LONE RANGER

Alkisah, seorang pengacara muda bernama John Reid (Armie Hammer) pulang ke kampung halamannya untuk bertemu keluarga sang kakak: Dan Reid (James Badge Dale) yang mengikuti jejak ayah mereka dengan menjadi seorang Ranger. Di tengah perjalanan kereta api yang dinaikinya dibajak oleh segerombolan penjahat yang ingin membebaskan seorang tawanan bernama Butch Cavendish (William Fichtner) yang dibawa dalam kereta yang sama. Dengan niat menegakkan keadilan, John berusaha menggagalkan rencana jahat mereka yang secara tidak sengaja malah membuatnya bertemu dengan Tonto (Johnny Depp), seorang tawanan Indian yang juga dibawa bersama Butch untuk dihukum mati. Karena John sama sekali tidak berpengalaman, Butch malah berhasil kabur bersama gerombolannya, meninggalkan Tonto yang tetap dibawa John ke penjara.

Saat menemui sang kakak yang sudah menikah dengan gadis yang diam-diam juga disukai oleh John: Rebecca (Ryth Wilson), John diangkat menjadi seorang Ranger juga dan melakukan misi pencarian sang buronan bersama kakaknya dan Collins (Leon Rippy) yang menjadi petunjuk jalan serta empat orang Ranger lainnya. Sayangnya di tengah jalan, Collins mengkhianati para Ranger dan membawa ketujuh Ranger ke dalam perangkap Butch. Mereka menghabisi para Ranger satu per satu, termasuk menembak John dan mencabut jantung Dan. Tonto yang berhasil kabur dari penjara (entah bagaimana caranya) menemukan mayat ketujuh Ranger tersebut. Tapi saat akan mengubur mereka, tiba-tiba seekot kuda putih yang akhirnya diberi nama Silver datang dan membangkitkan John dari kematian.

Di sisi lain, kota Colby Texas pada tahun 1869 baru saja memiliki jalur kereta baru yang dibangun oleh Latham Cole (Tom Wilkinson) yang jatuh hati para Rebecca dan mencoba mencuri hati Rebecca melalui anak laki-lakinya: Danny Reid (Bryant Prince). Untuk membangun jalur kereta api yang diinginkan Cole, dia dan para petinggi pemerintah lainnya harus melanggar kesepakatan antara penduduk Colby dan para suku Indian setempat. Mengetahui ketegangan ini, gerombolan Butch mengambil kesempatan untuk mengadu domba dengan menyamar sebagai anggota suku Indian saat mereka menyerang penduduk kota Colby. Hal ini tentu saja memicu pertengkaran yang meruncing sehingga akhirnya peperangan pun tidak bisa terhindarkan lagi.

Sementara itu, John yang sudah sembuh ingin untuk membalaskan dendam atas kematian sang kakak yang tragis itu. Dia berniat untuk mencari keberadaan Butch dan menegakkan keadilan. Sedangkan Tonto juga memiliki niat yang sama karena percaya bahwa Butch adalah Wendigo, yaitu sesosok iblis yang terkenal pada legenda penduduk Algonquian. Tonto percaya bahwa Wendigo inilah yang bertanggung jawab atas pembunuhan massal yang terjadi pada sukunya beberapa tahun yang lalu. Dengan tujuan yang sama tersebut akhirnya John dan Tonto pun bergabung bersama untuk mencari Butch dan meminta pertanggung jawabannya.

Yah, kurang lebih begitulah inti cerita film ini. Jika kalian yang sudah menonton film ini malah mengerutkan kening dengan bingung saat membaca review ini, saya akan sangat maklum sekali. Karena pada dasarnya film ini memang diceritakan dengan cukup membingungkan. Di awal cerita saja kita sudah dibuat bingung apakah sebenarnya sosok Tonto tua itu benar-benar nyata ataukah sang anak kecil yang diperankan oleh Mason Cook itu yang sebenarnya sudah ‘gila’. Tapi yang jelas film garapan sutradara Gore Verbinski yang sebelumnya sukses menghadirkan installment Pirates of the Caribbean ini memang unik.

Tema ceritanya menarik, tapi plotnya terasa cukup membingungkan dan pada awalnya alurnya tidak terlalu menyenangkan untuk diikuti. Beberapa scene terkesan tidak masuk akal dan timeline-nya meloncat-loncat. Beberapa karakter tidak tergali dengan cukup dalam sehingga terkesan datar, tapi untunglah para tokoh utama bisa dengan mudah ‘diterima’. Dan sebagai bumbu, tingkah polah Depp yang nyentrik dan celetukkannya yang khas berhasil membuat kita tertawa geli. Ini cukup ampuh untuk membuang sedikit kebosanan dan kerut bingung di kepala.

