Tampilkan postingan dengan label flash fiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label flash fiction. Tampilkan semua postingan

BEAUTIFUL MISTAKE

Oh damn, I think that’s the best kiss I’ve ever had.

Ever.

Aku membuka pelupuk mataku dan menemukannya di hadapanku. Wajah kami hanya berjarak beberapa senti, bahkan kedua bibir kami jauh lebih dekat lagi. Dalam satu langkah singkat saja aku bisa meraih bibir itu lagi, melumatnya sekali lagi dan merasakan sensasi itu lagi. Benar, itu adalah sensasi yang begitu membuat sakau. Seolah ada sebuah kupu-kupu menyusup ke dalam dadaku dan mengepak dengan liar di sana, membuat napasku memburu. Napasnya lebih berat dari pada napasku dan dengan jarak sedekat ini aku bisa mencium bau tembakau menguar dari tubuhnya. Beberapa detik yang lalu aku baru saja merasakan sensasi pahitnya tembakau itu dari lidahnya dan walaupun aku membenci rokok, tapi bau itu mampu menghipnotisku.

Aku melonggarkan kedua tanganku yang melingkari lehernya, memberi jarak pada kedua bibir kami sehingga aku bisa mengatur detak jantungku yang berantakan. Kedua kaki telanjangku akhirnya bisa menapak dengan benar ke atas bumi setelah sebelumnya aku tekuk untuk berjinjit, berusaha menggapai dosa manisku tadi: bibirnya. Walaupun aku bisa merasakan bahwa dia enggan melepas pelukannya dari pinggangku, tapi dia juga memberi jarak tanpa perlu melepaskan pelukannya. Dan aku sama sekali tidak keberatan. Aku memang tidak ingin berada terlalu jauh darinya.

Aku kembali menatap kedua matanya. Letaknya beberapa senti di atas mataku sehingga aku harus sedikit menengadahkan kepala, membuat poni panjangku bergerak menghalangi. Aku sedikit memejamkan mata untuk menahan rasa sakit saat poni itu menusuk mataku, sama sekali tidak sudi untuk memindahkan kedua tanganku yang sedang memeluk lehernya untuk menyingkirkan poni yang mengganggu itu. Tapi seperti bisa membaca apa yang aku inginkan, dia melepas salah satu pelukan tangannya dari pinggangku dan menyingkirkan poni itu dengan lembut. Ujung jarinya bertahan di pipiku selama beberapa detik sebelum kembali melingkari pinggangku dan kehangatan yang membuatku merinding memancar dari sana dan bertahan lebih lama lagi. Dengan kedua mata yang begitu dekat, aku dapat menikmati kedua matanya yang bersinar penuh kehangatan itu dengan leluasa, seolah kedua mata itu hanya untukku. Lalu pandangan mataku mengarah ke hidungnya yang sedikit mancung, ke tulang pipinya yang tegas dan berhenti di bibirnya. Oh ya ampun, aku ingin sekali merasakan bibir itu. Lagi. Berkali-kali.

Tiba-tiba bibir itu tersenyum dengan begitu manisnya, membuatku tersadar bahwa sang pemilik bibir itu pastilah sadar aku sedang memandangi bibirnya dengan pandangan penuh rasa ingin tahu. Otomatis pandangan mataku kembali kepada dua bola matanya, dan benar saja, ada pandangan penuh persengkongkolan yang aku temukan di sana. Secara perlahan dan pasti senyumnya mengembang makin lebar, membuatku salah tingkah. Dan detik berikutnya dia mulai berbicara sambil mengunci kedua mataku dengan pandangan matanya yang tajam.

“Apakah kau tahu bahwa kau punya mata coklat yang sangat menakjubkan?”

Perlu waktu beberapa detik bagiku untuk mencerna kata-kata yang diucapkannya dengan sedikit berbisik itu. Sepertinya bau tembakau yang menguar dari kotak rokok yang ada di saku kemejanya telah berhasil menghinoptisku semakin dalam sehingga aku tidak bisa berpikir dengan benar. Aku bahkan tidak bisa bernapas dengan baik. Oh, dear…

Tapi aku berhasil menguasai diri dengan cepat dan ingat bahwa apa yang dikatakannya tadi sudah pernah aku dengar diucapkan oleh orang lain, orang yang selama ini telah memiliki bibirku. Begitu kesadaran itu menyerbuku, semua rasa yang menggetarkan itu lenyap seketika, seolah kupu-kupu yang sedari tadi terbang di dadaku mendadak mati. Aku melepaskan kedua tanganku dari lehernya dan mundur satu langkah sambil buru-buru berbicara dengan terbata-bata.

“Aku… sorry…”

Sorot matanya berubah dengan sangat cepat menjadi begitu menyedihkan untuk dilihat. Dengan sigap diraihnya kedua tangan yang aku lepaskan dari lehernya tadi dan menghentikan gerakannya sehingga kedua tanganku berada tepat di dalam lingkup kedua telapak tangannya. Aku memejamkan mata dengan cepat, berusaha sekuat tenaga untuk menyingkirkan perasaan nyaman yang menyerbuku dengan sangat tiba-tiba saat kedua tangan besarnya itu begitu hangat dan pas melingkupi kedua telapak tanganku yang kecil. Tapi begitu sulit untuk menghilangkan perasaan itu, apalagi dengan adanya dia di hadapanku, menatapku seperti itu.

“Ada apa?” tanyanya, sedikit ragu.

Aku menggelengkan kepalaku dengan cepat sambil menghembuskan napas panjang dan memejamkan kedua mata dengan frustasi. Ya ampun, apa yang telah aku lakukan?

“Aku… minta maaf…” kataku setelah berusaha berbicara dengan susah payah.

“Kenapa? Apa salahmu? You’re a very good kisser and that’s the best kiss I ever had, so far.”

Me too. Tapi, itu dia masalahnya. Semua ini tidak seharusnya terjadi. Aku telah melakukan kesalahan dan bagaimana caranya aku bisa memperbaiki kesalahan ini? Aku memejamkan mataku lagi dengan jauh lebih frustasi. Aku mencoba menarik napas panjang untuk menenangkan diri lagi, tapi bau tembakau itu kembali tercium, membuat semuanya terasa semakin sulit.

“Kamu menyesal karena ciuman tadi?” tanyanya lagi yang kali ini membuatku buru-buru menggeleng.

Aku sama sekali tidak menyesal karena pernah merasakan ciuman ini. Aku hanya menyesal karena berani melakukannya, melakukan sesuatu yang salah tapi begitu sulit untuk disesali.

“Hanya saja… selama ini aku telah berusaha untuk tidak melakukan sesuatu yang bisa saja aku sesali nantinya.”

“Apakah itu artinya kamu sudah lama menginginkan ini? Maksudku, apakah kamu memang ingin menciumku?” dia bertanya lagi dan aku kembali menutup kedua mataku dengan frustasi.

Iya, aku sudah berusaha sekuat tenaga menjauhkan keinginan untuk menghambur ke arahnya dan menciumnya. Seharusnya aku bisa menahan keinginan itu lebih lama lagi, atau mungkin membuang jauh-jauh keinginan bodohku itu. Tapi semua usahaku itu langsung terlupakan begitu saya setelah dia pergi selama beberapa waktu tanpa pamit dan tidak bisa dihubungi. Lalu tiba-tiba dia mendatangiku dan menyodorkan gelang itu tadi. Dan aku langsung menghambur ke pelukannya begitu saja, tanpa ingat untuk berpikir. Bodoh, aku tahu. Tapi aku tidak bisa menemukan alasan lain untuk tetap mempertahankan usaha itu. Aku sudah memutuskan untuk lebih jujur terhadap perasaanku sendiri. Dan inilah yang aku inginkan dan inilah yang aku lakukan, dari lubuk hatiku yang paling dalam. Jadi, apa yang bisa aku lakukan kecuali menganggukkan kepalaku untuk menjawab pertanyaan terakhirnya tadi?

“Kalau begitu, sepertinya aku harus sering-sering pergi tanpa mengabarimu, supaya bisa mendapatkan moment seperti ini lagi.”

Begitu mendengar kata-kata itu terlontar dari mulutnya, aku langsung melepaskan genggaman tanganku dengan kasar dan memukulkan tinjuku ke dadanya yang bidang dengan sekuat tenaga. Tapi dia malah tersenyum geli dan buru-buru menggenggam kedua tanganku untuk menghentikan pukulanku. Aku tidak menyerah, dengan kesal aku kembali menumpahkan amarahku melalui omelan.

“Jangan sekali-sekalinya kau berani pergi tanpa kabar seperti itu lagi. Kau membuatku khawatir!”

Dia menunduk untuk menatapku dengan kedua tangan yang masih menggenggam tanganku di depan dadanya, lalu menjawab lagi.

“Kau baru saja mengabarkan sebuah keputusan yang sangat mengagetkan untukku. Aku perlu menenangkan diriku lebih dulu.”

Aku menundukkan kepala lebih dalam lagi, semakin merasa menyesal. Dengan enggan dan nyaris berbisik, aku menjawab.

“Aku… sudah memutuskan.”

