RIDDICK

Film ini merupakan film ketiga dari seri The Chronicle Of Riddick yang ketiga filmnya disutradarai dan ditulis oleh David Twohy. Film pertamanya berjudul Pitch Black yang dirilis pada tahun 2000 mendapatkan keuntungan yang berlipat dibandingkan dengan budgetnya yang rendah walaupun mendapatkan nilai yang tidak cukup bagus dari para kritikus. Film keduanya berjudul The Chronicle Of Riddick dirilis pada tahun 2004 dengan budget yang lebih besar tapi malah mendapatkan apresiasi yang kurang bagus, baik dari penonton maupun dari para kritikus. Untungnya pemeran tokoh utama sudah terlanjur jatuh hati dengan tokoh yang diperankannya di film ini sehingga walaupun sudah berselang tiga belas tahun dari film pertamanya, Vin Diesel dengan senang hati melanjutkan kisah ini. Bahkan hanya di film ini Vin diesel mau berperan sebagai tokoh utama yang merupakan seorang villain.

Riddick masih menceritakan kisah Richard B. Riddick (Vin Diesel), buronan di seluruh galaksi yang memiliki bola mata berwarna perak, sadis dan sangat pintar melarikan diri. Kali ini Riddick yang sudah menjadi pemimpin para Necromongers di Planet U. V. merasa dirinya berubah menjadi makin lemah. Dia ingin kembali ke Planet Furya, kampung halamannya. Mengetahui bahwa Commander Vaako (Karl Urban) adalah satu-satunya orang yang mengetahui letak Planet Furya, Riddick berjanji akan menyerahkan kepemimpinannya kepada Vaako asalkan Vaako mau memberitahu keberadaan Planet Furya. Vaako yang memang sangat ingin menjadi pemimpin Necromongers langsung menyetujuinya dan mengirim beberapa orang pengawal untuk menemani Riddick. Tapi ternyata Vaako berbohong. Dia mengirim Riddick ke planet yang salah dan memerintahkan para pengawal untuk membunuh Riddick begitu mereka tiba di sana. Walaupun pada akhirnya Riddick bisa menyelamatkan diri, dia mengalami luka yang cukup serius dan kaki yang patah.

Setelah berhasil menyelamatkan diri dan secara tidak sengaja memiliki seekor peliharaan, Riddick baru menyadari bahwa akan datang sebuah badai dahsyat yang akan membuat makhluk-makhluk aneh penghuni planet itu keluar dari sarang dan memburunya. Untungnya Riddick menemukan sebuah markas pembunuh bayaran yang tidak berpenghuni. Sadar bahwa satu-satunya cara agar bisa selamat adalah pergi dari planet itu, Riddick memutuskan untuk memberitahu kepada seluruh pembunuh bayaran yang mengincarnya tempat di mana dia bersembunyi. Cara ini ternyata berhasil. Tak lama setelahnya, dua pesawat pembunuh bayaran datang.

Pesawat pertama dipimpin oleh Santana (Jordi Molla), seorang pembunuh bayaran yang kejam dan urakan yang membawa beberapa anak buahnya. Sedangkan pesawat kedua adalah milik tentara bayaran yang dipimpin oleh Boss Johns (Matt Nable) yang memiliki perlengkapan lebih canggih dan lebih sedikit anak buah. Berbeda dengan Santana yang ingin menangkap Riddick untuk memenggalnya dan meletakkan kepala Riddick ke dalam kotak, Johns ingin menangkap Riddick hidup-hidup karena ingin menginterogasinya. Walaupun awalnya kedua group ini saling bertentangan, tapi akhirnya mereka setuju bekerja sama untuk menghadapi Riddick yang kejam dan bergerak sangat cepat.

Dengan menghabiskan budget yang tidak terlalu besar, hanya $38 million saja, film ini bisa dibilang luar biasa. Para aliennya sangat meyakinkan dan acting para tokohnya yang tidak terlalu banyak pun cukup bagus, walaupun tentu saja sang tokoh utama sangat berperan besar dalam cerita ini. Tapi Vin Diesel memang sangat pas memerankan karakter Riddick yang lincah, dingin, tegas tapi juga nyeleneh dan sensitive. Setting lokasinya juga keren sekali. Tempo alurnya cepat, twistnya bagus dan adegan laganya cukup membangkitkan adrenalin. Temanya cukup sederhana tapi dikemas dengan baik sehingga tidak membosankan.

Jika membandingkan film ini dengan kedua film sebelumnya, sebenarnya formula yang digunakan pada film ketiga ini sangat mirip. Bahkan beberapa tokoh yang muncul, seperti tokoh yang suka berdoa, makhluk planet yang keluar dalam waktu yang bersamaan dan bahkan misi untuk mengambil komponen utama yang akan membawa mereka pergi dari planet itu sangat mirip dengan formula yang digunakan di film pertamanya. Tapi dengan tempo yang cepat, aksi yang apik dan tokoh utama yang iconic, rasanya semua itu bisa dimaafkan. Vin Diesel membuktikan bahwa dengan cinta yang besar dia berhasil menyulap film berbudget rendah menjadi sebuah film science action fiction yang bagus. Para penonton setia seri ini bisa seolah bernostalgia dengan kisah ini, sedangkan para penonton baru pun bisa sangat menikmati kisahnya yang ringan tapi menegangkan.


Empat dari lima bintang untuk film ini. No doubt!



THE MORTAL INSTRUMENT: CITY OF BONES

Here’s another adventure fantasy film based on novel.

The Mortal Instrument: City Of Bones berkisah mengenai seorang gadis muda bernama Clary Fray (Lily Collins) yang tinggal di New York bersama ibunya Jocelyn Fray (Lena Headey). Ibunya adalah seorang pelukis dan Clary pun mempunyai keterampilan yang sama. Saat sedang pergi bersama sahabatnya: Simon Lewis (Robert Sheehan), tanpa disengaja Clary melihat seorang laki-laki yang dibunuh oleh sekelompok anak muda bertato. Saat Clary menceritakan apa yang dilihatnya kepada Simon, ternyata hanya Clary yang bisa melihat pembunuhan tersebut. Salah satu anak muda dalam kelompok itu yang bernama Jace Wayland (Jamie Campbell) mendatanginya dan mengaku sebagai seorang Shadowhunter. Dia bertanya bagaimana Clary bisa melihat mereka sementara orang lain tidak bisa. Tapi Clary tidak bisa menjawabnya, sama seperti dia tidak bisa menjawab symbol apa yang sering dilihatnya dalam beberapa hari belakangan ini.

