GRAVITY

Gravity adalah sebuah survival drama film yang menceritakan mengenai upaya bertahan hidup seorang Mission Specialist bernama Dr. Ryan Stone (Sandra Bullock). Dia adalah seorang Bio-medical Engineer yang baru pertama kali melakukan misi luar angkasanya. Sementara pendampingnya adalah seorang veteran astronot yang melakukan misi terakhirnya sebelum memutuskan untuk pensiun bernama Matt Kowalski (George Clooney). Mereka sedang mengecek Hubble Space Telescope di luar angkasa saat sebuah satelit Russia meledak dan mengakibatkan serangkaian ledakan beruntun di beberapa satelit lain. Akibatnya, terjadi hujan sampah ledakan yang juga menghancurkan telescope yang sedang mereka perbaiki sehingga mereka berdua terhempas ke luar angkasa dan terombang-ambing di sana tanpa arah. Dengan persediaan oksigen yang menipis, saluran komunikasi ke pusat yang terputus dan sebuah roket yang mulai kehabisan bahan bakar, mereka harus bisa menyelamatkan diri dengan cara mendatangi stasiun luar angkasa milik Negara lain sebelum hujan sampah ledakan menghancurkan satelit-satelit itu dan menggagalkan usaha mereka untuk kembali ke bumi.

Benar, inti cerita film ini bisa saya simpulkan dalam satu paragraph saja. Dan satu paragraph ini dapat menghasilkan sebuah film berdurasi 91 menit yang sangat-amat menakjubkan. Film ini disutradarai oleh Alfonso Cuarón yang sebelumnya berhasil menyutradarai film Harry Potter ketiga: Harry Potter and the Prisoner Of Azkaban dan Pan’s Labirinth. Dan bukan hanya itu saja, Cuarón juga memproduseri dan mengedit sendiri serta menulis scenario film ini bersama sang anak: Jonás Cuarón. Cinematografi film ini ditangani oleh sahabatnya sendiri: Emmanuel Lubezki yang sudah sering kali bekerja sama dengan Cuarón dan sudah dinominasikan sebanyak lima kali dalam Academy Award untuk berbagai film termasuk A Little Princess, Sleepy Hollow dan The Tree Of Life.

Yang lebih menakjubkan lagi, film berbudget $80-$100 million ini hanya dibintangi oleh Sandra Bullock dan George Clooney saja, sementara beberapa orang lain hanya menyumbangkan suaranya. Hampir 80% film ini terpusat pada Sandra Bullock sebagai pemeran utama dan acting actress berusia 49 tahun yang telah memenangkan begitu banyak penghargaan ini benar-benar luar biasa. Sandra Bullock berhasil membawa emosi para penonton untuk merasakan bagaimana kepanikan seorang astronot pemula yang harus terombang ambing di luar angkasa sendirian. Dia juga berhasil membawa karakter tokohnya yang merasa depresi dan kesepian, yang tidak punya tujuan dan begitu putus asa dengan baik. Sebagai tokoh central dalam film ini, di mana tidak ada cukup banyak pemeran pembantu yang dapat mengalihkan perhatian para penonton, kualitas actingnya benar-benar patut diacungi empat jempol sekaligus, atau bahkan pantas diganjar sebuah penghargaan lagi.

Tema sederhana yang dipadukan dengan penyutradaraan yang bagus, acting yang luar biasa, scenario yang mumpuni, cinematografi yang mengagumkan, setting yang tidak biasa dan special efek yang nyaris tanpa cacat, rasanya penonton tidak membutuhkan adegan action yang penuh ledakan atau aksi kejar-kejaran yang berlebihan di sini. Semuanya tetap terasa menegangkan dan penuh emosi. Terasa pas dan tidak berlebihan. Tidak diragukan lagi, saya akan memberikan empat setengah dari lima bintang untuk film ini.


Astaga, saya tidak pernah menyangka akan bisa membuat sebuah review film sependek ini dan memberikan begitu banyak bintang untuk sebuah film berdurasi satu setengah jam yang hanya menampilkan dua pemeran saja. Film ini memang benar-benar ruarrrr biasaaaa…. =)

BEAUTIFUL MISTAKE

Oh damn, I think that’s the best kiss I’ve ever had.

Ever.

Aku membuka pelupuk mataku dan menemukannya di hadapanku. Wajah kami hanya berjarak beberapa senti, bahkan kedua bibir kami jauh lebih dekat lagi. Dalam satu langkah singkat saja aku bisa meraih bibir itu lagi, melumatnya sekali lagi dan merasakan sensasi itu lagi. Benar, itu adalah sensasi yang begitu membuat sakau. Seolah ada sebuah kupu-kupu menyusup ke dalam dadaku dan mengepak dengan liar di sana, membuat napasku memburu. Napasnya lebih berat dari pada napasku dan dengan jarak sedekat ini aku bisa mencium bau tembakau menguar dari tubuhnya. Beberapa detik yang lalu aku baru saja merasakan sensasi pahitnya tembakau itu dari lidahnya dan walaupun aku membenci rokok, tapi bau itu mampu menghipnotisku.

