NOW YOU SEE ME

Kali ini saya menonton sebuah Heist film yang juga termasuk golongan Caper film yang berjudul ‘Now You See Me’ yang disutradarai oleh Louis Leterrier. Sebelumnya sang sutradara asal Perancis ini lebih dulu sukses menyajikan film-film seperti The Transporter, Transporter 2, The Incredible Hulk hingga Clash Of The Titans.

Film ini bercerita mengenai—oke, tunggu sebentar. Sebelum saya menceritakan lebih rinci mengenai film ini, sepertinya saya harus menjelaskan lebih dulu apa yang dimaksud dengan Heist dan Caper film sebelum para pembaca yang sudah mengerutkan kening sedari tadi mulai lelah dan berhenti membaca review ini. Eit, tapi saya hanya akan menerangkan sedikit saja, yah. Detailnya akan saya bahas lebih rinci di kesempatan yang lain.

Heist film adalah jenis film yang menceritakan mengenai sekelompok orang yang melakukan pencurian besar, contohnya trilogy Ocean 11, 12 dan 13 atau Italian Job. Sedangkan Caper film adalah jenis film yang menceritakan mengenai dua atau lebih tindak kejahatan yang terjadi dalam satu film, termasuk penculikan, pencurian dan penipuan. Contoh film yang termasuk dalam genre Caper film adalah The Talking Of Pelham 123 dan juga Argo. Keduanya merupakan sub genre dari crime fiction film di mana Heist film merupakan sub genre yang lebih spesifik dari pada Caper film.

Oke, sekarang saya akan menceritakan mengenai filmya. Now You See Me menceritakan kisah mengenai empat orang pesulap jalanan yang bergabung bersama untuk membentuk satu group yang diberi nama The Four Horsemen. Keempat pesulap itu terdiri dari Daniel Atlas (Jesse Eisenberg) seorang pesulap yang ahli melakukan trik kartu; Merritt McKinney (Woody Harrelson) seorang mentalist ahli hipnotis dan membaca pikiran; Jack Wilder (Dave Franco) sang ahli kecepatan tangan; dan Henley Reeves (Isla Fisher) yang sangat ahli dalam melakukan trik meloloskan diri dengan cepat.

Mereka berempat melakukan aksi sulap dengan Arthur Tressler (Michael Caine) sebagai sponsornya. The Four Horsemen melakukan aksi sulap spektakuler yang berbeda dan tidak pernah dilakukan para pesulap lain pada umumnya. Mereka merampok sebuah bank di Paris lalu membobol tabungan pribadi milik Tressler dan membagi-bagikan uang itu kepada para penonton. Kejadian ini tentu saja membuat Tressler dan pihak kepolisian kewalahan. Mereka tidak bisa menangkap keempat pesulap tersebut karena tidak adanya barang bukti.
Tapi semua itu tidak membuat seorang anggota FBI bernama Dylan Rhodes (Mark Ruffalo) untuk menyerah menangani dan menuntaskan kasus tersebut. Dengan bantuan seorang petugas Interpol baru bernama Aima Vargas (Melanie Laurent), Rhodes yang sama sekali tidak percaya dengan sulap dan magic harus mempelajari sulap agar bisa menangkap The Four Horsemen. Mereka menyelidiki keempat pesulap hingga menemukan fakta bahwa tindakan mereka itu dilakukan sebagai syarat agar bisa bergabung dengan sebuah kelompok pesulap yang menyebut diri dengan sebutan ‘The Eye’.

Sementara itu seorang mantan pesulap bernama Thaddeus Bradley (Morgan Freeman) yang selama ini menghasilkan uang dengan membuka rahasia aksi para pesulap melalui acaranya, berkeinginan untuk mengungkap berbagai trik yang dilakukan The Four Horsemen. Mengetahui keinginan Thaddeus ini, Rhodes meminta bantuannya untuk bisa menangkap keempat pesulap itu saat pertunjukan final yang akan mereka lakukan di sebuah gedung di New Orleans.

Ternyata usaha mereka cukup sulit dan membingungkan. Thaddeus bahkan menyimpulkan bahwa terdapat anggota kelima dari The Four Horsemen yang membantu melakukan aksi mereka selama ini. Sekarang timbul pertanyaan baru: siapa orang kelima itu? Dan siapa sosok di balik ‘The Eye’ yang sebenarnya?