Sementara itu, sang ibu yang sedang berada di dalam apartemen sendirian diculik oleh dua orang anak buah Valentine (Jonathan Rhys Meyers), seorang ex-Shadowhunter yang berkhianat. Mereka mengacak-acak seluruh apartemen dan meninggalkan seekor monster anjing mengerikan yang hampir saja membunuh Clary. Untungnya, Jace datang membantu. Setelah berhasil mengalahkan sang monster anjing, dia menemani Clary mendatangi tetangga mereka Madame Dorothea (C. C. H. Pounder) yang ternyata adalah seorang penyihir. Menurut Madame Dorothea, ibu Clary adalah seorang Shadowhunter dan Valentine mengirim anak buahnya untuk mencari sebuah Mortal Cup, salah satu dari tiga instrument yang diberikan Angel Raziel kepada manusia agar bisa menjadi manusia setengah malaikat dan membantunya memusnahkan demons yang berkeliaran di bumi. Valentine meyakini bahwa Mortal Cup tersebut disembunyikan ibunya. Madame Dorothea tidak tahu ke mana anak buah Valentine membawa ibunya hingga akhirnya dengan bantuan Simon yang sudah bisa melihat Jace, mereka bertiga pergi menemui teman dekat ibunya: Luke Garroway (Aidan Turner) untuk mencari tahu apakah Luke tahu di mana Jocelyn berada. Saat tiba, Clary malah mengetahui bahwa Luke sebenarnya juga mengincar Mortal Cup.

Dalam keadaan bingung dan tidak tahu lagi harus mencari sang ibu ke mana, Jace mengajak Clary dan Simon ke Institute, tempat berkumpulnya para Shadowhunter yang tersisa. Di sana, Clary bertemu dengan dua bersaudara Alec Lightwood (Kevin Zegers) dan Isabelle Lightwood (Jemima West) dan pemimpin mereka Hodge Starkweather (Jared Harris). Di sana, Clary juga mengetahui bahwa selama ini sang ibu berusaha menyembunyikan kenyataan bahwa Clary adalah keturunan Shadowhunter dengan cara memblokir pikiran Clary dengan bantuan seorang Sorcerer bernama Magnus Bane (Godfrey Gao). Tapi jika Clary ingin menemukan dan menyelamatkan sang ibu, dia harus bisa mengingat segala hal yang selama ini telah terpaksa dia lupakan. Karena itu Clary, Simon dan ketiga Shadowhunter lain datang menemui Magnus untuk memintanya mengembalikan ingatan Clary.

Tapi serangkaian kejadian lain kembali menghampiri Clary dan teman-temannya. Dimulai dengan Simon yang diculik oleh sekelompok vampire, pertemuannya dengan sekelompok Warewolf, kisah romantic Clary, pengakuan Simon, hingga terungkapnya pengkhianatan lain dan kenyataan yang ternyata jauh lebih pahit dari pada yang pernah dibayangkan Clary sebelumnya. Semua itu mengubah dunia Clary yang tadinya biasa saja menjadi jungkir balik.

Film ini diadaptasi dari novel fantasy dengan judul yang sama karangan Cassandra Clare, seorang penulis Amerika. Saat diterbitkan pada 2007, buku pertama dari enam buku seri The Mortal Instrument di mana seri keenamnya baru akan dirilis pada 2014 nanti ini telah memenangkan begitu banyak penghargaan di seluruh Amerika. Cassandra Clare juga terkenal dengan buku The Infernal Devices Trilogy, The Dark Artifices Trilogy dan juga menulis Fan Fiction mengenai tokoh-tokoh Harry Potter.

Bisa dibilang, The Mortal Instrument: City Of Bones ini merupakan salah satu film fantasy adaptasi novel yang sangat ditunggu-tunggu kehadirannya, terutama oleh para penggemarnya. Dan sepertinya sang sutradara: Harald Zwart yang cukup berhasil menggarap Karate Kid pada 2010 dan The Pink Panther 2 pada 2009, tahu benar akan hal ini. Buktinya sang sutradara tidak segan-segan menggunakan para actor dan actress yang sudah cukup berpengalaman. Seperti Lily Collins, putri penyanyi terkenal Phil Collins yang mulai naik daun sejak memerankan tokoh love interest Taylor Lautner dalam Abduction (2011) dan juga peran menawannya bersama Julia Robert di Mirror Mirror (2012). Selain itu juga ada Jamie Campbell Bower yang tampil di layar bioskop lewat film-film seperti Sweeney Todd: The Demon Barber od Fleet Street (2007) bersama Johny Deep, The Twilight Saga sebagai salah satu vampire di klan Volturi dan bahkan dalam Harry Potter and the Deathly Hollows – part 1 (2010). Robert Sheehan yang berperan sebagai Simon juga sudah lama berada di industry perfilman dan televisi, seperti juga Kevin Zegers yang terkenal sebagai Josh Framm di seri Air Bud. Juga ada Lena Headey yang terkenal dengan perannya sebagai istri Leonidas di 300 (2007) dan bahkan ada Jonathan Rhys Meyers, sang playboy yang bermain apik di Mission Imposible III (2006) dan bersama John Travolta dalam From Paris With Love (2010).

Tapi… entah kenapa, menurut saya film ini agak terlalu… padat. Dengan tema yang sangat menarik, kisah ini mencoba menawarkan sebuah universe baru yang penuh intrik, rahasia dan kisah cinta. Tapi, ada terlalu banyak element di dalam film ini. Dengan durasi 130 menit dan semua element tersebut, film ini terasa terlalu ‘penuh’. Kombinasi ini membuat para penonton tidak bisa menikmati element-element penting sehingga adegan yang seharusnya bisa meninggalkan kesan mendalam di dalam hati akan langsung menguap dari ingatan penonton begitu scene berikutnya dimulai. Belum lagi ada beberapa setting yang sama digunakan beberapa kali sehingga alurnya terkesan meloncat-loncat. Tokoh yang dihadirkan pun terlalu banyak dan tidak ada cukup waktu bagi para penonton untuk mengenal para tokohnya lebih jauh lagi. Alhasil, film ini terasa ‘tidak utuh’. Dan sebagai film pertama dari enam seri, saya berharap akan mendapatkan penjelasan di awal film mengenai universe baru yang ditawarkan di sini, entah itu penjelasan mengenai terciptanya Shadowhunter atau bagaimana para demons bisa berkeliaran di bumi. Sayangnya, saya tidak mendapatkan penjelasan ini sehingga sejak awal saya harus mencoba menebak-nebak sendiri.


Mungkin para penggemar buku ini tidak akan sependapat dengan saya, tapi saya belum membaca buku ini sama sekali dan sebagai penonton yang ‘buta’ dan, jujur aja nih, yang selalu tertarik mengenai dunia fantasy, saya cukup penasaran untuk mengetahui kelanjutan film ini. So, sorry for being a little objective at this point, tapi saya akan memberikan tiga dari lima bintang untuk film ini dengan harapan film keduanya akan diproduksi sehingga saya bisa membuktikan kembali apakah film ini benar-benar bagus atau tidak. (^_^)

PERCY JACKSON: SEA OF MONSTERS

Percy Jackson and The Olympians adalah serial novel fantasy-adventure buah karya penulis Amerika Serikat kelahiran Texas bernama Rick Riordan. Buku pertama dari lima buku dalam serial ini yang berjudul Percy Jackson and The Olympians: The Lightning Thief telah difilmkan oleh sutradara Chris Colombus pada tahun 2010 yang lalu. Tahun ini, buku keduanya yang berjudul Percy Jackson: The Sea of Monsters kembali mendapatkan kesempatan untuk difilmkan oleh sutradara asal Jerman bernama Thor Freudenthal yang telah lebih dulu berpengalaman menggarap film berdasarkan novel melalui Diary of a Wimpy Kid pada 2010.

