UNTUK APA MEMBUAT FILM?

“Apa sih alasan seseorang menonton film?”

Mungkin ini adalah pertanyaan yang sangat umum ditanyakan dan begitu basi untuk dibahas. Tapi, pernahkah kalian bertanya untuk apa sebuah film dibuat? Bagaimana jika sebuah film dibuat dengan tujuan dan maksud tertentu?

Selain untuk meraih sejumlah keuntungan, hampir setiap film dibuat untuk tujuan hiburan. Dengan meningkatnya aktifitas dan kesibukan hidup seseorang, terutama dikalangan penduduk kota besar, berdampak dengan tingkat stress yang semakin tinggi dari hari ke hari, kebutuhan hiburan pun semakin meningkat. Salah satu sarana hiburan yang paling digemari di seluruh dunia adalah film. Dengan menawarkan berbagai macam petualangan yang dapat dibagi secara personal kepada setiap penonton, menonton film bisa disebut sebagai sebuah media hiburan yang paling efektif untuk menghilangkan penat yang dirasakan akibat kegiatan sehari-hari yang padat dan monoton.

Selain itu setiap genre film memiliki misi mereka sendiri yang disampaikan kepada penonton tanpa penonton itu sendiri menyadarinya. Misalnya saja film horror, selain memberikan sensasi kaget yang selalu ditunggu-tunggu, film horror mengajarkan kita untuk dapat melawan rasa takut itu. Film kartun pun memiliki visi lain yang dapat kita pelajari. Selain membuat imajinasi kita berkembang dengan baik, beberapa film kartun, yang umumnya diperuntukkan bagi anak-anak, mengandung nilai-nilai kebaikan yang dapat dipelajari dan semoga saja dapat dicontoh dengan baik oleh penontonnya. Dan bahkan film komedi pun dapat mengajarkan penontonnya untuk dapat melihat sisi ‘lucu’ dari segala masalah yang kita hadapi dan mencari solusinya dengan suasana hati yang lebih ringan setelah tertawa.

Itu saja? Tunggu dulu, masih ada lagi. Media film dapat membantu para penontonnya untuk dapat meningkatkan rasa nasionalisme mereka, menghilangkan stigma negative masyarakat terhadap kalangan ataupun sesuatu dan bahkan dapat mengubah pencitraan penonton.

Tidak percaya? Masih ingat dengan film yang diperankan Shah Rukh Khan yang berjudul ‘My Name Is Khan’? Film ini dibuat pada tahun 2010, Sembilan tahun setelah tragedy pemboman menara kembar di Amerika pada 9 September 2001. ‘My Name Is Khan’ bercerita mengenai keluarga muslim di Amerika yang mengalami perlakuan buruk setelah peristiwa pemboman teroris terbesar di Amerika tersebut. Melalui film ini, para penonton diingatkan bahwa betapapun kejamnya tindakan terorisme tersebut, tidak semua muslim di dunia patut disalahkan.

Bahkan konon katanya film kartun Popeye The Sailorman yang pertama kali muncul sebagai comic strips di Koran King Features pada 17 Januari 1929 mampu meningkatkan minat anak-anak pada masa itu untuk mengkonsumsi bayam sehingga tingkat penjualan sayuran tersebut meningkat 30% lebih pada tahun 1933.

Dan bukan hanya itu. Bukan rahasia lagi bahwa Amerika yang merupakan Negara produsen film terbesar di dunia sudah begitu banyak membuat film-film terutama genre action di mana endingnya selalu dimenangkan oleh Negara tersebut, tidak peduli Negara mana yang menjadi lawan atapun sekutu mereka, tidak peduli makhluk dari planet manapun yang menyerbu dan bahkan tidak peduli bencana alam apa pun yang menerjang, Negara tersebut akan mampu bertahan. Well, kalau dipikir-pikir tindakan ini sungguh tidak adil, ya kan? Tapi bukankah mereka membuat film mereka sendiri? Jadi mereka tentunya bebas membuat film dengan tema yang mereka sukai, bukan?

