rabbit13
YM                  : blackrabbit_1385@yahoo.com
Saya tunggu, yah… (^_^)

The Two Rings - Negeri Di Atas Awan ( SINOPSIS )



Tidak mudah bagi Caraveena untuk tinggal di negeri Merlin dan hidup dengan normal seperti kakak laki-laki atau adik perempuannya. Kenapa bisa begitu?
Pertama, karena kedua orang tuanya adalah orang yang cukup berpengaruh di Pemerintahan. Segala tindak tanduk mereka dan anak-anak mereka selalu menjadi pusat perhatian dan bahan perbincangan paling seru. Rasanya seperti anak dari seorang selebritis terkenal.
Kedua, karena sebagai salah satu penduduk di negeri Merlin yang merupakan satu-satunya negeri Penyihir di Enigma, Caraveena tidak bisa menyangkal kenyataan bahwa dia sama sekali tidak punya bakat di bidang Sihir. Dia adalah seorang Peramal, sebuah karier yang tidak seharusnya diambil oleh anak dari orang paling berpengaruh di seluruh negeri. Kenyataan ini tentu saja mencoreng nama keluarga Veena yang terhomat.
Dan alasan ketiga, alasan yang paling membuat semuanya bertambah parah, adalah kenyataan bahwa sebagai Peramal, Caraveena malah memilih untuk fokus pada satu bidang yang tidak pernah diminati orang lain tapi malah paling menarik perhatiannya selama ini, yaitu: Dunia Kematian.
Menjadi berbeda dari penduduk lain karena lebih memilih untuk menjadi seorang Peramal saja sudah merupakan hal menggemparkan bagi seluruh penduduk, apalagi kelakuan anehnya yang meneliti kematian itu resmi beredar di masyarakat Merlin? Tidak bisa dihindari lagi, pastinya Caraveena akan dipandang sebagai orang aneh, aib keluarga paling kotor di tengah keluarga yang nyaris sempurna, dan menjadi bahan pembicaraan paling seru seantero negeri.
Tapi Caraveena sendiri tidak pernah ambil pusing. Dia malah semakin bersemangat meneliti dunia kematian. Dan saat sebuah tragedi menimpa satu-satunya sahabatnya yang meninggal dunia, Caraveena semakin menggebu-gebu untuk bisa memecahkan misteri itu dan mengetahui bagaimana nasib sahabatnya setelah kematian menjemputnya.
Caraveena beruntung karena bertemu dengan Prof. Klain, idolanya yang kebetulan juga merupakan seorang Peramal dan memfokuskan penelitiannya di bidang yang sama. Dengan bantuan Prof. Klain, Caraveena berhasil menemukan cara agar bisa memasuki Dunia Setelah Kematian, dunia yang katanya akan dimasuki oleh setiap orang yang telah meninggal dunia.
Tapi ternyata semua itu tidak berjalan semudah yang dibayangkan Caraveena. Walaupun Caraveena bertemu Marlon yang bersedia membantunya dan memberikan sebuah cincin kembar sakti, tapi ternyata semua tidak bisa berjalan seperti yang diinginkannya. Dunia Kematian memiliki misterinya sendiri, dan berjalan dengan aturannya sendiri. Ada kekuatan lain yang jauh lebih kuat dan jauh lebih berpengaruh yang memiliki kekuasaan lebih besar.
Bisakah Caraveena melewati semuanya dengan baik dan menyelesaikan penelitiannya? Ataukah Caraveena harus bisa merelakan bahwa semua penelitiannya itu tidak akan pernah berhasil?

