Tampilkan postingan dengan label ny. lars. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ny. lars. Tampilkan semua postingan

Ny. Lars – Part 31 – LAST PART


Black Rabbit
" NY. LARS "
- Part 31 -

 
… Episode sebelumnya …
Jenny memutuskan untuk pergi menemani ayahnya pulang ke Jerman, meninggalkan Kevin dan Lars. Dia memutuskan untuk tidak mendapatkan keduanya dari pada kembali membuat salah satunya menderita. Sementara itu Lars menyadari semua perasaan dan situasi itu dengan sangat terlambat …

 
amela Anderson dengan memakai salah satu pakaian bermerek yang menampilkan payudaranya yang 'super' itu, menempel di papan iklan yang besar. Beberapa meter di depannya terdapat seorang wanita mengenakan pakaian musim semi berwarna hijau muda, duduk di bangku taman dengan menggenggam sebuah buku dan sepotong sandwich. Ini adalah waktu makan siang dan wanita itu adalah Jenny yang sedang melakukan rutinitas siangnya.
Tiga bulan sudah berlalu dan berbagai kejadian sudah dilewati. Pameran lukisan ayah Jenny sukses besar, hampir setengah lukisannya terjual dengan harga tinggi dalam sekejap mata dan sisanya berada di salah satu galeri terbesar di Jerman. Sekarang Jenny bekerja di galeri itu, mengurusi lukisan ayahnya dan lukisan-lukisan lain, sementara ayahnya terus melukis di rumah sekaligus studio mereka.
Tapi ada yang tidak berubah dalam hidup Jenny, salah satunya adalah kenangannya akan Lars dan niatnya untuk menjadi satu-satunya nyonya Lars. Mungkin waktu tiga bulan belum cukup lama untuk mengubur cita-cita itu. Jenny menghabiskan sandwichnya dan meneguk kopinya sampai habis, lalu dibukanya lembar buku selanjutnya.
" Gutten tag, Frau Jenny. ( Selamat Siang, Ibu Jenny. ) "
Jenny kesal mendengar suara yang mengganggunya. Biasanya, orang iseng yang suka mengganggunya saat sedang membaca buku di jam istirahat siangnya hanyalah seorang tukang koran yang menawarinya koran, majalah atau apa saja yang bisa ditawarkan. Jenny memasang wajah sekesal mungkin dan siap mengatakan 'tidak'.
" Sepertinya ada orang yang bisa hidup tenang walaupun terbelit hutang. "
Ternyata yang didapatinya bukanlah tukang koran yang menyebalkan, tapi dia menemukan seorang laki-laki berdiri di depannya mengenakan mantel coklat, rambut sedikit gondrong dan kaca mata tipis bergagang hitam, membuat wajahnya terlihat lebih dewasa. Itu sosok yang dulu sangat dikenalnya dan yang dulu sangat dirindukannya.
" Lars?! "
" Hei. " Senyum itu lagi. Rasanya sudah begitu lama Jenny tidak melihat senyum itu.
" Kenapa lo ada disini? Ngapain lo ada disini? Dari mana lo tau gua ada disini? "
" Jawab yang mana dulu, nih? "
" Dari mana lo tau gua ada disini? " Ulang Jenny.
" Dari bokap lo. Tadi gua ke rumah lo dan bokap lo bilang, lo pasti ada disini. "
" Dari mana lo tau alamat gua? "
" Louise. "
Jenny teringat sosok sahabatnya yang satu itu lalu tersenyum. Dari dulu dia memang selalu menjadi penyebar berita yang efektif.
" Trus, ngapain lo disini? "
" Mau nagih utang. "
" Utang apa? "
" Katanya ada yang mau mempertanggung jawabkan semuanya kalo ketemu gua. "
Jenny teringat lagi dengan surat yang ditujukan kepada Lars sebelum dia pergi dan dia teringat kalau dia memang menjanjikan sesuatu.
" Cuma itu? Lo nggak mungkin datang jauh-jauh kesini hanya buat ngomong itu ke gua. " Tanya Jenny.
" Nggak sih. "
" Trus apa? "
" Gua sekaligus mau ngasih jawaban buat pertanyaan lo selama ini. "
" Buat apa? "
Jenny ingin meyakinkan pendengarannya sehingga dia bertanya lagi kepada Lars, tapi terlambat. Tanpa meminta izin terlebih dahulu Lars meraih tubuh Jenny dan memeluknya. Jenny terkaget-kaget sehingga tak bisa mengatakan apa-apa. Apa lagi saat Lars meraih wajahnya dan berkata pelan:
" Gua mau nyium lo. "
Tanpa menunggu jawaban dari Jenny, Lars meraih bibir Jenny dan menciumnya. Jantung Jenny berdebar kencang dan di dalam dadanya ada sesuatu yang menggelitik. Butterfly, dia merasakannya lagi.
" Dua tahun lebih gua memendam perasaan buat ngelakuin itu sama lo. " Kata Lars setelah ciuman itu selesai dengan sedikit disesali Jenny. " Sekarang gua minta lo ikut gua pulang. " Kata Lars lagi.
" Ikut pulang? Kemana? "
" Ikut gua pulang, kerja lagi sama gua. Kali ini lo bukan lagi asisten gua, lo jadi pendamping gua. " Jenny lebih kaget lagi. " Gua baru sadar kalo gua juga ternyata sayang sama lo, gua cinta sama lo, gua pengen milikin lo. Mangkanya, lo harus ikut gua pulang, kita tebus dua tahun lebih yang kita habisin tanpa sadar apa-apa. "
Tidak salah lagi, ini adalah sebuah lamaran! Tidak seperti Kevin yang pernah melamarnya dengan sebuah cincin berlian, Lars tidak membawa apa-apa. Tapi anehnya, apa yang dilakukan Lars ini jauh lebih manis dan mengesankan dibandingkan lamaran siapa pun juga. Dan Jenny memeluk Lars dengan erat sebagai jawabannya.
14 Februari
Disebuah taman terdapat beberapa meja bundar yang dikelilingi beberapa kursi berlapis kain putih. Di salah satu sudut terdapat sebuah panggung kecil yang setiap tiangnya dililit bunga mawar merah muda.
Terdapat banyak tamu disana, sedang berdiri di depan kursi masing-masing dan memandang ke atas panggung menyaksikan Lars dan Jenny. Lars yang mengenakan jas hitam dan kemeja putih, terlihat sedang memasangkan sebuah cincin bertahtakan berlian kecil ditengahnya ke jari manis di tangan kiri Jenny. Jenny sendiri mengenakan long dress panjang bertali di bagian punggung. Gilirannya menyematkan cincin kedua yang sama dengan cincin pertama tadi ke jari manis tangan kiri Lars.
Seorang laki-laki yang mengenakan kemeja berwarna pink lembut berlaku sebagai pembawa acaranya. Setelah prosesi itu, dengan lantang dia berkata:
" Dengan senang hati saya mengumumkan bahwa Lars dan Jenny pada hari ini sudah resmi bertunangan! "
Louise, Norman, Kevin, ayah Jenny, ibu Jenny dan Filemon, juga semua tamu lainnya bertepuk tangan dengan meriah. Dan Lars mencium Jenny diatas panggung.
" And now, let's get party begin, tapi sebelumnya ada pesan khusus dari Lars untuk Jenny, katanya: 'Jen, tolong jangan sentuh sampangenya'. "
Dan semua orang tertawa termasuk Jenny dan Lars yang berada di atas panggung.

 
~ TAMAT ~

Ny. Lars – Part 30 -


Black Rabbit
" NY. LARS "
- Part 30 -

 
… Episode sebelumnya …
Jenny sedang berperan sebagai dokter cinta bagi Lars. Untuk mengobati sakit hati bosnya itu, Jenny berusaha dengan berbagai cara untuk membuat Lars tertawa dan melupakan sakit hatinya. Dia mengajak Lars ke mall, bermain permainan anak kecil, ke klub dan mendengarkan curhat Lars. Tapi tanpa disadari oleh Jenny dan tanpa dikehendaki oleh Lars sendiri, Lars sedikit demi sedikit menyadari perasaan yang sebenarnya dia rasakan terhadap Jenny …

 
Sekarang giliran Kevin yang sedang menemani Lars menjadi dokter cintanya. Mereka sedang berada di salah satu restoran, baru saja melahap tiga puluh tusuk sate ayam sambil mengobrol seru mengenai pertandingan bola kemarin malam. Lalu topik pertandingan bola berubah menjadi topik lain.
" Lo nggak cerita kalo lo udah putus sama Jenny. " Kata Lars.
" Nggak ada yang perlu diceritain menurut gua. Berita buruk nggak perlu dibagi-bagi. " Jawab Kevin enteng. Tapi anehnya jawaban enteng ini malah membuat Lars jengkel.
" Emang kenapa? Lo bikin salah sama dia? "
" Nggak. "
" Lo selingkuh? "
" Nggak. "
" Terus kenapa kalian putus? " Tanya Lars bandel.
" Dia yang putusin gua. "
" Kan lo udah janji nggak bakal bikin dia sedih! Lo janji sama gua! " Sekarang nada suara Lars sudah meninggi.
" Gua nggak pernah nyakitin dia. Dia suka sama orang lain, bukan gara-gara gua bikin salah sama dia. " Jawab Kevin sambil menambahkan dengan sedih di dalam hati: 'Dan orang lain itu lo, Lars'.
" Yakin lo nggak bikin dia sedih? "
Kevin mengangguk mantap, Lars mereda emosinya.
" Kenapa lo khawatir banget sama Jenny? " Sekarang Kevin yang bertanya kepada Lars dengan serius.
" Karena dia asisten gua. "
" Cuma gara-gara itu? "
" Iya. Emang apa lagi? "
" Bukan gara-gara lo suka sama Jenny? "
Lars terdiam menerima pertanyaan ini. Sebenarnya ini pertanyaan yang sering dia tanyakan kepada dirinya sendiri, tapi entah kenapa Lars tidak pernah mendapat jawaban yang pasti untuk pertanyaan ini.
" Nggak lah… " Kata Lars akhirnya, tapi dia langsung diam lagi seperti salah menjawab. " Gua juga nggak ngerti. " Jawab Lars akhirnya. Terdengar seperti jawaban yang lebih tepat dari pada sebelumnya.
" Gua selalu anggap dia temen gua yang paling deket, sahabat gua, malah kadang adik gua. Tapi belakangan ini gua jadi ngerasa sepi kalo nggak ada dia. Gua jadi butuh dia—bukan berarti gua mau ngambil Jenny dari lo. "
Lars buru-buru mengoreksi karena melihat wajah Kevin yang mengeras marah. Tapi Kevin menggeleng.
" Gua nggak apa-apa, lanjutin aja. " Kata Kevin.
" Well, yang jelas gua jadi pengen dapetin Jenny. Pengen ngabisin waktu sama dia terus. "
" Kalo gitu dapetin dia, Lars. " Kata Kevin sedikit tiba-tiba, membuat Lars kaget.
" Tapi, dia kan pacar lo. "
" Mantan pacar gua. " Koreksi Kevin. " Gua mau lo dapetin apa yang nggak bisa gua dapetin. Kalo lo yang bisa ngedapetin itu, gua rasa gua nggak bakal nyesel. Asalkan itu lo, bukan cowok lain. "
Tanpa disadarinya, Lars nyegir lebar sekali. Perasaannya seringan bulu saat mendengar kalau Kevin mendukungnya, seperti mendapat bantuan kekuatan dari belakang.