Cerita dalam film ini disajikan dengan cukup kuat dan setiap detail sengaja dihadirkan sedikit demi sedikit seperti pecahan puzzle. Alurnya cukup cepat dengan shocking scene yang konsisten dan karakter masing-masing tokoh dihadirkan dengan kadar yang pas, tidak terlalu berlebihan. Adegan aksinya pun pasti membuat penonton berdecak kagum atau bahkan geleng-geleng kepala, bukan karena adegan penuh ledakan atau berdarah-darah, tapi karena adegan aksi yang penuh trik yang sama sekali tidak disangka-sangka. Sang penulis scenario seolah dengan sengaja mengundang para penonton untuk menebak-nebak bagaimana akhir dari film ini. Tapi, sama seperti tagline film ini: The Closer You Look, The Less You’ll See. Tidak perlu repot-repot menebak, kalian bisa saja tertipu, seperti saya J.

Oh iya, twist yang disajikan memang cukup rumit dan beberapa penonton mungkin akan sedikit bingung dengan beberapa twist yang seolah tidak ada penyelesaian atau penjelasan. Tapi hei, ini kan film mengenai sulap! Tidak semua hal harus dijelaskan secara logika di dunia yang penuh magic, kan? Where’s the fun in that? Nikmati sajalah, lagi pula endingnya begitu tidak diduga-duga, kok!

Saya selalu mengatakan bahwa film yang ‘bagus’ tidak hanya menyuguhkan adegan aksi yang memukau atau pun memasang actor/actress papan atas saja, tapi juga harus memiliki cerita yang kuat dan tema yang bagus. Kombinasi ini akan bisa membuat sebuah film terasa ‘lengkap’ dan pas dinikmati. Nah, khusus untuk film ini, saya harus mengacungkan keempat jempol saya untuk penulis skenarionya karena telah dengan sangat ahli mengambil satu titik dalam cerita, mengangkatnya menjadi adegan fantastis dan menyelipkan detail cerita yang sebenarnya di antara adegan itu sehingga sang tokoh utama pun seolah ‘tersamarkan’. Kalau saja penulis scenario menyajikan cerita dengan alur yang biasa saja, saya rasa film ini tidak akan bisa menjadi semenarik ini.


Saya begitu jatuh cinta dengan cerita, tema yang unik, aksi yang memukau dan twist cerita yang tidak biasa yang dimiliki film ini, jadi tentunya saya dengan senang hati memberikan empat dari lima bintang untuk film ini. Namun jika mengingat jadwal release film ini yang begitu dekat dengan beberapa film lain yang mengedepankan actor dan actress terkenal Hollywood seperti After Earth-nya Will Smith, Man Of Stell-nya Nolan dan juga Fast & Furious 6-nya Vin Diesel, film ini mungkin saja tidak akan dilirik sebagian besar penonton yang tidak tahu. Tapi bagi kalian yang menyukai Heist film yang berbeda dengan film-film dengan genre serupa, atau tidak berhasil mendapatkan tiket film yang kalian inginkan, coba saja tonton film ini. Percayalah, kalian tidak akan menyesal. Oh iya, titip salam buat Dave Franco yah... ;) 