Untuk teman-teman yang penasaran, novel 'The Two Rings' sudah beredar di toko buku, siap diserbu dengan harga Rp. 39.000 aja... Untuk yang mau pesan, silahkan sms ke no: 081-863-8038 atau e-mail ke: nuansa.market@gmail.com .... Selamat menikmati...
         ( )  ( )
   V ( ^ -- ^ ) V ~~ Black Rabbit ~~

You've Got Mail ( 66 ) - END -


=============================================================
To        : Yunitalarasati ( yun_yun79@net.com )
From    : Yukina Novemberia ( yuki_nov@net.com )
Subject : Mbak, apa kabar?
=============================================================
Sorry yah, Mbak, udah lama banget aku nggak ngirim e-mail atau bahkan ngubungin Mbak lagi. Kalo nggak salah udah hampir dua minggu, yah? Selama itu aku lumayan sibuk, Mbak. Ada beberapa hal yang menarik perhatian dan konsentrasiku selama beberapa hari ini dan sekaligus ngebikin aku bingung lagi. Tapi semua itu bukan hal buruk loh, Mbak. Justru semua itu hal bagus yang ngebikin semua masalah-masalah yang tadinya menyerang aku jadi beres semua. Tadinya aku pikir semua masalah yang menimpa aku ini nggak bakal pernah bisa beres. Apa lagi masalah narkoba itu. But thanks God, ternyata beres juga.
Akhirnya aku bebas dari semua masalah itu, hasil tes urineku jadi kunci utama yang bisa ngebuktiin kalo aku bukan pemakai, aku juga udah bisa ngejalanin tugasku sebagai saksi di pengadilan, bisa bekerja sama dengan baik sama orang-orang di pengadilan, sampe akhirnya aku bisa memulihkan nama baikku lagi dan nggak perlu lagi berurusan sama polisi dan pengadilan lagi. Thanks God…
Oh iya, Mbak pasti udah denger keputusan pengadilan soal Romi, kan? Katanya, Romi akhirnya harus masuk penjara untuk waktu yang cukup lama. Aku tau Mbak bukan pacarnya lagi, tapi aku tetep mau ngucapin turut sedih buat Mbak. Gimana pun juga, Romi pernah jadi orang yang sempet deket sama Mbak, kan?
BTW, semua ini jadi kado yang berharga banget buat ulang taun aku kemaren lusa. Memang yah, kita paling bisa bahagia kalo lagi nggak stress. Mbak tau nggak apa kado lain yang bikin aku makin bahagia lagi? Rei.
Mbak inget kan waktu terakhir kali aku ngirim e-mail, aku cerita kalo aku malah bingung waktu Rei tiba-tiba ngajak aku balikan. Aku juga bilang kalo aku masih butuh waktu buat sendiri dulu. Tapi ternyata Rei tetep pulang dan nemuin aku. Dia dateng ke rumah aku beberapa hari kemudian dan ngelakuin hal paling romantis yang pernah dia lakuin selama ini: ngasih bunga buat aku. Padahal Rei sama sekali bukan tipe cowok yang romantis loh, tapi nggak tau kenapa waktu itu dia romantis banget. Rei nggak banyak ngomong apa-apa, dia hanya dateng sambil bawa bunga dan mandangin mata aku terus bilang: “Aku nggak perlu denger apa yang mau kamu omongin soal perasaan kamu, karena aku udah tau dan udah ngerti semuanya. Dan apa pun keputusan kamu, aku nggak peduli. Aku udah mutusin kalo aku nggak bakal pernah bikin kamu sedih lagi dan selalu ngelindungin kamu. Jadi, aku mau kamu terima aku buat jadi pacar kamu lagi.”