Sesuai dengan judul yang disandangnya, Percy Jackson: Sea of Monsters ini bercerita mengenai petualangan seorang anak laki-laki bernama Percy Jackson (Logan Lerman) yang memiliki darah campuran (yang disebut dengan Demigod) dari manusia biasa dan seorang dewa. Ayahnya adalah Poseidon, salah satu dari tiga putra Titan terkenal di Mitologi Yunani: Kronos yang terkenal dengan kekuatan dan kekejamannya memangsa anak kandungnya sendiri agar bisa menjadi penguasa dunia. Sementara dua saudara kandung Poseidon yang lain: Zeus dan Hades tidak mempunyai keturunan yang selamat, maka Percy adalah satu-satunya keturunan Kronos yang ada dan tinggal di Camp Half-Blood, tempat di mana semua anak-anak Demigod lain tinggal, belajar dan berlindung. Percy ditemani oleh dua orang sahabatnya yaitu Grover Underwood (Brandon T. Jackson) yang adalah seorang Satyr dan Annabeth Chase (Alexandra Daddario), putri dari dewi Athena.

Kisah mereka kali ini dimulai dengan kisah yang terkenal di Camp Half-Blood mengenai ‘shield’ yang melindungi camp selama ini. Beberapa puluh tahun yang lalu saat Annabeth kecil pertama kali datang ke camp bersama ketiga Demigod lainnya yaitu: Luke Castellan (Jake Abel), putra dewa Hermes, Clarisse La Rue (Leven Rambin), putri dewa perang Ares dan Thalia Grace (Paloma Kwiatkowski), putri dewa Zeus; mereka mendapat serangan dari beberapa orang Cyclops. Dengan berani, Thalia mengorbankan diri untuk menyelamatkan teman-temannya yang akhirnya membuatnya meninggal dunia. Untuk mengenang kepahlawanannya, sang ayah menumbuhkan sebuah pohon di atas tubuhnya dan melingkupi seluruh camp dengan ‘shield’ raksasa.

Suatu hari ‘shield’ tersebut rusak dan camp Half-Blood pun diserang. Setelah berhasil memusnahkan sang monster yang menyerang dengan bantuan teman-temannya serta Clarisse yang merupakan saingannya, Percy bertemu dengan Luke. Salah satu Demigod yang telah menyebabkan kekacauan di film pertama itu mengaku telah meracuni pohon pelindung. Semua itu dia lakukan semata-mata karena ingin menghancurkan camp dan membangkitkan kembali Kronos yang terkurung di dalam sebuah peti. Dengan rusaknya ‘shield’ yang selama ini melindungi camp dan niat jahat Luke serta kenyataan bahwa wakil ketua camp sekaligus mentor Percy: Chiron (Anthony Head) kesulitan mencari penawar racun tersebut, keselamatan semua Demigod pun terancam.

Annabeth mengusulkan kepada ketua camp: Dionysus (Stanley Tucci) untuk mencari sebuah Golden Fleece yang dapat menyembuhkan semua luka dan penyakit untuk menyembuhkan pohon tersebut. Awalnya Dionysus tidak menyetujui ide tersebut tapi akhirnya sang ketua malah mengirim Clarisse untuk mencari Golden Fleece tersebut ke sebuah pulau bernama Circeland. Sementara itu, Percy yang mendapat sebuah ramalan mengenai salah satu Demigod keturunan manusia dari keturunan Zeus, Poseidon dan Hades yang harus berhadapan dengan Luke dan dapat menyelamatkan atau menghancurkan  Olympus. Ramalan ini jelas ditujukan kepada Percy karena tidak ada lagi keturunan dari tiga dewa Utama tersebut yang masih hidup kecuali dia. Sehingga akhirnya dengan tekad kuat untuk membuktikan diri dan menyelamatkan teman-temannya, Percy bersama Annabeth, Grover dan saudara laki-laki yang baru ditemuinya bernama Tyson (Douglas Smith) yang merupakan seorang Cyclops, memutuskan untuk melakukan petualangan mereka sendiri.

Pencarian tersebut tidaklah mudah. Mereka tidak hanya harus menghadapi seorang Cyclops bernama Polyphemus (Robert Maillet) yang menjaga Golden Fleece tersebut tapi juga melewati seekor monster laut. Mereka berempat juga bertemu dengan tiga orang Graeae, penyihir abu-abu yang tidak memiliki mata yang menghantarkan mereka untuk bertemu dengan dewa Hermes (Nathan Fillion), ayah Luke, dan juga petualangan lainnya. Perjalanan yang akan mereka hadapi sepertinya benar-benar menarik.
Petualangannya cukup menegangkan, dengan unsur persahabatan yang kental ditambah bumbu dari mitologi Yunani yang menarik. Tema yang disajikan begitu sederhana dan mudah dimengerti. Para tokohnya pun begitu mudah untuk dicintai atau pun dibenci sesuai dengan tokoh antagonis atau protagonist yang mereka perankan. Bumbu humornya juga cukup menghibur dan animasinya tidak perlu diragukan lagi.
Tapi, apakah itu saja sudah cukup? Well, menurut saya belum.

Jika kalian adalah penggemar kisah fantasi yang sama sekali tidak kenal dan tidak tahu tentang petualangan penyihir favorit semua orang sepanjang masa: Harry Potter, kalian pasti akan menyukai kisah Percy Jackson, si anak manusia setengah dewa ini. Tapi, siapa yang tidak tahu mengenai Harry Potter? Dengan sepuluh tahun masa kejayaannya, kecil kemungkinan ada satu orang saja yang tidak mengenalnya. Dan dengan taring yang telah berhasil ditancapkan dengan sangat dalam oleh sang author: J.K. Rowling, maka perlu usaha ekstra keras untuk bisa mengangkat kisah Percy Jackson keluar dari akar Harry Potter di dalam benak setiap penonton. Bagaimana tidak? Formasi tiga orang tokoh utama, satu perempuan dan dua anak laki-laki, yang bersahabat saja sudah sangat mirip dengan persahabatan antara Harry Potter, Ron Weasley dan Hermione Granger. Juga unsur ramalan dan bahkan taksi yang ditumpangi Percy dan teman-temannya yang sangat mirip dengan Knight Bus yang ditumpangi Harry Potter di film Harry Potter and the Prisoner Of Azkaban.