“Aku tahu.” Jawabnya dengan cepat. Dia melepaskan genggaman tangan kanannya, meraba cincin di jari manisku dengan cepat lalu meletakkan telapak tanganku di depan dadanya dan meraih daguku dengan tangan kanannya yang bebas. Kini, kedua mata kami sudah kembali saling menatap, mengunci.

“Karena itulah seharusnya aku yang meminta maaf. Walaupun aku sama sekali tidak menyesali semua ini, tapi aku tahu, seharusnya aku menghormati keputusanmu. Dan aku pun tahu, seharusnya aku tidak boleh menciummu, atau memberikan gelang itu sebagai hadiah perpisahan, atau bahkan memelukmu seperti ini. Tapi, aku hanya ingin… memilikimu. Paling tidak sekali dalam hidupku, aku ingin merasakan bagaimana rasanya jika aku memilikimu, seutuhnya.”

Aku tidak tahu apakah aku akan bisa menahan air mataku lebih lama lagi agar tidak jatuh ke pipiku. Penjelasannya kali ini benar-benar mengundang air mata.

Sepertinya dia melihat kedua mataku yang sudah mulai berkaca-kaca, karena itulah dia buru-buru berkata lagi.

“Aku mohon, jangan menangis. Aku tidak akan mengatakan bahwa aku mencintaimu. Aku tahu itu sudah terlambat, kata-kata itu sudah tidak ada gunanya lagi. Tapi aku hanya ingin kau tahu bahwa apa yang aku rasakan adalah perasaan yang tulus. Jadi, aku mohon, jangan menyesali apa pun. Izinkan aku menyelesaikan ini dan menciptakan sebuah kenangan indah di antara kita. Walaupun penuh kepura-puraan.”

Aku tidak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya dan aku tidak pernah menyangka bahwa aku akan merasakannya. Aku rasa ini memang bukan sebuah kesalahan. Ini adalah sebuah pembuktian, pembuktian akan kekuatan cinta yang tidak bisa saling memiliki, pembuktian bahwa sebuah keputusan membutuhkan pengorbanan, pembuktian bahwa sebuah kesalahan belum tentu salah, hanya butuh dibuktikan agar dapat dimengerti. Dan kini, aku mengerti bahwa perasaan ini adalah benar, hanya waktu dan tempat yang kurang tepat, seperti yang selama ini telah disadarinya.

“Tolong, jangan sesali aku.”

Itu adalah kata-kata terakhir yang aku dengar dari mulutnya karena detik selanjutnya bibir kami telah bertemu kembali. Kali ini lebih lembut, lebih manis, lebih menggetarkan hati. Kupu-kupu tadi kembali terbang lagi di dadaku dan lidahku kembali merasakan tembakau yang pahit. Napas kami saling memburu dan kedua lengan kami saling memeluk. Lalu, hampir sama cepatnya seperti ciuman itu dimulai, semua itu berakhir. Aku mundur satu langkah sambil merenggangkan lengan kiriku, memberi jarak pada kami berdua. Lalu aku memandanginya, memberikan senyum terbaik yang bisa aku berikan, dan berkata dengan mantap.

“Terima kasih, untuk semuanya.”

Aku berbalik dalam satu gerakan, meraih tasku yang terletak di atas meja dan pergi tanpa menoleh ke belakang lagi. Aku tidak merasakan tangannya yang menahan kepergianku atau suaranya yang memanggilku untuk berhenti. Aku hanya merasakan tangan kiriku yang menggenggam erat gelang perak yang baru saja diberikannya kepadaku dan berjanji di dalam hati bahwa aku akan mengenakan gelang itu selamanya tanpa rasa menyesal sedikit pun.


160913 ~Black Rabbit~

Berkompromi


Waktu seolah berhenti. Dan saat kau selesai mengatakannya, giliran jantungku yang berhenti berdetak.
Sial, aku pasti salah dengar.
Aku baru saja menghabiskan tenagaku beberapa hari belakangan ini, memukuli sandsack di arena latihan. Aku tidak bisa berada di atas ring, tidak ada satu orang teman pun yang mau menemaniku berlatih. Kata mereka emosiku sedang tidak stabil, itu bisa membahayakan keselamatan mereka. Yeah, benar, seolah aku sama sekali tidak menyadarinya saja. Walaupun begitu aku sungguh menikmati keringat yang mengalir deras selama berlatih, tak peduli seberapa sakitnya tanganku yang memukul sandsack tanpa sarung tangan. Tapi latihan itu pastilah telah berpengaruh pada telingaku. Kalau tidak, bagaimana mungkin aku bisa salah mendengar kata-kata yang kau ucapkan, yang selama ini tidak pernah luput dari pendengaranku sedikit pun?
Tanganmu terlihat mengerikan, itu yang kau ucapkan saat akhirnya kita bisa bicara berdua saja, berhadapan, satu situasi yang tidak akan bisa kita dapatkan jika tidak kita ciptakan sendiri.
Saat itu aku hanya bisa tertawa kecut, menolak ikut meringis karena menyetujui punggung tanganku yang memerah dan berdenyut menyakitkan. Rasa sakit itu hanya mengingatkan kembali kepada alasan kenapa aku melakukannya.
Laki-laki itu memang harus banyak lukanya, itu jawabku sambil tertawa, lebih kepada diriku sendiri.
Dan setelahnya aku mendengar kata-kata itu, kata-kata yang aku kira bukan berasal dari mulutmu.
Aku dilamar.
Dan petir menyambar begitu keras di dalam tempurung kepalaku, membuatku yakin telingaku pastilah benar-benar bermasalah akibat latihan thaiboxing yang terlalu keras tanpa tujuan jelas yang selama ini aku lakukan.
Bagaimana mungkin kau bisa mengatakannya seolah itu adalah berita prakiraan cuaca untuk hari ini?
Ada senyum kecil menghiasi bibirmu setelah itu. Bukan senyum penuh kegembiraan, tapi senyum yang seolah mengatakan bahwa kau sendiri meragu apakah harus merasa senang atau sedih. Dan aku hanya bisa berdecak lemah, berharap kau tidak terlalu jelas mendengarnya sekaligus berharap kau benar-benar mendengar itu.
Aku kecewa.
Rasanya seperti dikhianati oleh seseorang yang telah aku beri kedudukan yang jauh lebih special dari pada yang aku inginkan di dalam hatiku. Aku sudah pernah merasakannya, memang begitu sakit, tapi kali ini rasa sakitnya berkali-kali lipat. Seolah sebuah pisau telah menancap di luka yang sama untuk kedua kalinya. Di luka yang aku kira telah berhasil disembuhkan oleh keberadaanmu.
Kapan? Tanyaku, tak bisa lagi mengerti untuk apa menanyakan hal itu.
Lima bulan lagi.
Ada sebuah petir lain yang menyambar di dalam tempurung kepalaku. Astaga, apakah aku harus memecahkan sendiri tempurung kepalaku ini agar efek itu berhenti mengulang?
Aku menutup kedua mataku dengan frustasi. Jantungku mulai berdetak lagi setelah sempat berhenti beberapa waktu yang lalu. Tapi kini gerakannya terlampau cepat, membuatku sesak napas. Aku tidak punya cukup waktu untuk mengobservasi jantungku dan yakin jantung itu tidak gagal melakukan fungsinya. Dia sedang berada di hadapanku, di suatu kesempatan langka di mana kami bisa berbicara berdua saja.
Tapi bagaimana aku harus menanggapinya? Sekarang lidahku yang berubah kelu.
Kamu sudah yakin?
Ini pastilah pertanyaan yang tidak pernah disangkanya akan aku tanyakan. Setelah mendengar aku yang bertanya dengan suara tersumbat yang aneh itu, dia terdiam. Sekarang lidahnya yang berubah kelu, dan diam-diam aku tertawa senang.
Sudah seharusnya dia merasa tidak yakin. Apa lagi dengan kehadiranku selama ini. Seharusnya sudah sejak lama dia menerima uluran tanganku, tawaran yang sudah aku berikan selama beberapa waktu, tak peduli sosok lain yang berdiri melindunginya di belakang. Karena—demi Tuhan, aku jauh lebih baik dari pada orang itu!
Ada begitu banyak mata yang menunggu mataku menemukan mereka. Ada begitu banyak hati ataupun tubuh yang akan diberikan dengan suka rela bagiku jika saja aku ingin memintanya. Your Mr. Right, begitu mereka menjulukiku. Dan kau pun setuju dengan julukan itu. Benar, aku mendengar kau mengucapkannya, aku tidak akan bisa melupakan moment itu.
Tapi bagaimana kau bisa tidak bertindak seperti wanita-wanita lain itu? Kenapa kau malah memilih untuk mendekat secara perlahan tapi lalu menjauh begitu aku ingin menyambutmu? Mengapa kau bertingkah seperti seekor merpati yang begitu sulit ditangkap tapi begitu ingin aku tangkap. Aku kira ada yang salah darimu, yang melepaskanku begitu saja untuk gadis lain sementara matamu berkata lain. Dan aku kira ada yang salah dalam diriku, yang begitu menginginkan milik orang lain dan menganggap orang lain itu hanyalah remah roti. Aku akan membiarkan merpati sepertimu menangkap remah roti itu karena aku tahu kau akan selalu kembali kepadaku, pemilik remah roti yang sebenarnya.
Tapi ternyata aku salah, kau dilamar orang lain.
Bagaimana mungkin kau bisa menikah dengan orang lain setelah aku begitu menginginkanmu? Aku tahu semua itu adalah takdir, yang menempatkan diriku pada posisi ini dan bertemu denganmu yang membuatku merasa berada pada waktu dan tempat yang salah.
Jika saja aku bisa bertemu denganmu lebih dulu, pada situasi di mana tidak ada dinding tebal berlabel ‘kekasih’ yang berada di sisimu, menghalangi kita berdua. Aku yakin kau tidak akan mengangguk untuk menjawab pertanyaan terakhirku tadi setelah terdiam cukup lama. Pandangan matamu mengatakan bahwa kau tidak pernah menyangka akan menerima pertanyaan semacam itu dari mulutku. Tapi kau pikir tanggapan macam apa yang bisa aku berikan selain itu?
Dan apa maksud jari kelingking yang kau julurkan itu? Janji, kau tidak akan berubah, itu katamu? Bagaimana mungkin aku tidak akan berubah? Bagaimana mungkin aku akan diam saja dan membiarkan orang lain mengambil kebahagiaanku untuk kedua kalinya? Apa kau sudah gila?
Tapi senyummu penuh penyesalan dan permintaan maaf sekaligus. Aku melihat pergulatan batin yang kau alami juga dari sorot matamu itu. Dan jam tangan yang masih melingkar di lenganmu itu? Bukankah itu adalah jam tangan pemberianku yang tidak pernah menghilang dari tempat di mana aku memberikannya kepadamu beberapa waktu yang lalu? Keberadaannya yang masih belum tergantikan membuat aku yakin bahwa kau memikirkan hal yang sama denganku. Aku tidak tahu sebanyak apa, aku tidak yakin apakah pergumulan batinmu melebihi pergumulan batinku sendiri. Tapi, itu sudah cukup.
Ada sebuah sorot penderitaan yang sama pada matamu, dan aku tahu ada setitik harapan di sana. Harapan di mana akulah yang mengalungkan liontin tanda pengikat di lehermu, bukan orang lain.
Itu cukup adil.
Aku tidak tahu bagaimana akhirnya nanti, tapi aku yakin suatu saat nanti akan ada masa ketika kita tidak perlu berpura-pura lagi. Kan dan aku, kita akan saling terbuka.
Jadi, aku akan menyerah untuk saat ini, untuk mempertahankan situasi ambigu kita dan menikmati sorot mata penuh harapan dan kebimbangan yang akan terpancar setiap kali aku mengulang pertanyaan itu:
Apakah kau yakin?

