TIPS NULIS #11: PLOT/ALUR


Banyak sekali teman yang kebingungan untuk membedakan antara alur dan plot. Sekarang, kita coba untuk membahas tema yang satu ini, yuk!

Sebenarnya alur dan plot adalah dua hal yang sama. Keduanya adalah jalan cerita yang bertugas ‘membawa’ tokoh kita melewati berbagai konflik sampai ending. Tapi ada juga beberapa orang yang membedakan keduanya. Jika alur lebih merupakan kronologis cerita dari bab awal sampai ending, maka plot adalah perkembangan tema yang melibatkan hukum sebab-akibat sehingga menimbulkan konflik. Di mana perkembangan konflik yang berkesinambungan akan membawa tokoh kepada ending cerita, yaitu penyelesaian konflik yang terjadi di awal bab.

Intinya sama saja, alur dan plot adalah kerangka cerita, tahap-tahap yang dilalui tokoh untuk mencapai ending.

Jika pada Tips Nulis #8 tentang ‘Bermain Alur’ yang sudah dibahas sebelumnya saya menerangkan bagaimana perjalanan alur yang bisa dipilih setiap penulis untuk dituangkan dalam naskahnya, maka kali ini saya akan mencoba membahas kerangka plot/alur yang biasanya terbentuk.

Sebuah novel yang utuh biasanya memiliki beberapa bagian cerita, yaitu: bab awal/perkenalan, konflik, klimaks, anti klimaks dan ending. Unsur-unsur tersebut tidak perlu disusun secara sistematis, semua tergantung kreatifitas dan tujuan tertentu yang ingin disampaikan penulisnya. Tapi biasanya, kelima unsur tersebut adalah unsur dasar yang wajib ada dalam satu novel utuh.

Bab awal atau bab perkenalan adalah bab di mana pembaca diajak untuk mengenal para tokoh yang ada. Bagaimana sifat mereka, keadaan fisik mereka, karakter mereka dan hubungan mereka dengan para tokoh lainnya.

Sedangkan konflik adalah bab di mana para tokoh mulai mengalami masalah, mulai mempertanyakan segala hal dan mengalami pergulatan batin. Seberapa rumit konflik yang ingin disajikan tergantung kepada seberapa banyak penulis ingin para pembaca terlibat ke dalam kehidupan para tokoh.

Lalu semua konflik akan memuncak pada klimaks, di mana para tokoh dihadapkan pada sebuah pilihan dan harus menentukan keputusan.

Dan apa yang dibahas pada bab anti klimaks? Pada anti klimaks semua permasalahan yang belum terselesaikan dapat diselesaikan pada bab ini. Termasuk berbagai penjelasan yang mendasari sang tokoh mengambil keputusan pada bab klimaks sebelumnya.

Dan akhirnya pada bab ending para tokoh sudah ‘matang’ dan berhasil menjadi seseorang yang lebih baik dari pada tokoh yang diperkenalkan pada awal bab.

Se-simpel itulah cara menyusun plot/alur, sama persis seperti kita menyusun kerangka cerita. Sisanya tergantung pada kreatifitas kita mengolah tema menjadi kisah yang menarik untuk diikuti serta pemilihan kata atau diksi yang tepat dan cara berdeskripsi yang lancar dan menarik.

Apa kesulitan yang biasanya paling menghambat saat menyusun plot/alur?

Biasanya, tema yang lemah dan konflik yang terlalu simpel dapat membuat kita mengalami Writers Block (untuk mengetahui tips tentang Writers Block, silahkan baca Tips Nulis #1). Karena itu cobalah pilih tema yang unik tapi kuat dan menarik untuk dibahas. Konflik yang kita hadirkan juga haruslah bisa membuat penasaran dan sulit ditebak. Jangan memilih konflik yang ‘terlalu sinetron’ sehingga membuat pembaca bosan atau dapat dengan mudah memperkirakan endingnya.

Tapi bagaimana jika kita memang memilih tema dan konflik yang sudah sangat umum? Kalau begitu, pilihlah metode menulis yang tidak biasa. Misalnya menggunakan alur mundur, menyajikan tokoh yang memiliki karakter yang tidak biasa atau bercerita melalui media lain.

Sebagai contoh, kalian bisa menelaah karya-karya Meg Cabot. Saya pribadi adalah penggemar berat author yang satu ini, karena Meg Cabot bisa menuangkan tema cerita yang sederhana/umum ke dalam media bercerita yang tidak biasa. Misalnya pada serial ‘Pricess Diaries’-nya. Pada kesepuluh novel teenlit tersebut, Meg Cabot menceritakan kisah gadis remaja kutu buku biasa yang sering menerima ejekan dari teman-teman sekolahnya. Padalah dia adalah pewaris kerajaan sebuah Negara kecil di benua Eropa. Temanya begitu simple dan konflik yang dialami para tokohnya pun merupakan konflik khas anak muda yang banyak dibahas pada novel teenlit lainnya. Bedanya, Meg Cabot menggunakan media buku harian sehingga hal sederhana tersebut dapat dibaca dengan cara unik dan berbeda.

Cara seperti ini sangat boleh kita tiru, loh. Kita bisa menggunakan media apa saja untuk menulis, asalkan tema tetap kuat, cara penyampaian tetap berkarakter dan disusun dengan baik. Gampang, kan?

Jadi, coba telaah lagi naskah kalian, apakah unsur-unsur tersebut sudah tercantum di dalamnya? Jika belum, segeralah mulai menyusun kerangkanya dan mulailah berkreasi, dengan begitu tidak akan ada hal yang tidak mungkin untuk dilakukan dalam menulis.

170612 ~Black Rabbit~