Lone Ranger sendiri diperkenalkan pada sebuah acara radio tahun 1933 oleh George W. Trendie dan Fran Striker yang akhirnya diadaptasi ke dalam acara televisi, komik dan juga film layar lebar. Kini setelah lebih dari tiga puluh dua tahun setelah film layar lebarnya rilis tahun 1981, Walt Disney Picture bekerja sama dengan Jerry Bruckheimer Films membawakan kisah Lone Ranger ini kembali ke layar lebar. Kisahnya sendiri pada dasarnya sama, tapi dalam film Lone Ranger kali ini, kisahnya diceritakan dari sudut pandang Tonto sehingga tokoh yang diperankan Johnny Depp tersebutlah yang terasa lebih dominan. Yah, mungkin memang hanya Depp saja yang bisa berhasil membawa sebuah peran sidekick menjadi main character dalam sebuah film.

Tiga dari lima bintang rasanya cukup saya berikan untuk film ini. Jika kalian termasuk salah satu penggemar film-film lawasnya dan sangat ingin mendengar lagi soundtrack Lone Ranger yang cukup terkenal itu, silahkan tonton film ini dan nikmati petualangan mereka, seperti saya. Ingat, tidak perlu mempertanyakan segala hal, lebih baik duduk nyaman di kursimu dan nikmati saja… :)

DESPICABLE ME 2

Berbeda dengan film pertamanya, dalam Despicable Me 2 ini Felonious Gru (Steve Carell) tidak lagi bertingkah jahat untuk mencuri bulan. Gru disibukkan dengan tugas mengurus anak-anaknya: si bungsu Agnes (Elsie Fisher), si tomboy Edith (Dana Gaier) dan si sulung Margo (Miranda Cosgrove). Seiring dengan beranjak dewasa ketiga anak angkatnya itu, Gru harus menerima kenyataan saat Margo mulai tertarik dengan lawan jenisnya dan Agnes mendambakan sosok seorang ibu dalam keluarga kecil mereka sehingga peran Gru sebagai ayah mulai menjadi sedikit rumit. Gru yang sudah pensiun sebagai penjahat memutuskan untuk memulai usaha membuat selai dan jeli bersama partnernya: Dr. Nefario (Russell Brand). Tapi sifat petualangan mereka tidak bisa dibendung begitu saja. Dr. Nefario yang tidak bisa bertahan dalam situasi yang membosankan tersebut akhirnya mengundurkan diri sebagai ahli senjata Gru untuk menerima pekerjaan lain yang dianggapnya lebih menantang dan lebih menarik.

Suatu ketika seorang gadis bernama Lucy Wilde (Kristen Wiig) datang menemui Gru dan mengaku sebagai salah satu agen AVL alias Anti Villian League. Dia dikirim oleh ketua AVL, Silas Ramsbottom (Steve Coogan) untuk meminta bantuan Gru menyelidiki kasus hilangnya serum PX-41 dari laboratorium mereka. Serum tersebut merupakan senjata mematikan yang bisa mengubah orang yang menggunakannya menjadi mesin pembunuh berdarah dingin. Menurut penyelidikan lebih lanjut, jejak serum tersebut terakhir kali terlacak di dalam Paradise Shopping Mall. Nah, di sinilah peran Gru. Dengan bantuan Lucy, dia harus menyamar sebagai pemilik toko kue untuk menemukan siapa di antara pemilik toko lain di mall yang menyembunyikan serum tersebut.

Mereka bertemu dengan Eduardo Perez (Benjamin Bratt), pemilik restoran Mexico yang diyakini Gru sebagai El Macho, seorang super-villian yang dikabarkan meninggal karena melemparkan diri ke dalam gunung berapi aktif bersama seekor hiu dan sekumpulan TNT. Dengan menggunakan instingnya sebagai ‘mantan penjahat’, Gru meyakini bahwa Eduardo memang adalah El Macho dan dialah yang telah mencuri dan berniat menggunakan serum tersebut untuk tujuan tertentu. Tapi Gru tidak bisa membuktikannya sehingga Lucy dan Silas Ramsbottom tidak bisa mempercayainya. Lagi pula, Gru tidak bisa menyingkirkan ketidaksukaannya terhadap anak laki-laki Eduardo: Antonio Perez (Moisés Arias) yang mendekati Margo.

