Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

LIFT LOVE


Aku sedang membayangkan bagaimana kalau aku menderita phobia tempat tertutup? Mungkin aku akan sangat ketakutan sekarang, panas dingin dan keringat bercucuran. Bukan karena kepanasan, tapi karena menahan takut. Soalnya sekarang aku sedang berada di dalam lift yang akan membawaku turun dari lantai dua puluh sebuah hotel mewah menuju lantai dasar. Dibutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk turun ke lantai dasar_perlu lima belas menit bahkan dua puluh menit kalau lift ini berhenti di setiap lantai yang dilewatinya. Ya, inilah tandanya jika dunia sudah berkembang jauh lebih modern, gedung-gedung bertingkat di bangun menjulang setinggi-tingginya, seolah mencoba melampaui awan. Dan lift sudah tidak asing lagi digunakan, sehingga para phobia tempat tertutup harus terbiasa dengan lift karena terpaksa harus menggunakan lift tertutup selama beberapa menit tiap harinya. Tapi untunglah aku tidak menderita penyakit seperti itu. Aku hanya sedang berada di dalam lift dan tidak tahu harus melakukan apa selama dua puluh menit kedepan, jadi aku melamun saja memikirkan para phobia tempat tertutup.
Kalau tidak karena Tante Susan, tentu aku tidak akan berada di dalam lift ini, atau malah aku tidak akan pernah mengunjungi hotel ini. Inikan hotel besar yang super terkenal, hotel bintang lima yang memiliki dua puluh lantai, dengan landasan helikopter di lantai teratas, tiga kolam berenang outdoor bertaraf internasional ( tidak perlu bertanya bagaimana aku tahu mengenai fasilitas hotel ini, pokoknya aku tahu! ). Sangkin terkenal dan mewahnya, hotel ini menjadi pilihan pertama bagi para turis dan pejabat untuk menginap walaupun harus membayar jutaan rupiah hanya untuk satu malam. Aku yang bukan berasal dari keluarga kaya raya tidak akan sanggup membayarnya.
Tante Susan adalah adik ipar Ibuku yang menikah dengan seorang laki-laki kebangsaan Australia yang kaya. Dia sedang melewatkan waktu liburannya disini dan meminta aku dan kakakku, Audrey, untuk menemaninya. Aku tidak begitu yakin kenapa Tante Susan begitu menyukai kami, saudara-saudara jauhnya, tapi yang jelas aku menyukai Tante Susan karena dia begitu baik, berjiwa muda dan mau berbaur. Tante Susan menempati kamar dilantai paling atas hotel ini atas pesanan suami bulenya, mangkanya aku yang baru saja mengantar Tante Susan ke kamarnya sekarang berada di dalam lift untuk turun ke lantai dasar.
Aku jadi ingat sebuah adegan film yang dibintangi dua artis pendatang baru. Itu loh yang ada adegan di dalam liftnya. Kalau tidak salah mereka terjebak di dalam lift berdua saat lift itu tiba-tiba macet. Dan di dalam lift itu mereka saling berkenalan dan mulai mengobrol, bahkan mulai jatuh cinta. Tapi sayangnya adegan itu berhenti saat mereka nyaris berciuman. Untuk aku yang sangat memuja romantisme cinta, kejadian itu sangat disayangkan dan mengecewakan. Bukankah hal yang manis kalau pacarmu mau menciummu di dalam lift saat kalian hanya berdua? Kalau aku sih pengen banget merasakan ciuman di dalam lift, mumpung first kiss-ku belum tergadaikan.
Sedang asik-asiknya melamun mengenai first kiss di lift, tiba-tiba bunyi 'Ting!' nyaring terdengar, pintu lift terbuka. Aku melirik angka yang tertera di atas pintu lift. Delapan belas, lift ini berhenti di lantai delapan belas. Seorang laki-laki jangkung, mengenakan celana jeans dan jaket masuk ke dalam lift. Wajahnya tertutup topi sehingga aku tidak bisa melihatnya, lalu dia berjalan ke sudut lift dan menyender di sana, tetap berusaha menutupi wajahnya dengan topi. Di sudut lift yang lain, aku mengernyit heran. Laki-laki ini aneh benar, setiap kali aku melirik ke arahnya dia selalu berusaha menutupi wajahnya lebih dalam lagi.
Keherananku semakin bertambah ketika laki-laki itu mulai terbatuk-batuk. Batuknya aneh, bukan seperti batuk berdahak atau batuk kering tapi seperti batuk menahan sakit. Aku menatapnya beberapa kali, tapi dia masih saja berusaha menutupi wajahnya dan batuk-batuk lagi. Laki-laki yang aneh, misterius banget. Mungkin wajahnya sangat menakutkan sekaligus punya penyakit menular atau apa. Tapi kalau begitu, aku beresiko ketularan karena hanya aku yang ada di dalam lift bersamanya. Atau mungkin dia baru saja minum minuman keras atau menggunakan obat-obatan terlarang. Gejalanyakan bisa mengarah ke situ. Wah, situasi yang super gawat! Tiba-tiba posisiku berubah menjadi sangat terancam sedangkan masih ada lima belas lantai lagi yang harus aku lewati.
Apa yang bisa membuat aku lega saat ini? Jawabannya simpel saja, kalau Tuhan memberikan kesempatan agar aku bisa lepas dari laki-laki misterius yang mencurigakan ini, maka itulah kebaikan Tuhan yang paling aku butuhkan saat ini. Dan ternyata Tuhan mengabulkan permintaanku. Di lantai lima belas, tiba-tiba lift berbunyi lagi dan seorang laki-laki gemuk masuk ke dalam. Dia berdiri di depanku, menutupi pandanganku ke arah panel angka sehingga aku tidak bisa melihat angka mana yang dia tekan_tempat dia akan keluar. Aku sangat berharap Bapak ini juga turun di lantai dasar sehingga aku tidak perlu berada berdua saja di dalam lift bersama laki-laki aneh yang sepertinya juga turun di lantai dasar karena dia tidak menekan angka manapun di panel angka.
Ternyata bukan hanya aku yang merasa terganggu dengan keberadaan laki-laki misterius itu, Bapak ini juga tampak terganggu. Buktinya setelah mendengar laki-laki misterius itu batuk lagi, Bapak ini melirik dan mengernyit aneh karena melihat sikap laki-laki misterius itu yang selalu berusaha menutupi wajahnya. Bapak itu melirik panel angka di atas pintu lift lagi, angka berganti disana dari angka dua belas ke angka sebelas. Masih ada sepuluh lantai lagi, aku mohon Bapak ini jangan turun dulu. Tapi saat angka sepuluh tercetak di panel angka dan bunyi 'Ting!' terdengar, pintu lift terbuka dan Bapak itu keluar dengan lega. Aku hanya bisa menghela napas, nasib sedang mempermainkan aku. Sesaat tadi dia menempatkanku di posisi sulit lalu memberikan sedikit pengharapan dan akhirnya malah kembali menempatkanku di posisi sulit lagi.
Pintu lift kembali tertutup dan aku melirik laki-laki misterius itu lagi. Keadaanya masih sama, masih menyembunyikan wajahnya dan batuk-batuk menahan sakit. Pandanganku beralih ke panel angka. Sembilan, masih ada delapan lantai lagi. Baru kali ini aku merasa tidak nyaman berada di dalam lift semewah ini.
Lift ini berukuran besar, dengan kertas dinding bermotif kayu menutupi seluruh bagian sampai ke langit-langitnya dan lantai lift itu ditutupi karpet empuk berwarna abu-abu. Seharusnya lift ini bisa memberikan rasa aman dan nyaman bagi pemakainya, atau mungkin menunjang situasi romantis yang bisa terjadi di dalam lift seperti di film itu. Tapi mengingat situasiku yang sedang terancam, suasana senyaman apa pun tidak akan berpengaruh banyak.
Keadaanku lebih terancam lagi saat tiba-tiba lift macet di lantai enam. Lampu lift tiba-tiba berkedap-kedip liar dan lift berhenti mendadak dengan hentakan keras. Aku otomatis berteriak, sedangkan laki-laki misterius itu berhenti batuk seketika. Lampu lift mati total selama beberapa detik, membuatku mundur ke pojok lift, lalu menyala lagi. Tapi lift itu tidak ikut berjalan, lift itu diam, macet. Aku menatap bingung ke langit-langit lift, berharap ada orang yang akan memberitahu apa yang terjadi, tapi tentu saja tidak ada, jadi aku malah mengatakan sesuatu, cenderung untuk diriku sendiri.
" Liftnya macet. "
Perkataanku malah ditanggapi dengan suara batuk lagi. Sepertinya kali ini batuknya lebih serius sehingga laki-laki misterius ini menahan sakit sampai terduduk. Aku kaget melihatnya. Buru-buru aku menghampiri laki-laki itu dan bertanya penuh khawatir:
" Lo kenapa? " Laki-laki itu masih batuk. " Heh, lo kenapa? Nggak pa-pa, kan? " Aku menyentuh lengannya, membuat laki-laki itu kaget lalu menyentakkan tanganku dengan keras sambil berteriak: " Gua nggak papa! "
Saat laki-laki itu menengadah melihatku setelah berteriak itulah terjadi suatu hal yang sangat tidak disengaja: dia menciumku tepat di bibir! Kejadiannya sangat cepat, aku saja sempat tidak sadar, soalnya laki-laki itu berada tepat di bawahku dan aku menghampirinya terlalu dekat! Apalagi saat melihat wajahnya, aku langsung meloncat mundur dan berteriak kaget, lalu otomatis menampar wajahnya. Iya, aku menampar laki-laki itu! Padahal wajah laki-laki itu terlihat sangat mengenaskan: matanya sedikit bengkak, alis kanannya berdarah, bibirnya pun mengeluarkan darah, persis seperti orang yang baru saja dipukuli.
Aku tidak pernah bermaksud memukul orang yang sudah babak belur, tapi masalahnya tanganku bergerak sendiri tanpa aku sadari! Laki-laki itu memelototiku dengan susah payah, lalu bertanya galak kepadaku:
