Tampilkan postingan dengan label random. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label random. Tampilkan semua postingan

HAPPY NEW YEAR 2017


Selamat tahun baru 2017!
Let's survive another year!
😊😊😊

MY NEW BAE: MANDALA

Hi! 
Sesuai dengan janji saya beberapa hari yang lalu, sekarang saya mau ngomongin soal mandala.
Apa itu mandala?
Kenapa saya sangat suka mandala?
Well, kalian bisa dengan mudah cari di google apa itu mandala. Dan jujur saja, saya juga mencari semua info tentang mandala di sana.
Intinya, mandala adalah sebuah pola, pattern. Awalnya mandala digunakan oleh umat Hindu dan Budha di tanah India sana. Mereka menggunakan mandala sebagai metode meditasi.
Secara harafiah, kata mandala berasal dari bahasa sansekerta: sanskrit yang berarti circle atau bulat. Pola mendasar mandala memang bulat yang dihiasi oleh berbagai macam simbol dan pola yang berulang-ulang dan selalu berpusat di satu titik. Nah, cara membuat seperti itulah yang membuat mandala bisa menjadi sarana meditasi yang manjur.
Setiap mandala memiliki ciri khas masing-masing. Mandala Hindu biasanya berbentuk kotak dengan pola undakan atau tangga. Mandala Budha biasanya berbentuk bulat dengan gambar Budha dan simbol keagamaan lainnya, seperti candi Borobudur yang merupakan salah satu lanscape mandala terbesar yang pernah ada di dunia.
Mandala yang paling saya suka adalah mandala dari Nepal. Pola yang mereka gunakan hampir mirip dengan mandala Hindu, hanya saja mereka membuat sebuah mandala super besar di atas sebuah meja besar atau lantai dengan mengunakan serbuk warna warni yang terbuat dari tumbukan batu. Mereka membuat mandala sebagai salah satu ritual keagamaan, lengkap dengan berbagai upacara dan doa-doa yang mereka senandungkan sepanjang acara yang bisa berlangsung berhari-hari. Bahkan acara 'menghapus' mandala pun memiliki rangkaian acara tersendiri yang setiap detailnya memiliki makna mendalam. You can find the detail ceremony at google or youtube. It's soooo amazing, you won't regret. 
Selain Hindu dan Budha, agama lain pun menggunakan mandala. Agama Kristen menggunakan mandala sebagai ornamen lukisan jendela atau lantai dan lain sebagainya. Salah satu ornamen mandala yang paling terkenal yang digunakan oleh umat Kristen ataupun Katolik adalah ornamen dalam Rose Wood Window yang sangat-amat menakjubkan.
Bahkan bangsa Indian di tanah Amerika sana juga menggunakan teknik mandala untuk membuat Dream Catcher mereka yang terkenal itu.
Psikolog terkenal Carl Jung (google his name to find more information about he) juga menyukai mandala dan menggunakan mandala sebagai salah satu metode psikologisnya. Menurut Carl Jung, membuat pola mandala yang berulang-ulang dan berpusat pada satu titik dapat membuat seseorang menjadi tenang dan fokus. Bahkan menurut beliau, pola yang dihasilkan setiap orang dapat menunjukkan bagaimana karakter orang tersebut.
Nah, karena alasan inilah saya sangat menyukai mandala. Membuat mandala memang bisa membuat saya tenang. Membuat mandala juga bisa membuat saya fokus. Dan semua itu adalah hal yang menyenangkan.
Rumit? Siapa bilang membuat mandala itu rumit? Semua orang bisa membuat mandala. Semua orang. Serius. Saya tidak mengada-ada. Bahkan seorang anak kecil pun bisa membuatnya. Masalahnya hanyalah seberapa banyak detail dan pola yang anda gunakan di dalamnya.
Seiring perkembangan zaman, macam pembuatan, pola dan bentuk mandala sudah sangat bervariasi. Semua simbol dan bentuk dapat digunakan untuk membuat sebuah pola mandala yang unik dan cantik. Dan tanpa sadar mandala sudah digunakan diberbagai media dengan berbagai tujuan.
Tertarik? Di kesempatan berikutnya saya akan membuat tutorial bagaimana cara membuat mandala. Tapi untuk saat ini saya rasa cukup, ya.
Semoga anda penasaran. 



AFTER TWO YEARS

Ya ampun saya sudah sangat-amat lama tidak menulis di sini. Dua tahun! Tapi saya senang bahwa ternyata walaupun saya 'tinggalkan' selama dua tahun chart viewers tetap bergejolak.

Jadi, apa yang terjadi selama dua tahun belakangan?

Well, perubahan paling drastis adalah saya yang sudah menjadi seorang ibu. Yup, ini alasan utama saya 'meninggalkan' blog ini untuk sementara waktu. Karena ternyata mengatur waktu antara urusan rumah tangga, pekerjaan, mengasuh (bayi besar dan bayi kecil), menulis, membaca dan (terutama) bersosialisasi dan menyalurkan hobi bukan hal yang mudah.

Tapi dalam masa rehat saya juga menemukan hal-hal baru. Salah satu yang paling menyita perhatian saya belakangan ini adalah menggambar. Secara khusus saya menggambar mandala. Apa itu mandala? Bagaimana cara menggambarnya? Nanti saya bahas di lain kesempatan, yah.

Yang penting, sepertinya saya mulai tertarik mengaktifkan blog saya lagi. Tentu akan ada beberapa perubahan dalam tata letak dan terutama konten yang saya tulis. Tapi jangan pikirkan masalah itu sekarang, biarlah semua berjalan apa adanya saja.

Kalian masih tetap bisa menghubungi saya di beberapa alamat media sosial atau pun e-mail. Oh iya, sekarang saya juga aktif di Instagram, silahkan follow jika memang tertarik di @black_rabbit13 atau @black_rabbit13_gallery untuk karya saya.