060612 ~Black Rabbit~

FAJAR PERTAMA ( a postcard )


Seorang teman pernah bertanya kepadaku: apakah kau sudah merasa bahagia?
Saat itu aku hanya tertawa dan memukulkan kepalan tanganku ke arah lengannya tanpa benar-benar memberikan jawaban. Bukan karena aku menganggapnya sedang bercanda, tapi karena aku tidak menemukan jawabannya. Paling tidak, belum.
Itu adalah pertanyaan yang diajukan kepadaku beberapa waktu yang lalu. Sudah cukup lama. Dan sekarang secara tiba-tiba aku mengingatnya kembali. Aku tidak yakin apakah aku sudah menemukan jawabannya, tapi kali ini aku sedang bersama dengan seseorang yang mungkin saja bisa memberikan jawaban itu untukku.
Seseorang itu adalah kamu, yang sedang terlelap di sampingku, bernapas dengan teratur dan kelihatan begitu nyenyak. Rambutmu yang berwarna hitam panjang tergerai begitu saja, jatuh menutupi bantal yang kau gunakan dan menutupi sebagian dahimu dengan manis. Kedua matamu yang besar tertutup, menyisakan bulu mata lentik untuk kukagumi. Bibirmu yang tipis melengkungkan senyum, seolah tidur nyenyakmu telah menghadiahkan sebuah mimpi indah sehingga senyum itu merekah di bibirmu. Kulit putihmu tertutupi selimut tebal yang melindungimu dari udara dingin fajar yang baru saja terbit.
Aku memandangimu dalam diam, tidak berani bergerak agar tidak membangunkanmu. Tapi aku tidak bisa mencegah tanganku untuk menyentuhmu, mengagumimu sekaligus meyakinkan hatiku bahwa kamu adalah nyata. Aku hanya ingin menyakini diriku sendiri bahwa kamu adalah tulang rusukku yang hilang. Kamu adalah mimpi indah yang mewujud menjadi nyata bagiku. Dan pagi ini aku terbangun dari tidur nyenyakku dan menemukan kamu, bidadariku, berada di sampingku sebagai istriku.
Aku tidak tahu apakah ini yang disebut kebahagiaan sejati. Tapi melihat wajahmu yang cantik dan begitu damai saat pertama kali aku membuka mata setiap pagi adalah salah satu bukti nyata bahwa aku telah merasakan kebahagiaan itu. Kebahagiaanku telah mewujud dalam dirimu, hanya kamu. Itu saja sudah cukup bagiku.

Kau dan Aku, Sungguh Aneh


Aku sedang duduk di sofa empukku yang biasa, sedang menunggu detik-detik jam berganti menuju angka yang tepat sehingga aku bisa pulang ke rumah dan beristirahat dari rutinitas kantorku yang melelahkan. Semuanya biasa saja, suasana yang biasa, teman-teman yang biasa, kegiatan bermain game penuh konsentrasi yang biasa pula. Hanya saja kali ini ada yang berbeda dari biasanya, ada kau, yang duduk di sampingku sedemikian dekatnya.
Sofa yang sedang aku duduki adalah sebuah sofa single seat, yang sebenarnya hanya diperuntukkan bagi satu orang saja. Walaupun hanya untuk satu orang, ukurannya yang besar memang sering digunakan untuk dua orang, terutama untuk aku dan teman-temanku yang bertubuh cukup kecil, kau tahu itu. Tapi walaupun begitu aku tidak pernah menyangka kau akan duduk di sampingku, menemaniku duduk sambil tetap menatap ponselku, berusaha berkonsentrasi.
Kau dan aku membuat sofa itu seolah terisi penuh. Tubuhku tidak terlalu kecil sedangkan tubuhmu yang khas laki-laki itu juga tidak bisa dibilang kecil. Ada begitu banyak kursi lain yang masih kosong, siap untuk diduduki dengan suka rela, tapi kau malah memilih untuk duduk di sampingku. Aku tidak heran, aku juga tidak bertanya-tanya atau pun merasa jengkel. Aku tahu kau akan duduk di sampingku.
Kita memang dekat, julukan sahabat akan selalu disandingkan teman-teman jika mereka memanggil kau dan aku. Aku adalah orang yang akan dicari teman-teman jika ingin bertanya tentang keadaanmu, seolah kau dan aku memiliki hubungan telepati yang bisa membuat kita saling mengetahui keberadaan satu sama lain. Yah, itu tidak sepenuhnya benar. Kau memang dengan senang hati selalu memberitahukan semua rencana kepadaku tanpa aku tanya, walaupun kau sendiri tidak pernah merasa perlu repot-repot menanyakan rencanaku.
Intinya adalah: kau dan aku memang bersahabat. Aku bahkan menganggapmu sebagai kakakku sendiri. Kau juga menganggap aku sebagai adikmu sendiri, aku rasa begitu, yah… paling tidak selama beberapa waktu belakangan ini aku yakin kau memang menganggapku sebagai seorang adik, atau mungkin sahabat, atau mungkin teman curhat, atau apa pun istilah yang tepat.
Tapi sekarang… aku tidak yakin kau tetap menganggapku seperti itu. Ada yang berubah dari dirimu beberapa hari belakangan ini.
Aku tahu kau masih bersedih karena baru putus cinta, lagi, entah untuk yang keberapa kalinya. Tapi selama ini aku tidak pernah melihatmu berubah menjadi seperti ini. Maksudku, kau memang penuh perhatian, walaupun tidak seperhatian itu jika statusmu sedang berpacaran dengan ‘cewek A’. Kau memang selalu baik, walaupun tidak sebaik itu jika statusmu sedang berpacaran dengan ‘cewek B’. Kau juga memang selalu sering bercerita tentang semua rencanamu, walaupun kau tidak selalu sering bercerita seperti itu jika statusmu sedang berpacaran dengan ‘cewek C’.
Pokoknya kau selalu menjadi kau yang biasa, yang seolah menjaga kata ‘sahabat’ ada di antara kita, yang seolah mengingat untuk terus ‘sadar’.
Tapi kali ini berbeda.
Ada pandangan yang jauh lebih penuh arti dari pada sebelumnya. Ada pertanyaan menggantung di ujung lidahmu yang jauh lebih mendesak untuk dicari jawabannya. Ada gerak tubuh yang seolah tidak bisa ditahan untuk meraih lagi. Ada kata-kata yang seolah ingin pecah dari gelembung yang selama ini tersembunyi di sela tenggorokanmu.
Kali ini pandangan itu lebih mengunci. Kali ini pertanyaanmu membuatku bodoh, lupa bagaimana caranya menjawab, lupa bagaimana selama ini bersikap di depanmu, lupa bagaimana merangkai kata-kata dengan tepat. Kali ini tanganmu terulur penuh harap dan begitu tak ingin melepaskan saat sambutanku bertemu denganmu. Kali ini ada ungkapan rasa yang melimpah ruah dan nyaris tak bisa aku bendung dengan selayaknya.
Sungguh aneh.
Bukankah label ‘sahabat’ itu seharusnya telah tertempel kuat di antara kita? Bukankah label ‘kakak-adik’ juga sudah siap kita sematkan setelahnya? Tapi kenapa ada genggaman tangan yang mendesak itu? Kenapa ada pertanyaan yang membuat lidah kelu dan pipi memerah itu?
Ya, pertanyaan itu. Pertanyaan yang seperti pedang batu: dingin, menusuk dan mengejutkan. Selama ini aku kira pertanyaan itu hanya akan aku dengar di dalam mimpiku saja sehingga saat pertanyaan itu benar-benar keluar dari bibirmu, hanya kau yang bisa melihat dengan jelas betapa gagapnya aku.
Dan kau tahu apa yang aku lihat lagi setelahnya? Setelah pertanyaan itu terlontar dari bibirmu? Ada pertanyaan lain. Ada pernyataan yang jauh lebih banyak lagi. Ada maksud terselubung dari sebuah pertanyaan mengejutkan tadi. Ada sebuah pertanyaan lain yang bahkan belum seberapa mengejutkannya jika dibandingkan dengan pertanyaan pertamamu.
Benar begitu, bukan? Tapi kenapa kau malah tidak melanjutkan apa-apa? Lagi-lagi kau menahan diri. Lagi-lagi label ‘sahabat’ itu kau tempelkan kembali.
Tapi lihat, apa yang kau lakukan lagi setelahnya? Genggaman tangan itu? Pandangan mata itu? Dan akhirnya… kecupan lembut di puncak kepalaku? Bukan hanya satu, tapi dua kali, tiga kali!
Kau membuatku gila, kau tahu?
Tentu saja aku tidak akan melupakan semua itu. Tentu saja itu akan terpatri dengan sangat jelas di kepalaku, seolah terulang terus sepanjang waktu.
Tapi masih ada satu pertanyaan di balik semua itu, pertanyaan yang paling membuat kepalaku hampir pecah. Apakah semua itu berarti sama dalamnya bagimu? Ataukah itu hanyalah pelarianmu dari sakitnya patah hati yang kau rasakan baru-baru ini?
Aku terlalu mengenalmu. Aku terlalu tahu sifat-sifatmu, baik dan burukmu. Dan semua itu membuatku seolah dipermainkan. Aku tidak bisa membiarkan diriku sendiri terhanyut hal yang seharusnya tidak aku tanggapi seserius itu.
Aku harus terus menyadarkan diriku, mengingatkan diriku sendiri untuk terus menginjak tanah dan tidak melayang jauh, karena aku tahu pasti bahwa aku akan jatuh. Cepat ataupun lambat, aku akan jatuh. Kau akan menjatuhkanku, dan aku akan merasakan lagi sakit itu. Seharusnya aku tahu, seharusnya aku ingat.

