Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

DISORIENTASI TOKOH

Pernahkah kalian berada di situasi saat kalian menonton film Real Steel yang dibintangi Hugh Jackman sang Wolverine dan membayangkan bahwa tokoh yang diperankan Jackman akan mengeluarkan cakar adamentiumnya di tengah-tengah cerita dan menghancurkan semua robot yang ada lalu mengambil cerutunya dan kembali bergabung dengan teman sesama mutannya?

Aneh bukan? Well, kira-kira seperti itulah yang saya maksud dengan disorientasi tokoh. Masih belum 'ngeh' juga?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia atau yang disingkat dengan KBBI, disorientasi sendiri berarti kekacauan kiblat; kesamaran arah: pandangan (yang) akan timbul apabila terdapat kesenjangan antara organisasi sosial dan sistem nilai kebudayaan; kehilangan daya untuk mengenal lingkungan, terutama yang berkenaan dengan waktu tempat dan orang.

Secara gamblang, disorientasi tokoh yang saya maksud adalah ketika kita terjebak di dalam situasi di mana saat kita sedang menonton film aktor atau aktris favorit dan membayangkan bahwa aktor atau aktris tersebut akan kembali memerankan tokoh yang sebelumnya pernah mereka perankan.

Situasi ini bisa kita alami jika terdapat jarak yang terlalu dekat antara dua film atau lebih yang diperankan oleh satu pemeran yang sama. Atau situasi serupa juga dapat terjadi jika film tersebut diperankan oleh aktor atau aktris yang pernah memerankan tokoh yang cukup ikonik dan sulit untuk dilupakan begitu saja. Contoh yang paling mudah adalah tokoh yang diperankan oleh Daniel Radcliffe, sang Harry Potter. Jika Daniel Radcliffe bermain di film lain maka kita tidak akan bisa mengenyahkan bayangan Harry Potter dari dirinya.

Ini merupakan sebuah anugerah sekaligus kutukan bagi sang aktor atau aktris itu karena sekali mereka memerankan tokoh yang sangat ikonik dan melekat di hati para penonton maka akan sangat sulit melepaskan imej tersebut dan 'move on'. Tapi di sisi lain namanya yang melambung akibat peran ikonik tersebut akan memberi keuntungan seumur hidup pula.

Tidak percaya? Robert Pattinson yang terkenal dengan tokoh Edward Cullen sang Vampire tampan pun pernah berkata di salah satu wawancaranya bahwa dia sama sekali tidak suka dengan tokoh yang dia perankan dan berharap tidak pernah menerima tawaran itu. Daniel Radcliffe sendiri membutuhkan waktu yang lama dan usaha yang ekstra keras untuk dapat menghilangkan imej Harry Potter yang telah dia perankan selama lebih dari sepuluh tahun. Sedangkan Emma Watson, sang pemeran Hermione Granger dalam seri Harry Potter tidak mau lagi memerankan tokoh yang sama.

Hehehe.... rumit yah....

Situasi seperti ini akan berdampak sedikit berbeda jika dilihat dari kaca mata perfilman dalam negeri. Di perfilman nusantara disorientasi tokoh yang saya alami terjadi karena seorang aktor atau aktris yang memerankan tokoh yang berbeda di dua film yang berbeda dalam jarak yang berdekatan dengan karakteristik tokoh yang mirip.

Mau saya beri contoh?

Sebenarnya saya tidak mau menyebutkan satu atau dua nama aktor atau aktris dalam negeri, karena jujur saja, saya tidak terlalu mengikuti perkembangan perfilman dalam negeri. Tapi saya yakin kalian pasti bisa menyebutkan sendiri satu-dua atau bahkan tiga nama aktor atau aktris yang sangat sering hilir mudik di layar bioskop dengan berbagai judul film yang berbeda. Dan ini membuat saya miris. Maksud saya, please! Memangnya tidak ada aktor atau aktris lain yang mempunyai potensi untuk bisa berakting dengan baik? Memang sih akting mereka memang mumpuni, tapi tetap saja....