Hope we can always stay in touch.
😊😊😊

UNTUK APA MEMBUAT FILM?

“Apa sih alasan seseorang menonton film?”

Mungkin ini adalah pertanyaan yang sangat umum ditanyakan dan begitu basi untuk dibahas. Tapi, pernahkah kalian bertanya untuk apa sebuah film dibuat? Bagaimana jika sebuah film dibuat dengan tujuan dan maksud tertentu?

Selain untuk meraih sejumlah keuntungan, hampir setiap film dibuat untuk tujuan hiburan. Dengan meningkatnya aktifitas dan kesibukan hidup seseorang, terutama dikalangan penduduk kota besar, berdampak dengan tingkat stress yang semakin tinggi dari hari ke hari, kebutuhan hiburan pun semakin meningkat. Salah satu sarana hiburan yang paling digemari di seluruh dunia adalah film. Dengan menawarkan berbagai macam petualangan yang dapat dibagi secara personal kepada setiap penonton, menonton film bisa disebut sebagai sebuah media hiburan yang paling efektif untuk menghilangkan penat yang dirasakan akibat kegiatan sehari-hari yang padat dan monoton.

Selain itu setiap genre film memiliki misi mereka sendiri yang disampaikan kepada penonton tanpa penonton itu sendiri menyadarinya. Misalnya saja film horror, selain memberikan sensasi kaget yang selalu ditunggu-tunggu, film horror mengajarkan kita untuk dapat melawan rasa takut itu. Film kartun pun memiliki visi lain yang dapat kita pelajari. Selain membuat imajinasi kita berkembang dengan baik, beberapa film kartun, yang umumnya diperuntukkan bagi anak-anak, mengandung nilai-nilai kebaikan yang dapat dipelajari dan semoga saja dapat dicontoh dengan baik oleh penontonnya. Dan bahkan film komedi pun dapat mengajarkan penontonnya untuk dapat melihat sisi ‘lucu’ dari segala masalah yang kita hadapi dan mencari solusinya dengan suasana hati yang lebih ringan setelah tertawa.

Itu saja? Tunggu dulu, masih ada lagi. Media film dapat membantu para penontonnya untuk dapat meningkatkan rasa nasionalisme mereka, menghilangkan stigma negative masyarakat terhadap kalangan ataupun sesuatu dan bahkan dapat mengubah pencitraan penonton.

Tidak percaya? Masih ingat dengan film yang diperankan Shah Rukh Khan yang berjudul ‘My Name Is Khan’? Film ini dibuat pada tahun 2010, Sembilan tahun setelah tragedy pemboman menara kembar di Amerika pada 9 September 2001. ‘My Name Is Khan’ bercerita mengenai keluarga muslim di Amerika yang mengalami perlakuan buruk setelah peristiwa pemboman teroris terbesar di Amerika tersebut. Melalui film ini, para penonton diingatkan bahwa betapapun kejamnya tindakan terorisme tersebut, tidak semua muslim di dunia patut disalahkan.

Bahkan konon katanya film kartun Popeye The Sailorman yang pertama kali muncul sebagai comic strips di Koran King Features pada 17 Januari 1929 mampu meningkatkan minat anak-anak pada masa itu untuk mengkonsumsi bayam sehingga tingkat penjualan sayuran tersebut meningkat 30% lebih pada tahun 1933.

Dan bukan hanya itu. Bukan rahasia lagi bahwa Amerika yang merupakan Negara produsen film terbesar di dunia sudah begitu banyak membuat film-film terutama genre action di mana endingnya selalu dimenangkan oleh Negara tersebut, tidak peduli Negara mana yang menjadi lawan atapun sekutu mereka, tidak peduli makhluk dari planet manapun yang menyerbu dan bahkan tidak peduli bencana alam apa pun yang menerjang, Negara tersebut akan mampu bertahan. Well, kalau dipikir-pikir tindakan ini sungguh tidak adil, ya kan? Tapi bukankah mereka membuat film mereka sendiri? Jadi mereka tentunya bebas membuat film dengan tema yang mereka sukai, bukan?

Lagipula, tidak bisa dipungkiri, cara ini cukup efektif, loh! Melalui berbagai film action yang mereka ciptakan, film ini ternyata mampu meningkatkan nasionalisme penduduknya menjadi cukup tinggi. Ini dapat dibuktikan dari jumlah masyarakatnya yang rela mendaftarkan diri mereka menjadi tentara dengan suka rela untuk membela negera mereka tanpa perlu menerapkan system wajib militer. Selain itu, pemerintah Amerika sendiri begitu mendukung produksi perfilman Negara mereka karena mereka menyadari bahwa media ini adalah cara yang sangat ampuh untuk ‘menyentuh’ kalangan muda mereka dan ‘menanamkan’ pendidikan moral yang mereka inginkan.

Kenyataan ini seharusnya dapat menyadarkan kita bahwa media ini merupakan sarana yang cukup ampuh untuk merangkul kawula muda kita. Karena tanpa kita sadari, film membawa dampak yang cukup besar bagi masyarakat modern, sama seperti iklan televisi, social media dan media cetak. Terlepas dari berbagai dampak negative yang pastinya akan selalu ada di setiap hal yang dilakukan setiap orang, bukankah media film ini cukup berhasil memberi dampak yang baik bagi penontonnya?


Dan mau tidak mau kita juga harus mengakui bahwa perkembangan masyarakat pun dapat dilihat dari perkembangan media-media tersebut. Jadi bisakah kalian bayangkan bagaimana perkembangan masyarakat kita bila film-film dalam negeri yang dapat kita konsumsi kebanyakan adalah film-film horror bertema tahayul yang penuh dengan unsure seksual atau film-film drama komedi ecek-ecek yang hanya menjual paha dan dada? Saya rasa sudah saatnya penonton Indonesia dapat lebih kritis memilih tontonan yang akan mereka tonton. Dan hendaknya para sineas di perfilman Indonesia juga dapat bangkit dan menciptakan film-film berkualitas yang dapat ‘dipelajari’ para penontonnya, bukan hanya mempertimbangkan sisi keuntungan pihak sineas semata. Jika memang target pasar mereka adalah para anak-anak bangsa, maka hendaknya para sineas dapat lebih menanamkan visi dan misi yang lebih positif di setiap karya mereka tersebut. Bukankah masa depan Negara kita ada di tangan anak-anak bangsa kita sendiri?