" Ngapain lo mukul gua? "
" Abis lo nyium gua! "
" Gua nggak sengaja! Siapa suruh lo ada di deket gua? " Aku tidak bisa menjawabnya, pikiranku sedang sibuk melihat wajahnya dan memikirkan dari mana dia mendapatkan luka-luka itu. Mendadak masalah lain terlupakan olehku.
" Muka lo kenapa? "
" Bukan urusan lo! " Laki-laki itu tersadar bahwa wajah babak belur yang sudah susah payah ditutupinya malah tidak sengaja diperlihatkannya kepada orang lain. Buru-buru dia menunduk lagi.
Tepat saat laki-laki itu menundukkan kepalanya lagi, lift tiba-tiba bergerak turun. Laki-laki itu memelototiku seolah mengancam kalau aku tidak boleh bertanya lagi, sedangkan aku terus memandanginya dengan penuh tanya. Mungkin laki-laki itu tidak senang aku pandangi, jadi saat lift yang sudah bergerak turun itu berhenti dan mengeluarkan bunyi 'Ting!' nyaring, laki-laki itu buru-buru keluar tanpa melihat di lantai mana lift itu berhenti. Seorang Ibu muda masuk sambil membawa kereta dorong bayi lalu tersenyum kepadaku.
" Tadi liftnya macet, ya? "
Aku mengangguk lalu tersenyum. Panel angka saat itu menunjukkan angka empat. Aku tidak tahu laki-laki itu memang ingin turun ke lantai ini atau dia keluar hanya gara-gara aku sudah melihat keadaan wajahnya tanpa disengaja. Tapi yang jelas, laki-laki itu memang sangat misterius.
# # #
Aku bukannya berharap akan bertemu dengan laki-laki misterius itu lagi selama bulak balik dari lantai dua puluh ke lantai dasar untuk mengantar Tante Susan. Tapi jujur saja, aku sangat penasaran bagaimana laki-laki itu bisa babak belur seperti itu. Aku pikir dia pasti bertengkar dengan seseorang, tapi dengan siapa aku tidak tahu. Lagi pula bukan hanya masalah itu yang mengganjal pikiranku. Aku sekarang ingat benar kalau laki-laki itu sudah menciumku. Dia merebut first kiss-ku sekaligus membuyarkan harapanku untuk bisa mendapatkan first kiss yang romantis bersama orang yang aku cintai di dalam lift. Tapi aku tidak bisa meminta pertanggung jawabannya, soalnya sudah tiga hari ini aku tidak bertemu lagi dengannya, padahal aku masih saja harus bulak balik hotel itu. Mungkin dia sudah check out dari hotel ini, atau mungkin dia bahkan tidak pernah check in.
Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain. Tepat sehari sebelum Tante Susan akan pulang ke Australia, yang membuat aku tidak akan pernah datang ke hotel ini lagi, saat itu aku bertemu lagi dengannya di dalam lift. Tapi kali ini lift yang kami naiki penuh berisi orang lain. Kami sama-sama kaget, merasa saling kenal tapi tidak berani menegur duluan. Kami hanya sama-sama menyender di pojok lift dengan seorang wanita setengah baya berada di antara kami. Aku deg-degan bukan main. Aku hanya takut kalau laki-laki itu ingat aku sudah menamparnya saat terakhir kali kami bertemu. Tapi dari raut wajahnya yang canggung, aku juga tahu kalau dia takut aku ingat bagaimana keadaannya sewaktu kami bertemu. Sekarang wajahnya tidak babak belur lagi, jadi aku bisa melihat dengan jelas bagaimana ekspresinya yang canggung itu.
Lift tidak pernah kosong, bahkan nyaris selalu terisi penuh sehingga tidak ada kesempatan untuk kami saling menyapa, sampai lift berhenti di lantai tujuh. Kali ini tidak didahului dengan lampu yang padam, tapi lift langsung berhenti. Semua orang yang berada di dalam lift tersentak kaget lalu mulai menggumam kalau liftnya berhenti. Semua orang tidak melakukan apa-apa selama beberapa menit, mengira lift akan berjalan lagi selama beberapa menit itu, tapi ternyata tidak, lift tetap diam sehingga orang-orang mulai berbisik panik. Seorang bapak yang mengenakan jas dan kemeja rapi berjalan ke panel angka dan menekan tombol merah, tombol darurat.
Sebuah suara terdengar tak lama kemudian dari speaker yang tertanam di samping panel angka. " Ya, ada apa? "
" Liftnya macet pak, nggak bisa jalan dilantai tujuh. " Kata Bapak yang berpakaian rapi itu kearah speaker.
" Oh maaf, liftnya memang sedang diperbaiki, mungkin butuh waktu beberapa menit, tolong sabar semua. " Seluruh isi lift langsung menggerutu kesal, sementara aku hanya bisa menghela napas dan memukul jidat.
Ternyata beberapa menit yang dikatakan laki-laki dari speaker itu tidak benar. Buktinya setelah menunggu selama hampir setengah jam, lift itu belum juga jalan. Orang-orang yang berada di dalam lift sudah mulai kesal, laki-laki berpakaian rapi tadi sudah melonggarkan dasi dan melepas jasnya, sementara sepasang suami istri yang membawa kedua anak sudah mulai sibuk menenangkan anak-anak mereka. Sang ayah sibuk menjawab pertanyaan anak balitanya yang tidak berhenti, sedangkan ibunya sedang sibuk menenangkan bayinya yang mulai menangis.
Keadaan tidak nyaman ini membuat kami tambah pusing. Aku terpaksa merapatkan diri ke arah laki-laki misterius itu sementara wanita setengah baya yang tadinya berdiri diantara kami yang ternyata adalah suster bayi yang menangis itu memintaku bertukar tempat. Kini semua orang duduk di lantai lift, berusaha menyamankan diri sementara tangisan sang bayi semakin menggelegar.
Aku sendiri tidak tahu harus berbuat apa selama menunggu. Rasanya sangat tidak enak kalau kau berdampingan dengan orang yang kau kenal tapi tidak berani kau sapa. Aku berpikir keras untuk memutuskan cara apa yang akan aku pakai untuk menyapa laki-laki ini, tapi saat aku sudah memutuskan untuk mulai bertanya, ternyata laki-laki itu melakukan hal yang sama sehingga omongan kami bertabrakan. Kami berhenti pada saat yang bersamaan juga lalu sama-sama tersenyum lega.
" Lo dulu, deh. " Kataku duluan.
" Lo aja. " Jawabnya menggeleng.
" Nggak, lo aja. Omongan gua nggak teralu penting. " Bantahku.
" Gua cuma mau bilang, kalau kita kayaknya ditakdirin buat ketemu waktu lift macet mulu, ya? " Aku tersenyum manis, tahu benar kalau itulah kata-kata yang ingin aku katakan tadi.
" Liftnya udah tua, kali. " Tanggapku, lalu kami berdua tertawa, merasa lega karena suasana diantara kami sudah tidak kaku lagi walaupun sang bayi sekarang sudah menjerit-jerit.
" Ngomong-ngomong, thank's waktu itu lo mau bantu gua. " Kata laki-laki itu akhirnya.
" Nggak pa-pa, masa ada orang yang lagi susah nggak gua bantu. Tapi kalo boleh gua tau, siapa yang mukulin lo sampe babak belur kayak gitu? " Aku tahu pertanyaan ini sedikit lancang ditanyakan, jadi sebelum sempat dijawab aku buru-buru menambahkan: " Kalo lo nggak mau jawab juga—"
" Bokap gua. "
" Hah? "
" Gua dipukulin bokap gua. Dia selingkuh sama cewek lain di hotel ini. Waktu gua pergokin, bokap gua malah marah dan mukulin gua. " Laki-laki itu ternyata menjawab pertanyaanku walaupun dengan mata menerawang yang seolah-olah menyesali kebenaran kata-katanya. Aku buru-buru minta maaf, sekaligus aku juga sangat menyesal karena sempat mengira dia yang bukan-bukan: pemakai narkoba, bahkan sampai orang berpenyakit menular.
" Sorry ya, gua sempet mukul lo. "
" Nggak pa-pa, gua juga yang salah nggak sengaja nyium lo. "
Aku langsung tersipu malu, ingat kalau ternyata kami memiliki hubungan yang tidak seperti orang yang berkenalan di lift lainnya karena kejadian kecil itu.
Saat tersipu malu itu, tiba-tiba lift bergerak turun lagi. Semua orang di dalam lift bernapas lega, beranjak dari duduknya dan membenahi penampilan mereka, tahu benar kalau enam lantai lagi lift akan berhenti di lantai dasar tempat tujuan mereka. Bahkan sang bayi berhenti menangis, seolah tahu kalau dia akan segera keluar dari penjara berlapis kertas dinding bermotif kayu ini.
Aku dan laki-laki itu tidak berkata apa-apa lagi sampai lift membuka di lantai dasar dan semua orang keluar dari lift. Aku berada di urutan terakhir, masih berpikir bagaimana caranya supaya aku tidak hanya berhubungan dengan laki-laki misterius itu sampai disini. Tapi otakku tidak bisa diajak untuk berpikir sehingga laki-laki misterius yang berada di depanku berbalik dan bertanya duluan.
" Nomor handphone lo berapa? "
Aku tersenyum manis sekali lalu memberikan kartu namaku dengan mata berbinar senang. Dia berpikir sama dengan yang aku pikirkan! Jeritku dalam hati. Laki-laki itu menatap kartu nama bermotif bunga terbaruku lalu tersenyum manis.
" Nama lo Snada? Gua Danang. Entar gua telepon lo, oke? "
Masih dengan tersenyum manis dia berlalu dari hadapanku, membuat senyum di bibirku mengembang semakin lebar. Sekarang aku sudah berkenalan dengannya, tinggal menunggu sebuah nomor asing menghubungi ponselku dan mengaku bernama Danang. Sepertinya ada sebuah kisah _yang mudah-mudahan_romantis menungguku karena kejadian di dalam lift itu. Dan siapa tahu aku akan mengalami kejadian romantis lain di dalam lift bersama laki-laki misterius ini? Eh, handphone ku berdering, ada nomor asing menghubungiku!