Tapi ada lagi fenomena lain yang tidak kalah menariknya untuk disimak dan sering kali memicu saya mengalami disorientasi tokoh. Biasanya fenomena yang satu ini terjadi saat saya menonton film-film yang dibintangi oleh aktor atau aktris tertentu yang memiliki nama besar melebihi karakter ikonik yang pernah mereka perankan. Biasanya lagi karakter tokoh yang mereka perankan memiliki tipe yang mirip sehingga ending cerita pun akan dapat mudah ditebak. Dan biasanya lagi dan lagi sang aktor atau aktris lebih dominan karakternya dibandingkan dengan karakter tokoh yang mereka perankan.

Fenomena ini sering saya alami jika saya menonton film yang dibintangi oleh Tom Cruise atau Will Smith. Apakah kalian sudah bisa melihat polanya? Aktor yang saya sebutkan tadi memang cenderung 'menguasai' film yang mereka perankan. Sehingga pada akhir cerita saya akan merasa menonton akting yang 'Tom Cruise banget' atau 'Will Smith banget'.

Jangan salah sangka, fenomena ini bukanlah suatu hal tabu yang sangat menyebalkan untuk saya rasakan karena sebagian besar saat fenomena ini terjadi saya toh masih tetap bisa menikmati film yang saya tonton. Tapi jika mau dinilai lebih kritis dengan kaca mata yang lebih cerewet, hal ini tentulah sedikit mengganggu. Dan sudah tentu fenomena seperti ini tidak akan bisa membawa sebuah film melangkah ke ranah tingkat perfilman yang lebih tinggi, semisal Oscar atau Golden Globe.

Kalau menurut kalian bagaimana?
Apakah kalian juga sering mengalami disorientasi tokoh seperti saya?


CARA MEMBUAT MANDALA

Hi! 🙋

Sudah baca artikel saya tentang mandala yang judulnya: 'MY NEW BAE: MANDALA' belum? Kalau sudah, di paragraf terakhir saya berjanji akan membuat artikel khusus tentang bagaimana membuat mandala. Betul?
Well, ini dia.

Oh iya, kalau kalian masih belum tahu apa itu mandala dan kenapa saya mau capek-capek membuat mandala, silahkan baca artikel sebelumnya. Semua saya jelaskan di sana.

Oke, seperti yang saya tulis di artikel sebelumnya, membuat mandala sangat mudah. Semua orang bisa membuat mandala, tidak ada batasan umur, atau genre khusus. Sebelum memulai kalian harus mempersiapkan alat-alatnya terlebih dahulu.

* Alat-alat yang dibutuhkan:
1. Kertas Gambar
     Note: kertas HVS juga boleh sih, tapi kertas khusus untuk menggambar lebih disarankan.

2. Penggaris
     Note: panjangnya bisa disesuaikan dengan ukuran kertas gambar yang digunakan.

3. Penggaris Busur Derajat
     Note: ukurannya juga bisa disesuaikan.

4. Pensil
     Note: saya menggunakan pensil mekanik agar sketsa yang saya hasilkan tipis dan gampang dihapus.

5. Jangka
     Note: yang ini ukurannya juga disesuaikan dengan ukuran kertas gambar, ya.

6. Spidol/balpoin

7. Penghapus

Sudah, itu saja. Mudah, kan?

Nah, sekarang kita mulai menggambar.

* Ikuti langkah-langkah berikut ini:
1. Ambil titik tengah dari kertas gambar lalu buat tanda 'plus' yang ukurannya sama panjang. Bentuk bujur sangkar terlebih dahulu untuk lebih memudahkan.
(Gambar A)


2. Dengan menggunakan jangka, bentuk lingkaran di sepanjang garis. Jarak lingkaran yang satu dengan yang lainnya bisa disesuaikan menurut selera, tapi saya biasanya membuat lingkaran dengan jarak 0,5 cm sebagai dasar.
(Gambar B)


3. Buat garis diagonal di sepanjang lingkaran tadi menggunakan penggaris busur derajat. Jaraknya disesuaikan menurut selera, saya pribadi menggunakan jarak 5° untuk setiap garis.
(Gambar C-1, C-2 dan C-3)




