Tampilkan postingan dengan label review film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label review film. Tampilkan semua postingan

SPLIT

Siapa yang tidak kenal dengan nama M. Night Shyamalan?

Well, mungkin sebagian dari kalian tidak kenal dengan nama ini. Karena dia bukanlah seorang aktor terkenal sekelas Tom Cruise ataupun Brad Pit. Shyamalan adalah seorang Sutradara, Penulis Naskah, Produser Film dan juga Aktor yang sering kali tampil menjadi cameo di salah satu film yang dibuatnya. Salah satunya adalah film yang berjudul Split yang baru saja tayang di bioskop tanah air.

Split mengetengahkan kisah mengenai seorang gadis remaja bernama Casey Cooke (cast: Anya Taylor-Joy) yang dikenal tertutup dan aneh oleh teman-temannya karena mengalami kekerasan baik fisik maupun seksual dari pamannya sendiri yang menjadi wali asuhnya.

Suatu hari Casey yang berada di tempat, waktu dan bersama dengan orang yang salah, diculik oleh seorang laki-laki bernama 'Dennis' (cast: James McAvoy) bersama kedua teman sekolahnya: Claire Benoit (cast: Haley Lu Richardson) dan Marcia (cast: Jessica Sula). Saat tersadar dari pingsannya, Casey, Claire dan Marcia berada di sebuah ruangan tertutup. Mereka berusaha kabur tapi sang penculik mengetahui rencana mereka dan akhirnya membuat mereka dikurung terpisah. Tapi yang semakin membuat mereka ngeri adalah saat mengetahui bahwa sang penculik ternyata memiliki tidak hanya satu atau dua melainkan dua puluh tiga kepribadian di mana tujuh dari semua kepribadian itu silih berganti mendominasi tubuh Kevin Wendell Crumb, kepribadian awal sang penculik.

Sementara itu Psikolog Kevin bernama Dr. Karen Fletcher (cast: Betty Buckley) merasakan hal yang aneh saat Kevin yang saat itu sedang 'dikuasai' oleh 'Dennis' bertemu dengannya dalam sesi pertemuannya yang biasa. Walaupun tahu bahwa Kevin dan 'teman-temannya' berbeda dengan orang pada umumnya, Dr. Fletcher berusaha sekuat tenaga untuk meyakinkan Kevin bahwa dia sama dengan orang lain dan dapat hidup 'normal'. Selain itu, Dr. Fletcher juga berusaha untuk memberikan keyakinan kepada Kevin dan 'teman-temannya' bahwa kepribadian kedua puluh empat yang mereka yakini bernama 'The Beast' tidaklah nyata dan tidak akan bisa 'mengontrol' mereka melakukan segala hal jahat yang mereka takutkan. Tapi saat Dr. Fletcher mengetahui bahwa 'Dennis' telah menculik tiga orang gadis dan menyekapnya di rumahnya, dia tahu bahwa semuanya sudah terlambat.


Pengalaman Shyamalan saat duduk di atas kursi Sutradara memang seperti sedang bermain roller coaster. Kinerjanya pernah sangat dipuji saat menggarap film The Sixth Sense pada tahun 1999 lalu bahkan hingga membuatnya memenangkan beberapa award. Tapi namanya juga pernah dicibir saat dinyatakan gagal menggarap film Lady In The Water pada 2006, The Happening pada 2008 dan The Last Airbender pada 2010 yang juga membuatnya dianugerahi berbagai macam penghargaan sebagai 'Worst Director', 'Worst Screen Play' dan bahkan 'Worst Supporting Actor'. Tapi untunglah Shyamalan tidak mudah menyerah dan menggarap film Split ini.

Kenapa saya berkata begitu? Karena menurut saya setelah The Sixth Sense maka Split adalah film yang akan selalu membuat saya memuji nama Shyamalan.

Dalam daftar pribadi saya, Split adalah film yang masuk ke dalam 'full package film' dengan daftar nilai yang bisa dikatakan nyaris sempurna. Cerita yang disajikan: bagus sekali. Simple. Tapi alur, plot, klimaks dan anti klimaks, semuanya disajikan dengan pas, enak untuk diikuti, tidak terburu-buru. Premisnya sederhana: sekelompok remaja yang diculik oleh seorang 'psikopat' yang ternyata memiliki kepribadian 'ganda'. Tapi karena disajikan dengan rapi dan dieksekusi dengan tepat semua terasa ciamik sekali. Sinematografinya tidak berlebihan, tapi pas, terasa menyatu dengan setting, musik, pakaian, semuanya. Karakteristik para tokohnya pun kuat. Sangat kuat. Shyamalan tidak menggunakan terlalu banyak aktor atau aktris sehingga para tokoh yang ditampilkan dapat tereksplor dengan sempurna. Dialog yang disajikan pun terasa 'gemuk' sekali. Berisi.

Apa lagi yang bisa saya komentari?

Ditambah dengan akting McAvoy yang luar biasa, semuanya terasa PAS (maaf, saya harus menggunakan caps lock untuk kata terakhir itu ). McAvoy benar-benar prima dalam film ini. Total banget. Bahkan saya dengar bahwa McAvoy sempat cukup frustasi karena merasa kurang bisa memerankan karakter 'Hedwig' dengan maksimal. Ini menandakan keseriusannya dalam mendalami karakter ini hingga berhasil membuat saya yakin bahwa McAvoy bukan aktor yang hanya bisa membintangi film 'bergenre Box Office' saja.

Yang membuat film ini tidak hanya film  psychological thriller biasa adalah keberadaan tokoh Dr. Fletcher yang 'bertugas' untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dengan sang tokoh utama sehingga penonton tidak hanya disajikan mengenai 'kegilaan' apa yang dilakukan oleh tokoh protagonis nya. Dan keberadaan Dr. Fletcher juga, tanpa disadari, menjalin kedekatan antara penonton dan sang protagonis sehingga kita bisa 'memahami' dan 'ikut merasakan' penderitaannya.

Hanya satu masalah yang membuat saya terganggu: last scene nya. Saya tidak mau memberikan bocoran terlalu banyak, hanya saya last scene ini membuat saya sedikit ketakutan. Apa lagi ada beberapa rumor yang saya dengar bahwa Shyamalan berencana membuat kelanjutan film ini yang akan disangkutpautkan dengan film lain yang pernah dia garap sebelumnya. Saya benar-benar berharap Shyamalan tidak melakukan kesalahan pada langkah berikut yang akan dia ambil mengenai film ini dan yang mungkin akan bisa menghancurkan kesempurnaan film ini, paling tidak di mata saya secara pribadi.

Can I give five stars for a movie? Saya tidak pernah memberikan lima bintang pada review-review film saya sebelumnya. Apakah kali ini saya boleh melakukannya? Terasa tidak berlebihan, kan?

Well, here we go. 🌟🌟🌟🌟🌟

RESIDENT EVIL: THE FINAL CHAPTER

Film yang baru-baru ini saya tonton adalah Resident Evil: The Final Chapter. Sama seperti kelima film sebelumnya, film keenam dari seri Resident Evil yang diadaptasi dari game dengan judul yang sama garapan Capcom ini masih menceritakan kisah mengenai seorang gadis kloning bernama Alice (cast: Milla Jovovich) yang berusaha bertahan hidup dari serangan para zombie kelaparan yang terjangkit T-Virus ciptaan Umbrella Corp. Perusahaan yang sama jugalah yang menjadikan Alice sebagai kelinci percobaan dan yang 'tanpa sengaja' membuat kiamat datang ke muka bumi lebih cepat dari pada semestinya.

Bedanya kali ini Alice mendapat 'bantuan' dari sang musuh bebuyutannya sendiri: Red Queen (cast: Ever Gabo Anderson). Menurut Red Queen, Umbrella Corp. menyimpan satu tabung anti virus yang dapat memusnahkan semua T-Virus yang telah menyebar. Jika Alice ingin menyelamatkan sisa manusia yang masih bertahan hidup, Alice memiliki waktu empat puluh delapan jam untuk mendapatkan tabung yang terdapat di The Hive di Racoon City sebelum T-Virus menguasai dunia. Tapi pekerjaan Alice tidak semudah itu. Alice bukan hanya harus menghadapi jutaan zombie kelaparan di sepanjang perjalanannya, tapi dia juga harus bersiap menghadapi Dr. Alexander Isaacs (cast: Iain Glen) yang masih memburunya. Belum lagi terdapat kaki tangan Dr. Isaacs yaitu: Albert Wesker (cast: Shawn Roberts) yang mengawasinya dan siap menghadiahi Alice zombie-zombie hasil eksperimen yang harus darah.

Untungnya di tengah perjalanan panjangnya Alice bertemu dengan Abigail (cast: Ruby Rose) beserta beberapa orang lain yang masih bertahan hidup. Mereka bersedia membantu Alice untuk bisa mencapai The Hive tepat waktu dan mendapati bahwa yang menunggu Alice di sana lebih dari pada yang dia harapkan.


Sama seperti kelima pendahulunya, Resident Evil: The Final Chapter masih 'dikuasai' oleh Paul W. S. Anderson yang bukan saja menjadi sutradara (kecuali di film kedua dan ketiga) tapi juga menjadi produser dan penulis naskah. Bukan hanya itu, Paul juga seolah-olah tambah menguasai film ini dengan menempatkan sang istri: Milla Jovovich sebagai pemeran utamanya.

Film yang katanya merupakan seri terakhir dari serial yang awalnya merupakan sebuah game ini masih memiliki deretan panjang 'masih' di daftar saya. Film ini masih memiliki plot yang sama dengan film-film sebelumnya. Dengan konflik yang masih sama, tokoh yang masih sama, antagonis yang masih sama dan bahkan setting yang masih sama juga. Formula yang dimainkan Anderson dalam film keenam ini pun hampir sama persis dengan formula yang dia pakai pada film kelima. Apakah sang sutradara sudah mulai bosan menggali kisah ini dan ingin cepat-cepat menyelesaikan seri ini sampai di sini saja? Entahlah, tapi jika mengingat ending kisah yang sedikit menggantung, bisa saja suatu saat akan ada seri lanjutan dengan embel-embel 'return'.