Lagipula, tidak bisa dipungkiri, cara ini cukup efektif, loh! Melalui berbagai film action yang mereka ciptakan, film ini ternyata mampu meningkatkan nasionalisme penduduknya menjadi cukup tinggi. Ini dapat dibuktikan dari jumlah masyarakatnya yang rela mendaftarkan diri mereka menjadi tentara dengan suka rela untuk membela negera mereka tanpa perlu menerapkan system wajib militer. Selain itu, pemerintah Amerika sendiri begitu mendukung produksi perfilman Negara mereka karena mereka menyadari bahwa media ini adalah cara yang sangat ampuh untuk ‘menyentuh’ kalangan muda mereka dan ‘menanamkan’ pendidikan moral yang mereka inginkan.

Kenyataan ini seharusnya dapat menyadarkan kita bahwa media ini merupakan sarana yang cukup ampuh untuk merangkul kawula muda kita. Karena tanpa kita sadari, film membawa dampak yang cukup besar bagi masyarakat modern, sama seperti iklan televisi, social media dan media cetak. Terlepas dari berbagai dampak negative yang pastinya akan selalu ada di setiap hal yang dilakukan setiap orang, bukankah media film ini cukup berhasil memberi dampak yang baik bagi penontonnya?


Dan mau tidak mau kita juga harus mengakui bahwa perkembangan masyarakat pun dapat dilihat dari perkembangan media-media tersebut. Jadi bisakah kalian bayangkan bagaimana perkembangan masyarakat kita bila film-film dalam negeri yang dapat kita konsumsi kebanyakan adalah film-film horror bertema tahayul yang penuh dengan unsure seksual atau film-film drama komedi ecek-ecek yang hanya menjual paha dan dada? Saya rasa sudah saatnya penonton Indonesia dapat lebih kritis memilih tontonan yang akan mereka tonton. Dan hendaknya para sineas di perfilman Indonesia juga dapat bangkit dan menciptakan film-film berkualitas yang dapat ‘dipelajari’ para penontonnya, bukan hanya mempertimbangkan sisi keuntungan pihak sineas semata. Jika memang target pasar mereka adalah para anak-anak bangsa, maka hendaknya para sineas dapat lebih menanamkan visi dan misi yang lebih positif di setiap karya mereka tersebut. Bukankah masa depan Negara kita ada di tangan anak-anak bangsa kita sendiri?

LEGO THE MOVIE

Siapa yang tidak mengenal lego? Sebagai sebuah merk mainan anak-anak, saat ini lego sudah sangat dikenal bukan hanya oleh anak-anak di seluruh dunia tapi juga oleh seluruh kalangan, tua dan muda, laki-laki maupun perempuan. Mainan plastic yang umumnya berbentuk kotak seperti batu bata ini adalah construction toys yang awalnya diciptakan oleh seorang tukang kayu bernama Ole Kirk Christiansen pada tahun 1932 di Denmark. Benar, sesuai dengan pekerjaannya sebagai tukang kayu, awalnya Ole membuat lego dari kayu. Baru pada tahun 1934, Ole mendirikan sebuah perusahaan bernama lego (berasal dari bahasa Denmark: leg godt yang berarti ‘play well’) dan membuat lego dari plastic pada tahun 1947.

Bertahun-tahun kemudian dan setelah dikelola oleh keturunan Ole secara bergenerasi-bergenerasi, lego pun akhirnya dikenal sebagai permainan anak-anak modern paling terkenal yang telah diadaptasi menjadi berbagai macam buku, permainan, film, games dan bahkan theme park. Hingga 2013 terdapat enam taman bermain yang menggunakan tema lego di seluruh dunia dan rencananya pada 2014 nanti akan dibangun lego theme park ketujuh di New Jersey, Amerika. Dan tahukah kalian bahwa menurut data, perusahaan lego telah memproduksi lebih dari 560 miliar lego parts pada tahun 2013 saja. Oh wow.

Kini, untuk pertama kalinya, lego diadaptasi ke dalam sebuah film bioskop. Duo sutradara Phil Lord dan Chris Miller yang sebelumnya sukses membesut film animasi Cloudy With The Chance Of Meatballs 1 dan 2 dan juga 21 dan 22 Jump Street ini juga menangani story film dan berhasil menggaet berbagai actor dan actress besar untuk mengisi suara para tokohnya.

Film yang hanya berdurasi 100 menit ini menceritakan kisah seorang construction worker biasa bernama Emmet Brickowski (voiced by Chris Pratt) yang tinggal dengan sangat teratur di sebuah kota kecil bersama teman-temannya. Mereka menjalani aktifitas sehari-hari secara rutin sesuai dengan instruction book yang telah disediakan sejak bangun tidur hingga mereka kembali tidur di malam harinya. Semua itu mereka lakukan dengan senang hati di bawah pengawasan Lord Bussiness (voiced by Will Ferrell) yang juga merupakan president di Octan Corporation tempat Emmet bekerja.