4. Setelah garis dasar jadi, kita tinggal menggambar pola yang kita inginkan di sepanjang lingkaran menggunakan spidol atau balpoin. Pola dan warna apa pun dibebaskan di sini, tergantung kreatifitas kita. Ini yang saya namakan 'Outlining'.
(Gambar D)

5. Setelah puas dengan Outline yang kita buat, waktunya memberikan detail! Saya biasanya menggunakan spidol dengan ukuran lebih kecil. Sekali lagi, pola dan warna disesuaikan.
(Gambar E)

6. Jangan lupa hapus garis dasar yang tadi kita buat jika memang merasa tidak diperlukan lagi. Saya biasanya menghapus garis dasar setelah saya selesai menggambar detail atau sebelum mulai mewarnai. Hati-hati, jangan sampai kertas gambarnya sobek, yah.
(Gambar F)

7. Masih kurang puas? Tambah detail lagi, atau jika memang ingin, warnai saja sesuai keinginan. Lalu.... TA-DA!! Selesai!! 🙌


Selamat, kamu sudah berhasil menggambar mandala versimu sendiri! Asik, yah? 🙆

Sebenarnya dasar lingkaran yang saya buat ini bukan standart khusus, loh. Saya membuat dasar ini setiap kali saya mau membuat mandala agar gambar yang saya hasilkan bisa lebih rapi. Tapi jika kalian tidak mau repot-repot membuat garis dasar juga tidak masalah, kok.

Oh iya, ada beberapa tips yang perlu saya tambahkan untuk membantu kita mendapatkan hasil yang maksimal.
1. Gunakan kertas gambar yang bagus. Kertas HVS memang lebih mudah didapat, tapi kertasnya cenderung tipis, jika kita menggunakan spidol atau balpoin berujung tajam akan membuat permukaan kertas menjadi sobek. Beberapa spidol malah akan merembes ke belakang kertas jika digunakan di kertas HVS.

2. Pilihlah kertas gambar yang tidak berbulu, sehingga proses mewarnai akan lebih mudah.

3. Merk spidol/balpoin/pensil gambar memiliki ukuran berbeda-beda, harus diperhatikan. Saya lebih memilih yang berukuran runcing untuk membuat detail dan spidol yang lebih tebal untuk outlining.

4. Gunakan penghapus yang bagus. Beberapa penghapus 'biasa' tidak bisa menghapus bekas pensil dengan sempurna. Oh iya, pelan-pelan saat menghapus jangan sampai kertas gambar menjadi sobek atau terlipat.

Saya sengaja tidak menyebutkan merk produk semata-mata karena saya memang tidak berkeinginan meng-endorse merk tertentu, jadi mohon maaf jika ada beberapa detail produk yang mengacu pada merk tertentu.

Tujuan membuat mandala adalah untuk bersenang-senang. Jadi, tidak ada yang salah dan benar dalam menggambar mandala. Sama sekali tidak ada aturan untuk semua pola, warna dan ukuran. Kalian bisa menambahkan bentuk bunga, hewan, pohon, bahkan manusia sekalipun. Bebas sebebas-bebasnya! Berkreasilah sesuka hatimu, nikmati prosesnya dan nikmati hasilnya.

So, selamat bersenang-senang!! 😄

Referensi Tontonan Film Bioskop Terbaru Di Akhir Tahun 2016

Liburan akhir tahun menjadi ‘alasan’ bagi para produser film-film Hollywood untuk memproduksi film bioskop terbaru dengan budget tinggi, terutama film action, film keluarga ataupun animasi. Di Indonesia, libur panjang siswa sekolah menjadi momen yang paling dinantikan oleh para pengelola bioskop untuk meraup untung sebesar mungkin, melalui film-film box office terbaru. Apalagi, jadwal libur siswa sekolah di bulan Desember 2016 lebih banyak dibandingkan dengan liburan akhir semester tahun lalu. Tak jarang, penonton harus memesan tiket bioskop sehari sebelumnya untuk menonton film favorit mereka di musim liburan.