Aku melonggarkan kedua tanganku yang melingkari lehernya, memberi jarak pada kedua bibir kami sehingga aku bisa mengatur detak jantungku yang berantakan. Kedua kaki telanjangku akhirnya bisa menapak dengan benar ke atas bumi setelah sebelumnya aku tekuk untuk berjinjit, berusaha menggapai dosa manisku tadi: bibirnya. Walaupun aku bisa merasakan bahwa dia enggan melepas pelukannya dari pinggangku, tapi dia juga memberi jarak tanpa perlu melepaskan pelukannya. Dan aku sama sekali tidak keberatan. Aku memang tidak ingin berada terlalu jauh darinya.

Aku kembali menatap kedua matanya. Letaknya beberapa senti di atas mataku sehingga aku harus sedikit menengadahkan kepala, membuat poni panjangku bergerak menghalangi. Aku sedikit memejamkan mata untuk menahan rasa sakit saat poni itu menusuk mataku, sama sekali tidak sudi untuk memindahkan kedua tanganku yang sedang memeluk lehernya untuk menyingkirkan poni yang mengganggu itu. Tapi seperti bisa membaca apa yang aku inginkan, dia melepas salah satu pelukan tangannya dari pinggangku dan menyingkirkan poni itu dengan lembut. Ujung jarinya bertahan di pipiku selama beberapa detik sebelum kembali melingkari pinggangku dan kehangatan yang membuatku merinding memancar dari sana dan bertahan lebih lama lagi. Dengan kedua mata yang begitu dekat, aku dapat menikmati kedua matanya yang bersinar penuh kehangatan itu dengan leluasa, seolah kedua mata itu hanya untukku. Lalu pandangan mataku mengarah ke hidungnya yang sedikit mancung, ke tulang pipinya yang tegas dan berhenti di bibirnya. Oh ya ampun, aku ingin sekali merasakan bibir itu. Lagi. Berkali-kali.

Tiba-tiba bibir itu tersenyum dengan begitu manisnya, membuatku tersadar bahwa sang pemilik bibir itu pastilah sadar aku sedang memandangi bibirnya dengan pandangan penuh rasa ingin tahu. Otomatis pandangan mataku kembali kepada dua bola matanya, dan benar saja, ada pandangan penuh persengkongkolan yang aku temukan di sana. Secara perlahan dan pasti senyumnya mengembang makin lebar, membuatku salah tingkah. Dan detik berikutnya dia mulai berbicara sambil mengunci kedua mataku dengan pandangan matanya yang tajam.

“Apakah kau tahu bahwa kau punya mata coklat yang sangat menakjubkan?”

Perlu waktu beberapa detik bagiku untuk mencerna kata-kata yang diucapkannya dengan sedikit berbisik itu. Sepertinya bau tembakau yang menguar dari kotak rokok yang ada di saku kemejanya telah berhasil menghinoptisku semakin dalam sehingga aku tidak bisa berpikir dengan benar. Aku bahkan tidak bisa bernapas dengan baik. Oh, dear…

Tapi aku berhasil menguasai diri dengan cepat dan ingat bahwa apa yang dikatakannya tadi sudah pernah aku dengar diucapkan oleh orang lain, orang yang selama ini telah memiliki bibirku. Begitu kesadaran itu menyerbuku, semua rasa yang menggetarkan itu lenyap seketika, seolah kupu-kupu yang sedari tadi terbang di dadaku mendadak mati. Aku melepaskan kedua tanganku dari lehernya dan mundur satu langkah sambil buru-buru berbicara dengan terbata-bata.

“Aku… sorry…”

Sorot matanya berubah dengan sangat cepat menjadi begitu menyedihkan untuk dilihat. Dengan sigap diraihnya kedua tangan yang aku lepaskan dari lehernya tadi dan menghentikan gerakannya sehingga kedua tanganku berada tepat di dalam lingkup kedua telapak tangannya. Aku memejamkan mata dengan cepat, berusaha sekuat tenaga untuk menyingkirkan perasaan nyaman yang menyerbuku dengan sangat tiba-tiba saat kedua tangan besarnya itu begitu hangat dan pas melingkupi kedua telapak tanganku yang kecil. Tapi begitu sulit untuk menghilangkan perasaan itu, apalagi dengan adanya dia di hadapanku, menatapku seperti itu.

“Ada apa?” tanyanya, sedikit ragu.

Aku menggelengkan kepalaku dengan cepat sambil menghembuskan napas panjang dan memejamkan kedua mata dengan frustasi. Ya ampun, apa yang telah aku lakukan?

“Aku… minta maaf…” kataku setelah berusaha berbicara dengan susah payah.

“Kenapa? Apa salahmu? You’re a very good kisser and that’s the best kiss I ever had, so far.”