BANDUNG TAK LAGI RAMAH

Saya sudah tinggal selama hampir dua puluh tahun di Bandung, dan sebagai pendatang, secara tidak langsung saya mengikuti perkembangan kota kembang yang sudah berumur lebih dari dua ratus tahun ini. Tapi sayangnya, selama dua puluh tahun ini, perkembangan kota Bandung tidak terlalu menggembirakan. Memang nama kota Bandung semakin mewangi seiring dengan bertambahnya jumlah factory outlet dan berbagai tempat rekreasi lain. Berbagai event pun banyak digelar di kota Bandung, mulai dari yang bertaraf regional, nasional maupun internasional. Belum lagi setelah diresmikannya penggunaan tol Cipularang, penduduk kota Jakarta dan kota lain kini dapat dengan mudah datang ke Bandung hanya dalam hitungan jam saja. Dampaknya? Pembangunan merebak bak jamur di musim hujan.
Berbicara mengenai hujan, kota Bandung begitu sensitive dengan kata yang satu ini. Rumusannya begini: jika kota Bandung ditambah dengan hujan sama dengan banjir dan macet. Hampir seluruh jalan di sepanjang kota Bandung, baik itu jalan raya maupun jalan kecil, dihiasi dengan lubang dan genangan air. Hujan atau pun tidak, genangan air yang kotor akan selalu ada, membuat bukan saja para pengendara roda dua saja tapi juga pengendara roda empat pun harus berhati-hati. Walaupun saya tidak bisa membuktikan secara akurat dan menuliskan jumlah yang specific, tapi saya bisa memastikan bahwa jumlah kecelakaan yang terjadi di jalan kini sebagian besar didominasi karena kerusakan jalan.
Keadaan ini juga sama tidak menyenangkan bagi para pengguna kendaraan roda empat atau lebih. Kondisi jalan raya yang penuh lubang, fasilitas rambu lalu lintas yang tidak memadai, jumlah jalan satu arah yang membingungkan dan banjir di mana-mana membuat ketidaknyamanan bagi semua pengendara. Belum lagi kemacetan yang harus mereka hadapi setiap harinya sehigga membuat keadaan lalu lintas kota Badung tidak jauh berbeda dengan lalu lintas ibukota Jakarta yang jauh lebih padat penduduk.
Dan bagaimana dengan para pejalan kaki? Percaya atau tidak, nasib mereka tidak kalah memprihatinkannya. Kondisi angkutan umum yang tidak memadai memang sudah menjadi rahasia umum, tapi bukan hanya itu. Fasilitas untuk pejalan kaki pun tidak memadai, dengan kondisi trotoar yang rusak, jalan yang banjir dan kotor dan dipenuhi oleh pedagang kaki lima, serta lampu jalan yang tidak berfungsi, bahu jalan yang dipenuhi berbagai kendaraan yang berebut untuk melintas dan tindak kriminalitas yang semakin tinggi membuat lahan dan keselamatan para pejalan kaki seolah dijajah.
Betul, Bandung sudah tidak ramah lagi, bahkan untuk para pejalan kaki.
Bagaimana solusi terbaik untuk masalah ini? Memberantas korupsi di pemerintahan sudah merupakan wacana basi untuk dibahas. Menumbuhkan kecintaan lebih kepada kota Bandung pun sudah tidak perlu dilakukan lagi. Semua orang justru sangat mencintai Bandung, kalau tidak bagaimana mungkin mereka mau datang ke Bandung setiap akhir minggu, bukan? Mengajak para penduduk untuk melestarikan lingkungan pun tidak akan bisa terlaksana dengan baik jika bahkan pemerintah daerah tidak mau mendukung dan ikut berpartisipasi. Dengan hanya memiliki luas ± 167.67 km², sudut kota Bandung mana lagi yang akan ditutupi oleh besi dan beton? Apa lagi yang harus kita bangun jika ingin kota Bandung kita yang tercinta ini ‘tenggelam’ dengan cepat? Jadi, apa yang bisa dilakukan?
Kenapa pemerintah tidak mencoba untuk mengharamkan pembangunan dan menghalalkan peremajaan saja? Ada begitu banyak bangunan indah dan megah di kota kita ini dan sebagian besar belum digunakan secara maksimal. Kenapa pemerintah tidak memaksimalkan apa yang ada saja dan menggunakan lahan yang tersisa untuk sesuatu yang lebih berguna, seperti menambah ruang terbuka hijau dan daerah resapan air, misalnya? Kenapa pemerintah tidak memberikan kewajiban bagi setiap pengusaha yang membangun mall, hotel dan semua gedung tinggi di sekitar Bandung untuk memanfaatkan minimal seperempat luas tanah yang mereka gunakan untuk membangun taman, menanam pohon dan menyerap air?

Lagipula, kota Bandung merupakan ibukota Jawa Barat yang tidak terlalu besar dan terkenal dengan masyarakatnya yang ramah. Saya rasa semua penduduk Bandung setuju bahwa mereka tidak memerlukan keberadaan mall dan hotel disetiap sudut rumah mereka jika dari satu mall ke mall yang lain bisa ditempuh dengan nyaman dan aman hanya dalam waktu kurang dari sepuluh menit dengan berjalan kaki.