Sementara itu, tanpa Gru sadari, beberapa minion yang dimilikinya diculik oleh sang penjahat untuk disuntik serum PX-41 itu sehingga berubah menjadi evil-minion yang ganas dan akan menghancurkan apa saja yang ada dihadapannya. Apakah benar Eduardo adalah El Macho yang mendalami semua kejahatan ini? Dan bagaimana jika akhirnya Gru malah jatuh cinta kepada Lucy?

Tanpa diduga sebelumnya, film pertamanya: Despicable Me yang dirilis pada 2010 lalu disambut positif bukan hanya oleh para kritikus film tapi juga oleh para penonton. Akhirnya pada musim panas tahun ini film keduanya pun dirilis dengan harapan dapat menyaingi popularitas film debut tersebut. Dan ternyata doa itu pun terkabul. Dengan budget $ 76 juta saja, film ini sudah berhasil meraih hampir $ 300 juta dalam waktu kurang dari satu minggu saja (berdasarkan data dari Wikipedia pada tanggal 9 Juli 2013).

Seperti film animasi yang menargetkan penonton dari kalangan anak-anak dan remaja pada umumnya, tema yang diangkat pada film ini cukup sederhana. Tokoh yang dihadirkan pun jumlahnya tidak terlalu banyak tapi cukup berkarakter dan dapat dengan mudah diingat oleh para penonton. Dengan alurnya yang cukup cepat dan didukung dengan humor menggelitik dan aksi-aksi yang kocak, film yang sepenuhnya dibuat di Perancis ini terasa segar untuk ditonton dan sangat mudah dinikmati tanpa perlu repot-repot ‘berpikir’.

Salah satu hal pendukung yang sangat menyegarkan tentu saja kehadiran para minion di dalam film ini. Dengan tubuh kecil berwarna kuning, wajah polos dan tingkah yang lucu, para minion ini memang sangat mencuri perhatian. Pada film pertama mereka hanya hadir sebagai ‘pemanis’ saja, tapi perlahan dan pasti kehadiran mereka mulai menguasai hati para penonton. Sepertinya kedua sutradara: Chris Renaud dan Pierre Coffin pun sangat menyadari hal tersebut. Karena itulah kedua sutradara yang juga menjadi pengisi suara untuk lebih dari 800 minion ini memberikan porsi yang lebih besar bagi para minion dalam film keduanya ini. Dan formula ini pun terbukti ampuh karena para penonton dari semua kalangan, baik yang sudah pernah menonton film pertamanya atau pun belum, bisa terpingkal-pingkal menyaksikan aksi Kevin, Bob, Stuart dan para minion lainnya. Eh, kabarnya kedua sutradara sedang menggarap film spin-off yang akan menampilkan kisah para minion sebelum bertemu dengan Gru, loh. Wah, kalau sudah begini, kedudukan para Penguin dari Madagaskar atau bahkan Scratch dari Ice Age bisa sangat terancam!

Oh iya, ada sedikit intermezzo lagi, nih. Kabarnya sang sutradara: Pierre Coffin memiliki darah Indonesia. Tepatnya, sutradara bernama lengkap Pierre-Louis Padang Coffin ini adalah anak dari seorang penulis terkenal Indonesia: NH. Dini dengan seorang diplomat bernama Yves Coffin. Nah, dengan deretan nama orang-orang terkenal di dunia yang memiliki darah Indonesia seperti ini, kita sebagai warga Negara Indonesia asli seharusnya tidak lagi malu untuk berkarya lebih giat dan mengharumkan nama bangsa, bukan?


Anyway, saya memberikan empat dari lima bintang untuk film animasi ini. Bukan hanya karena kehadiran para minion yang sangat mengocok perut di sepanjang film,tapi juga karena ending cerita yang sangat-amat-sungguh lucu. Saya tidak akan membocorkan ending filmnya di sini, tapi jika kalian baru akan menonton film ini, silahkan tertawa terpingkal-pingkal melihat endingnya, ya…. :D

WORLD WAR Z

Apa yang ada di pikiran anda jika saya menyebutkan kata: ‘zombi’? Mengerikan? Gemar memangsa manusia? Berjalan dengan super lamban sambil tertatih-tatih dengan mata melotot dan gigi hitam menyeringai? Memang sebagian zombie yang kita tahu memiliki karakteristik seperti itu, tapi zombie yang ditampilkan dalam film yang dibintangi oleh actor senior Brad Pitt ini memiliki sedikit perbedaan dengan zombie pada umumnya.

Sebelumnya, saya akan menjelaskan synopsis film ini dulu, yah.