BANDUNG TAK LAGI RAMAH

Saya sudah tinggal selama hampir dua puluh tahun di Bandung, dan sebagai pendatang, secara tidak langsung saya mengikuti perkembangan kota kembang yang sudah berumur lebih dari dua ratus tahun ini. Tapi sayangnya, selama dua puluh tahun ini, perkembangan kota Bandung tidak terlalu menggembirakan. Memang nama kota Bandung semakin mewangi seiring dengan bertambahnya jumlah factory outlet dan berbagai tempat rekreasi lain. Berbagai event pun banyak digelar di kota Bandung, mulai dari yang bertaraf regional, nasional maupun internasional. Belum lagi setelah diresmikannya penggunaan tol Cipularang, penduduk kota Jakarta dan kota lain kini dapat dengan mudah datang ke Bandung hanya dalam hitungan jam saja. Dampaknya? Pembangunan merebak bak jamur di musim hujan.
Berbicara mengenai hujan, kota Bandung begitu sensitive dengan kata yang satu ini. Rumusannya begini: jika kota Bandung ditambah dengan hujan sama dengan banjir dan macet. Hampir seluruh jalan di sepanjang kota Bandung, baik itu jalan raya maupun jalan kecil, dihiasi dengan lubang dan genangan air. Hujan atau pun tidak, genangan air yang kotor akan selalu ada, membuat bukan saja para pengendara roda dua saja tapi juga pengendara roda empat pun harus berhati-hati. Walaupun saya tidak bisa membuktikan secara akurat dan menuliskan jumlah yang specific, tapi saya bisa memastikan bahwa jumlah kecelakaan yang terjadi di jalan kini sebagian besar didominasi karena kerusakan jalan.
Keadaan ini juga sama tidak menyenangkan bagi para pengguna kendaraan roda empat atau lebih. Kondisi jalan raya yang penuh lubang, fasilitas rambu lalu lintas yang tidak memadai, jumlah jalan satu arah yang membingungkan dan banjir di mana-mana membuat ketidaknyamanan bagi semua pengendara. Belum lagi kemacetan yang harus mereka hadapi setiap harinya sehigga membuat keadaan lalu lintas kota Badung tidak jauh berbeda dengan lalu lintas ibukota Jakarta yang jauh lebih padat penduduk.
Dan bagaimana dengan para pejalan kaki? Percaya atau tidak, nasib mereka tidak kalah memprihatinkannya. Kondisi angkutan umum yang tidak memadai memang sudah menjadi rahasia umum, tapi bukan hanya itu. Fasilitas untuk pejalan kaki pun tidak memadai, dengan kondisi trotoar yang rusak, jalan yang banjir dan kotor dan dipenuhi oleh pedagang kaki lima, serta lampu jalan yang tidak berfungsi, bahu jalan yang dipenuhi berbagai kendaraan yang berebut untuk melintas dan tindak kriminalitas yang semakin tinggi membuat lahan dan keselamatan para pejalan kaki seolah dijajah.
Betul, Bandung sudah tidak ramah lagi, bahkan untuk para pejalan kaki.
Bagaimana solusi terbaik untuk masalah ini? Memberantas korupsi di pemerintahan sudah merupakan wacana basi untuk dibahas. Menumbuhkan kecintaan lebih kepada kota Bandung pun sudah tidak perlu dilakukan lagi. Semua orang justru sangat mencintai Bandung, kalau tidak bagaimana mungkin mereka mau datang ke Bandung setiap akhir minggu, bukan? Mengajak para penduduk untuk melestarikan lingkungan pun tidak akan bisa terlaksana dengan baik jika bahkan pemerintah daerah tidak mau mendukung dan ikut berpartisipasi. Dengan hanya memiliki luas ± 167.67 km², sudut kota Bandung mana lagi yang akan ditutupi oleh besi dan beton? Apa lagi yang harus kita bangun jika ingin kota Bandung kita yang tercinta ini ‘tenggelam’ dengan cepat? Jadi, apa yang bisa dilakukan?
Kenapa pemerintah tidak mencoba untuk mengharamkan pembangunan dan menghalalkan peremajaan saja? Ada begitu banyak bangunan indah dan megah di kota kita ini dan sebagian besar belum digunakan secara maksimal. Kenapa pemerintah tidak memaksimalkan apa yang ada saja dan menggunakan lahan yang tersisa untuk sesuatu yang lebih berguna, seperti menambah ruang terbuka hijau dan daerah resapan air, misalnya? Kenapa pemerintah tidak memberikan kewajiban bagi setiap pengusaha yang membangun mall, hotel dan semua gedung tinggi di sekitar Bandung untuk memanfaatkan minimal seperempat luas tanah yang mereka gunakan untuk membangun taman, menanam pohon dan menyerap air?

Lagipula, kota Bandung merupakan ibukota Jawa Barat yang tidak terlalu besar dan terkenal dengan masyarakatnya yang ramah. Saya rasa semua penduduk Bandung setuju bahwa mereka tidak memerlukan keberadaan mall dan hotel disetiap sudut rumah mereka jika dari satu mall ke mall yang lain bisa ditempuh dengan nyaman dan aman hanya dalam waktu kurang dari sepuluh menit dengan berjalan kaki.