 
SELESAI

 

 

CERPEN 5


BOBOT PRIA
Bobot seorang pria adalah bagaimana ia bisa membuat orang yang dicintainya sebagai pendamping yang berbahagia. Tertulis demikian pada buku yang pernah aku baca. Walaupun aku tak tahu artinya dengan baik tapi kata-kata ini cukup mengusikku juga.
Aku memiliki dua orang ibu dan merasa menjadi orang paling berbahagia di dunia, namun para tetangga dan teman-teman sekolah bilang aku ini aneh. Aku bisa mengerti perasaan mereka walaupun sebenarnya aku hanya merasa bahagia dengan keanehanku ini karena memiliki dua orang ibu yang hebat. Suatu hari, waktu aku menanyakan arti paragraf buku itu kepada ibu-ibuku dan mereka menjawab dengan senyum manis.
" Walaupun kami tak begitu mengerti, tapi kami merasa bahwa kami adalah mempelai wanita yang bahagia, dari dulu hingga sekarang. "
Apakah itu berarti ayahku adalah pria berbobot yang telah membuat kedua ibuku menjadi mempelai wanita yang berbahagia?
#    #    #
Di siang berikutnya aku menanyakan hal yang sama kepada Dokter Akechi dan Ryusuke. Ryusuke menuntut: " Bobot seorang pria terlatak pada berapa banyak makanan enak yang telah mereka makan sampai mati. "
Sedangkan Dokter Akechi berkata sambil tertawa lembut:
" Ada orang yang mengatakan bahwa pernikahan adalah awal kehidupan, ada juga yang bilang pernikahan adalah kuburan. Tapi pernikahan yang bisa membuat seseorang bahagia mungkin bisa disebut sebagai pernikahan yang berbobot, walaupun hanya salah satu dari mereka yang berbahagia. "
" Aku sendiri berpendapat bahwa bobot seorang pria terletak pada berapa banyak nafkah yang diperolehnya sampai mati. " Tambahnya.
Tapi aku tetap saja belum mengerti!
#    #    #
Setiap hari Jumat aku bertemu dengan Utako, dan Jumat kemarin aku bertanya hal yang sama dengannya yang membuat pandanganku tentang bobot pria ini sedikit berubah. Saat itu Utako berkata sambil memiringkan kepala setelah aku menceritakan pendapat Dokter Akechi waktu itu.
" Seorang wanita yang menjadi mempelai itu mungkin bahagia, tapi bagaimana dengan yang pria? Dan bagaimana jika sebaliknya? " Lagi-lagi dia memiringkan kepala. " Sudah susah payah bisa berdua, hanya salah satu saja yang bisa bahagia, itu tidak adil. Mempelai pria dan mempelai wanita yang saling mencintai, bukankah itu merupakan kebahagiaan yang sebenarnya? Sedikitnya untuk mencapai itu, aku siap menghadapinya. " Kata Utako sambil tersenyum.
Sementara ini kesimpulanku adalah bahwa kebahagiaan itu berbeda-beda sesuai dengan kemampuan seseorang itu bisa mendapatkannya. Tanpa berusaha sedikitpun banyak orang berpendapat 'cukup berdua saja sudah bisa berbahagia' dan bila tersadar pasti akan menyesal. Aku tidak suka menyesali hari-hari yang telah disia-siakan, karena tidak ada istilah 'dunia ini milik berdua'. Pada kenyataannya aku memang sudah berada diantara dua kebahagiaan ibu-ibuku dan sampai kapanpun aku siap berada di antara 'dua manusia' dan 'kebahagiaan'.
" Kebahagiaan tak akan datang sendiri, karena itu harus dikejar. " Ketika aku berpaling, aku melihat Utako sedang tertawa.
Aku tidak paham dengan baik bobot seorang pria, tapi sambil memandang Utako yang tertawa, aku berpikir kalau dia bisa menjadi mempelai wanita yang berbahagia. Kalau begitu aku pun akan berusaha, semoga dia bisa berbahagia sampai kapan pun.
#    #    #
Suatu saat ketika kami bertemu, saat-saat terakhir sebelum aku pulang, Utako berkata:
" Saat ingin sekali bertemu, aku selalu berpikir kapan kita bisa bertemu? "
Lalu tiba-tiba raut wajah Utako yang bingung berganti dengan senyumnya yang manis.
" Ingin selalu bersama, tapi rasanya tak terucapkan. Jika ada di sampingmu, begitu bahagia. Benar-benar seperti orang bodoh. Untuk kamu, masih banyak hal yang belum aku ketahui. Selama kamu tak ada, aku akan lebih banyak belajar. Dibanding hari ini, aku ingin menjadi wanita yang lebih baik. "
Tiba-tiba raut wajahnya berubah. Matanya melirik ke atas seakan memikirkan sesuatu.
" Tapi… kadang ingin bertemu orang yang kucintai yang ternyata adalah orang yang sangat sibuk, sehingga merasa sangat khawatir apakah bisa bertemu atau tidak. "
Aku tersenyum. " Sampai besok… "
#    #    #
Suatu saat Mako, kakak perempuan Utako, berkata kepada adiknya:
" Serasi, kan? Tak begitu kenal pihak lawan, tapi bisa percaya begitu saja. Sampai-sampai membual tentang 'cinta abadi'. "
" Rasa bedebar-debar ini, entah kenapa selalu ada. " Tanggap Utako.
" Begitulah kalau tak terpenuhi hasratnya. " Jawab Mako sambil tersenyum. " Terkadang ada rasa lebih marah dan kecewa lagi, dan ini bisa menjadi semakin stress loh! Selanjutnya percintaan Utako pun akan jadi semakin serasi, deh… Kemudian tentang asmara, ada satu hal saja yang tak boleh dilakukan oleh seorang wanita… "
" Apa itu? " Potong Utako.
" Di depan laki-laki tidak boleh bersikap memalukan. Walaupun ada hal yang tidak memuaskan, dan terasa tidak adil, kita sebagai wanita tak boleh terlalu mudah tersinggung. Wanita tetaplah seorang wanita, betapa pun hebatnya. Meskipun dapat bersikap sombong, tapi ada hak dan kewajibannya. Sebaliknya, dibandingkan lelaki, wanita bisa lebih cenderung mudah menangis, saat itu tunjukkanlah rasa malu itu. "
#    #    #
Hati selalu berdebar bila sedang berdua dengan orang yang dicintai. Setiap hari Jumat, Utako selalu berada di beranda dengan senyum manisnya. Entah kenapa, dengan kepala menyandar, Utako selalu tersenyum. Tak ada alasan apa pun yang dapat menghalanginya, karena cinta. Entah kenapa, Milk Tea yang dibuatkan Utako, selalu aku minum. Aku selalu berpikir ingin bebas karena cinta. Aku menyukai hal-hal yang berkaitan dengan orang yang kucintai, tapi dua insan yang saling mencintai dan tampak serasi sebenarnya merupakan dua makhluk yang berbeda. Dan perasaan cinta tak mungkin selalu sama.
Jika aku pikir, meskipun saling mencintai kau dan aku tetaplah orang yang berbeda. Dan aku mulai menyadari bahwa orang yang berbeda pasti memiliki hati yang berbeda. Seperti pertama kali bertemu, hatiku selalu berdebar ketika berhadapan dengan orang yang kucintai. Aku ingat ketika pertama kali jatuh cinta, hati selalu berdebar-debar. Saat ini aku harus bersikap sopan. Aku jadi tahu hal yang boleh dilakukan dan hal yang tidak boleh dilakukan. Sambil mendengarkan Utako, aku sudah tahu semua apa yang sedang dipikirkannya. Sampai saat ini jika melihat senyum Utako, aku selalu berdebar-debar. Tak terdengarkah oleh Utako suara hati ini melambung, karena khawatir?
#    #    #
Ketika ibu-ibuku menginginkan kembali suatu barang yang dulu diberikan oleh suami mereka dengan alasan yang aneh dan membingungkanku, Utako pun berpendapat yang sama.
" Soalnya itu merupakan barang yang diberikan oleh orang yang sangat dicintai, kan? Bagi wanita, yang berharga bukan sekedar harganya, tapi dari siapa dan dengan perasaan yang bagaimana barang tersebut diterima. Pasti barang itu diberikan dengan pesan sebagai lambang cinta. Karena pemberian dari suami tercinta, pasti mendapat tempat yang istimewa. "
Aku jadi semakin bingung tentang jalan pikiran wanita yang rumit.
" Itu hal yang wajar, kan? Aku pun akan menyimpan dengan hati-hati agar jangan hilang barang pemberian darimu. Jika ada seseorang yang mencurinya, sampai ke ujung dunia pun akan aku kejar dan tangkap! "
Utako tiba-tiba berkata dengan menggebu-gebu, membuatku malu.
#    #    #
Ketika aku dan ibu-ibuku merayakan hari ulang tahunku tepat saat natal tiba, aku berbincang dengan sinterklas yang ternyata enak diajak ngobrol. Tapi tiba-tiba belian menanyakan soal Utako kepadaku, dan bertanya apakah aku ingin menjadikan Utako sebagai tunanganku.
" Tapi mustahil, deh! Dibandingkan aku, Utako benar-benar jauh lebih hebat. "
" Hal itu pernah diungkapkan di depan Utako? " Lagi-lagi beliau bertanya sesuatu yang membuatku kaget.
" 'Cinta abadi pasti tak ada', begitu katanya. Lagi pula perasaan kan suka berubah. Katanya 'jika selalu menemukan hal yang sama akan membosankan'. Pokoknya perasaannya berubah-ubah, deh! " Jawabku.
" Meskipun hari ini suka, boleh jadi besok berubah jadi benci. " Tanggap beliau dengan senyum. " Begitu juga baik, kok. Sekarang suka sama dia, bukankah itu sudah cukup? Tentang hal yang terjadi besok dalam kehidupan jangan suka diremehkan. Perasaan pun sama. Kalau pada awalnya tak diketahui terlebih dulu pasti menyenangkan. Tapi jika Akira dan Utako sudah mempunyai perasaan yang sama, jika sudah dewasa nanti, berbahagialah sampai menjadi kakek dan nenek. Pergilah ke dunia impian. Dalam waktu yang panjang itulah kalian saling menyemai benih cinta. Kalau begitu, mungkin akan tercapai suatu keadilan. "
#    #    #
Aku pernah berkata kepada Utako:
" Saat upacara perkawinan nanti jangan lupa aku diundang. "
Dan Utako langsung marah besar. Aku bingung dan bertanya kepada Dokter Akechi dan dia pun kaget.
" Ada saat dimana kita harus mengungkapkan perasaan sendiri kepada orang lain dengan terus terang. Akira sangat menyukai gadis itu, kan? Mangkanya Akira harus menyampaikannya secara terus terang kepada gadis itu. "
" Tapi kalau ditolak? "
" Mengetahui bagaimana perasaan dia, itu tentu merupakan hal yang penting. Pokoknya, apa yang ada di dalam hati tidak diungkapkan juga tidak apa-apa. Tapi ada saatnya apa yang kita rasakan harus kita ungkapkan. Bagaimanapun unggulnya seseorang, orang lain tidak akan tahu. Sehingga kalau kita ingin tahu tentang orang lain, kita harus memberitahu tentang kita. Adakan istilah begitu. Kalau yang kita pikirkan hanya di simpan dalam hati, apa yang kita pikirkan tak akan tersampaikan. Kalau kita berpikir tentang perasaan orang lain, sulit untuk dapat menebak dengan tepat perasaan itu kalau orang lain itu tidak menyampaikannya kepada kita. "
#    #    #
Mako pernah berkata lagi kepada Utako:
" Kata-kata bodoh seperti 'tidak ingin berdua' itu jangan diucapkan lagi, deh. Cinta kasih itu terkadang yang ada hanya saling bertentangan. Tapi jika kita mengerti perasaan pasangan kita, akhirnya yang tinggal hanya keinginan saja. Tapi sebaliknya, cinta itu menyenangkan. Akira dan Utako adalah orang yang berbeda. Jika Utako mencintai hal yang berkaitan dengan Akira dengan hati yang benar-benar berbeda, maka bisa diharapkan Utako juga akan dicintainya. Barang kali kemudian Utako akan dapat lebih mencintai Akira. Paling tidak begitulah. Meskipun hanya dapat bertemu setiap Jumat malam bukan berarti sama sekali tidak ada harapan. Mungkin sekarang dia belum berniat menjadikan Utako sebagai tunangan, tapi setelah ini pasti akan semakin ada perhatian. Dengan catatan kalau ada semangat dan usaha! "
Dan beberapa hari berikutnya, tepat pada hari ulang tahunnya, aku menyatakan perasaanku yang sebenarnya. Akhirnya wajah dan senyum manis Utako kembali lagi.
#    #    #
Kami sudah berhubungan selama sepuluh tahun, dan kini saat ulang tahun Utako aku sudah memutuskan sesuatu.
" Maaf, terlambat… "
Aku baru saja sampai di beranda dan berlari menghampiri Utako.
" Bodoh! Ku kira sudah tidak datang! "
Utako marah dan memukulku.
" Maaf… "
" Rasanya ingin marah pada diriku sendiri karena aku lebih mengkhawatirkan ketidakdatanganmu dari pada mengkhawatirkan dirimu. "
" Maaf… "
" Kenapa berbicara begitu terus? Benar-benar menyebalkan, deh! Bagaimanapun, hari ini ada yang aku inginkan dari kamu. Kalau bukan darimu, aku tidak mau. "
Aku terkejut.
" Kalau tidak keberatan, pertama-tama maukah kau terima hadiah dariku ini? Soalnya, untuk memutuskan memberikan hadiah ini, aku sudah cukup lama memikirkannya. Ini sudah merupakan keputusan yang bulat, jadi kumohon, terimalah hadiah ini. " Utako terdiam dan bingung. " Jika ditolak, silahkan dibuang. Aku tak apa-apa, kok. "
" Barang pemberian dari kamu, tidak akan sampai aku buang. Kalau sampai itu terjadi, pasti bumi akan berhenti berputar. "
Aku jadi salah tingkah saat Utako menerima hadiah dariku dan membukanya.
" Soalnya, hari ini Utako ulang tahun, kan? Aku pikir waktu terlalu cepat berlalu, tapi… hm… anu… "
Tiba-tiba Utako berteriak.
" Tak salah lagi, ini pasti lamaran! "
" I…i…i…Iya… "
Utako langsung memelukku dan berkata:
" Kamu sulit dipercaya, deh! Mengapa kau selalu tahu barang yang aku inginkan? Bagaimanapun, yang aku bayangkan betapa di dunia ini hanya kau yang ada di benakku. Betapa bahagianya bila bisa bersatu denganmu. Aku hari ini menerima lamaranmu, karena hari ini aku berulang tahun. Bagiku, menjadi tunanganmu adalah hal yang paling membahagiakan. "
" Aku kira mau dikembalikan. "
Utako memakai cincin yang kuberikan.
" Maaf, ya… pemuda ideal seperti kamu tak akan kuserahkan kepada siapa pun. Aku cinta padamu. Kalau cincin ini sebagai jimat, cinta kita tak akan terkalahkan. "
#    #    #
Dua tahun kemudian aku menikah dengan Utako.
Suatu hari ketika sarapan pagi, Utako mengagetkanku.
" Aku cinta sama kamu, deh! Aku sangat mencintaimu. "
" Eh…u…h…eh… terima kasih… "
" Kau masih saja merasa kaget? Padahal aku sering mengatakannya. "
Aku tersenyum salah tingkah.
" Rasanya aku benar-benar mencintaimu. Aku merasa benar-benar bahagia karena bisa menjadi istrimu, bisa hidup berdua denganmu. Maka dari itu, walaupun hanya sedikit aku ingin kau bisa memahami perasaan ini… "
" Bukankah sudah selalu dikatakan. "
" Kata-kata saja tidaklah cukup. Aku benar-benar cinta kamu. Berada di sampingmu, aku benar-benar merasa bahagia. Ingin ku sampaikan betapa bahagianya aku, tapi aku mengerti bahwa aku tidak mungkin dapat menyampaikan apa yang aku rasakan ini tepat seratus persen. Maka dari itu, paling tidak aku ingin menyampaikan seperseribu kebahagiaan yang sedang kurasakan. "
" Sering terpikir olehku, dibandingkan kamu, pasti akulah yang lebih mencintai dan menang. Kalau bilang begitu, sudah pasti akulah yang lebih cinta dibanding Utako. "
Utako tidak bisa berbuat apa-apa menanggapi perkataanku.
" Hm… menyebalkan! Tapi dengan selalu berkompetisi seperti ini rasanya menyenangkan, ya! Mulai saat ini dalam kehidupan yang panjang, kita menganggap pasangan kita sebagai rival, maka dalam kehidupan kita akan begitu serasi. "
Aku dan Utako tersenyum saling menatap.

 
THE END

 
Disadur dari: Si Wajah Misterius ( The Man Of Many Faces-20 Mensho Ni Onegai ) Karya Clamp.