FAST & FURIOUS 6


Siapa yang pernah menyangka bahwa film Fast and Furious yang pertama kali release pada tahun 2001 ini akhirnya bisa menjadi sebuah franchise yang besar seperti sekarang? Dan siapa sangka Vin Diesel yang dulu pernah mengatakan tidak akan pernah bermain dalam film sekuel apa pun akhirnya malah muncul hampir di setiap film Fast and Furious berikutnya dan bahkan ikut memproduseri film keempat dan kelimanya? Kini film keenamnya pun resmi direlease pada 24 Mei 2013 dengan tajuk Fast & Furious 6 dan masih disutradarai dengan setia oleh Justin Lin yang juga membesut film ketiga, keempat dan kelimanya.
Sekuel keenam kali ini masih bercerita mengenai geng mobil yang dipimpin oleh Dominic Toretto (Vin Diesel) yang memutuskan untuk pensiun setelah berhasil membawa kabur uang $100 juta di aksi terakhir mereka di Rio de Janeiro, Brasil pada film kelima. Dom memutuskan untuk tinggal bersama Elena Neves (Elsa Pataky) sedangkan Brian O’Conner (Paul Walker) menikah dengan adik perempuan Dom, Mia Toretto (Jordana Brewster) dan baru saja dianugerahi seorang anak laki-laki yang diberi nama Jack. Sementara Han Seoul-Oh (Sung Kang) dan Gisele Yashar (Gal Gadot) memutuskan untuk pergi ke Hongkong, Roman Pearce (Tyrese Gibson) dan Tej Parker (Chris ‘Ludacris’ Bridges) berkelana dan bersenang-senang. Mereka berharap tidak akan berurusan dengan hukum dan dapat hidup dalam damai. Tapi ternyata mereka salah.
Luke Hobbs (Dwayne ‘The Rock’ Johnson) yang merupakan seorang agen DSS sedang menyelidiki sebuah kasus penyerangan konvoi militer Rusia oleh sebuah grup dengan kemampuan penyerangan dan pencurian yang cepat dan effisien yang juga melakukan berbagai perampokan lain di London dan Negara-negara Eropa lainnya. Grup tersebut didalangi oleh mantan special ops soldier yang menjadi criminal bernama Owen Shaw (Luke Evans) yang berkeinginan menciptakan sebuah alat yang akan dijualnya dengan harga tinggi di pasar gelap.
Hobbs tahu benar bahwa aksi penyerangan dan pencurian seperti itu harus dilawan oleh grup yang juga mampu bergerak dengan sama cepat dan sama effisiennya, karena itulah Hobbs yang kali ini didampingi oleh seorang assisten barunya yang bernama Riley (Gina Carano) meminta pertolongan Dom dan teman-temannya. Awalnya Dom tidak berniat sama sekali untuk kembali terjun ke dunia ‘kelam’ yang akan menambah daftar tindakan kriminalnya di data kepolisian, tapi Hobbs menyerahkan bukti keterlibatan Letticia ‘Letty’ Ortiz (Michelle Rodriguez), kekasih Dom yang selama ini dia kira sudah tewas. Akhirnya dengan perjanjian penghapusan daftar kejahatan yang dilakukan seluruh anggota grupnya, Dom bersedia mengumpulkan kembali anggota-anggotanya dan membantu Hobbs menangkap Shaw.
Hobbs harus mengeluarkan segala macam cara, menggunakan berbagai koneksinya untuk melacak jejak Shaw beserta grupnya agar dapat menggagalkan aksi pencurian mereka selajutnya. Aksi kejar-kejaran pun tak terelakkan dan ada begitu banyak mobil, darah dan air mata yang tertumpah hingga misi mereka kali ini dapat dilaksanakan dengan baik. Dan ditambah dengan bumbu penghianatan dan cinta, semua usaha mereka tidaklah mudah.