 
Sementara itu di rumah Jenny…
" Bukannya lo berangkatnya tiga hari lagi? Kok maju jadi besok, sih? "
Ini pertanyaan dari Louise yang dikatakan dari sela-sela kegiatan packing barang-barang Jenny dirumahnya.
" Bokap gua udah ngebet banget pengen pulang, lagian kita harus siap-siap buat pameran lukisan bokap gua dua minggu lagi. " Jawab Jenny masih sambil melipat baju-bajunya.
Louise hanya diam, merasakan hatinya yang merebak sedih saat ingat kalau dia akan kehilangan salah satu sahabat terbaiknya. Jenny menoleh menatap Louise yang tidak membalas ucapannya seperti biasa, lalu menghampiri Louise dan memeluknya kerana sekarang Louise sudah menangis.
" Kok lo nangis sih? "
" Gua pasti bakal kangen sama lo, Jen. "
" Gua juga, tapi gua kan udah janji bakal rajin contact lo. Ya? "
" Tapi, gua juga ngerasa salah sama lo. " Kata Louise lagi. Jenny malah merasa aneh.
" Maksud lo? "
" Iya, gua ngerasa salah. Gara-gara gua, lo harus pura-pura pacaran sama Kevin, hubungan lo jadi nggak enak sama Lars, semua salah gua. "
" Nggak! Lo nggak ada salah apa-apa. Justru gua yang harusnya berterima kasih sama lo, kalo lo nggak ngelakuin itu, mungkin sampe sekarang gua nggak bisa ngerti perasaan gua sendiri. "
Louise tersenyum dan Jenny juga ikut dan mereka berpelukan lagi. Setelah itu mereka kembali melanjutkan acara mengepak yang sempat terhenti tadi.
" Lo udah pamit sama Lars? " Louise memasukkan bedak milik Jenny yang terakhir di koper make up mini, lalu menutupnya. Sementara itu Jenny menggeleng lemah.
" Kok belum sih? "
" Gua nggak tau gimana ngomongnya. "
" Ck! " Louise menggeleng gemas lalu meraih ponsel Jenny dan menyodorkannya tepat di depan hidung Jenny. Jenny mengambilnya dengan wajah bingung.
" Telepon dia sekarang! "
" Tapi Lou, gua—"
" Telepon! "
Louise mengeluarkan tampang marahnya yang paling menyeramkan sehingga Jenny menurut tanpa banyak bicara lagi. Nada sambung terdengar sekali, dua kali, tiga kali, lalu diangkat.
" Hallo Lars? "
" Jen, kenapa lo telepon sekarang? Gua lagi rapat nih! "
" Sorry… Gua hanya mau ngomong sebentar. "
" Tunggu, saya tidak sependapat dengan anda. "
" Lars? "
" Oke, satu menit. "
" Gua cuma mau bilang, gua mau pindah ke Jerman ikut bokap gua, berangkatnya besok pagi jam 8. "
Tidak ada tanggapan yang terdengar, hanya ada suara berdebat diujung sana.
" Lars? Lo denger nggak? "
Tut… Telephone tertutup dan Jenny memandangi ponselnya dengan bingung.
" Kenapa? Gimana? " Tanya Louise penasaran.
" Teleponnya diputus. Kayaknya Lars lagi sibuk banget. "
" Tapi lo udah ngomong, kan? "
Jenny mengangguk lalu menggeleng. " Kalo pun tau, dia nggak bakal ngapa-ngapain, kok. "
" Tapi—lo yakin mau dibiarin kayak gini aja? "
" Mungkin emang harus kayak gini kali, Lou. "
Louise meraih Jenny dan memeluknya lagi, sementara Jenny meneteskan air mata tanpa yakin apa yang ditangisinya. Kelegaan atau kesedihan?
Rapat sampai larut malam benar-benar menyita tenaga dan pikiran Lars sampai habis. Dan ini membuat Lars melupakan percakapannya dengan Jenny kemarin sore di telepon. Dia berusaha mengingat-ingat apa yang dikatakan Jenny. Kalau tidak salah Jenny mengatakan sesuatu mengenai pesawat. Ya ampun! Umpat Lars dalam hati. Dia baru ingat kalau Jenny akan pergi ke Jerman pagi ini. Buru-buru dia bangun, mencuci muka dan pergi dengan mengenakan baju yang dipakainya saat pulang kantor kemarin malam. Dia tidak peduli jam tangannya menunjukkan tepat pukul delapan pagi, dia akan tetap pergi walaupun terlambat.
Lima belas menit kemudian, setelah melewati perang dengan kemacetan di pagi hari, Lars sampai di bandara. Keadaannya tidak terlalu ramai sehingga Lars dengan mudah menemui Louise dan ibu Jenny yang ditemani Filemon. Louise kaget melihat Lars yang kusut itu, sementara ibu Jenny berhasil mengatakan sesuatu di sela-sela isakannya.
" K-kau terlambat d-datang untuk m-mencegah putriku pergi… "
Lars mengatur jantungnya yang baru saja dipacu untuk berlari lalu berkata tersengal-sengal: " Jadi dia udah pergi? "
" Ternyata lo nggak sadar juga… " Louise menggeleng dalam dan menatap tajam. Lars malah bertanya lagi:
" Sadar apa? "
" Sadar kalo Jenny sebenernya cinta sama lo! "
Lars terdiam, sepertinya dia baru saja terkena pukulan keras dan tidak sadarkan diri.
" Mendingan lo baca ini, biar lo bisa makin sadar. "
Louise menyodorkan sebuah amplop putih bertuliskan 'Untuk Lars' di depannya. Itu tulisan tangan Jenny. Lars menerimanya dan membiarkan Louise, ibu Jenny dan Filemon melangkah pergi. Dia pergi ke arah balkon dimana semua orang bisa melihat kapal terbang yang tinggal landas atau pun yang mendarat. Disana dia membuka surat dari Jenny dan membacanya.

 

 

 

 
Dear Lars…
Sorry kalo gua norak banget pake nulis surat segala ke lo, tapi gua nggak tau lagi gimana bisa ngejelasin semuanya ke lo sebelum gua pergi.
Lo masih inget waktu gua bilang sama lo kalo gua udah putus sama Kevin karena nggak cocok? Gua boong. Sebenernya gua sama Kevin nggak ada hubungan apa-apa. Gua baru kenal sama Kevin sekitar tiga bulan yang lalu, lewat biro jodoh. Gua minta dia buat jadi pacar bohongan gua buat ngeyakinin lo kalo gua nggak boong soal pacar gua. Gua nggak tau kalo ternyata lo sama Kevin sobatan, gua minta maaf.
Dan soal tipe cowok yang gua suka waktu itu? Cowok itu lo. Yang cuek, yang misterius, dewasa dan sebagainya. Well… intinya, gua suka sama lo, semenjak lo nabrak gua di supermarket waktu itu. Gua sendiri baru nyadar kalo ternyata selama ini perasaan gua nggak berubah. Walaupun lo playboy, gua cinta sama lo. Tapi gua tau kalo perasaan gua nggak mungkin dapet balesan dari lo. Banyak cewek yang ngantri buat jadi cewek lo, gua nggak ada apa-apanya dibandingin mereka. Jadi gua cukup seneng jadi asisten lo, nikmatin lo pake cara gua sendiri.
Gua udah banyak banget salah sama lo, Lars. Gua banyak boong sama lo, soal Kevin, soal Cherry, soal diri gua sendiri, soal perasaan gua. Gua bener-bener minta maaf.
Dan soal pekerjaan gua dibengkel semua udah gua beresin, jadi kalo lo dapet asisten yang baru, dia nggak bakal susah ngelanjutin kerjaan gua. Gua janji bakal mempertanggung jawabkan semuanya ke lo kalo kita ketemu lagi nanti. Itu juga kalo kita ketemu.
Well, sekali lagi gua hanya mau lo tau: gua suka sama lo dan selamanya bakal suka. Sorry gua harus pergi pake cara kayak gini, tapi gua lega udah nggak mesti nutup-nutupin masalah apa pun sama lo.
Thank's for being just you, Lars.
Bye.
Jen

 
Lars diam dan merenungi semua kata-kata yang tertera di atas kertas itu. Dia ingat Jenny: perhatiannya, kebohongannya, kepolosannya, sikapnya selama ini, semuanya seperti menjadi sesuatu yang menjadi lengkap. Dan kelengkapan itu menyadari dan membuka mata Lars yang selama ini tertutup. Dia mengingat lagi sosok Jenny: wajahnya yang polos dan manis, rambut panjangnya yang coklat, kulit putihnya; kapan Lars pernah lupa kalau semua itu membuatnya rindu? Lars baru sadar kalau selama ini Jenny-lah yang paling mengerti dirinya. Menjawab teleponnya di malam hari sewaktu dia kesal, menemaninya pergi ke gym setiap pagi, mengurusnya saat babak belur atau sakit, tidak mengganggunya saat sedang mandi dan menghiburnya saat dia patah hati. Saat semua orang memilih untuk membiarkan Lars sendiri dan menenangkan diri, Jenny justru menemaninya dan membuatnya tertawa lagi, walaupun melalui hal-hal sederhana dan tidak berarti. Ya ampun, ternyata Jenny lebih dari sekedar asisten bagi Lars!
Tapi sudah terlambat untuk menyadari semuanya. Kini Jenny sudah memutuskan untuk tidak menerima apa-apa dan pergi. Seolah meninggalkan semua masa lalunya dan pergi untuk mencari kehidupan lain. Lars tertunduk sedih dan menyesali semua keterlambatannya, sementara Jenny berada diatas sana, memandang rumah dan semua yang berpijak ke dalam perut bumi dengan ukuran sangat kecil, terlindung di balik logam yang menyelimuti badan pesawat terbang dan tersenyum lega karena telah menuntaskan segala sesuatu yang memang harus dituntaskan.

 
...Bersambung...