Saya juga tidak bisa merasakan klimaks cerita dengan memuaskan sehingga terkesan ‘hambar’ dan terlalu sederhana. Bahkan mungkin para penonton dewasa bisa saja merasakan jika film ini terlalu mudah ditebak dan ke kanak-kanakkan walaupun tidak bisa dipungkiri bahwa tema sederhana ini cukup cocok untuk anak-anak dan remaja. Peranan Sea of Monster yang saya kira akan menjadi setting utama petualangan, mengingat namanyalah yang dipakai sebagai judul, ternyata tidak sebesar yang saya kira. Ini mengecewakan dan sedikit membingungkan untuk saya. Dan bagaimana seorang dewa Kronos yang dalam legendanya baru bisa dikalahkan oleh tiga orang dewa sebesar dewa Zeus, Poseidon dan Hades sekarang bisa dikalahkan hanya oleh seorang Demigod muda seperti Percy? Wow, anak ini sepertinya benar-benar perkasa, ya?


But, yeah, saya yakin tidak semua orang sependapat dengan saya kali ini. Apa lagi dengan banyaknya para penggemar setia dari buku dan film ini. Bahkan sepertinya para penggemar Percy Jackson menyukai hasil penyutradaraan Thor Freudenthal kali ini karena terbukti dalam waktu kurang dari dua puluh hari penayangannya di seluruh dunia, film yang menghabiskan budget sebesar $ 90 juta ini telah menghasilkan $ 110 juta (berdasarkan Wikipedia pada tanggal 26 Agustus 2013). Untuk saya, film ini berhak mendapatkan tiga dari lima bintang untuk kemampuannya menghibur dan unsur mitologi Yunani yang menarik di dalamnya.


ELYSIUM

Setelah berhasil menyuguhkan film bertema science fiction yang berjudul District 9 pada tahun 2009, Neill Blomkamp kini menghadirkan film dengan tema yang sama berjudul Elysium. Neill kini tidak hanya bertindak sebagai sutradara, tapi juga sebagai penulis naskah dan co-produser.

Elysium bercerita mengenai kondisi bumi pada tahun 2154, di mana bumi telah mengalami over-populasi dan berada dalam kondisi kemiskinan, penuh wabah dan kekerasan. Armadyne Corporation membangun sebuah stasiun luar angkasa bernama Elysium, tempat di mana para penduduk yang kaya dan berkedudukan tinggi dapat tinggal dengan nyaman. Bahkan system pemerintahan yang dikepalai oleh President Patel (Faran Tahir) dijalankan dari sana. Dengan segala kenyamanan dan teknologi canggih yang dimiliki Elysium, seluruh penduduk bumi yang terlantar rela melakukan segala cara agar bisa pergi ke sana. Tapi Elysium mempunyai Menteri Pertahanan yang hebat bernama Jessica Delacourt (Jodie Foster) yang tega menyingkirkan semua pemberontak yang ingin menyusup ke dalam Elysium dengan tangan dingin.

Sementara itu, seorang anak laki-laki bernama Max De Costa (Matt Damon) dibesarkan dalam lingkungan yang keras di Los Angeles. Dia dan teman masa kecil, sekaligus wanita yang dicintainya: Frey Santiago (Alice Braga), berkeinginan untuk bisa menjadi salah satu penduduk Elysium. Tapi setelah beranjak dewasa, cita-cita mereka itu pun pupus saat Frey harus pindah. Max tumbuh dewasa sebagai laki-laki yang sering melakukan tindakan criminal dan akhirnya bekerja di perusahaan Ermadyne. Suatu hari Max bertemu lagi dengan Frey yang bekerja sebagai seorang perawat dan ternyata sudah memiliki seorang anak perempuan bernama Matilda (Emma Tremblay) yang menderita leukemia.

Tanpa disengaja Max mengalami kecelakaan kerja yang membuatnya terkena radiasi tingkat tinggi sehingga dapat membunuhnya dalam waktu lima hari. Karena tidak mau meninggal secepat itu, Max meminta bantuan seorang ketua geng pemberontak bernama Spider (Wagner Moura) agar bisa menyelundupkannya ke Elysium sehingga Max bisa menggunakan Med-Pod yang dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit di sana. Spider bersedia membantu jika Max mau mencuri data berharga di dalam kepala salah satu petinggi Elysium yang berada di bumi: John Carlyle (William Fichtner). Max dibekali sebuah Exoskeleton yang ditanamkan di seluruh tubuhnya melalui proses yang menyakitkan untuk meningkatkan kemampuan tubuhnya setingkat sebuah robot dan dapat menyimpan informasi yang mereka butuhkan di dalam kepala Max.

Sementara itu, Jessica Delacourt berencana melakukan kudeta. Dia meminta CEO Armadyne: John Carlyle untuk menciptakan sebuah program yang dapat memprogram ulang Elysium sehingga Jessica bisa mengikrarkan diri sebagai President Elysium yang baru. Sebagai balasannya, Jessica akan menandatangani kontrak baru dengan perusahaan John Carlyle untuk dua ratus tahun ke depan. Saat John Carlyle menyetujui rencana ini, dia menyimpan program tersebut di dalam otaknya sendiri demi keamanan lalu berangkat ke Elysium untuk menghadap Jessica dan melaksanakan rencana jahat mereka. Tapi di tengah jalan John diserang oleh Max dan program tersebut pun dicuri. Jessica yang marah dan panic memerintahkan agen lapangan rahasianya yang berada di bumi: Kruger (Sharlto Copley) untuk memburu Max dan merebut kembali data yang sangat berharga tersebut.

Akhirnya Max tidak hanya harus berlomba dengan waktu untuk menyelamatkan nyawanya sendiri, tapi dia juga harus bertarung dengan para robot dan manusia setengah robot untuk bisa menyelamatkan apa yang masih bisa dia selamatkan serta mewujudkan cita-citanya sedari kecil: menjadi salah satu penduduk Elysium.
Tema apocalypse dan robot memang sudah tidak asing lagi di dunia perfilman Hollywood, tapi yang membuat film ini berbeda dengan film-film bertema serupa adalah isu politik dan sosialnya yang dengan berani memaparkan perbedaan tingkat social masyarakat yang sebenarnya sudah menjadi isu utama di kalangan masyarakat belakangan ini. Selain itu, nama Matt Damon, Jodie Foster dan William Fichtner yang sudah sering kita lihat di bioskop atau pun televisi nasional bisa menjadi salah satu jaminan untuk menarik perhatian penonton. Tapi bukan berarti film ini akan bisa sukses saat dilempar ke pasaran begitu saja.

Jika dilihat dari jadwal rilis di Indonesia, Elysium mungkin bisa cukup tenang karena keluar saat masih di (akhir) libur lebaran yang panjang dan tidak memiliki saingan yang cukup berat, mengingat Smurft 2 tidak terlalu berhasil di pasar perfilman Indonesia. Tapi, saya pribadi tidak terlalu suka dengan eksekusi film ini. Dengan tema yang cukup unik, detail ceritanya malah kurang disajikan dengan baik. Settingnya cukup menarik, animasinya pun tidak perlu diragukan lagi. Tapi karakter tokohnya kurang digali cukup mendalam sehingga para penonton tidak cukup menjalin emosi dengan para tokohnya. Twist cerita juga tidak membuat saya penasaran dan mudah ditebak. Sungguh sangat disayangkan karena jika saja film ini dapat dieksekusi dengan lebih baik, saya rasa film ini bisa menjadi film kuda hitam yang bisa diperhitungkan.