100811 ~ Black Rabbit ~

Sekelumit Tentang Kemanusiaan


Kemanusiaan….
Kata itu terngiang-ngiang di kepalaku akhir-akhir ini, dan kata itu menjadi sangat aku pertanyakan artinya. Kata itu begitu dekat dengan manusia, seperti sesuatu yang seharusnya ada di dalam diri manusia, berasal dari dalam diri manusia itu sendiri.
Setiap manusia memiliki apa yang dinamakan dengan kemanusiaan itu, seperti sebuah nama, seperti jati diri. Kemanusiaan seperti sebuah kebanggaan yang ada di dalam diri seorang manusia, yang membuat derajat seorang manusia menjadi lebih tinggi dari pada makhluk hidup lain di dunia ini.
Kemanusiaan seperti sebuah hadiah yang sangat berharga yang diberikan khusus kepada manusia dari Yang Maha Kuasa, yang tidak diberikan-Nya kepada makhluk hidup lain. Tapi… satu pertanyaan berputar berulang-ulang di dalam kepalaku saat ini: apakah kita_manusia_masih memiliki apa yang dinamakan kemanusiaan itu di dalam diri kita?
Terdapat sebuah buku, sebuah novel fiksi percintaan_sesuatu yang tidak terlalu dianggap cukup berarti untuk dibaca oleh segelintir orang. Dalam buku ini diceritakan kisah seorang makhluk dari planet lain yang di‘transfer’ ke dalam tubuh seorang manusia bumi. Dia berbaur dengan sesamanya di bumi, mencoba hidup dengan kebiasaan yang dilakukan manusia, berkeluarga, bersahabat dan mengalami yang namanya jatuh cinta, nyaris seperti manusia pada umumnya. Tapi apa yang membedakan cerita ini dari cerita cinta biasa adalah cerita ini mengetengahkan mengenai makhluk asing yang ternyata berbeda dengan apa yang kita bayangkan sebelumnya.
Hollywood dengan film-film box office-nya telah berhasil dengan sukses menceritakan bagaimana sosok alien yang begitu menakutkan dan sangat jahat di mata manusia. Apa yang dapat mereka lakukan di bumi hanyalah membunuh manusia dan mengambil alih planet kita untuk mereka kuasai. Tapi dalam novel ini alien yang menguasai manusia digambarkan memiliki sifat yang sangat baik. Apa yang mereka lakukan setelah menguasai tubuh seorang manusia adalah menjalankan tugas manusia itu dengan baik, menuruti peraturan, bersahabat dengan alam, tidak berperang atau bermusuhan dengan orang lain. Mereka membuat keadaan bumi menjadi jauh lebih baik lagi.
Sedangkan apa yang dilakukan manusia-manusia yang sebenarnya, yang selamat dari penyerangan para alien itu? Mereka melawan, mereka berperang, mereka mencoba merebut kembali apa yang telah direbut dari mereka. Semua tindakan itu terdengar sangat biasa, terdengar alami, semua orang akan melakukan hal yang sama. Tapi bagaimana kenyataan itu bisa diterima jika ternyata tindakan mereka malah terlihat sangat tidak manusiawi?
Ada begitu banyak film yang juga menyajikan kenyataan yang sama. Beberapa film buatan Hollywood saat ini tidak hanya menyajikan gambaran manusia dengan kisah kepahlawanan mereka, bagaimana mereka memperjuangkan harga diri mereka atau bagaimana mereka berjuang untuk merebut apa yang sudah direbut makhluk lain dari mereka. Tapi sekarang ada begitu banyak film lain yang mengetengahkan kebalikan kisah-kisah itu.
Bagaimana jika ternyata manusia itu sendiri yang merupakan tokoh jahatnya? Bagaimana jika ternyata alien yang selama ini kita kenal sebagai makhluk jahat, sebagai monster, sebagai musuh, ternyata lebih memiliki hati, memiliki kemanusiaan, memiliki hati nurani dan kebaikan hati yang murni melebihi manusia, melebihi kita semua?
Kemanusiaan manusia justru di pertanyakan saat ini.
Mana kemanusiaan yang kita miliki saat kita menebang hutan yang selama ini telah dengan suka rela dan tanpa pamrih memberi kita pasokan oksigen untuk kita hirup, atau menahan aliran air yang deras saat hujan lebat turun tanpa henti, atau memberikan kita keteduhan saat matahari bersinar dengan teriknya?
Mana kemanusiaan yang kita miliki saat kita mencemari tanah yang kita pijaki dengan sampah-sampah yang kita hasilkan, saat kita dengan begitu serakah menguras semua mineral yang ada dalam perutnya, saat kita dengan seenaknya mencabuti semua tanaman yang telah ditumbuhkannya, yang telah diberinya makan?
Mana kemanusiaan kita saat tanpa peduli kita mencemari pasokan air yang ada di muka bumi ini, saat kita membunuh semua makhluk hidup yang telah dihidupinya dengan penuh sayang, saat kita menguras semua kemampuannya untuk kepentingan kita dengan egois?
Mana kemanusiaan kita saat kita membuang semua polusi yang kita hasilkan ke tengah udara yang tidak melakukan satu kesalahan pun kepada kita, saat kita memaksanya menipis dan menghilangkan satu lapisannya karena kita membuang carbondioksida dengan seenaknya?
Mana kemanusiaan kita saat kita menyalahkan mereka saat mereka akhirnya marah dan membalaskan apa yang telah kita lakukan terhadap mereka?
Hewan dan tumbuhan yang tidak berdosa dan tidak tahu menahu tentang apa pun juga telah menjadi sasaran empuk ketamakan kita. Pohon rela mati demi kita saat kita menebangnya untuk menghasilkan kertas dan mengahambur-hamburkannya seolah mereka dapat memberikan apa yang kita inginkan lagi dengan kecepatan seperti membalikkan telapak tangan. Semua hewan tak pernah mengeluh saat kita membunuhnya untuk memenuhi keinginan kita merasakan kenikmatan daging mereka, memperpanjang umur kita, memperpanjang penderitaan mereka.
Lihat betapa egoisnya kita, lihat betapa kuatnya mereka bertahan, lihat betapa marahnya mereka saat pada akhirnya mereka tidak lagi bisa menolerir apa yang selama ini telah kita lakukan terhadap mereka.
Dan pernahkah kita berkaca bahwa apa yang telah kita lakukan telah merusak semua keseimbangan yang seharusnya ada di antara kita dan mereka? Kemanusiaan sudah tidak ada lagi dalam diri manusia, digantikan dengan ketamakan, keegoisan, keinginan dan kebutaan. Perang disulut demi mendapatkan wilayah, alam dirusak demi mendapatkan harta dan hewan dibunuh demi mendapatkan kepuasan. Tidakkah manusia sadar bahwa apa yang mereka bawa adalah kehancuran, kerusakan, kebinasaan? Bukan manusia yang menjadi korban saat ini, tapi merekalah yang menjadi penjahatnya, predator dan penghancur paling kuat di seluruh dunia.
Tidakkah manusia sadar bahwa apa yang mereka butuhkan untuk merasa bahagia bukanlah kepuasan yang bersifat bananiah seperti itu? Bagaimana dengan jiwamu? Bagaimana dengan hatimu? Apa kau dapat merasakan bagaimana kepedihan alam saat kau menghancurkannya? Apakah tentram hatimu saat keseimbangan itu dihancurkan? 
Keseimbangan antar makhluk, semua itu mungkin bisa mengatasi segala kerusakan. Jika saja manusia sadar bahwa alam dan hewan dan semua hal yang ada di dunia adalah sahabat yang seharusnya dijaga, yang seharusnya dijadikan teman, bukan musuh yang harus dihancurkan, akankah kedamaian tercapai?