Suatu saat, tanpa sengaja Emmet terjatuh ke sebuah lorong bawah tanah dan menemukan ‘Piece Of Resistance’ yang akhirnya menempel di punggungnya. Penemuan tanpa sengaja ini membuat Emmet ditangkap oleh Bad/Good Cop (voiced by Liam Neeson) yang menginterogasinya dengan kejam. Untunglah saat itu Emmet diselamatkan oleh Wyldstyle (voiced by Elizabeth Banks), salah seorang ‘master builders’ yang sebelumnya sudah pernah Emmet lihat dan membuatnya jatuh hati.

Wyldstyle membantu Emmet melarikan diri dan mengatakan bahwa Emmet adalah ‘sang special’ yang sebelumnya telah diramalkan oleh seorang penyihir bernama Vitruvius (voiced by Morgan Freeman). Menurut Vitruvius, ‘sang special’ akan mampu menghentikan seorang penjahat untuk menggunakan sebuah super weapon bernama ‘kragle’ yang dapat menghancurkan dunia. Emmet yang merasa bukan siapa-siapa sama sekali tidak percaya bahwa dia adalah ‘sang special’ yang diramalkan, untuk itu Wyldstyle membawanya untuk menemui sang penyihir. Sayangnya, Bad/Good Cop yang diperintah di bawah ancaman oleh Lord Bussiness masih mengejar mereka tanpa kenal lelah. Dengan bantuan kekasih Wyldsytle: Batman (voiced by Will Arnett) dan para master builders lainnya, mereka berusaha membangkitkan kemampuan ‘sang special’ dalam diri Emmet sekaligus mencoba menyelamatkan dunia dari serangan Lord Bussiness dan kragle-nya.

Film animasi yang satu ini benar-benar unik. Sejak awal film, alur yang disajikan sangat cepat dengan joke-joke yang sangat menghibur. Setiap karakter begitu lucu dan sangat ekspresif walaupun hanya menggunakan karakter-karakter yang sudah dimiliki lego tersebut tanpa harus menambah atau membuat karakter baru. Tingkah laku para karakternya yang nyeleneh dan lucu begitu menyegarkan dan mengocok perut dari awal hingga akhir cerita. Animasi yang ditampilkan juga begitu memanjakan mata. Saya sangat terkesan dengan kelihaian para animator yang dapat mentransformasikan semua bentuk yang ada menjadi rangkaian balok-balok khas lego sehingga setiap adegan yang berjalan kelihatan seperti aslinya.

Film ini sangat menghibur dan cocok untuk ditonton semua umur. Belum lagi film ini sangat mudah mengajak penontonnya untuk bersenang-senang dan berimajinasi seliar dan sebebas mungkin. Karena itu saya memberikan empat dari lima bintang untuk film animasi kerjasama antara America-Australia ini.

Oh iya, sebagai informasi tambahan guna memberi pemahaman lebih bagi kalian, film ini diceritakan melalui sudut pandang seorang anak kecil bernama Finn yang sedang bermain di sebuah lego set milik sang ayah di basement rumahnya. Selain itu, ‘master builders’ yang diceritakan dalam film ini dapat mewakili para pemain lego yang dapat menciptakan apa pun dari balok-balok lego tersebut, menghancurkannya lagi dan membuat berbagai bentuk lain tanpa batasan imajinasi. Sedangkan ‘Lord Bussiness’ dan ‘The Man Upstairs’ bisa mewakili pemain lego yang mengumpulkan begitu banyak jenis lego hanya untuk membentuk sesuatu dan menyimpannya dalam bentuk itu saja selamanya. Sementara ‘sang special’ bisa diartikan sebagai pemain yang bebas bermain lego dalam bentuk apa pun yang mereka mau, tanpa batasan tertentu, karena itulah tujuan utama lego dibuat, bukan? Untuk bermain. So, just have fun. =)

COMIC 8

Ini adalah film Indonesia kedua yang (mau) saya tonton dalam beberapa tahun belakangan ini setelah The Raid. Saya tidak bermaksud menjelek-jelekan film buatan dalam negeri sendiri, tapi jika saya diminta untuk memilih antara film horror ecek-ecek dan film anak muda galau, tanpa saya inginkan, memilih film buatan negeri sendiri menjadi sebuah perbuatan yang tabu. Untunglah beberapa waktu belakangan ini kualitas film buatan anak negeri semakin membaik dari waktu ke waktu.