Ny. Lars – Part 29 -


Black Rabbit
" NY. LARS "
- Part 29 -

 
… Episode sebelumnya …
Jenny sudah memutuskan jalan mana yang akan di pilihnya. Dengan berat hati dia harus mengakui kesalahan dan keegoisannya kepada Kevin. Walaupun keputusannya itu membuat Kevin sakit hati, tapi Jenny yakin kalau itu adalah keputusan yang baik bagi mereka semua. Sekarang hanya tertinggal urusannya dengan Lars yang perlu diselesaikan …

 
Rangkaian tujuh hari dalam seminggu sudah dilalui Jenny dengan Lars disampingnya. Dia sedang berperan sebagai dokter cinta yang sedang mengobati pasien yang menderita sakit hati kronis. Jenny yakin hatinya tidak akan tenang melihat Lars yang menderita seperti itu, karena itu dia memutuskan untuk mengobati luka hati Lars sebelum hari keberangkatannya tiba.
" Dua lukisan terakhir bisa gua selesaiin tiga minggi lagi, tapi lo siap-siap aja dari sekarang. "
Ini obrolan terakhir antara Jenny dan ayahnya, sekitar dua minggu yang lalu. Berarti kurang lebih seminggu lagi waktu yang tersisa bagi Jenny untuk menemani Lars dan menjadi dokter cinta baginya.
Di pagi yang cerah kali ini, Lars dan Jenny duduk diatas alat masing-masing di gym yang dulu sering mereka datangi.
" Udah lama, ya kita nggak ke sini. "
Dengan tampang secerah mungkin Jenny menoleh ke arah Lars yang disambut dengan 'tatapan sedikit senyum' yang akhir-akhir ini memang selalu ditunjukkan Lars.
" Abis ini kita mau kemana? " Tanya Jenny lagi.
" Terserah lo. " Jawab Lars masih dengan dingin.
" Hm… ok, kita ke mall. "
" Ke Mall? Mau ngapain? "
" Main game. "
" Hah? "
Jadi begitulah. Beberapa jam kemudian Jenny dan Lars sudah berada di mall, tepatnya disalah satu game center. Mereka berdua hampir seperti anak kampung yang baru pertama kali turun gunung, masuk mall dan bermain dengan game-game hebat berteknologi canggih. Mereka membeli begitu banyak koin dan menghabiskannya hampir di setiap mesin permainan yang ada. Bola basket, balap mobil, Formula Satu, menangkap boneka sampai menari. Untung saja Lars menolak saat Jenny mengajaknya bermain di kolam bola, lagipula permainan itu memiliki batasan umur yang jauh dari umur mereka.
Tapi, bagaimanapun yang paling melegakan adalah saat Lars bisa tertawa lepas. Jenny benar-benar merasa lega melihat wajah ganteng yang sedang tertawa itu karena selama beberapa minggu ini raut wajah itu sangat langka terpasang di wajah Lars.
" Pukul yang kuat! Ha…ha…ha… "
Jenny sedang memukul sebuah tombol merah besar di salah satu permainan dengan sekuat tenaga. Sementara Lars yang sudah mendapat giliran pertama menyemangatinya dari belakang. Tiga pukulan terakhir dan permainan selesai, Jenny terengah-engah mengatur napas.
" Thank's to you, Jen. " Kata Lars tiba-tiba dengan tampang serius.
" Buat apa? "
" Ngajakin gua main game. Akhirnya gua bisa ketawa lagi. "
Jenny berhasil mengatur napasnya yang ngos-ngosan tadi, lalu tersenyum dan memukul lengan Lars. " Nggak pa-pa, itu gunanya gua buat lo. Lagian lo kan playboy, masa nyerah hanya gara-gara diputusin cewek, sih? "
Lars tersenyum lagi. " Gua lapar, kita makan, yuk. " Jenny mengangguk dan mereka berdua melenggang pergi.
Malam sudah dijelang, saat ini Lars dan Jenny sudah berada di sebuah club. Well, jika selama ini syarafmu sudah begitu tegang, pergi ke club dan merasakan hingar bingarnya bisa menenangkanmu. Semboyan ini tidak pernah berubah dari dulu.
" Gua udah lama nggak ke klub, kangen juga. " Lars berkata sambil berjalan berdampingan dengan Jenny masuk ke dalam klub.
" Iya, jadian sama Cherry emang bikin lo hilang dari pergaulan. "
Jenny menimpali sedangkan Lars hanya tersenyum. Tiba-tiba dia teringat sesuatu lalu buru-buru mengatakan: " Lo nggak boleh minum sampange. "
" Emangnya kenapa? " Tanya Jenny sebal.
" Gua masih inget terakhir kali lo minum sampange, lo mabuk berat dan demam dua minggu. "
" Tapi, kan… "
" Lo minum sesuatu yang lebih aman dari pada sampange. "
Akhirnya Lars memesan segelas minuman bersoda untuk Jenny dan segelas bir untuk dirinya. Sebenarnya Jenny ingin melawan diskriminasi yang baru saja di terimanya itu, tapi mengingat Lars yang sudah kembali kepada sifatnya yang suka mengatur orang lain itu, Jenny memilih untuk menikmati diskriminasi itu.
Lars diam cukup lama. Dia tunduk menekuri gelas wiskinya tanpa menoleh atau terganggu sedikit pun dengan orang yang mondar mandir dibelakangnya atau suara musik yang membahana. Saat Jenny mau menegurnya, Lars berkata lebih dulu.
" Kalo dipikir-pikir, selama ini gua bego banget, ya? " Lars menatap Jenny yang dibalas Jenny dengan tatapan yang seolah bertanya: 'kenapa?'.
" Gua nggak sengaja ketemu Cherry di klub, jalan sebentar sama dia, tapi gua langsung jatuh cinta. Kurang dari tiga bulan gua kenal sama dia, tapi gua udah mau jadiin dia istri gua? " Lanjut Lars.
Jenny meneguk minumannya, lalu berkata: " Itu namanya bukan bego. Lo kan nggak pernah tau kapan bakal jatuh cinta sama seseorang. "
" But that's weird! Bayangin Jen, kurang dari tiga bulan! Kenapa gua nggak jatuh cinta sama lo aja yang udah gua kenal lebih dari dua tahun? "
" Mana gua tau. "
Lars akhirnya memalingkan wajahnya dari gelas bir yang belum disentuhnya itu dan memandang Jenny yang juga sedang memandangnya. Lars tiba-tiba melihat wajah polos yang sama yang dulu dilihatnya saat pertama kali bertemu dengan Jenny. Tiba-tiba timbul rasa ingin memiliki. Sosok Kevin melintas dikepalanya dan Lars langsung mengalihkan pikirannya. Dia meminum birnya hingga tinggal setengah gelas dengan cepat.
" Gimana hubungan lo sama Kevin? " Tanya Lars tanpa memandang Jenny.
" Gua belum cerita sama lo, ya? Gua udah putus sama Kevin, kira-kira dua minggu yang lalu. "
Lars nyaris menumpahkan minumannya saat mendengar jawaban Jenny, tapi untung saja dengan cepat dia bisa mengendalikan diri.
" Kenapa? "
" Nggak cocok aja. Dia orangnya terlalu blak-blakan, periang, gua nggak suka tipe kayak gitu. "
" Jadi lo suka tipe yang kayak apa? " Tanya Lars lagi akhirnya.
Jenny tahu Lars hanya bertanya dengan iseng, tapi Jenny menjawabnya dengan serius sambil membayangkan wajah Lars.
" Gua suka cowok yang sedikit pendiam, kesannya misterius dan dewasa. Gua suka cowok yang cool, yang nggak banyak omong tapi tau apa yang harus dia lakuin. Dan orang yang ngehargain wanita lebih dari apapun. "
Lars merasakan perasaan yang aneh. Dia merasa seolah ada seorang wanita yang sedang menyatakan cinta kepadanya, dan wanita itu sedang berada di depannya sekarang. Wanita itu Jenny. Tapi Lars terlalu yakin kalau Jenny tidak akan pernah melakukan itu. Walaupun dia merasa kalau tipe laki-laki yang dikatakan Jenny tadi persis seperti sifatnya, tapi dia yakin Jenny sedang tidak membicarakannya. Jenny sangat tidak suka dengan laki-laki playboy. Lars playboy, jadi Jenny tidak akan pernah suka dengannya.
" Udah ampir jam dua belas, kita pulang, yuk! "
Lars tersadar dari lamunannya. Dia mengangguk lalu mengikuti Jenny keluar klub dan pulang.

 
...Bersambung...

Ny. Lars – Part 28 -


Black Rabbit
" NY. LARS "
- Part 28 -

 
… Episode sebelumnya …
Situasi berubah dengan sangat cepat. Cherry memutuskan hubungannya dengan Lars, membuat Lars menjadi sangat patah hati. Jenny berusaha menemani Lars dan membuatnya tenang, tapi di tengah suasana hati yang labil dan dibawah pengaruh alcohol, Lars malah mengatakan bahwa sebenarnya dia juga menyukai Jenny…