… CERPEN 5 …


LIFT LOVE
    
Aku sedang membayangkan bagaimana kalau aku menderita phobia tempat tertutup? Mungkin aku akan sangat ketakutan sekarang, panas dingin dan keringat bercucuran. Bukan karena kepanasan, tapi karena menahan takut. Soalnya sekarang aku sedang berada di dalam lift yang akan membawaku turun dari lantai dua puluh sebuah hotel mewah menuju lantai dasar. Dibutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk turun ke lantai dasar_perlu lima belas menit bahkan dua puluh menit kalau lift ini berhenti di setiap lantai yang dilewatinya. Ya, inilah tandanya jika dunia sudah berkembang jauh lebih modern, gedung-gedung bertingkat di bangun menjulang setinggi-tingginya, seolah mencoba melampaui awan. Dan lift sudah tidak asing lagi digunakan, sehingga para phobia tempat tertutup harus terbiasa dengan lift karena terpaksa harus menggunakan lift tertutup selama beberapa menit tiap harinya. Tapi untunglah aku tidak menderita penyakit seperti itu. Aku hanya sedang berada di dalam lift dan tidak tahu harus melakukan apa selama dua puluh menit kedepan, jadi aku melamun saja memikirkan para phobia tempat tertutup.
Kalau tidak karena Tante Susan, tentu aku tidak akan berada di dalam lift ini, atau malah aku tidak akan pernah mengunjungi hotel ini. Inikan hotel besar yang super terkenal, hotel bintang lima yang memiliki dua puluh lantai, dengan landasan helikopter di lantai teratas, tiga kolam berenang outdoor bertaraf internasional ( tidak perlu bertanya bagaimana aku tahu mengenai fasilitas hotel ini, pokoknya aku tahu! ). Sangkin terkenal dan mewahnya, hotel ini menjadi pilihan pertama bagi para turis dan pejabat untuk menginap walaupun harus membayar jutaan rupiah hanya untuk satu malam. Aku yang bukan berasal dari keluarga kaya raya tidak akan sanggup membayarnya.
Tante Susan adalah adik ipar Ibuku yang menikah dengan seorang laki-laki kebangsaan Australia yang kaya. Dia sedang melewatkan waktu liburannya disini dan meminta aku dan kakakku, Audrey, untuk menemaninya. Aku tidak begitu yakin kenapa Tante Susan begitu menyukai kami, saudara-saudara jauhnya, tapi yang jelas aku menyukai Tante Susan karena dia begitu baik, berjiwa muda dan mau berbaur. Tante Susan menempati kamar dilantai paling atas hotel ini atas pesanan suami bulenya, mangkanya aku yang baru saja mengantar Tante Susan ke kamarnya sekarang berada di dalam lift untuk turun ke lantai dasar.
Aku jadi ingat sebuah adegan film yang dibintangi dua artis pendatang baru. Itu loh yang ada adegan di dalam liftnya. Kalau tidak salah mereka terjebak di dalam lift berdua saat lift itu tiba-tiba macet. Dan di dalam lift itu mereka saling berkenalan dan mulai mengobrol, bahkan mulai jatuh cinta. Tapi sayangnya adegan itu berhenti saat mereka nyaris berciuman. Untuk aku yang sangat memuja romantisme cinta, kejadian itu sangat disayangkan dan mengecewakan. Bukankah hal yang manis kalau pacarmu mau menciummu di dalam lift saat kalian hanya berdua? Kalau aku sih pengen banget merasakan ciuman di dalam lift, mumpung first kiss-ku belum tergadaikan.
Sedang asik-asiknya melamun mengenai first kiss di lift, tiba-tiba bunyi 'Ting!' nyaring terdengar, pintu lift terbuka. Aku melirik angka yang tertera di atas pintu lift. Delapan belas, lift ini berhenti di lantai delapan belas. Seorang laki-laki jangkung, mengenakan celana jeans dan jaket masuk ke dalam lift. Wajahnya tertutup topi sehingga aku tidak bisa melihatnya, lalu dia berjalan ke sudut lift dan menyender di sana, tetap berusaha menutupi wajahnya dengan topi. Di sudut lift yang lain, aku mengernyit heran. Laki-laki ini aneh benar, setiap kali aku melirik ke arahnya dia selalu berusaha menutupi wajahnya lebih dalam lagi.
Keherananku semakin bertambah ketika laki-laki itu mulai terbatuk-batuk. Batuknya aneh, bukan seperti batuk berdahak atau batuk kering tapi seperti batuk menahan sakit. Aku menatapnya beberapa kali, tapi dia masih saja berusaha menutupi wajahnya dan batuk-batuk lagi. Laki-laki yang aneh, misterius banget. Mungkin wajahnya sangat menakutkan sekaligus punya penyakit menular atau apa. Tapi kalau begitu, aku beresiko ketularan karena hanya aku yang ada di dalam lift bersamanya. Atau mungkin dia baru saja minum minuman keras atau menggunakan obat-obatan terlarang. Gejalanyakan bisa mengarah ke situ. Wah, situasi yang super gawat! Tiba-tiba posisiku berubah menjadi sangat terancam sedangkan masih ada lima belas lantai lagi yang harus aku lewati.
Apa yang bisa membuat aku lega saat ini? Jawabannya simpel saja, kalau Tuhan memberikan kesempatan agar aku bisa lepas dari laki-laki misterius yang mencurigakan ini, maka itulah kebaikan Tuhan yang paling aku butuhkan saat ini. Dan ternyata Tuhan mengabulkan permintaanku. Di lantai lima belas, tiba-tiba lift berbunyi lagi dan seorang laki-laki gemuk masuk ke dalam. Dia berdiri di depanku, menutupi pandanganku ke arah panel angka sehingga aku tidak bisa melihat angka mana yang dia tekan_tempat dia akan keluar. Aku sangat berharap Bapak ini juga turun di lantai dasar sehingga aku tidak perlu berada berdua saja di dalam lift bersama laki-laki aneh yang sepertinya juga turun di lantai dasar karena dia tidak menekan angka manapun di panel angka.
Ternyata bukan hanya aku yang merasa terganggu dengan keberadaan laki-laki misterius itu, Bapak ini juga tampak terganggu. Buktinya setelah mendengar laki-laki misterius itu batuk lagi, Bapak ini melirik dan mengernyit aneh karena melihat sikap laki-laki misterius itu yang selalu berusaha menutupi wajahnya. Bapak itu melirik panel angka di atas pintu lift lagi, angka berganti disana dari angka dua belas ke angka sebelas. Masih ada sepuluh lantai lagi, aku mohon Bapak ini jangan turun dulu. Tapi saat angka sepuluh tercetak di panel angka dan bunyi 'Ting!' terdengar, pintu lift terbuka dan Bapak itu keluar dengan lega. Aku hanya bisa menghela napas, nasib sedang mempermainkan aku. Sesaat tadi dia menempatkanku di posisi sulit lalu memberikan sedikit pengharapan dan akhirnya malah kembali menempatkanku di posisi sulit lagi.
Pintu lift kembali tertutup dan aku melirik laki-laki misterius itu lagi. Keadaanya masih sama, masih menyembunyikan wajahnya dan batuk-batuk menahan sakit. Pandanganku beralih ke panel angka. Sembilan, masih ada delapan lantai lagi. Baru kali ini aku merasa tidak nyaman berada di dalam lift semewah ini.
Lift ini berukuran besar, dengan kertas dinding bermotif kayu menutupi seluruh bagian sampai ke langit-langitnya dan lantai lift itu ditutupi karpet empuk berwarna abu-abu. Seharusnya lift ini bisa memberikan rasa aman dan nyaman bagi pemakainya, atau mungkin menunjang situasi romantis yang bisa terjadi di dalam lift seperti di film itu. Tapi mengingat situasiku yang sedang terancam, suasana senyaman apa pun tidak akan berpengaruh banyak.
Keadaanku lebih terancam lagi saat tiba-tiba lift macet di lantai enam. Lampu lift tiba-tiba berkedap-kedip liar dan lift berhenti mendadak dengan hentakan keras. Aku otomatis berteriak, sedangkan laki-laki misterius itu berhenti batuk seketika. Lampu lift mati total selama beberapa detik, membuatku mundur ke pojok lift, lalu menyala lagi. Tapi lift itu tidak ikut berjalan, lift itu diam, macet. Aku menatap bingung ke langit-langit lift, berharap ada orang yang akan memberitahu apa yang terjadi, tapi tentu saja tidak ada, jadi aku malah mengatakan sesuatu, cenderung untuk diriku sendiri.
" Liftnya macet. "
Perkataanku malah ditanggapi dengan suara batuk lagi. Sepertinya kali ini batuknya lebih serius sehingga laki-laki misterius ini menahan sakit sampai terduduk. Aku kaget melihatnya. Buru-buru aku menghampiri laki-laki itu dan bertanya penuh khawatir:
" Lo kenapa? " Laki-laki itu masih batuk. " Heh, lo kenapa? Nggak pa-pa, kan? " Aku menyentuh lengannya, membuat laki-laki itu kaget lalu menyentakkan tanganku dengan keras sambil berteriak: " Gua nggak papa! "
Saat laki-laki itu menengadah melihatku setelah berteriak itulah terjadi suatu hal yang sangat tidak disengaja: dia menciumku tepat di bibir! Kejadiannya sangat cepat, aku saja sempat tidak sadar, soalnya laki-laki itu berada tepat di bawahku dan aku menghampirinya terlalu dekat! Apalagi saat melihat wajahnya, aku langsung meloncat mundur dan berteriak kaget, lalu otomatis menampar wajahnya. Iya, aku menampar laki-laki itu! Padahal wajah laki-laki itu terlihat sangat mengenaskan: matanya sedikit bengkak, alis kanannya berdarah, bibirnya pun mengeluarkan darah, persis seperti orang yang baru saja dipukuli.
Aku tidak pernah bermaksud memukul orang yang sudah babak belur, tapi masalahnya tanganku bergerak sendiri tanpa aku sadari! Laki-laki itu memelototiku dengan susah payah, lalu bertanya galak kepadaku:
" Ngapain lo mukul gua? "
" Abis lo nyium gua! "
" Gua nggak sengaja! Siapa suruh lo ada di deket gua? " Aku tidak bisa menjawabnya, pikiranku sedang sibuk melihat wajahnya dan memikirkan dari mana dia mendapatkan luka-luka itu. Mendadak masalah lain terlupakan olehku.
" Muka lo kenapa? "
" Bukan urusan lo! " Laki-laki itu tersadar bahwa wajah babak belur yang sudah susah payah ditutupinya malah tidak sengaja diperlihatkannya kepada orang lain. Buru-buru dia menunduk lagi.
Tepat saat laki-laki itu menundukkan kepalanya lagi, lift tiba-tiba bergerak turun. Laki-laki itu memelototiku seolah mengancam kalau aku tidak boleh bertanya lagi, sedangkan aku terus memandanginya dengan penuh tanya. Mungkin laki-laki itu tidak senang aku pandangi, jadi saat lift yang sudah bergerak turun itu berhenti dan mengeluarkan bunyi 'Ting!' nyaring, laki-laki itu buru-buru keluar tanpa melihat di lantai mana lift itu berhenti. Seorang Ibu muda masuk sambil membawa kereta dorong bayi lalu tersenyum kepadaku.
" Tadi liftnya macet, ya? "
Aku mengangguk lalu tersenyum. Panel angka saat itu menunjukkan angka empat. Aku tidak tahu laki-laki itu memang ingin turun ke lantai ini atau dia keluar hanya gara-gara aku sudah melihat keadaan wajahnya tanpa disengaja. Tapi yang jelas, laki-laki itu memang sangat misterius.
# # #
Aku bukannya berharap akan bertemu dengan laki-laki misterius itu lagi selama bulak balik dari lantai dua puluh ke lantai dasar untuk mengantar Tante Susan. Tapi jujur saja, aku sangat penasaran bagaimana laki-laki itu bisa babak belur seperti itu. Aku pikir dia pasti bertengkar dengan seseorang, tapi dengan siapa aku tidak tahu. Lagi pula bukan hanya masalah itu yang mengganjal pikiranku. Aku sekarang ingat benar kalau laki-laki itu sudah menciumku. Dia merebut first kiss-ku sekaligus membuyarkan harapanku untuk bisa mendapatkan first kiss yang romantis bersama orang yang aku cintai di dalam lift. Tapi aku tidak bisa meminta pertanggung jawabannya, soalnya sudah tiga hari ini aku tidak bertemu lagi dengannya, padahal aku masih saja harus bulak balik hotel itu. Mungkin dia sudah check out dari hotel ini, atau mungkin dia bahkan tidak pernah check in.
Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain. Tepat sehari sebelum Tante Susan akan pulang ke Australia, yang membuat aku tidak akan pernah datang ke hotel ini lagi, saat itu aku bertemu lagi dengannya di dalam lift. Tapi kali ini lift yang kami naiki penuh berisi orang lain. Kami sama-sama kaget, merasa saling kenal tapi tidak berani menegur duluan. Kami hanya sama-sama menyender di pojok lift dengan seorang wanita setengah baya berada di antara kami. Aku deg-degan bukan main. Aku hanya takut kalau laki-laki itu ingat aku sudah menamparnya saat terakhir kali kami bertemu. Tapi dari raut wajahnya yang canggung, aku juga tahu kalau dia takut aku ingat bagaimana keadaannya sewaktu kami bertemu. Sekarang wajahnya tidak babak belur lagi, jadi aku bisa melihat dengan jelas bagaimana ekspresinya yang canggung itu.
Lift tidak pernah kosong, bahkan nyaris selalu terisi penuh sehingga tidak ada kesempatan untuk kami saling menyapa, sampai lift berhenti di lantai tujuh. Kali ini tidak didahului dengan lampu yang padam, tapi lift langsung berhenti. Semua orang yang berada di dalam lift tersentak kaget lalu mulai menggumam kalau liftnya berhenti. Semua orang tidak melakukan apa-apa selama beberapa menit, mengira lift akan berjalan lagi selama beberapa menit itu, tapi ternyata tidak, lift tetap diam sehingga orang-orang mulai berbisik panik. Seorang bapak yang mengenakan jas dan kemeja rapi berjalan ke panel angka dan menekan tombol merah, tombol darurat.
Sebuah suara terdengar tak lama kemudian dari speaker yang tertanam di samping panel angka. " Ya, ada apa? "
" Liftnya macet pak, nggak bisa jalan dilantai tujuh. " Kata Bapak yang berpakaian rapi itu kearah speaker.
" Oh maaf, liftnya memang sedang diperbaiki, mungkin butuh waktu beberapa menit, tolong sabar semua. " Seluruh isi lift langsung menggerutu kesal, sementara aku hanya bisa menghela napas dan memukul jidat.
Ternyata beberapa menit yang dikatakan laki-laki dari speaker itu tidak benar. Buktinya setelah menunggu selama hampir setengah jam, lift itu belum juga jalan. Orang-orang yang berada di dalam lift sudah mulai kesal, laki-laki berpakaian rapi tadi sudah melonggarkan dasi dan melepas jasnya, sementara sepasang suami istri yang membawa kedua anak sudah mulai sibuk menenangkan anak-anak mereka. Sang ayah sibuk menjawab pertanyaan anak balitanya yang tidak berhenti, sedangkan ibunya sedang sibuk menenangkan bayinya yang mulai menangis.
Keadaan tidak nyaman ini membuat kami tambah pusing. Aku terpaksa merapatkan diri ke arah laki-laki misterius itu sementara wanita setengah baya yang tadinya berdiri diantara kami yang ternyata adalah suster bayi yang menangis itu memintaku bertukar tempat. Kini semua orang duduk di lantai lift, berusaha menyamankan diri sementara tangisan sang bayi semakin menggelegar.
Aku sendiri tidak tahu harus berbuat apa selama menunggu. Rasanya sangat tidak enak kalau kau berdampingan dengan orang yang kau kenal tapi tidak berani kau sapa. Aku berpikir keras untuk memutuskan cara apa yang akan aku pakai untuk menyapa laki-laki ini, tapi saat aku sudah memutuskan untuk mulai bertanya, ternyata laki-laki itu melakukan hal yang sama sehingga omongan kami bertabrakan. Kami berhenti pada saat yang bersamaan juga lalu sama-sama tersenyum lega.
" Lo dulu, deh. " Kataku duluan.
" Lo aja. " Jawabnya menggeleng.
" Nggak, lo aja. Omongan gua nggak teralu penting. " Bantahku.
" Gua cuma mau bilang, kalau kita kayaknya ditakdirin buat ketemu waktu lift macet mulu, ya? " Aku tersenyum manis, tahu benar kalau itulah kata-kata yang ingin aku katakan tadi.
" Liftnya udah tua, kali. " Tanggapku, lalu kami berdua tertawa, merasa lega karena suasana diantara kami sudah tidak kaku lagi walaupun sang bayi sekarang sudah menjerit-jerit.
" Ngomong-ngomong, thank's waktu itu lo mau bantu gua. " Kata laki-laki itu akhirnya.
" Nggak pa-pa, masa ada orang yang lagi susah nggak gua bantu. Tapi kalo boleh gua tau, siapa yang mukulin lo sampe babak belur kayak gitu? " Aku tahu pertanyaan ini sedikit lancang ditanyakan, jadi sebelum sempat dijawab aku buru-buru menambahkan: " Kalo lo nggak mau jawab juga—"
" Bokap gua. "
" Hah? "
" Gua dipukulin bokap gua. Dia selingkuh sama cewek lain di hotel ini. Waktu gua pergokin, bokap gua malah marah dan mukulin gua. " Laki-laki itu ternyata menjawab pertanyaanku walaupun dengan mata menerawang yang seolah-olah menyesali kebenaran kata-katanya. Aku buru-buru minta maaf, sekaligus aku juga sangat menyesal karena sempat mengira dia yang bukan-bukan: pemakai narkoba, bahkan sampai orang berpenyakit menular.
" Sorry ya, gua sempet mukul lo. "
" Nggak pa-pa, gua juga yang salah nggak sengaja nyium lo. "
Aku langsung tersipu malu, ingat kalau ternyata kami memiliki hubungan yang tidak seperti orang yang berkenalan di lift lainnya karena kejadian kecil itu.
Saat tersipu malu itu, tiba-tiba lift bergerak turun lagi. Semua orang di dalam lift bernapas lega, beranjak dari duduknya dan membenahi penampilan mereka, tahu benar kalau enam lantai lagi lift akan berhenti di lantai dasar tempat tujuan mereka. Bahkan sang bayi berhenti menangis, seolah tahu kalau dia akan segera keluar dari penjara berlapis kertas dinding bermotif kayu ini.
Aku dan laki-laki itu tidak berkata apa-apa lagi sampai lift membuka di lantai dasar dan semua orang keluar dari lift. Aku berada di urutan terakhir, masih berpikir bagaimana caranya supaya aku tidak hanya berhubungan dengan laki-laki misterius itu sampai disini. Tapi otakku tidak bisa diajak untuk berpikir sehingga laki-laki misterius yang berada di depanku berbalik dan bertanya duluan.
" Nomor handphone lo berapa? "
Aku tersenyum manis sekali lalu memberikan kartu namaku dengan mata berbinar senang. Dia berpikir sama dengan yang aku pikirkan! Jeritku dalam hati. Laki-laki itu menatap kartu nama bermotif bunga terbaruku lalu tersenyum manis.
" Nama lo Snada? Gua Danang. Entar gua telepon lo, oke? "
Masih dengan tersenyum manis dia berlalu dari hadapanku, membuat senyum di bibirku mengembang semakin lebar. Sekarang aku sudah berkenalan dengannya, tinggal menunggu sebuah nomor asing menghubungi ponselku dan mengaku bernama Danang. Sepertinya ada sebuah kisah _yang mudah-mudahan_romantis menungguku karena kejadian di dalam lift itu. Dan siapa tahu aku akan mengalami kejadian romantis lain di dalam lift bersama laki-laki misterius ini? Eh, handphone ku berdering, ada nomor asing menghubungiku!