Salah satu film buatan anak negeri yang keluar di awal tahun 2014 ini berjudul Comic 8 yang disutradarai oleh Anggy Umbara yang sebelumnya telah menyutradarai Mama Cake di tahun 2012 dan Coboy Junior The Movie pada 2013. Comic 8 merupakan sebuah action comedy movie yang menceritakan mengenai perampokan sebuah bank di Jakarta oleh delapan orang perampok pada waktu yang bersamaan. Kedelapan orang perampok yang dengan nekadnya berani merampok bank pada siang hari bolong itu terdiri dari tiga kelompok. Kelompok pertama terdiri dari Babe Chabita, Fico Fachriza dan Bintang Timur, yang merampok bank karena ingin menjadi orang kaya. Kelompok kedua terdiri dari Ernest Prakasa, Kemal Palevi dan Arie Kriting yang merampok bank hanya karena iseng. Sedangkan kelompok ketiga terdiri dari dua orang saja, yaitu Mongol dan Mudy Taylor yang ingin membantu anak-anak yatim piatu dengan cara merampok para perampok bank. Mereka bertemu di tempat dan waktu yang sama secara tidak sengaja sehingga memutuskan (dengan bantuan Om Indro Warkop) untuk bekerja sama. Walaupun sering kali berselisih pendapat dan saling menodongkan senjata, akhirnya mereka mampu bekerja sama untuk menguras seluruh uang dan isi brangkas bank tersebut sekaligus meminta berbagai permintaan aneh kepada kepala polisi cantik yang memimpin operasi penangkapan mereka: Nirina Zubir yang dibantu oleh asistennya yang sok bule: Boy William.

Sebelumnya, saya harus selalu mengingatkan diri untuk tidak membandingkan film buatan anak negeri kita ini dengan film buatan Hollywood. Bagaimanapun, standartnya sangat jauh berbeda dan saya harus bisa menilai secara adil dan objectif.

Sebenarnya tema cerita film ini cukup sederhana, tapi belum banyak dipilih oleh sineas dalam negeri kita, jadi bisa disebut unik. Bumbu komedi khas stand-up yang ditampilkan pun cukup segar dan menghibur. Adegan aksi yang penuh ledakan dan aksi tembak menembaknya pun sangat menarik, dengan special efek yang cukup mulus dan sinematografi yang enak dipandang, walaupun tone warnanya didominasi warna kekuningan dan gelap. Acting para aktornya juga tidak kaku. Mungkin ini karena karakter tokohnya disesuaikan dengan karakter para comic itu sendiri sehingga mereka seolah tidak perlu bersusah payah beracting. Bahkan nama para pemerannya pun (terutama kedelapan tokoh utamanya) menggunakan nama asli mereka yang sudah dikenal banyak orang dan begitu melekat dengan karakter mereka.

Memang, film ini sengaja disajikan dalam beberapa bagian, di mana setiap bagian menceritakan asal usul mereka dan berbagai permasalahan yang harus mereka hadapi sehingga alurnya terkesan meloncat-loncat dan dapat membingungkan. Belum lagi ada cukup banyak adegan penuh kemustahilan dan beberapa adegan yang didramatisir sehingga terkesan terlalu memaksa. Tapi semua itu dapat ‘dimaafkan’ dengan joke segar dan tingkah konyol para tokohnya. Belum lagi ada begitu banyak artis-artis yang cukup terkenal ikut andil di film ini, seperti Pandji Pragiwaksono, Nikita Mirzani, Candil, Jeremy Teti, Kiki Fatmala hingga Coboy Junior dan masih banyak artis-artis lainnya. Ditambah dengan ending film yang begitu diluar dugaan dan pamor stand-up comedy yang sedang sangat naik daun di kalangan anak muda, tidak heran jika film ini berhasil menarik tiga ratus ribu penonton lebih pada hari ketiga penayangannya.

Film ini cukup menarik untuk saya, karena itu saya akan memberikan tiga setengah dari lima bintang untuk Comic 8. Semoga saja di masa yang akan datang perfilman di Indonesia akan semakin berkualitas dan semakin beragam sehingga penonton tidak lagi harus memandang film dalam negeri mereka dengan sebelah mata.

