Tampilkan postingan dengan label tips nulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tips nulis. Tampilkan semua postingan

TIPS NULIS #13: MULAILAH


Setelah menyajikan begitu banyak tips nulis untuk kalian selama beberapa waktu, kini tiba saatnya bagi saya untuk memberikan tips nulis terakhir.

Selama ini tips nulis yang saya berikan lebih pada seputar teori menulis. Well, semua orang bisa menulis teori-teori itu, tapi jika kita tidak mempraktekkannya secara langsung maka semua teori itu hanya akan terlupakan begitu saja. Jadi, dari semua tips nulis yang telah saya berikan, tips nulis terakhir inilah yang paling penting, yaitu: mulailah menulis.

Setelah memahami semua teorinya, maka ambil buku dan pulpenmu, atau hidupkan computer atau laptopmu dan mulailah menulis. Lupakan sejenak semua teori itu, biarkan jari dan otakmu menari bersama untuk menghasilkan sebuah karya. Pilih tema yang paling ingin kamu eksplore, pakai tokoh favoritemu, berikan konflik paling menarik yang bisa kamu pikirkan dan selesaikan cerita itu sesuai dengan keinginanmu.

Bingung untuk memulai? Gunakan rumus menulis 5W-1H yang sudah kita pelajari dan temukan titik di mana kamu ingin memulai. Atau tiba-tiba berhenti menulis di tengah jalan? Obati ‘writers block’-mu dengan cara menyegarkan pikiran dan matangkan lagi kerangka ceritamu. Gunakan waktu luangmu untuk membaca, perkaya kosa katamu dengan bermacam-macam bacaan bermutu dan terus percantik diksimu. Jangan lupa untuk memberikan shocking scene yang menarik untuk menjaga ketertarikan pembaca dan dewasakan skill menulismu sehingga kamu yakin dan tahu benar apa genre yang paling cocok untukmu.

Oh iya, ada satu hal lagi yang penting untuk dipersiapkan sebelum menulis, yaitu: niat. Coba tanyakan pada dirimu sendiri: apa tujuanmu menulis? Apakah untuk membuktikan diri kepada teman-teman? Mendapatkan tambahan penghasilan? Curhat? Menjadi terkenal? Menghabiskan waktu luang? Apa pun alasannya, yang jelas niat ini akan bisa membantumu saat akhirnya kembali mengalami ‘writers block’.

Lagi pula, dengan niat yang kuat, kita tidak akan melupakan kegiatan menulis hanya karena ‘tidak punya waktu’. Menurut saya itu bukanlah sebuah alasan. Jika memang ingin menulis, bagaimana pun caranya dan di mana pun tempatnya, kita dapat melakukannya. Apa lagi di zaman serba modern sekarang ini, menulis tidak perlu lagi menggunakan buku dan pulpen saj. Kita bisa menulis di handphone, i-pad atau laptop super mini dan slim yang gampang dibawa.

Waktu untuk menulis itu tidak perlu dicari, tapi diciptakan. Disiplinkan dirimu untuk menulis dengan baik dan berkualitas. Saya tidak memaksa kalian untuk menulis setiap hari, saya pribadi tidak bisa melakukannya, tapi saya lebih menyarankan untuk menulis saat kita benar-benar ingin menulis. Dan jangan lupa untuk terus mengasah kemampuan kita. Jangan cepat merasa puas dan jangan cepat putus asa. Temukan ciri khas dan rasa percaya dirimu lalu berjuanglah untuk menembus penerbit dan pasar dengan karya terbaik.

Tidak ada hal yang instan di dunia ini, begitu juga dengan buku best seller atau penulis terkenal. Ingat, semua butuh proses dan proses itulah yang menentukan kualitas. Terus berkarya, jangan menyerah, sempurnakan karakteristikmu dan taklukkan dirimu sendiri.

Terima kasih banyak untuk kalian yang setia membaca rublik Tips Nulis ini sampai episode terakhir ini. Semoga apa yang coba saya bagi selama ini dapat berguna, karena untuk saya pribadi, rublik ini bahkan jauh lebih bermanfaat lagi bagi perkembangan dan pembelajaran saya sebagai seorang penulis.

Jadi, mari melangkah dan belajar bersama. Selamat berjuang! (^_^)

300612 ~Black Rabbit~

TIPS NULIS #12: PILIH GENREMU

Setelah kita mempelajari tips dan trik dalam menulis, kini saatnya kita membahas mengenai macam-macam genre dalam menulis. Sebenarnya ada begitu banyak jenis karya tulis dan kesemuanya memiliki spesifikasi tersendiri. Tapi pada kesempatan ini saya akan coba mengelompokkan genre secara umum saja.

Karya tulis popular terdiri dari dua jenis yang sudah begitu dikenal setiap orang, yaitu: fiksi dan non-fiksi. Karya tulis fiksi adalah karya yang ditulis berdasarkan imajinasi dan pemikiran penulisnya sehingga ada kemungkinan kejadian-kejadian yang dituliskan tidak pernah benar-benar terjadi atau mengalami dramatisasi dari penulisnya sendiri. Sedangkan karya tulis non-fiksi adalah bentuk tulisan yang disusun berdasarkan kisah nyata yang benar-benar terjadi, contohnya otobiografi.

Karya tulis fiksi juga terdiri dari beberapa jenis. Misalnya: novel, yang merupakan karya tulis paling panjang; novella, yang tidak sepanjang novel; cerpen, yang lebih pendek dari pada novella; hingga flash fiction, yaitu sebuah karya tulis super singkat.

Setiap karya tulis juga memiliki genre yang bermacam-macam. Pada zaman modern ini, genre-genre tersebut biasanya terdiri dari:
1.       Teenlit
Genre ini mencakup pangsa pasar generasi muda, biasanya adalah anak-anak SMP dan sebagian SMU. Tema yang dipakai biasanya sangat ringan, seputar kisah percintaan dengan teman sekelas, pencarian jati diri, pergaulan anak muda atau persaingan di lingkungan sekolah. Gaya bahasanya pun sangat santai dan terkadang menggunakan bahasa gaul.

2.       Chicklit
Ini genre yang sedikit lebih dewasa dibandingkan teenlit. Biasanya pangsa pasarnya mencakup anak SMU, Mahasiswa dan pegawai muda. Tema yang diambil pun sedikit lebih rumit, melibatkan penemuan jati diri, kisah cinta yang rumit atau kehidupan perkantoran. Tata bahasa yang dipakai juga sedikit lebih dewasa dan konfliknya pun sedikit lebih rumit.

3.       Romance
Ini adalah genre dengan tema kisah cinta yang ditujukan untuk kalangan dewasa. Biasanya menggunakan tokoh, konflik, bahasa dan tema yang jauh lebih berat dari pada genre teenlit dan chicklit.

4.       Komedi
Genre ini umumnya disukai semua kalangan, walaupun ada beberapa genre komedi yang ditujukan khusus untuk dewasa. Biasanya menggunakan bahasa gaul dengan cara penulisan yang ringan dan konflik yang konyol.

5.       Misteri
Nah, genre yang ini adalah genre yang tidak umum. Biasanya mencakup pangsa pasar yang lebih dewasa dengan tema yang penuh dengan kisah teka-teki dan menggundang rasa penasaran. Konfliknya pun membingungkan dan menggunakan tokoh-tokoh yang tidak biasa, misalnya seorang detektif.

6.       Horor
Kalau yang ini adalah genre yang paling tidak saya sukai karena biasanya menceritakan kisah seputar makhluk halus atau sesuatu yang tidak bisa dipikirkan dengan akal sehat atau bahkan tidak pernah terpecahkan. Saat ini genre horror juga bisa ditulis bagi berbagai kalangan dan usia, walaupun level konflik dan temanya tetap disesuaikan.

7.       Inspiratif
Kalau genre yang satu ini sering kali disamakan dengan otobiografi, padahal dua genre ini berbeda, loh. Otobiografi adalah kisah hidup seseorang yang dituliskan apa adanya ke dalam sebuah buku, sedangkan kisah inspiratif adalah cerita yang didasarkan pada kisah nyata seseorang dengan bumbu fiksi di dalamnya.

8.       Fantasi
Nah, ini dia genre favorit saya. Sesuai dengan namanya, genre ini adalah karya tulis yang dihasilkan murni dari imajinasi penulisnya. Semua tokoh, kisah, konflik dan bahkan lokasi dan latar belakangnya didapat dari kebebasan sang penulis untuk berimajinasi. Semua kalangan memiliki kisah fantasi mereka masing-masing, termasuk dongeng untuk anak kecil.

Nah, itu dia sebagian genre popular yang banyak beredar di toko buku saat ini. Setiap genre memiliki spesifikasi yang lebih detail lagi, tapi biasanya spesifikasi itu hanya dibedakan oleh detail kecil saja. Oh iya, masih ada banyak jenis karya tulis lain yang belum saya sebutkan, misalnya fanfiction, esai, puisi dan lainnya. Dunia sastra Indonesia memang begitu luas dan kaya ragam, kita seharusnya bangga dapat menghasilkan, walaupun, satu dari begitu banyak jenis.