 
SELESAI

 

 

… CERPEN 4 …


HOKINYA CINTA

 

Hai, namaku Yusa, masih berumur lima belas tahun kelas 1 SMU swasta yang cukup terkenal. Aku gadis biasa saja kok, serius. Hanya saja baru beberapa minggu masuk SMU ini, hidupku jadi lebih dari biasa saja. Bukan sesuatu yang terlalu penting sih, tapi bagiku pribadi ini sudah merupakan langkah besar, langkah yang luar biasa besar. Mulai penasaran, ya? Oke aku beritahu, sekarang aku punya pacar. Mungkin bagi kalian ini hanya masalah biasa: masuk SMU, punya pacar dan menghabiskan masa SMU yang indah bersama pacar tercinta. Tapi percaya deh, buatku ini adalah hal luar biasa yang aku alami.
Penampilanku biasa saja, nyaris sama seperti teman-temanku yang lain: cantik, manis dan aktif juga ceria. Aku tidak membanggakan diri dengan menyebut kalau aku cantik, loh. Bagiku, cantik itu relative bagi setiap orang, dan cantik bukanlah patokan utama untuk bisa menilai apa pemilik wajah cantik itu memiliki sifat yang cantik juga atau tidak. Aku juga tidak membanggakan diri dengan mengatakan kalau aku baik. Sekali lagi, baik itu relative, tergantung bagaimana cara orang menilainya. Yang jelas, aku hanya ingin menekankan kalau aku nyaris sama seperti teman-teman sebayaku. Mungkin hanya satu yang bisa membedakan semuanya: aku tidak bisa bicara. Bukan-bukan, aku tidak bisu, hanya saja aku ditakdirkan untuk memiliki ukuran lidah lebih pendek dari pada milik orang lain sehingga aku tidak bisa berbicara dengan jelas. Aku bisa mengeluarkan suara, tapi suara itu terdengar tidak sama dengan suara orang lain. Iya, aku cacat.
Jelas kan kenapa tadi aku mengatakan kalau mempunyai seorang pacar seperti sebuah mukjizat buatku? Sekali lagi aku katakan, aku cacat. Tidak banyak orang yang bisa memaklumi keadaanku yang seperti ini. Sebagian besar menganggap aku orang cacat yang merepotkan. Tapi untungnya ada juga yang tidak berpikiran seperti itu, seperti keluargaku misalnya. Aku memiliki kedua orang tua yang masih lengkap dengan seorang adik laki-laki yang semuanya selalu mau membantu, mendukungku untuk terus percaya diri dan memperlakukanku seperti orang normal. Walaupun memiliki aku yang cacat dan hidup pas-pasan, mereka tidak pernah mengeluh dan selalu bersemangat.
Selain keluargaku, ada juga para kakek dan nenek yang tinggal di panti jompo tempat ibuku bekerja sebagai perawat selama sepuluh tahun lebih, yang juga memperlakukanku dengan sangat baik. Sejak kecil aku yang tidak pernah bermain dengan teman-teman sebayaku karena mereka menganggapku sangat merepotkan, diperbolehkan bermain di panti untuk menemani para kakek-nenek disana. Mungkin ibuku tidak tega meninggalkan aku sendirian dirumah, jadi dia meminta izin untuk membawaku ke panti. Tapi aku sangat bersyukur diperbolehkan bermain di panti itu karena aku bisa menemani para lansia yang memperlakukanku dengan sangat baik.
Satu lagi orang yang sangat memahami keadaanku adalah Suci. Dia adalah teman sejak aku masih kecil. Aku ingat, dulu sewaktu aku masih SD dan sangat ingin bergabung dengan teman-temanku yang sedang bermain lompat tali, mereka tidak memperbolehkan aku ikut dan malah mengejekku habis-habisan. Mereka mengatakan aku anak cacat jelek yang merepotkan, dan aku hanya bisa menangis tanpa bisa membalas. Tapi tiba-tiba Suci datang merentangkan tangannya di depanku dan membelaku dengan berani. Mulai saat itu dia adalah sahabat pertamaku, sampai sekarang.
Kembali pada kenyataan kalau aku sudah punya pacar. Namanya Yuma. Nama kami memang mirip dan gara-gara nama yang mirip inilah kami bisa berkenalan. Hari ketiga aku masuk sekolah, aku mendengar pengeras suara memanggil namaku supaya datang ke kantor kepala sekolah. Aku panik saat itu, tidak tahu apa kesalahan yang sudah aku lakukan sehingga aku dipanggil menghadap kepala sekolah. Apa pihak sekolah baru menyadari kalau mereka sudah salah memasukkan anak cacat ke sekolah umum? Apa alasan yang mengatakan bahwa aku masih bisa berjalan, mendengar dan berpikir dengan normal tidak bisa dijadikan point plus lagi buatku?
Aku masuk ke ruang kepala sekolah tanpa sempat mengetuk pintu sangkin paniknya. Dan yang aku temukan adalah cowok ganteng, tinggi, berkulit putih dengan rambut pirang ala landak, duduk di depan Ibu kepala sekolah yang kelihatannya sedang marah. Aku terdiam di depan pintu, tidak tahu harus bagaimana.
" Yusa, kenapa kamu kesini? " Ibu kepala sekolah memandangiku dengan heran, sedangkan Yuma_cowok ganteng, tinggi dan sebagainya tadi_memandangiku dengan tatapan heran dan cuek sekaligus. Dan aku? Aku diam saja sambil membalas pandangan mereka dengan polosnya.
" Kamu salah denger,ya? Kirain Ibu manggil kamu? " Tanya Ibu kepala sekolah lagi. Aku buru-buru mengangguk. " Ya udah, kamu duduk dulu disini, kebetulan memang ada yang mau Ibu omongin juga sama kamu. " Ibu kepala sekolah menunjuk kursi lain diseberang mejanya, kursi yang berada tepat disamping Yuma. Aku berjalan lambat dan duduk dengan canggung disana, lalu Ibu kepala sekolah melanjutkan obrolannya dengan Yuma yang terputus tadi.
Kedengarannya Ibu kepala sekolah marah sekali melihat warna rambut Yuma yang mencolok itu dan mengancam Yuma agar mengembalikan warna rambutnya dalam satu hari atau Yuma akan di skors dua minggu. Yuma menanggapinya dengan cuek, seakan tidak perduli kalaupun dia dikeluarkan sekalipun. Walaupun begitu, besoknya aku melihat rambut Yuma sudah berwarna hitam lagi; ternyata dia tidak sepenuhnya cuek.
Setelah selesai memarahi Yuma, Ibu kepala sekolah menatapku dengan pandangan sayang lalu berkata dengan lembut.
" Yusa, kamu harus betah sekolah disini. Kamu diperlakukan sama dengan anak-anak lain, nggak ada yang ngebeda-bedain, jadi kamu nggak usah minder, ya? "
Sebenarnya aku tidak ingin mengeluarkan sepatah katapun saat itu, tapi Ibu kepala sekolah kelihatannya menungguku untuk menjawab, jadi aku menjawab dengan gagap seperti biasa, merasa sedikit canggung dengan kenyataan ada Yuma disampingku.
Pertemuan keduaku dengan Yuma terjadi di sekolah lagi. Saat itu aku sedang berada disituasi yang cukup gawat. Aku tidak sengaja menabrak Serli, ketua klub cheerleaders yang dikenal paling cantik, paling berpengaruh juga paling jutek. Merasa tidak terima ditabrak olehku, Serli cs malah memarahiku dan mendorongku sampai terpojok ke dinding. Mungkin mereka pikir ini adalah saat yang tepat untuk menggencetku. Aku ketakutan, tidak tahu harus melawan bagaimana dan rasanya mau menangis. Tapi untunglah tiba-tiba terdengar seorang cowok berteriak memerintah Serli cs berhenti. Yang berteriak itu Yuma, dengan tampang galak menatap Serli dan teman-temannya. Serli cs langsung pergi meninggalkanku gemetar di dinding.
" Lo nggak pa-pa? " Yuma sudah ada disampingku, menatapku dengan khawatir. Aku buru-buru menggeleng. " Mereka tuh emang resé! Lain kali lo jangan jalan sendirian, ya! " Aku buru-buru mangangguk lagi dan Yuma pergi meninggalkanku sambil masih saja menggerutu. Saat itu aku sangat berterima kasih atas apa yang sudah dilakukan Yuma terhadapku. Dia sudah membantuku lepas dari jeratan Serli cs, seperti seorang pangeran dengan kuda putihnya yang menyelamatkan aku dari antara para penyamun. Dan diam-diam aku mulai menyukainya.
Pertemuan ketiga membuatku jauh lebih menyukainya, karena apa? Karena Yuma langsung memintaku menjadi pacarnya. Waktu itu aku diminta menemani Suci untuk pergi bersama pacar barunya, Hans. Awalnya aku tidak mau, soalnya aku tidak pernah berpikir untuk menjadi pengganggu diantara dua sejoli yang sedang dimabuk cinta ini, tapi Suci memintaku berulang-ulang dan sebagai teman yang baik akhirnya aku menyetujuinya. Tapi persetujuan itu aku buat sebelum aku tahu kalau ternyata Yuma juga diajak! Ternyata Yuma dan Hans memang berteman akrab jadi tidak salah kalau Hans mengajak sahabatnya ikut kencan karena pacarnya pun mengajak sahabatnya ikut juga. Tapi kebetulan itu membuatku tidak nyaman karena ternyata bisa berhadapan langsung dengan Yuma setelah aku menyadari kalau aku menyukainya malah membuat jantungku berdebar kencang. Sekarang aku hanya bisa berdoa semoga Yuma tidak mendengar suara jantungku.
Yah, paling tidak acara kencan pertama Suci dan Hans berjalan lancar walaupun anggapan ini hanya berlaku untuk Suci, karena semuanya sesuai dengan yang direncanakannya. Suci dan Hans sibuk bergandengan tangan dan berjalan beriringan, sementara aku dan Yuma berjalan di belakang mereka dalam diam dengan jarak nyaris satu meter.
" Lo masih suka digangguin sama Serli? " Ini pertanyaan pertama yang dilontarkan Yuma setelah sekian lama kami berdiam diri dan aku menggeleng. Sebenarnya gangguan itu masih ada, tapi tidak langsung berasal dari Serli, melainkan dari teman-teman gengnya, tapikan Yuma menanyakan Serli, bukan teman-temannya, jadi aku menggeleng saja.
" Cewek kayak lo emang paling enak dijadiin sasaran. Lo jadi pacar gua aja, jadi lo nggak bakal digangguin lagi. "
Begitu saja. Yuma mengatakannya dengan jelas dan tegas, bukan menanyakan pendapatku, tapi seperti perintah. Dan aku mematuhinya walaupun tanpa menjawab, soalnya kata-katanya begitu tegas, seolah-olah tidak mau dibantah. Tapi bagaimana aku bisa yakin kalau kata-kata Yuma itu adalah pernyataan cinta, bukan hanya celetukan biasa? Bisa saja Yuma hanya mengatakannya saja tapi tidak memintaku untuk benar-benar pacaran dengannya. Ya, aku bisa yakin karena besoknya Yuma menjemputku pagi-pagi di depan rumah. Aku tidak tahu bagaimana dia bisa mengetahui alamatku, yang jelas saat aku bertanya kenapa dia ada disini dengan suara gagapku yang biasa, dengan entengnya dia menjawab:
" Ngejemput lo, gua kan pacar lo. "
Jadi jelas kan kalau sekarang aku memang pacarnya? Aku memang beruntung, aku tahu. Kalian tidak akan pernah tahu seberapa bersyukurnya aku karena hokiku yang satu ini. Sumpah.
# # #
Itu kejadian dua minggu yang lalu. Sekarang semua kejadian yang seperti mimpi itu sudah bisa aku terima bukan hanya sekedar mimpi indah tapi memang kenyataan. Yuma sudah menjadi seorang pacar yang sangat memperhatikan dan melindungiku dari gangguan orang-orang seperti Serli cs. Dia bagaikan pangeran yang mengendarai motor sport sebagai ganti kuda putihnya, walaupun pangeran yang satu ini tidak romantis seperti pangeran-pengeran lain dari negeri dongeng. Yuma tidak pernah memegang tanganku, yang dia lakukan hanyalah berjalan satu langkah di depanku dan memberikan lengannya agar aku bisa menggelayut disana. Semua orang sudah mengetahui hubungan kami. Orang tuaku menyukai Yuma karena sikap protektifnya di nilai sangat gentlemen dan semua orang disekolah pun tahu. Awalnya semua orang tampak terkejut, tapi aku tidak heran kok. Yuma pacaran denganku memang sesuatu yang tidak masuk akal tapi benar-benar terjadi. Mungkin kisah cintaku ini hampir mirip dengan dongeng 'Beauty and the Beast' yang legendaris itu, tapi bedanya di dongeng ini aku yang menjadi 'Beast'.