181209 ~ Black Rabbit ~

Managemen Ikhlas


Kalau saja tidak ada keinginan untuk mencari suasana yang lebih menarik dari pada ini, kalau saja kebosananku tidak begitu menguasai dan mengikatku dengan begitu kencang, selalu saja memintaku untuk memberontak dan mencari sesuatu yang baru, yang lebih segar, yang tidak membosankan, yang bukan itu-itu saja, yang diluar kebiasaaan. Tentu saja aku tidak akan selalu merasa semenyedihkan ini. Obsesiku kadang terlalu tinggi, sifat perfeksionisku terlalu mengaturku, membuatku menjadi begitu idealis dan kaku, dan keras kepala, dan menyebalkan. Tapi apa yang harus aku lakukan untuk bisa mengerem diriku sendiri? Apa yang harus aku lakukan untuk menghentikan banjiran pertanyaan dan luapan adrenalin yang mencoba memberontak keluar dari dalam diriku ini? Bagaimana? Malah kadang kala aku sendiri tidak tahu apa yang aku butuhkan, apa yang ingin aku lakukan untuk memuaskan rasa ingin tahuku yang membingungkan ini. Aku bingung dengan diriku sendiri dan ini membuatku merasa seperti orang gila, yang punya kepribadian ganda, triple, bahkan lebih dari itu. Aku takut kalau aku akan menjadi orang gila….
Aku harus belajar untuk bisa menerima segalanya dengan lapang dada. Apa yang aku terima sudah pasti apa yang memang harusnya aku terima, aku harus meyakini hal ini. Tapi… susahnya, selama ini aku berpikir kebalikannya. Jika aku ingin mendapatkan segala sesuatu dengan kualitas paling baik, maka aku harus mengerahkan segala kemampuan dan kekuatan yang aku punya dengan sebaik-baiknya terlebih dahulu. Karena apa yang diawali dengan baik akan berakhir dengan baik pula.
Tapi kadang pada kenyataannya apa yang kita terima terasa tidak sebanding dengan apa yang telah kita kerahkan dengan sekuat tenaga. Itu membuatku kecewa, sering kali membuatku kecewa. Nah… itulah gunanya aku belajar untuk bisa menerima semuanya dengan lapang dada, benar kan? Kita tidak bisa menerima semua yang kita inginkan, karena belum tentu semua itu memang yang terbaik bagi kita. Yakinlah bahwa Tuhan lebih tahu apa yang paling baik untuk kita, maka dari itu Dia memberikan apa yang terbaik bagi kita, bukan apa yang kita inginkan. Karena itu, belajarlah untuk selalu memberi yang terbaik tanpa pamrih, tanpa perlu berpikir apa yang akan kita terima di masa yang akan datang. Anggap saja investasi, suatu saat kita akan menerima keuntungannya dengan berlipat ganda, tentunya semua akan indah pada waktunya nanti.
Tidak akan mudah untuk melakukannya, aku tahu itu. Tapi berusahalah terus, walaupun sering kali kau merasa lelah dan ingin berhenti. Tidak ada salahnya merasa kesal, kecewa dan marah, itu sangat manusiawi. Tapi_sekali lagi_yakinlah bahwa semuanya akan indah pada waktunya.
Just believe it….
071209 ~ Black Rabbit ~

Beberapa Waktu Belakangan Ini


Jika aku sedang tidak berada di sini, mungkin aku tidak akan bisa mengagumi sesuatu. Aku bahkan tidak ingat apakah aku pernah mengagumi sesuatu beberapa waktu belakangan ini. Tapi hei, aku sekarang berada di sini, di negeri singa, sudah seharusnya aku mengagumi sesuatu.
Aku tahu akan terdengar sangat sombong jika aku mengatakan alasan apa sebenarnya aku pergi ke tempat ini. Aku hanya ingin keluar dari rutinitas harianku, menemukan suasana baru untuk memperbaharui lagi semangatku. Aku bahkan sempat berpikir untuk mematikan semua ponselku. Aku hanya ingin beristirahat sejenak dari mereka yang biasanya merecokiku dengan urusan pekerjaan setiap harinya.
Tapi aku tidak bisa melakukannya, maksudku mematikan semua ponselku. Karena dia masih akan menghubungiku lagi.
Aku rasa aku tidak akan keberatan kalau dia yang menghubungiku, hanya dia, jangan orang lain. Karena hanya dengan membaca pesan yang dikirimkannya saja sudah bisa membuatku senang.
Tapi sayang, dia tidak berada di sini denganku.
Andai saja dia memang ada di sini pastinya aku akan merasa lebih senang dari pada ini. Dia memang selalu bisa membuatku senang, tersenyum, tertawa. Sesuatu yang tidak bisa aku lakukan sendiri tanpa bantuannya dalam beberapa waktu belakangan ini. Tepatnya waktu-waktu di mana aku belum mengenalnya. Waktu di mana dia belum menjadi penyemangatku.
Kalau dipikir-pikir, rasanya dia sudah berubah menjadi seseorang yang penting bagiku. Aku tidak pernah merasa seperti ini sejak kisah menyakitkan itu menusuk hatiku dengan begitu dalam. Ketika itu aku kira tidak akan pernah bisa merasakan kegembiraan lagi. Rasanya seluruh tenagaku terkuras habis saat aku mempertanyakan segala yang terjadi.
Untuk apa kasih sayang yang telah aku berikan selama bertahun-tahun jika sakit hati yang aku terima sebagai balasan?
Aku meneriakkan kata-kata itu selama beberapa waktu, selama luka itu masih berdenyut menyakitkan. Dan sekarang dengan senang hati aku umumkan bahwa luka itu perlahan mengering dan sembuh. Memang akan meninggalkan bekas, tapi tidak apa-apa, aku bisa memaklumi bekas itu.
Tapi...
Andai saja aku bisa memilih untuk tidak menerima luka lain, luka baru yang akan terasa lebih menyakitkan dari pada lukaku sebelumnya, tentu aku akan memilih itu. Tapi aku tidak bisa memilih. Aku hanya bisa menerima.
Tepat saat aku mengira akan bisa menemukan seseorang, aku malah harus menerima kenyataan bahwa dia bukan untukku.
Seharusnya aku tidak perlu mengharapkan apa-apa lagi. Seharusnya aku memutuskan untuk langsung pergi menjauh begitu menerima kenyataan yang satu ini.
Seharusnya memang begitu. Andai saja aku bisa berbuat seperti itu sejak awal. Tapi aku malah memilih untuk menipu diriku sendiri. Mengatakan kepada diriku sendiri kalau semuanya akan berjalan lancar. Aku akan bisa mendapatkan dia suatu saat nanti, bagaimanapun caranya. Yang aku perlukan hanya bersabar dan menunggu. Hanya itu, sesimple itu.
Aku tahu, aku salah.
Seharusnya aku lebih memperhatikan lagi sebuah teriakan yang terus bergema di sudut hatiku. Selama ini aku hanya berusaha tidak peduli, menulikan telinga dan menganggap semua teriakan itu hanyalah sekumpulan lebah di taman.
Dia bukan untukmu.
Kata-kata itulah yang bergema berulang-ulang di dalam kepalaku.
Ya-ya... aku tahu! Demi Tuhan, kau tidak perlu berteriak sekencang itu!
Aku hanya tidak ingin memikirkannya, memikirkan semua itu hanya akan mengesahkan semuanya. Meresmikan kenyataan itu dan membuatku benar-benar terluka.
Untuk apa aku melukai diriku sendiri? Dia bahkan tidak pernah membuatku berpikir untuk melukai diriku sendiri. Dia menerimaku, dia tidak meninggalkanku sendirian, tidak peduli apa status yang di sandangnya.
Memang, kalian menyebutnya pengkhianatan, tapi aku memanggilnya kesediaan. Dia tetap bersedia menganggapku sebagai seseorang yang spesial, memberikan penyembuh bagi lukaku. Apa lagi yang bisa aku lakukan selain berterima kasih?
Aku tidak mau semua ini berakhir. Aku tahu akan merasakan rasa sakit itu lagi, tapi toh aku memutuskan untuk tidak mengingat kemungkinan itu dulu. Biarkan saja dia tetap menjadi seseorang di dalam kehidupanku yang menempati tempat yang lebih spesial dari pada orang lain. Biarkan saja seperti ini, aku hanya ingin menikmati semuanya terlebih dulu, sebelum aku merasakan lagi rasa sakit itu, rasa sakit yang aku takutkan beberapa waktu belakangan ini.
Udara di negeri singa ini benar-benar cerah, waktu yang tepat untuk melakukan kunjungan wisata. Aku masih berusaha melupakan kenyataan tentang ketidakhadirannya di sini, di sampingku, menemaniku. Aku berjalan ke sebuah toko souvenir. Ada sebatang coklat di sana, kelihatannya cukup untuk oleh-oleh.