Herannya, walaupun mendapatkan cukup banyak kritikan, toh film ini masih laris manis di bioskop. Buktinya dalam kurun waktu satu bulan saja film ini sudah menghasilkan keuntungan tiga kali lipat dari budget. Mungkin karena film dengan genre zombie masih tidak terlalu banyak beredar. Dan walaupun menurut saya pribadi kehadiran para zombie dalam film ini masih kalah jika dibandingkan dengan film zombie lain, tapi tetap saja masih sangat menarik untuk ditonton. Belum lagi para penggemar game nya yang akan dengan senang hati menanti kehadiran film ini di bioskop. Dan yang membuat saya sendiri betah menonton film ini adalah adegan aksinya yang konsisten dari awal hingga akhir film. Walaupun masih menggunakan setting dan makhluk-makhluk yang sama, tapi adegan laganya yang seru dan menegangkan masih memberi angin segar.

Saya hanya akan memberikan tiga dari lima bintang untuk film ini dan berharap bahwa tidak akan ada lagi kelanjutannya yang menggunakan pola 'napak tilas' seperti ini lagi.

🌟🌟🌟

FANTASTIC BEAST AND WHERE TO FIND THEM

Akhir tahun ini para penggemar seri Harry Potter mendapatkan kabar gembira. Pasalnya pada pertengahan November 2016, Warner Bros. resmi merelease prequel dari seri Harry Potter yang berjudul Fantastic Beast And Where To Find Them (FBAWTFT).
Bagi penggemar berat Harry Potter yang sudah khatam dan hapal betul dengan cerita Harry Potter pasti sudah mengenal judul film ini. Betul, judul film ini diambil dari sebuah buku pelajaran dengan judul yang sama yang digunakan Harry Potter dan teman-temannya saat menuntut ilmu di Hogwarts. Walaupun mengambil setting puluhan tahun dari kisah Harry Potter yang kita kenal, secara tidak langsung kisah FBAWTFT masih ada sangkut pautnya dengan masa depan Harry dan teman-temannya.
Film ini menceritakan kisah mengenai seorang laki-laki paruh baya bernama Newton Artemis Fido 'Newt' Scamander (cast: Eddie Redmayne) yang merupakan seorang magizoologist (semacam ahli di bidang biologi dunia magic) sedang melakukan perjalanan menuju Arizona. Baru saja sampai di New York dan turun dari kapal laut yang membawanya, Newt harus kewalahan mencari 'niffler' (sebuah makhluk gaib) yang keluar dari koper kulit gaib berwarna coklat yang dibawanya. Saat sedang mengejar 'peliharaannya' itu, Newt secara tidak sengaja bertemu dengan seorang 'No-Maj' (manusia yang tidak tahu apa-apa mengenai magic, di Inggris biasa disebut dengan Muggle) bernama Jacob Kowalski (cast: Dan Fogler). Koper mereka tertukar secara tidak sengaja dan membuat beberapa makhluk gaib lain melarikan diri dan membuat kekacauan.
Sementara itu seorang mantan Auror bernama Porpentina 'Tina' Goldstein (cast: Katherine Waterston) melihat berbagai pelanggaran yang dilakukan Newt dan Jacob dengan mata kepalanya sendiri sehingga menangkap keduanya. Tina membawa mereka ke hadapan Seraphina Picquery (cast: Carmen Ejogo), Presiden Magical Congress of the United States of America (MACUSA), berharap kasus ini dapat memperbaiki nama baiknya yang terlanjur tercemar dan bisa membuatnya dapat kembali berkarier sebagai Auror. Tapi ternyata menurut sang Presiden, kasus kelas teri seperti itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kasus yang sedang terjadi di New York yang melibatkan sesosok makhluk gaib aneh yang mengancam eksistensi kaum penyihir di Amerika. Karena masih merasa bahwa Newt dan Jacob merupakan ancaman besar, Tina akhirnya membawa keduanya ke apartemennya agar bisa mengawasi gerak gerik mereka. Di sana Newt dan Jacob bertemu dengan adik perempuan Tina yang cantik dan pandai Legilimency bernama Queenie Goldstein (cast: Alison Sudol).
Sementara itu seorang Auror tingkat tinggi bernama Percival Graves (cast: Colin Farrell) ditugaskan untuk mencari makhluk gaib bernama Obscurus yang telah membunuh seorang manusia. Dia 'menggunakan' seorang anak laki-laki bernama Credence Barebone (cast: Ezra Miller) yang merupakan anak angkat dari seorang aktifis anti penyihir garis keras bernama Mary Lou Barebone (cast: Samantha Morton). Mary Lou membentuk sebuah organisasi anti penyihir bernama New Salem Philanthropic Society (NSPS) atau yang lebih dikenal dengan sebutan The Second-Salemers, yaitu sebuah organisasi yang percaya dengan keberadaan penyihir dan sangat menentang serta ingin memusnahkan mereka. Dia menggunakan anak jalanan dan yatim piatu untuk menyebarkan pahamnya dan sering kali melakukan kekerasan bahkan terhadap ketiga anak angkatnya sendiri. Merasa tertekan dengan kondisinya yang sering mengalami tindakan kekerasan dan dijanjikan kebebasan oleh Graves, Credence berusaha sekuat tenaga mencari seorang anak kecil yang merupakan 'inang' dari Obscurus tersebut.
Tanpa diduga sebelumnya keberadaan Newt di Amerika ternyata diperlukan pihak MACUSA untuk dapat 'menaklukkan' Obscurus.
Sudah tidak perlu dijelaskan lebih jauh, film ini pastilah sangat ditunggu kehadirannya hampir di seluruh dunia. Kebesaran nama Harry Potter yang selalu dikait-kaitkan pada film ini sudah pasti merupakan magnet paling ampuh. Bagi saya pribadi, magnet paling besar dari film ini adalah nama sang penulisnya sendiri: J.K. Rowling. Karena dalam film ini bukan saja Rowling turun tangan untuk memproduserinya sendiri tapi juga sekaligus menulis skenarionya! Yes! Bahkan pada kedelapan film seri Harry Potter Rowling tidak ikut campur masalah skenarionya, tapi kali ini beliau mau langsung turun tangan!
Tidak perlu diragukan lagi, hal ini membuat film FBAWTFT terasa 'Rowling banget'. Mulai dari karakter para tokohnya, jokes terselubung, plot dan alur cerita bahkan hingga konflik yang dihadirkan begitu kental dengan unsur Rowling di dalamnya. Bedanya, kali ini kisah yang diambil terasa lebih dewasa. Terbukti dengan karakter utamanya yang bukan lagi anak-anak dan sedikit kisah cinta yang tercipta di dalamnya.
Jika dilihat dari cinematografinya, music, setting dan hal teknik semacam itu tentu saja tidak perlu diragukan lagi kehebatannya. Sang sutradara: David Yates yang notabenenya pernah menyutradarai empat film Harry Potter sudah pasti kenal betul dengan karakter Rowling. Mungkin karena itulah Yates dengan baik hati membiarkan unsur Rowling sangat terasa di film ini.
Satu hal yang menarik perhatian saya adalah para aktor dan aktris yang dipilih untuk memerankan para tokoh utama dalam film ini. Entah disengaja atau tidak, Rowling dan Yates memutuskan untuk menggunakan para aktor dan aktris yang belum cukup terkenal. Yah, memang ada beberapa aktor yang bisa kita kenali dengan cukup mudah, misalnya saja wajah Colin Farrell, Jon Voight atau bahkan wajah (atau mungkin suara) dari Ron Perlman. Tapi bukan berarti akting Eddie cs harus dipandang sebelah mata, loh. Keempat tokoh utama sudah cukup lama malang melintang didunia entertaiment di luar sana. Ada yang berkecimpung di dunia teater, stand-up comedy, film televisi dan bahkan music. Jadi, kemampuan akting mereka sudah tidak usah diragukan lagi dan paling tidak kita tidak akan merasakan hal yang saya namakan dengan 'disorientasi karakter' karena merasa aktor atau aktris tertentu melekat dengan karakter iconik lain yang pernah mereka mainkan.
Tapiiiii... (iya, buat saya masih ada tapinya, hehehe...)
Tapi, ada beberapa hal yang masih mengganjal bagi saya. Salah satu yang paling saya sesalkan adalah karakter Newt yang tidak cukup tergali dan bagaimana Newt akhirnya dapat membantu MACUSA. Menurut saya alangkah baiknya jika ada beberapa menit yang ditujukan khusus untuk menjelaskan latar belakang Newt. Bagaimana dia dikeluarkan dari Hogwarts, bagaimana dia sangat menyukai Herbology, bagaimana dia bisa menjadi salah satu karyawan Ministry Of Magic (informasi yang hanya bisa saya dapatkan di Wikipedia) dan beberapa detail lain sehingga para penonton dapat merasa lebih dekat dengan sang tokoh utama.
Selain itu sang penyihir jahat Gellert Grindelwald yang namanya sudah disinggung sejak awal sama sekali tidak terasa kehadirannya sepanjang film. Bahkan saya tidak merasakan 'taringnya yang tajam' sehingga predikat 'penyihir paling jahat abad ini' yang dia sandang terasa hanya seperti hisapan jempol belaka.
Well, bagaimana pun film ini memang sangat amat layak untuk ditonton terutama bagi para penggemar Harry Potter. Setelah film terakhir Harry Potter tamat lima tahun yang lalu, kabar yang menyatakan bahwa film FBAWTFT ini akan bergulir hingga seri kelima pastilah merupakan kabar yang sangat menggembirakan. Paling tidak ada jaminan bahwa dunia sihir yang kita kenal akan kembali menyemarakkan layar bioskop hingga beberapa tahun ke depan dan kita masih akan berkesempatan 'bertemu' dengan our (not-so) little friend: Harry Potter.
Jadi saya dengan senang hati memberikan empat dari lima bintang untuk film ini!
🌟🌟🌟🌟

Referensi Tontonan Film Bioskop Terbaru Di Akhir Tahun 2016

Liburan akhir tahun menjadi ‘alasan’ bagi para produser film-film Hollywood untuk memproduksi film bioskop terbaru dengan budget tinggi, terutama film action, film keluarga ataupun animasi. Di Indonesia, libur panjang siswa sekolah menjadi momen yang paling dinantikan oleh para pengelola bioskop untuk meraup untung sebesar mungkin, melalui film-film box office terbaru. Apalagi, jadwal libur siswa sekolah di bulan Desember 2016 lebih banyak dibandingkan dengan liburan akhir semester tahun lalu. Tak jarang, penonton harus memesan tiket bioskop sehari sebelumnya untuk menonton film favorit mereka di musim liburan.