Jadi, sudah menentukan genremu? Well, apa pun genre yang kamu pilih, pastikan saja kamu menulisnya dengan senang dan tanpa paksaan, karena semua hal yang kita lakukan dengan hati, pastinya akan menghasilkan yang terbaik.

So, selamat menulis, yah! (^_^)

230612 ~ Black Rabbit~

TIPS NULIS #11: PLOT/ALUR


Banyak sekali teman yang kebingungan untuk membedakan antara alur dan plot. Sekarang, kita coba untuk membahas tema yang satu ini, yuk!

Sebenarnya alur dan plot adalah dua hal yang sama. Keduanya adalah jalan cerita yang bertugas ‘membawa’ tokoh kita melewati berbagai konflik sampai ending. Tapi ada juga beberapa orang yang membedakan keduanya. Jika alur lebih merupakan kronologis cerita dari bab awal sampai ending, maka plot adalah perkembangan tema yang melibatkan hukum sebab-akibat sehingga menimbulkan konflik. Di mana perkembangan konflik yang berkesinambungan akan membawa tokoh kepada ending cerita, yaitu penyelesaian konflik yang terjadi di awal bab.

Intinya sama saja, alur dan plot adalah kerangka cerita, tahap-tahap yang dilalui tokoh untuk mencapai ending.

Jika pada Tips Nulis #8 tentang ‘Bermain Alur’ yang sudah dibahas sebelumnya saya menerangkan bagaimana perjalanan alur yang bisa dipilih setiap penulis untuk dituangkan dalam naskahnya, maka kali ini saya akan mencoba membahas kerangka plot/alur yang biasanya terbentuk.

Sebuah novel yang utuh biasanya memiliki beberapa bagian cerita, yaitu: bab awal/perkenalan, konflik, klimaks, anti klimaks dan ending. Unsur-unsur tersebut tidak perlu disusun secara sistematis, semua tergantung kreatifitas dan tujuan tertentu yang ingin disampaikan penulisnya. Tapi biasanya, kelima unsur tersebut adalah unsur dasar yang wajib ada dalam satu novel utuh.

Bab awal atau bab perkenalan adalah bab di mana pembaca diajak untuk mengenal para tokoh yang ada. Bagaimana sifat mereka, keadaan fisik mereka, karakter mereka dan hubungan mereka dengan para tokoh lainnya.

Sedangkan konflik adalah bab di mana para tokoh mulai mengalami masalah, mulai mempertanyakan segala hal dan mengalami pergulatan batin. Seberapa rumit konflik yang ingin disajikan tergantung kepada seberapa banyak penulis ingin para pembaca terlibat ke dalam kehidupan para tokoh.

Lalu semua konflik akan memuncak pada klimaks, di mana para tokoh dihadapkan pada sebuah pilihan dan harus menentukan keputusan.

Dan apa yang dibahas pada bab anti klimaks? Pada anti klimaks semua permasalahan yang belum terselesaikan dapat diselesaikan pada bab ini. Termasuk berbagai penjelasan yang mendasari sang tokoh mengambil keputusan pada bab klimaks sebelumnya.

Dan akhirnya pada bab ending para tokoh sudah ‘matang’ dan berhasil menjadi seseorang yang lebih baik dari pada tokoh yang diperkenalkan pada awal bab.

Se-simpel itulah cara menyusun plot/alur, sama persis seperti kita menyusun kerangka cerita. Sisanya tergantung pada kreatifitas kita mengolah tema menjadi kisah yang menarik untuk diikuti serta pemilihan kata atau diksi yang tepat dan cara berdeskripsi yang lancar dan menarik.

Apa kesulitan yang biasanya paling menghambat saat menyusun plot/alur?

Biasanya, tema yang lemah dan konflik yang terlalu simpel dapat membuat kita mengalami Writers Block (untuk mengetahui tips tentang Writers Block, silahkan baca Tips Nulis #1). Karena itu cobalah pilih tema yang unik tapi kuat dan menarik untuk dibahas. Konflik yang kita hadirkan juga haruslah bisa membuat penasaran dan sulit ditebak. Jangan memilih konflik yang ‘terlalu sinetron’ sehingga membuat pembaca bosan atau dapat dengan mudah memperkirakan endingnya.

Tapi bagaimana jika kita memang memilih tema dan konflik yang sudah sangat umum? Kalau begitu, pilihlah metode menulis yang tidak biasa. Misalnya menggunakan alur mundur, menyajikan tokoh yang memiliki karakter yang tidak biasa atau bercerita melalui media lain.

Sebagai contoh, kalian bisa menelaah karya-karya Meg Cabot. Saya pribadi adalah penggemar berat author yang satu ini, karena Meg Cabot bisa menuangkan tema cerita yang sederhana/umum ke dalam media bercerita yang tidak biasa. Misalnya pada serial ‘Pricess Diaries’-nya. Pada kesepuluh novel teenlit tersebut, Meg Cabot menceritakan kisah gadis remaja kutu buku biasa yang sering menerima ejekan dari teman-teman sekolahnya. Padalah dia adalah pewaris kerajaan sebuah Negara kecil di benua Eropa. Temanya begitu simple dan konflik yang dialami para tokohnya pun merupakan konflik khas anak muda yang banyak dibahas pada novel teenlit lainnya. Bedanya, Meg Cabot menggunakan media buku harian sehingga hal sederhana tersebut dapat dibaca dengan cara unik dan berbeda.

Cara seperti ini sangat boleh kita tiru, loh. Kita bisa menggunakan media apa saja untuk menulis, asalkan tema tetap kuat, cara penyampaian tetap berkarakter dan disusun dengan baik. Gampang, kan?

Jadi, coba telaah lagi naskah kalian, apakah unsur-unsur tersebut sudah tercantum di dalamnya? Jika belum, segeralah mulai menyusun kerangkanya dan mulailah berkreasi, dengan begitu tidak akan ada hal yang tidak mungkin untuk dilakukan dalam menulis.

170612 ~Black Rabbit~

TIPS NULIS #10: BERDESKRIPSI


Kali ini kita akan membahas tentang deskripsi. Apa yang dimaksud dengan deskripsi, bagaimana melakukannya dengan baik dan apa hubungannya terhadap naskah kita? Coba kita bahas.

Di salah satu blog seorang teman terdapat pengertian deskripsi cerita yang paling tepat menurut saya. Di sana dikatakan: ‘Deskripsi adalah salah satu jenis karangan yang melukiskan suatu objek sesuai dengan keadaan yang sebenarnya sehingga pembaca dapat melihat, mendengar, merasakan, mencium secara imajinatif apa yang dilihat, didengar, dirasakan dan dicium oleh penulis tentang objek yang dimaksud.’ (sumber: aipin apud-blog http://iaibcommunity.wordpress.com/2008/04/22/paragraf-deskriptif)

Penjelasan itu sudah sangat jelas menerangkan apa yang dimaksud deskripsi dalam menulis. Menulis secara deskriptif berarti menceritakan dengan sedetail-detailnya apa yang dilihat dan dirasakan tokoh yang kita ciptakan kepada pembaca. Ini bisa berarti menjabarkan setting lokasi di mana sang tokoh berada atau emosi yang sedang dirasakannya, atau juga gabungan keduanya.

Kedengarannya mudah sekali, yah. Tapi apakah memang semudah itu melakukannya? Well, ternyata tidak semudah itu, loh. Beberapa teman sering mengeluhkan betapa mereka begitu kesulitan mendeskripsikan setting lokasi atau emosi tokohnya. Mereka bahkan tidak tahu harus memulai dari mana!

Saya juga sering kali mengalaminya dan memang cukup membuat frustasi. Tapi biasanya saya akan mulai mendeskripsikan cuaca pada saat kejadian terjadi lalu mengaitkannya kepada tokoh. Setelah itu barulah saya bahas mengenai setting lokasi di mana tokoh saya berada dan kembali mengaitkan situasi itu pada tokoh yang kita ciptakan.

Se-simpel itu? Yup, se-simpel itu.

Saya selalu ingat tentang nasihat kakak saya. Dia sebenarnya bukan seorang penulis, tapi bisa memberikan cara belajar paling logis yang bisa saya lakukan saat sedang ber-deskripsi. Menurut kakak saya, untuk mulai berdeskripsi, cobalah melihat suatu kejadian seolah sebuah scene dalam film yang sedang kita tonton. Dalam film, biasanya scene dimulai saat kamera menyorot ruangan di mana actor/aktris berada lalu mulai menyorot wajah sang actor/aktris untuk menunjukkan ekspresi mereka dan akhirnya dialog pun dimulai yang juga menandakan konflik cerita dimulai pada detik yang sama. Kurang lebih hal seperti itulah yang kita lakukan saat berdekripsi. Bedanya, penulis berdeskripsi dalam bentuk lisan, bukan visual seperti sutradara dalam sebuah film.

Tapi, akan timbul pertanyaan lagi. Jika berdeskripsi begitu sulit dilakukan, kenapa penulis harus menguasainya dengan baik? Well, pada dasarnya menulis cerita, terutama fiksi dan lebih special lagi pada fiksi fantasi, semuanya tergantung pada cara sang penulis berdeskripsi. Hanya melalui deskripsi cerita yang baik dan mengalir lancar para pembaca akan ikut terhanyut dalan kisah yang kita berikan dan menerima tema se-aneh apa pun yang kita kisahkan.