Intinya film ini bercerita mengenai kisah seorang mantan investigator PBB bernama Gerry Lane (Brad Pitt) yang berusaha untuk menyelamatkan diri dari wabah zombie yang tiba-tiba menyerang sebagian besar penduduk di dunia. Awalnya, Gerry dan istrinya: Karin Lane (Mirelle Enos) beserta kedua putrinya: Rachel Lane (Abigail Gargrove) dan Constance Lane (Sterling Jerins) sedang melakukan rutinitas pagi mereka seperti biasa. Tapi saat sedang menghadapi kemacetan kota Philadelphia, tiba-tiba sekelompok orang yang terinfeksi virus zombie menyerang seisi kota dan mengubah setiap korban yang digigitnya menjadi zombie hanya dalam waktu dua belas detik saja. Seluruh penduduk kota pun menjadi panic sehingga menyulut berbagai kekacauan, kecelakaan, pembunuhan dan penjarahan di mana-mana.

Dalam upaya menyelamatkan diri, Gerry membawa seluruh keluarganya ke sebuah apartemen di mana sahabat sekaligus Sekertaris Jenderal Deputy PBB: Thierry (Fana Mokoena) akan mengirimkan sebuah helicopter ke atas gedung untuk menjemput mereka. Tapi usaha Gerry dan keluarganya untuk sampai ke atas gedung tidak bisa dilaksanakan dengan mudah. Hanya dalam waktu beberapa menit saja seluruh kota sudah terinfeksi virus zombie dan setiap manusia yang belum terinfeksi pun diburu, termasuk para penghuni apartemen yang mereka naiki. Untungnya keluarga Gerry diselamatkan oleh sebuah keluarga. Walau pada akhirnya keluarga tersebut tewas karena diserang juga, tapi anak laki-laki mereka: Tommy (Fabrizio Zacharee Guldoas) berhasil melarikan diri dan bergabung dengan keluarga Lane.

Mereka dan penduduk lain yang berhasil diselamatkan dibawa ke kapal U.S. Navy di lepas pantai New York City di mana di dalam kapal tersebut juga berkumpul berbagai pihak militer yang sedang berusaha mencari tahu dari mana wabah tersebut berasal dan bagaimana menanganinya. Seorang dan satu-satunya ahli virus yang selamat: Dr. Fassbach (Elyes Gabel) menyatakan bahwa mereka harus bisa menemukan di mana virus tersebut menyebar pertama kalinya sehingga mereka bisa menemukan bagaimana cara mengatasinya. Dikarenakan Gerry adalah satu-satunya mantan investigator PBB yang cukup berpengalaman dan dengan sedikit ancaman, maka komandan U.S Navy pun memintanya untuk ikut beserta rombongan peneliti ke Korea Selatan, tempat di mana virus tersebut diduga ditemukan pertama kali.

Tapi ternyata usaha mereka tidak bisa berjalan dengan mulus. Berbagai kejadian yang sangat tidak terduga terjadi sepanjang perjalanan, mulai dari Dr. Fassbach yang tidak sengaja menembak dirinya sendiri, adegan petak umpet Gerry dengan para zombie, hingga hasil penyelidikan yang membawa Gerry terbang ke Jerusalem dan bertemu dengan seorang prajurit Israel wanita bernama Segen (Daniella Kertezs) yang akhirnya menemani Gerry hingga tiba di pusat penelitian WHO di Cardliff, Wales. Di sana mereka mendapat bantuan dari para peneliti untuk menemukan cara mengatasi para zombie.

Memang benar, inti cerita dalam film ini terasa klise. Bahkan, menurut saya, World War Z ini menggunakan tema yang sangat sederhana jika dibandingkan dengan film apocalypse atau pun post apocalypse lainnya. Plot dan settingnya terlalu melompat-lompat dan latar belakang cerita tidak terlalu dapat disampaikan dengan detail sehingga mungkin membingungkan untuk sebagian penonton. Karakteristik para tokohnya pun tidak tergali dengan cukup baik sehingga ikatan emosional antara tokoh dan penonton tidak bisa terjalin dengan kuat. Kecuali emosi penonton terhadap sang tokoh utama yang diperankan oleh Brad Pitt sendiri, sih. Dengan kamera yang (terlalu) intense menyorot Brad Pitt dan melupakan para tokoh lain yang tidak diperankan oleh actor dan actress yang cukup terkenal, saya rasa tidak heran jika sebagian penonton mengatakan bahwa film ini hanya ‘menjual’ Brad Pitt saja.