Film-film terbaru apa saja yang menjadi tontonan ‘wajib’ di bulan Desember 2016 ini?

Underworld: Blood Wars



Gambar: movieweb.com

Jika Anda tak pernah melewatkan sekuel “Underworld”, berarti “Underworld Blood Wars” tak boleh dilewatkan. Kali ini, Selene (yang masih diperankan oleh Kate Beckinsale) masih melanjutkan perjuangannya untuk melawan klan Lycan dan beberapa kelompok vampire yang mengkhianatinya.

Mereka berusaha menggunakan darah Selene dan puterinya untuk dijadikan vampire-corvinus. Satu-satunya jalan yang ditempuh oleh Selene adalah menyembunyikan puterinya terlebih dahulu. Setelah itu, Selene, David dan Thomas berupaya keras untuk mengakhiri perang abadi antara Lycan dan Vampir, kendati Selene harus mempertaruhkan nyawanya.

Moana



Gambar: http://www.joblo.com/newsimages1/moana-new-new.jpg

Moana hadir untuk menghibur para pemirsa cilik yang ingin menikmati liburan di akhir tahun. Film terbaru tahun 2016 ini hadir dalam format animasi tiga dimensi, produksi dari Walt Disney Pictures. Disutradarai oleh Ron Clements dan John Musker, Moana menceritakan tentang seorang gadis bernama Moana, seorang anak perempuan yang memiliki keinginan kuat untuk mempersatukan relic ajaib dengan seorang dewi.
Sebagai seorang anak kepala suku Polinesia, ia pun terbeban untuk berlayar mencari Maui, seorang dewi legendaris untuk menyelamatkan sukunya. Pengisi suara dari film ini adalah Dwayne Johnson, Auli'i Cravalho, Rachel House, Nicole Scherzinger dll.

Moana sudah dirilis di Amerika Serikat pada 23 November 2016, dan berhasil meraup keuntungan lebih dari $106 juta di seluruh dunia.

Allied

Dijamin, siapapun penasaran untuk menyaksikan film bioskop terbaru yang dianggap sebagai penyebab perceraian dari bintang ternama Brad Pitt dan Angelina Jolie. Terlepas dari bumbu cerita yang sangat fantastis, Allied memang tak patut dilewatkan. Drama dengan latar belakang cerita Perang Dunia II ini dibintangi oleh Brad Pitt and Marion Cotillard.



Gambar: http://www.indiewire.com/2016/11/box-office-preview-moana-to-the-rescue-1201748834/

Pitt berperan sebagai seorang intel rahasia bernama Max Vatan, yang bertugas membunuh salah satu petinggi Jerman. Namun, misinya ini ‘terganggu’ karena ia jatuh cinta dengan partnernya, yang  bernama Marianne Beausejour (Marion Cotillard), dimana keduanya menyamar sebagai suami istri.

Nine Lives



Gambar: scottyandtony.blogspot.com

Drama komedi juga harus menjadi salah satu referensi tontonan film terbaru yang menghibur Anda di akhir tahun. Jangan lewatkan “Nine Lives”, film komedi Perancis berbahasa Inggris yang diperankan oleh aktor-aktor kawakan di genre ini seperti Kevin Spacey, Jennifer Garner dan Christopher Walken.

Cerita drama ini adalah seputar seorang ayah yang gila kerja. Tetapi, suatu hari, ia harus terperangkap dalam tubuh kucing peliharaan anak perempuannya. Kejadian ini membuatnya sadar bahwa efek gila kerja yang selama ini ia terapkan ternyata tak akan membuat keluarganya bahagia.

Fantastic Beasts and Where to Find Them



Gambar: http://variety.com/2016/film/box-office/fantastic-beasts-harry-potter-box-office-1201918584/

Setelah film drama romantic, komedi, animasi, kini kita sampai pada film fantasi yang pasti sangat ditunggu, khususnya oleh para penggemar berat Harry Potter yaitu “Fantastic Beasts and Where To Find Them”. Film ini dibintangi oleh Eddie Redmayne sebagai Newt Scamander dan telah dirilis di New York pada 10 November 2016 dan berhasil meraup $509 juta.

Jadi, film-film mana sajakah yang menjadi incaran anda tahun ini?

THE RAID 2: BERANDAL

Judul film ‘The Raid’, juga nama Gareth Evans dan Iko Uwais memang masih hangat dibicarakan public Indonesia, terutama saat film The Raid berhasil menembus pasar perfilman di Amerika dan memperoleh penghargaan The Cadillac People’s Choice Midnight Madness Award pada Toronto International Film Festival 2011 dan diputar di berbagai film festival presticius lain. Para kritikus film di seluruh dunia pun memberikan ulasan positif bagi film yang satu ini sehingga bukan hanya nama Indonesia menjadi semakin harum di perfilman dunia, tapi bahkan public Indonesia sendiri berbondong-bondong memberikan pujian setinggi langit untuk film yang disutradarai oleh Gareth Evans yang sebelumnya cukup berhasil membesut film Merantau pada 2009. Dan seolah tidak ingin membiarkan dengung The Raid ini hilang dari benak penonton dengan cepat, tepat dua tahun setelah film pertamanya, The Raid 2: Berandal serentak ditayangkan di Indonesia dan Amerika pada Maret 2014 ini.

Menyambung film pertamanya, walaupun sang sutradara mengaku bahwa ide film kedua ini sebenarnya sudah tercetus jauh lebih dulu dari pada film pertamanya, The Raid 2: Berandal menceritakan kelanjutan kisah dari seorang perwira pemula satuan senjata dan taktik khusus bernama Rama (Iko Uwais) yang selamat dari pembantaian yang terjadi di sebuah gedung yang dikuasai seorang gangster berbahaya. Setelah berhasil keluar hidup-hidup dari ‘neraka’ tersebut, Rama bertemu dengan Bunawar (Cok Simbara) yang merupakan kepala satuan tugas anti-korupsi di Jakarta. Awalnya Rama mengira bahwa Bunawar akan bisa membantunya kembali ke keluarganya dan melanjutkan hidupnya sebagai seorang polisi biasa, tapi ternyata dia salah. Keberhasilannya menghancurkan salah satu kelompok gangster besar itu membuatnya menjadi target yang menakutkan bagi para petinggi korup yang diam-diam terlibat dengan berbagai macam tindakan kotor di ibukota.

Untuk mencegah Rama menjadi ‘target hidup’ bagi para ‘preman berdasi’ tersebut, Bunawar menawarkan untuk menghapus keterlibatan Rama dalam pembantaian tersebut dan meminta Rama bergabung dalam satuannya untuk membantu Bunawar memberantas para koruptor tak berperasaan yang ternyata bercokol sebagai petinggi kepolisian. Dengan mempertimbangkan keselamatan anak, istri dan seluruh keluarganya Rama pun menyetujui hal tersebut. Dia pun diminta untuk menyamar sebagai Yuda, seorang ‘anak kampung biasa’ yang dipenjara karena memukul anak pejabat hingga babak belur. Di dalam penjara Yuda harus berhasil menarik perhatian Ucok (Arifin Putra) yang merupakan anak seorang pimpinan gangster kelas kakap dan paling ditakuti di Jakarta bernama Bangun (Tio Pakusadewo).

Masalah yang perlu dihadapi Rama tidak hanya itu saja. Dia harus mengalami kesedihan yang mendalam atas kematian sang kakak: Andi (Donny Alamsyah) yang dibunuh oleh seorang gangster muda penuh ambisi yang sedang memperluas area kekuasaannya di Jakarta: Bejo (Alex Abbad). Keinginan Rama untuk membalas dendam semakin menjadi-jadi ketika dia mengetahui bahwa Ucok mulai menjalin kerjasama dengan Bejo. Tapi semua usaha yang Rama lakukan untuk membalas dendam dan menyelesaikan tugasnya dengan cepat dan kembali kepada keluarganya tidaklah mudah. Semua itu butuh perjuangan keras, air mata dan pertumpahan darah. Keterlibatannya dengan keluarga Ucok juga membuat Rama tercebur semakin dalam ke dalam lautan dunia kelam ibukota dan juga intrik rumah keluarga Ucok yang penuh obsesi, ambisi dan tentu saja, kekerasan.

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, uforia film The Raid masih sangat kuat dibicarakan, bahkan setelah dua tahun perilisan resmi film tersebut. Karena begitu harumnya film ini di Indonesia maka sekuel film ini pun sudah sangat ditunggu-tunggu kehadirannya di bioskop-bioskop tanah air dan, tentu saja, banyak kalangan artis dan actor tanah air yang sangat mau tampil dalam film ini walaupun hanya dalam durasi yang sangat singkat. The Raid 2: Berandal juga langsung diikut sertakan di berbagai film festival di seluruh dunia dan, sekali lagi, mendapatkan pujian yang positif. Benar, sekali lagi Gareth Evans yang sebenarnya berkebangsaan Britania Raya ini berhasil membawa film The Raid merajai perfilman dunia dan mengharumkan nama bangsa Indonesia.