 
Pagi berikutnya, Jenny pulang kerumah ibunya dengan pakaian yang sama, tanpa make up, dan tampang kusut. Di tengah jalan saat hendak masuk ke kamarnya, Jenny bertemu dengan Kevin di ruang duduk yang sedang menemani ibunya bermain catur.
" Jenny… kemana kau semalaman? Apa baik seorang anak gadis tidak pulang semalaman? " Tanya ibunya.
" Nginep di rumah temen. "
" Teman? "
Jenny sedang tidak siap menerima pertanyaan-pertanyaan manyebalkan dari ibunya ini, jadi dia hanya menjawab seadanya. Untung saja terdapat Kevin 'sang penyelamat' di sana. Dia menyentuh lengan ibu Jenny lalu berkata:
" Oh iya, kemarin Jenny memang mengatakan padaku kalau dia akan menginap di rumah Louise. Iya kan, Jen? "
Tanpa mengerti apa yang Kevin maksud, Jenny hanya mengangguk pelan.
" Maaf, aku lupa memberitahumu. " Lanjut Kevin kepada ibu Jenny.
" Oh, baiklah… Lebih baik aku bersiap-siap untuk sarapan… Kau mau ikut dengan kami, Jen? " Jenny mengangguk lagi.
Jadi begitulah. Entah jurus apa yang dilancarkan Kevin, tapi ibu Jenny sudah begitu percaya kepadanya, padahal Jenny tidak pernah memberitahukan apa-apa kepada Kevin tentang semalam. Jenny berjalan menghampiri Kevin, lalu duduk di bangku tempat ibunya duduk tadi.
" Thank's. " Kata Jenny pelan.
" Nggak masalah, sayang… Mau main? " Jawab Kevin dengan bangga, lalu menunjuk papan catur didepannya. Jenny menggeleng kali ini.
" Catur bikin gua migrain. "
Lalu keduanya diam.
" Tumben lo dateng pagi-pagi? " Kata Jenny lagi.
" Sebenernya gua mau ngomong sama lo. "
" Wah, kebetulan. Gua juga mau ngomong sama lo. Lo duluan aja. "
Wajah Kevin mendadak menjadi berseri-seri, matanya berbinar, bibirnya membentuk senyuman bahagia. " Gua udah ngomongin ini sama nyokap lo, and—" Dia mengeluarkan sesuatu dari saku celana hitamnya. Kotak kecil, berwarna merah beludru, berbentuk hati. Kevin membukanya dan terdapat sebuah cincin di sana, satu berlian di tengah-tengah dan emas putih mengelilinginya. " Would you be my vionce? "
Jenny makin diam dan makin merasa bersalah. Semalam dia sudah berpikir panjang lebar dan memutuskan apa yang akan dilakukannya. Tapi mendapat ajakan pertunangan dari Kevin ini membuatnya sedikit goyah. Apa dia berani mengatakan keputusannya kepada Kevin? Apa lagi setelah Kevin memintanya menjadi tunangannya? Keputusan yang akan Jenny buat tidak akan membuat Kevin senang, apa Jenny berani mengatakannya? Jenny membulatkan tekadnya lagi.
" Lo nggak mau tau sebenernya kemarin malam gua kemana? "
Wajah gembira Kevin langsung hilang, digantikan dengan ekspresi tegang yang menakutkan. Dia diam, meletakkan cincin tadi diatas meja lalu mendengarkan Jenny.
" Semalam gua dirumah Lars. " Wajah Kevin memucat tapi Jenny tetap melanjutkan. " Sebenernya gua mau ngomongin masalah kita. Mendingan hubungan kita selesai sampe disini aja. "
" Lho, kenapa nih? Gua salah apa sama lo? Gua salah ngomong? Atau gua nyakitin perasaan lo? Gua kurang ajar sama lo? " Kevin menjadi panik. Dia mengguncang pundak Jenny dan berkata-kata tanpa tanda baca, titik ataupun koma. " Selama ini gua pikir gua udah berhasil bikin lo jatuh cinta sama gua. Gua pikir kita udah mulai serius! Gua—"
" Lo nggak salah apa-apa, Kev. Gua yang salah, semua salah gua. Seharusnya dari awal gua nggak usah ikutan biro jodoh itu dan ketemu sama lo, minta lo pura-pura jadi cowok gua, minta lo jadi tempat pelarian gua-- "
" Siapa yang jadi pelarian? Gua bener-bener cinta sama lo! Gua suka sama lo! Gua serius! " Suara Kevin sudah mulai meninggi dan napasnya juga sudah mulai memburu.
" Gua tau lo bener-bener sayang sama gua, tapi gua nggak bisa menghilangkan Lars dari pikiran gua! Gua manfaatin lo buat ngelupain Lars, tapi gua nggak berhasil dan itu salah gua! Gua minta maaf, gua nggak bisa ngebohongin diri gua sendiri lagi. "
" Lo jangan kayak Cherry, Jen! Lo bukan Cherry! "
" Gua emang Cherry! Gua malah jauh lebih jahat dari pada Cherry! Mangkanya gua nggak mau ngebikin lo tambah sakit hati! Gua sayang sama lo, Kev, tapi hanya sebagai kakak—"
" Tapi gua nggak mau kita jadi sodara! "
" Ada apa ribut-ribut begini? "
Terdapat satu suara yang asing diantara kedua suara tadi, dan itu membuat Jenny dan Kevin langsung diam. Keduanya menoleh ke asal suara dan menemukan seseorang. Laki-laki berumur sekitar hampir lima puluh tahun, mengenakan kemeja kotak-kotak berwarna abu-abu yang menutupi perut besarnya, dan matanya ditutupi kacamata bergagang emas. Pria itu adalah Filemon, ayah tiri Jenny, suami kedua ibunya.
Dari arah berlawanan terdengar suara teriakan ibu Jenny dan derap lari menuju tempat dimana Filemon berdiri.
" Honey… Kenapa tidak menelepon kalau kau pulang hari ini… ? "
" Aku ingin memberimu kejutan, Honey… "
Mereka berpelukan lalu berciuman cukup lama dan cukup membuat Jenny jengah melihatnya. Selesai berciuman, Filemon memandang Kevin dan Jenny bergantian lalu bertanya sekali lagi.
" Apa yang terjadi disini? "
" Kebetulan semua udah ngumpul, Jenny mau ngomong sesuatu. " Jenny yang sudah bertekad bulat kini memberanikan diri untuk mengatakan keputusannya. Semua mata menatapnya sekarang.
" Jenny… mau ikut sama ayah ke Jerman. "
Semuanya terdiam, lalu…
" Jenny, apa yang kamu bicarakan? " Ibunya berteriak histeris, Kevin menatapnya dengan wajah yang jauh lebih kaget dan Filemon menatapnya tanpa bergeming.
" Mom, Jenny disini cuma buat nemenin mom, sekarang Fil—papa, udah pulang, jadi tugas Jenny udah selesai. "
" Tadi bagaimana dengan Kevin? Dia tunanganmu! Kalian—"
" Mom, Kevin bukan tunangan Jenny. Dari awal kita nggak ada hubungan apa-apa, kita hanya pura-pura pacaran. "
Ibu Jenny semakin membelalakkan matanya. Dia menatap Kevin meminta penjelasan, tapi Kevin hanya diam. Menjawab pun hanya akan menambah kacau suasana.
" Apa-apaan kalian ini?! Jenny, apa yang kamu harapkan dari ayahmu itu? Dia hanya mementingkan lukisannya! Dia tidak akan bisa membiayaimu! Dia itu— "
" Mom, Jenny udah gede! Jenny tau mana yang bener dan mana yang salah dan Jenny bisa ngebiayain hidup Jenny sendiri! Sampe kapan mom mau ngejelek-jelekin ayah di depan Jenny, anak kandung kalian sendiri?! "
" Jenny, kamu—"
Tiba-tiba Filemon menengahi pertengkaran antara ibu dan anak itu dan ibu Jenny langsung bungkam.
" Aku tau kau anak yang sama keras kepalanya dengan ibumu ini. Aku berterima kasih karena kau sudah mau menemani Lili selama aku pergi. Tentu saja aku akan sangat senang jika kau mau menemani kami lebih lama lagi, tapi semua keputusan ada di tanganmu. Kalau kau ingin menemani ayahmu di Jerman, kurasa kita tidak bisa mencengahnya. Benarkan Lili? " Filemon menatap istrinya yang tidak bisa berkata apa-apa.
" Tapi jangan lupa, " lanjut Filemon. " Kau harus menyelesaikan semua masalahmu yang belum selesai. " Filemon mengangguk kepada Kevin dan Jenny juga mengangguk mengerti.
" Jenny tau, dan Jenny harap mom bisa ngerti. " Tanggap Jenny memandang ibunya.
Mata ibunya berkaca-kaca. " Apa kau tidak menyayangiku, Jenny… "
" Bukan begitu, mom. Jenny sayang mom, cuma kadang mom suka lupa kalo Jenny udah bukan gadis kecil lagi. Jenny udah bisa memutuskan hidup Jenny sendiri. " Sekarang air mata ibunya sudah menetes. Jenny mendekati ibunya. " Mom… "
" Kau harus sering menghubungiku, hanya kamu anakku satu-satunya, jangan lupa… " Dan ibunya memeluk Jenny sambil bercucuran air mata. Jenny juga menangis, tidak pernah dia merasa sedekat ini dengan ibunya sendiri, ternyata dia memang masih punya ibu.
Setelah acara tangis-tangisan itu selesai dan Filemon serta ibunya mengundurkan diri untuk beristirahat sambil sarapan, tinggal Jenny dan Kevin yang tinggal diruangan itu. Masalah mereka belum selesai.
" Kevin, gua—"
" Ternyata gua tetep nggak bisa menang dari Lars, ya? " Kata Kevin memotong omongan Jenny, wajahnya masih penuh dengan kekecewaan tapi tidak dengan panik seperti tadi. Jenny menggeleng.
" Semua orang punya kelebihan masing-masing. Lo nggak pernah kalah dari Lars, dari siapa pun. Gua yang kalah dari lo. Lo udah nawarin cinta yang tulus buat gua, tapi gua nggak bisa terima itu. Bukan gua yang cocok buat lo, pasti ada seorang cewek diluar sana yang sebenernya jodoh lo, yang bisa bikin lo bahagia. Yang jelas cewek itu bukan gua, dan gua nggak mau bikin lo menderita gara-gara gua yang egois. "
Kevin tersenyum pahit. " Sebesar itu rasa cinta lo sama Lars? "
Jenny mengangguk dan ikut tersenyum pahit. " Gua sendiri juga nggak nyadar. "
Mereka berdua diam. Kevin merasa kalau harapannya tidak ada lagi. Cita-citanya tidak akan pernah tercapai. Padahal dia sudah tahu akan berakhir seperti ini dari awal perkenalannya dengan Jenny, tapi entah kenapa dia seolah ingin membuktikan kekhawatirannya itu dengan mengalaminya langsung. Tapi saat semuanya memang benar terjadi, ternyata rasanya lebih pahit dari yang dia kira.
" Lo bener-bener mau pergi ke Jerman? " Tanya Kevin lagi akhirnya.
" Iya. "
" Lars gimana? "
" Bisa diurus. "

 
Jenny sekarang berada di kamarnya setelah meninggalkan Kevin yang katanya akan pulang. Dia meraih ponselnya dan menghubungi ponsel ayahnya.
" Ayah, soal tawaran ayah ke Jerman itu… Iya… Jenny mau ikut. Kapan kita berangkat? Ok, siang ini Jenny udah ada dirumah Jenny. He-eh. See you soon. "
Telepon ditutup. Hatinya sudah sangat lega karena telah melakukan apa yang harus dilakukannya dengan benar. Hanya tinggal satu hal lagi yang harus dikerjakannya, dan setelah itu semuanya selesai, mudah-mudahan dengan akhirnya yang membahagiakan bagi semuanya.

 
...Bersambung...