Semua ini berhubungan erat dengan kualitas si penulis itu sendiri. Semakin sering belajar berdeskripsi, maka kualitasnya akan semakin baik. Untuk itu saya selalu berusaha mengasah kemampuan berdeskripsi yang sudah saya miliki dengan cara terus menulis. Biasanya, saya berusaha mendeskripsikan benda yang berada di hadapan mata saya terlebih dahulu, misalnya sebuah mug. Saya akan mencoba mendeskripsikan bentuk mug itu, warnanya, fungsinya hingga letak dan kegunaannya. Semakin detail akan semakin baik. Dan seiring berjalannya waktu, kemampuan menulis kita akan semakin meningkat sehingga kita bisa menentukan harus mendeskripsikan sesuatu hingga batas tertentu.

Kunci untuk menaklukkan kesulitan berdeskripsi hanya satu: jam terbang. Teruslah belajar menggunakannya pada setiap naskah dan temukan karekteristik deskripsi kita masing-masing. Jika semua itu sudah dikuasai, maka tidak akan ada lagi pertanyaan mengenai cara memulai bercerita atau mendeskripsikan sesuatu.

Masih bingung juga?

Sudah, ambil pulpen dan bukumu, lalu mulai menulis. Jangan terlalu memikirkan teori sehingga lupa untuk menerapkannya. Jika kita tidak mencobanya langsung, kita tidak akan tahu seberapa besar tingkat kesulitannya.

So, ayo mulai menulis! (^_^)

100612 ~Black Rabbit~

TIPS NULIS #9: MEMILIH JUDUL


Ada salah satu teman yang bertanya mengenai pemilihan judul. Wah, kalo tentang yang satu ini memang agak sedikit membingungkan. Soalnya saya sendiri cukup kesulitan menentukan judul untuk naskah saya. Tapi bagaimana pun juga ini adalah permintaan seorang teman, saya tetap akan mencoba menjawab dan memberikan tips dan trik.

Tapi sebelumnya, saya mau minta izin untuk memberikan pendapat secara pribadi tentang tema ini. masalahnya, tidak ada teori yang pasti, hitam di atas putih, mengenai pemilihan judul yang baik dan benar. Jadi, tidak ada pilihan lain, saya harus mengandalkan pengalaman saya yang tidak ada apa-apanya ini. Jadi, harap maklum kalau ada kekurangan, yah… (^_^)

Well, memilih judul yang tepat memang tidak mudah. Malah kadang saya sendiri harus ‘bertapa’ di gunung selama beberapa lama supaya bisa mendapatkan inspirasi bagus untuk menentukan judul apa yang akan saya gunakan. Tapi bukan berarti kesulitan ini tidak bisa ditaklukkan sama sekali, loh…

Judul yang baik seharusnya adalah judul yang bisa mewakili isinya. Biasanya terdiri dari satu kata atau lebih yang merupakan atau cukup mewakili tema yang kita bahas dalam naskah. Judul juga adalah identitas atau nama yang disandangkan pada naskah agar mudah dikenali dan diingat para pembaca.

Jadi, menurut saya, memilih judul yang tepat haruslah unik tapi mudah diingat dan gampang diucapkan. Kalau sebelumnya di materi Tips Nulis #6 tentang Percantik Diksi saya menyarankan untuk tidak menggunakan bahasa gaul, bahasa daerah atau bahkan bahasa asing tanpa foot note atau catatan kaki sebagai keterangannya, saran itu tidak berlaku saat kita sedang mencari judul. Tapi jangan memakai kata-kata yang terlalu aneh juga, yah… pilihlah dengan cerdik tapi penuh makna.

Judul juga tidak perlu terlalu panjang. Saya pribadi lebih memilih kata-kata singkat tapi memiliki arti khusus. Atau kalau pun memang ingin memakai sebuah kalimat, jangan gunakan kalimat yang teralu panjang.

Oh iya, ada satu pertanyaan yang pastinya begitu sering ditanyakan, yaitu: kapan harus menentukan judul, sebelum mulai menulis atau setelah menyelesaikan naskah? Nah, ini adalah pertanyaan yang tidak bisa saya jawab. Masalahnya, pemilihan judul benar-benar tergantung pada insting penulisnya masing-masing. Saya pribadi sering kali menyusun satu naskah tanpa judul yang jelas. Biasanya, jika kasus ini terjadi, saya memilih untuk mengesampingkan problem yang satu ini terlebih dahulu supaya mood menulis saya tidak terganggu. Begitu materi selesai, barulah saya mencari satu judul yang bisa mewakili tema dan naskah itu dengan baik.

Tapi tidak jarang juga saya menemukan judul yang tepat bahkan sebelum mulai menulis. Kalau memang judul tersebut masih sesuai dengan tema yang telah kita kembangkan, ya tidak ada salahnya digunakan. Atau dalam beberapa kali pengalaman, saya malah menemukan judul yang tepat saat tengah menulis. Ini hal biasa, sangat normal terjadi, jadi tidak perlu dipikirkan atau bahkan dipermasalahkan terlalu besar.

Oh iya, jika naskah kita berhasil menembus benteng penerbit dan siap dicetak, tidak menutup kemungkinan judul naskah kita akan mengalami perubahan. Yah, tidak semua penerbit akan mengubah judul, loh. Kalau memang judul naskahmu dirasa pas dan cukup ‘menjual’, maka tidak perlu ada perubahan atau penambahan. Tapi semua itu bisa dibicarakan lebih lanjut antara penulis dan penerbit, jadi bukan harga mati. Bagaimana pun juga, walaupun penerbit tetap saja memikirkan pangsa pasar dan untung-rugi, tapi naskah adalah hak penulisnya. Bicarakan saja pilihan mana yang terbaik untuk kedua belah pihak.

Jadi, sedang mencari judul yang tepat untuk naskahmu? Sabar, jangan terburu-buru. Coba pikirkan dengan cermat dan temukan judul yang benar-benar ‘klik’ di hati, niscaya itu adalah judul yang tepat.

So, selamat ‘bertapa’, yah… (^_^)

020612 ~Black Rabbit~

TIPS NULIS #8: BERMAIN ALUR


Ini salah satu aspek yang sangat saya suka dalam menulis: bermain alur!

Alur adalah jalannya cerita yang kita susun pada naskah yang membawa tokoh kita menelusuri konfilk hingga klimaks, anti klimaks dan ending. Alur adalah bagian penting dalam sebuah cerita, karena melalui alur inilah kita bisa menentukan apakah cerita yang kita tulis seru atau tidak. Dan bagaimana caranya menyusun alur yang seru?

Pada umumnya terdapat tiga macam alur yang sering digunakan, yaitu alur maju, alur mundur atau gabungan keduanya. Ayo kita coba bahas satu per satu.

Alur maju adalah alur yang paling banyak digunakan oleh penulis. Biasanya cerita dengan alur maju disajikan secara kronologis, mulai dari perkenalan tokoh, konflik lalu menuju klimaks, anti klimaks dan ending. Cara seperti ini adalah metode paling sederhana dan paling aman bagi setiap penulis karena dengan alur yang begitu teratur semua detail permasalahan para tokoh akan dapat diselesaikan dengan baik.

Tapi kita tetap harus berhati-hati agar alur maju ini tidak terkesan monoton sehingga membuat pembaca dan kita sendiri yang menulisnya menjadi bosan. Untuk mengatasinya kita bisa memberikan shocking scene pada saat yang tepat. Contoh penggunaan alur maju yang menarik adalah pada sebagian besar novel serial Harry Potter karya J.K. Rowling yang fenomenal.

Selanjutnya ada alur mundur. Alur yang satu ini memang agak sulit ditemukan karena biasanya alur mundur hanya dapat ditemui pada bab pembukanya saja lalu alur akan kembali ke kronologis yang sama seperti alur maju. Bedanya, pada titik tertentu alur cerita akan kembali pada titik awal yang disajikan pada bab pembuka tadi lalu baru diselesaikan pada ending.

Menggunakan metode alur mundur seperti ini akan sangat membantu kita untuk menciptakan rasa penasaran bagi para pembaca. Jika porsi pembuka yang membuat penasaran ini disajikan dengan tepat, para pembaca akan tertarik membaca lebih jauh dan menyelesaikannya sampai ending. Jadi jika ingin memilih menggunakan metode alur mundur ini carilah titik cerita yang pas sebagai bab awalnya. Biasanya banyak penulis yang menggunakan adegan klimaks atau anti klimaks, dan ini bisa banget ditiru. Salah satu novel yang menggunakan alur mundur dengan sangat baik adalah Twilight karya Stephanie Meyer dan Da Vinci Code milik Dan Brown.

Yang terakhir adalah gabungan dari alur maju dan alur mundur. Tidak banyak penulis yang menggunakan alur gabungan ini, walaupun bukan berarti tidak ada yang menggunakannya sama sekali. Alur ini akan cukup membingungkan jika tidak digunakan dengan cerdik baik bagi penulisnya sendiri atau juga bagi para pembacanya. Tapi jika bisa digunakan dengan baik pastinya akan menjadi karya yang sangat spektakuler.