Dan bukan hanya itu. Gareth Evans juga berhasil menyuguhkan aksi bela diri khas Indonesia: pencak silat ke kancah dunia melalui film kreasinya sekali lagi. Dengan sinematografi yang indah, aksi kejar-kejaran yang menegangkan dan koreogafi yang menakjubkan, The Raid 2: Berandal memang patut diacungi jempol. Belum lagi, kompleksitas cerita dalam The Raid 2 ini memang lebih menarik, dengan konflik dan intrik yang menarik. Gareth Evans menampilkan sisi kelam ibukota dengan berani dan apa adanya, yang penuh dengan korupsi, tindakan criminal terselubung dan kekerasan. Bahkan beberapa situs review film yang cukup terkenal di dunia maya: IMDB dan Rotten Tomatoes memberikan review yang bagus dan jumlah bintang yang banyak. Benar-benar membanggakan.

Tapi apakah film ini memang sangat menyenangkan untuk ditonton?

Memang penilaian setiap orang untuk sebuah film pastilah berbeda-beda. Jika satu orang bisa sangat menyukai sebuah film, orang lain belum tentu menyukai film tersebut dengan sama besarnya. Ini tentu saja terpengaruh dari selera pribadi setiap orang. Bagi orang yang tidak menyukai film yang penuh adegan kekerasan, dengan begitu banyak cipratan darah dan kata-kata kasar, mungkin tidak akan menyukai film The Raid ini. Bahkan ada beberapa orang yang merasa mual dan pusing setelah menonton film ini. Tapi, menurut saya, The Raid 2: Berandal tidak lebih bagus dari pada film pertamanya. Walaupun intrik cerita yang ditampilkan film kedua ini lebih kompleks dari pada film pertama, tapi ada begitu banyak kekurangan saat eksekusinya dilakukan.

Plot yang disajikan film ini meloncat-loncat. Saat menjelaskan latar belakang kisah film kedua ini, plot sengaja dibuat patah-patah dan berharap dapat berkesinambungan satu adegan dengan yang lain, walaupun_sekali lagi, menurut saya_ formula ini tidak cukup berhasil. Loncatan-loncatan plot ini malah akhirnya dapat membuat para penonton kebingungan. Alur kisahnya cukup lambat di awal film sehingga membuat saya kelelahan mengikutinya pada pertengahan durasi.

Acting Iko Uwais setingkat lebih baik jika dibandingkan dengan film pertamanya, tapi sebagai tokoh utama yang menghiasi poster film ini secara tunggal, kenapa saya merasa durasi tampilnya sang tokoh utama ini malah sangat kurang, yah? Di tengah-tengah film saya malah merasa kehilangan tokoh utama saya, sehingga saya merasa Arifin Putra yang memerankan tokoh antagonis utama lebih berperan besar. Dengan kualitas acting yang sangat berkualitas dan jauh lebih baik dari pada sang tokoh utama, memang tidak heran jika para penonton akan lebih bisa bersimpati kepada Ucok, sang anak pemimpin gangster dari pada kepada Rama, sang polisi yang ditugaskan untuk menyamar. Belum lagi, terdapat cukup banyak kemunculan tokoh baru dalam film kedua ini yang tidak memiliki latar belakang tokoh yang kuat ataupun kesempatan untuk ‘memperkuat’ karakter mereka di mata penonton. Mungkin ini karena beberapa karakter tersebut hadir di tengah-tengah film dan hilang bahkan saat film ini belum mencapai klimaks.

Lalu bagaimana dengan setting film yang sedikit membingungkan? Apakah film ini bersetting di Jakarta, berhubung beberapa dialog menyebutkan nama-nama tempat yang cukup terkenal dan ikonik di ibukota? Tapi kenapa ada salju di kota Jakarta? Dan apakah Rama berhasil menjalankan tugasnya dengan baik? Kenapa saya merasa tidak ada anti-klimaks yang seharusnya dapat menjelaskan berbagai pertanyaan yang muncul di sepanjang film ini, yah?

Well, seperti yang saya sebutkan tadi, setiap orang memiliki pendapat dan pandangan yang berbeda-beda mengenai sebuah film, sesuai dengan selera pribadi setiap orang. Tapi bagi saya pribadi, The Raid 2: Berandal mungkin kurang mendapatkan ‘sentuhan seorang wanita’ di dalamnya. Yang saya maksud bukanlah acting seorang actress, tapi saya rasa film ini kurang memperhatikan sisi dramanya. Jika saja kedalaman kisah, pengembangan karakter setiap tokohnya dan juga latar belakang kisahnya mendapatkan perhatian lebih juga, dengan semua action scenenya yang indah itu, film ini bisa terasa sempurna.


Tadinya saya hanya ingin memberikan dua setengah dari lima bintang untuk film yang satu ini, tapi jika saya hanya memberikan bintang sebanyak itu, itu artinya saya tidak menghormati kualitas acting Arifin Putra yang sangat prima di film ini. Karena itu, saya akan memberikan tiga dari lima bintang sebagai ajang ‘angkat topi’ saya bagi sang pemeran antagonis utama tersebut. Plus saya akan mendeklarasikan diri bahwa saya ‘jatuh cinta’ dengan Arifin Putra melalui tiga bintang tersebut. ;) 



ONCE UPON A TIME – SEASON 2

Caution: this review may contain spoiler for the 1st season.

Sudah baca kan peringatan di atas? Berarti sebelum kalian mulai membaca review saya kali ini, ada baiknya kalian menonton dulu season pertama serial televisi ini. Soalnya semua yang dihadirkan dalam season kedua sangat berkaitan dengan season pertama, dan jika saya mau membuat review season kedua, mau tidak mau saya harus membahas kisah yang telah tersaji di season pertamanya, termasuk endingnya.

Eit, tapi untuk kalian yang belum menonton season pertamanya, jangan buru-buru berhenti membaca dan batal tertarik. Siapa tahu dengan membaca review season kedua ini minat kalian untuk memburu serial televisi ini akan semakin kuat. I’ll try not to gave you too much spoiler from the first season, instead. =)

Oke, mari kita mulai. Sama seperti season pertamanya, season kedua kali ini terdiri dari 22 episode yang ditayangkan mulai dari tanggal 30 September 2012 hingga 12 Mei 2013 di ABC Channel. Masih diprakarsai oleh Adam Horowitz dan Edward Kitsis, Once Upon A Time Season 2 masih menceritakan kisah pertikaian antara The Evil Queen a.k.a. Regina Mills (Lana Parrilla) dengan Snow White a.k.a. Mary Margaret (Ginnifer Goodwin) beserta suaminya: Prince Charming a.k.a. David Nolan (Josh Dallas) dan anak perempuan mereka: Emma Swan (Jennifer Morrison).

Pada episode terakhir di season pertama Emma berhasil mematahkan kutukan Regina sehingga semua orang kembali mengingat siapa diri mereka. Tapi dengan ingatan tersebut, semua orang pun kembali ingat bahwa semua ini adalah kesalahan Regina. Dalam keadaan marah, mereka mencari Regina untuk menuntut pertanggung jawabannya. Sementara itu Rumplestiltskin a.k.a. Mr. Gold (Robert Carlyle) bersama sang kekasih Belle (Emilie de Ravin) berhasil membawa kembali magic ke Storybrooke dengan begitu Rumplestiltskin mendapatkan kekuatannya kembali dan Regina pun bisa melarikan diri dari orang-orang yang mengejarnya.

Tapi ternyata masalah mereka tidak selesai sampai di situ. Karena ingin menolong Regina yang berniat berubah demi sang anak angkat yang sangat disayanginya: Henry Mills (Jared S. Gilmore), tanpa disengaja Snow White dan sang putri: Emma terlempar ke dalam portal yang membawa mereka kembali ke Enchanted Forest yang dipenuhi dengan para oger yang berbahaya. Di sana mereka bertemu dengan Sleeping Beauty a.k.a. Putri Aurora (Sarah Bolger) dan Mulan (Jamie Chung) yang sedang berjuang untuk menyelamatkan sang pangeran: Prince Phillip (Julian Morris). Untuk dapat kembali ke Storybrooke, mereka harus bisa mendapatkan magic beans yang dapat membuka portal untuk kembali. Awalnya magic beans tersebut dimiliki oleh Captain Killian ‘Hook’ Jones (Colin O’Donoghue) tapi ternyata sang kapten kehilangan bean ajaib tersebut sehingga satu-satunya cara agar mereka bisa mendapatkan bean tersebut adalah dengan mendaki pohon ajaib yang membawa mereka bertemu raksasa yang tentu saja tidak mau memberikan bean itu begitu saja.

Itu saja? Tunggu, masih ada lagi.

Awalnya Storybrooke sama sekali tidak bisa dimasuki oleh manusia biasa tapi karena Rumplestiltskin telah membawa magic ke Storybrooke, kota itu pun akhirnya dapat ‘didatangi’ oleh orang luar. Dan seorang pria bernama Owen Flynn (Ethan Embry) datang ke Storybrooke dan mengalami kecelakaan sehingga harus dirawat di rumah sakit. Semua orang merasa panic saat orang luar bisa memasuki kota mereka karena keberadaan magic di kota tersebut akan membuat semua orang ‘kebingungan’. Untunglah sejauh ini Owen berhasil pulih dengan baik dan berniat segera meninggalkan Storybrooke begitu pulih.

Tapi benarkah Owen tidak akan curiga mengenai semua penduduk Storybrooke yang aneh dan penuh magic? Bagaimana dengan keinginan Rumplestiltskin untuk mencari sang anak: Baelfire? Belum lagi ternyata Captain Hook bekerja untuk seseorang yang memiliki kekuatan dan kelicikan yang jauh lebih kuat dari pada Regina dan Rumplestiltskin yaitu ibu dari Regina sendiri: Cora (Barbara Hershey).