Untungnya, shocking scene film ini juara. Beberapa scene bahkan cukup membuat saya menjerit kaget atau membuat saya tidak bisa duduk diam menahan rasa gemas di kursi saya yang empuk. Actionnya juga cukup menegangkan, walaupun didominasi dengan adegan lari dan pengejaran. Dan animasinya juga patut diacungi jempol, terutama saat scene-scene yang menampilkan pergerakan massive para zombie yang bisa bergerak dengan sangat cepat, lincah dan agresif.

Oh iya, film ini dibuat berdasarkan novel berjudul sama karangan Max Brooks. Saya memang belum membaca novel tersebut, tapi berdasarkan synopsis yang saya baca, versi bukunya memang sangat berbeda dengan versi layar lebarnya. Dalam versi novel, kisah ini menceritakan mengenai penyelidikan dan berbagai wawancara yang dilakukan Gerry Lane terhadap para pihak terkait mengenai wabah zombie tersebut. Gaya penulisan sang author terasa begitu kental dengan unsure politik, pandangan social dan budaya dan cukup jauh dari unsure emosional sang tokoh utamanya.


Saya hanya bisa memberikan tiga setengah dari lima bintang untuk film ini. Saya memberi setengah bintang ekstra dari tiga bintang yang ingin saya berikan di awal review ini khusus untuk shocking scenenya yang berhasil membuat adrenalin saya mengalir dan membuang rasa bosan. Tapi jika mengingat usaha Brad Pitt dan rumah produksinya: Plan B untuk membuat film ini yang penuh dengan perjanjian, perubahan scenario, pergantian scriptwriter, jadwal shooting yang molor dan jadwal tayang yang juga mundur, saya rasa Marc Forster sebagai sutradara masih bisa disebut cukup berhasil. But, sorry to say, bagi saya pribadi menonton film ini seperti menonton film I’m A Legend dengan versi yang lebih baik. Tidak lebih.


MAN OF STEEL

Selama beberapa tahun belakangan ini Marvel sedang merajai pasar film dunia dengan keberhasilan para pahlawan super mereka seperti Iron Man, Thor, Captain America dan Hulk. Belum lagi semua pahlawan super itu akhirnya dipertemukan dalam satu film fenomenal: The Avenger yang berhasil menancapkan taring sebagai salah satu film paling sukses di tahun 2012 kemarin. Seolah tidak mau kalah dengan saingan abadinya, kini DC Comic menghadirkan salah satu pahlawan super mereka yang paling kuat, sekuat namanya: Superman. Dengan menggandeng Zack Snyder di bangku sutradara PLUS membawa nama besar Christopher Nolan sebagai produser, reboot Superman kali ini memang terdengar cukup menjanjikan bahkan sebelum film ini benar-benar release.

Cerita di mulai di planet Crypton yang sedang terancam dengan pemberontakan General Zod (Michael Shannon) yang haus kekuasaan. Zod berkeinginan untuk menguasai Cyrpton dan mengancam para Petinggi di Pemerintahan untuk tunduk dengan kuasanya. Tapi usahanya tidak bisa berjalan dengan lancar karena planet Crypton sudah lebih dulu mengalami gejala awal kehancuran dikarenakan sumber daya alamnya telah dikuras habis sehingga planet tersebut menjadi tidak stabil. Jor-El (Russell Crowe), seorang ilmuwan, telah memperingatkan kepada para Petinggi Pemerintah Crypton tentang kiamat yang akan melanda planet mereka dan menyarankan agar Pemerintah mulai melakukan evakuasi. Tapi Pemerintah tidak menggubrisnya sama sekali dan menganggap saran Jor-El adalah omong kosong. Jor-El yang merasa kecewa tidak putus asa begitu saja. Dengan bantuan sang istri, Lara Lor-Van (Ayelet Zurer), Jor-El yang juga diam-diam memiliki anak melalui proses kelahiran alami, tidak seperti sebagian besar anak di Crypton yang lahir dengan proses yang tidak alami, memutuskan untuk mengirim anak semata wayang mereka ke planet lain agar sang anak selamat. Sementara itu, Zod memutuskan untuk mencuri sebuah Codex yang sangat berharga tapi ternyata Codex tersebut telah lebih dulu diambil oleh Jor-El dan ‘menanamkan’ Codex tersebut ke dalam tubuh sang anak. Zod yang kesal akhirnya membunuh Jor-El dan atas kesalahan tersebut dia pun dibuang ke Phantom Zone oleh para Petinggi Crypton.