Satu hal yang harus bisa disiasati dengan baik saat menggunakan alur gabungan ini adalah pada saat pergantian alurnya. Agar tidak membingungkan, pergantian alur harus dilakukan dengan mulus dan tertata dengan baik sehingga tema yang ingin kita usung dapat disampaikan dengan baik. Tapi jangan juga memaksakan diri menggunakan alur gabungan yang terlalu kompleks sehingga terlalu memusingkan, yah.

Jadi, metode penggunaan alur yang mana yang mau kalian pilih? Tentu saja setiap metode memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Yang jelas, alur mana pun yang kalian pilih harus dapat digunakan dengan baik dan efisien karena penggunaan alur yang tepat sangat berpengaruh bagi emosi para pembaca dan dinamika cerita. Pelajari semua alur, coba menggunakannya satu per satu dan taklukkan kesulitannya. Niscaya kalian tidak akan bingung memutuskan mau menggunakan alur yang mana sebelum menulis.

Seperti biasa, kalau ingin bertanya lebih jauh atau request tema untuk tips nulis selanjutnya bisa menghubungi saya melalui media social mana pun.

Jadi, selamat mencoba dan teruslah menulis! (^_^)

260512 ~Black Rabbit~

TIPS NULIS #7: POINT OF VIEW


Wah, tema tips nulis kali ini agak bule, judulnya aja pake bahasa Inggris. Hehehehe… (^_^)

Yuk kita bahas, apa itu Point Of View?

Point Of View yang saya maksud adalah sudut pandang yang dipakai penulis untuk bercerita pada naskahnya. Sejauh ini saya mengenal dua jenis sudut pandang yang sering digunakan, yaitu secara Objectif dan Subjectif.

Sudut pandang secara Objectif adalah metode menulis yang mengibaratkan penulis sebagai pencerita. Biasanya penulis akan mengibaratkan tokohnya sebagai orang ketiga dan menggunakan kata ganti orang ketiga tunggal ( misalnya menggunakan ‘dia’ atau ‘-nya’ ). Sedangkan sudut pandang secara Subjectif adalah metode menulis yang mengibaratkan penulis sebagai si tokoh itu sendiri. Biasanya penulis akan menggunakan kata ganti orang pertama tunggal dalam bercerita ( misalnya menggunakan ‘aku’ ).

Penggunaan kedua sudut pandang ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Misalnya, penggunaan sudut pandang secara Objectif bisa memudahkan kita mengembangkan setiap karakter tokoh yang ada, tidak hanya tokoh utamanya saja. Cara seperti ini tentu memberi keluasaan bagi kita untuk mengembangkan tema yang ada atau bahkan meng-eksplore tema tersebut dari sudut pandang tokoh yang berbeda-beda pula.

Tapi jangan lupa untuk tetap mengembangkan tema dengan porsi yang tepat, ya. Jangan sampai mengembangkan tema dengan semua tokoh yang ada sehingga membuat tema melebar terlalu luas. Kita harus tahu benar sampai mana tema tersebut ingin kita gali. Lebih baik hentikan penggalian tema pada titik tertentu, terutama saat sedang menyusun naskah serial. Biarkan sisanya menjadi misteri agar para pembaca bisa merasa greget dan ingin tahu lebih jauh lagi. Percaya deh, walaupun mereka menggerutu karena menerima ending yang penuh misteri seperti itu, tapi cerita itu akan sangat membekas di pikiran mereka.

Sedangkan menulis dengan menggunakan sudut pandang Subjectif akan dengan mudah membuat para pembaca terhanyut pada kisah yang kita sajikan. Ini dikarenakan sudut pandang Subjectif yang kita gunakan membuat kita dapat meng-eksplore perasaan paling dalam sang tokoh utama. Dengan metode ini, tokoh utama yang kita bentuk adalah kaca mata yang kita ciptakan bagi para pembaca. Semua konflik, klimaks dan bahkan anti klimaks-nya disusun berdasarkan satu sudut pandang saja. Hal ini tentu saja merupakan senjata yang ampuh jika kita memang bertujuan mengajak para pembaca terlibat langsung dengan emosi sang tokoh utama. Contohnya seperti kisah Isabella Swan karya Stephanie Meyer dalam novel terkenalnya: The Twilight Saga.

Tapi metode ini bisa sangat menjebak jika kita tidak bisa menggunakannya dengan baik. Sudut pandang satu tokoh yang itu-itu saja dan meng-eksplore perasaan sang tokoh utama hingga terlalu jauh akan bisa membuat para pembaca bosan. Karena itu kita harus tahu benar porsi yang tepat untuk menceritakan setiap kisah. Saya pribadi selalu berusaha menyingkap detail perasaan sang tokoh utama secara perlahan, didukung dengan dialog yang pas dan ditambah shocking scene pada waktu yang tepat untuk menyiasatinya.

Sebagai penulis yang baik kita harus bisa menguasai kedua sudut pandang ini dengan baik karena keduanya sangat berguna untuk mengembangkan kemampuan menulis kita. Orang lain tidak bisa memutuskan seorang penulis harus menggunakan sudut pandang yang mana, karena setiap penulis mempunyai ciri khas masing-masing. Karena itu cobalah menggunakan kedua sudut pandang ini lalu temukan kelebihan dan kekurangannya sesuai dengan gaya penulisanmu.

Oh iya, walaupun kedua sudut pandang ini memiliki kelebihan dan kekurangannya tapi bukan berarti tidak bisa digunakan dalam waktu bersamaan, loh! Memang, semua berhubungan erat dengan kreatifitas masing-masing penulis. Jika mampu, kita bisa saja menggunakan kedua sudut pandang ini dalam satu naskah. Misalnya pada bab satu kita menceritakan kisah dari sudut pandang Subjectif, lalu pada bab selanjutnya kita menggunakan sudut pandang Objectif tokoh yang lain. Bisa juga menggunakan metode sudut pandang Subjectif pada beberapa tokoh dalam satu naskah, bukan hanya tokoh utama saja. Metode inilah yang saya gunakan pada novel pertama saya: The Chronicle Of Enigma: The Two Rings.

Tapi, sekali lagi saya ingatkan, kedua metode ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Pahami dulu kedua metode ini baru putuskan akan memakai metode yang mana. Semua tergantung pada kreatifitas si penulis, jadi berkreasilah!

Seperti biasa, kalau mau tanya-tanya lebih lanjut atau yang mau request tema selanjutnya bisa contact saya di semua alamat social media saya. Oke! (^_^)

190512 ~Black Rabbit~

TIPS NULIS #6: PERCANTIK DIKSI


Hai, ketemu lagi di tips nulis. Sekarang kita ngobrol tentang cara mempercantik diksi, yuk!

Diksi adalah pemilihan kata yang kita pakai dalam menulis. Setiap penulis harus bisa menggunakan kata-kata yang tepat dalam tulisannya, begitu juga tata bahasa, penggunaan tanda baca dan juga pemahaman mengenai efisiensi kalimat. Saya hanya akan membahas tips-tipsnya dari segi umum saja, yah.

Untuk menulis sebuah naskah, kita memang harus memperhatikan pilihan kata yang kita gunakan. Walaupun tidak diharamkan menggunakan kata-kata gaul, tapi memang lebih disarankan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Apa lagi jika kita berniat menawarkan naskah kepada pihak lain, misalnya redaksi majalah atau penerbit. Sebenarnya alasannya simple: karena tidak semua orang bisa mengerti kata-kata gaul itu.
Begitu juga dengan penggunaan bahasa daerah. Tapi kata-kata gaul dan bahasa daerah boleh digunakan sebagai pelengkap dalam naskah, misalnya untuk membantu membangun suatu karakter atau dipakai sebagai istilah keren. Itu pun dibutuhkan kelengkapan seperti foot note atau catatan kaki sebagai penjelasannya.

Pemilihan diksi juga berpengaruh terhadap sasaran pembaca yang ditargetkan. Maksudnya, jika target pembaca naskah kita adalah para pembaca muda, maka kata-kata gaul bisa saja digunakan tanpa perlu ditambahkan penjelasan apa-apa. Karena itu perhatikan juga target pasar sasaran kita, yah.

Penggunaan diksi juga sangat penting jika kita menulis puisi. Menurut saya, menulis puisi adalah hal yang paling sulit karena saya sendiri tidak bisa menggunakan diksi yang ‘sangat sastra’. Maksud saya, menggunakan bahasa yang penuh kiasan dan kadang kala ( menurut saya, loh… ) sulit dimengerti. Tapi seiring perkembangan zaman dan moderenisasi, puisi sudah berkembang sehingga tidak perlu lagi menggunakan bahasa sastra. Dengan kata-kata sederhana, kita sudah bisa menulis sebuah puisi. Yang perlu kita perhatikan hanyalah membentuk ciri khas kita sendiri. Tapi kalau memang kekayaan kosa kata kalian begitu lengkap dengan bahasa sastra ini, silahkan saja digunakan, tapi kalau tidak, jangan dipaksakan. Gunakan saja bahasa Indonesia yang sudah pasti bisa dimengerti oleh kita sebagai penulis dan orang lain sebagai pembaca.