Me too. Tapi, itu dia masalahnya. Semua ini tidak seharusnya terjadi. Aku telah melakukan kesalahan dan bagaimana caranya aku bisa memperbaiki kesalahan ini? Aku memejamkan mataku lagi dengan jauh lebih frustasi. Aku mencoba menarik napas panjang untuk menenangkan diri lagi, tapi bau tembakau itu kembali tercium, membuat semuanya terasa semakin sulit.

“Kamu menyesal karena ciuman tadi?” tanyanya lagi yang kali ini membuatku buru-buru menggeleng.

Aku sama sekali tidak menyesal karena pernah merasakan ciuman ini. Aku hanya menyesal karena berani melakukannya, melakukan sesuatu yang salah tapi begitu sulit untuk disesali.

“Hanya saja… selama ini aku telah berusaha untuk tidak melakukan sesuatu yang bisa saja aku sesali nantinya.”

“Apakah itu artinya kamu sudah lama menginginkan ini? Maksudku, apakah kamu memang ingin menciumku?” dia bertanya lagi dan aku kembali menutup kedua mataku dengan frustasi.

Iya, aku sudah berusaha sekuat tenaga menjauhkan keinginan untuk menghambur ke arahnya dan menciumnya. Seharusnya aku bisa menahan keinginan itu lebih lama lagi, atau mungkin membuang jauh-jauh keinginan bodohku itu. Tapi semua usahaku itu langsung terlupakan begitu saya setelah dia pergi selama beberapa waktu tanpa pamit dan tidak bisa dihubungi. Lalu tiba-tiba dia mendatangiku dan menyodorkan gelang itu tadi. Dan aku langsung menghambur ke pelukannya begitu saja, tanpa ingat untuk berpikir. Bodoh, aku tahu. Tapi aku tidak bisa menemukan alasan lain untuk tetap mempertahankan usaha itu. Aku sudah memutuskan untuk lebih jujur terhadap perasaanku sendiri. Dan inilah yang aku inginkan dan inilah yang aku lakukan, dari lubuk hatiku yang paling dalam. Jadi, apa yang bisa aku lakukan kecuali menganggukkan kepalaku untuk menjawab pertanyaan terakhirnya tadi?

“Kalau begitu, sepertinya aku harus sering-sering pergi tanpa mengabarimu, supaya bisa mendapatkan moment seperti ini lagi.”

Begitu mendengar kata-kata itu terlontar dari mulutnya, aku langsung melepaskan genggaman tanganku dengan kasar dan memukulkan tinjuku ke dadanya yang bidang dengan sekuat tenaga. Tapi dia malah tersenyum geli dan buru-buru menggenggam kedua tanganku untuk menghentikan pukulanku. Aku tidak menyerah, dengan kesal aku kembali menumpahkan amarahku melalui omelan.

“Jangan sekali-sekalinya kau berani pergi tanpa kabar seperti itu lagi. Kau membuatku khawatir!”

Dia menunduk untuk menatapku dengan kedua tangan yang masih menggenggam tanganku di depan dadanya, lalu menjawab lagi.

“Kau baru saja mengabarkan sebuah keputusan yang sangat mengagetkan untukku. Aku perlu menenangkan diriku lebih dulu.”

Aku menundukkan kepala lebih dalam lagi, semakin merasa menyesal. Dengan enggan dan nyaris berbisik, aku menjawab.

“Aku… sudah memutuskan.”

“Aku tahu.” Jawabnya dengan cepat. Dia melepaskan genggaman tangan kanannya, meraba cincin di jari manisku dengan cepat lalu meletakkan telapak tanganku di depan dadanya dan meraih daguku dengan tangan kanannya yang bebas. Kini, kedua mata kami sudah kembali saling menatap, mengunci.

“Karena itulah seharusnya aku yang meminta maaf. Walaupun aku sama sekali tidak menyesali semua ini, tapi aku tahu, seharusnya aku menghormati keputusanmu. Dan aku pun tahu, seharusnya aku tidak boleh menciummu, atau memberikan gelang itu sebagai hadiah perpisahan, atau bahkan memelukmu seperti ini. Tapi, aku hanya ingin… memilikimu. Paling tidak sekali dalam hidupku, aku ingin merasakan bagaimana rasanya jika aku memilikimu, seutuhnya.”

Aku tidak tahu apakah aku akan bisa menahan air mataku lebih lama lagi agar tidak jatuh ke pipiku. Penjelasannya kali ini benar-benar mengundang air mata.

Sepertinya dia melihat kedua mataku yang sudah mulai berkaca-kaca, karena itulah dia buru-buru berkata lagi.

“Aku mohon, jangan menangis. Aku tidak akan mengatakan bahwa aku mencintaimu. Aku tahu itu sudah terlambat, kata-kata itu sudah tidak ada gunanya lagi. Tapi aku hanya ingin kau tahu bahwa apa yang aku rasakan adalah perasaan yang tulus. Jadi, aku mohon, jangan menyesali apa pun. Izinkan aku menyelesaikan ini dan menciptakan sebuah kenangan indah di antara kita. Walaupun penuh kepura-puraan.”