RAPID FIRE QUESTION

wahhh.... saya dapet rangkaian pertanyaan yang menarik banget dari sahabat saya, +Ria Tumimomor
karena pertanyaannya seputar buku dan tulis menulis, jadi saya mau banget ikutan jawab....
ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab, antara lain:

- Pertanyaan WAJIB:
1. nambah atau ngurangin timbunan buku?
Me: nambah. tapi untungnya saya cukup pemilih soal buku yang saya beli, jadi nambahnya nggak terlalu banyak. kecuali dapet buku bagus yang lagi discount. hehehehe...
2. pinjam atau beli buku?
Me: lebih suka beli. lebih bebas bacanya. :D
3. baca buku atau nonton film?
Me: wah susah nih. saya suka dua-duanya. suka banget. tapi saya lebih suka baca buku, sih. lebih seru dan lebih bebas berimajinasi. :)
4. beli buku online atau offline (tobuk yang temboknya bisa disentuh)?
Me: offline,  bisa lebih bebas milih soalnya....
5. (penting) buku bajakan atau ori?
Me: ori dong.... biasanya kualitasnya lebih bagus...
6. gratisan atau diskonan?
Me: diskonan aja deh. soalnya kalo yang gratisan belum tentu buku yang saya mau.
7. beli pre-order atau menanti dengan sabar?
Me: menanti dengan sabar juga nggak masalah....
8. buku asing (terjemahan) atau lokal?
Me: jujur aja, nih. saya lebih suka buku terjemahan soalnya materinya (biasanya) lebih menarik.
9. pembatas buku penting atau biasa aja?
Me: kalau ada sih ya bagus, kalo nggak ada juga nggak apa-apa. saya kan punya koleksi bookmark yang lain. hehehe....
10. bookmarks atau bungkus chiki?
Me: maksudnya apa yah ini? kalo buat buku ya mendingan bookmark, tapi kalo lagi laper yah chiki aja deh! :D

- Pertanyaan tambahan:
1. novel atau komik?
Me: dulu sih dua-duanya, sekarang lebih suka novel.
2. disampul atau nggak?
Me: disampul dong... biar covernya awet!
3. notes FB atau blog?
Me: defenitely BLOG!
4. cover atau sinopsis?
Me: sinopsis. cover bisa menipu!
5. dijual atau disumbangkan?
Me: pengennya sih dijual biar bisa beli buku baru lagi. hehehehe.... XD

- Pertanyaan tambahan dari Sista Ria:
1. Facebook atau Twitter?
Me: Twitter. di facebook udah banyak yang nyebelin. paling cuma share twit aja ke FB.
2. tidur di angkot atau membaca di angkot?
Me: tidur. baca di dalam angkot suka bikin pusing.
3. mengetik atau menulis?
Me: menulis, ada sensasi lebih dari pada mengetik walaupun tetep aja ujung-ujungnya harus mengetik juga. hehehehe....
4. lebih enak buku atau e-book?
Me: buku. baca e-book terlalu lama bisa bikin pusing dan sakit mata. entar minus mata bisa nambah lagi.....
5. buku baru atau baju baru?
Me: BUKU DONGGGGG..... udah beli buku baru beli baju. hahahaha....

yes, udah dijawab! saya nggak bakal nge-tag yang lain deh. kan saya baik.... apa coba...
buat kalian yang mau menjawab pertanyaan macam ini, silahkan bikin di blog masing-masing dan mention linknya ke saya via twitter @black_rabbit13. nanti saya RT deh... (^_^)

D’PADJADJARAN SPA AND ME: NEW BESTFRIEND


Saya bukan orang yang suka ke salon atau pun spa. Yah, kebanyakan uang yang saya punya dihabiskan untuk membeli buku, sih. Tapi begitu mendapatkan undangan dari D’Padjadjaran Spa Bandung untuk menghadiri acara pembukaannya, saya langsung setuju dan datang bersama dengan teman-teman Blogger yang lain seperti Bang Aswi (@bangaswi), Mbak Nchie (@nchiehanie1), Mbah Alaika (@alaikaabdul), Mbak Evi (@EviSriRezeki), Bang Argun, Bang Edo (@Eduard777) juga Mbak Angela Devina dari Looxperiments (@looxperiment). Dan saya memang tidak menyesal sama sekali karena ternyata D’Padjadjaran Spa Sundanese Spa and Reflexology yang terletak di salah satu mall besar di kota Bandung ini memang sangat menyenangkan untuk dikunjungi.
D’Padjadjaran Spa mengklaim sebagai tempat spa pertama dan satu-satunya di dunia yang menggunakan konsep pemijatan a la Sunda yang disebut peuseul. Tapi, masih banyak nih yang bingung: apa bedanya Spa dan tempat pijat biasa, sih? Menurut sang pemilik, ibu Susi, yang juga berkesempatan menerangkan secara langsung kepada kami mengenai konsep D’Padjadjaran Spa yang dianutnya, bersedia menerangkan. Berbeda dengan tempat pijat biasa, Spa harus terdapat hydro terapinya di mana unsur utamanya berupa air, pijat dan aroma terapi, sehingga seseorang yang mendapatkan perawatan Spa bukan hanya akan merasakan kesehatan raga tapi juga kesehatan jiwanya.
Sesuai dengan konsepnya, D’Padjadjaran Spa menawarkan berbagai macam fasilitas yang kental dengan tema Sunda. D’Padjadjaran Spa memakai ramuan tradisional yang juga digunakan oleh para Putri, Raja dan Ratu kerajaan Pajajaran di mana mereka memang terkenal senang menggunakan berbagai rempah untuk melakukan perawatan baluran, peuseul maupun luwuran dan siraman. Spa ini juga menawarkan suasana khas Sunda yang menyenangkan. Begitu saya masuk, para terapis atau yang disebut juga dengan abdi dalem akan menyapa dengan salam khas Sunda sambil tersenyum ramah. Lalu sebelum mulai, setiap tamu akan mendapatkan pelayanan pencucian kaki seperti yang dilakukan para abdi dalem untuk menghormati Raja dan Ratu mereka. Dan bukan hanya itu saja, setelah melakukan perawatan, para abdi dalem juga akan menyediakan berbagai minuman hangat khas Sunda yang bisa kita pilih, misalnya bajigur, bandrek, atau minuman sejenisnya.