Ny. Lars – Part 27 -


Black Rabbit
" NY. LARS "
- Part 27 -

 
… Episode sebelumnya …
Jenny dan Kevin sudah membagi tugas untuk menyelamatkan Lars dan patah hati yang sangat menyakitkan. Sekarang seharusnya Jenny sedang berusaha meyakinkan Cherry untuk mengatakan hal yang sebenarnya kepada Lars. Tapi keadaan malah berbalik. Cherry malah membuat Jenny goyah dengan mengatakan apa yang selama ini selalu Jenny tutup-tutupi. Dan semua itu membuat Jenny kembali terombang-ambing …

 
Sore itu, Lars sedang berada di dalam kantornya bersama Kevin, sahabatnya. Mereka berdua sedang membicarakan sesuatu tapi sepertinya tidak terlalu berjalan lancar dan damai. Lars menjawab pertanyaan Kevin dengan nada sedikit membentak.
" Lo maunya apa sih? Dari tadi nyuruh gua putusin Cherry? "
" Gua udah bilang, Cherry bukan cewek yang baik buat lo. "
" Mau baik kayak gimana lagi? Cherry yang paling baik yang pernah gua kenal! "
" Your wrong! Dia nggak sebaik yang lo pikir. "
" You make me angry, man. Tugas lo bikin Jenny bahagia, jadi urusan gua nggak perlu lo campurin. "
Lars tampak jauh lebih kesal dan marah, membuat Kevin menjadi lebih berhati-hati berbicara dengannya.
Tapi belum sempat Kevin berbicara lagi, tiba-tiba pintu kantor Lars terbuka tanpa diketuk lebih dahulu. Cherry masuk, mengenakan celana jeans selutut dan t-shirt ketat berwarna hijau muda. Seperti biasa, penampilannya selalu memukau.
" Lars, ada yang mau gua omongin sama lo. '
Lars hanya diam memandang Cherry yang datang begitu cepat, juga mengagumi kecantikan Cherry sekaligus. Sementara itu Cherry melihat tajam ke arah Kevin.
" We need to talk. Privatly! "
Kevin mengerti situasinya dan langsung mengundurkan diri dari ruangan itu setelah berkata: " Gua ada di luar kalo lo butuh gua. " kepada Lars.
Pintu sudah ditutup dan Lars yang sudah sadar dari reaksi keterpesonaannya, mendekati Cherry dan mulai memeluk dan menciumnya.
" Sweet, kenapa nggak telepon dulu kalo mau dateng? "
Cherry mundur untuk menghindari pelukan dan ciuman dari Lars, lalu berkata masih dengan lembut.
" Lars… "
" Hm? "
" Gua mau kita putus. "

 
Enam puluh menit kemudian (benar-benar enam puluh menit kemudian, tidak kurang tidak lebih, karena Kevin benar-benar menghitung setiap menitnya), Cherry akhirnya keluar dari kantor Lars dengan mata yang sembab. Dia tidak menoleh sedikit pun ke arah Kevin untuk menjelaskan sesuatu, dan itu membuat Kevin tidak tahan. Dia menarik tangan Cherry dan bertanya tanpa basa-basi.
" Lo ngomong apa sama Lars? "
" Gua ngomong semuanya sama Lars, sekarang kita nggak ada hubungan apa-apa lagi. "
Cherry melepas pegangan tangan Kevin dan langsung pergi. Kevin terdiam. Dia tahu apa yang diinginkannya sudah terpenuhi, tapi kini kekhawatirannya yang lain akan terbukti.
Kevin masuk ke dalam kantor dan menemukan Lars duduk di sofa dengan tampang kusut. Wajahnya tegang dan kedua tangannya memegangi kepalanya yang terasa berat. Kevin tidak pernah melihat Lars sesedih ini semenjak kedua orang tuanya meninggal akibat kecelakaan delapan tahun yang lalu. Kevin mendekati Lars pelan-pelan lalu menepuk bahunya dengan lembut dan berkata:
" Hei Lars, I'm… "
Lars memotong pembicaraan Kevin. Dia menatap Kevin dengan wajah 'sakit hati'nya lalu mengangkat telapak tangan kanannya dan berkata, dengan nada serius yang berat.
" Kev, I need to be alone. "
Kevin langsung diam lalu menghela napas dan berjalan keluar kantor tanpa berkata apa-apa lagi. Dia tahu benar rasa sakit seperti itu.
Tiga jam berikutnya, hari sudah gelap saat Lars berjalan terseok-seok keluar dari kantornya menuju mobil Mercedes yang terparkir di depan bengkel. Kepalanya masih berdenyut kencang dan otaknya sedang berpikir ekstra keras, sedang memproses semua penjelasan Cherry tadi dan memilah-milah mana yang benar dan mana yang bohong. Sinar mata Cherry yang Lars perhatikan saat menjelaskan kepadanya tadi mengatakan kalau Cherry tidak berbohong, ini malah membuat Lars semakin nelangsa.
Lars mengendarai mobilnya dengan sedikit ugal-ugalan. Lalu dia memarkirkan mobilnya didepan salah satu klub. Dia masuk, langsung menghampiri bartender dan memesan beberapa gelas minuman beralkohol. Lars menghabiskan minumannya dalam waktu singkat lalu memesan lagi. Begitu terus hingga gelas ketujuh. Tiba-tiba dia tersadar kalau lingkungan klub itu membuat sakit kepalanya bertambah parah. Jadi dia tinggalkan beberapa lembar uang dan keluar dari bar itu dalam keadaan setengah mabuk.
Mobil Mercedes milik Lars kini melaju ke arah apartemennya. Dan setelah sampai, Lars langsung menjatuhkan dirinya diatas sofa ruang duduk. Suasananya sunyi, tak ada suara hingar bingar musik seperti di klub tadi. Ini membuatnya sedikit nyaman, walaupun sakit kepalanya terasa lebih menyakitkan.
Kevin mengambil sebotol sampange dari dalam lemari dan membukanya, tidak perduli niatnya dulu yang ingin memendam sampange itu sampai beberapa tahun lagi. Lars meneguknya, nyaris lebih cepat dari pada tegukannya di klub tadi.
Tiba-tiba ponsel Lars berbunyi nyaring, dan Lars yang sudah mabuk itu menjawab panggilan telepon itu tanpa melihat nomor siapa yang tercantum di layar ponselnya.
" Ha…lo… "
" Lars? Gua udah denger soal lo sama Chery tadi sore. Gua—"
" Oh, hai Jenny! My sweet heart… Kemana aja lo… ? "
" Lars? Lo mabuk, ya? "
" Nggak sayang… Nggak mungkin gua mabuk… "
" Lo dimana Lars? "
" Ya dirumah lah… Mau dimana lagi… ? Di hotel… ? Sama Cherry… ? Ha…ha…ha… "
" Gua kesana sekarang juga. "
Klik! Telepon diputus, dan Lars tertawa tanpa sadar apa yang ditertawakannya. Dan setelah beberapa menit tertawa tidak jelas, Lars terdiam dan menutup matanya. Dia tertidur, diatas sofa ruang duduk, masih menggenggam segelas sampange.
Jenny masuk ke apatemen Lars sekitar dua puluh menit kemudian. Dia menemukan Lars tertidur di sofa dengan keadaan kacau. Rambut berantakan, kemeja yang kusut, dasi yang tergantung dileher tapi tidak terikat rapi, dan botol sampange yang terbuka dan mengeluarkan bau yang menyengat. Jenny bergidik ngeri melihat botol sampange itu. Dia masih ingat insiden sampange dan tidak ingin kejadian itu terulang lagi. Jenny mendekati Lars dan meraih botol sampange itu dan meletakkannya jauh-jauh. Lalu Jenny berusaha membangunkan Lars dengan menepuk pipi Lars. Lars terbangun, tapi pengaruh alkoholnya belum juga hilang.
" Jenny… akhirnya lo dateng juga… "
" Lars, lo mabuk. "
" Gua nggak mabuk. Lo tau apa yang Cherry bilang sama gua tadi sore? Lo tau, Jen? Dia bilang dia lesbian, Jen… Dia lesbian… " Lars berkata-kata sambil memegang kedua pundak Jenny dan menatapnya dengan pandangan sayu, khas seorang pemabuk yang sedang stress.
" Dia bilang, dia nggak cinta sama gua… dia bilang, gua hanya pelarian, Jen… Lo denger? Pelarian! Dia bukan calon istri gua! Gua ditipu! "
Lars semakin menjadi-jadi marahnya. Dia mengguncang-guncangkan tubuh Jenny sambil terus mengomel. Jenny merasa pusing, juga takut melihat Lars yang benar-benar frustasi.
" Lars! Gua tau lo sakit hati, tapi lo nggak boleh jadi kayak gini! "
Kini giliran Jenny yang memegang pundak Lars dan berkata sambil mengguncang-guncangkan tubuh Lars. Posisinya sudah berbalik, tapi Lars tidak kelihatan pusing karena diguncang-guncang, dia malah menyeringai bodoh.
" Mana Lars yang playboy? Mana Lars yang cuek? " Percuma. Apa pun yang dilakukan Jenny, Lars masih saja menyeringai bodoh dan memamerkan gigi putihnya. Malah Jenny yang tambah sedih. Akhirnya Jenny memutuskan untuk membujuk Lars tidur dikamarnya. Sekuat tenaga Jenny menarik tubuh Lars dan menyeretnya ke dalam kamar.
Lars berhasil ditarik ke tempat tidur dan duduk diatas kasur. Jenny terengah-engah lalu menarik sepatu Lars keluar dari kakinya. Lars masih mabuk, tapi membantu Jenny melepas sepatunya sendiri dan melemparnya ke sudut kamar. Kini Jenny mulai menarik dasi yang dipakai tidak rapi tadi dan melepaskan dua kancing teratas kemeja Lars, supaya Lars bisa merasa sedikit lebih nyaman. Tapi Lars malah berpikir lain. Dia memeluk Jenny dan berkata dengan bau sampange keluar dari mulutnya.
" Jenny… Jen… Lo emang paling tau soal gua… Lo yang paling gua sayang… "
Jenny diam. Dia kaget karena Lars tiba-tiba memeluknya dan lupa kalau Lars sedang mabuk.
" Gua mau lo jen… Dari dulu gua mau lo… tapi lo pacaran sama Kevin… "
Jenny masih diam. Perkataan Lars ini membuatnya jauh lebih kaget lagi. Banyak yang mengatakan kalau perkataan orang mabuk adalah perkataan yang sebenarnya yang biasanya disembunyikan orang itu selama dia sadar. Tapi, apa kata-kata Lars itu adalah kebenaran?
Lars sedang mabuk, mangkanya Lars bisa melakukan hal seperti ini, Jenny menyakinkan hatinya. Tapi saat secara tiba-tiba Lars mencium Jenny, dia tidak bisa berpikir apa-apa lagi. Lalu Lars mendorong Jenny ke atas tempat tidur dan mulai mencium leher Jenny, bahkan mulai melepas kancing kemeja Jenny.
Sebenarnya Jenny panik. Tapi kepanikan yang didasari karena tahu yang melakukan semua itu adalah Lars, orang yang selama ini di cintainya, yang menjadi bunga mimpi Jenny selama beberapa tahun ini, membuat Jenny tidak berbuat apa-apa. Dia malah merasa jantungnya berdetak kencang dan adrenalinnya sedikit demi sedikit memuncak. Dan Jenny merasakan rasa menggelitik itu lagi. Butterfly, dan kali ini jauh lebih dalam dan jauh lebih menggelitik. Singkatnya, Jenny menikmatinya.
Tapi akhirnya Lars diam, menjatuhkan wajahnya diatas leher Jenny dan mengatakan " Jenny. " dengan suara lirih, lalu Lars tertidur. Jenny tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Jika dia bergerak, Lars akan terbangun dari tidurnya yang kelihatan nyenyak itu, jadi dia memilih diam dan mencoba menetralkan detak jantungnya. Dia kembali ingat kalau Lars sedang patah hati dan mabuk. Diam-diam dia menyesalinya. Kalau saja Lars tidak mabuk… Kalau saja Lars bercumbu dengannya dalam keadaan sadar…
Mendadak Jenny ingat pertemuan pertamanya dengan Lars, ingat saat Lars tidak sengaja menabraknya, saat Lars meneleponnya dan saat Lars mengajaknya bekerja sebagai asistennya. Jenny ingat kalau dia sudah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Lars, dan sadar atau tidak, rasa cinta itu tidak berubah. Jenny juga ingat saat dia tidak sengaja mengatakan kalau sebenarnya dia sudah punya pacar dan reaksi Lars yang kelihatan kecewa, saat itu Jenny sangat ingin mengatakan kalau sebenarnya dia berbohong tapi tidak bisa. Dia juga ingat saat dia menjemput Lars di klub dan membopongnya hampir seperti sekarang ini. Bedanya, hari itu diakhiri dengan Lars yang tertidur dengan wajah babak belur dan Jenny yang menangis; tapi hari ini Lars tertidur dengan wajah tanpa goresan sedikitpun (mungkin hanya hatinya yang tergores), dan berada di pelukan Jenny. Jenny memeluk Lars, benar-benar merasa hangat dan terdapat perasaan memiliki yang kuat.
Lalu Jenny teringat saat dia bertemu dengan Kevin, berpura-pura pacaran, lalu sakit hati melihat Lars jatuh cinta dengan Cherry, dan saat Kevin menenangkannya dan menawarkan cintanya sebagai pengganti sosok Lars. Saat itulah Jenny mulai menyadari kalau dia tak jauh berbeda dengan Cherry. Dia menyakiti Kevin dengan menjadikannya sebagai pelarian. Memang awalnya Kevin yang mati-matian mengatakan akan bisa mencuri hati Jenny, tapi kalau saja Jenny bisa bersikap lebih tegas, tidak egois dengan hanya memikirkan sakit hatinya sendiri, Jenny bisa saja tetap menolak Kevin. Tapi Jenny tidak melakukannya, Jenny terlalu egois dan tidak ingin kehilangan orang yang memang ingin mencintainya tapi sebenarnya Jenny sendiri tidak bisa menanggapi perasaan laki-laki itu. Iya, Kevin bukan orang yang diinginkannya. Jenny baru sadar bahwa setiap kali Kevin menciumnya, di dalam hati Jenny membayangkan sosok Lars yang sedang menciumnya. Kevin bukan Lars, Jenny sudah menipunya.
Jadi disinilah Jenny sekarang, berada di atas tempat tidur Lars dengan Lars berada dipelukannya. Nyaris melakukan adegan percintaan, tapi gagal karena Lars hanya sedang mabuk berat. Dan saat itulah, saat paling menyedihkan dimana Jenny telah menyadari semua kesalahannya dan bertekad untuk mengakhiri semua kebohongan ini. Menyadari cintanya kepada Lars sekaligus menyadari kesalahannya kepada Kevin. Dan paduan keduanya membuat Jenny merasa sangat kejam, menjadi seorang penjahat paling kejam yang menyandera Lars sekaligus menggantung Kevin. Jenny sudah memutuskan, dia harus menyelesaikan semuanya tanpa melakukan kesalahan lagi.