Saya hanya bisa memberikan dua setengah dari lima bintang untuk film ini karena saya tidak mendapatkan ‘wow factor’nya. Walaupun beberapa orang akan mencibir dan mengatakan bahwa saya salah menilai, tapi saya tidak akan mengubah pendirian saya kali ini. Sorry.


Ngintip: SHAKTI - AWAL PETUALANGAN

Buku pertama berjudul SHAKTI - AWAL PETUALANGAN. Buku ini adalah lanjutan dari buku pertamanya yang berjudul: Shakti Dan Bintang Jatuh dan buku ini juga termasuk ke dalam seri The Chronicle Of Enigma yang saya ciptakan, tapi buku ini tetap bisa dibaca tanpa perlu membaca buku pertama yang sudah saya terbitkan pada tahun 2011 lalu yang berjudul: The Two Rings.

Sudah mulai tertarik? Untuk sementara buku ini hanya bisa dibeli versi e-booknya di link ini: http://gramediana.com/books/detail/14082013173510-the-chronicle-of-enigma-shakti-awal-petualangan-book-2?locale=en



Atau kamu bisa coba baca dulu halaman pertamanya di sini! enjoy... :)

Chapter 1

Bintang Jatuh

Matahari sore sudah dijelang lagi, cahayanya yang jingga sekali lagi menyiratkan lelahnya sang mentari setelah melakukan tugasnya seharian. Shakti duduk di atas pohon untuk memandang sang mentari itu. Nyaris sepanjang hari dia duduk di sana tanpa ingin beranjak, air matanya berulang kali mengalir lalu berhenti dan mengalir lagi tanpa bisa dicegah. Entah kenapa, di dalam otaknya masih terus teringat satu kata yang selalu diputar ulang tanpa henti: Ruben tewas, Ruben tewas. Dan tanpa bisa disangkal, kata-kata inilah yang membuat air mata Shakti tidak bisa berhenti mengalir.
Dia juga tahu kalau petualangan yang dilewati bersama teman-temannya sudah berakhir, tapi dia tidak bisa mengatakan hal itu kepada mereka. Mengatakan hal itu seolah hanya akan membuatnya bertambah sedih dan mengesahkan kematian Ruben sebagai sesuatu yang benar-benar terjadi. Dia tidak ingin petualangannya berakhir seperti ini, dia tidak ingin mengecewakan teman-temannya dan terutama, dia tidak ingin mengecewakan dirinya sendiri.
Tom, Cognito dan Maxy berada di pinggir hutan yang lain, berkemah ditemani Leon yang sesekali datang menemui mereka. Mereka tidak peduli petualangan mereka sudah berakhir atau belum tapi mereka tidak bisa meninggalkan Shakti dalam keadaan seperti itu. Lagipula mereka tidak memiliki alasan dan tujuan untuk pergi. Bagi Tom, tidak ada lagi keluarga yang tersisa untuknya karena kelompok Gypsy Group sudah dibantai habis oleh orang-orang Path. Hanya Shakti yang sekarang sangat dikenalnya dan patut dia sebut sebagai sahabatnya.
Sedangkan bagi Maxy, Shakti adalah sahabat dan adiknya. Selama ini dia terkurung di dasar Titan Valley selama bertahun-tahun tanpa ada satu orang pun yang mengetahui keberadaannya, tapi semenjak Shakti menawarinya untuk ikut pergi dan meninggalkan Titan Valley, Maxy sudah meyakinkan diri bahwa Shakti-lah saudara perempuan yang akan dilindunginya seumur hidup. Sementara bagi Cognito, tidak ada alasan untuk menghentikan petualangannya hanya sampai di sini. Dia sudah begitu bersemangat saat pertama kali mengetahui bahwa akhirnya dia bisa berpetualang dan mewujudkan mimpinya selama ini, sehingga membohongi seluruh penduduk Orinoko dan Ayahnya pun setuju dilakukannya tanpa banyak pertimbangan. Petualangannya baru saja dimulai, dia tidak rela mengakhiri petualangannya sesingkat ini.
Jadi ketiganya memutuskan untuk tetap bertahan di tempat, seakan tidak rela kalau semuanya berakhir sebegini buruk dan menunggu Shakti memutuskan sesuatu, walaupun Shakti kelihatannya tidak ingin memutuskan apa-apa.
Sesekali di antara Tom, Cognito, Maxy atau Leon datang menghampiri Shakti untuk menanyakan kabar dan memberinya makanan. Walaupun Shakti tetap tidak menunjukkan keinginan untuk menghentikan tindakannya yang aneh itu, teman-temannya tetap sabar menghadapinya dan rela bulak-balik membujuk Shakti. Bukan membujuknya untuk turun dari atas pohon dan kembali berpijak di atas tanah seperti manusia normal lainnya, mereka tahu usaha itu tidak akan berhasil, tapi mereka berusaha sekuat tenaga agar Shakti bisa menerima kenyataan yang ada dengan hati yang lebih lapang dan sabar.
Ruben sudah tewas, tidak peduli Shakti mau mempercayainya atau tidak. Kenyataannya seorang saksi mengatakan kalau dia melihat dengan mata kepalanya sendiri saat sebuah pedang menebas punggung Ruben dan membunuhnya.
Tapi kelihatannya Shakti masih sulit untuk diyakinkan. Entahlah. Di dalam diri Shakti, sebagian dirinya yang kecil dan biasanya terletak di dasar hatinya, yakin kalau Ruben_entah bagaimana_belum meninggal. Dia yakin Ruben masih bernapas dan menunggu Shakti menjemputnya. Tetapi sebagian dirinya yang lain, yang lebih besar ukurannya dari pada bagian diri Shakti yang berada di dasar hatinya tadi, mempercayai fakta itu tapi tidak tahu bagaimana cara untuk meyakinkan dirinya sendiri. Ini yang membuatnya begitu sulit memutuskan hal apa yang harus dilakukan selanjutnya. Dia sadar, teman-temannya sedang menunggu keputusannya, tapi Shakti tidak bisa memutuskan, dia bahkan tidak tahu harus berbuat apa.
Jadi, itulah alasan yang dapat menjelaskan kenapa sampai saat ini Shakti masih bertahan duduk di atas dahan pohon itu selama beberapa waktu seperti seorang pertapa.
“Kau, makan?“
Saat ini Maxy ada di bawah pohon dan sedang menyodorkan sebuah daun besar yang sudah dibentuk sedemikian rupa sehingga menyerupai piring. Di dalamnya berisi kentang panggang dan paha ayam bakar yang mengeluarkan wangi yang membuat Shakti tersadar kalau dia memang merasa lapar. Shakti mengambil piring daun itu dari tangan Maxy tanpa perlu menunduk karena tinggi badan Maxy nyaris sama dengan tinggi dahan itu, lalu mengucapkan terima kasihnya kepada Maxy dengan pelan.