Film-film terbaru apa saja yang menjadi tontonan ‘wajib’ di bulan Desember 2016 ini?

Underworld: Blood Wars



Gambar: movieweb.com

Jika Anda tak pernah melewatkan sekuel “Underworld”, berarti “Underworld Blood Wars” tak boleh dilewatkan. Kali ini, Selene (yang masih diperankan oleh Kate Beckinsale) masih melanjutkan perjuangannya untuk melawan klan Lycan dan beberapa kelompok vampire yang mengkhianatinya.

Mereka berusaha menggunakan darah Selene dan puterinya untuk dijadikan vampire-corvinus. Satu-satunya jalan yang ditempuh oleh Selene adalah menyembunyikan puterinya terlebih dahulu. Setelah itu, Selene, David dan Thomas berupaya keras untuk mengakhiri perang abadi antara Lycan dan Vampir, kendati Selene harus mempertaruhkan nyawanya.

Moana



Gambar: http://www.joblo.com/newsimages1/moana-new-new.jpg

Moana hadir untuk menghibur para pemirsa cilik yang ingin menikmati liburan di akhir tahun. Film terbaru tahun 2016 ini hadir dalam format animasi tiga dimensi, produksi dari Walt Disney Pictures. Disutradarai oleh Ron Clements dan John Musker, Moana menceritakan tentang seorang gadis bernama Moana, seorang anak perempuan yang memiliki keinginan kuat untuk mempersatukan relic ajaib dengan seorang dewi.
Sebagai seorang anak kepala suku Polinesia, ia pun terbeban untuk berlayar mencari Maui, seorang dewi legendaris untuk menyelamatkan sukunya. Pengisi suara dari film ini adalah Dwayne Johnson, Auli'i Cravalho, Rachel House, Nicole Scherzinger dll.

Moana sudah dirilis di Amerika Serikat pada 23 November 2016, dan berhasil meraup keuntungan lebih dari $106 juta di seluruh dunia.

Allied

Dijamin, siapapun penasaran untuk menyaksikan film bioskop terbaru yang dianggap sebagai penyebab perceraian dari bintang ternama Brad Pitt dan Angelina Jolie. Terlepas dari bumbu cerita yang sangat fantastis, Allied memang tak patut dilewatkan. Drama dengan latar belakang cerita Perang Dunia II ini dibintangi oleh Brad Pitt and Marion Cotillard.



Gambar: http://www.indiewire.com/2016/11/box-office-preview-moana-to-the-rescue-1201748834/

Pitt berperan sebagai seorang intel rahasia bernama Max Vatan, yang bertugas membunuh salah satu petinggi Jerman. Namun, misinya ini ‘terganggu’ karena ia jatuh cinta dengan partnernya, yang  bernama Marianne Beausejour (Marion Cotillard), dimana keduanya menyamar sebagai suami istri.

Nine Lives



Gambar: scottyandtony.blogspot.com

Drama komedi juga harus menjadi salah satu referensi tontonan film terbaru yang menghibur Anda di akhir tahun. Jangan lewatkan “Nine Lives”, film komedi Perancis berbahasa Inggris yang diperankan oleh aktor-aktor kawakan di genre ini seperti Kevin Spacey, Jennifer Garner dan Christopher Walken.

Cerita drama ini adalah seputar seorang ayah yang gila kerja. Tetapi, suatu hari, ia harus terperangkap dalam tubuh kucing peliharaan anak perempuannya. Kejadian ini membuatnya sadar bahwa efek gila kerja yang selama ini ia terapkan ternyata tak akan membuat keluarganya bahagia.

Fantastic Beasts and Where to Find Them



Gambar: http://variety.com/2016/film/box-office/fantastic-beasts-harry-potter-box-office-1201918584/

Setelah film drama romantic, komedi, animasi, kini kita sampai pada film fantasi yang pasti sangat ditunggu, khususnya oleh para penggemar berat Harry Potter yaitu “Fantastic Beasts and Where To Find Them”. Film ini dibintangi oleh Eddie Redmayne sebagai Newt Scamander dan telah dirilis di New York pada 10 November 2016 dan berhasil meraup $509 juta.