Aku tidak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya dan aku tidak pernah menyangka bahwa aku akan merasakannya. Aku rasa ini memang bukan sebuah kesalahan. Ini adalah sebuah pembuktian, pembuktian akan kekuatan cinta yang tidak bisa saling memiliki, pembuktian bahwa sebuah keputusan membutuhkan pengorbanan, pembuktian bahwa sebuah kesalahan belum tentu salah, hanya butuh dibuktikan agar dapat dimengerti. Dan kini, aku mengerti bahwa perasaan ini adalah benar, hanya waktu dan tempat yang kurang tepat, seperti yang selama ini telah disadarinya.

“Tolong, jangan sesali aku.”

Itu adalah kata-kata terakhir yang aku dengar dari mulutnya karena detik selanjutnya bibir kami telah bertemu kembali. Kali ini lebih lembut, lebih manis, lebih menggetarkan hati. Kupu-kupu tadi kembali terbang lagi di dadaku dan lidahku kembali merasakan tembakau yang pahit. Napas kami saling memburu dan kedua lengan kami saling memeluk. Lalu, hampir sama cepatnya seperti ciuman itu dimulai, semua itu berakhir. Aku mundur satu langkah sambil merenggangkan lengan kiriku, memberi jarak pada kami berdua. Lalu aku memandanginya, memberikan senyum terbaik yang bisa aku berikan, dan berkata dengan mantap.

“Terima kasih, untuk semuanya.”

Aku berbalik dalam satu gerakan, meraih tasku yang terletak di atas meja dan pergi tanpa menoleh ke belakang lagi. Aku tidak merasakan tangannya yang menahan kepergianku atau suaranya yang memanggilku untuk berhenti. Aku hanya merasakan tangan kiriku yang menggenggam erat gelang perak yang baru saja diberikannya kepadaku dan berjanji di dalam hati bahwa aku akan mengenakan gelang itu selamanya tanpa rasa menyesal sedikit pun.


160913 ~Black Rabbit~

RIDDICK

Film ini merupakan film ketiga dari seri The Chronicle Of Riddick yang ketiga filmnya disutradarai dan ditulis oleh David Twohy. Film pertamanya berjudul Pitch Black yang dirilis pada tahun 2000 mendapatkan keuntungan yang berlipat dibandingkan dengan budgetnya yang rendah walaupun mendapatkan nilai yang tidak cukup bagus dari para kritikus. Film keduanya berjudul The Chronicle Of Riddick dirilis pada tahun 2004 dengan budget yang lebih besar tapi malah mendapatkan apresiasi yang kurang bagus, baik dari penonton maupun dari para kritikus. Untungnya pemeran tokoh utama sudah terlanjur jatuh hati dengan tokoh yang diperankannya di film ini sehingga walaupun sudah berselang tiga belas tahun dari film pertamanya, Vin Diesel dengan senang hati melanjutkan kisah ini. Bahkan hanya di film ini Vin diesel mau berperan sebagai tokoh utama yang merupakan seorang villain.

Riddick masih menceritakan kisah Richard B. Riddick (Vin Diesel), buronan di seluruh galaksi yang memiliki bola mata berwarna perak, sadis dan sangat pintar melarikan diri. Kali ini Riddick yang sudah menjadi pemimpin para Necromongers di Planet U. V. merasa dirinya berubah menjadi makin lemah. Dia ingin kembali ke Planet Furya, kampung halamannya. Mengetahui bahwa Commander Vaako (Karl Urban) adalah satu-satunya orang yang mengetahui letak Planet Furya, Riddick berjanji akan menyerahkan kepemimpinannya kepada Vaako asalkan Vaako mau memberitahu keberadaan Planet Furya. Vaako yang memang sangat ingin menjadi pemimpin Necromongers langsung menyetujuinya dan mengirim beberapa orang pengawal untuk menemani Riddick. Tapi ternyata Vaako berbohong. Dia mengirim Riddick ke planet yang salah dan memerintahkan para pengawal untuk membunuh Riddick begitu mereka tiba di sana. Walaupun pada akhirnya Riddick bisa menyelamatkan diri, dia mengalami luka yang cukup serius dan kaki yang patah.

Setelah berhasil menyelamatkan diri dan secara tidak sengaja memiliki seekor peliharaan, Riddick baru menyadari bahwa akan datang sebuah badai dahsyat yang akan membuat makhluk-makhluk aneh penghuni planet itu keluar dari sarang dan memburunya. Untungnya Riddick menemukan sebuah markas pembunuh bayaran yang tidak berpenghuni. Sadar bahwa satu-satunya cara agar bisa selamat adalah pergi dari planet itu, Riddick memutuskan untuk memberitahu kepada seluruh pembunuh bayaran yang mengincarnya tempat di mana dia bersembunyi. Cara ini ternyata berhasil. Tak lama setelahnya, dua pesawat pembunuh bayaran datang.