Selain permainan diksi, tanda baca juga merupakan hal penting yang harus diperhatikan. Ini adalah keterampilan paling dasar bagi seorang penulis. Kita harus sudah mengerti kapan saat yang tepat menggunakan tanda titik, koma, tanda tanya dan berbagai tanda baca lainnya. Ini sangat mempengaruhi dinamika tulisan kita dan menentukan pemahaman pembaca atas apa yang kita tulis.

Efisiensi kalimat juga penting, loh! Ini menyangkut skill kita dalam memilih kata-kata yang akan kita gunakan, jangan sampai menggunakan terlalu banyak kalimat yang itu-itu saja untuk menjelaskan satu hal. Ini bisa membuat para pembaca menjadi bosan. Juga hindari menggunakan kata-kata yang menjelaskan sesuatu yang sebenarnya sudah jelas, misalnya menggunakan kata kerja ‘naik ke atas’. Kata ‘naik’ sendiri memang memiliki arti ‘ke atas’ jadi tidak perlu ditambahkan, kecuali kata ‘ke atas’ digunakan untuk menjelaskan keterangan tempat secara lebih spesifik, misalnya ‘naik ke atas kereta’.

Selain itu, hindari juga penggunaan kata yang dipanjang-panjangkan, misalnya: ‘rasanya begituuuu….’ Penggunaan kata seperti ini sering kali membuat pembaca menjadi kesal karena membaca kata yang sama terlalu lama. Lagi pula kata itu tidak efektif penggunaannya. Jika mau memberikan kesan tertentu, lebih baik tambahkan saja keterangannya di akhir kalimat, misalnya: ‘”rasanya begitu.” Kata Ratih dengan bosan dan nada bicara yang malas.’

Membaca buku-buku berkualitas tetap saja menjadi guru paling mujarab untuk kita pelajari. Tapi, sekali lagi dan begitu sering saya ingatkan, pilihlah buku yang benar-benar berkualitas. Saya sendiri pernah mendapatkan buku yang memiliki kualitas pengeditan yang sangat mengecewakan. Bukan hanya terdapat begitu banyak kesalahan penulisan alias typo, tapi juga alinea yang tidak jelas, foot note yang diletakkan begitu saja sampai alur cerita yang berantakan, seolah buku itu dicetak tanpa melalui proses editing yang semestinya, hanya dicetak apa adanya.

Itu sangat menyebalkan! Padahal saya menemukan beberapa tulisan yang berpotensi bagus dan sungguh menarik untuk dibaca, tapi karena proses editing yang kacau membuat saya malas menlanjutkan membaca. Sayang sekali, kan? Karena itu, pilihlah bacaan yang benar-benar berkualitas yah, karena bacaan kita sangat mempengaruhi gaya penulisan kita masing-masing. Belajarlah dari yang terbaik agar bisa menghasilkan karya terbaik juga.

Ada banyak hal lain yang perlu diperhatikan untuk mempercantik diksi, tapi untuk membahasnya lebih dalam dibutuhkan kemampuan seorang editor yang lebih berpengalaman. Saya di sini hanya mencoba mengingatkan beberapa point yang umumnya sering terlewatkan saja. Karenanya jika terdapat kekurangan dari penjelasan saya kali ini, saya mohon maaf. Silahkan hubungi saya supaya saya bisa memperbaiki atau melengkapi kekurangannya. Jadi, semoga bermanfaat dan selamat menulis! (^_^)

120512 ~Black Rabbit~

TIPS NULIS #5: PENOKOHAN


Tips nulis kali ini kita membicarakan tentang satu aspek yang paling saya suka, yaitu: penokohan.

Membentuk tokoh-tokoh dalam sebuah cerita memang benar-benar menyenangkan bagi saya, terutama membentuk tokoh utama. Soalnya, kita bisa menggunakan tokoh mana pun dan bagaimanapun yang kita suka! Lagi pula, tokoh utama adalah pusat dari cerita yang kita susun. Dialah yang pertama kali dilihat dan pastinya yang paling diingat para pembaca. Sebagian besar tokoh utama bahkan bisa lebih terkenal dari pada judul buku itu sendiri. Saya pernah mengatakan kalau tokoh utama dalam cerita itu sama seperti seorang vokalis band, jadi sangat penting untuk membentuk karakternya dengan sempurna.

Tapi bagaimana cara membentuk tokoh utama dengan baik sehingga bisa begitu melekat bagi para pembaca?

Kalian tentu pernah membaca komik Jepang, kan? Dan pernahkah kalian melihat di salah satu pojok halamannya terdapat profil para tokoh komik tersebut? Biasanya, isi profil itu bukan hanya berisi gambar tokoh, nama, umur dan jenis kelamin tapi juga dilengkapi golongan darah bahkan sifat dan favorit mereka. Benar-benar seperti biodata yang sering ditulis anak SD, ya. Kedengarannya memang kocak dan sepele, tapi tahukah kalian kalau sebenarnya itu adalah salah satu cara yang sangat efektif untuk membentuk karakter dengan sempurna? Benar, saya serius, loh!

Dengan mengetahui detail tokoh yang kita gunakan, kita bisa lebih memahami karakternya seolah tokoh itu benar-benar nyata. Tokoh yang kuat dapat memberikan gambaran yang jelas kepada kita tentang bagaimana dia akan bertindak saat kita memberikan sebuah konflik. Cara ini dapat ‘menghidupkan’ cerita yang kita bangun.

Cara itu tidak hanya bisa kita gunakan pada tokoh utama saja, tapi juga bisa digunakan pada pemeran pembantu, tokoh antagonis atau tokoh mana saja. Intinya, dengan meng-eksplore setiap tokoh maka kita akan dapat menciptakan suasana yang pas dan memberikan konflik yang mendalam. Oh iya, cara meng-eksplore karakter dengan detail seperti ini juga dapat membantu kita dalam menyusun dialog yang tepat, karena dialog dan karakter sangat berhubungan erat dan harus saling mendukung.

Tapi, walaupun kita bebas menciptakan tokoh bagaimana pun yang kita mau, bukan berarti kita melupakan segi manusiawi tiap tokohnya, loh. Bagaimana pun juga, bahkan seorang super hero sekali pun mempunyai kelemahan. Jika kita menciptakan tokoh yang terlalu baik sehingga tidak mungkin melakukan kesalahan atau malah terlalu jahat sehingga tidak mungkin dikalahkan, bukankah konflik yang kita hadirkan akan sulit diselesaikan dan membuat pembaca bosan? Kita harus bisa membuat para pembaca terhanyut pada kisah yang kita tuliskan dan tidak rela meninggalkan tokoh utama kita sebelum sampai pada halaman terakhir.

Selain itu, nama setiap tokoh yang kita gunakan juga sangat menentukan, dan lagi-lagi adalah sebuah kesenangan tersendiri mencari nama yang tepat untuk setiap karakter, sama seperti mencari nama untuk calon bayi di dalam kandungan. Setiap nama memiliki arti tersendiri dan sering kali mempengaruhi karakter dari tokoh yang menggunakannya.

J.K Rowling yang terkenal dengan serial Harry Potter-nya, bahkan melakukan riset untuk menamai setiap tokoh dalam ceritanya dan setiap nama memiliki arti yang sesuai dengan karakter masing-masing. Cara ini DAN kehati-hatian ini terbukti sangat berpengaruh. Para tokoh yang diciptakan Rowling mampu memainkan peran mereka masing-masing dengan sangat baik, penuh karakteristik dan bahkan memiliki penggemarnya masing-masing.

Benar, memang sebegitu besarnya sebuah nama dalam mempengaruhi cerita yang kita sajikan. Karenanya, pilihlah nama yang sesuai untuk setiap tokoh kita. Tidak perlu menggunakan nama yang terlalu unik sehingga susah dibaca, tapi gunakan nama yang gampang diingat dan mudah diucapkan lalu bentuklah karakteristik yang kuat dan sulit dilupakan, itu kuncinya.

Wah, menceritakan tema penokohan memang tidak ada habisnya! Tapi cukup sampai di sini saja yah. Lain kali kita bahas lagi lebih mendalam.

Tetap semangat dan selamat menulis… (^_^)

050512 ~Black Rabbit~

TIPS NULIS #4: MATANGKAN MATERI


Di tips nulis kali ini kita ngobrol tentang tips dan trik mematangkan materi cerita, yuk!

Banyak sekali teman yang mengeluh kalau mereka sering kali enggan melanjutkan cerita yang sedang mereka tulis di tengah jalan. Padahal, awalnya mereka begitu bersemangat untuk mulai menulis karena merasa mendapatkan ide yang benar-benar bagus. Tapi kenapa ide mentok bisa tiba-tiba menyerang dan membuat mereka berhenti hingga akhirnya sama sekali tidak menyelesaikan naskah itu?

Menurut saya, selain dikarenakan ‘writers block’ atau ide mentok yang bisa menyerang siapa saja, ini juga dikarenakan materi naskah yang sebenarnya belum matang.