Dekorasinya pun menarik. Suasananya sengaja didesain dengan penerangan yang tidak terlalu terang sehingga meninggalkan kesan remang-remang yang nyaman dan menenangkan. Penggunaan lantai batu dengan dinding bilik yang terbuat dari anyaman bambu, juga berbagai ornament dan tanaman bambu ramping yang juga digunakan sebagai pembatas ruangan membuat kita seolah menyatu dengan alam. Tempat ini juga mengenakan fasilitas dan berbagai furniture yang minimalis tapi elegan. Kimono, celana pendek dan sandalnya pun terbuat dari kain batik yang selalu baru sehingga terasa bersih dan nyaman dipakai. Para abdi dalem tadi berpakaian serba kebaya/sarung dan batik yang bersikap sangat ramah, membuat para pengunjung semakin betah saja.
Macam-macam perawatan Spa yang ditawarkan pun cukup menarik. Pengunjung bisa memilih fasilitas mana saja sesuai selera yang semuanya menggunakan berbagai macam rempah yang diracik langsung oleh ibu Susi sendiri, sang pemilik. Misalnya pada fasilitas Siram Waras Raga para pengunjung akan mendapatkan sensasi perawatan Spa, mulai dari Peuseul (pijatan khas Sunda), Luwuran (Body Scrub), Baluran (Body Mask) dan Mandi Rendaman dengan menggunakan rempah-rempah alami yang dibungkus dalam punch lalu dibungkus dengan daun pisang yang dihangatkan. Unik sekali, yah. Dan ternyata rempah-rempah dan daun pisang itu sangat bermanfaat untuk melancarkan peredaran darah dan melemaskan otot yang kaku setelah beraktifitas, loh.
Tapi ramuan yang digunakan bukan hanya ramuan tradisional saja. Jika kalian tidak terlalu suka menggunakan ramuan jamu-jamuan yang memancarkan bau yang khas itu, kalian bisa memilih menggunakan coklat seperti pada fasilitas Siram Langgeng Arum, green tea pada fasilitas Siram Tepis Wiring, buah-buahan pada fasilitas Siram Endah Raga atau pun susu pada fasilitas Siram Weningsari. Atau kalian tidak punya banyak waktu untuk melakukan spa? Pelayanan MassageSpa dan Reflexology yang ditawarkan di sini juga sangat beragam dan menarik.
Saya mendapatkan kesempatan langka untuk mencoba Yoga Massage. Menurut saya, perawatan yang satu ini memang sangat cocok untuk saya. Sebagai seorang ibu rumah tangga yang harus mengurusi keperluan suami seorang diri dan juga menghabiskan delapan jam sehari di balik meja kantor menghadap computer dan berbagai data sepanjang hari, mendapatkan pelayanan Yoga Massaga sungguh-sangat-amat menyenangkan. Berbeda dengan fasilitas pijat pada umumnya, Yoga Massage adalah cara pemijatan modern yang tidak menggunakan minyak atau ramuan apa pun. Hanya saja, Yoga Massage menggunakan metode pijatan yang cukup keras dengan teknik pijat pada persendian dan peregangan. Selama dua jam, saya mendapatkan pijatan nikmat di setiap persendian yang dapat membantu melancarkan peredaran darah dan menghilangkan pegal-pegal. Bahkan sakit kepala yang sempat saya rasakan beberapa hari belakangan ini pun hilang!
Tidak diragukan lagi, saya dan D’Padjadjaran Spa ini bisa jadi sahabat yang sangat baik. Bagaimana tidak? Setelah pengalaman pertama yang sangat menyenangkan ini, saya tidak akan keberatan untuk datang dan menikmati fasilitas Spa atau Massage lagi di sini. Lagi pula tidak ada batasan umur atau pantangan lain agar bisa mendapatkan fasilitas di sini. Bahkan ibu hamil pun diperbolehkan walaupun tidak dianjurkan untuk ibu yang sedang hamil muda dan tidak disarankan mengambil fasilitas Yoga Massage. Tapi jangan kecewa, masih ada begitu banyak fasilitas Spa dan Massage lain yang bisa dipilih. Lagi pula, D’Padjadjaran Spa ini terdapat di salah satu mall terkenal di Bandung, jadi kalian bisa datang bersama dengan anggota keluarga dan melakukan Spa atau Massage bersama. Atau kalian juga bisa memanjakan diri di sini sendirian sementara anggota keluarga yang lain bisa berjalan-jalan di mall yang menyenangkan ini, kan?
Jadi, langsung saja datang ke Paris Van Java (PVJ) dan kunjungi D’Padjadjaran Spa di “Resort Lifestyle Place” Glamour Level, GL-C-07A dan buktikan sendiri kenyamanannya. (^_^)