JACK RYAN: SHADOW RECRUIT

Para penggemar film action yang penuh dengan adegan yang memancing adrenalin, lengkap dengan scene kejar-kejaran, tabrakan, ledakan, penyusupan dan hal-hal semacam itu, ini adalah film yang kalian tunggu-tunggu. Jack Ryan: Shadow Recruit adalah sebuah action thriller film yang dibuat berdasarkan karakter Jack Ryan yang diciptakan oleh seorang penulis terkenal yang baru saja meninggal pada 1 Oktober 2013 kemarin: Tom Clancy. Walaupun tidak berdasarkan salah satu dari begitu banyak novel karangan Tom Clancy tapi, sama seperti kebanyakan karya Tom Clancy lainnya, film ini masih menceritakan kisah mengenai seorang agen yang bekerja untuk pemerintah Amerika.

Jack Ryan: Shadow Recruit menceritakan kisah mengenai seorang agen CIA bernama Jack Patrick Ryan (Chris Pine). Dia adalah seorang mantan marinir yang tidak lagi bisa bertugas di Afganistan akibat helicopter yang ditumpanginya diserang secara mendadak. Walaupun berhasil lolos dari maut dan menyelamatkan dua orang rekannya, Jack harus mengalami luka yang sangat parah di tulang belakangnya sehingga harus mendapatkan perawatan khusus. Saat itulah Jack berkenalan dengan Cathy Muller (Keira Knightley) yang menjadi salah satu dokter magang yang menangani proses kesembuhan Jack dan pada akhirnya bertunangan dengannya.

Awalnya Jack merasa terpuruk dengan luka yang dialaminya, tapi seorang agen CIA bernama Thomas Harper (Kevin Costner) tertarik dengan kemampuan yang dimiliki Jack dan memintanya untuk bergabung dengan CIA, bukan sebagai agen lapangan, tapi sebagai mata-mata. Jack diminta melanjutkan pendidikannya di bidang ekonomi dan bekerja sebagai analis di wall street untuk memata-matai pasar Amerika jika terdapat transaksi-transaksi mencurigakan yang terkait dengan jaringan teroris dunia.

Suatu ketika Jack mendapatkan serangkaian transaksi mencurigakan yang mengarahkannya kepada sebuah perusahaan di Rusia yang dipimpin oleh seorang veteran perang bernama Victor Cherevin (Kenneth Branagh). Untuk pertama kalinya Jack diminta untuk langsung datang ke Moskow dan menindak lanjuti penemuannya tersebut. tanpa terduga pihak teroris Rusia mengetahui kedatangan Jack dan berusaha menghentikan Jack membongkar kedok mereka. Kejar-kejaran pun terjadi dan Jack harus menghadapi tugas lapangan pertamanya yang penuh tantangan sekaligus berusaha menyelamatkan sang tunangan yang tanpa sengaja ikut terlibat dalam misi mereka yang penuh bahaya ini.

Seperti yang saya katakan di awal: untuk kalian penggemar film action, film yang satu ini tentunya jangan sampai terlewatkan. Walaupun film ini adalah reboot dari film seri Jack Ryan sebelumnya, tapi, sama seperti film-film berdasarkan karya Tom Clancy sebelumnya, film yang disutradarai sendiri oleh sang tokoh antagonisnya: Kenneth Branagh, film ini berdiri sendiri dan masih dapat dinikmati walaupun penonton belum pernah menonton seri film Jack Ryan sebelumnya. Ini merupakan sebuah nilai tambah yang menguntungkan untuk dapat menarik golongan penonton muda yang bahkan belum pernah mendengar nama Jack Ryan sebelumnya.

Hampir sama seperti film-film mengenai agen-agen CIA ataupun FBI lainnya, Jack Ryan juga memiliki formula yang hampir sama dengan film-film serupa yang lebih terkenal. Tapi, berbeda dengan film-film tersebut, Jack Ryan: Shadow Recruit tidak terlalu mengeksplore kisah pribadi sang tokoh protagonist utama seperti film-film Jason Bourne ataupun terlalu mengeksplore kisah ke-playboy-an ataupun peralatan-peralatan canggih seperti pada film-film James Bond. Film ini lebih mengetengahkan konspirasi politik yang terjadi di Negara-negara besar, terutama Amerika Serikat dan bagaimana Negara-negara ‘musuh’ mereka berusaha melakukan berbagai macam cara untuk bisa menggulingkan Negara yang katanya ‘penuh konspirasi dan intrik’ tersebut.