Setiap penulis pastilah pernah merasakan saat-saat di mana ide mengalir dengan derasnya melalui otak seolah tidak ada habisnya. Tapi, tidak semua ide bisa dikembangkan menjadi materi cerita yang bagus. Menurut seorang sahabat saya, ide itu seperti bunga es yang akan cepat mencair jika tidak disimpan dengan baik. Karena itu cobalah tampung ide-ide menarik yang ditemukan itu ke dalam sebuah buku catatan. Saya pribadi mempunyai sebuah ‘buku ide’, tempat saya biasa menuliskan berbagai ide mentah yang tiba-tiba muncul di kepala.

Biasanya, jika terdapat sebuah ide yang begitu menarik bagi seorang penulis, maka ide itu akan terus terngiang-ngiang di kepala. Pada saat inilah coba untuk mengembangkan ide ini lebih jauh lagi. Jika tidak sempat menuliskannya di sebuah ‘buku ide’, maka kembangkan saja ide itu di otakmu. Untuk mematangkan sebuah ide, idealnya harus ditunjang dengan aspek-aspek lain sehingga menghasilkan materi yang menarik dan dapat digunakan untuk membangun sebuah cerita. Gunakan rumus menulis yang sudah kita bicarakan minggu lalu ( 5W-1H ). Intinya gali terus semua aspek ide cerita itu sehingga membentuk sebuah materi yang matang.

Mengembangkan ide tidak perlu dengan cara menuliskan ceritanya dari awal sampai akhir secara sistematis, tapi sebagai tahap awal tuliskan saja apa yang terlintas di kepala. Apakah ide ini akan benar-benar dipakai atau tidak pada akhirnya, itu urusan nanti. Yang penting ide itu sudah dituliskan dengan selamat di atas kertas dan bisa kita eksplore lagi di kemudian hari.

Kenapa harus memikirkan ending cerita lebih dulu, padahal ide ceritanya belum sampai pada tahap ending? Sebenarnya ini bukan metode yang mutlak harus dilakukan. Bagaimanapun juga, saat menulis akan ada begitu banyak ide yang mengalir dan bisa mempengaruhi keutuhan cerita atau bahkan mengubah ending. Tapi jika ide-ide yang datang tiba-tiba itu terus ditambahkan, maka ide cerita bisa melebar ke mana-mana. Ini tidak bagus. Ide cerita yang terlalu luas akan mengurangi kekuatan cerita itu sendiri.

Nah, inilah gunanya ending cerita yang telah kita susun pada awal tadi. Kerangka cerita itu membantu kita untuk tetap berada di jalan cerita yang sudah ditentukan saat mematangkannya. Jika di tengah jalan kita menemukan alternatif ending yang lebih menarik dan lebih bagus, silahkan saja mengubah endingnya, tidak masalah.

Lalu, apakah kalian pernah kebingungan menghadapi timbunan ide di ‘buku ide’-mu? Bagaimana menyiasatinya?

Kita bisa memilih ide-ide mana yang bisa kita pakai untuk menunjang tema yang telah kita tetapkan dan membantu mematangkan materi kita. Jika terdapat ide lain yang tidak kalah menarik tapi tidak bisa dipakai, gunakan ide itu untuk tema tulisan berikutnya saja. Dan jika terdapat ide-ide yang sama sekali tidak bisa dipakai, mungkin karena ide tersebut tidak cukup bagus atau sama sekali belum matang, jangan ragu untuk membuang ide itu jauh-jauh. Jangan memaksakan diri dengan tetap memasukkan ide itu ke dalam cerita yang sedang kita garap karena bisa beresiko merusak cerita. Tenang saja, ide bisa ditemukan di mana saja dan kapan saja. Jika kita kehilangan satu ide, akan ada sepuluh ide lain yang muncul di kepala bahkan mungkin dengan kualitas yang lebih baik lagi.

Setelah materi yang matang itu kita tuangkan ke dalam tulisan, pekerjaan kita belum selesai. Tulisan yang dihasilkan baiknya ‘diendap’ dulu selama beberapa waktu. Biasanya saya ‘mengendap’ tulisan selama minimal dua minggu. Saya akan mengosongkan pikiran saya dari materi itu lalu kembali membaca naskah itu dalam keadaan otak yang fresh. Ini saya sebut sebagai ‘proses editing pribadi’. Pada saat ini saya mencoba memposisikan diri sebagai pembaca, bukan penulis. Gunanya adalah untuk menelaah apakah tulisan yang kita kerjakan sudah bagus dan materi yang ingin kita berikan sudah tersampaikan dengan baik atau belum. Di kesempatan ini kita juga bisa meng-edit bagian naskah yang ternyata melenceng dari tema awal atau juga yang tidak sesuai dengan tema sama sekali.

Tapi ingatlah untuk meng-edit naskah seperlunya saja, jangan terlalu banyak mengubah naskah yang malah akan membawa naskah keluar dari tema. Coba baca lagi kerangka tulisan yang kita buat sebelum mulai menulis sehingga tema yang kita pilih benar-benar sudah berhasil dituangkan dan tidak melebar lagi. Sekali lagi saya ingatkan, ide-ide yang tidak bisa digunakan pada naskah ini bisa dipakai pada kesempatan lain, jadi jangan memaksa, yah.

Dan saya selalu mengatakan bahwa menulis itu butuh proses dan proses itulah yang menentukan kualitasnya. Jadi tidak perlu terburu-buru ingin menyelesaikan naskah sehingga melupakan inti tema yang ingin disampaikan. Nikmati saja setiap prosesnya dan menulislah dengan hati senang. Pastikan saja semua materi sudah matang dan siap dituangkan, tidak perlu terburu-buru.

Bagaimana, tips kali ini cukup mudah, kan? Seperti biasa, untuk kalian yang mau request tema untuk tips nulis berikutnya bisa menghubungi saya di media social apa saja.

Semoga bermanfaat dan selamat menulis… (^_^)

200412 ~Black Rabbit~

TIPS NULIS #3: RUMUS MENULIS


Hai, kita ketemu lagi di Tips Nulis. Kali ini saya akan membahas mengenai Rumus Menulis. Benar, kalian tidak salah membaca, saya memang menuliskan ‘Rumus Menulis’. Sama seperti pelajaran matematika ataupun fisika, menulis juga mempunyai rumusnya sendiri. Tapi tenang, rumus menulis itu sederhana sekali. Semua orang memang bisa menulis, tapi tidak semua orang bisa bercerita. Agar bisa menghasilkan tulisan yang bisa bercerita, seorang penulis harus memahami rumusnya: 5-W,1-H.

Apa itu 5-W, 1-H?

5-W, 1-H adalah singkatan dari ‘What’, ‘When’, ‘Where’, ‘Who’, ‘Why’ dan ‘How’, di mana keenam kata ini adalah kunci dasar yang harus diperhatikan oleh setiap penulis. Mari kita bahas satu per satu.

‘What’ adalah ‘Apa’ dalam bahasa Indonesia. Sebelum menulis, kita harus tau tema dan konflik apa yang akan kita berikan kepada para tokoh. Biasanya, aspek ini cukup penting dan harus dipikirkan dengan matang. Jangan sampai konflik yang kita hadirkan terlalu dangkal sehingga menyulitkan kita untuk menyampaikan tema yang telah kita pilih. Konflik yang dangkal juga sering kali menjadi penyebab utama seorang penulis tidak bisa melanjutkan tulisannya. Jadi, yakinkan agar tema dan konflik yang kita pilih benar-benar matang, yah.

Kedua adalah ‘When’ atau ‘Kapan’, yang lebih menitik beratkan pada latar belakang waktu kejadian cerita. Jika sudah menentukan tema dan konflik apa yang akan kita angkat, kita juga harus memutuskan kapan kejadian itu berlangsung. Jangan anggap sepele aspek yang satu ini, loh. Soalnya, aspek ini akan dapat mempengaruhi karekter tokoh dan perkembangan konflik mereka. Memilih latar waktu kejadian dan dapat menyampaikan setiap detailnya dengan tepat juga mempengaruhi emosi para tokoh dan pembacanya.

Selanjutnya adalah ‘Where’ yang artinya ‘Di mana’. Jika sebelumnya ‘When’ lebih menekankan pada latar belakang waktu kejadian, maka ‘Where’ menjelaskan lokasi atau tempat kejadian. Aspek ini berhubungan erat dengan latar belakang waktu, di mana keduanya biasanya diputuskan pada saat yang bersamaan. Dan sama seperti ‘When’, ‘Where’ juga berpengaruh pada karakter tokoh dan perkembangan konflik mereka.

Untuk saya pribadi, menetapkan setting lokasi selalu menyenangkan karena kita bisa menggunakan begitu banyak tempat yang kita inginkan baik itu kota, ruangan, sebuah Negara atau bahkan planet mana pun yang kita inginkan. Kita juga bisa menggunakan lokasi yang pernah kita kunjungi atau yang pernah kita lihat di televisi, atau bahkan menciptakan lokasi sendiri sesuai dengan keinginan kita. That was fun! J

‘Who’ adalah ‘Siapa’ yang merupakan aspek selanjutnya yang juga menjadi favorite saya. Aspek ini menitik beratkan pada tokoh-tokoh dalam cerita kita. Sebagai penulis, kita bisa menciptakan karakter tokoh seperti apa pun yang kita inginkan, dengan fisik, sifat atau pun sikap bagaimanapun. Bukankah ini sangat menyenangkan? Tapi jangan sampai membentuk seorang tokoh yang terlalu sempurna sehingga sulit untuk ‘dikalahkan’. Paling tidak, pastikan tokoh yang kita bentuk memiliki sisi manusiawi yang cukup agar tidak terlalu mengada-ada.