“‘gimana keadaanmu?“ tanya Maxy lagi yang sekarang sudah bersandar di pinggir pohon tempat Shakti duduk. Shakti berhenti menguyah untuk memikirkan jawabannya, lalu berkata dengan lemah sambil sedikit menyesal karena harus menjawab seperti ini.
“Aku tidak tahu, Maxy.“
Baik, kan?“ tanya Maxy lagi, ketiga matanya memandang Shakti dengan penuh harap dan khawatir.
“Baik, kurasa. Entahlah.“
Maxy menunduk dengan sedih lalu berjalan menjauhi Shakti dengan langkah berat sambil menyeret kakinya yang besar. Maxy kelihatan sangat kecewa dan Shakti tidak menyalahkannya. Dia tahu bukan jawaban seperti itu yang ingin Maxy dengar darinya, tapi Shakti tidak ingin berbohong kepada sahabat-sahabatnya dengan mengatakan bahwa dia tidak apa-apa padahal rasanya dia ingin mati. Sehingga akhirnya Shakti memutuskan untuk kembali duduk termenung sambil menghabiskan makanannya yang ternyata tidak terasa enak seperti dugaan sebelumnya.
Shakti memandang jauh ke depan dan terkejut melihat desa Oz yang ditinggalkannya di balik bukit. Buru-buru dia turun dari atas dahan pohon dan berlari ke sana. Benar, itu desa Oz yang dirindukannya. Ada hamparan sawah yang sudah mulai menguning dan Tuan Koboi sedang berlarian riang di sekeliling sawah untuk mengusir burung pemakan biji yang suka merusak padi. Ada juga rumah kecilnya, lengkap dengan gorden putih yang tertiup angin dengan Ayah, Ibu dan Carmen sedang melambai dan tertawa riang kepada Shakti. Juga ada bukit kecil di belakang rumah, dan bukit berpuncak pohon, tempat favoritnya dan Ruben.
Di bukit itu, tepat di samping pohon yang besar, berdirilah Ruben. Tingginya masih sama dengan terakhir kali Shakti bertemu dengannya. Rambutnya juga masih terpotong rapi dan dia mengenakan pakaian yang tak kalah rapinya. Langsung saja Shakti berlari semakin kencang ke arah Ruben, merasa senang sekali akhirnya bisa melihat Ruben lagi dan bertekad ingin langsung memeluk Ruben begitu dia sampai di depannya. Tapi begitu sampai di tempat Ruben berada, Shakti malah menemukan pohon yang kering dan hampir roboh dengan daun-daunnya yang berguguran tanpa arti. Ruben masih berdiri di samping pohon itu, tapi wajahnya tanpa ekspresi, rambutnya berantakan dan darah segar mengaliri punggungnya sehingga menggenangi kakinya seperti kubungan lumpur berwarna merah darah.
Shakti menjerit kaget dan ketakutan sedangkan Ruben tampak tidak terganggu dengan suara apa pun. Masih dengan wajah tanpa ekspresi, Ruben berjalan mendekati Shakti, mengulurkan tangan kanannya yang juga dipenuhi darah yang kental dan berkata dengan suara terbata-bata, khas suara orang yang menahan sakit.
“Shak...ti...“
“AH!!!“
Shakti berteriak sekuat tenaganya sambil menutup telinga dengan kedua belah tangannya karena ngeri, tidak percaya dan takut sekaligus. Tapi tiba-tiba Shakti membuka matanya dan langsung meraih kedua cincin kembar bermahkota matahari yang tergantung di lehernya dengan sebuah tali hitam. Kedua cincin itu terasa panas, padahal semilir angin malam yang cukup kencang dan dingin sekarang sudah berhembus. Shakti melepaskan genggamannya lalu ganti meraba jantungnya. Debarannya sangat cepat, lebih cepat dari pada biasanya. Lalu Shakti mengusap keringat di kening dan lehernya dengan punggung tangan dan mencoba menarik napas panjang untuk sedikit meredakan debaran jantungnya tadi. Dia sadar kalau tadi itu hanyalah mimpi, mimpi yang benar-benar buruk.
Sekali lagi Shakti menarik napas panjang sambil menengadahkan kepala, berusaha menarik oksigen sebanyak paru-parunya muat menampung sambil memejamkan mata. Lalu saat membuka matanya lagi dengan kepala yang tetap menengadah memandang langit malam yang cerah berbintang, Shakti menemukan bintang jatuh lagi!
Bintang itu hampir sama dengan bintang yang dilihatnya bersama Ruben beberapa waktu yang lalu, yang akhirnya menuntunnya melakukan perjalanan. Bintang itu masih sama cemerlangnya, masih sama berkerlap-kerlip genit seperti dulu. Shakti buru-buru mengurungkan niatnya untuk menarik napas dalam-dalam lagi dan ganti memperhatikan bintang itu dengan saksama. Entah bagaimana, Shakti yakin sekali kalau itu adalah bintang yang sama, dan kejadian selanjutnya semakin mengukuhkan pendapatnya. Bintang itu jatuh! Lagi, untuk kedua kalinya! Dengan pikiran yang penuh dengan ketidak percayaan, kekagetan dan panik, Shakti buru-buru turun dari dahan pohon yang sudah didudukinya selama beberapa lama dan berlari mengikuti jatuhnya bintang itu.
Tidak peduli kakinya terasa kram atau apa pun, Shakti terus berlari mengikuti arah bintang jatuh itu, kali ini benar-benar bertekad tidak ingin kehilangan lagi. Dia memasuki hutan lagi sambil tetap mengawasi pergerakan bintang itu di sela-sela puncak pohon yang tidak terlalu rindang, lalu melewati pinggir hutan di mana Tom dan yang lainnya berkemah. Mereka sedang terlelap saat Shakti lewat. Tom dan Cognito duduk bersebelahan di samping pohon, Maxy tertidur dalam keadaan duduk di pinggir pohon yang lain, sedangkan Leon tertidur di pinggir semak dengan pedang yang biasanya selalu disampirkan di ikat pinggangnya tergeletak tak jauh dari kakinya.
Shakti melewati mereka tanpa memperhatikan jalur yang dilewatinya karena otaknya hanya dipenuhi dengan kenyataan bahwa dia menemukan bintang jatuh itu lagi. Karena terburu-buru dia tidak sengaja menyenggol pedang Leon saat berlari dan mengakibatkan pedang itu berguling dengan suara berisik. Seketika itu juga Leon, Tom, Cognito dan Maxy terbangun dengan kaget, Maxy malah terbangun sambil sedikit melengking. Tom langsung tersadar dari kekagetannya dan melihat Shakti berlari. Dia berteriak memanggil Shakti.
“Shakti, ada apa?“
“Kau mau pergi ke mana?“ tanya Cognito dengan sedikit berteriak karena Shakti sudah berlari semakin menjauh.
“Aku menemukan bintang jatuhku lagi! Dia belum jatuh!“ Shakti menjawab tanpa memperlambat atau menghentikan langkahnya.