 
200611 ~ Black Rabbit ~

Lama-lama Aku Bisa Gila


Satu menit…
Dua menit…
Tiga menit…
Ya ampun, aku tidak tahan lagi, lama-lama aku bisa gila!
Aku sudah menatap jam yang tergantung di dindingku sedari tadi, tapi jam itu sama sekali tidak bergerak! Pasti ada yang salah. Jangan-jangan jam itu sudah rusak, atau baterainya habis, kalau tidak kenapa jarum jamnya sama sekali tidak bergerak? Aku harus segera menggantinya.
Aku tahu dan aku harus mengakui kalau dalam beberapa jam belakangan ini aku terlalu sering melirik jam itu. Dia bergerak terlalu lama, aku butuh waktu berjalan cepat sehingga aku tidak merasa tersiksa seperti ini.
Aku menunggu malam menjadi semakin larut karena dengan begitu aku tahu bahwa apa yang aku tunggu selama ini akan segera aku dapatkan. Bukan-bukan, aku bukannya menunggu sesuatu, tapi aku menunggu seseorang. Akan ada seseorang yang menghubungiku saat malam sudah semakin larut. Bukan untuk berpamitan tidur, tapi untuk mengatakan bahwa dia sudah aman berada di rumah. Dia memang selalu melakukan hal seperti itu setiap harinya, seolah kebiasaan itu adalah hal keramat baginya setiap kali menginjakkan kaki pertamanya di rumah untuk menghubungiku dan melapor kepadaku bahwa dia sudah pulang.
Khusus untuk hari ini, aku mau kebiasaan itu dia laksanakan secepat mungkin. Soalnya ada sesuatu yang sangat ingin aku dengar darinya. Sesuatu yang pastinya akan membuatku menjadi sangat tenang, tidak kalut seperti ini.
Jujur saja, itu bukan sesuatu yang cukup penting. Aku dan dia hanya belum bertemu selama kurang dari dua puluh empat jam. Tapi hanya karena itu, pikiranku berubah menjadi sangat kalut dan sebentar lagi aku bisa gila. Ada sesuatu yang harus aku bicarakan dengannya. Sesuatu yang berhasil menyebarkan ketakutan kepadaku hanya dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam. Sesuatu yang bisa membuatku sesak napas dan jantung berdebar kencang.
Hanya satu yang aku rasakan: aku takut.
Aku akan menghadapi situasi yang sama sekali baru, yang berhubungan denganmu. Aku tahu, situasi baru itu sebenarnya belum tentu akan berdampak buruk. Siapa tahu situasi itu malah akan berdampak sangat bagus untukmu, untuk masa depanmu, yang berarti akan bagus juga untuk masa depanku. Tapi tetap saja rasa takut itu menguasaiku dengan begitu jahatnya dan nyaris saja tidak menyisakan sedikit akal sehat dalam otakku.
Aku tahu-aku tahu. Situasi itu bahkan belum kita jalani, baru akan kita hadapi. Tapi coba lihat dampaknya? Bahkan belum mulai saja aku sudah sebegitu takut!
Mungkin aku saja yang pengecut. Bersikukuh untuk terus mendorongmu maju, tapi akhirnya takut saat melihat kau mulai melangkah dan meninggalkanku sendirian.
Atau mungkin aku saja yang terlalu manja. Terbelalak ngeri hanya karena melihatmu berada satu langkah lebih jauh ke depan dan kelihatannya akan melupakanku.
Padahal aku tahu, kau sama sekali tidak memiliki niat bahkan secuil pun untuk meninggalkanku atau melupakanku. Kau hanya berusaha melangkah untuk lalu menyeretku ikut.
Benar, kau memang perlu menyeretku bersamamu, memaksaku meninggalkan zona nyamanku dan membiarkanku merasakan sendiri keadaan yang aku takutkan itu. Karena dengan begitu aku akan tersadar bahwa ketakutanku itu hanyalah hal bodoh belaka. Aku toh tidak akan terjatuh ke jurang, aku toh tidak akan kehilangan nyawa, aku toh akan merasa senang juga karena pada akhirnya langkah yang kita tempuh bersama itu ternyata adalah langkah berikut untuk meraih kebahagiaan kita.
Baiklah aku harus jujur sekarang.
Aku hanya takut kehilanganmu. Aku takut kau melangkah tanpaku dan mencampakkanku begitu saja saat aku merasa bahwa tidak akan ada yang bisa melangkah bersamaku selain dirimu. Aku hanya takut kau lupakan, menjadi orang asing yang akan kau jauhi dan kau gantikan dengan     orang lain sementara aku sendiri tidak bisa lagi berpikir apakah akan ada orang lain yang bisa mengisi hatiku selain dirimu. Aku hanya takut kau akhirnya melihat bahwa aku bukanlah seseorang yang layak kau perjuangkan lagi. Ada begitu banyak orang lain yang jauh lebih berharga untuk diperjuangkan, jauh lebih indah, jauh lebih menarik. Jika dibandingkan denganku maka kau hanya akan menemukan itik buruk rupa di antara angsa-angsa cantik dan anggun.
Aku takut, aku pengecut.
Aku manja, aku egois.
Tapi bagaimana aku tidak merasa seperti itu jika yang aku perjuangkan adalah seonggok emas paling berharga yang aku temukan di tumpukan tembaga?
Jadi tolonglah, hubungi aku sekarang juga. Buat semua ketakutanku itu pergi dan biarkan aku bisa bernapas lega. Sesak napas yang aku rasakan semakin menyiksaku dan lama-lama aku akan kehilangan kemampuanku untuk bertahan hidup.
Aku benci harus merasakan perasaan seperti ini lagi. Aku tahu kau pun akan merasa kesal jika aku mengatakan penyakit apa yang akhirnya menggerogotiku lagi. Tapi semua ini adalah salahmu juga. Kau yang membuat penyakitku kumat lagi, jadi kau sendiri yang harus mengobatinya.
Oh, aku ingat sekarang.
Kaulah yang berhasil mengobatiku saat terakhir kali penyakit itu menyerangku. Entah apa obat yang kau berikan kepadaku, aku sendiri tidak tahu. Tapi obat itu sangat ampuh, dapat menyembuhkan hanya dalam hitungan detik. Karena itu kau harus segera mendatangiku. Kau harus segera menyembuhkanku. Hanya itu satu-satunya jalan agar aku bisa sembuh, tidak bisa dengan obat lain ataupun dengan orang lain. Hanya kau.
Jadi, bisakah kau hubungi aku saat ini juga? Aku mohon cepatlah, aku sudah mulai sekarat!
Oh ya ampun, ternyata jam itu tidak rusak. Aku meliriknya lagi dan akhirnya menemukan jarum panjang jam itu sudah maju beberapa menit. Tidak terlalu banyak bergerak, tapi paling tidak itu meyakinkanku bahwa jam itu memang tidak rusak sehingga aku tidak perlu mengganti baterainya ataupun membuangnya dan membeli jam baru.
Tapi… masih ada begitu banyak waktu sebelum aku bisa mendapatkan ponselku berdering dengan caller id yang menunjukkan nama orang yang aku tunggu sedari tadi!
Benar deh, aku rasa aku akan jadi gila!