RATING FILM BAGI PENONTON

Pernahkan kalian menonton film di televisi local kita dan mendapati beberapa adegan yang diblur, ditimpa gambar lain atau bahkan dipotong? Pernahkah kalian memperhatikan sebuah huruf kecil di pojok layar televisi anda yang biasanya berwarna putih transparan setiap anda sedang menonton? Atau pernahkah kalian memperhatikan pada detik-detik awal sebelum layar bioskop memutar film Hollywood yang akan kalian tonton, terdapat layar hijau atau merah dengan beberapa kotak dan huruf di tengahnya? Sebenarnya symbol apakah itu?
Bagi yang belum mengetahui, symbol tersebut adalah Rating, di mana rating tersebut berguna untuk memberikan informasi kepada para penonton apakah film atau tayangan tersebut layak untuk ditonton bagi kalangan tertentu, terutama bagi anak-anak.
Amerika Serikat yang bisa disebut sebagai salah satu kiblat perfilman dunia memiliki lembaga yang mengatur mengenai rating film-film yang beredar. Lembaga swasta tersebut bernama MPAA (Motion Picture Association of America) yang berdiri pada 1 November 1968 dan bertujuan untuk membantu para penonton, terutama para orang tua, untuk menentukan film dan tayangan mana saja yang layak ditonton bagi anak-anak mereka. Terdapat beberapa unsur yang sangat diperhatikan lembaga ini, antara lain bahasa, hal cabul atau nudity, tindak kekerasan atau violence, penggunaan obat-obatan terlarang dan beberapa unsur lain. Macam-macam rating tersebut adalah sebagai berikut:
-    G (General Audiences) All Ages Admitted. Jenis rating ini untuk film yang mengandung unsur bahasa, tema atau nudity, penggunaan obat-obatan terlarang dan violence yang minim. Umumnya bisa ditonton siapa saja tanpa perlu dampingan orang dewasa.
-    PG (Parental Guide Suggested) Some Material May Not Be Suitable For Children adalah rating yang diberikan pada film yang perlu ditonton dengan bimbingan atau pengawasan dari orang tua. Biasanya terdapat penggunaan kata-kata kasar di dalamnya, violence dan nudity tapi tidak ada unsur obat-obatan terlarang.
-    PG-13 (Parent Strongly Cautioned) Some Material May Be Inappropriate For Children Under 13 diperuntukkan bagi film yang memiliki unsur-unsur yang tidak cocok bagi anak di bawah tiga belas tahun. Beberapa unsur violence, penggunaan kata-kata kasar dan nudity memang terasa lebih ‘berani’ jika dibandingkan dengan rating PG tapi tidak terlalu berlebihan.
-    R (Restricted) Under 17 Requires Accompanying Parent Or Adult Guardian adalah jenis rating untuk film yang mengandung unsur violence, penggunaan kata-kata kasar dan nudity yang lebih berani dari pada rating PG-13. Juga penggunaan obat-obatan terlarang yang sangat perlu bimbingan orang tua.
-    NC-17 (No One 17 And Under Admitted) digunakan untuk film yang sama sekali tidak diperuntukkan bagi anak-anak berumur di bawah tujuh belas tahun karena mengandung unsur violence, nudity, penggunaan obat-obatan dan tema atau juga penyimpangan perilaku yang terlalu dewasa dan kompleks.
MPAA sudah berkembang selama bertahun-tahun dan dasar penilaian mereka pun sudah banyak mengalami pembaharuan yang disesuaikan dengan zaman dan kepentingan para penggunanya. Dan selama ini kinerja mereka sangat membantu dan dipatuhi oleh hampir semua sineas dan pekerja seni Hollywood. Uniknya, setiap film yang diproduksi menyerahkan karya mereka kepada MPAA untuk mendapat cap rating secara suka rela, seolah mereka tahu benar bahwa hasil rating lembaga ini sudah menjadi pedoman bagi para penonton dan dapat sangat mempengaruhi daya tarik film tersebut.
Indonesia memiliki MPAA-nya sendiri yang kita kenal dengan nama LSF (Lembaga Sensor Film). Lembaga inilah yang memberikan predikat D (Dewasa), R (Remaja), BO (Bimbingan Orang Tua) atau SU (Semua Umur) pada film-film bioskop atau tayangan televisi.
Tapi, menurut kalian, apakah peranan MPAA atau LSF atau lembaga semacam ini benar-benar dibutuhkan dan berguna?
Jujur saja, agak sulit menemukan jawaban untuk pertanyaan itu bagi penduduk Indonesia. Saya tidak bermaksud mendeskriminasi atau apa, tapi pada kenyataannya penduduk Indonesia memang ‘lebih bandel’ atau mungkin ‘lebih tidak mau tahu’ (saya tidak bisa memutuskan mana ungkapan yang lebih pas dari dua pilihan tersebut, jadi saya sertakan keduanya). Ini terbukti dengan keberadaan symbol rating pada acara televisi atau film bioskop yang hampir-hampir tidak digubris.
Mungkin memang susah untuk menggubris symbol tersebut karena anak-anak zaman sekarang sudah sangat tergantung dan terbiasa dengan acara televisi sehingga para orang tua tidak bisa melakukan hal lain selain membiarkan mereka menonton selama berjam-jam dan bahkan hingga larut malam agar mereka bisa ‘tenang’.
Dalam beberapa waktu belakangan ini tayangan di televisi telah mengalami penyensoran yang cukup signifikan. Misalnya untuk adegan merokok, menodongkan senjata dan bahkan (maaf) belahan dada yang terlalu terbuka sudah diblur. Ini memang menunjukkan peranan LSF yang sudah mulai terasa. Tapi tidak semua kalangan menyukai langkah ini karena kadang pemotongan adegan yang tidak rapi dapat membuat alur cerita menjadi kacau.
Tapi bukan hanya itu. Para pembuat film dan para koleganya pun belum banyak yang tergerak untuk membuat jenis film lain yang lebih layak ditonton bagi kalangan anak-anak. Mungkin karena pasar tersebut memang tidak terlalu menjanjikan sehingga penonton Indonesia harus puas dengan film-film drama romantis atau horror comedy dewasa yang membuat dunia perfilman Indonesia menjadi tidak variatif. Belum lagi segi lain yang, mau tidak mau, harus mendapatkan perhatian paling besar, yaitu segi keuntungan.
Pihak distributor, yang pada dasarnya merupakan pihak yang paling dekat dengan pangsa pasarnya pun tidak mau repot-repot memberikan tanda, melarang anak-anak untuk menonton film yang bukan untuk usia mereka atau pun sekadar memberitahu para orang tua yang mengajak anak-anaknya menonton film yang ‘salah’. Beberapa kali saya mengalami sendiri bagaimana rasanya menonton film horror atau film yang penuh tindakan kekerasan bersama sepasang orang tua yang membawa serta buah hatinya yang masih balita. Yakinlah, pemandangan tersebut cukup miris untuk dilihat.
Amerika pun memiliki kendala yang kurang lebih sama dengan penduduk Indonesia, walaupun mungkin beberapa kalangan orang tua masih mau memperhatikan rating tersebut dan mengawasi bahan tontonan yang dikonsumsi anak-anak mereka. Lembaga ini pun memiliki kelompok yang menentang keberadaannya. Ada saja beberapa kalangan sineas yang tidak suka jika hasil karya dan kerja keras mereka ‘dilabelkan’ oleh MPAA sehingga memutuskan untuk memasarkan film tersebut secara indie. Mungkin ini dikarenakan tidak jarang pihak MPAA pun menyarankan untuk memotong atau membuat ulang adegan-adegan yang dianggap sangat tidak pantas dan tidak bisa digunakan dalam sebuah film. Nah, para sineas yang cukup idealis menganggap bahwa permintaan ini akan menghilangkan ‘rasa’ dalam film tersebut sehingga membiarkan film tersebut menyandang rating NR (Not Rated) atau UR (Unrated). Dengan menyandang rating ini, sebagian besar penonton, terutama_lagi-lagi_para orang tua, malah telah terdoktrin terlebih dahulu dengan menganggap bahwa film dengan symbol seperti ini tidak diperuntukkan bagi anak-anak di bawah umur, walaupun sebenarnya belum tentu demikian.
Nah, bagaimana menurut kalian sendiri? Apakah rating film memang dibutuhkan, atau tidak?
310113 ~Black Rabbit~