Oh iya, karakter tokoh yang kuat juga sangat membantu agar para pembaca dapat terhanyut dalam kisah yang kita tawarkan. Istilahnya, tokoh yang kita ciptakan adalah vokalis band yang selalu dilihat pertama kali oleh para penggemarnya. Jadi, ciptakan tokoh utama kalian dengan cermat, yah!

Aspek selanjutnya menurut saya adalah aspek yang paling penting. ‘Why’ atau ‘Kenapa’ adalah latar belakang konflik yang terjadi terhadap tokoh yang kita ciptakan. Kenapa ini menjadi sangat penting untuk diperhatikan? Karena dengan latar belakang yang tepat, konflik yang ingin kita sampaikan dapat dihadirkan dengan lebih baik karena para tokohnya memiliki tujuan yang jelas. Aspek ini juga membantu para penulis untuk terfokus pada inti tema.

Dan yang terakhir adalah ‘How’ atau ‘Bagaimana’. Aspek inilah yang mempengaruhi jalan  cerita yang kita susun. Ini menjelaskan bagaimana para tokohnya mengatasi setiap konflik dan berhasil mencapai tujuan perjuangan mereka. Di sini kita bebas menceritakan perjuangan bagaimana yang harus dihadapi tokoh-tokoh kita, bagaimana mereka mengalahkan segala halangan yang ada hingga akhirnya berhasil mencapai kesimpulan dan menjadi tokoh yang jauh lebih baik dari pada sebelumnya.

Bagaimana, rumusnya mudah, kan? Kita bahkan tidak perlu menghapalnya karena jika kita sudah sering menulis dan mengasah kemampuan menulis kita, maka keenam aspek ini akan tercipta dengan sendirinya.

Jika kamu merasa belum bisa menerapkan rumus menulis ini atau masih bingung bagaimana menggunakannya, coba susun dulu sebuah tabel sederhana yang berisi keenam aspek ini sebelum kamu mulai menulis. Sebenarnya, keenam aspek ini adalah sebuah kerangka cerita sederhana yang dapat kita gunakan sebagai panduan menulis sehingga materi tulisan kita tidak melebar ke mana-mana. Aspek-aspek ini juga bisa membantu kita untuk merangkum dan me-review kembali buku yang telah kita baca sehingga kita bisa lebih memahami isi buku tersebut dan mempelajari aspek-aspek lainnya.

Benar kan, rumus ini memang ajaib sekali. selain mempunyai begitu banyak keuntungan, juga bisa membantu kita menjadi seorang penulis yang lebih baik lagi. Jadi, tunggu apa lagi? Coba bikin tabel rumus ini dan terapkan kegunaannya saat kita sedang menulis. It’s such a lot of fun! J

Sekian dulu tips nulis kali ini. Seperti biasa, untuk kalian yang mau request tema untuk tips nulis berikutnya bisa menghubungi saya di media social apa saja.

Semoga bermanfaat dan selamat menulis… (^_^)

200412 ~Black Rabbit~

TIPS NULIS #2: TAKLUKKAN PENERBIT


Dalam tips nulis kali ini saya mau membahas mengenai tips dan trik supaya naskah kita bisa berhasil menembus ‘benteng’ penerbit. Sebenarnya tema kali ini cukup sensitif, soalnya saya bukan termasuk golongan penulis professional dan terkenal yang naskahnya tidak akan pernah bisa ditolak penerbit mana pun. Saya sama seperti kalian, penulis amatir yang sudah sering merasakan pahitnya perasaan saat naskah kita ditolak. Lagi pula, tema ini bersangkutan dengan pihak lain, yaitu pihak penerbit yang memiliki kebijakan tersendiri yang tidak saya tau. Tapi, ini kan permintaan khusus dari kalian. Walaupun sulit, saya akan berusaha sebaik mungkin untuk berbagi pengalaman dan info-info berguna seputar tema kita kali ini.

Setelah mencari informasi dari berbagai sumber, saya mendapatkan kesimpulan bahwa hanya terdapat beberapa point dasar yang harus diperhatikan jika ingin naskah kita berhasil menembus ‘benteng’ penerbit. Sebenarnya point-point ini sangat sederhana, tapi kadang kita lebih sering mengesampingkannya, padahal point-point ini cukup penting, loh!

Point pertama, sudah tentu berhubungan dengan naskah kita sendiri. Dengan menjamurnya penulis muda berbakat di luar sana, tidak ada cara yang lebih efektif supaya bisa menang dalam persaingan kecuali dengan mempersiapkan ‘senjata’ paling canggih yang kita punya. Naskah yang kita tawarkan haruslah memiliki tema yang bagus dan isi yang bisa menarik bagi pasar. Ingat, penerbit memiliki begitu banyak pertimbangan sebelum memutuskan menerbitkan sebuah buku. Salah satu pertimbangan paling besar adalah segi minat pasar. Jika kamu menawarkan naskah dengan tema yang lebih umum atau yang sedang booming saat itu (misalnya: teenlit, chicklit, pop, romance atau pop) maka kemungkinan naskah kamu akan ditolak menjadi berkurang. Sisanya tergantung bagaimana keahlian kamu dalam menulis.
Keadaan itu akan menjadi sebuah tantangan besar bagi penulis yang mengusung tema yang tidak umum. Soalnya mereka menawarkan naskah yang spekuatif, yang belum tentu akan menghasilkan keuntungan bagi penerbitnya. Akan merupakan sebuah keuntungan besar jika kamu bisa menemukan penerbit yang mau mendobrak pasar dan mengambil resiko meluncurkan buku dengan tema spekulatif seperti itu. Bukan berarti tidak mungkin terjadi, loh, saya sudah mengalaminya sendiri.

Tapi kalau kamu benar-benar ingin menerbitkan sebuah buku, tidak peduli genre apa yang harus kamu jalani, saya sarankan: jadilah penulis bunglon. Tulislah naskah dengan genre yang sedang booming saat itu dan ikuti kemauan pasar. Asalkan cara penulisan kamu bagus dan sesuai dengan target penerbit, naskah kamu pasti lolos dan kamu bisa menerbitkan buku. Semua ini berhubungan erat dengan idealisme seorang penulis. Kalau memang sudah memiliki genre tertentu dan tidak berniat mengubahnya hanya agar bisa menerbitkan buku, tidak ada jalan lain kecuali merampungkan naskah yang bagus, baik tema atau pun cara penulisannya.

Point kedua adalah mengincar penerbit yang pas. Setiap penerbit memang terfokus pada genre tertentu, walaupun biasanya terdiri dari beberapa genre, tapi ada satu atau dua genre yang lebih mereka utamakan. Nah, aspek ini juga harus diperhatikan, loh! Tingkat kemungkinan naskah kita bisa lolos akan semakin besar jika kita mengirimkan naskah kepada penerbit yang biasa menerbitkan buku dengan genre yang sama. Misalnya kalau naskah kamu ber-genre komedi, coba kirim ke penerbit yang sudah biasa menerbitkan buku komedi juga, jangan malah mencoba mengirimkan naskah kepada penerbit buku pelajaran. Ini salah sasaran namanya.

Bagaimana kita bisa tahu genre penerbitnya? Gampang, pergi ke toko buku dan lihat genre apa yang paling banyak diterbitkan penerbit incaran kamu. Atau cek saja website mereka. biasanya, di sana mereka sudah menuliskan naskah genre apa yang mereka cari. Tapi, sekali lagi ini bukan harga mati. Kalau mau tetap mencoba menawarkan naskah dengan genre yang tidak biasa, itu sah-sah saja. Siapa tahu kamu sedang beruntung sehingga naskahmu bisa lolos.

Point ketiga yang menurut saya sangat mempengaruhi yaitu menyertakan form pengiriman naskah dan surat pengantar. Keduanya sering kali dilupakan, padahal kelengkapan inilah yang pertama kali dilihat oleh penerbit. Kedua surat ini seperti proposal sederhana yang kita berikan sebagai penawaran kepada pihak penerbit. Biasanya form pengiriman naskah bisa diunduh gratis di website masing-masing penerbit, terdiri dari keterangan penulis, judul, genre, target pasar, keunggulan naskah dan (kalau ada) buku saingan dengan genre serupa yang sudah beredar di pasaran. Tujuannya untuk meyakinkan penerbit apakah naskah yang kita ajukan bisa laku di pasaran. Sekali lagi saya ingatkan, bagaimanapun penerbit akan lebih mempertimbangkan masalah untung/rugi-nya, bukan idealisme penulisnya.

Surat pengantar lebih berupa kelengkapan saja, kita bisa mencantumkannya atau pun tidak. Tapi jika memang memungkinkan, akan lebih baik jika surat ini disertakan juga. Toh tidak terlalu sulit membuatnya, hanya berupa surat pengenalan dan pengantar saja.