Dalam season kedua, hampir semua pertanyaan yang tercipta dari setiap episode di season pertama mendapatkan jawaban. Misalnya: bagaimana masa lalu sang Evil Queen sehingga dia bisa menjadi sangat kejam, bagaimana masa lalu Emma sehingga bisa masuk penjara dan melahirkan Hendry, apa yang terjadi dengan keluarga Rumplestiltskin dan apa yang terjadi dengan Baelfire ketika dia terjatuh ke dalam portal yang membuatnya terpisah dari sang ayah ‘yang pengecut’. Walaupun masih menyisakan kisah lain yang belum seluruhnya ‘terjawab’, tapi beberapa penjelasan dalam season kedua ini membuat semua menjadi semakin jelas.

Semua actor dan actress yang berperan dalam season pertama masih melanjutkan acting mereka dengan baik sehingga para penonton dapat membangun simpati mereka lebih dalam lagi. Sayangnya season kedua ini masih menggunakan formula yang sama dengan season pertama, seperti alur yang cepat dan plot yang meloncat-loncat. Belum lagi adanya berbagai karakter baru, seperti: Sleeping Beauty, Mulan, Frankenstein dan lainnya yang ternyata masih terkait satu sama lain yang akhirnya membuat keseluruhan cerita menjadi terlalu penuh ‘kebetulan’. Walaupun genre serial televisi ini adalah fantasy, tapi terlalu banyak kebetulan yang tercipta bisa membuat penonton jenuh juga. Tapi bagi kalian yang senang-senang saja dengan formula tersebut dan masih terkaget-kaget melihat twist dan shocking scene yang dihadirkan, serial televisi ini masih sangat menarik untuk diikuti, kok. Saya saja dengan senang hati akan memberikan tiga setengah dari lima bintang untuk serial Once Upon A Time Season 2 ini.


Season ketiga sudah dimulai sejak 29 September 2013 dan masih terus berlanjut sampai review ini dibuat. Jadi tunggu saja, saya akan dengan senang hati membuat review season 3 setelah season tersebut selesai ditayangkan. Belum lagi ada serial spin-off nya yang berjudul Once Upon A Time In Wonderland yang juga sangat menarik untuk ditonton. So, be patient, yah. =)


SHERLOCK – SEASON 1

Sejak 2010 lalu sebuah TV series yang dibuat berdasarkan buah karya Sir Arthur Conan Doyle berjudul Sherlock mulai tayang di stasiun TV BBC, Inggris. Tapi, tidak seperti TV series biasa pada umumnya, pada setiap season Sherlock hanya berisikan tiga series di mana masing-masing series berdurasi 85-90 menit. Dengan durasi sepanjang ini kita seolah menonton sebuah film televisi, bukannya TV series. Serial Sherlock kali ini dikembangkan oleh dua orang penulis scenario film maupun serial yang sudah cukup terkenal: Mark Gatiss dan Steven Moffat yang sebelumnya juga pernah bekerja sama sebagai writer untuk serial Doctor Who yang juga ditayangkan BBC.

Awal kisah dimulai dengan mendapati seorang Doctor bernama John Watson (Martin Freeman) yang mengalami luka dan trauma pasca keterlibatannya dalam perang di Afganistan. Atas saran psikolognya, Watson diminta untuk menuliskan segala hal yang mengganggu pikirannya di sebuah blog. Tapi tidak ada satu hal pun yang menarik untuk Watson tulis di sana, sehingga blog itu pun tetap saja dibiarkan berupa halaman kosong. Lalu krisis keuangan mulai melanda Watson sehingga dia memutuskan untuk mencari seorang teman yang mau berbagi apartemen bersamanya. Di sinilah secara tidak sengaja Watson bertemu dengan Sherlock Holmes (Benedict Cumberbatch), seorang ‘consulting detective’ yang tinggal sendirian di sebuah flat yang disewakan oleh Mrs. Hudson (Una Stubbs). Awalnya Watson sama sekali tidak berniat mengambil flat itu dan tinggal bersama Sherlock, apalagi melihat sifat calon room mate nya yang sangat berbeda dengannya. Tapi secara tidak terduga Watson malah ikut serta dalam kasus yang sedang diselidiki Sherlock.

Ada begitu banyak hal lain yang membuat Watson bingung mengenai Sherlock. Belum apa-apa seorang laki-laki bernama Mycroft Holmes (Mark Gatiss) yang ternyata adalah adik Sherlock menawari Watson sejumlah uang sebagai ganti berbagai informasi yang ingin diketahuinya mengenai kegiatan sehari-hari Sherlock. Selain itu Sherlock juga begitu sering dipanggil oleh Detective Inspector Greg Lestrade (Rupert Graves) untuk menyelesaikan berbagai kasus yang membuat Metropolitan Police Service kebingungan. Sementara itu asisten sang detective sendiri menyarankan agar Watson menjauhi Sherlock yang menurutnya adalah seorang psycopat. Sherlock juga cukup sering menghabiskan waktu di laboratorium di St. Bart’s Hospital yang diurus oleh asistennya: Molly Hopper (Louise Brealey) yang juga merupakan seorang Pathologist dan sebenarnya naksir Sherlock.

Tapi anehnya dengan semua sifat yang sering kali membuat Watson kebingungan, tetap saja Watson mau mengekori Sherlock ke sana kemari untuk membantunya memecahkan berbagai kasus atau hanya sekadar mengambilkan ponsel Sherlock yang sebenarnya berada di saku jaket yang sedang dia pakai. Dan tanpa disadarinya kegiatan itu justru membuat Watson merasa ‘benar-benar hidup’ hingga dia melupakan kakinya yang sakit dan kolom di blognya pun mulai terisi.

Kalau saya boleh memulai pendapat saya kali ini dengan lebih subjectif, saya harus mengakui bahwa pada awalnya serial televisi ini sama sekali tidak membuat saya tertarik. Genre detective memang bukan genre favorit saya. Lagipula menyebut nama Sherlock Holmes akan langsung mengingatkan saya kepada sosok Robert Downey Jr. yang nyeleneh di dua film layar lebar Sherlock Holmes beberapa tahun yang lalu. Tapi lalu saya mendengar nama Cumberbatch ada dalam jajaran pemain serial Sherlock ini dan lebih mengejutkan lagi ternyata Cumberbatch memerankan sosok Sherlock tersebut! Sebelumnya saya tahu Cumberbatch memiliki kualitas acting yang luar biasa kuat, jadi saya pun penasaran bagaimana Cumberbatch bisa memerankan sosok Sherlock tanpa terpengaruh dengan actor-actor sebelumnya. Dan akhirnya saya pun menonton season pertamanya dan saya harus mengatakan bahwa saya terkesan, sangat-amat terkesan.

Cumberbatch berhasil membawakan sosok seorang detective yang pintar, nyaris jenius, dingin, arogan, tidak berperasaan tapi juga sangat berambisi dan selalu berpikiran satu langkah di depan orang lain. Berbanding terbalik dengan Sherlock, John Watson memiliki sifat yang lebih serius, berhati-hati dan berperasaan tapi juga setia, sabar dan lebih polos, yang diperankan dengan sangat apik oleh Martin Freeman.

Sherlock merupakan versi modern dari kisah klasik Sherlock Holmes yang sangat menarik untuk diikuti. Untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman yang ada, Sherlock sering kali menggunakan berbagai teknologi yang umumnya dimiliki orang pada zaman modern seperti sekarang ini: google, GPS dan bahkan mengirimkan SMS dan e-mail. Latar belakang Watson yang juga diubah menjadi veteran perang Afganistan agar lebih mudah dipahami oleh kalangan penonton muda. Dan juga Sherlock Holmes versi modern ini tidak lagi identik dengan pipa rokoknya, tapi kebiasaan tersebut diganti dengan label nikotin yang ditempelkan di lengan Sherlock sepanjang waktu, lagi-lagi dalam rangka modernisasi cerita.

Walaupun begitu, hal-hal yang cukup ikonik pada kisah klasik Sherlock Holmes masih dipertahankan. Misalnya alamat flat Sherlock yang berada di 221B Baker Street masih digunakan dalam serial ini. Begitu juga dengan kehadiran musuh bebuyutannya: Moriarty. Walaupun baru menghadirkan tiga episode di season pertama, tapi sosok Jim Moriarty yang diperankan oleh Andrew Scott ini sudah disinggung-singgung sejak episode pertama.

Kisahnya sendiri bergulir dengan alur yang cepat dengan karakter tokoh yang dihadirkan sedikit demi sedikit di sepanjang episode. Dialog-dialognya cukup padat, terutama dialog yang diucapkan Sherlock. Tapi kedinamisan tersebut malah semakin membuat adrenalin para penontonnya terpacu. Bagaimana dengan twist ceritanya? Itu sih tidak perlu diragukan lagi. Duo creator Mark Gatiss dan Steven Moffat yang dibantu oleh Stephen Thompson benar-benar lihai membuat penonton terpaku di layar televisi mereka hingga kisah ini selesai.

Empat dari lima bintang untuk TV series ini plus four thumbs up! Saya makin tidak sabar untuk menonton season keduanya, berburu season ketiganya yang baru saja selesai ditayangkan pada bulan Februari 2014 ini dan menunggu season keempat dan kelimanya tayang. Can’t wait!

POMPEII

Baru-baru ini Indonesia sedang dilanda bencana alam yang bertubi-tubi. Bukan hanya banjir yang melanda ibu kota dan beberapa kota lain di tanah air, tanah longsor, gempa bumi dan bahkan gunung meletus pun ‘menyerang’ Indonesia yang memang berada di daerah yang tergolong rawan bencana. Yang paling segar di ingatan adalah meletusnya gunung berapi di dua pulau besar di nusantara kita. Setelah gunung Sinabung yang terletak di Sumatra Utara meletus pada September 2013 kemarin, sebagian besar para penduduk di sekitar Jawa Tengah hingga Jawa Barat mengalami dampak meletusnya gunung Kelud yang juga memakan korban.