 
200111 ~ Black Rabbit ~

… Kalau Saja …


Ada sebuah jeritan terdengar dari dalam hatiku. Jeritan seseorang, bukan aku, tapi anehnya terdengar begitu dekat dalam diriku. Seolah sebagian dari diriku sendiri yang menjerit, bukan orang lain. Itu jeritan kesakitan, tapi bukan karena luka bakar, luka iris atau luka lainnya, melainkan luka yang lain, yang lebih menyakitkan, yang lebih menakutkan. Aku hanya bisa menebak bahwa itu adalah luka hati…
Kenapa semua hal harus begitu sulit untuknya? Mengapa ada begitu banyak rintangan yang harus dihadapinya tanpa bisa ditinggalkan begitu saja? Tidak bisakah dia lari dari semuanya dan memutuskan untuk melewati rintangan yang lain saja asal jangan rintangan yang satu ini? Aku tahu dan merasakan bahwa hatinya sudah hancur berkeping-keping tanpa perlu dihancurkan dengan masalah yang satu ini. Dan bisakah semuanya berjalan lancar untuknya, kali ini saja? Dia telah memutuskan begitu banyak hal yang besar dalam dirinya. Semua menguras tenaganya, menguras setiap rasa di dalam hatinya, membuatnya merasa tidak lagi memiliki sisa rasa yang bisa diperasnya untuk merasa sedikit bahagia. Dia hanya ingin berbahagia, sama seperti orang lain, sama seperti kita. Tapi kebahagiaan itu begitu sulit untuk diraih baginya. Seperti bintang, yang letaknya terlalu jauh untuk bisa di capai. Dan kali ini dia harus menggantung kebahagiaan orang yang paling dekat dengannya demi mendapatkan kebahagiaannya sendiri.
Kenapa begitu? Kenapa harus ada seseorang yang menderita lebih dulu agar dia bisa merasakan kebahagiaan? Kenapa? Kenapa? KENAPA?!?!? Dan kenapa dia harus mempertaruhkan kebahagiaannya dengan kebahagiaan ayahnya sendiri? Itu adalah hal yang paling berat yang harus di laluinya, aku yakin itu. Mencoba merasakan perjuangannya saja sudah membuatku merasa tersayat-sayat, seolah ada seseorang yang memaksaku untuk bunuh diri, atau membunuh orang lain agar tetap hidup. Tapi bagaimana jika apa yang dipertaruhkannya adalah sesuatu yang sangat diidamkannya, sesuatu yang tidak bisa disangkalnya akan bisa membuatnya berbahagia, lahir dan batin? Jelas saja, dia tidak bisa memutuskan keduanya, dia harus memilih salah satu, atau dia bisa memilih pilihan ketiga, yaitu membiarkan dirinya sendiri ikut menderita bersama kedua korbannya.
Dan ada sebuah kekecewaan besar lain yang aku rasakan. Lagi-lagi bukan diriku yang merasakannya, tapi terasa begitu dekat, seolah sebagian lain dari diriku yang merasakan kekecewaan itu. Rasanya sakit sekali, seperti menusuk hatiku, seperti menyayat, seperti membakar. Dan rasanya luka itu tidak akan bisa hilang dan sembuh, akan menjadi cacat seumur hidup, membuatku teringat akan sakitnya, tak akan pernah lupa. Aku merasakan sakit hati itu, perasaan terhina itu, perasaan dikhianati…
Memang, rasanya sakit sekali. Seperti ada seseorang yang menusukmu dari belakang, seseorang yang dekat… anakmu sendiri, darah dagingmu… Aku meneteskan air mata kepedihannya, aku merasakan kesesakannya, rasanya begitu menyakitkan, membuatku ingin berteriak, ingin lari, ingin lepas dari semua belenggu itu, berharap semuanya tidak kacau seperti ini. Tapi kenyataan telah menggariskan nasibnya dengan seenaknya, tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu. Itu membuatnya merasa semakin terkhianati. Bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa semuanya bisa berubah menjadi kacau begini? Kenapa? Apa? Bagaimana bisa? KENAPA?!?!? Apa lagi yang mereka inginkan darinya? Dia telah berusaha untuk bersabar sejauh ini, berusaha menerima semua perubahan yang ada padahal dia sama sekali tidak menginginkan semua itu terjadi. Harga dirinya jatuh dan hancur berkeping-keping saat partner hidup yang dipilihnya telah mencuranginya. Semua kehancuran itu berawal dari sana. Dari satu titik tuba yang menetes dan mencemari semuanya. Setelah itu nama baiknya tercoreng dengan kelakuan darah dagingnya sendiri, dua sekaligus. Mereka menusuk punggungnya dari belakang dan membiarkannya tersungkur jatuh ke lubang malu dan keputusasaan yang dalam tanpa bisa menyelamatkan diri.
Dia hanya ingin berbahagia, membangun rumah dengan pondasi yang di bangunnya sendiri dan mempertahankan rumah itu dari segala macam badai dengan usaha kerasnya. Dia hanya ingin berbahagia dengan prinsip-prinsipnya, dengan apa yang diyakini akan dapat membahagiakannya dan keluarganya. Tapi kenapa dia malah dikhianati oleh darah dagingnya sendiri? Seolah mereka telah meracuninya secara perlahan dan membiarkannya sekarat. Dan sekarang apa lagi yang mereka inginkan? Setelah dia menginjak-injak harga dirinya sendiri, setelah dinding yang telah dibangun dengan keringatnya harus dia hancurkannya sendiri, setelah dengan hati yang hancur berkeping-keping yang telah dengan suka rela dia lem kembali untuk menerima semua kenyataan yang ada. Sekarang mereka menginginkannya untuk menjatuhkan dirinya lagi ke jurang yang sama? Betapa kejamnya? Tidakkah mereka tahu seberapa hancur hatinya? Seberapa dalam luka baru yang mereka timbulkan sementara luka lama itu masih tetap membekas dan terus saja berdenyut-denyut menyakitkan sampai sekarang? Kali ini aku yakin, dia tidak lagi memiliki stok kesabaran yang selama ini selalu dia keluarkan jika menghadapi situasi seperti ini. Dia tidak lagi bisa bersabar, tidak lagi bisa menerima semuanya begitu saja. Ini bukan masalah sepele, ini tentang masa depan mereka. Dia harus memegang prinsipnya kali ini, prinsip yang dia anggap paling benar. Prinsip yang paling didasari oleh instingnya sebagai seorang ayah.
Aku berada di antara dua pilihan yang begitu sulit untuk diputuskan. Salah satunya adalah sebelah hatiku dan yang lainnya adalah darahku. Keduanya adalah unsur paling penting dalam hidupku dan keduanya adalah penentu hidup matiku, penentu kebahagiaanku sendiri. Bagaimana aku bisa hidup tanpa sebelah hatiku? Dan bagaimana pula aku bisa hidup tanpa aliran darahku? Dan apa yang harus aku lakukan? Keduanya berhak untuk diperjuangkan, dipertahankan, dibahagiakan; tapi keduanya tidak bisa sejalan. Mereka memilih jalan mereka masing-masing, tapi sayangnya kedua jalan itu sangat berbeda, jauh berbeda. Tidak mungkin menyatukan keduanya pada satu jalur yang sama karena mereka memiliki keyakinan mereka masing-masing yang nyaris tidak bisa digoyahkan, tidak bisa dirayu. Hanya mereka sendiri yang bisa menyatukan jalan mereka. Hanya saling pengertian yang bisa menolong mereka, keinginan untuk melihat masing-masing diantara mereka berbahagia, walaupun dengan cara mereka masing-masing. Mereka harus bisa saling jujur satu sama lain, saling mengerti, saling memaklumi, saling meminta maaf karena jalan yang mereka pilih berbeda. Aku tidak bisa memutuskan harus memihak ke mana. Pilihan itu tidak akan bisa aku lakukan. Semuanya membingungkanku, semuanya membuatku sedih, seolah aku dapat merasakan segalanya dari kedua sisi. Itu menyakitkan, itu menyesakkan, itu membuatku sendiri ingin bunuh diri. Kalau saja kekacauan ini tidak dibiarkan terjadi begitu saja sejak awal. Kalau saja perbedaan itu sudah diantisipasi sejak pertama kali mencuat ke permukaan, kalau saja keduanya bisa saling memahami dan menerima dengan lebih lapang dada, kalau saja…
Kalau saja aku tidak berada di tengah semua kerumitan ini…
Kalau saja…

 
201209 ~ Black Rabbit ~

Cuplikan Buku Harian Rab


Hari ini aku pulang cukup malam dengan badan yang capai dan kaki yang pegal. Sepulang dari kantor tadi aku harus langsung pergi untuk bertemu dengan salah satu teman sekolahku dulu untuk mengadakan acara reuni kecil-kecilan. Saat masuk ke dalam kamar, aku melihat dia sudah tertidur di samping tempat tidurku, dengan laptop yang masih menyala dan novel yang sedang dibacanya tergeletak di sampingnya, sepertinya baru saja dibaca sedikit. Aneh, dia tidak pernah membiarkan laptopnya aktif begitu saja, dia juga tidak pernah meninggalkan bukunya tanpa selesai membaca setidaknya pada akhir setiap bab. Memang, beberapa hari ini aku merasa ada sesuatu yang aneh pada dirinya, ada yang sedang dipikirkannya, dan itu membuatnya stress, tapi aku tidak yakin masalah apa.
Aku melangkah mendekatinya dengan sangat pelan, berusaha tidak menimbulkan suara sedikitpun sehingga dia tidak terbangun dari tidur yang kelihatannya nyenyak itu. Dia kelelahan, dia sepertinya memang butuh banyak istirahat. Setelah merapikan bukunya, aku beranjak menarik laptopnya dari atas tempat tidur, tapi saat aku baru saja berniat mematikan laptop itu, aku tertarik membaca apa yang tersaji di layarnya.
Sepertinya itu adalah buku hariannya. Aku tahu dia memang sering menulis buku hariannya di laptop ini, tapi tentu saja aku tidak pernah membacanya sedikitpun karena data itu dilindungi dengan password. Tapi data itu sekarang terbuka, tampaknya secara tidak sengaja dia telah meninggalkannya dalam keadaan terbuka. Tiba-tiba terbersit niatku untuk membacanya. Sedikit saja, aku janji tidak akan membaca terlalu banyak. Bagaimana pun kalau dia tidak tahu aku membaca buku hariannya tentu dia tidak akan marah, betul kan?
Baiklah, aku akan mulai membacanya. Hanya sedikit, aku janji.