Terpilihlah bumi sebagai planet tujuan sang bayi yang diberi nama Kal-El (Henry Cavill). Di bumi Kal-El ditemukan oleh sepasang suami-istri Jonathan Kent (Kevin Costner) dan Martha Kent (Diane Lane) yang tidak memiliki anak dan akhirnya mengadopsinya dan memberinya nama: Clark. Clark kecil tumbuh sebagai anak yang aneh. Sebagai seorang anak dari luar angkasa, keadaan lingkungan di bumi membuat seluruh panca indranya menguat sehingga awalnya Clark sangat menderita. Keadaan ini membuatnya kondisi tubuhnya berbeda dari anak kebanyakan dan membuat Clark bingung sehingga akhirnya dikucilkan oleh teman-temannya. Tapi Jonathan Kent mendidik Clark dengan sangat baik dan ‘senormal mungkin’ dan meminta Clark untuk merahasiakan kekuatannya.

Saat Jonathan Kent meninggal dunia, Clark memutuskan untuk hidup nomaden dan bekerja serabutan dengan menggunakan nama samaran untuk mencari tahu asal usulnya. Dia sampai di Kutub Utara di mana ditemukan sebuah pesawat pengintai Kryptonian. Di sana dia bertemu dengan hologram sang ayah dan mendapatkan penjelasan mengenai siapa dirinya yang sebenarnya. Tapi secara tidak sengaja Clark juga bertemu dengan Lois Lane (Amy Adams), seorang Jurnalis pemenang Pulitzer Award yang bekerja untuk surat kabar Daily Planet dan datang ke tempat yang sama untuk menulis berita mengenai penemuan pesawat luar angkasa tersebut. Secara tidak sengaja Clark berhasil menyelamatkan nyawa Lois sebelum menghilang bersama pesawat tersebut.

Ternyata Lois tidak bisa melupakan pertemuannya dengan Clark begitu saja. Awalnya Lois menulis sebuah artikel mengenai seorang manusia dengan kekuatan luar biasa dan berniat mencetaknya di surat kabar, tapi sang editor: Perry White (Laurence Fishburne), menolak mentah-mentah artikel tersebut. Tapi Lois tidak putus asa. Masih dengan semangat yang sama, Lois memutuskan untuk menyelidiki siapa sebenarnya sang penyelamatnya dan akhirnya tiba di kota Smallville tempat rumah orang tua Clark Kent berada. Clark pun akhirnya menemui Lois dan menceritakan segala hal mengenai dirinya.

Sementara itu, Zod akhirnya menemukan planet di mana pesawat luar angkasa yang membawa Kal-El jatuh. Bersama anak buahnya, Zod mendatangi bumi dan meminta Kal-El menyerahkan diri. Tapi setelah sampai di bumi, tujuannya sedikit berubah. Dia akhirnya bukan saja ingin mencari Codex yang dicuri Jor-El sebelum planet Crypton hancur, tapi juga berkeinginan merubah bumi menjadi planet Crypton berikutnya dengan mengorbankan semua penghuni planet bumi. Clark yang sudah merasa menjadi bagian dari penduduk bumi tidak bisa membiarkan hal ini. Dengan bantuan Lois beserta tentara Amerika yang sebenarnya juga merasa terancam dengan keberadaan Clark Kent sebagai seorang manusia super, mereka berusaha sekuat tenaga untuk menggagalkan usaha jahat Zod tersebut.

Sebelum saya membahas mengenai film ini saya ingin mengajak kalian untuk melupakan sejenak segala hal yang sebelumnya kita tahu mengenai Superman. Jangan salah paham, saya bukannya ingin mengajak kalian untuk menilai secara lebih objectif (ini sebenarnya tugas saya, bukan kalian J), tapi karena film ini sendiri secara tidak langsung memberikan detail cerita yang sebelumnya tidak pernah kita tahu mengenai seorang Superman. Dan ini adalah langkah yang bagus, menurut saya, karena dengan semua detail ini bukan hanya para fans Superman saja yang akan terpuaskan pengetahuannya mengenai asal usul manusia super ini, tapi juga para penonton yang berasal dari generasi baru pun akan bisa menerima Superman sebagai seorang superhero secara ‘utuh’.