Jadi, film-film mana sajakah yang menjadi incaran anda tahun ini?

MY NEW BAE: MANDALA

Hi! 
Sesuai dengan janji saya beberapa hari yang lalu, sekarang saya mau ngomongin soal mandala.
Apa itu mandala?
Kenapa saya sangat suka mandala?
Well, kalian bisa dengan mudah cari di google apa itu mandala. Dan jujur saja, saya juga mencari semua info tentang mandala di sana.
Intinya, mandala adalah sebuah pola, pattern. Awalnya mandala digunakan oleh umat Hindu dan Budha di tanah India sana. Mereka menggunakan mandala sebagai metode meditasi.
Secara harafiah, kata mandala berasal dari bahasa sansekerta: sanskrit yang berarti circle atau bulat. Pola mendasar mandala memang bulat yang dihiasi oleh berbagai macam simbol dan pola yang berulang-ulang dan selalu berpusat di satu titik. Nah, cara membuat seperti itulah yang membuat mandala bisa menjadi sarana meditasi yang manjur.
Setiap mandala memiliki ciri khas masing-masing. Mandala Hindu biasanya berbentuk kotak dengan pola undakan atau tangga. Mandala Budha biasanya berbentuk bulat dengan gambar Budha dan simbol keagamaan lainnya, seperti candi Borobudur yang merupakan salah satu lanscape mandala terbesar yang pernah ada di dunia.
Mandala yang paling saya suka adalah mandala dari Nepal. Pola yang mereka gunakan hampir mirip dengan mandala Hindu, hanya saja mereka membuat sebuah mandala super besar di atas sebuah meja besar atau lantai dengan mengunakan serbuk warna warni yang terbuat dari tumbukan batu. Mereka membuat mandala sebagai salah satu ritual keagamaan, lengkap dengan berbagai upacara dan doa-doa yang mereka senandungkan sepanjang acara yang bisa berlangsung berhari-hari. Bahkan acara 'menghapus' mandala pun memiliki rangkaian acara tersendiri yang setiap detailnya memiliki makna mendalam. You can find the detail ceremony at google or youtube. It's soooo amazing, you won't regret. 
Selain Hindu dan Budha, agama lain pun menggunakan mandala. Agama Kristen menggunakan mandala sebagai ornamen lukisan jendela atau lantai dan lain sebagainya. Salah satu ornamen mandala yang paling terkenal yang digunakan oleh umat Kristen ataupun Katolik adalah ornamen dalam Rose Wood Window yang sangat-amat menakjubkan.
Bahkan bangsa Indian di tanah Amerika sana juga menggunakan teknik mandala untuk membuat Dream Catcher mereka yang terkenal itu.
Psikolog terkenal Carl Jung (google his name to find more information about he) juga menyukai mandala dan menggunakan mandala sebagai salah satu metode psikologisnya. Menurut Carl Jung, membuat pola mandala yang berulang-ulang dan berpusat pada satu titik dapat membuat seseorang menjadi tenang dan fokus. Bahkan menurut beliau, pola yang dihasilkan setiap orang dapat menunjukkan bagaimana karakter orang tersebut.
Nah, karena alasan inilah saya sangat menyukai mandala. Membuat mandala memang bisa membuat saya tenang. Membuat mandala juga bisa membuat saya fokus. Dan semua itu adalah hal yang menyenangkan.
Rumit? Siapa bilang membuat mandala itu rumit? Semua orang bisa membuat mandala. Semua orang. Serius. Saya tidak mengada-ada. Bahkan seorang anak kecil pun bisa membuatnya. Masalahnya hanyalah seberapa banyak detail dan pola yang anda gunakan di dalamnya.
Seiring perkembangan zaman, macam pembuatan, pola dan bentuk mandala sudah sangat bervariasi. Semua simbol dan bentuk dapat digunakan untuk membuat sebuah pola mandala yang unik dan cantik. Dan tanpa sadar mandala sudah digunakan diberbagai media dengan berbagai tujuan.
Tertarik? Di kesempatan berikutnya saya akan membuat tutorial bagaimana cara membuat mandala. Tapi untuk saat ini saya rasa cukup, ya.
Semoga anda penasaran. 