Dan seolah ‘memperingati’ bencana alam tersebut, sutradara, script writer dan producer Paul W.S. Anderson yang merupakan suami dari seorang Milla Jovovich yang sudah sangat terkenal di dunia perfilman Hollywood dan sebelumnya telah berhasil menyutradarai beberapa film Resident Evil bersama sang istri dan juga beberapa film lain seperti The Three Musketears, Death Race dan bahkan Alien vs. Predator, kini menghadirkan sebuah film mengenai bencana meletusnya gunung Vesuvius dalam film yang berjudul Pompeii.

Sesuai dengan judulnya, film ini mengambil setting di sebuah kota bernama Pompeii di dekat kota Napoli, yang sekarang berada di wilayah Campania, Italia pada tahun 79 M. Tepatnya pada tanggal 24 Agustus 79, gunung Vesivius yang masih mendapatkan julukan gunung berapi paling berbahaya di dunia hingga saat ini meletus dan mengubur kota Pompeii dan beberapa kota di sekitarnya hingga rata dengan tanah. Diperkirakan 10.000 hingga 25.000 orang tersapu aliran lahar panas, hujan abu vulkanik dan berbagai material gunung berapi lainnya yang diperkirakan bersuhu 250 °C dan terkubur hidup-hidup di sana. Hingga kurang lebih 1.600 tahun kemudian reruntuhan kota tersebut ditemukan secara tidak sengaja. Jejak-jejak bencana alam dahsyat itu masih dapat ditemukan dengan sangat jelas di reruntuhan kota Pompeii, termasuk para korban yang tertutup abu dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Pemandangan itu begitu menakjubkan sehingga pada tahun 1997 kota Pompeii diresmikan menjadi salah satu situs warisan dunia UNESCO.

Dalam film layar lebar kali ini, Pompeii menceritakan kisah mengenai seorang budak bernama Milo (Kit Harington) yang merupakan satu-satunya korban selamat dari bangsa Celtic di Britannia yang mengalami pembantaian oleh pasukan Roma. Sebagai budak, Milo berhasil bertahan hidup dengan menjadi seorang gladiator yang cukup disegani di kalangan budak lain dengan julukan ‘The Celt’. Dalam perjalanannya ke kota Pompeii bersama para budak lain, Milo tanpa sengaja bertemu dengan seorang Putri dari salah satu pasangan petinggi di kota Pompeii, yaitu Severus (Jared Harris) dan Aurelia (Carrie-Anne Moss) bernama Cassia (Emily Browning). Sang Putri yang selalu ditemani oleh pelayan pribadinya: Ariadne (Jessica Lucas) baru saja kembali dari perjalanannya ke Roma selama satu tahun dan pulang untuk menghindari Senator Corvus (Kiefer Sutherland) yang ingin memperistrinya. Tapi begitu sampai di kampung halamannya, Cassia malah mendapati bahwa sang Senator yang selalu ditemani oleh pengawal pribadinya: Proculus (Sasha Roiz), sedang menjalani perjanjian bisnis dengan sang ayah. Dengan sangat licik, Senator berhasil ‘membujuk’ Severus untuk menikahkan Cassia dengan dirinya agar kota Pompeii tidak dimusuhi oleh Roma.

Nasib baik menaungi Milo saat secara tidak sengaja dia bertemu lagi dengan Putri Cassia dan menolong sang Putri menenangkan kuda kesayangannya. Di sanalah benih-benih cinta di antara keduanya muncul walaupun diakhiri dengan ditangkapnya Milo karena berusaha ‘menculik’ sang Putri. Sementara itu, Milo bertemu dan berteman dengan Atticus (Adewale Akinnuoye-Agbaje), seorang budak juara gladiator yang dijanjikan akan mendapatkan kebebasannya setelah melakukan pertarungan satu-lawan-satu terakhirnya dengan Milo. Tapi tentu saja kebebasan yang didambakannya tidak akan pernah terwujud. Atticus malah diharuskan berkelahi melawan para gladiator lain di sebuah pertunjukan drama-gladiator yang telah diatur oleh Senator Corvus agar Milo yang juga menjadi salah satu dari gladiator di acara tersebut dijadwalkan untuk mati.

Dan tepat saat itu, gunung Vesivius memutuskan untuk memuntahkan isi perutnya dan meluluh lantahkan semua kota yang dilalui aliran lahar dan hujan debu vulkaniknya.

Film yang satu ini merupakan disaster-adventure film yang sangat menarik untuk ditonton. Dengan durasi 105 menit yang tidak terlalu lama, film yang sangat kental dengan setting dan budaya Romawi di dalamnya begitu memikat. Alurnya cepat, dengan karakter tokoh yang tidak terlalu kuat tapi beberapa tokoh utamanya cukup berhasil menarik simpati para penonton. Setting, costume dan make-up nya luar biasa, membuat kita seolah benar-benar berada di sana dan berjalan di jalanan kota Pompeii yang telah musnah lebih dari 1.600 tahun yang lalu. Kesan ini pun terasa semakin kental dengan sinematografinya yang indah dan sudut kamera yang sengaja mengambil angle wide shot cukup sering agar setting kota yang menakjubkan dapat dinikmati dengan maksimal.

Tema utama film ini sendiri adalah bencana meletusnya gubung Vesivius yang memusnahkan sebuah kota Pompeii dan seluruh kebudayaannya. Karena itulah, bumbu romance, politik dan hal lain yang ditampilkan dalam film ini memang sengaja tidak terlalu ditonjolkan. Untuk beberapa orang, formula ini mungkin akan membuat mereka kecewa karena tidak ada satu kisah specific yang bisa digali hingga cukup dalam. Tapi bagi saya pribadi eksekusi ini merupakan sebuah keputusan yang tepat. Paling tidak, saya tidak akan menemukan sebuah kisah romance picisan yang terlalu dibuat-buat di dalamnya. Ending film pun berhasil memberikan kesan yang mendalam bagi saya. Ini mungkin tidak akan berhasil saya dapatkan jika film ini ‘terpaksa’ selesai dengan happy ending, sesuatu yang memang nyaris tidak mungkin terjadi di kehidupan nyata pada saat itu.


Saya memberikan tiga setengah dari lima bintang untuk film ini. Semoga saja film ini tidak memunculkan sekuel atau pun prekuel-nya sehingga kesan ending yang mendalam itu tidak ‘teracuni’ dan masih melekat dengan indah di benak saya. =)

ROBOCOP

Me-remake film-film lama yang sempat hits di tahun 80-90-an sudah bukan lagi menjadi hal tabu di kalangan perfilman Hollywood. Dengan perkembangan zaman yang sangat modern, remake film-film lawas tersebut dapat menghasilkan kualitas film yang jauh lebih bagus dengan special efek yang memanjakan mata dan juga menyajikan kualitas cerita yang lebih realistis dan lebih kompleks. Formula inilah yang dipakai oleh film Robocop. Film yang disutradarai oleh Jóse Padilha ini me-remake tokoh ciptaan Edward Neumeier dan Michael Miner yang pertama kali diperkenalkan pada tahun 1987.

Dalam versi modernnya kali ini diceritakan kembali kisah mengenai seorang detektif muda bernama Alex Murphy (Joel Kinnaman) yang sedang melakukan penyelidikan mengenai kasus narkoba bersama sang partner: Jack Lewis (Michael K. Williams). Sang gembong narkoba yang mendapat bantuan dari polisi korup di kota Detroit, merasa terancam dengan kehadiran Alex Murphy sehingga memasang sebuah bom mobil yang meledak bersama sang detektif di depan rumahnya sendiri dan disaksikan oleh istrinya: Clara Murphy (Abbie Cornish) dan anaknya: David Murphy (John Paul Ruttan). Akibat ledakan itu, Alex Murphy mengalami luka yang sangat parah dan terancam lumpuh.

Sang istri merasa mendapat kesempatan kedua bagi suaminya saat sebuah perusahaan bernama Omni Fondation yang dimiliki oleh Raymond Sellars (Michael Keaton) melalui chief scientist-nya: Dr. Denett Norton (Gary Oldman), menawarkan agar Alex Murphy dapat diikut sertakan dalam sebuah project ambisius yang bertujuan untuk menghasilkan sebuah robot yang memiliki emosi. Untuk itu, robot tersebut ditransplantasikan kepada seorang manusia yang cacat di mana sang manusia dapat mengontrol robot tersebut. Karena tidak ada lagi cara lain untuk menyelamatkan sang suami, Clara Murphy pun menyetujuinya hanya untuk mendapati sang suami yang berubah menjadi seseorang yang sama sekali tidak dia kenal. Belum lagi ternyata sang CEO memiliki tujuan lain dalam eksperimen tersebut. Dengan dukungan kepala marketingnya: Tom Pope (Jay Baruchel) dan Liz Kline (Jennifer Ehle), Raymond Sellars mengesampingkan sisi kemanusiaan sang robot manusia itu sendiri untuk mencuri ‘simpati’ masyarakat. Tapi tanpa mereka duga, Alex Murphy dapat mengendalikan dirinya sendiri dan akhirnya melakukan apa yang sangat ingin dilakukannya selama ini: membalas dendam kepada gembong narkoba yang telah membuatnya menjadi cyborg seperti sekarang.

Hal yang paling menyenangkan menonton sebuah film remake saat ini adalah bahwa film tersebut telah mengalami modernisasi, mulai dari efek animasinya maupun pengembangan cerita menjadi lebih realistis. Dengan cerita yang lebih realistis, paling tidak para penonton akan lebih mengerti bagaimana asal-usul Robocop dan bagaimana cara sang manusia mengontrol sisi robot di dalam dirinya (ataukah sebuah robot di dalam diri seorang manusia?).