 
...Bersambung...

Ny. Lars – Part 26 -


Black Rabbit
" NY. LARS "
- Part 26 -

 
… Episode sebelumnya …
Kevin tahu sesuatu mengenai Cherry yang selama ini berusaha untuk di tutup-tutupinya, dan sekarang Jenny memutuskan untuk mencari tahu tentang rahasia itu. Dan ternyata rahasia itu cukup mengguncangkan juga. Pada akhirnya keduanya memutuskan untuk menyelamatkan Lars, sahabat mereka …

 
" Gua udah beberapa kali nyoba ngomong sama Cherry, tapi gagal. Lo kan sama-sama cewek, kali aja dia mau ngedengar omongan lo. Jadi, lo bisa nyoba ngomong sama dia pelan-pelan, dan gua bakal ngomong pelan-pelan sama Lars. "
Ini rencana yang disusun Kevin untuk misi penyelamatan kali ini, tapi sepertinya tidak semudah yang mereka bayangkan. Sekarang Jenny sudah bertemu dengan Cherry dan benar-benar berniat 'menyadarkan' Cherry, tapi kenyataannya berbeda. Cherry dan Jenny sedang sibuk membicarakan Lars.
" Lo inget waktu kita pertama kali ketemu? " Kata Cherry.
Dia mengenakan setelan tenis terbaik yang pernah Jenny lihat. Cherry memakai baju serba biru muda, dengan rok tenis warna senada. Tungkainya mulus putih tanpa bulu (benar-benar waxing yang bagus!) dengan telapak kaki yang dibalut sepatu olahraga polos beraksen biru yang lebih tua. Handban nya berwarna putih polos dan bandana yang melingkar di kepalanya berwarna putih bergaris biru. Benar-benar paduan yang sempurna disertai dengan make up minimalis yang membuatnya kelihatan manis.
Jenny mengangguk menanggapi pertanyaan Cherry tadi sambil mengamati penampilannya sendiri. Celana jeans bertali silang dari paha hingga mata kakinya dan tank top ketat. Benar-benar ketinggalan jaman dan tidak serasi jika dibandingkan dengan Cherry. Tidak heran kalau Cherry dikagumi banyak laki-laki, terlepas dari kenyataan kalau ternyata Cherry punya kelainan.
" Gua inget banget. Lars mabuk berat sekaligus babak belur gara-gara berantem. Trus gua nelpon lo dari ponsel Lars. Muka lo keliatan panik banget loh waktu itu. "
" Oh iya? "
" Iya! Gua aja jadi nggak enak sama lo. Tapi untung deh ada lo, kalo nggak gua nggak tau mesti bawa Lars kemana. "
Mereka berdua tertawa bersama, padahal di dalam hati Jenny sedang berpikir keras mencari cara untuk mengalihkan pembicaraan ke arah semula.
" Jen, sebenernya lo suka sama Lars, kan? "
Jenny berhenti berpikir karena kaget. Dia yakin sudah mengubur ingatannya akan hal itu, tapi kenapa ketika Cherry mencoba menggalinya sedikit, rasanya semuanya keluar lagi dengan cepat? Jenny panik. Dia benar-benar harus menemukan jalan kembali ke tujuan awal.
" Cherry, gua—"
" Dari awal ngeliat lo sepanik itu waktu tau Lars babak belur, gua tau kalo lo suka sama Lars. " Cherry mengatakan semuanya dengan begitu tenang, sedangkan Jenny malah panik tidak keruan.
" Lo udah lama memendam perasaan lo, kan? Gua tau lo udah dua taun kenal sama Lars, jauh lebih lama dari pada gua. Kenapa lo nggak ngomong aja langsung? Kenapa lo—"
" Cher, sebenernya gua mau ngomong sama lo. " Potong Jenny dengan semantap mungkin. Sekarang Cherry yang diam. " Beberapa minggu yang lalu, gua ngeliat lo jalan sama cewek jangkung. Mesra banget. Padahal lo bilang sama Lars kalo lo ada rapat. Untung aja Lars nggak ngeliat lo, kalo ngeliat gimana? "
Cherry tampak kaget, tapi memilih untuk tetap diam.
" Terus, gua ngeliat lo berpose nyaris bugil di studio lukis bokap gua, sama cewek yang sama. Gua juga ngeliat foto-foto lo sama cewek itu di kamar bokap gua. Jadi, gua mau denger penjelasan dari lo. Langsung. " Akhirnya setelah selesai, Jenny diam menunggu jawaban atau reaksi apapun dari Cherry. Kini giliran Cherry yang berbicara untuk menjelaskan semuanya kepada Jenny. Tapi Cherry hanya diam. Dia terlihat seperti putri Cinderlela yang sedih melihat sang pangeran yang mencari pemilik sepatu kaca tetapi tidak menghampirinya, pemilik sepatu kaca yang asli. Bedanya, Cinderlela yang satu ini mengenakan setelan tenis terbaik di dunia.
" Cewek itu… " Cherry mulai berkata, tapi langsung diam seribu bahasa lagi. Sepertinya masih enggan menjelaskan apa-apa.
" Dia Tommy Mariam Pratama. Anak sulung dari Hendrawan Surya Pratama, orang ke lima terkaya di Indonesia. " Kata Jenny menimpali, Cherry memejamkan kedua matanya lalu mengangguk pelan.
" Iya. Dan dia… orang yang gua cintai. "
Jenny tidak punya rasa kaget lagi yang tersisa untuk menanggapi pengakuan Cherry ini.
" Gua kenal dia hampir seumur hidup gua. Dia temen gua dari kecil, dan dari kecil kita nggak pernah pisah. Dia anak sulung keluarga Pratama, emang. Awalnya keluarganya pengen punya anak cowok, tapi yang lahir malah cewek, mangkanya dari kecil Tommy diperlakukan kayak anak cowok. Pake celana, main mobil-mobilan, sampe dikasih nama cowok. "
Jenny terus menyimak cerita Cherry, sementara yang bercerita tidak pernah menatap wajah Jenny sedikit pun.
" Masuk kuliah, kita mulai sadar kalo kita berdua nggak bisa pisah lagi. Kita saling ngebutuhin, bukan hanya secara fisik, tapi juga secara emosi, secara perasaan, secara hati. "
" Jadi sejak itu, kalian… "
" Iya, kita jadian. " Cherry berhenti sebentar untuk meneguk teh manisnya. " Semenjak itu gua mengalami hari-hari paling indah bareng Tommy. Dia orang yang paling tau tentang gua, orang yang paling bisa pahamin gua. Tapi waktu orang tua kita tau, semuanya jadi kacau. Mereka ngebuang kita. "
" Ngebuang? " Ulang Jenny tidak percaya.
" Iya. Mereka mau ngebiayain gua sama Tommy di Amerika, asalkan kami nggak pulang ke sini dan bikin mereka malu. Lo mau ngomong kalo gua harus mutusin Lars, kan? "
Jenny mengangguk dengan kikuk.
" Sebenernya, gua juga nggak mau nyakitin dia. Lars cowok yang baik, tapi gua hanya manfaatin dia buat jadi 'obat' gua. "
" Obat? "
" Gua pulang kesini buat ngobatin 'sakit' gua. Gua nggak mau terus-terusan di pandang jelek sama orang, gua nggak mau Tommy di jelekin mulu. Mangkanya gua nyari cowok buat nyembuhin gua. Gua ketemu Lars, dan gua langsung ngerasa kalo dia bisa ngobatin gua. Tapi gua salah. Gua nggak bisa ngelupain Tommy. Semakin gua berusaha ngelupain Tommy, gua malah semakin cinta sama dia. "
Jenny tahu benar perasaan seperti itu. Dia pernah merasakannya. Tapi… tapi bagaimana dengan Lars? Tanya Jenny dalam hati.
" Tapi gimana sama lars? Dia serius banget sama lo, nggak pernah seserius ini selain sama lo. Lo calon nyonya Lars-nya! " Tanya Jenny dengan sedikit berteriak, bertanya panik dan sedikit memohon sambil memegang tangan Cherry. Cherry dengan tenang melepas pegangan tangan Jenny dan menggenggam tangan Jenny itu dengan mantap.
" Gua nggak pantes jadi nyonya Lars. Ini sebutan yang cocoknya buat lo. " Jenny diam, mencoba mencerna perkataan Cherry dengan keyakinan seratus persen lebih. Cherry melanjutkan perkataannya: " Lo cinta sama Lars, dan Lars juga cinta sama lo. Kalian cocok, tapi kalian nggak pernah sadar. "
" Nggak. Gua bukan calonnya. Dia nggak suka sama gua, gua cuma asisten Lars, nggak lebih! " Jenny panik membayangkan sesuatu yang hanya menjadi angan-angannya selama ini. Lars tidak mencintainya, Lars hanya menganggapnya sebagai asisten, semua keinginan untuk menjadi nyonya Lars itu hanya angan-angan Jenny saja. Dia tidak berhak meminta lebih. Sudah sangat beruntung Lars bisa menerima Jenny sebagai sahabatnya.
" Kalau Lars nggak peduli sama lo, buat apa dia selalu ngomongin lo di depan gua? Kenapa cuma nomor ponsel lo yang ada di memori teleponnya? Setelah ngedapetin gua, mungkin Lars bakal mikir kayak yang lo bilang tadi. Tapi sebelum gua dateng, sebelum Kevin ada, apa yang dia rasain sama lo? Lo tau? "
Jenny menggeleng, lalu diam lagi. Dia merasa kalau keadaannya sedang terbalik. Seharusnya saat ini Cherry yang sedang bingung seperti ini, bukan dia.
" Lo sama Kevin baru pacaran dua bulan, bukan setaun kayak yang lo bilang sama Lars, kan? "
Jenny diam lagi. Iya. Perjanjian itu masih berlangsung sampai sekarang, tapi Jenny sudah lupa tujuan awal perjanjian itu. Awalnya Kevin dibutuhkan hanya untuk meyakinkan Lars kalau Jenny memang sudah memiliki pacar, tidak lebih. Kalau berdasarkan hal itu, tugas Kevin seharusnya sudah selesai sejak sebulan yang lalu. Tapi semuanya masih berjalan, Jenny lupa untuk mengakhirinya. Atau tidak berani?
Cherry berkata lagi, kali ini dengan wajah Jenny tepat didepannya. Pandangannya lembut dan sarat akan keseriusan.
" Gua tau apa yang harus gua lakuin, tapi gua mau yakin dulu kalo lo juga harus ngelakuin apa yang harus lo lakuin dari dulu. "
" Apa? " Tanya Jenny dengan bingung.
" Dapetin Lars. Omongin perasaan yang selama ini lo rasain sama sia. Jadi nyonya Lars buat dia. "