Kenapa saya sebut ‘utuh’? Sebenarnya ini adalah salah satu hal paling menarik dari film ini. Dengan sangat pintar dan dengan cara yang sangat menarik, Snyder dan Nolan me-reboot film ini benar-benar dari akarnya sehingga para penonton tidak hanya disajikan mengenai kisah sang manusia super ini tanpa latar belakang yang jelas seperti film-film Superman sebelumnya. Kali ini kita diperkenalkan kepada seorang alien yang terdampar di bumi dan diizinkan mengikuti petualangannya mencari jati diri dan berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan di bumi. Lihat perbedaannya? Menurut saya, perkembangan film berbanding lurus dengan perkembangan penontonnya. Pada zaman sekarang penonton mana yang masih akan tertarik jika diberikan sebuah film mengenai pahlawan super yang jatuh cinta dengan seorang wartawan dan tidak tahan dengan sebuah batu krypton? Ini bukan ‘dunia Harry Potter’ and that theme is so last year…

Jika kita berbicara mengenai cerita, saya sangat suka dengan plotnya di mana semua detail disajikan dengan lengkap. Alurnya pun cukup cepat. Walaupun dihiasi dengan beberapa adegan flashback, tapi porsinya terasa  pas dan tidak terlalu membingungkan. Karakter para tokohnya cukup kuat, dengan tidak menyajikan terlalu banyak tokoh sehingga setiap karakter dapat berperan dengan baik dalam memperkuat cerita. Adegan aksinya pun cukup menyenangkan dan mengundang adrenalin sehingga penonton akan dengan senang hati menyerukan ‘wow’ dan ‘ah’ berkali-kali dan tidak akan sudi beranjak dari tempat duduk mereka barang sejenak. Saya secara khusus begitu menyukai karakter tokoh Lois Lane, di mana kali ini sang wartawan pemenang Pulitzer Award ini tidak hanya berperan sebagai love interest Clark Kent saja tapi juga bisa memanfaatkan kepintarannya untuk menemukan siapa sebenarnya Clark Kent, sesuatu yang seharusnya memang cukup mudah dia lakukan. Dan film ini juga mengundang para penonton untuk merasakan dengan cukup intim bagaimana perjuangan Clark Kent untuk bisa menerima dirinya sendiri dan diterima oleh masyarakat. Benar, film Superman kali ini memang terasa sangat realistis, tidak lagi terlalu mengada-ada seperti sebelumnya sehingga terasa dekat dan lebih bisa diterima para penontonnya.

Saya memberikan empat dari lima bintang karena film ini memang terasa lengkap hampir pada segala aspek. Saya suka detail ceritanya, saya suka latar belakang tokohnya, saya suka plotnya yang penuh dan saya suka adegan aksinya yang konstan. Sebagai penggemar Superman atau pun tidak, film yang satu ini memang sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja. Dan untuk Marvel, berhati-hatilah, formula Snyder dan Nolan kali ini terbukti sukses. Jika mengingat nama besar Nolan beserta kebiasaan membuat film masterpiecenya dalam format Trilogy, maka kemungkinan besar Man Of Steel akan menghadirkan dua sequel lagi. DAN jika Nolan bersama siapa pun sutradaranya nanti berhasil mempertahankan atau bahkan meningkatkan kualitas mereka, maka Marvel mungkin saja akan berada dalam zona bahaya J.


Oh iya, saya menunggu dengan tidak sabar akan kehadiran sang ‘musuh bebuyutan’ Superman: Lex Luthor. Kapan tokoh iconic itu akan muncul dan apakah kemuculannya akan se-fenomenal seperti kemunculan The Joker dalam The Dark Knight? Kita tunggu saja… 