Dengan alur yang tidak bertele-tele dan adegan aksi yang memukau, film ini sangat mudah mendapatkan simpati para penontonnya. Belum lagi ada begitu banyak nilai positif yang ‘diselipkan’ di dalam film ini: mengenai kemanusiaan, mengenai ketamakan, mengenai perngorbanan, mengenai ambisi yang menggebu-gebu dan masih banyak lagi. Adegan action dalam film ini tidak memenuhi seluruh bagian cerita. Hal ini diberlakukan agar latar belakang tokoh utamanya dapat tereksplore dengan lebih mendalam. Dan untuk menebus semua itu, setiap adegan aksi dibuat dengan sangat maksimal, mulai dari penggunaan efek animasi hingga adrenalin yang ‘digenjot’ dengan kuat.

Memang, untuk penggemar berat Robocop sejak dulu mungkin akan mengalami sedikit kekecewaan mengetahui adanya perubahan yang cukup signifikan. Misalnya pangkat Alex Murphy yang awalnya adalah seorang polisi biasa di sini diubah menjadi detektif, atau yang lebih extreme adalah sang partner: Anne Lewis yang awalnya adalah seorang wanita diubah menjadi seorang pria kulit hitam bernama Jack. Begitu juga dengan kendaraan yang digunakan Robocop yang awalnya adalah sebuah mobil polisi biasa, kini ‘dimodernisasikan’ dengan menggunakan sebuah motor besar berwarna hitam yang super duper keren.


Tapi toh, dibalik kontroversi perubahan ini, tidak bisa dipungkiri bahwa Robocop menjadi perwujudan sebuah science fiction action film yang keren dan menarik untuk ditonton. Well, saya sih sama sekali tidak keberatan memberikan tiga setengah dari lima bintang untuk film ini dan menyaksikan kembali sang cyborg yang akhirnya bisa bergerak lebih lincah, memiliki motor dan armor canggih dan dapat berlari mengejar para penjahat ini.



LEGO THE MOVIE

Siapa yang tidak mengenal lego? Sebagai sebuah merk mainan anak-anak, saat ini lego sudah sangat dikenal bukan hanya oleh anak-anak di seluruh dunia tapi juga oleh seluruh kalangan, tua dan muda, laki-laki maupun perempuan. Mainan plastic yang umumnya berbentuk kotak seperti batu bata ini adalah construction toys yang awalnya diciptakan oleh seorang tukang kayu bernama Ole Kirk Christiansen pada tahun 1932 di Denmark. Benar, sesuai dengan pekerjaannya sebagai tukang kayu, awalnya Ole membuat lego dari kayu. Baru pada tahun 1934, Ole mendirikan sebuah perusahaan bernama lego (berasal dari bahasa Denmark: leg godt yang berarti ‘play well’) dan membuat lego dari plastic pada tahun 1947.

Bertahun-tahun kemudian dan setelah dikelola oleh keturunan Ole secara bergenerasi-bergenerasi, lego pun akhirnya dikenal sebagai permainan anak-anak modern paling terkenal yang telah diadaptasi menjadi berbagai macam buku, permainan, film, games dan bahkan theme park. Hingga 2013 terdapat enam taman bermain yang menggunakan tema lego di seluruh dunia dan rencananya pada 2014 nanti akan dibangun lego theme park ketujuh di New Jersey, Amerika. Dan tahukah kalian bahwa menurut data, perusahaan lego telah memproduksi lebih dari 560 miliar lego parts pada tahun 2013 saja. Oh wow.

Kini, untuk pertama kalinya, lego diadaptasi ke dalam sebuah film bioskop. Duo sutradara Phil Lord dan Chris Miller yang sebelumnya sukses membesut film animasi Cloudy With The Chance Of Meatballs 1 dan 2 dan juga 21 dan 22 Jump Street ini juga menangani story film dan berhasil menggaet berbagai actor dan actress besar untuk mengisi suara para tokohnya.

Film yang hanya berdurasi 100 menit ini menceritakan kisah seorang construction worker biasa bernama Emmet Brickowski (voiced by Chris Pratt) yang tinggal dengan sangat teratur di sebuah kota kecil bersama teman-temannya. Mereka menjalani aktifitas sehari-hari secara rutin sesuai dengan instruction book yang telah disediakan sejak bangun tidur hingga mereka kembali tidur di malam harinya. Semua itu mereka lakukan dengan senang hati di bawah pengawasan Lord Bussiness (voiced by Will Ferrell) yang juga merupakan president di Octan Corporation tempat Emmet bekerja.

Suatu saat, tanpa sengaja Emmet terjatuh ke sebuah lorong bawah tanah dan menemukan ‘Piece Of Resistance’ yang akhirnya menempel di punggungnya. Penemuan tanpa sengaja ini membuat Emmet ditangkap oleh Bad/Good Cop (voiced by Liam Neeson) yang menginterogasinya dengan kejam. Untunglah saat itu Emmet diselamatkan oleh Wyldstyle (voiced by Elizabeth Banks), salah seorang ‘master builders’ yang sebelumnya sudah pernah Emmet lihat dan membuatnya jatuh hati.

Wyldstyle membantu Emmet melarikan diri dan mengatakan bahwa Emmet adalah ‘sang special’ yang sebelumnya telah diramalkan oleh seorang penyihir bernama Vitruvius (voiced by Morgan Freeman). Menurut Vitruvius, ‘sang special’ akan mampu menghentikan seorang penjahat untuk menggunakan sebuah super weapon bernama ‘kragle’ yang dapat menghancurkan dunia. Emmet yang merasa bukan siapa-siapa sama sekali tidak percaya bahwa dia adalah ‘sang special’ yang diramalkan, untuk itu Wyldstyle membawanya untuk menemui sang penyihir. Sayangnya, Bad/Good Cop yang diperintah di bawah ancaman oleh Lord Bussiness masih mengejar mereka tanpa kenal lelah. Dengan bantuan kekasih Wyldsytle: Batman (voiced by Will Arnett) dan para master builders lainnya, mereka berusaha membangkitkan kemampuan ‘sang special’ dalam diri Emmet sekaligus mencoba menyelamatkan dunia dari serangan Lord Bussiness dan kragle-nya.

Film animasi yang satu ini benar-benar unik. Sejak awal film, alur yang disajikan sangat cepat dengan joke-joke yang sangat menghibur. Setiap karakter begitu lucu dan sangat ekspresif walaupun hanya menggunakan karakter-karakter yang sudah dimiliki lego tersebut tanpa harus menambah atau membuat karakter baru. Tingkah laku para karakternya yang nyeleneh dan lucu begitu menyegarkan dan mengocok perut dari awal hingga akhir cerita. Animasi yang ditampilkan juga begitu memanjakan mata. Saya sangat terkesan dengan kelihaian para animator yang dapat mentransformasikan semua bentuk yang ada menjadi rangkaian balok-balok khas lego sehingga setiap adegan yang berjalan kelihatan seperti aslinya.

Film ini sangat menghibur dan cocok untuk ditonton semua umur. Belum lagi film ini sangat mudah mengajak penontonnya untuk bersenang-senang dan berimajinasi seliar dan sebebas mungkin. Karena itu saya memberikan empat dari lima bintang untuk film animasi kerjasama antara America-Australia ini.

Oh iya, sebagai informasi tambahan guna memberi pemahaman lebih bagi kalian, film ini diceritakan melalui sudut pandang seorang anak kecil bernama Finn yang sedang bermain di sebuah lego set milik sang ayah di basement rumahnya. Selain itu, ‘master builders’ yang diceritakan dalam film ini dapat mewakili para pemain lego yang dapat menciptakan apa pun dari balok-balok lego tersebut, menghancurkannya lagi dan membuat berbagai bentuk lain tanpa batasan imajinasi. Sedangkan ‘Lord Bussiness’ dan ‘The Man Upstairs’ bisa mewakili pemain lego yang mengumpulkan begitu banyak jenis lego hanya untuk membentuk sesuatu dan menyimpannya dalam bentuk itu saja selamanya. Sementara ‘sang special’ bisa diartikan sebagai pemain yang bebas bermain lego dalam bentuk apa pun yang mereka mau, tanpa batasan tertentu, karena itulah tujuan utama lego dibuat, bukan? Untuk bermain. So, just have fun. =)

COMIC 8

Ini adalah film Indonesia kedua yang (mau) saya tonton dalam beberapa tahun belakangan ini setelah The Raid. Saya tidak bermaksud menjelek-jelekan film buatan dalam negeri sendiri, tapi jika saya diminta untuk memilih antara film horror ecek-ecek dan film anak muda galau, tanpa saya inginkan, memilih film buatan negeri sendiri menjadi sebuah perbuatan yang tabu. Untunglah beberapa waktu belakangan ini kualitas film buatan anak negeri semakin membaik dari waktu ke waktu.

Salah satu film buatan anak negeri yang keluar di awal tahun 2014 ini berjudul Comic 8 yang disutradarai oleh Anggy Umbara yang sebelumnya telah menyutradarai Mama Cake di tahun 2012 dan Coboy Junior The Movie pada 2013. Comic 8 merupakan sebuah action comedy movie yang menceritakan mengenai perampokan sebuah bank di Jakarta oleh delapan orang perampok pada waktu yang bersamaan. Kedelapan orang perampok yang dengan nekadnya berani merampok bank pada siang hari bolong itu terdiri dari tiga kelompok. Kelompok pertama terdiri dari Babe Chabita, Fico Fachriza dan Bintang Timur, yang merampok bank karena ingin menjadi orang kaya. Kelompok kedua terdiri dari Ernest Prakasa, Kemal Palevi dan Arie Kriting yang merampok bank hanya karena iseng. Sedangkan kelompok ketiga terdiri dari dua orang saja, yaitu Mongol dan Mudy Taylor yang ingin membantu anak-anak yatim piatu dengan cara merampok para perampok bank. Mereka bertemu di tempat dan waktu yang sama secara tidak sengaja sehingga memutuskan (dengan bantuan Om Indro Warkop) untuk bekerja sama. Walaupun sering kali berselisih pendapat dan saling menodongkan senjata, akhirnya mereka mampu bekerja sama untuk menguras seluruh uang dan isi brangkas bank tersebut sekaligus meminta berbagai permintaan aneh kepada kepala polisi cantik yang memimpin operasi penangkapan mereka: Nirina Zubir yang dibantu oleh asistennya yang sok bule: Boy William.