Film ini memiliki alur cerita yang begitu ringan, mudah diikuti dan cukup mudah ditebak sehingga para penonton hanya perlu duduk manis di kursi masing-masing dan menikmati berbagai aksi dan cerita yang disajikan. Mungkin film ini memang menyandang tema yang cukup standart walaupun tidak lagi terlalu kental mengetengahkan aksi balapan liar antar geng mobil. Tapi menurut saya keputusan sang sutradara untuk mengembangkan tema dengan menggabungkan genre heist (pencurian) merupakan keputusan yang tepat. Pasalnya, dengan pengembangan ini twist film bisa dibuat menjadi jauh lebih kompleks dan akan terasa lebih menarik untuk diikuti oleh semua kalangan, bukan hanya kalangan menggemar balap mobil saja.
Beberapa twist cerita memang masih berhubungan dengan film-film sebelumnya, tapi mengingat jumlah sekuelnya yang gemuk dan betapa cukup sering film-film sebelumnya tayang di televisi, maka kemungkinan besar setiap orang paling tidak sudah pernah menonton salah satu filmnya dan cukup akrab dengan para tokohnya. Karakter setiap tokoh masih sama kuatnya dan dengan jajaran wajah para pemain yang masih sama dengan film-film sebelumnya, para penonton dan bahkan para actor/actress tidak perlu lagi perlu mendalami karakter karena masing-masing sudah cukup iconic.
Dan untungnya lagi, eksekusi film ini dikemas dengan baik. Saya sangat suka dengan shocking scenenya, juga dengan joke-joke yang dilontarkan para tokohnya. Dan sinematografinya pun cukup memanjakan mata. Saya beberapa kali merasa sangat terpukau melihat sudut pengambilan gambar yang tidak biasa tapi indah. Actionnya pun patut diacungi jempol karena begitu menegangkan sekaligus memukau pada saat bersamaan. Di mana lagi kita bisa melihat aksi mobil, motor, bahkan tank dan pesawat terbang dalam satu film, iya kan?! (Ups! Yang barusan nggak termasuk spoiler, kan? ;D)
Oh, satu hal lagi yang paling menarik perhatian semua orang yaitu tentu saja keterlibatan actor Indonesia, Joe Taslim dalam film ini. Dan percayalah, saya sangat bangga bisa menuliskan nama Joe dalam review saya ini bersama para actor dan actress papan atas Hollywood lainnya. Actingnya tidak kalah bagus dengan pemain lainnya, porsinya dalam film ini pun cukup besar karena Joe ada dari awal hingga akhir film, tidak hanya tampil sebentar dan langsung tewas dengan tragis. Dan yang semakin membuat saya bangga adalah Joe sempat mengucapkan satu patah kata dalam bahasa Indonesia di awal dialognya. Keren banget, kan?!
Singkatnya, Fast & Furious 6 pantas mendapatkan tiga setengah dari lima bintang dari saya. Tapi kalau mengingat ending luar biasa yang menjanjikan sekuel di salah satu kota besar di Asia dengan salah satu tokoh iconic yang bisa membuat saya meleleh (oke, saya tidak akan menyebutkan namanya di sini supaya kalian yang belum nonton tidak mendapat terlalu banyak spoiler dari saya, tapi ya ampun, saya masih mau berteriak a la anak-anak alay kalau ingat kemunculannya!), rasanya saya mau menggenapkan penilaian saya menjadi empat bintang, deh! ;D