(NO) MORE FANTASY, PLEASE!

Dengan berkembangnya teknologi dan berbagai informasi yang dapat diakses dengan mudah bahkan hanya dengan ujung jari, mau tidak mau, suka tidak suka, percaya tidak percaya, semua ini mempengaruhi cara pandang masyarakat. Dengan berubahnya cara pandang ini, maka berbagai bidang kehidupan pun ikut menerima dampaknya. Tidak terkecuali dengan dunia tulis menulis dan dunia perfilman. Benar, kedua dunia ini memang saling berhubungan. Karena tidak akan tercipta sebuah film yang bagus tanpa ada karya tulis yang bagus juga untuk menunjangnya. Dan apa dampak nyata yang terasa di dunia perfilman sehubungan dengan berkembangnya cara pandang masyarakat tersebut?

Well, coba kita perhatikan. Jika pada beberapa tahun yang lalu para penonton dan pembaca akan dengan senang hati dan sah-sah saja menerima tema yang penuh dengan bumbu fairy tale atau fantasy, maka pada zaman sekarang selera ini mulai berubah. Bukan berarti mereka sama sekali tidak mau menerima tema seperti itu, sih, hanya saja dari hari ke hari cara pandang masyarakat yang semakin kritis memacu mereka untuk dapat berpikir dengan lebih logis.

Nah, perkembangan ini pula yang sepertinya disadari dengan baik oleh para creator film atau buku, terutama yang tinggal di Negara yang lebih modern, sebut saja di dunia Hollywood dan Negara-negara Barat sana. Ini terbukti dengan banyaknya karya tulis dan berbagai film remake/reboot atau pun film baru bertema fantasy yang berbeda dari pada sebelumnya.

Masih belum percaya? Coba telaah film superhero remake Teenage Mutant Ninja Turtle yang terbaru, atau juga film science fiction seperti Rise Of The Planet Of The Apes dan sekuelnya: Dawn Of The Planet Of The Apes, juga film action seperti The Expandables dan bahkan film animasi seperti Frozen yang dibuat oleh studio animasi ter’fairy tale’ yang pernah saya temui: Disney. Kalau kita bisa menyadarinya dengan lebih baik, bahkan tujuh seri buku Harry Potter karya J.K. Rowling yang terkenal itu pun merupakan karya fantasy modern yang berbeda dengan karya fantasy sebelumnya.

Yang paling mendasar dan paling bisa dibedakan dari semua karya itu adalah tema fantasy-nya yang terasa lebih ‘real’. Latar belakang para tokohnya, asal muasal kisah yang disajikan, konflik yang dialami setiap tokoh, solusi yang diambil dan akhir cerita, semua memiliki dasar kuat yang beralasan dan tidak lagi terjadi begitu saja. Bahkan sebuah karya yang memang dibuat di sebuah universe yang sama sekali baru, seperti di Middle Earth Lord Of The Rings-nya J.R.R. Tolkien pun memiliki dasar logika cerita yang kuat.

Kombinasi formula-formula ini akan dapat menjamin sebuah karya lebih bisa diterima sehingga tidak akan ada perasaan ‘bolong’ yang tertinggal di benak para audiens ‘modern’. Saya sendiri pernah berulang kali merasakan sensasi ‘bolong’ saat selesai membaca atau menonton karya yang terlalu fantasy dan itu adalah ‘rasa’ yang tidak mengenakkan. Jujur saja, deh. Jika dulu kita akan dengan senang hati membaca atau menonton kisah dongeng dari dunia antah berantah yang berakhir dengan happily ever after, maka sekarang otak kita akan dipenuhi dengan pertanyaan lain, misalnya: bagaimana itu bisa terjadi, kenapa itu bisa terjadi, siapa yang menyebabkan semua itu terjadi, dan masih banyak pertanyaan lain. Para audiens zaman sekarang tidak akan puas jika disajikan cerita dengan tema good vs evil, gadis manis vs gadis tukang bully atau anak lugu vs ibu tiri begitu saja. Bahkan sekarang pilihan sad ending sudah bisa diterima dengan jauh lebih mudah asalkan, lagi-lagi, didukung dengan berbagai alasan dan penyelesaian yang memenuhi pengertian audiensnya.