Pesawat pertama dipimpin oleh Santana (Jordi Molla), seorang pembunuh bayaran yang kejam dan urakan yang membawa beberapa anak buahnya. Sedangkan pesawat kedua adalah milik tentara bayaran yang dipimpin oleh Boss Johns (Matt Nable) yang memiliki perlengkapan lebih canggih dan lebih sedikit anak buah. Berbeda dengan Santana yang ingin menangkap Riddick untuk memenggalnya dan meletakkan kepala Riddick ke dalam kotak, Johns ingin menangkap Riddick hidup-hidup karena ingin menginterogasinya. Walaupun awalnya kedua group ini saling bertentangan, tapi akhirnya mereka setuju bekerja sama untuk menghadapi Riddick yang kejam dan bergerak sangat cepat.

Dengan menghabiskan budget yang tidak terlalu besar, hanya $38 million saja, film ini bisa dibilang luar biasa. Para aliennya sangat meyakinkan dan acting para tokohnya yang tidak terlalu banyak pun cukup bagus, walaupun tentu saja sang tokoh utama sangat berperan besar dalam cerita ini. Tapi Vin Diesel memang sangat pas memerankan karakter Riddick yang lincah, dingin, tegas tapi juga nyeleneh dan sensitive. Setting lokasinya juga keren sekali. Tempo alurnya cepat, twistnya bagus dan adegan laganya cukup membangkitkan adrenalin. Temanya cukup sederhana tapi dikemas dengan baik sehingga tidak membosankan.

Jika membandingkan film ini dengan kedua film sebelumnya, sebenarnya formula yang digunakan pada film ketiga ini sangat mirip. Bahkan beberapa tokoh yang muncul, seperti tokoh yang suka berdoa, makhluk planet yang keluar dalam waktu yang bersamaan dan bahkan misi untuk mengambil komponen utama yang akan membawa mereka pergi dari planet itu sangat mirip dengan formula yang digunakan di film pertamanya. Tapi dengan tempo yang cepat, aksi yang apik dan tokoh utama yang iconic, rasanya semua itu bisa dimaafkan. Vin Diesel membuktikan bahwa dengan cinta yang besar dia berhasil menyulap film berbudget rendah menjadi sebuah film science action fiction yang bagus. Para penonton setia seri ini bisa seolah bernostalgia dengan kisah ini, sedangkan para penonton baru pun bisa sangat menikmati kisahnya yang ringan tapi menegangkan.


Empat dari lima bintang untuk film ini. No doubt!



THE MORTAL INSTRUMENT: CITY OF BONES

Here’s another adventure fantasy film based on novel.

The Mortal Instrument: City Of Bones berkisah mengenai seorang gadis muda bernama Clary Fray (Lily Collins) yang tinggal di New York bersama ibunya Jocelyn Fray (Lena Headey). Ibunya adalah seorang pelukis dan Clary pun mempunyai keterampilan yang sama. Saat sedang pergi bersama sahabatnya: Simon Lewis (Robert Sheehan), tanpa disengaja Clary melihat seorang laki-laki yang dibunuh oleh sekelompok anak muda bertato. Saat Clary menceritakan apa yang dilihatnya kepada Simon, ternyata hanya Clary yang bisa melihat pembunuhan tersebut. Salah satu anak muda dalam kelompok itu yang bernama Jace Wayland (Jamie Campbell) mendatanginya dan mengaku sebagai seorang Shadowhunter. Dia bertanya bagaimana Clary bisa melihat mereka sementara orang lain tidak bisa. Tapi Clary tidak bisa menjawabnya, sama seperti dia tidak bisa menjawab symbol apa yang sering dilihatnya dalam beberapa hari belakangan ini.

Sementara itu, sang ibu yang sedang berada di dalam apartemen sendirian diculik oleh dua orang anak buah Valentine (Jonathan Rhys Meyers), seorang ex-Shadowhunter yang berkhianat. Mereka mengacak-acak seluruh apartemen dan meninggalkan seekor monster anjing mengerikan yang hampir saja membunuh Clary. Untungnya, Jace datang membantu. Setelah berhasil mengalahkan sang monster anjing, dia menemani Clary mendatangi tetangga mereka Madame Dorothea (C. C. H. Pounder) yang ternyata adalah seorang penyihir. Menurut Madame Dorothea, ibu Clary adalah seorang Shadowhunter dan Valentine mengirim anak buahnya untuk mencari sebuah Mortal Cup, salah satu dari tiga instrument yang diberikan Angel Raziel kepada manusia agar bisa menjadi manusia setengah malaikat dan membantunya memusnahkan demons yang berkeliaran di bumi. Valentine meyakini bahwa Mortal Cup tersebut disembunyikan ibunya. Madame Dorothea tidak tahu ke mana anak buah Valentine membawa ibunya hingga akhirnya dengan bantuan Simon yang sudah bisa melihat Jace, mereka bertiga pergi menemui teman dekat ibunya: Luke Garroway (Aidan Turner) untuk mencari tahu apakah Luke tahu di mana Jocelyn berada. Saat tiba, Clary malah mengetahui bahwa Luke sebenarnya juga mengincar Mortal Cup.