Aku nggak bisa ngomong atau ngebantah apa-apa karena kata-kata Rei itu bukan pertanyaan, tapi perintah. Dan anehnya lagi, aku sama sekali nggak berniat buat ngebantah. Yang aku lakuin malah lari kepelukan Rei dan langsung nangis di sana. Rasanya aku baru aja nemuin lagi hatiku yang kemaren sempet hilang. Rasanya lega…. banget. Ada di pelukan Rei lagi rasanya nyaman banget, kayaknya nggak bakal ada yang bisa ngeganggu atau ngejatuhin aku lagi. Dan saat itu juga aku tau kalo ini adalah keputusan yang memang seharusnya aku pilih.
Tiga hari kemudian, tepatnya waktu aku ketemu sama pengacaraku buat ngurusin masalah pembayarannya yang terakhir, tiba-tiba Arjuna dateng. Padahal waktu itu aku ditemenin Rei, tapi kayaknya mereka udah saling kenal dan malah saling nyapa. Aku belum sempet nanya sama Rei tentang ini, tapi kayaknya itu nggak perlu. Soalnya ada kejadian lain yang lebih penting buat aku tanyain sama Rei setelahnya, yaitu mau nggak dia nemenin aku ke Amerika? Kenapa tiba-tiba aku nanyain itu sama Rei? Soalnya tiba-tiba Arjuna nyodorin tiket pesawat ke Amerika di depan mataku!
Dia bilang itu ucapan terima kasih buat aku karena udah mau bantuin dia buat jadi saksi di pengadilan sekaligus buat kado ulang taun aku. Terus Arjuna dengan senang hati ngejelasin sama Rei tentang hubungan aku sama dia, soal kasus narkoba yang bikin aku berurusan sama polisi dan bahkan soal perasaan Arjuna sama aku. Iya Mbak, Arjuna bilang terang-terangan di depan Rei kalo dia suka sama aku. Arjuna bahkan bilang kalo sebenernya dia berniat buat ngerebut aku dari tangan Rei. Tapi berhubung aku kelihatan bahagia bareng sama Rei ( paling nggak keliatan jauh lebih bahagia dibandingkan kebahagiaan yang dia liat kalo aku lagi sama Arjuna, itu kata Arjuna sendiri loh ), akhirnya dia memutuskan buat mundur. Rei sendiri keliatan sama sekali nggak marah. Dia malah bilang makasi buat kado ulang taun yang Arjuna kasih buat aku dan bilang kalo dia bakal nemenin aku ke Amerika.
Jadi itu alasannya kenapa sekarang aku ada di Amerika.
Kebahagiaan aku jadi jauh lebih lengkap waktu bisa ketemu Bro di Amerika. Keadaannya udah jauh lebih baik, malah bisa dibilang udah sembuh. Kemoterapinya masih terus jalan, tapi keadaannya udah hampir seratus persen seperti sedia kala. Aku nggak berhenti bersyukur sama Tuhan yang udah ngizinin aku selesaiin semua masalahku dengan baik.
Tapi kalo dipikir-pikir lagi, kebetulan banget yah Arjuna bisa ngasih hadiah tiket ke Amerika, padahal dia kan nggak tau kalo aku lagi pengen banget pergi ke Amerika buat ketemu Bro. Dan kenapa Rei bisa tiba-tiba ngerti tentang kebingungan aku waktu itu dan akhirnya mau memperjuangkan cintanya buat aku? Anehnya, kalo dipikir-pikir lagi, mereka nggak mungkin bisa tau semua itu tanpa ada yang ngasih tau kan. Tapi siapa yang ngasih tau mereka?
Well, mungkin ada seorang malaikat yang bersedia ngebantu aku tanpa aku sadari. Siapa pun dia, yang jelas aku merasa sangat bersyukur bisa dapet bantuan dari malaikat itu. Aku nggak berniat mencari tau tentang dia, kadang kala ada sesuatu yang seharusnya kita biarkan saja tanpa perlu diketahui kebenarannya. Paling nggak sekarang aku ngerasa punya semangat buat ngejalanin hidup aku lagi, dan semoga malaikat yang ngebantu aku itu juga bisa berbahagia.
Udah ah Mbak, aku harus ke rumah sakit lagi buat ngikutin perkembangan kemo-nya Bro. Makasi udah mau baca curhatan aku, nanti aku e-mail lagi.