Bahkan Serli pun kaget. Setiap kali aku dan Yuma lewat di depan Serli cs, mereka memandangi kami seolah melihat Yuma sedang berjalan di sebelah alien dari planet lain. Tapi bagaimana pun juga, Serli cs tidak pernah menggangguku lagi sejak kabar aku berpacaran dengan Yuma itu resmi benar. Yuma memang tidak pernah membiarkanku jalan sendirian, mungkin Serli cs merasa tidak punya kesempatan.
Satu-satunya orang yang menanggapi kabar ini dengan sangat senang hanyalah Suci. Terlalu senang malah. Walaupun awalnya dia sedikit marah karena aku tidak memberitahu kepadanya kalau aku menyukai Yuma sejak beberapa waktu yang lalu, tapi tetap saja dia sangat senang dan mendukung. Menurutnya, dengan berpacarannya aku dan Yuma berarti cita-citanya untuk bisa double date denganku akan segera tercapai. Alasan yang aneh.
Tapi hari ini adalah hari pertama aku ke sekolah tanpa Yuma. Dia terserang flu yang cukup parah yang membuat badannya panas, kepalanya pusing dan terkapar tidak berdaya. Aku sih maklum saja, soalnya selama beberapa minggu ini dia sudah mati-matian menjagaku, mengantar dan menjemputku dalam cuaca apa pun. Jadi aku tidak boleh mengeluh hanya karena Yuma tidak bisa menemaniku. Bagaimanapun Yuma sakit gara-gara aku. Jadi aku berjalan ke kelas dengan santai seperti biasa sambil berpikir apa buku PR Matematikaku sudah aku masukkan ke dalam tas. Tapi tiba-tiba sebuah tangan menarik lenganku dan membawaku ke balik dinding kelas paling ujung yang dekat dengan kantin pojok sekolah. Disamping kantin pojok itu ada sebuah lahan kosong yang sering digunakan anak-anak nakal untuk merokok. Aku dibawa kesana dan didorong ke dinding. Siku kiriku terbentur dinding, rasanya berdenyut dan sakit sekali.
" Sakit, ya... " Suara cewek terdengar mengejekku. Aku menengadah dan menemukan bukan hanya satu, dua, tapi lima. Lima cewek yang sudah aku kenal menggerumuniku dengan seorang cewek berambut ikal panjang berdiri di tengah rombongan. Itu Serli.
" Wah, liat siapa cewek di depan gua? Yusa si anak cacat! "
Serli mulai mengejekku lagi, aku kira dia tidak berani lagi. Mungkin keberaniannya timbul lagi karena mendengar Yuma sedang sakit dan membiarkan aku berkeliaran sendirian tanpa kandang. Dia memandangiku dengan jijik sambil menyilangkan tangan di depan dada. Aku balas menatapnya, bukan dengan pandangan ketakutan tapi dengan pandangan kesal.
" Apa lo liat-liat?! " Hardik Serli saat aku menatapnya seperti itu.
" Lo mau apa? " Tanyaku dengan suara cacatku yang biasa sambil memasang tampang paling galak yang aku bisa.
" Lo ngomong apa, sih? Kalo nggak bisa ngomong, ya nggak usah ngomong! Denger ya, jangan kira lo jadian sama Yuma berarti lo hebat. Yuma pasti punya alasan yang menyedihkan sampe mau pacaran sama lo! "
" Lo jangan ngomong sembarangan! " Teriakku dengan gagap seperti biasa, marah karena nama Yuma dibawa-bawa.
" Nggak percaya? Denger ya, yang pantes pacaran sama Yuma tuh gua, bukan lo. Jadi gua saranin lo putus sama Yuma. Ngerti? " Aku tidak menjawab. " Ngerti nggak?! " Tangan Serli sudah terangkat, sepertinya siap mendorongku lagi atau_lebih parah lagi_mungkin akan memukulku. Tapi terdengar bel masuk berbunyi nyaring di ujung sana, membuat Serli menghentikan tangannya diudara, mendecak kesal dengan pelan, lalu mengajak anak buahnya pergi. Aku langsung menghela napas dengan lega. Kali ini aku selamat, untunglah.
Tapi bukan Serli namanya kalau dia akan menyerah untuk menyiksaku sampai disitu. Tidak. Besoknya semua masih terus berlanjut. Aku yang masih harus pergi ke sekolah sendirian masuk ke kelas dengan selamat. Tapi saat aku mau duduk di mejaku, aku langsung takut lagi. Yang aku temui adalah tempat dudukku yang penuh lumpur, cat dan rumput-rumput kotor, juga penuh dengan coretan dan goresan yang terbaca: 'Orang cacat nggak pantes ada disini!'. Sekarang rasa takutku sudah bercampur dengan kesal, sedih dan marah. Semua anak-anak menggerumuni tempat dudukku dan berbisik sambil sesekali tertawa dan menunjuk-nunjuk aku, bukannya membantu aku. Sampai akhirnya seorang guru datang dan melihat keadaan tempat dudukku. Guru itu marah sekali. Dia tidak mau mendengar alasan yang aku katakan dengan tergagap-gagap dan tetap menganggap aku sengaja merusak meja dan bangku sekolah. Akhirnya aku diperintahkan untuk memindahkan meja dan kursiku sendiri ke gudang dan belajar sendiri di perpustakaan. Ini tidak adil, aku tahu, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk membela diri. Aku hanya melihat Serli cs saat keluar kelas. Mereka melihatku dengan tatapan puas dan tertawa senang. Ini perbuatan mereka, aku tahu, tapi aku tidak punya bukti apa-apa.
Suci menghampiriku saat istirahat, menatapku dengan prihatin lalu marah-marah memaki Serli cs dengan geram.
" Gua yakin ini pasti ulah Serli, deh! Siapa lagi yang berani ngelakuin kayak gitu kalau bukan dia sama antek-anteknya? Dasar monyet! Dia tuh sebenernya ngiri sama lo gara-gara lo jadian sama Yuma! " Omel Suci panjang lebar, sementara aku hanya diam. Entah kenapa, sekarang aku berpikir mungkin apa yang dikatakan Serli itu memang benar.
" Mungkin gua emang nggak pantes buat Yuma. " Kataku lemas dengan gagap biasa.
" Nggak pantes gimana? " Sembur Suci cepat. " Lo pikir Yuma cuma mainin lo? Dia Cuma kasian sama lo? Nggak bener-bener sayang sama lo? " Aku diam saja. Jujur saja, aku memang memikirkan itu, tapi aku lebih memiliih tidak mengakuinya. " Denger, ya. " Lanjut Suci. " Gua kenal sama Yuma dan gua yakin dia bukan cowok yang kayak lo pikirin, jadi jangan mikir yang aneh-aneh, ok? "
Suci memandangiku dengan lebih serius, seolah-olah mengancamku untuk mengatakan 'iya', jadi aku buru-buru mengangguk walaupun masih tidak yakin.
Dan inilah karma yang aku terima karena sudah meragukan perasaan Yuma terhadapku. Sepulang sekolah aku mendapat kecelakaan. Saat aku hendak menuruni tangga yang menghubungkan laboratorium dan perpustakaan, aku merasakan ada seseorang yang dengan sengaja menyenggolku dan membuat aku jatuh terguling ke bawah tangga. Semua anak-anak terlihat sangat kaget melihat kecelakaan itu tapi tidak ada satu orang pun yang bertampang sangat puas atau apa yang bisa dituduh sebagai tersangka. Bahkan seorang kronco Serli yang berdiri di puncak tangga juga terlihat sangat kaget sama seperti anak-anak lain. Hanya Suci yang buru-buru menghampiriku dan membantuku naik, dan saat itulah aku merasa kalau pergelangan kakiku sangat sakit. Suci bersikeras mengantarku ke dokter dan setelah memeriksaku sebentar aku divonis mengalami keseleo dan harus istirahat di rumah selama tiga hari penuh.
Jadi aku disini, tinggal dirumahku yang nyaman di temani televisiku yang paling setia sepanjang masa menyiarkan semua acara tanpa henti. Sedang asik menonton infotainment yang (lagi-lagi) menanyakan mengenai perceraian artis yang menghebohkan, tiba-tiba pintu depan diketuk. Dengan tertatih-tatih aku melangkah ke depan pintu dan membukanya. Ada Yuma disana, mengenakan jaket dan celana jeans biasa.
" Hai. Gua tau dari Suci kalo kaki lo keseleo, jadi gua kesini buat jenguk lo. Udah baikan? " Yuma berusaha tersenyum walaupun dia sendiri masih belum sembuh benar. Suaranya masih terdengar bindeng dan hidungnya masih merah. Aku menjawab kalau aku baik-baik saja lalu mempersilahkan Yuma masuk dengan sedikit canggung. Pikiran kalau Yuma tidak benar-benar mencintaiku masih terngiang di otakku dan aku tidak tahu harus bertanya bagaimana.
" Serli yang ngedorong lo sampe kayak gini? " Tanya Yuma lagi, aku diam saja. " Mungkin gara-gara gua nggak masuk dua hari, jadi dia pikir bisa mainin lo lagi. Sialan banget! " Lanjut Yuma dengan geram, dan lagi-lagi aku hanya diam.
" Gua juga denger dari Suci kalo Serli bikin lo bingung soal gua. Dia bilang gua salah pacaran sama lo, ya? " Aku tertunduk malu, tidak menyangkan kalau ternyata kekhawatiranku yang memalukan ini akan dijawab langsung oleh Yuma secepat ini. Terima kasih Suci, kau membuatku tidak perlu repot-repot bertanya. Dasar!
" Lo mungkin nggak tau, tapi gua punya adik cewek yang sama kayak lo, nggak bisa ngomong lancar. Tapi dia meninggal dua taun yang lalu gara-gara ditabrak mobil. Jadi gua nggak asing lagi ngedenger cara ngomong lo. "
Aku tidak tahu mengenai ini, Yuma tidak pernah bercerita kalau dia punya adik yang cacat seperti aku yang sudah meninggal. Pantas kalau dia begitu mengerti apa pun yang aku katakan dengan gaya gagapku yang biasa. Dia menganggapku seperti adiknya sendiri, ini bukan sesuatu yang buruk.
" Lo juga mungkin nggak tau kalo gua dari kecil tinggal sama nenek gua. Tapi semenjak setaun yang lalu, nenek minta dipindahin ke panti jompo. Gua sering ngunjungin dia di panti, dan di sana gua ngeliat lo pertama kali. "
Buru-buru aku menengadah. Yang benar? Jadi nenek Yuma tinggal di panti jompo tempat Ibuku bekerja? Jadi kemungkinan besar aku sudah mengenal dan akrab dengan nenek Yuma?
" Nenek gua juga sering cerita tentang lo. " Lanjut Yuma. " Dia bilang, ada gadis cacat, anak suster bagian dapur yang baik banget. Dia selalu nemenin kakek-nenek di panti, bikin mereka seneng. Walaupun cacat, dia nggak pernah minder atau malu, malah mukanya kayak malaikat: putih, polos dan cantik. "
Wajahku otomastis memerah mendengar perkataan Yuma ini. Aku tidak tahu kalau kakek-nenek di panti beranggapan seperti itu mengenai aku. Aku hanya merasa diterima dengan baik disana, jadi aku sangat menghargai dan menyayangi semua penghuni panti.
" Gua bukan orang yang bisa disogok sama kecantikan fisik atau materi, atau hal-hal remeh kayak gitu. Gua tau gimana rasanya dianggap anak cacat dari adik gua, dan gua juga tau gimana rasanya nggak mau ngerepotin orang dari nenek gua. Dan itu bikin gua sadar kalau orang nggak bisa dinilai dari fisik. Gua lebih milih mencintai cewek yang cacat fisik dari pada cacat hati. Gua lebih milih lo dari pada cewek kayak Serli. "
Kalian tahu bagaimana rasanya jika sebuah benda panas disiram oleh air dingin? Benda itu akan mengeluarkan asap karena melepas panas secara tiba-tiba lalu mendesis seolah bernapas lega. Itulah yang aku rasakan setelah mendengar penjelasan Yuma tadi. Tiba-tiba semua pikiran jelekku kemarin hilang seketika. Aku memang tolol karena meragukan Yuma, tapi paling tidak sekarang aku tidak perlu bertanya-tanya lagi.
" Jadi lo masih mau nanya lagi seberapa besar rasa suka gua sama lo, atau lo mau tau apa yang bakal gua lakuin buat ngebales Serli? "
Tanya Yuma sambil tersenyum menatapku. Hidungnya tidak semerah tadi, kini dia terlihat lebih sehat. Aku juga ikut tersenyum. Entah bagaimana, rasanya kakiku yang terkilir sudah tidak terasa sesakit tadi. Sepertinya aku sudah kuat berjalan dan buru-buru ingin menunjukkan kepada Serli kalau ternyata Yuma lebih memilih gadis yang cacat fisik dari pada cacat hati, dan gadis cacat itu aku. Hokiku memang bagus dalam percintaan, aku tahu.
" Dua-duanya. " Jawabku dengan gagap seperti biasa.