Dalam keadaan bingung dan tidak tahu lagi harus mencari sang ibu ke mana, Jace mengajak Clary dan Simon ke Institute, tempat berkumpulnya para Shadowhunter yang tersisa. Di sana, Clary bertemu dengan dua bersaudara Alec Lightwood (Kevin Zegers) dan Isabelle Lightwood (Jemima West) dan pemimpin mereka Hodge Starkweather (Jared Harris). Di sana, Clary juga mengetahui bahwa selama ini sang ibu berusaha menyembunyikan kenyataan bahwa Clary adalah keturunan Shadowhunter dengan cara memblokir pikiran Clary dengan bantuan seorang Sorcerer bernama Magnus Bane (Godfrey Gao). Tapi jika Clary ingin menemukan dan menyelamatkan sang ibu, dia harus bisa mengingat segala hal yang selama ini telah terpaksa dia lupakan. Karena itu Clary, Simon dan ketiga Shadowhunter lain datang menemui Magnus untuk memintanya mengembalikan ingatan Clary.

Tapi serangkaian kejadian lain kembali menghampiri Clary dan teman-temannya. Dimulai dengan Simon yang diculik oleh sekelompok vampire, pertemuannya dengan sekelompok Warewolf, kisah romantic Clary, pengakuan Simon, hingga terungkapnya pengkhianatan lain dan kenyataan yang ternyata jauh lebih pahit dari pada yang pernah dibayangkan Clary sebelumnya. Semua itu mengubah dunia Clary yang tadinya biasa saja menjadi jungkir balik.

Film ini diadaptasi dari novel fantasy dengan judul yang sama karangan Cassandra Clare, seorang penulis Amerika. Saat diterbitkan pada 2007, buku pertama dari enam buku seri The Mortal Instrument di mana seri keenamnya baru akan dirilis pada 2014 nanti ini telah memenangkan begitu banyak penghargaan di seluruh Amerika. Cassandra Clare juga terkenal dengan buku The Infernal Devices Trilogy, The Dark Artifices Trilogy dan juga menulis Fan Fiction mengenai tokoh-tokoh Harry Potter.

Bisa dibilang, The Mortal Instrument: City Of Bones ini merupakan salah satu film fantasy adaptasi novel yang sangat ditunggu-tunggu kehadirannya, terutama oleh para penggemarnya. Dan sepertinya sang sutradara: Harald Zwart yang cukup berhasil menggarap Karate Kid pada 2010 dan The Pink Panther 2 pada 2009, tahu benar akan hal ini. Buktinya sang sutradara tidak segan-segan menggunakan para actor dan actress yang sudah cukup berpengalaman. Seperti Lily Collins, putri penyanyi terkenal Phil Collins yang mulai naik daun sejak memerankan tokoh love interest Taylor Lautner dalam Abduction (2011) dan juga peran menawannya bersama Julia Robert di Mirror Mirror (2012). Selain itu juga ada Jamie Campbell Bower yang tampil di layar bioskop lewat film-film seperti Sweeney Todd: The Demon Barber od Fleet Street (2007) bersama Johny Deep, The Twilight Saga sebagai salah satu vampire di klan Volturi dan bahkan dalam Harry Potter and the Deathly Hollows – part 1 (2010). Robert Sheehan yang berperan sebagai Simon juga sudah lama berada di industry perfilman dan televisi, seperti juga Kevin Zegers yang terkenal sebagai Josh Framm di seri Air Bud. Juga ada Lena Headey yang terkenal dengan perannya sebagai istri Leonidas di 300 (2007) dan bahkan ada Jonathan Rhys Meyers, sang playboy yang bermain apik di Mission Imposible III (2006) dan bersama John Travolta dalam From Paris With Love (2010).

Tapi… entah kenapa, menurut saya film ini agak terlalu… padat. Dengan tema yang sangat menarik, kisah ini mencoba menawarkan sebuah universe baru yang penuh intrik, rahasia dan kisah cinta. Tapi, ada terlalu banyak element di dalam film ini. Dengan durasi 130 menit dan semua element tersebut, film ini terasa terlalu ‘penuh’. Kombinasi ini membuat para penonton tidak bisa menikmati element-element penting sehingga adegan yang seharusnya bisa meninggalkan kesan mendalam di dalam hati akan langsung menguap dari ingatan penonton begitu scene berikutnya dimulai. Belum lagi ada beberapa setting yang sama digunakan beberapa kali sehingga alurnya terkesan meloncat-loncat. Tokoh yang dihadirkan pun terlalu banyak dan tidak ada cukup waktu bagi para penonton untuk mengenal para tokohnya lebih jauh lagi. Alhasil, film ini terasa ‘tidak utuh’. Dan sebagai film pertama dari enam seri, saya berharap akan mendapatkan penjelasan di awal film mengenai universe baru yang ditawarkan di sini, entah itu penjelasan mengenai terciptanya Shadowhunter atau bagaimana para demons bisa berkeliaran di bumi. Sayangnya, saya tidak mendapatkan penjelasan ini sehingga sejak awal saya harus mencoba menebak-nebak sendiri.