“Apa?“ tanya Leon, tidak percaya. Tapi dia tidak menunggu penjelasan lebih lanjut dari Shakti. Sama seperti yang lain, dia malah buru-buru mengikuti Shakti berlari mengejar bintang jatuh itu juga.
Mereka berlari dengan terengah-engah, sesekali menengadah ke atas untuk melihat ke arah mana bintang jatuh itu bergerak. Ternyata bintang jatuh itu bergerak ke sudut hutan yang lain di mana hutan semakin melebar dan pohon-pohon semakin rindang sehingga semakin sulit melihat bintang jatuh itu bergerak. Tapi Shakti tidak peduli ke arah mana bintang jatuh itu bergerak, dia hanya ingin terus mengikuti bintang jatuh itu sampai jalannya terhenti karena ternyata hutan itu berakhir di ujung tebing.
Mereka berhenti di tebing itu, napas mereka masih terengah-engah tapi kepala mereka masih tetap memandang bintang jatuh itu bergerak terus ke seberang di mana pohon-pohon hitam terbentang luas. Mereka tidak bisa mengejar bintang jatuh itu lagi karena tebing itu begitu tinggi dan curam dan pada dasarnya mengalir sungai luas yang cukup dalam. Shakti hanya bisa memandangi bintang jatuh itu dengan pilu, hatinya begitu sedih karena berhasil menemukan bintang jatuh itu lagi tapi ternyata tidak bisa mengejarnya sampai dapat.
Tapi tiba-tiba bintang itu benar-benar jatuh di ujung sana sambil mengeluarkan cahaya yang terang lalu tanah yang Shakti injak terasa bergetar dan dua cincin kembar Shakti terasa panas lagi, bahkan kali ini terasa jauh lebih panas dari pada sebelumnya. Kejadian itu berlangsung sangat cepat, seolah-olah hanya dalam satu kali kedipan mata, lalu keadaan kembali normal. Dan saat itu Shakti langsung tersadar dan menjadi begitu yakin bintang jatuh itu kali ini benar-benar jatuh dan sekarang dia harus mengambil bintang jatuh itu secepatnya.
Shakti berbalik menghadapi teman-temannya. Sinar bulan yang cukup terang memberi keluasaan bagi Shakti untuk bisa melihat wajah teman-temannya dengan jelas. Maxy sedang mengatur napasnya karena tiba-tiba diajak berlari ketika baru saja tersentak bangun. Ketiga matanya menutup kelelahan dan kedua tangannya yang besar memegangi kedua lututnya yang hitam legam sehingga kedua tanduk besarnya kelihatan seperti ingin menusuk Shakti.
Cognito duduk di tanah dengan kedua kaki pendeknya terjulur. Wajahnya juga kelelahan, napasnya juga terengah-engah dan kedua tangannya dibiarkan menopang badannya menyandar. Sedangkan Leon yang juga terengah-engah, tapi tidak terlalu kelihatan kepayahan jika dibandingkan yang lain, hanya berdiri dengan pedang yang tidak sengaja Shakti senggol sehingga membangunkan teman-temannya tadi tertancap di tanah seperti kaki ketiga Leon. Sedari tadi Leon terus memperhatikan Shakti dengan khawatir.
Dan Tom berdiri paling belakang, berkacak pinggang dan memandangi langit yang kosong dan tempat hilangnya bintang jatuh tadi bergantian. Kedua tangannya ditopang di pinggang sehingga kelihatannya sedang menantang orang. Shakti memandangi teman-temannya satu per satu, lalu mengatakan sesuatu dengan cepat dan diusahakannya sejelas mungkin.
“Teman-teman, ternyata bintang jatuh itu belum benar-benar jatuh dan sekarang aku akan mengambilnya.“
“Belum benar-benar jatuh?“ tanya Cognito, bingung.
“‘tak mungkin.“ gerutu Maxy.
“Bagaimana kau bisa yakin tentang itu?“ tanya Tom juga.
“Karena aku melihatnya lagi malam ini. Kalian melihatnya juga, kan? Karena itulah, sekarang aku akan mengejarnya lagi, kali ini aku tidak akan kehilangan jejak lagi karena bintang jatuh itu sudah benar-benar jatuh sekarang.“ Shakti menjelaskan dengan lebih menggebu-gebu dari pada yang diinginkannya.
“Bagaimana kau bisa yakin kalau kali ini bintang itu benar-benar jatuh?“ Leon juga bertanya.
“Ya ampun, bukankah sudah jelas? Kalian sendiri juga melihat kalau bintang itu jatuh lagi, dan dia terbanting di ujung sana. Bintang itu bahkan mengeluarkan cahaya dan menimbulkan gempa! Apa kalian tidak merasakannya juga?“ Shakti menjelaskan dengan tidak sabar, menunjuk tempat jatuhnya bintang tadi lalu memandang teman-temannya untuk melihat tanda-tanda kalau mereka mengerti. Tapi teman-temannya tidak menunjukkan tanda apa-apa, mereka malah hanya memandangi Shakti dengan tercengang.
“Kalian melihat dan merasakannya juga, kan? Kilatan cahaya dan gempa tadi?“ tanya Shakti sekali lagi, kali ini dengan lebih pelan. Teman-temannya hanya diam, hanya Maxy yang menggeleng pelan.
“Kami hanya melihat bintang jatuh itu memudar dan hilang di arah yang kau tunjuk tadi. Tapi tidak ada cahaya atau gempa seperti yang kau katakan itu.“ Tom menjelaskan sehingga membuat Shakti terdiam.
Kenapa bisa begitu? Tanya Shakti dalam hati. Bagaimana dia bisa melihat cahaya dan merasakan gempa kecil tadi sementara teman-temannya tidak? Memang kejadiannya begitu cepat, tapi jelas-jelas terasa nyata, bukan khayalan Shakti. Masih dengan bingung dan tidak percaya, tidak peduli lagi teman-temannya mempercayainya atau tidak dan akan mendukungnya atau tidak, Shakti berkata lagi.
“Aku sudah memutuskan, akan mengejar bintang jatuhku lagi. Aku yakin kali ini aku akan bisa aku mendapatkannya. Dengan atau tanpa bantuan kalian, aku akan tetap pergi.“
 “Tidak mungkin.“ Leon yang pertama kali bisa bereaksi dibandingkan teman-temannya yang lain setelah Shakti mengatakan keinginannya. “Kau tidak bisa mengejar bintang jatuh itu.“
“Kenapa tidak?“ tantang Shakti.
“Karena aku tidak yakin kalau kali ini kau benar-benar bisa mendapatkan bintang jatuh itu.“ Tom menjawab dengan terburu-buru, berusaha meyakinkan Shakti secepatnya, sebelum Shakti benar-benar menjalankan keputusannya itu.
“Kenapa? Aku jelas-jelas melihat bintang itu benar-benar jatuh. Bahkan aku melihat kilatan cahaya dan gempanya!“
“Tapi aku tidak melihat cahaya atau merasakan gempa apa pun.“ Cognito menimpali.