Semua sudah dipersiapkan dengan baik? Eit, jangan lupa dengan kondisi naskah kamu sendiri, yah! Saya lebih menyarankan untuk mengirimkan naskah dengan format tulisan standart, tidak peduli apakah naskah yang kamu kirimkan berupa softcopy (biasanya dikirimkan lewat e-mail) atau hardcopy (dalam bentuk print out). Gunakan font yang standart supaya bisa dibaca dengan mudah. Begitu juga dengan ukuran huruf, spasi, jumlah halaman dan ukuran kertas. Gunanya untuk memudahkan editor pertama membaca naskah kamu. Soalnya, jika baru menerima naskah saja sudah membingungkan untuk bisa dibaca, bagaimana editor pertama bisa betah membaca naskah keren kamu itu, iya kan? Kalau kamu memang ingin ‘merias’ naskah kamu sedemikian rupa, lebih baik membicarakan kemungkinan itu setelah naskah kamu benar-benar sudah lolos dan akan diterbitkan.

Dan saran terakhir dari saya adalah: bersabarlah. Tidak semua penerbit akan merespon dengan cepat semua naskah yang mereka terima, apa lagi untuk penerbit terkenal yang sudah mempunyai nama besar. Bayangkan saja, dalam sehari mereka bisa menerima banyak naskah, tidak hanya puluhan, bahkan mungkin ratusan! Jadi maklum saja kalau naskah kita seolah ‘diterlantarkan’. Umumnya penerbit akan memberi kabar setelah tiga sampai empat bulan kemudian. Selama menunggu, lebih baik menulis materi baru lagi saja. Tapi jika lebih dari waktu itu, kamu bisa menghubungi penerbit yang bersangkutan mengenai nasib naskah kamu. Kalau memang tidak mungkin lolos, kamu kan bisa mencoba ke penerbit lain.

Sip! Itu tadi tips dan trik menembus ‘benteng’ penerbit. Kalau ternyata langkah-langkah itu masih belum berhasil membuat naskahmu lolos, berarti kamu harus coba menelaah lagi naskah itu. Siapa tahu ternyata naskah itu memang masih butuh perbaikan atau belum matang. Tidak perlu malu merevisi naskah sendiri dan mencoba semakin mematangkan materinya. Saya pribadi lebih memilih untuk menempa naskah saya sampai benar-benar matang sehingga penerbit tidak lagi harus bersusah payah membantu atau meminta saya mematangkannya lebih dulu.

Tapi kalau kalian sudah sangat yakin dengan naskah yang kalian miliki dan tidak sabar menunggu bertemu dengan penerbit yang tepat, jalur indie juga bisa ditempuh. Sekarang ada begitu banyak penerbit indie yang mau membantu penulis untuk bisa menerbitkan karya mereka, bahkan ada yang tidak meminta syarat apa pun, loh! Tapi tetap saja semua jalan memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing, jadi pertimbangkan dulu masak-masak sebelum memutuskan, yah.

Yah, mencari penerbit yang pas itu hampir sama seperti mencari jodoh yang tepat. Walaupun susah mencari yang memiliki visi dan misi yang sama dengan kita, tapi bukan berarti kita tidak diperkenankan untuk mencoba. Jadi, selamat mencoba, selamat berjuang, tetap bersadar dan bersemangat, yah!

Oke, itu dia tips nulis yang saya share kali ini. Seperti biasa, untuk kalian yang mau request tema untuk tips nulis berikutnya bisa menghubungi saya di media social apa saja.

Semoga bermanfaat dan selamat menulis… (^_^)

150412 ~Black Rabbit~

TIPS NULIS #1: WRITERS BLOCK


Ini adalah kolom baru di blog saya. Rencananya saya akan mengadakan Tips Nulis yang juga saya share live via twitter saya @black_rabbit13 ini setiap satu minggu sekali. Memang saya bukan penulis professional, tips yang saya berikan pun tidak berdasarkan teori mana pun. Saya hanya penulis biasa yang mempelajari dunia tulis menulis melalui pengalaman, jadi tips yang saya berikan pun berdasarkan pengalaman juga. Saya hanya ingin berbagi ilmu yang telah saya pelajari selama ini agar bisa bermanfaat juga bagi orang lain.

Kali ini saya ingin membahas mengenai writers block. Ada begitu banyak teman yang bertanya kepada saya seputar writers block yang mereka alami, dan kira-kira nasehat seperti inilah yang saya berikan kepada mereka.

Writers block atau ‘ide mentok’ memang sering dialami setiap penulis, tidak peduli apakah penulis itu masih amatir ataupun sudah professional. Problem writers block ini sama sekali tidak berhubungan dengan tingkat keahlian seorang penulis, semuanya terjadi secara alamiah dan sungguh manusiawi. Bagaimanapun setiap orang pasti memiliki titik jenuh dengan tingkat yang berbeda-beda. Masalah yang harus lebih diperhatikan adalah bagaimana cara mengatasinya. Jangan sampai masalah sepele seperti ini akan mempengaruhi mood dan hasil tulisan kamu sehingga membuat kamu frustasi dan akhirnya malah tidak lagi ingin menulis. Idih, amit-amit deh!

Jadi, bagaimana cara mengatasinya?

Sebenarnya, yang kita butuhkan untuk mengobati penyakit ini hanya cukup dengan satu kata: refreshing. Sama seperti rutinitas kita sehari-hari, kebosanan macam ini akan terobati hanya dengan cara mengambil waktu libur selama beberapa waktu. Lupakan sejenak kegiatan tulis menulis yang biasa kamu lakukan dan lakukan hal lain. Menonton televisi, menonton film di bioskop, jalan-jalan, olah raga atau kegiatan apa saja. Intinya adalah melupakan sejenak materi tulisan kamu. Jangan takut kehilangan materi itu. Kalau materi itu sudah matang, kamu tidak akan kehilangan materi itu walaupun berhenti menulis dalam jangka waktu yang sangat lama sekalipun. Materi matang itu akan terus terngiang-ngiang di otak kamu atau mungkin saja terolah makin matang sehingga saat kamu mulai menulis lagi, materi itu akan mengalir keluar dengan lancar.

Membaca berbagai buku lain juga bisa membantu kamu mengatasi writers block. Tidak perlu membaca genre yang sama dengan materimu, tapi membaca apa saja. Bagaimanapun, buku adalah jendela pengetahuan yang dapat mematangkan materimu tanpa kamu sendiri menyadarinya. Tapi pilih juga buku yang berkualitas, yah. Saya percaya, apa yang kamu baca akan berpengaruh dengan gaya penulisanmu. Jadi kalau bacaanmu berkualitas maka tulisanmu pun akan memiliki sedikit kualitas itu.

Mungkin bagi beberapa orang tips saya ini sungguh menyesatkan. Karena ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa untuk menjadi seorang penulis professional, biasakanlah menulis setiap hari. Pendapat ini sama sekali tidak salah, saya sendiri sungguh menganggap ide ini sebagai sebuah ide menakjubkan, karena saya pribadi belum bisa melakukannya. Jika kamu dianugrahi begitu banyak ide segar yang bisa dituangkan setiap hari dalam bentuk tulisan berkualitas, blessed you! Karena tidak semua orang bisa melakukannya.

Salah satu trik untuk menyiasati hal ini adalah menulis setiap hari dengan genre yang berbeda-beda, paling tidak resiko mengalami writers block tidak akan menghantui kamu. Tapi kalau kamu termasuk kelompok penulis yang bekerja berdasarkan pengaruh mood, seperti saya ini, saran saya: lupakan trik yang satu ini.

Saya sendiri tidak pernah mendoktrin otak saya untuk menulis setiap hari dengan minimal jumlah halaman tertentu. Hal ini bisa menjadi beban berat yang akan mempengaruhi kualitas tulisan yang dihasilkan. Saya lebih memilih mengolah materi saya sampai benar-benar siap untuk ditumpahkan ke dalam tulisan hingga menghasilkan tulisan yang bagus.

Bagi saya, menulis itu butuh proses dan proses itulah yang memperngaruhi kualitasnya. Saya sering kali mengingatkan bahwa pembaca tidak cukup peduli berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk menciptakan sebuah cerita. Mereka hanya peduli kualitas cerita yang mereka baca. Jadi, berhenti memaksa diri kamu untuk menulis! Proses menulis itu butuh dinikmati sehingga menghasilkan sebuah karya dengan kualitas maksimal.

So, tidak perlu resah menghadapi dilemma writers block. Bersantailah sejenak, lupakan materi naskahmu, isi ulang dulu semangat dan stok ide segar di kepalamu dengan melakukan aktivitas lain. Setelah semuanya terisi penuh dan siap digunakan, baru terjun lagi ke medan pertempuran dan teruskan perjuangan kalian. Tenang, setiap cerita punya nasibnya sendiri. Kita sebagai penulis hanya bisa mempersiapkan dan membekalinya dengan isi yang tepat.

Oke, sampai di sini dulu Tips Nulis kali ini. semoga program Tips Nulis yang ingin saya jadwalkan rutin setiap minggu bisa berjalan dengan lancar. Untuk kalian yang ingin bertanya lebih lanjut atau mungkin ingin request tema Tips Nulis selanjutnya, silahkan hubungi saya melalui media social mana pun.

Semoga bermanfaat dan selamat menulis… (^_^)

110412 ~Black Rabbit~