Yuki_the happiest girl in whole world!

===END===

You've Got Mail ( 65 )


=============================================================
To        : Reinaldy Pratama ( rei-prata@net.com )
Fwd     : Brahmana Putra ( brahmaramayana@net.com )
Fwd     : Arjuna Prama ( Pramas_file@net.com )
From    : Yunitalarasati ( yun_yun79@net.com )
Sub      : Yuki really need some helps
Atch     : E-mail Yukina Novemberia
==============================================================
Hai, ini aku lagi, Yuni.
Kali ini aku ngerasa harus nge-forward e-mail dari Yuki lagi buat kalian karena menurut aku, Yuki masih butuh bantuan kita. Aku tau kita udah lumayan banyak ngebantu Yuki kemaren, tapi masalahnya belum selesai hanya sampai di situ aja. Selain masalah-masalah narkoba, dipecat dan kebingungan itu, Yuki juga punya masalah soal kepercayaan dirinya yang masih rendah. Dia masih butuh dukungan kita buat bisa lebih kuat menghadapi semuanya. Dan Yuki juga masih butuh bantuan kita buat ngebuktiin bahwa masih ada yang ngedukung dan selalu mau ngebantu dia di dunia ini, yaitu kita.
Oh iya, kali ini aku juga forward e-mail Yuki buat Arjuna.
Hai, kamu pasti baru kenal sama aku. Namaku Yuni, temen Yuki. Agak susah nyari alamat e-mail kamu, tapi aku juga nggak yakin apa kamu bakal bisa langsung ngebaca dan ngebalas e-mail ini. Yah, walaupun gitu aku berharap kamu bisa lebih mengerti Yuki dan memaklumi apa pun keputusannya nanti, karena gimana pun ini semua kita lakukan buat Yuki.
So, aku harap kita bisa ngelakuin semua yang terbaik buat ngebantu Yuki kali ini. Thanks a lot, guys.

Yuni
Ps: hanya untuk mengingatkan, tolong jangan ngasih tau e-mail ini ke Yuki, yah.

You've Got Mail ( 64 )


==============================================================
To        : Yukina Novemberia ( yuki_nov@net.com )
From    : Yunitalarasati ( yun-yun79@net.com )
Re        : Sorry Mbak, aku ganggu lagi
==============================================================
Sayang… semuanya bakal baik-baik aja kalo kamu bisa ngejalanin semua di jalur kebaikan yang memang udah semestinya kamu lakuin. Aku turut prihatin sama semua masalah yang menimpa kamu, tapi kamu tetep harus percaya kalo Tuhan nggak bakal ninggalin kamu sendirian buat ngadapin semua ini. Ada orang-orang yang peduli dan siap ngebantu kamu kapan pun kamu butuh: aku, Brahma, Rei dan bahkan Arjuna. So, you have to be strong, girl, cause everything are gonna be just fine. Dan jangan pernah berpikir kalo aku bakal ngerasa kesusahan nerima semua curhatan kamu. Aku seneng kok ngebaca e-mail kamu karena itu artinya kita bukan hanya temen biasa lagi, tapi sahabat.
Aku juga mau cerita soal Romi. Sekarang kita udah nggak berhubungan lagi, resminya sejak Romi mulai terlibat kasus narkoba itu. Iya, ternyata Romi memang pemakai, dia akhirnya nggak bisa ngelak lagi waktu gua tanya di penjara. Tapi bukan gara-gara itu gua putus sama dia, tapi karena ternyata Romi bukan cowok baik kayak yang kita kira sebelumnya. Awalnya dia memang romatis banget, apa lagi kalo inget cara dia nembak aku waktu itu. Tapi waktu pacaran sama dia, semakin lama aku semakin sadar kalo Romi ternyata belum dewasa. Romi belum bisa bertanggung jawab, bahkan buat dirinya sendiri. Dia childish banget dan alergi sama yang namanya komitmen. Itu alasan paling kuat yang ngebikin aku mutusin dia.
Aku udah bukan gadis muda lagi, umurku udah kepala tiga, udah saatnya aku mikirin soal pernikahan, mangkanya aku nggak lagi nyari pacar, tapi nyari calon suami. Jadi sifat Romi yang alergi komitmen itu nggak bisa aku terima, dan akhirnya kita putus.
Well, balik lagi tentang masalah kamu. Aku cuma bisa ngasih nasehat supaya kamu ikutin kata hatimu yang paling dalam. Percaya deh, kadang kala cara ini lebih efektif dari pada cara lain.
Tetep semangat, sayang. Aku tau kamu pasti bisa ngelewatin semua cobaan hidup kamu yang satu ini. Jadi jangan segan-segan buat ngirim e-mail lagi, yah.

Yuni.