MOVIE’S BENEFIT FOR A WRITER


Setujukah kalian bahwa sebagian besar penulis pasti suka menonton film? Saya punya cukup banyak teman di jejaring social yang sering kali berbagi cerita bahwa mereka selalu berusaha meluangkan waktu untuk menonton film di bioskop secara teratur, menyukai film tertentu atau baru saja menonton film yang sangat disukainya untuk kesekian kali. Dan sebagian besar penulis tersebut berpendapat bahwa kegemaran mereka menonton film sangat berguna untuk mengembangkan kemampuan menulis mereka. Benarkah begitu?
Bagi sebagian penonton lain yang tidak berprofesi atau pun memiliki kegemaran menulis, menonton film bisa berarti sebuah rekreasi. Dengan menonton film, mereka membebaskan pikiran untuk berimajinasi bagaimana jika kisah dalam film tersebut terjadi pada mereka. Penonton bisa berandai-andai menjadi seorang polisi, superhero atau bahkan pembunuh tanpa benar-benar membahayakan diri mereka sendiri. Ada juga penonton yang menyukai film tertentu karena memiliki ketertarikan terhadap actor/aktris yang bermain di dalamnya. Para penggemar, terutama penggemar fanatic, akan dengan suka rela menonton film apa pun yang diperankan oleh actor/aktris favorit mereka, tidak peduli apakah film tersebut memang berkualitas atau tidak. Dan ada juga penonton yang suka menonton film hanya untuk sekedar mengisi waktu luang.
Tapi bagi seorang penulis, menonton film bisa menjadi salah satu cara untuk mengasah kemampuan menulis mereka. Saya sendiri adalah seorang penulis amatir yang masih berusaha belajar terus menerus agar teknik menulis saya bisa menjadi lebih baik lagi. Dan salah satu cara belajar paling menyenangkan yang saya lakukan adalah dengan menonton film.
Sama seperti buku, sebuah film juga memiliki tema, alur, tokoh, setting, klimaks dan ending yang ingin diceritakan kepada orang lain. Bedanya, film adalah sebuah buku yang diceritakan secara visual seolah ‘menghidupkan’ imajinasi yang tertuang dalam setiap lembarnya. Sedangkan buku membebaskan para pembaca untuk berimajinasi seluas mungkin, tanpa batas. Karena itu, tidak heran jika para pembaca buku sering kali merasa kecewa dengan film yang dibuat berdasarkan buku tertentu. Kemungkinan besar imajinasi mereka tidak sama dengan apa yang coba diterjemahkan sang sutradara sehingga membuat mereka kecewa dan secara tidak langsung mengekang imajinasi mereka.
Tapi, sekali lagi, sebagai seorang penulis saya bisa belajar banyak dari sebuah film. Saya bisa belajar mengenai tema yang dipilih sang sutradara, alur yang dilalui, tokoh yang dibentuk, setting yang digunakan dan lainnya. Lagi pula, menonton banyak film berkualitas dengan tema yang beragam akan memperkaya imajinasi dan ‘membuka’ mata imajinasi kita menjadi lebih lebar dari pada sebelumnya. Asiknya, semakin lama, saya akan semakin mahir memilih mana film yang memiliki alur yang menarik, tokoh mana yang memiliki karakter paling kuat dan bahkan saya dapat menilai actor/aktris mana yang memiliki kekuatan acting yang bagus. Bukan hanya itu, saya pun semakin pintar untuk menilai film mana yang memiliki kualitas baik dan mana yang buruk.
Memang ‘membedah’ sebuah film tidak jauh berbeda dengan ‘membedah’ buku. Tapi ada satu hal paling bermanfaat yang saya dapatkan dari kegemaran saya menonton film, yaitu saya dapat belajar ‘membaca’ apa yang coba dituangkan sang sutradara secara visual. Saya percaya, jika kita dapat ‘membaca’ dengan baik sisi visual tersebut dan dapat pula menjabarkan kembali visualisasi tersebut secara lisan maupun tulisan, maka besar kemungkinan kita adalah seorang (calon) penulis yang baik. Karena bagaimana pun pada dasarnya seorang penulis adalah orang yang pandai menuliskan segala hal yang dilihat dan dirasakannya lalu mengemasnya dengan menarik sehingga enak dibaca.
Jadi bagi saya pribadi, penting bagi seorang penulis untuk gemar menonton film dan mengerti mengenai film yang ditontonnya. Bagaimana caranya?
Coba saja diskusikan film yang sudah kamu tonton dengan orang lain yang juga sudah menontonnya atau buat review sederhana mengenai film tersebut. Beri penilaian dari berbagai sisi, termasuk bagaimana sang sutradara bercerita, alurnya, penokohannya, temanya, endingnya, pokoknya semua detail film tersebut. Temukan sisi positif dan negatifnya, cari keunggulan dan kelebihannya dan juga beri penilaian secara objektif agar pendapat kita tidak terkesan berat sebelah. Jangan hanya asik melihat actor/aktris yang ganteng dan cantik saja, yah. Jika bisa memberikan penilaian melalui kaca mata penulis bahkan lebih baik lagi. Dengan begitu acara menonton film yang tadinya hanya acara malam minggu biasa bisa berubah menjadi acara yang menyenangkan sekaligus berguna, kan?
Coba saja. (^_^)