 
...Bersambung...

Ny. Lars – Part 25 -


Black Rabbit
" NY. LARS "
- Part 25 -

 
… Episode sebelumnya …
Jenny menceritakan kepada Louise tentang apa yang diketahui dan ditemukannya mengenai Cherry dan apa yang disimpulkan Louise nyaris membuatnya jantungan. Louise menebak bahwa Cherry adalah seorang lesbian, dan wanita tomboy yang dilihat Jenny adalah pacarnya. Jenny menolak untuk percaya kesimpulan Louise itu. Tapi kalau memang benar, bagaimana nasib Lars? …

 
Dua sejoli sedang asik berduaan, Kevin dan Jenny. Mereka sedang duduk diatas sofa besar di bioskop mini milik ibu Jenny, menonton aksi kocak Steven Chow di film terbarunya. Seharusnya film itu bisa membuat syaraf tertawa setiap orang bergetar dan mengirimkan sinyal ke otak agar tertawa, tapi tidak dengan Jenny. Film sudah diputar setengah jalan, tapi hanya Kevin yang tertawa terpingkal-pingkal, sementara Jenny hanya diam.
" Kev, gua mau ngomong sama lo. "
" Ha…ha…ha… Kenapa, Jen? "
" Gua mau ngomong. " Ulang Jenny.
" Entar aja deh, sayang. Filmnya lagi seru, nih. Ha…ha…ha… "
" Tapi gua mau ngomong! Penting! "
Akhirnya Jenny mengeluarkan seluruh tenaganya untuk berteriak melebihi volume suara yang dikeluarkan speaker home teater itu, sekaligus sedikit kesal karena Kevin memanggilnya dengan sebutan 'sayang'. Dia belum bisa terbiasa mendengar Kevin memanggilnya dengan sebutan seperti itu. Kevin pun akhirnya berhenti tertawa, lalu meraih remote dan menekan tombol pause. Film berhenti, bioskop mini itu mendadak sepi, dan Kevin memandang Jenny dengan tenang.
" Kenapa sayang? Mau minta di kiss? "
Setelah ciuman menggelitik dan ciuman diatas tempat tidur beberapa waktu yang lalu Kevin semakin sering menciumnya. Jenny selalu merasa berdebar setiap menerima ciuman itu. Tapi semakin lama ciuman Kevin mendadak kehilangan 'rasa' dan bukan sesuatu yang mendebarkan lagi. Mungkin semakin mengenal sosok Kevin yang blak-blakan, yang selalu tertawa dan yang jahil, dia malah tidak menemukan 'kemisteriusan' yang membuatnya 'gereget'. Dan pelan-pelan hasratnya hilang entah kemana.
Tapi saat ini Jenny sedang tidak ingin membicarakan 'kehilangan hasrat' yang dialaminya, melainkan masalah serius lain yang membuatnya berpikir keras beberapa hari belakangan ini. Masalah ini, jujur saja, membangkitkan perasaan Jenny kepada Lars, membuatnya berdebar lagi setiap memikirkan Lars. Ini masalah Cherry. Cherry yang menderita kelainan atau Cherry yang menjadi foto model majalah porno. Entah mana diantara keduanya yang benar, tapi yang jelas keduanya tidak akan menyenangkan untuk Lars. Paling tidak, tidak akan menyenangkan untuk Jenny.
Kevin sudah mulai mencondongkan tubuhnya ke arah Jenny dan meraih bibir Jenny untuk menciumnya, buru-buru Jenny mendorong Kevin menjauh.
" Bukan itu! " Teriak Jenny.
Kevin berhenti bergerak. " Jadi apaan? "
" Masalah Cherry. "
" Itu sih nggak perlu diomongin. " Kevin kembali menatap layar bioskop dan menekan tombol pause lagi. Steven Chow kembali beraksi.
" Tapi gua tau masa lalu Cherry yang lo tutupin itu! " Jenny berteriak lagi mengalahkan volume speaker. Steven Chow mendadak berhenti beraksi, tombol pause sudah ditekan lagi. Kini Kevin menatap Jenny dengan serius.
" Emangnya apa? "
Jenny menjadi sedikit takut melihat tampang serius Kevin itu. Dia takut kalau ternyata apa yang dia tahu mengenai Cherry bukanlah masa lalu yang ditutupi Kevin.
" Ng… Cewek yang gua kira Cherry waktu itu emang beneran Cherry, kan? Gua kemarin ke villa bokap gua, disana gua ketemu Cherry yang lagi berpose hampir telanjang buat dilukis bokap gua. Dan dia nggak sendiri, dia sama cewek yang kita liat waktu itu. "
Jenny berhenti sebentar. Melihat raut wajah Kevin yang pucat dan tindakan diamnya selama mendengarkan penjelasan Jenny, semua itu membuat Jenny semakin yakin kalau kecurigaannya benar.
" Gua juga liat foto-foto vulgar Cherry sama cewek itu di kamar bokap gua. Kata bokap gua, foto-foto itu mau dijadiin lukisan. " Lanjut Jenny. Kevin masih diam, juga saat Jenny bertanya lagi: " Kev, ngomong dong! Itu kan masa lalu Cherry yang lo tutupin? Iya, kan? Sebenernya Cherry kenapa? "
Kevin masih diam.
" Jangan bilang kalo Cherry foto model majalah porno. " Lanjut Jenny dengan nekat.
Kevin mendongak kaget memandang Jenny lalu akhirnya berkata juga setelah menghela napas panjang. " Bukan, dia lesbian. "
Akhirnya terungkap juga, ternyata Cherry memang abnormal. Sesuatu yang mengejutkan memang, tapi paling tidak Jenny sedikit lega karena rasa penasarannya sudah terpuaskan.
" Gua kenal dia setahun yang lalu, waktu itu gua masih kuliah di Amerika. Gua ketemu dia di party, gara-gara sama-sama dari Indonesia. Kita akrab. " Kevin mulai bercerita sambil menatap remote control yang dipegangnya sedari tadi. " Lama-lama kita makin deket dan akhirnya saling jatuh cinta. Eh, tepatnya gua yang jatuh cinta sama dia. "
" Cherry emang cantik banget, nggak heran kalo banyak cowok yang jatuh cinta sama dia. Iya, kan? " Jenny menimpali dan Kevin mengangguk setuju.
" Kiri-kira tiga bulan kita jalan bareng, but for that long time we never done some sex activities. Sama kayak Lars kini, gua sama Cherry cuma nonton. Gua malah cuma nyium dia tiga kali. Awalnya gua kira Cherry emang tipe cewek yang nggak gampang ditaklukin, tapi ternyata bukan. " Kevin mengalihkan pandangannya. Menghela napas, lalu berkata lagi. Kali ini kelihatan lebih berat dari pada sebelumnya.
" Gua pergi ke apartemennya buat ngasih surprise, gua udah bawa bunga mawar segala. Tapi yang ada malah gua yang dapet kejutan. Gua ngeliat dia di dalam apartemennya, make love, bukan sama cowok lain, tapi sama cewek. Cewek yang kita liat kemarin. "
Jenny kaget setengah mati. Dia menutup mulut dengan kedua tangannya sambil tidak melepas pandangannya dari Kevin yang bertampang 'sangat sakit'.
" Besoknya, Cherry nyari gua buat ngejelasin semuanya. Dia ngaku lesbian, dia bilang dia mau sembuh mangkanya dia jadian sama gua. Tapi waktu cewek itu datang lagi, dia goyah lagi. Akhirnya kita putus. Kita janji kalo kita nggak kenal satu sama lain, kita nggak pernah pacaran, kita nggak tau apa-apa soal satu sama lain. "
" Jadi itu alasannya kenapa lo nggak mau cerita sama gua? "
Kevin mengangguk. " Oh, cewek itu namanya Tommy. Putri tertua dari Hendrawan Surya Pratama. "
Jenny ingat nama itu dari majalah bisnis langganan Lars. Hendrawan Surya Pratama, seorang pengusaha terkenal, pemilik setengah saham di salah satu stasiun televisi terbesar di Indonesia, pemilik lima hotel berbintang lima di Indonesia, orang yang duduk di peringkat ke lima di jajaran sepuluh peringkat pengusaha terkaya di Indonesia. Intinya, Tommy itu anak orang kaya.
" Lars pasti bakal shock banget. "
" Pasti. " Kevin mengangguk.
" Gua tau Lars sayang banget sama Cherry. Kalo tau Cherry ternyata lesbian, dia pasti patah hati berat. Walau gimana pun, Lars tetep bos gua, temen gua, gua nggak mau ngeliat dia sedih. Lo kan sahabatnya, lo pasti juga nggak mau ngeliat Lars sedih kan, Kev? "
Kevin mengangguk lagi. " Mangkanya, kita harus bantuin Lars. "
" Caranya? "
Jenny dan Kevin berembuk berjam-jam di dalam bioskop mini itu, melupakan film Steven Chow yang di pause sepanjang mereka berdiskusi. Steven Chow tetap pada posisinya yang aneh.