Mungkin para penggemar buku ini tidak akan sependapat dengan saya, tapi saya belum membaca buku ini sama sekali dan sebagai penonton yang ‘buta’ dan, jujur aja nih, yang selalu tertarik mengenai dunia fantasy, saya cukup penasaran untuk mengetahui kelanjutan film ini. So, sorry for being a little objective at this point, tapi saya akan memberikan tiga dari lima bintang untuk film ini dengan harapan film keduanya akan diproduksi sehingga saya bisa membuktikan kembali apakah film ini benar-benar bagus atau tidak. (^_^)

PERCY JACKSON: SEA OF MONSTERS

Percy Jackson and The Olympians adalah serial novel fantasy-adventure buah karya penulis Amerika Serikat kelahiran Texas bernama Rick Riordan. Buku pertama dari lima buku dalam serial ini yang berjudul Percy Jackson and The Olympians: The Lightning Thief telah difilmkan oleh sutradara Chris Colombus pada tahun 2010 yang lalu. Tahun ini, buku keduanya yang berjudul Percy Jackson: The Sea of Monsters kembali mendapatkan kesempatan untuk difilmkan oleh sutradara asal Jerman bernama Thor Freudenthal yang telah lebih dulu berpengalaman menggarap film berdasarkan novel melalui Diary of a Wimpy Kid pada 2010.

Sesuai dengan judul yang disandangnya, Percy Jackson: Sea of Monsters ini bercerita mengenai petualangan seorang anak laki-laki bernama Percy Jackson (Logan Lerman) yang memiliki darah campuran (yang disebut dengan Demigod) dari manusia biasa dan seorang dewa. Ayahnya adalah Poseidon, salah satu dari tiga putra Titan terkenal di Mitologi Yunani: Kronos yang terkenal dengan kekuatan dan kekejamannya memangsa anak kandungnya sendiri agar bisa menjadi penguasa dunia. Sementara dua saudara kandung Poseidon yang lain: Zeus dan Hades tidak mempunyai keturunan yang selamat, maka Percy adalah satu-satunya keturunan Kronos yang ada dan tinggal di Camp Half-Blood, tempat di mana semua anak-anak Demigod lain tinggal, belajar dan berlindung. Percy ditemani oleh dua orang sahabatnya yaitu Grover Underwood (Brandon T. Jackson) yang adalah seorang Satyr dan Annabeth Chase (Alexandra Daddario), putri dari dewi Athena.

Kisah mereka kali ini dimulai dengan kisah yang terkenal di Camp Half-Blood mengenai ‘shield’ yang melindungi camp selama ini. Beberapa puluh tahun yang lalu saat Annabeth kecil pertama kali datang ke camp bersama ketiga Demigod lainnya yaitu: Luke Castellan (Jake Abel), putra dewa Hermes, Clarisse La Rue (Leven Rambin), putri dewa perang Ares dan Thalia Grace (Paloma Kwiatkowski), putri dewa Zeus; mereka mendapat serangan dari beberapa orang Cyclops. Dengan berani, Thalia mengorbankan diri untuk menyelamatkan teman-temannya yang akhirnya membuatnya meninggal dunia. Untuk mengenang kepahlawanannya, sang ayah menumbuhkan sebuah pohon di atas tubuhnya dan melingkupi seluruh camp dengan ‘shield’ raksasa.

Suatu hari ‘shield’ tersebut rusak dan camp Half-Blood pun diserang. Setelah berhasil memusnahkan sang monster yang menyerang dengan bantuan teman-temannya serta Clarisse yang merupakan saingannya, Percy bertemu dengan Luke. Salah satu Demigod yang telah menyebabkan kekacauan di film pertama itu mengaku telah meracuni pohon pelindung. Semua itu dia lakukan semata-mata karena ingin menghancurkan camp dan membangkitkan kembali Kronos yang terkurung di dalam sebuah peti. Dengan rusaknya ‘shield’ yang selama ini melindungi camp dan niat jahat Luke serta kenyataan bahwa wakil ketua camp sekaligus mentor Percy: Chiron (Anthony Head) kesulitan mencari penawar racun tersebut, keselamatan semua Demigod pun terancam.