050113 ~Black Rabbit~

MIYABI ON SCREEN IN INDONESIA ( ? )


Mendengar kabar ini untuk pertama kali membuat saya kaget juga. Miyabi, bintang film panas dari Jepang yang sangat terkenal nyaris di seluruh dunia itu mau bermain dalam film garapan Indonesia? Yang benar? Setelah saya mendengar kabar ini lebih jauh, kelihatannya isu ini akan terbukti benar. Apa lagi ada nama Raditya Dika yang di sebut-sebut juga berkenaan dengan film barunya yang berjudul 'Menculik Miyabi'. Raditya Dika memang sudah cukup terkenal di Indonesia melalui novel berdasarkan kisah blognya yang terkenal itu melejit dan dibuat versi layar lebarnya. Bisa di bilang, Raditya Dika adalah komedian baru yang memiliki potensi besar di dunia perfilman kita, bukan hanya sebagai novelis, penulis naskah ataupun sutradara film yang baru akan digelutinya.
Kembali kepada isu tentang Miyabi yang akan datang ke Indonesia, hampir semua pria_terutama yang terbiasa dengan perjalanan di dunia maya dan yang biasa mengkoleksi film panas_akan langsung kenal dengan gadis bernama Maria Ozawa a.k.a Miyabi. Profesionalismenya sebagai bintang film panas sudah tidak perlu di ragukan lagi karena gadis yang baru berumur 25 tahun ini sudah terjun ke dunia gemerlap artis film panas Jepang sejak berumur 19 belas tahun. Keputusannya untuk terjun ke dunia film panas itu sempat ditentang oleh kedua orang tuanya, tapi Miyabi tidak gentar dan tetap menjalankan profesi yang dipilihnya itu walaupun pada akhirnya kedua orang tuanya tidak lagi menganggapnya sebagai anak. Dengan wajah cantik keturunan Spanyol, Belanda dan Jepang ini memiliki apa yang ingin dimiliki semua gadis cantik di dunia ini. Tidak seperti gadis Jepang lain yang umumnya memiliki mata sipit, Miyabi memiliki mata yang besar dan indah, dengan bulu mata yang lentik dan menggoda. Bukan hanya itu saja, tubuhnya tinggi semampai dengan lekukan yang nyaris sempurna. Jika mengesampingkan pertanyaan apakah Miyabi melakukan operasi plastic sama seperti gadis Jepang lain pada umumnya, tidak bisa dipungkiri bahwa Miyabi adalah gadis impian kaum adam di seluruh dunia. Tapi bukan berarti Miyabi bisa hidup bahagia. Dengan ketenaran dan kekayaan yang dimilikinya dia harus menghadapi kenyataan kalau kehidupan pribadinya tidak bisa lagi di selamatkan. Miyabi menjadi sangat pintar memasak karena dia tidak bisa keluar dari apartemen mewahnya hanya sekedar untuk makan. Miyabi seperti hidup di dalam sangkar emas yang telah dibangunnya sendiri.
Tapi apakah benar Miyabi akan datang ke Indonesia dan bermain dalam film garapan anak bangsa? Kedatangannya saja sudah menjadi kontrofersi tersendiri, apa lagi kesediaannya untuk bermain film bersama aktor-aktor kita? Pasalnya ketenaran Miyabi sudah sangat di kenal masyarakat luas, baik tua maupun muda, kalangan bawah atau pun kaum elite. Siapa yang tidak akan gempar jika Miyabi hadir di depan mata mereka? Terlepas dari semua itu, kabar gembira ini berarti nilai lebih bagi industri perfilman Indonesia karena itu artinya para sineas muda Indonesia sudah berani mengeksplor diri untuk menciptakan film-film bermutu yang dapat dibanggakan tidak hanya di negeri sendiri tapi juga di manca negara. Jadi semua penilaian saya serahkan kepada public yang dapat menilai dengan lebih berpengaruh dari pada saya, hanya saja saya rasa pihak managemen film tersebut harus bergerak cepat untuk bisa mewujudkan impian mereka itu sebelum pihak pemerintahan 'tersadar' lalu menentang dengan keputusan 'haram' mereka. Dan juga semoga saja pemberitaan ini tidak hanya sekedar penyebaran informasi untuk sekedar mendongkrak popularitas film yang bahkan belum mulai di buat ini.
~Black Rabbit~

INTRODUCTION


Namaku Vinna, lahir 1 September 1985. Menulis adalah hidupku, tapi dunia maya adalah kenalan baruku. tidak banyak yang bisa aku bagi untuk kalian, aku hanya punya blog ini sebagai diary dan curhatan nggak penting yang tertulis di sini yang bisa aku bagikan. tidak perlu menganggap tulisan-tulisan ini sebagai isi blogku, bahkan tidak perlu membaca semua ini kalau memang tidak tertarik. aku hanya ingin menulis, tidak lebih, tidak kurang, itu saja.