Sebelumnya, saya harus selalu mengingatkan diri untuk tidak membandingkan film buatan anak negeri kita ini dengan film buatan Hollywood. Bagaimanapun, standartnya sangat jauh berbeda dan saya harus bisa menilai secara adil dan objectif.

Sebenarnya tema cerita film ini cukup sederhana, tapi belum banyak dipilih oleh sineas dalam negeri kita, jadi bisa disebut unik. Bumbu komedi khas stand-up yang ditampilkan pun cukup segar dan menghibur. Adegan aksi yang penuh ledakan dan aksi tembak menembaknya pun sangat menarik, dengan special efek yang cukup mulus dan sinematografi yang enak dipandang, walaupun tone warnanya didominasi warna kekuningan dan gelap. Acting para aktornya juga tidak kaku. Mungkin ini karena karakter tokohnya disesuaikan dengan karakter para comic itu sendiri sehingga mereka seolah tidak perlu bersusah payah beracting. Bahkan nama para pemerannya pun (terutama kedelapan tokoh utamanya) menggunakan nama asli mereka yang sudah dikenal banyak orang dan begitu melekat dengan karakter mereka.

Memang, film ini sengaja disajikan dalam beberapa bagian, di mana setiap bagian menceritakan asal usul mereka dan berbagai permasalahan yang harus mereka hadapi sehingga alurnya terkesan meloncat-loncat dan dapat membingungkan. Belum lagi ada cukup banyak adegan penuh kemustahilan dan beberapa adegan yang didramatisir sehingga terkesan terlalu memaksa. Tapi semua itu dapat ‘dimaafkan’ dengan joke segar dan tingkah konyol para tokohnya. Belum lagi ada begitu banyak artis-artis yang cukup terkenal ikut andil di film ini, seperti Pandji Pragiwaksono, Nikita Mirzani, Candil, Jeremy Teti, Kiki Fatmala hingga Coboy Junior dan masih banyak artis-artis lainnya. Ditambah dengan ending film yang begitu diluar dugaan dan pamor stand-up comedy yang sedang sangat naik daun di kalangan anak muda, tidak heran jika film ini berhasil menarik tiga ratus ribu penonton lebih pada hari ketiga penayangannya.

Film ini cukup menarik untuk saya, karena itu saya akan memberikan tiga setengah dari lima bintang untuk Comic 8. Semoga saja di masa yang akan datang perfilman di Indonesia akan semakin berkualitas dan semakin beragam sehingga penonton tidak lagi harus memandang film dalam negeri mereka dengan sebelah mata.

JACK RYAN: SHADOW RECRUIT

Para penggemar film action yang penuh dengan adegan yang memancing adrenalin, lengkap dengan scene kejar-kejaran, tabrakan, ledakan, penyusupan dan hal-hal semacam itu, ini adalah film yang kalian tunggu-tunggu. Jack Ryan: Shadow Recruit adalah sebuah action thriller film yang dibuat berdasarkan karakter Jack Ryan yang diciptakan oleh seorang penulis terkenal yang baru saja meninggal pada 1 Oktober 2013 kemarin: Tom Clancy. Walaupun tidak berdasarkan salah satu dari begitu banyak novel karangan Tom Clancy tapi, sama seperti kebanyakan karya Tom Clancy lainnya, film ini masih menceritakan kisah mengenai seorang agen yang bekerja untuk pemerintah Amerika.

Jack Ryan: Shadow Recruit menceritakan kisah mengenai seorang agen CIA bernama Jack Patrick Ryan (Chris Pine). Dia adalah seorang mantan marinir yang tidak lagi bisa bertugas di Afganistan akibat helicopter yang ditumpanginya diserang secara mendadak. Walaupun berhasil lolos dari maut dan menyelamatkan dua orang rekannya, Jack harus mengalami luka yang sangat parah di tulang belakangnya sehingga harus mendapatkan perawatan khusus. Saat itulah Jack berkenalan dengan Cathy Muller (Keira Knightley) yang menjadi salah satu dokter magang yang menangani proses kesembuhan Jack dan pada akhirnya bertunangan dengannya.

Awalnya Jack merasa terpuruk dengan luka yang dialaminya, tapi seorang agen CIA bernama Thomas Harper (Kevin Costner) tertarik dengan kemampuan yang dimiliki Jack dan memintanya untuk bergabung dengan CIA, bukan sebagai agen lapangan, tapi sebagai mata-mata. Jack diminta melanjutkan pendidikannya di bidang ekonomi dan bekerja sebagai analis di wall street untuk memata-matai pasar Amerika jika terdapat transaksi-transaksi mencurigakan yang terkait dengan jaringan teroris dunia.

Suatu ketika Jack mendapatkan serangkaian transaksi mencurigakan yang mengarahkannya kepada sebuah perusahaan di Rusia yang dipimpin oleh seorang veteran perang bernama Victor Cherevin (Kenneth Branagh). Untuk pertama kalinya Jack diminta untuk langsung datang ke Moskow dan menindak lanjuti penemuannya tersebut. tanpa terduga pihak teroris Rusia mengetahui kedatangan Jack dan berusaha menghentikan Jack membongkar kedok mereka. Kejar-kejaran pun terjadi dan Jack harus menghadapi tugas lapangan pertamanya yang penuh tantangan sekaligus berusaha menyelamatkan sang tunangan yang tanpa sengaja ikut terlibat dalam misi mereka yang penuh bahaya ini.

Seperti yang saya katakan di awal: untuk kalian penggemar film action, film yang satu ini tentunya jangan sampai terlewatkan. Walaupun film ini adalah reboot dari film seri Jack Ryan sebelumnya, tapi, sama seperti film-film berdasarkan karya Tom Clancy sebelumnya, film yang disutradarai sendiri oleh sang tokoh antagonisnya: Kenneth Branagh, film ini berdiri sendiri dan masih dapat dinikmati walaupun penonton belum pernah menonton seri film Jack Ryan sebelumnya. Ini merupakan sebuah nilai tambah yang menguntungkan untuk dapat menarik golongan penonton muda yang bahkan belum pernah mendengar nama Jack Ryan sebelumnya.

Hampir sama seperti film-film mengenai agen-agen CIA ataupun FBI lainnya, Jack Ryan juga memiliki formula yang hampir sama dengan film-film serupa yang lebih terkenal. Tapi, berbeda dengan film-film tersebut, Jack Ryan: Shadow Recruit tidak terlalu mengeksplore kisah pribadi sang tokoh protagonist utama seperti film-film Jason Bourne ataupun terlalu mengeksplore kisah ke-playboy-an ataupun peralatan-peralatan canggih seperti pada film-film James Bond. Film ini lebih mengetengahkan konspirasi politik yang terjadi di Negara-negara besar, terutama Amerika Serikat dan bagaimana Negara-negara ‘musuh’ mereka berusaha melakukan berbagai macam cara untuk bisa menggulingkan Negara yang katanya ‘penuh konspirasi dan intrik’ tersebut.

Selain adegan-adegan actionnya yang cepat dan intens, yang dapat membuat para penontonnya terus penasaran, berdebar-debar dan menahan napas tanpa mereka sadari, tema konspirasi politik ini tentunya memberikan bumbu menarik untuk film ini yang dapat mengakibatkan perdebatan panjang bahkan setelah film ini berakhir.

Bagi kalian yang tidak terlalu menyukai konspirasi politik semacam itu dan tidak mau membuat sakit kepala kalian kambuh karena sama sekali tidak bisa memahami intrik memusingkan semacam itu, alur yang intens tersebut sudah menjadi kunci utama untuk bisa membuat kalian bertahan menyaksikan film ini. Lagipula, Chris Pine, Keira Knightly, Kevin Costner dan juga Kenneth Branagh menyajikan kualitas acting prima mereka dengan baik di sini. Terutama Branagh yang tanpa perlu banyak bicara, mimic wajahnya yang kejam mampu merepresentasikan seorang teroris Rusia yang rela mati bahkan mengorbankan anaknya sendiri demi negaranya.

Memang alurnya yang sangat cepat bisa saja sedikit membingungkan, juga terdapat beberapa adegan yang tampak tidak mungkin untuk bisa terjadi dan juga dialog panjang mengenai ekonomi yang dapat memusingkan. Tapi selebihnya film ini sangat menyenangkan untuk ditonton.

Saya memberikan tiga setengah dari lima bintang untuk film ini karena mengajarkan kita untuk tidak gampang menyerah, untuk dapat saling percaya dan terutama untuk lebih berhati-hati melakukan berbagai aktifitas di media social, siapa tahu pemerintah di suatu Negara menggunakannya untuk memata-matai Negara tempat kalian tinggal. ( ^_~ )


By the way, selalu saja ada satu pertanyaan besar yang tercetus di benak saya setiap kali selesai menonton film seperti ini. Kalau saja semua tindakan terorisme atau penghancuran pusat pemerintahan Negara adikuasa itu berhasil, kira-kira akan jadi seheboh apa ya? Well, mengingat creator utama film di dunia berasal dari negara adikuasa itu sendiri, saya rasa menemukan sebuah film dengan ending ‘semengerikan’ itu adalah impian yang tidak akan pernah terwujud. :D