 
Ada yang tidak beres denganku hari ini. Aku tidak yakin itu apa, tapi semua itu membuat suasana hatiku menjadi jelek. Aku memikirkan sesuatu, dan gawatnya itu adalah sesuatu yang seharusnya tidak aku pikirkan. Aku memikirkan seseorang yang salah, seseorang yang sebetulnya tidak aku kenal.
Semua ini bermula dari sebuah ketidak sengajaan. Aku berkenalan dengannya melalui media yang tadinya aku kira sangat tidak mungkin aku yakini. Dunia maya, dunia yang teralu absurd, yang tidak nyata, dunia yang aku remehkan. Disitulah aku mengenalnya.
Aku sama sekali tidak percaya dengan cinta pada pandangan pertama. Bagiku pribadi, aku harus sangat mengenal orang itu sebelum bisa menyakinkan diriku untuk menerimanya menjadi seorang teman atau pun sahabat. Jangankan untuk seorang tambatan hati, aku bahkan hanya memiliki beberapa orang sahabat yang banyaknya masih bisa dihitung dengan jari pada salah satu tanganku saja. Aku juga tidak suka berkenalan dengan seseorang yang sama sekali asing melalui media yang tidak aku kenal dengan baik. Bagiku, cara seperti itu terlalu banyak kemungkinan dan kesempatan untuk berbohong. Biasanya orang-orang yang berusaha mengajakku mengobrol melalui media itu hanya aku tanggapi seadanya, bahkan mungkin cenderung ketus.
Tapi dengan dia semua itu berbeda.
Sejak sapaan pertama, ada sesuatu yang berbeda darinya. Ada sebuah keyakinan, entah dari mana, yang mengatakan bahwa kami berkenalan berdasarkan itikad baik. Dan bahkan ada sebuah suara kecil dari sudut hatiku yang mengatakan bahwa dia adalah orang yang aku cari selama ini, seseorang yang bisa menjadi sangat berarti bagiku. Aku tahu ini bodoh sekali. Bagaimana aku bisa merasakan dan berkata seperti itu padahal aku bahkan tidak pernah bertemu dan berbicara langsung dengannya? Tapi aku sudah berjanji dengan hatiku sendiri bahwa aku tidak akan membohongi diriku sendiri lagi. Seberapa pun memalukannya perasaan itu, seberapa pun menyebalkannya pikiranku dan seberapa pun konyolnya itu, aku akan berusaha jujur dengan diriku sendiri. Hanya itu yang bisa aku lakukan untuk menghargai diriku sendiri. Karena itulah aku tidak akan menyangkal bahwa memang perasaan itulah yang aku rasakan saat pertama kali berbicara dengannya.
Walaupun begitu, bukan berarti aku tidak meyakinkan diriku sendiri sebelumnya. Aku bertanya dengan blak-blakan kepadanya tentang motifnya ingin berkenalan dan mengobrol panjang lebar denganku. Bagaimana pun, tidak akan semudah itu seseorang mau mengobrol panjang lebar dan menceritakan kisah hidupnya kepada orang asing. Paling tidak, aku bersikap seperti itu. Mungkin saja dia hanya ingin mempermainkan aku, atau bercanda dan menggangguku seperti kebanyakan pria iseng dimuka bumi ini. Atau mungkin dia sama seperti pria hidung belang lainnya yang akan berbuat sangat kurang ajar jika akhirnya aku dan dia kopi darat nantinya. Tapi dengan entengnya dia hanya berkata: " Maksudmu aku hanya ingin mempelajari anatomi tubuh seorang gadis? Yang seperti itu banyak di buku pelajaranku. ".
Yah, dia memang seorang calon dokter, tapi aku tidak yakin semua calon dokter akan berpikir seperti itu. Jujur saja, dia memang berbeda dengan semua pria yang pernah aku kenal. Semua kata-katanya, cara bicaranya ( walaupun itu cuma aku ketahui dari tulisan-tulisannya ) dan juga sikapnya yang sangat perduli itu terlihat tulus. Seolah dia memang benar-benar perduli denganku, tidak ada alasan yang lain. Hanya perduli, itu saja.
Tapi, aku sendiri tidak bisa seyakin itu. Bukan dengannya, tapi dengan diriku sendiri.
Aku tidak yakin apa aku benar-benar bisa menerima semua itu. Maksudku, semua ini adalah sebuah pengalaman baru bagiku, sesuatu yang tidak pernah aku rasakan dan aku alami sebelumnya. Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana, aku tidak tahu harus mengatakan apa. Bagaimanapun perhatiannya, bagaimanapun sikap manisnya, aku tetap tidak bisa menerima teori itu. Bagaimana mungkin aku bisa menaruh hati kepada orang asing?
Dia tidak tahu apa-apa mengenai aku, dia tidak tahu mengenai kisah hidupku yang kacau, dia tidak tahu mengenai keluargaku yang memalukan. Dia sama sekali tidak mengenal aku, jadi bagaimana mungkin dia bisa begitu saja ingin dekat denganku? Itu tidak masuk akal, sama sekali tidak masuk akal. Aku bukanlah seorang gadis baik, aku jelek, begitu penuh dengan kekurangan, dan dengan semua sifat jelekku… bagaimana mungkin ada orang lain yang mau mengerti semua itu, memakluminya dan menerima aku begitu saja? Tidak, tidak akan ada orang lain yang akan bisa memahami. Aku bahkan nyaris percaya bahwa tidak akan ada orang lain di dunia ini yang mau menerima semua kekuranganku itu. Aku terlalu buruk, terlalu jelek, terlalu memprihatinkan.
Karena itulah aku tidak berani menerima tawarannya untuk bertemu. Aku tahu dia telah berusaha menyempatkan diri untuk bertemu denganku, aku tahu dengan penolakanku itu dia pasti akan sangat tersinggung. Tapi sungguh, aku tidak bisa membiarkan diriku melakukannya dan pada akhirnya malah mempermalukan diriku sendiri! Tidak bisa, aku tidak mau.
Sekarang aku benar-benar telah membohongi diriku, aku mengingkari kata hatiku sendiri. Tapi kali ini aku memaafkannya. Aku yakin aku harus melakukannya, kalau tidak aku akan membuatnya kecewa. Aku bahkan sudah membuatnya kecewa dengan segala perhatian berlebihan yang seharusnya tidak aku berikan kepadanya. Aku yakin sikapnya yang berusaha menahan diri dan sopan itu karena dia juga sangat menghormatiku, menghormati statusku yang tidak sendiri lagi.
Jadi kali ini biarkan saja aku berbohong dengan hatiku, melakukan sesuatu yang bertentangan dengan keinginan hatiku sendiri. Aku tidak mau kehilangan dia yang sudah seperti kakak pribadiku_sosok yang sebenarnya aku cari-cari selama ini_tapi aku juga tidak bisa memaksakan kehendakku yang akan menyakitinya pada akhirnya.
Benar, aku harus berbohong dengan diriku sendiri. Kali ini saja. Biarkan saja.

 
~ Rab ~

 
Ya ampun, aku tidak sadar kalau aku sudah membaca semuanya! Memang aku tidak membaca semua datanya yang aku yakin sudah dia isi sejak awal tahun, tapi tetap saja aku sudah membaca terlalu banyak! Aku tidak sengaja, sungguh! Aku tahu seharusnya aku berhenti membaca sejak paragraf pertama, tapi aku tidak bisa mencegah keingintahuanku karena siapa tahu dengan membaca ini aku bisa mengerti apa yang sedang dipikirkannya selama beberapa hari ini dan yang membuatnya begitu stress.
Aku tahu, aku mengaku salah.
Tapi, kalau memang semua itulah yang dipikirkannya selama ini, berarti dia memang sedang mengalami masalah yang cukup serius. Masalah percintaan memang selalu menjadi masalah serius, tapi kalau itu adalah masalah percintaan di dunia maya? Apa lagi dia juga sampai-sampai harus membohongi dirinya sendiri. Itu tidak sehat, tidak baik untuk dirinya sendirri. Ya ampun, itu jauh lebih serius lagi.
Aku tidak akan menanggapi apa-apa lagi, aku juga sudah tidak tahu harus menanggapi bagaimana. Tapi yang jelas aku bersyukur karena sudah sedikit mengerti bagaimana situasi yang sedang dihadapinya. Paling tidak dengan begini aku bisa memutuskan harus memilih bersikap bagaimana untuk menanggapinya nanti.
Tenang, aku akan berusaha menjadi seorang kakak yang paling baik baginya, yang akan terus mendukung dan menuntunnya di jalan yang benar.
Aku janji, jadi jangan khawatir.

 
200910 ~ Black Rabbit ~