Selain adegan-adegan actionnya yang cepat dan intens, yang dapat membuat para penontonnya terus penasaran, berdebar-debar dan menahan napas tanpa mereka sadari, tema konspirasi politik ini tentunya memberikan bumbu menarik untuk film ini yang dapat mengakibatkan perdebatan panjang bahkan setelah film ini berakhir.

Bagi kalian yang tidak terlalu menyukai konspirasi politik semacam itu dan tidak mau membuat sakit kepala kalian kambuh karena sama sekali tidak bisa memahami intrik memusingkan semacam itu, alur yang intens tersebut sudah menjadi kunci utama untuk bisa membuat kalian bertahan menyaksikan film ini. Lagipula, Chris Pine, Keira Knightly, Kevin Costner dan juga Kenneth Branagh menyajikan kualitas acting prima mereka dengan baik di sini. Terutama Branagh yang tanpa perlu banyak bicara, mimic wajahnya yang kejam mampu merepresentasikan seorang teroris Rusia yang rela mati bahkan mengorbankan anaknya sendiri demi negaranya.

Memang alurnya yang sangat cepat bisa saja sedikit membingungkan, juga terdapat beberapa adegan yang tampak tidak mungkin untuk bisa terjadi dan juga dialog panjang mengenai ekonomi yang dapat memusingkan. Tapi selebihnya film ini sangat menyenangkan untuk ditonton.

Saya memberikan tiga setengah dari lima bintang untuk film ini karena mengajarkan kita untuk tidak gampang menyerah, untuk dapat saling percaya dan terutama untuk lebih berhati-hati melakukan berbagai aktifitas di media social, siapa tahu pemerintah di suatu Negara menggunakannya untuk memata-matai Negara tempat kalian tinggal. ( ^_~ )


By the way, selalu saja ada satu pertanyaan besar yang tercetus di benak saya setiap kali selesai menonton film seperti ini. Kalau saja semua tindakan terorisme atau penghancuran pusat pemerintahan Negara adikuasa itu berhasil, kira-kira akan jadi seheboh apa ya? Well, mengingat creator utama film di dunia berasal dari negara adikuasa itu sendiri, saya rasa menemukan sebuah film dengan ending ‘semengerikan’ itu adalah impian yang tidak akan pernah terwujud. :D





OUT OF FURNACE

Christian Bale adalah seorang actor Hollywood yang sangat terkenal di seluruh dunia. Bukan hanya terkenal sebagai Bruce Wayne dalam trilogy Dark Knight-nya bersama Christopher Nolan yang membawa era film superhero menjadi lebih dark dari pada sebelumnya, Bale juga merupakan actor watak yang memerankan banyak tokoh berkarakter kuat, tak peduli apakah film tersebut akan mampu menembus box office atau pun tidak. Inilah yang terjadi dalam film pertama Bale yang release di Indonesia pada tahun 2014 (di Hollywood sendiri, film ini release pada Desember 2013) berjudul Out Of Furnace.

Out Of Furnace adalah drama thriller film yang disutradarai oleh seorang sutradara, produser, screen writer dan juga actor: Scott Cooper dan diproduseri oleh Ridley Scott dan juga Leonardo Dicaprio yang berdurasi 116 menit dan menggunakan budget sebesar $ 22 juta. Film ini menceritakan kisah mengenai seorang pekerja di pabrik baja bernama Russell Baze (Christian Bale) dan adiknya Rodney Baze Jr. (Casey Affleck) yang berusaha mengatasi kesulitan hidup mereka bersama. Mereka tinggal di sebuah kota kecil bernama Braddock yang merupakan kota penghasil baja di Pennsylvania di mana sang ayah dan Russell sendiri bekerja di pabrik itu untuk membiayai hidup mereka.

Awalnya semua berjalan baik-baik saja. Walaupun sang ayah kini sudah sangat tua, sakit-sakitan dan terbaring di tempat tidur tanpa bisa melakukan apa pun, tapi Russell masih bisa merasa bahagia dengan hidup sederhananya bersama sang kekasih: Lena Warren (Zoë Saldana). Tapi berbagai kejadian mengubah kehidupan mereka. Rodney terlilit hutang piutang dengan John Petty (Willem Dafoe) dan juga harus menjalani wajib militer yang akhirnya mempengaruhi emosionalnya. Sementara itu, secara tidak sengaja Russell menabrak sebuah mobil dalam perjalanan pulangnya dan menewaskan ibu dan anak penumpang mobil tersebut. Kejadian yang tidak disengaja itu mengakibatkan Russell harus menghabiskan waktu beberapa tahun di dalam penjara.