 
...Bersambung...

Ny. Lars – Part 24 -


Black Rabbit
" NY. LARS "
- Part 24 -

 
… Episode sebelumnya …
Jenny mengunjungi ayah yang adalah seorang pelukis dengan rasa sejuta rasa rindu karena selama hampir dua tahun tidak bertemu. Tapi dia malah mendapatkan kejutan besar saat sampai dengan menemukan Cherry dan teman wanitanya sedang berpose nyaris bugil untuk lukisan ayahnya. Jenny kaget bukan main. Dan dia menjadi jauh lebih kaget lagi saat sang ayah malah mengajaknya pulang ke Jerman! …

 
" No way… " Mata Louise yang lebar itu terlihat bertambah besar saat dia sedang terkaget-kaget seperti itu. Setumpuk masker wajah berwarna putih keabu-abuan menutupi seluruh wajahnya, kecuali bagian matanya yang lebar itu.
" Well, sweety, gua bakal jadi orang Jerman… "
Jenny yang berada di sebelah Louise, juga mengenakan masker yang sama, mencoba menaik dan menurunkan alis matanya dan menyinggungkan senyum paling jahil dan paling puas sedunia. Tapi dia gagal, wajahnya sudah ditutupi masker yang mulai mengeras, sehingga upaya apa pun untuk menggerakkan anggota wajahnya gagal total.
" But, how about Kevin? How about Lars? How about me? " Louise lebih berhasil menggerakkan anggota wajahnya dan alhasil di pipinya terdapat retakan masker. Tapi Louise tampaknya tidak perduli.
" Belum gua putusin kok. " Louise kelihatan menghela napas lega.
" Tapi, jadi orang asing, sound's cool! " Louise meninju lengan Jenny dan mereka berdua tertawa.
Sekarang Louise mengambil handuk dan mencelupkannya ke dalam baskom berisi air hangat, lalu membersihkan wajahnya yang bermasker. Jenny juga melakukan hal yang sama. Setelah merasa wajahnya sedikit ringan, Jenny mulai berkata lagi.
" Lo pasti bakal lebih kaget lagi kalo gua cerita apa yang gua tau soal Cherry. "
" Apaan? "
Jenny menceritakan semua kejadian yang dia alami mengenai Cherry beberapa hari yang lalu. Saat dia melihat Cherry di depan restoran, saat dia bertemu dengan Cherry di studio lukis ayahnya, juga soal foto-foto vulgar itu. Dan benar saja, Louise sangat kaget, sampai-sampai dia seakan-akan ingin mengeluarkan bola matanya dari dalam sangkar karena terlalu melotot lebar.
" Lo nggak becanda, kan? "
" Buat apa gua becanda? Gua liat pake mata kepala gua sendiri! "
Louise menjatuhkan handuknya. " Foto telanjang sama cewek, dilukis vulgar, ya ampun… "
" Apa? " Jenny bertanya dengan penasaran.
" Dia pasti foto model majalah porno. "
Jenny menghela napas. " Gua pikir juga gitu… "
" Atau… " Lanjut Louise penuh misteri. Jenny menoleh ke arah Louise lagi dengan lebih penasaran. " Atau mereka… lesbian. "
Kini giliran Jenny yang membelalakkan mata dan membuatnya nyaris jatuh keluar. Dan mulutnya terbata-bata berkata: " No… way… "
Loise dan Jenny sudah selesai membersihkan wajah mereka dari sisa masker dan memoleskan pelembab. Kini mereka mulai memotong dan mengkikir kuku tangan mereka.
" Gua masih nggak percaya kalo mereka kayak gitu. " Jenny berkata sambil mengkikir tangannya dengan sedikit gemetar. Dia gemetar membayangkan Cherry yang sedang bercinta dengan sesama jenisnya.
" Yah, sikap dan sifat orang mana bisa ditebak? " Louise lebih bisa menenangkan diri dari pada Jenny. Dia masih bisa memotong kukunya dengan gerakan mantap, tanpa gemetar.
" Gua heran aja! "
" Sama, gua juga nggak habis pikir, apa yang dia dapet dari sesama cewek? Kalo dari cowok, kita bisa dapet sesuatu yang nggak kita punya, tapi kalo dari cewek? Kita sama-sama punya apa yang dia punya, nggak seru. "
Jenny tahu kemana arah pembicaran ini, tapi dia tidak bisa menanggapinya dengan sesantai itu. Bagi Jenny masalah ini adalah masalah rumit, bukan hanya masalah siapa yang mendapatkan apa, tapi masalah perasaan. Masalah yang satu ini tidak bisa hanya dinilai dari sudut pandang itu saja.
" Gua hanya nggak nyangka. Cherry udah dapet Lars, orang paling sempurna di dunia ini. Buat apa dia nyari pacar lain? "
" Mungkin dia unisex. " Jawab Louise masih dengan santai.
" Apa sex? "
" Unisex! Lo tau, kan? Orang yang bisa berhubungan seksual sama cowok juga sama cewek. Kayak heteroseksual gitu. "
Penjelasan dan analisa yang benar-benar bagus. Ini cukup menjelaskan tingkat pemahaman seksualitas mana yang lebih tinggi.
    " But they never do some sex activities. " Jenny berkata lagi, kali ini dengan gemas.
    " Siapa? "
" Lars sama Cherry. "
" Nggak mungkin. " Louise berhenti mengkikir kuku tangannya.
" Gua juga nggak percaya, tapi itu yang gua tau. "
" Cherry bener-bener kelainan. " Louise menjatuhkan kikirnya.
Jenny terdiam. Jenny sedang menebak-nebak apa semua ini akan berjalan dengan lebih baik atau lebih buruk. Dan dia memikirkan Lars. Bagaimana perasaan Lars kalau mengetahui wanita yang dicintainya memiliki kelainan? Jenny tahu, Lars yang playboy itu sudah menemukan calon Ny. Lars-nya, tambatan hatinya (mau Jenny akui atau tidak, ini memang benar, dan Jenny menyadarinya). Tapi dia tidak habis pikir bagaimana kalau Lars mengetahui tambatan hatinya tidak sesuai dengan harapannya?
" Udah deh, itu bukan urusan lo lagi. Kalo Cherry emang mau cerita, berarti dia emang sadar, tapi kalo nggak lo nggak punya hak apa-apa buat nanya sama dia. Lagian lo kan udah nggak ada hubungan apa-apa sama mereka lagi. " Kata Louise yang sudah memungut kikirnya dan mulai mengkikir kukunya lagi.
" Gua masih asisten Lars, dan gua nggak tega mikirin perasaan Lars. " Giliran Jenny yang meletakkan kikirnya.
" Gua tau, but we can do nothing. Itu urusan asmara mereka, bukan urusan asmara lo. Lo kan udah punya Kevin. " Jenny tidak bisa mengangguk atau menggeleng untuk menyetujui atau menolak perkataan Louise ini, dia sedang teringat dengan Lars, dan entah kenapa hatinya terasa sangat sakit kalau membayangkan kekecewaan yang akan Lars terima gara-gara Cherry.
" Jen, lo sependapat sama gua kan? " Louise bertanya lagi karena Jenny belum menanggapinya sambil memegang bahu Jenny, dan Jenny hanya bisa mengangguk pelan. Dia tidak bisa mengatakan kekhawatirannya lagi karena Louise pasti tidak akan setuju dengannya. Benar saja, karena Louise langsung tersenyum senang melihat anggukan kepala Jenny itu.
" Ngomong-ngomong… " Kata Louise lagi dengan serius.
" Apa? " Tanya Jenny dengan kaget, takut Louise melihat keraguan dari anggukan kepalanya yang lemah.
" Alis lo udah mulai bearantakan. Sini gua rapiin. " Louise mengambil pinset dan mulai mencabuti alis-alis membandel yang tumbuh di tempat yang tidak semestinya, sedangkan Jenny menghela napas panjang, lega karena tidak perlu diceramahi lagi.

 
Di sudut kota yang lain, di sebuah apartemen di lantai delapan nomor 631, bergumul dua sosok tubuh di balik selimut putih tebal, saling berpelukan dan bersimbah keringat.
" Cher… "
Wanita yang di depan menoleh kebelakang dan menatap wajah Tommy, wanita yang memeluknya dari belakang tadi. Dia merubah posisinya sehingga mereka berdua saling berhadapan.
" Udah waktunya lo ngomong sama cowok itu. " Kata Tommy lagi.
" Siapa? "
" Lars. " Jawab Tommy, dan Cherry terdiam.
" Selama ini lo udah ngehindar dari dia demi gua, dia pasti bingung. Lo harus ngejelasin semuanya dan selesain semuanya sekalian. "
Cherry masih saja diam, kali ini dia tidak berani menatap mata hangat Tommy lagi.
" Gua tau lo masih takut, honey. Gua tau lo masih takut dibenci. " Tommy mengangkat dagu Cherry dan menatap matanya dalam-dalam.
" Gua hanya nggak mau nyakitin dia. Lars itu cowok yang baik banget, yang ngehargain cewek lebih dari pada orang lain. Gua hanya takut ngecewain dia. " Jawab Cherry dengan sedih.
" Tapi itu semua resiko kita. Kita nggak bakal bahagia kalo nggak jujur sama dia. We have a deal, right? Kita selesaiin lukisan kita, terus kita pulang ke Amerika. We live happily ever after. "
Cherry akhirnya tersenyum. " Gua tau, dan gua bakal ngelakuin apa pun supaya kita bisa bahagia lagi. Dan lukisan-lukisan itu, will being the best weding gift for us. "
Tommy mengangguk dalam dan mereka berdua tersenyum.

 
...Bersambung...