 
SELESAI

…… CERPEN 3 ……


BUKAN CINDERLELA
Aku sedang membaca.

 
... lalu Cinderlela duduk dan mencoba sepatu kaca itu. Semua orang terperangah saat sepatu kaca itu masuk dengan pas kedalam kakinya, tidak kebesaran seperti pada kaki kakak perempuan pertamanya, atau kekecilan seperti pada kaki kakak keduanya. Dan sang Pangeran langsung melamar Cinderlela menjadi istrinya, and they live happily ever after...

 
Kalian tahu cerita ini, kan? Dongeng Cinderlela yang terkenal itu? Kalian juga pasti tahu, bahkan mungkin sudah menghapal diluar kepala, bahwa kisah itu berakhir dengan bahagia, sama seperti dongeng percintaan lain. Tapi apa kalian yakin dongeng ini benar? Apa tidak ada rekayasa di balik cerita ini? Apa benar Cinderlela dan Pangeran akhirnya hidup bahagia selama-lamanya padahal kalian tidak pernah tahu sampai saat ini siapa nama Pangeran itu? Kalau kalian mau tahu, jawabannya: tidak.
Aku perkenalkan: Cindy Armadela, Cinderlela yang sebenarnya. Dia adalah temanku, dan kenapa aku mengatakan bahwa dia adalah Cinderlela yang sebenarnya? Karena kisah Cinderlela adalah kisah hidupnya. Cindy tinggal bersama ibu tiri dan kedua kakak tirinya yang memperlakukannya dengan tidak terlalu baik. Dia juga pergi ke sebuah pesta dansa yang diadakan keluarga besarku yang memang (bukan maksud menyombong) adalah keturunan bangsawan. Dan dipesta itu dia bertemu Martin, sepupuku, pangerannya. Mereka jatuh cinta tanpa ada insiden sepatu kaca karena waktu itu Cindy mengenakan sepatu biasa. Dan tentu saja tidak ada yang namanya ibu peri. Tapi akhir yang bahagia seperti pada dongeng Cinderlela itu tidak ada. Martin dipaksa pergi ke Amerika, ayahnya ingin membuka lahan perkebunan disana sehingga mereka harus berpisah. Jadi lihat? Tidak ada akhir yang bahagia, itu hanya bumbu pemanis cerita dari tukang dongeng.
Satu lagi yang membedakan Cindy dengan Cinderlela adalah kenyataan bahwa Cindy adalah anak tomboi, tidak feminim seperti Cinderlela. Cindy berambut panjang berwarna merah (yang cukup indah, kalau kau tanya pendapatku) tapi rambut itu selalu di ikat ekor kuda. Cindy senang menggunakan pakaian laki-laki, bukan mengenakan gaun panjang dan besar seperti gadis lain. Dia suka tertawa terbahak-bahak dengan mulut membuka lebar, tidak seperti wanita lain yang biasanya hanya akan tersenyum malu atau tertawa di balik kipas. Cindy juga menyukai teater, hal yang biasa dimainkan laki-laki. Dan dia suka memakai sepatu boot, sepatu kaca tidak akan bertahan lama dikakinya. Sehingga bisa disimpulkan bahwa kisah Cinderlela itu kurang otentik.
Dan apa yang membuatku ingin menceritakan hal ini? Ini semua semata-mata hanya karena satu hal: aku telah dengan tidak sengaja jatuh cinta dengan Cinderlela itu. Dengan Cindy, maksudku.
Ini jelas bukan masalah sederhana bagiku. Pertama, kenyataan bahwa Cindy adalah gadis yang dicintai sepupuku tidak bisa dihilangkan begitu saja. Walaupun aku menganggap kalau sepupuku itu telah melakukan kesalahan besar karena meninggalkan Cindy demi perintah ayahnya, ini tetap tidak mengubah kenyataan. Dia bahkan menitipkan Cindy kepadaku, dan ini menambah dilema tersendiri bagiku.
Kedua, mencintai seorang gadis biasa yang bukan dari keluarga bangsawan, yang darahnya tidak biru, yang uangnya tidak menggunung di brangkas kamar mereka adalah hal tabu dalam keluargaku. Kalau ayah Martin hanya memerintahkan Martin untuk pergi ke Amerika demi usahanya memisahkan Martin dan Cindy, maka keluargaku beda. Pikiran mereka lebih kolot, cara mereka lebih kejam. Keluargaku akan dengan rela melakukan sesuatu agar kami tidak hanya akan berpisah, tapi juga akan saling membenci dengan cara yang tidak terduga. Kalian tidak akan percaya kalau ternyata mereka bisa berbuat seperti itu.
Sudah berkali-kali aku mencoba untuk berpikir lebih rasional lagi. Aku tidak bisa jatuh cinta dengan Cindy. Dunia kami berbeda, terlalu banyak hal yang menghalangi. Aku bukan Martin, yang bisa mengacuhkan orang tuanya mengamuk atau orang lain mencibir karena dia telah jatuh cinta dengan seorang gadis biasa. Bukan berarti aku juga peduli dia bangsawan atau bukan, tapi terlalu banyak yang harus diperjuangkan jika kami ingin bersama. Lagipula, Cindy kelihatan sangat mencintai Martin, dia bahkan rela menunggunya selama setahun ini, jadi aku tidak akan pernah bisa jatuh cinta dengan Cindy.
Roy, sahabatku, sudah sering memperingatkan kalau aku tidak boleh jatuh cinta dengan Cindy. Dia bilang Cindy memang gadis yang gampang dicintai orang (mengingat betapa manis dan supelnya dia, aku setuju), tapi Cindy bukanlah calon yang akan membuat orang tuaku langsung menikahkan kami jika kami mengumumkan bahwa kami saling mencintai. Aku setuju itu, tapi semakin aku berusaha mengerti, aku malah semakin menyukai Cindy.
" Ethan! "
Itu dia Cindy. Dia sedang berlari kearahku, mengenakan celana dan sepatu boot seperti biasa, rambutnya masih dikuncir ekor kuda, wajahnya menyeringai. Otomatis, aku juga ikut menyeringai. Dia sampai didepanku, mengibaskan ekor kudanya ke belakang dan sambil terengah-engah berkata:
" Ethan, kau sudah berjanji akan berlatih denganku hari ini, ayo mulai! "
Aku mengangguk lalu Cindy duduk disebelahku dan menyerahkan buku naskah kepadaku. Kami bermain dalam teater yang sama dimana sekarang kami sedang mempersiapkan pementasan untuk dua bulan lagi. Dalam pementasan itu, kami berdua menjadi pemeran utama yang merupakan sepasang kekasih. Kecut juga kalau ingat bahwa kami berdua bisa menjadi sepasang kekasih hanya di dalam teater.
" Kau kenapa? Latihanmu jelek, tidak biasanya seperti ini. " Kataku sambil memandang wajah cantik itu. Dia memang tidak seperti biasanya, dialog yang dibacanya terpatah-patah dan berhenti tidak pada jeda yang tepat. Matanya juga tidak berbinar-binar lagi, seringainya menjadi jarang muncul. Dia menggeleng, aku melotot tidak percaya, dan akhirnya dia tertunduk.
" Boleh aku pinjam punggungmu? "
Matanya langsung berkaca-kaca, air mata malah sudah menetes dan sebelum aku sempat menjawab, Cindy sudah memutar badanku dan menangis dipunggungku.
Mungkin ini salah satu alasan aku jatuh cinta dengannya. Aku melihatnya tertawa, berjuang, bahkan menangis dengan mata kepalaku sendiri. Aku hanyut kedalam perasaannya, berbagi rasa dengannya, sesuatu yang tidak bisa dirasakan Martin, sehingga perlahan rasa peduliku berubah menjadi rasa sayang dan ingin melindungi. Bahkan sekarang aku begitu ingin memeluknya, biar dia bisa membasahi dadaku saja, jangan punggungku.
Cindy perlahan kembali berbalik ke hadapanku, mencoba tersenyum dengan matanya yang sembab lalu berbagi cerita. Dia bilang kalau dia sedang sedih menghadapi keluarga tirinya yang menyebalkan dan dia sedang sangat merindukan Martin. Ini adalah hal lain yang paling menyebalkan dari Martin yang dia sendiri tidak menyadarinya: dia selalu membuat Cindy menangis.
" Kau tahu? Pedih sekali rasanya jika kau sedang sangat membutuhkan seseorang tapi ternyata orang itu tidak ada disana untukmu. Rasanya seperti ada di pinggir jurang tapi tidak ada yang membantumu menyebranginya. "
" Aku tahu. "
" Tidak, kau tidak tahu. " Kata Cindy menyelaku. Dia tidak tahu bahwa perasaan seperti itulah yang aku rasakan terhadapnya. Ingin menggapainya, tapi tidak pernah bisa tergapai.
" Paling tidak, kau masih punya aku. " Kataku lagi yang membuat Cindy tersenyum lepas kali ini, tidak kecut seperti tadi, tidak dengan mata sembab, tapi benar-benar tersenyum.
" Itulah istimewanya kau dimataku. Kau selalu ada saat aku membutuhkanmu. Kau sudah menjadi lebih spesial dari pada Martin di hatiku. "
Cindy menatapku agak lama, mata ke mata, tapi aku malah menangkap sesuatu yang lain dari mata itu. Dia berpaling lalu berkata lagi:
" Aku mau cuci muka dulu, sekarang pasti terlihat lebih kusut dari pada tadi. "
Dia berbalik. Tapi entah sedang berpikir apa, aku malah menahan kepergiannya dengan memegang lengannya dan langsung menariknya kepelukanku lalu menciumnya. Cindy kelihatan kaget sekali, tapi dia tidak mendorongku, dia membiarkan aku menciumnya selama hampir semenit lalu baru dia mendorongku. Matanya jadi lebih berkaca-kaca lagi.
" Kau! Apa-apaan sih? " Cindy memelototiku dengan mata berkaca-kacanya lalu pergi. Aku yang baru saja sadar, sekarang panik mengejarnya sambil berteriak-teriak.
" Cindy! Cindy, aku minta maaf! "
Aku berhasil meraih tangannya dan menariknya berhenti.
" Apa yang kau lakukan? Kenapa kau menciumku? Apa yang kau pikirkan? "
" Aku minta maaf, tapi aku menciummu dengan sepenuh hati! Aku menyukaimu, Cindy. Aku menyayangimu. Mendengar keluh kesah dan senyum ceriamu malah membuatku tambah menyukaimu! " Aku tidak bisa berpikir, aku hanya bisa berbicara tanpa berpikir.
" Tapi aku pacar sepupumu! "
" Aku tahu. "
" Lagipula-lagipula, kita tidak akan bisa bersatu, derajat kita jauh berbeda, orang tuamu hanya akan membencimu seumur hidup! "
" Tapi aku menyukaimu! "
" Aku juga! " Aku langsung terdiam. " Iya! Aku juga menyukaimu, Ethan, tapi aku tidak bisa bersamamu. Kita berbeda, aku tidak mau kau berkorban untukku, cukup aku dan Martin yang merasakan susahnya pengorbanan itu! Jangan menciumku lagi. Jangan menciumku lagi dan menyesalinya nanti. "
Cindy pergi, kali ini aku tidak bisa menghentikannya. Dia sadar dengan cintaku dan sekaligus dia sadar dengan keadaan keluargaku, itu membuat kakiku tidak bisa bergerak. Kami terlalu berbeda dan dia tahu itu. Dia bahkan tidak ingin aku dibenci orang tuaku seumur hidup. Pikiran kami sama, tapi cinta kami ternyata tidak sejalan.
Sebulan kemudian Martin pulang, menikahi Cindy tanpa perduli dengan orang tuanya dan membawa Cindy ke Amerika. Mereka hidup bahagia selama-lamanya disana.
Sial, ternyata dongeng itu memang berakhir dengan bahagia.

 
# # #

 
Suara tepuk tangan bertalu-talu menggema memantul di ruangan luas itu. Aku tersadar dari lamunan kilatku karena sebuah tangan menarik lenganku dan membawaku ke tengah panggung yang sedari tadi aku naiki. Sudah ada sederet orang ditengah panggung itu, semua mengenakan kostum abad pertengahan dengan make up tebal. Kami semua membungkuk ke arah penonton yang masih saja bertepuk tangan, naik lagi, lalu satu per satu kembali ke belakang panggung.
Dibelakang panggung, situasinya tidak kalah meriah. Walaupun tidak banyak dipenuhi orang, semuanya ikut bertepuk tangan sehingga para pemain satu per satu membungkuk lagi dengan lebih santai dan menyengir lebar.
" Bangus banget, Lan. Lo mainnya bagus banget. "
Seseorang menepuk punggungku dan saat aku berbalik, aku menemukan Mas Agus, sutradara drama teater yang baru saja selesai aku mainkan tadi. Aku menggumamkan terima kasih dengan lemah.
Kalau yang tadi hanya pementasan teater, maka inilah yang sebenarnya: aku adalah Alan, seorang pemain teater yang baru saja selesai mementaskan sebuah drama dengan sangat sukses kalau dilihat dari sambutan penonton tadi. Drama teater yang kalian saksikan tadi berjudul 'Bukan Cinderlela' yang menceritakan _seperti yang kalian ikuti tadi_ mengenai seorang laki-laki keturunan bangsawan yang mencintai gadis bernama Cindy yang kisah hidupnya mirip dengan kisah Cinderlela. Dan Cindy adalah pacar sepupunya sendiri.
Secara sangat kebetulan, drama teater ini memang menceritakan kisahku yang sebenarnya. Aku sama dengan Ethan _nama tokoh yang aku perankan dalam drama teater ini_ yang (memang) menyukai seorang gadis bernama Cindy _yang dalam kehidupan nyataku bernama Dwi. Dwi sama seperti Cindy. Dia adalah gadis tomboi yang cantik dan sama seperti Cindy _yang juga sangat disayangkan_ Dwi juga sudah punya pacar. Nama pacarnya adalah Ben, yang untungnya bukan sepupuku. Dwi tidak tinggal bersama keluarga tirinya, dia tinggal dengan kedua orang tua kandungnya yang sangat menyayanginya.
Jadi sebenarnya yang kisah hidupnya sangat mirip dengan cerita itu, bahkan nasibnya pun sama, adalah aku dan Ethan.
Setelah membersihkan semua make up di wajahku, setelah mengganti baju dengan baju biasa milikku sendiri dan setelah memastikan handphoneku sudah aman di dalam tas, aku melangkah keluar dari ruang ganti untuk pulang dan beristirahat. Ditengah jalan, tepatnya di depan pintu keluar, jalanku terhenti karena aku melihat Dwi disana. Tampaknya dia ingin pulang juga tapi terhenti oleh seorang laki-laki tampan yang menyodorkan serangkaian bunga kepadanya. Itu Ben, pacarnya. Dwi menerima bunga itu sambil tersenyum manis lalu dia merangkul pacar gantengnya dan mereka berjalan beriringan keluar.
Aku terpaku ditempatku, tidak sedang memikirkan apa-apa, hanya tiba-tiba ingat dialog yang dibacakan Dwi saat dia sedang berakting di atas panggung sebagai Cindy bersamaku tadi.
" Pedih sekali rasanya jika kau sedang sangat membutuhkan seseorang tapi ternyata orang itu tidak ada disana untuk kita. "
Aku mengangguk untuk diriku sendiri. Benar juga, seperti berada di pinggir jurang tapi tidak ada orang yang mau membantu menyebranginya, kataku kecut di dalam hati. Sambil tersenyum pahit mengejek kemalangan nasib kisah cintaku sendiri, aku melanjutkan langkahku keluar dari gedung teater untuk menyongsong hari-hariku yang lain yang masih tetap tidak ada Dwi-nya ataupun Cindy-nya.

 
SELESAI