Apakah ini akan mengurangi ‘rasa’ fairy tale dan fantasy itu sendiri? Well, ini memang tergantung dengan selera masing-masing orang. Tapi menurut saya pribadi, dengan melogiskannya justru karya tersebut akan dapat terasa lebih memuaskan untuk dinikmati.

Beberapa audiens memang tidak banyak yang terlalu ‘rewel’ akan hal yang satu ini. Kebanyakan dari mereka masih tidak peduli asalkan sebuah film menampilkan actress atau actor favorit mereka, asalkan menyajikan special efek yang menakjubkan atau menyajikan kisah yang menggugah hati. Beberapa yang lain bahkan dengan sangat mudah mengatakan: “Namanya juga fantasy…” untuk memaklumi perasaan ‘bolong’ yang mereka rasakan. Tapiiii, beberapa audiens yang jauh lebih kritis, bisa dibilang, sudah bosan disajikan karya dengan tema standart seperti itu. Beberapa audiens lebih memilih karya yang terasa ‘utuh’ untuk bisa mereka cerna dan nikmati hingga puas.


Nah, bagaimana menurut pendapat kalian sendiri? :]

UNTUK APA MEMBUAT FILM?

“Apa sih alasan seseorang menonton film?”

Mungkin ini adalah pertanyaan yang sangat umum ditanyakan dan begitu basi untuk dibahas. Tapi, pernahkah kalian bertanya untuk apa sebuah film dibuat? Bagaimana jika sebuah film dibuat dengan tujuan dan maksud tertentu?

Selain untuk meraih sejumlah keuntungan, hampir setiap film dibuat untuk tujuan hiburan. Dengan meningkatnya aktifitas dan kesibukan hidup seseorang, terutama dikalangan penduduk kota besar, berdampak dengan tingkat stress yang semakin tinggi dari hari ke hari, kebutuhan hiburan pun semakin meningkat. Salah satu sarana hiburan yang paling digemari di seluruh dunia adalah film. Dengan menawarkan berbagai macam petualangan yang dapat dibagi secara personal kepada setiap penonton, menonton film bisa disebut sebagai sebuah media hiburan yang paling efektif untuk menghilangkan penat yang dirasakan akibat kegiatan sehari-hari yang padat dan monoton.

Selain itu setiap genre film memiliki misi mereka sendiri yang disampaikan kepada penonton tanpa penonton itu sendiri menyadarinya. Misalnya saja film horror, selain memberikan sensasi kaget yang selalu ditunggu-tunggu, film horror mengajarkan kita untuk dapat melawan rasa takut itu. Film kartun pun memiliki visi lain yang dapat kita pelajari. Selain membuat imajinasi kita berkembang dengan baik, beberapa film kartun, yang umumnya diperuntukkan bagi anak-anak, mengandung nilai-nilai kebaikan yang dapat dipelajari dan semoga saja dapat dicontoh dengan baik oleh penontonnya. Dan bahkan film komedi pun dapat mengajarkan penontonnya untuk dapat melihat sisi ‘lucu’ dari segala masalah yang kita hadapi dan mencari solusinya dengan suasana hati yang lebih ringan setelah tertawa.

Itu saja? Tunggu dulu, masih ada lagi. Media film dapat membantu para penontonnya untuk dapat meningkatkan rasa nasionalisme mereka, menghilangkan stigma negative masyarakat terhadap kalangan ataupun sesuatu dan bahkan dapat mengubah pencitraan penonton.