Begitu keluar dari penjara, Russell harus bisa beradaptasi lagi dengan situasi yang sudah banyak berubah: sang ayah meninggal dunia, sang kekasih menjalin hubungan dan akhirnya hamil dengan kepala polisi Wesley Barnes (Forest Whitaker) dan sang adik menjadi seorang petarung agar bisa melunasi hutangnya dengan John Petty. Yang membuat Russell sangat terpukul adalah keterlibatan sang adik dengan Harlan DeGroat (Woody Harrelson), seorang criminal, pengedar narkoba dan pemimpin pertarungan illegal di hutan yang bukan saja membunuh John Petty tapi juga membunuh Rodney dan menguburnya di tengah hutan belantara yang sulit ditemukan. Walaupun sang kepala polisi sudah mengatakan bahwa mereka bisa menangkap Harlan, walaupun memerlukan waktu yang cukup lama, Russell yang sudah dipenuhi keinginan untuk membalas dendam memutuskan untuk mencari Harlan dengan bantuan sang paman, Gerald ‘Red’ Baze (Sam Shepard), tak peduli walaupun keinginan itu akan membuatnya kembali masuk ke dalam penjara.

Jangan kalian pikir film ini akan menghadirkan banyak adegan action yang seolah mempermainkan adrenalin kalian, yah. Film ini memiliki alur yang cukup lambat, dengan dialog yang panjang dan action yang minim. Kekuatan film ini adalah karakter para tokohnya yang memang sangat kuat dan dimainkan dengan sangat apik oleh actor dan actress yang kualitas actingnya sudah tidak perlu diragukan lagi. Misalnya saja kualitas Bale yang sudah pasti merupakan magnet terkuat bagi film ini. Belum lagi acting Casey Affleck, adik sang actor terkenal Hollywood: Ben Affleck, yang sudah pernah membintangi begitu banyak film sejak tahun 1988, termasuk trilogy Ocean bersama Brad Pitt dan Goerge Clooney dan juga American Pie. Selain itu, juga ada actor dan actress lain seperti Woody Harrelson yang terkenal lewat Now You See Me dan juga trilogy The Hunger Games; Zoë Saldana yang sangat terkenal lewat film Avatar, Star Trek dan bahkan Pirates Of The Caribbean: The Curse Of The Black Pearl. Juga ada Forest Whitaker, actor dan sutradara yang sekilas mirip dengan Denzel Washington ini sudah memainkan berbagai peran sejak tahun 1982, termasuk ikut bermain dalam Panic Room bersama Jodie Foster dan Kristen Stewart dan Phone Booth bersama Colin Farell. Termasuk juga Willem Dafoe yang terkenal dalam film Spiderman versi Sam Raimi sebagai Norman Osborn a.k.a Green Goblin.

Tema film ini begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari kita, mengenai berbagai persoalan hidup yang juga kita hadapi dan menyita perhatian kita selama ini. Ada begitu banyak pelajaran hidup dan nilai positif yang bisa kita dapatkan dalam film ini. Bagaimana kita bisa menerima takdir dengan sabar, bagaimana kita bisa memberi pengaruh positif bagi orang lain, bagaimana kita bisa mengatasi berbagai cobaan hidup dan bagaimana kita rela berkorban demi orang-orang yang kita cintai. Benar, film ini tidak menjual mimpi tapi menghadirkan problematika hidup dan bagaimana rumitnya kita memilih untuk mengarungi hidup secara apa adanya, tidak berlebihan.


Saya memberikan tiga setengah dari lima bintang untuk tema yang begitu ‘mengena’, pelajaran hidup dan berbagai quote yang bisa didapat. Untuk kalian yang tidak begitu menyukai film dengan tema yang cukup rumit dan minim adegan action, lebih baik kalian memilih film lain saja, dari pada kalian hanya bisa menghabiskan uang kalian untuk tidur di dalam bioskop. Well, seperti yang sering kali saya katakan: movie is not only about action or fight scenes, it’s also about the story and all the elements on it. :)