“‘ku juga tidak.“ Maxy berkomentar juga.
Semua ini malah membuat Shakti bertambah frustasi dan kesal. Saat ini dia sedang sangat ingin melanjutkan perjalanannya dan sangat yakin kalau kali ini dia akan menemukan bintang jatuh yang sudah benar-benar jatuh itu. Dengan kata lain, Ruben masih bisa ditemukan. Tidak tahu alasan apa yang mempengaruhinya berpikir seperti itu, tapi dia yakin itu. Karena itu yang diinginkannya sekarang hanya satu: mengejar bintang jatuh.
“Baiklah, aku juga tidak tahu kenapa kalian tidak bisa melihat cahaya atau merasakan gempa itu, tapi sekarang aku sangat yakin kalau aku akan menemukan bintang itu! Tidak peduli kalian percaya atau tidak, kalian akan menemaniku atau tidak, tapi aku akan tetap mencarinya.“
Sekarang keyakinan Shakti sudah begitu memuncak, bercampur dengan rasa kesal kepada teman-temannya karena mereka tidak mempercayainya. Kenapa teman-temannya malah meragukan keputusannya padahal sebelumnya mereka menunggu Shakti memutuskan sesuatu? Dia memandang keempat teman-temannya, masih tidak mengerti kenapa kali ini mereka meragukannya, lalu menyentak marah dan melangkah dengan geram.
Leon buru-buru menahan langkah Shakti.
“Tunggu Shakti, kau tidak bisa pergi begitu saja!“
“Ada apa lagi?“ Shakti bertanya sengit.
“Kau tidak bisa pergi sendirian—“ Shakti kembali memutar matanya dengan kesal dan bersiap-siap melanjutkan langkahnya, tapi Leon buru-buru menahannya lagi. “–paling tidak, biarkan kami bersiap-siap menemanimu. Lagipula, kau tidak bisa pergi mengejar bintang jatuh itu tanpa bekal apa-apa, bintang jatuh itu berada di Blackside!“
Kata-kata Leon ini akhirnya mampu menghentikan keinginan Shakti yang memang diputuskan dengan tergesa-gesa. Dia diam di tempatnya berdiri, kembali memandang teman-temannya yang anehnya saat ini kelihatan lebih menyetujui apa yang dikatakan Leon tadi.
Sekarang Shakti kembali memandang Leon, tanpa bisa mengatakan apa-apa seolah lidahnya mendadak beku, pandangan matanya mengisyaratkan Leon agar melanjutkan perkataannya dan menjelaskan lebih rinci apa yang dimaksudnya tadi. Leon mengerti arti pandangan mata Shakti itu, dengan tekad yang diusahakan sekuat mungkin, Leon menjelaskan lagi kepada Shakti.
“Shakti, aku yakin kau pun tahu kalau Blackside sekarang dalam keadaan yang sangat tidak stabil. Banyak hal aneh terjadi di sana, membuat keadaan di sekitarnya menjadi begitu berbahaya. Kau tidak bisa pergi ke sana, paling tidak kau harus mempersiapkan dirimu dengan lebih baik lagi.“ kening Shakti berkerut, tanda kalau dia tidak mengerti dengan jelas apa yang Leon maksudkan.
“Kau harus belajar bertarung dan mempertahankan diri, Shakti.“ lanjut Leon. Shakti terdiam, mencoba mencari celah yang mengatakan kalau Leon sudah salah berbicara dengan melihat tampang ketiga sahabatnya yang lain, tapi bahkan mereka bertiga kelihatan setuju.
“Shakti, kami sudah membicarakan ini sebelumnya.“ sekarang Tom yang mencoba menjelaskan. Dia melangkah maju melewati Cognito dan Maxy dan sampai di depan Shakti, lalu melanjutkan. “Terlepas dari kenyataan bahwa kita akan melanjutkan petualangan kita mencari bintang jatuh ini atau tidak, kami memutuskan kalau kau, Shakti, harus bisa bertarung untuk mempertahankan diri. Itu akan sangat berguna untukmu, percayalah.“
“Dan kami akan membantumu. Kami akan mengajarimu bagaimana caranya berkelahi.“ kali ini Cognito yang menjelaskan, tapi bukannya membuat Shakti menjadi lebih mengerti, penjelasan ini malah membuat Shakti bertambah bingung. Dia menatap Maxy untuk meyakinkan kalau teman-temannya tidak melantur, tapi malah mendapati Maxy mengangguk, artinya dia juga mendukung perkataan teman-temannya yang lain.
Tapi, bagaimana mungkin mereka berpikir bisa mengajari Shakti berkelahi? Memang selama ini dia tidak tahu bagaimana cara mempertahankan diri atau berkelahi karena sedari kecil kedua orang tuanya tidak pernah berpikir kalau putri kecil mereka suatu saat nanti akan melakukan petualangan. Dan jujur saja, sebenarnya hal itu tidak pernah dipertimbangkan Shakti sebelumnya.
Pada saat Shakti memutuskan untuk berpetualang, dia tidak pernah berpikir kalau dia membutuhkan keahlian membela diri. Mungkin karena pikiran polosnya berhasil meyakinkannya bahwa tidak akan ada yang berniat melukainya. Tapi tentu saja pemikiran ini terbukti salah. Petualangannya tetap saja membawanya melewati daerah berbahaya yang dipenuhi orang-orang jahat yang tidak peduli apa dia bisa berkelahi atau tidak. Untunglah Shakti memiliki teman-teman seperjalanan yang lebih pintar dan lebih siap daripada dirinya sehingga urusan tidak bisa mempertahankan diri itu bisa diatasi di bawah perlindungan teman-temannya.
Tapi kali ini teman-temannya mengatakan kalau dia harus bisa berkelahi dan mempertahankan dirinya sendiri, apa ini berarti teman-temannya benar-benar tidak ingin menemaninya menuntaskan petualangan ini? Apa mereka pikir petualangan mereka hanya sampai di sini?
“Apa kalian bermaksud... kalian benar-benar tidak ingin melanjutkan ini? Kalian tidak percaya kalau kali ini bintang itu benar-benar jatuh?“ tanya Shakti sambil memandangi wajah teman-temannya satu per satu.
“‘kan begitu.“ sangkal Maxy buru-buru.
“Kalau kami tidak mempercayaimu, kami tidak akan ikut berpetualang bersamamu sampai sejauh ini.“ kata Tom, juga dengan terburu-buru. Lalu dia menghela napas sebentar dan melanjutkan kata-katanya dengan lebih lemah.

“Tapi... kami tidak tahu sampai kapan bisa selalu melindungimu. Apalagi kalau petualangan ini benar-benar akan dilanjutkan. Kita akan memasuki Blackside, daerah yang jauh lebih berbahaya dibanding daerah-daerah yang pernah kita lewati sebelumnya. Tidak ada ruginya bagimu untuk belajar berkelahi dan mempertahankan diri. Kita akan sangat membutuhkannya nanti.“