Tidak percaya? Masih ingat dengan film yang diperankan Shah Rukh Khan yang berjudul ‘My Name Is Khan’? Film ini dibuat pada tahun 2010, Sembilan tahun setelah tragedy pemboman menara kembar di Amerika pada 9 September 2001. ‘My Name Is Khan’ bercerita mengenai keluarga muslim di Amerika yang mengalami perlakuan buruk setelah peristiwa pemboman teroris terbesar di Amerika tersebut. Melalui film ini, para penonton diingatkan bahwa betapapun kejamnya tindakan terorisme tersebut, tidak semua muslim di dunia patut disalahkan.

Bahkan konon katanya film kartun Popeye The Sailorman yang pertama kali muncul sebagai comic strips di Koran King Features pada 17 Januari 1929 mampu meningkatkan minat anak-anak pada masa itu untuk mengkonsumsi bayam sehingga tingkat penjualan sayuran tersebut meningkat 30% lebih pada tahun 1933.

Dan bukan hanya itu. Bukan rahasia lagi bahwa Amerika yang merupakan Negara produsen film terbesar di dunia sudah begitu banyak membuat film-film terutama genre action di mana endingnya selalu dimenangkan oleh Negara tersebut, tidak peduli Negara mana yang menjadi lawan atapun sekutu mereka, tidak peduli makhluk dari planet manapun yang menyerbu dan bahkan tidak peduli bencana alam apa pun yang menerjang, Negara tersebut akan mampu bertahan. Well, kalau dipikir-pikir tindakan ini sungguh tidak adil, ya kan? Tapi bukankah mereka membuat film mereka sendiri? Jadi mereka tentunya bebas membuat film dengan tema yang mereka sukai, bukan?

Lagipula, tidak bisa dipungkiri, cara ini cukup efektif, loh! Melalui berbagai film action yang mereka ciptakan, film ini ternyata mampu meningkatkan nasionalisme penduduknya menjadi cukup tinggi. Ini dapat dibuktikan dari jumlah masyarakatnya yang rela mendaftarkan diri mereka menjadi tentara dengan suka rela untuk membela negera mereka tanpa perlu menerapkan system wajib militer. Selain itu, pemerintah Amerika sendiri begitu mendukung produksi perfilman Negara mereka karena mereka menyadari bahwa media ini adalah cara yang sangat ampuh untuk ‘menyentuh’ kalangan muda mereka dan ‘menanamkan’ pendidikan moral yang mereka inginkan.

Kenyataan ini seharusnya dapat menyadarkan kita bahwa media ini merupakan sarana yang cukup ampuh untuk merangkul kawula muda kita. Karena tanpa kita sadari, film membawa dampak yang cukup besar bagi masyarakat modern, sama seperti iklan televisi, social media dan media cetak. Terlepas dari berbagai dampak negative yang pastinya akan selalu ada di setiap hal yang dilakukan setiap orang, bukankah media film ini cukup berhasil memberi dampak yang baik bagi penontonnya?


Dan mau tidak mau kita juga harus mengakui bahwa perkembangan masyarakat pun dapat dilihat dari perkembangan media-media tersebut. Jadi bisakah kalian bayangkan bagaimana perkembangan masyarakat kita bila film-film dalam negeri yang dapat kita konsumsi kebanyakan adalah film-film horror bertema tahayul yang penuh dengan unsure seksual atau film-film drama komedi ecek-ecek yang hanya menjual paha dan dada? Saya rasa sudah saatnya penonton Indonesia dapat lebih kritis memilih tontonan yang akan mereka tonton. Dan hendaknya para sineas di perfilman Indonesia juga dapat bangkit dan menciptakan film-film berkualitas yang dapat ‘dipelajari’ para penontonnya, bukan hanya mempertimbangkan sisi keuntungan pihak sineas semata. Jika memang target pasar mereka adalah para anak-anak bangsa, maka hendaknya para sineas dapat lebih menanamkan visi dan misi yang lebih positif di setiap karya mereka tersebut. Bukankah masa depan Negara kita ada di tangan anak-anak bangsa kita sendiri?