Annabeth mengusulkan kepada ketua camp: Dionysus (Stanley Tucci) untuk mencari sebuah Golden Fleece yang dapat menyembuhkan semua luka dan penyakit untuk menyembuhkan pohon tersebut. Awalnya Dionysus tidak menyetujui ide tersebut tapi akhirnya sang ketua malah mengirim Clarisse untuk mencari Golden Fleece tersebut ke sebuah pulau bernama Circeland. Sementara itu, Percy yang mendapat sebuah ramalan mengenai salah satu Demigod keturunan manusia dari keturunan Zeus, Poseidon dan Hades yang harus berhadapan dengan Luke dan dapat menyelamatkan atau menghancurkan  Olympus. Ramalan ini jelas ditujukan kepada Percy karena tidak ada lagi keturunan dari tiga dewa Utama tersebut yang masih hidup kecuali dia. Sehingga akhirnya dengan tekad kuat untuk membuktikan diri dan menyelamatkan teman-temannya, Percy bersama Annabeth, Grover dan saudara laki-laki yang baru ditemuinya bernama Tyson (Douglas Smith) yang merupakan seorang Cyclops, memutuskan untuk melakukan petualangan mereka sendiri.

Pencarian tersebut tidaklah mudah. Mereka tidak hanya harus menghadapi seorang Cyclops bernama Polyphemus (Robert Maillet) yang menjaga Golden Fleece tersebut tapi juga melewati seekor monster laut. Mereka berempat juga bertemu dengan tiga orang Graeae, penyihir abu-abu yang tidak memiliki mata yang menghantarkan mereka untuk bertemu dengan dewa Hermes (Nathan Fillion), ayah Luke, dan juga petualangan lainnya. Perjalanan yang akan mereka hadapi sepertinya benar-benar menarik.
Petualangannya cukup menegangkan, dengan unsur persahabatan yang kental ditambah bumbu dari mitologi Yunani yang menarik. Tema yang disajikan begitu sederhana dan mudah dimengerti. Para tokohnya pun begitu mudah untuk dicintai atau pun dibenci sesuai dengan tokoh antagonis atau protagonist yang mereka perankan. Bumbu humornya juga cukup menghibur dan animasinya tidak perlu diragukan lagi.
Tapi, apakah itu saja sudah cukup? Well, menurut saya belum.

Jika kalian adalah penggemar kisah fantasi yang sama sekali tidak kenal dan tidak tahu tentang petualangan penyihir favorit semua orang sepanjang masa: Harry Potter, kalian pasti akan menyukai kisah Percy Jackson, si anak manusia setengah dewa ini. Tapi, siapa yang tidak tahu mengenai Harry Potter? Dengan sepuluh tahun masa kejayaannya, kecil kemungkinan ada satu orang saja yang tidak mengenalnya. Dan dengan taring yang telah berhasil ditancapkan dengan sangat dalam oleh sang author: J.K. Rowling, maka perlu usaha ekstra keras untuk bisa mengangkat kisah Percy Jackson keluar dari akar Harry Potter di dalam benak setiap penonton. Bagaimana tidak? Formasi tiga orang tokoh utama, satu perempuan dan dua anak laki-laki, yang bersahabat saja sudah sangat mirip dengan persahabatan antara Harry Potter, Ron Weasley dan Hermione Granger. Juga unsur ramalan dan bahkan taksi yang ditumpangi Percy dan teman-temannya yang sangat mirip dengan Knight Bus yang ditumpangi Harry Potter di film Harry Potter and the Prisoner Of Azkaban.

Saya juga tidak bisa merasakan klimaks cerita dengan memuaskan sehingga terkesan ‘hambar’ dan terlalu sederhana. Bahkan mungkin para penonton dewasa bisa saja merasakan jika film ini terlalu mudah ditebak dan ke kanak-kanakkan walaupun tidak bisa dipungkiri bahwa tema sederhana ini cukup cocok untuk anak-anak dan remaja. Peranan Sea of Monster yang saya kira akan menjadi setting utama petualangan, mengingat namanyalah yang dipakai sebagai judul, ternyata tidak sebesar yang saya kira. Ini mengecewakan dan sedikit membingungkan untuk saya. Dan bagaimana seorang dewa Kronos yang dalam legendanya baru bisa dikalahkan oleh tiga orang dewa sebesar dewa Zeus, Poseidon dan Hades sekarang bisa dikalahkan hanya oleh seorang Demigod muda seperti Percy? Wow, anak ini sepertinya benar-benar perkasa, ya?


But, yeah, saya yakin tidak semua orang sependapat dengan saya kali ini. Apa lagi dengan banyaknya para penggemar setia dari buku dan film ini. Bahkan sepertinya para penggemar Percy Jackson menyukai hasil penyutradaraan Thor Freudenthal kali ini karena terbukti dalam waktu kurang dari dua puluh hari penayangannya di seluruh dunia, film yang menghabiskan budget sebesar $ 90 juta ini telah menghasilkan $ 110 juta (berdasarkan Wikipedia pada tanggal 26 Agustus 2013). Untuk saya, film ini berhak mendapatkan tiga dari lima bintang untuk kemampuannya menghibur dan unsur mitologi Yunani yang menarik di dalamnya.