AFTER EARTH

Siapa yang tidak kenal dengan tema global warming, gempa bumi, gelombang tsunami dan bahkan serangan alien? Dalam beberapa tahun belakangan ini, isu mengenai usia bumi yang kian menua dan ketakutan akan kedatangan hari kiamat semakin sering digunakan di dunia perfilman Hollywood. Sejak bertahun-tahun yang lalu, film yang mengangkat tema ini semakin banyak dibuat, seperti Armagedon, The Day After Tomorrow dan masih banyak film lainnya. Bisa dibilang puncaknya terjadi pada saat film 2012 diputar di bioskop. Setelah kejadian ‘kiamat yang gagal’ tersebut, isu kiamat tersebut perlahan bergeser maknanya dan mulai digantikan oleh tema ‘setelah kiamat’ atau yang lebih sering kita kenal dengan sebutan ‘post apocalypse’.
Nah, tema inilah yang disandang oleh film terbaru yang dibintangi oleh pasangan ayah dan anak Will dan Jaden Smith. Film dengan genre science fiction adventure drama ini berjudul After Earth, yang disutradarai oleh M. Night Shyamalan, diproduseri oleh suami istri Will dan Jada Pinkett Smith via perusahaan mereka: Overbrook Entertainment, PLUS ide cerita yang dicetus oleh Will Smith sendiri. Benar, ada banyak nama Smith di paragraph ini. :D
After Earth mengambil setting pada seribu tahun setelah kiamat di mana penduduk bumi yang tersisa berhasil menemukan sebuah planet baru yang bisa mereka huni bernama Nova Prime. Film ini bercerita mengenai kisah seorang anak bernama Kitai Reige (Jaden Smith) yang dididik secara militer oleh sang ayah, Cypher Reige (Will Smith) yang merupakan Komandan Ranger Corps, organisasi penjaga keamanan di seluruh Nova Prime. Saat itu, Nova Prime sedang mengalami konflik dengan sejumlah alien bernama S’krell yang ingin menguasai Nova Prime. Makhluk luar angkasa itu menggunakan sebuah monster bernama Ursa yang mampu menemukan keberadaan manusia dengan hanya ‘mencium’ ketakutan mereka. Selama ini hanya Cypher satu-satunya orang yang dapat melawan Ursa dengan teknik ‘menghilangkan rasa takut’ sehingga Ursa tidak bisa mendeteksi keberadaannya. Teknik tersebut dinamakan ‘Ghosting’.
Sementara itu Kitai yang masih mengalami trauma mendalam karena kehilangan sang kakak: Senshi (Zoë Kravitz) yang dibunuh oleh Ursa di depan matanya sendiri berjuang sekuat tenaga untuk bisa diterima dalam satuan Ranger Corps seperti sang ayah. Tapi pada tes lapangan dia gagal. Melihat anaknya sedih dan kecewa, sang ibu: Faia (sophie Onokedo) meminta suaminya untuk mengajak Kitai ikut dalam salah satu misinya sebelum Cypher pensiun dengan tujuan agar kedua ayah dan anak ini dapat memiliki quality time bersama.
Tapi saat dalam perjalanan sebuah kecelakaan terjadi. Pesawat yang mereka tumpangi terjebak di dalam hujan asteroid sehingga mereka terdampar di sebuah planet. Nah, di sinilah petualangan mereka yang sebenarnya di mulai. Karena sang ayah mengalami patah kaki yang parah sehingga tidak bisa bergerak, sementara semua kru yang lain tewas, Kitai harus menjalani misi berbahaya sendirian untuk mencari ujung pesawat yang terbelah di mana sebuah alat pengirim sinyal untuk meminta bantuan berada. Dengan ancaman seekor Ursa yang berkeliaran bebas di sebuah planet yang dikategorikan sebagai planet berbahaya kelas satu: Bumi, tugasnya kali ini bisa membahayakan nyawanya.
Walaupun masuk dalam kategori science fiction movie, tapi kesan drama yang dimiiki film ini terasa sangat menonjol dari awal. Tema yang disandang cukup umum digunakan dan ceritanya pun tidak begitu kuat. Alurnya cukup lambat sehingga saya tidak akan heran jika ada segelintir penonton yang akan mulai gelisah karena bosan sejak awal. Actionnya tidak banyak, shocking scenenya sangat minim sehingga tidak cukup adrenalin yang bisa penonton hasilkan untuk membuat mereka bertahan tidak menutup mata karena mengantuk. Animasi? Menurut saya biasa saja. Karakter para tokoh? Anehnya, walaupun tokoh yang dimunculkan dalam film ini cukup sedikit, tapi karakter masing-masing tokohnya tidak cukup tergali. Mungkin sang creator ingin mempertahankan agar film ini tetap pada kategori PG, tapi menurut saya tema yang diangkat agak terlalu berat bagi anak-anak dan terlalu dangkal bagi orang dewasa. Sayang sekali.
Satu-satunya hal yang patut diacungi jempol adalah acting Jaden Smith yang semakin matang di film ini. tapi jika dibandingkan dengan nihilnya actor dan actress senior yang hadir di film ini selain sang ayah, Will Smith, juga karakter tokoh yang minimalis dan cerita yang standart, menurut saya semua actor pemula akan bisa menonjol dalam film seperti ini, tidak peduli siapa ayahnya. Saya hanya mendapat satu pesan yang sangat jelas ketika film ini berakhir, yaitu: Will Smith ingin mengabarkan kepada dunia bahwa Jaden Smith adalah penerusnya yang siap mengikuti jejaknya di dunia perfilman. That’s it.
Saya tidak mengatakan bahwa film ini jelek, tapi saya juga tidak bisa mengatakan bahwa film ini benar-benar bagus. Hanya saja, saya hanya berani memberikan dua setengah dari lima bintang untuk film ini tanpa bisa memberi alasan yang cukup kuat agar kalian juga menontonnya. Yah, semoga saja Shyamalan tidak kapok karena menghasilkan film yang ‘tidak cukup bagus’ berturut-turut dalam beberapa tahun belakangan ini.