STAR TREK INTO DARKNESS


Jika ada satu film mengenai penjelajahan luar angkasa yang dikenal semua orang dan sangat ditunggu-tunggu kehadirannya, mungkin serial Star Trek adalah salah satu nama film yang akan disebut selain Star Wars yang tak kalah fenomenalnya. Setelah sukses menghantarkan reboot Star Trek pertamanya pada 2009, kali ini sang sutradara J.J Abrams kembali menyajikan kelanjutan kisahnya.
Awal kisah Star Trek kali ini menceritakan Kapten James T. Kirk (Chris Pine) yang harus mendapatkan hukuman karena melakukan kecerobohan pada salah satu tugas mereka di sebuah planet bernama Nibiru. Walaupun sebenarnya Kirk berusaha menyelamatkan nyawa Spock (Zachary Quinto), sahabat sekaligus Perwira Pertama-nya, tapi para petinggi di Starfleet Enterprise tidak memberi sedikit pun kelonggaran. Mereka menurunkan jabatan Kirk menjadi Perwira Pertama dan menyerahkan tugas mengepalai pesawat penjelajah luar angkasa USS Enterprise tersebut kembali kepada Admiral Christopher Pike (Bruce Greenwood). Dan bukan hanya itu, Spock yang merupakan keturunan ras Vulcan yang sangat patuh dengan peraturan dan tidak bisa berbohong malah menyalahkan Kirk dan sama sekali tidak berterima kasih kepada sahabatnya karena telah menyelamatkan nyawanya. Persahabatan mereka pun terancam.
Sementara itu, salah seorang mantan anggota Starfleet, agent John Harrison (Benedict Cumberbatch) meledakkan markas Starfleet Enterprise sector 31 yang penuh rahasia dan melakukan penyerangan saat pertemuan para petinggi Starfleet dilaksanakan untuk membahas peledakan tersebut. Harrison lalu kabur ke planet Kronos di mana planet tersebut dihuni oleh ras Klingon yang tidak terlalu akur dengan para penghuni bumi. Penyerangan mendadak itu mengakibatkan terbunuhnya Pike yang membuat Kirk sangat terpukul. Dengan penuh kesedihan dan niat untuk membalas dendam, Kirk meminta izin Laksamana Alexander Marcus (Peter Weller) untuk mengejar dan menangkap Horrison ke planet Kronos. Marcus memberikan izinnya dan membekali Kirk dengan 72 Photon Torpedo sekaligus perintah jelas untuk membunuh Harrison dengan menembakkan torpedo itu di tempatnya bersembunyi.
Walaupun harus rela kehilangan Chief Engineer-nya, Montgomery ‘Scotty’ Scott yang mengundurkan diri karena tidak setuju mengangkut 72 buah Photon Torpedo yang misterius, tapi Kirk yang kembali menjadi Kapten tetap memimpin pesawat USS Enterprise untuk melakukan tugas militer pertama mereka dengan didampingi oleh Spock, Nyota Uhura (Zoe Saldana), Dr. Leonard ‘Bones’ McCoy (Karl Urban), Pavel Chekov (Anton Yelchin) dan para awak lain yang setia. Tapi ternyata tugas ini tidak semudah yang dibayangkan. Saat ingin menangkap Harrison, Kirk malah bertemu dengan para Klingon yang ingin membunuh mereka. Dan tiba-tiba Harrison muncul untuk menyelamatkan mereka dan mengatakan bahwa dia bersedia untuk menyerahkan diri sesudahnya.
Kirk yang mengira tugasnya sudah akan selesai dengan memutuskan untuk menyerahkan Harrison kepada Marcus harus mengalami penundaan karena kapal luar angkasa mereka mengalami kerusakan Warp. Saat itu Harrison mengatakan bahwa kerusakan tersebut diakibatkan oleh 72 torpedo yang dibawa Kirk di cargo yang membuat Kirk dan para awak kapal kebingungan. Dan bukan hanya itu, Harrison pun mengatakan bahwa sebenarnya dia bernama Khan, seorang manusia super yang tidur di dalam tabung Cyrogenic selama lebih dari 300 tahun. Dan Khan mengatakan bahwa Marcus yang telah membangunkannya dari tidur panjang dengan keinginan untuk membuat sebuah senjata canggih yang dapat melawan Kerajaan Klingon.
Apakah yang dikatakan Khan adalah benar? Siapakah dia sebenarnya dan apa hubungannya dengan Marcus?
Sebelum membahas lebih jauh mengenai film ini, saya ingin membuat pengakuan dulu. Sungguh, ini serius.
Selama beberapa tahun belakangan ini saya sudah bulak-balik masuk bioskop, menonton berbagai macam jenis film dengan berbagai genre. Dan selama itu pula saya tidak pernah merasa benar-benar jatuh cinta dengan tokoh antagonis dalam film-film tersebut. Serius, loh. Tokoh antagonis memang cukup susah untuk dicintai. Bagaimana tidak? Tokoh antagonis biasanya bersifat jahat, bermuka sadis dan sangat menyebalkan. Pokoknya sama sekali tidak menarik, terutama untuk kaum wanita.
Tapi eh tapi, setelah saya menonton film Star Trek Into Darkness semua pandangan saya mengenai kejelekan peran antagonis hilang sudah! Serius! Ini Benedict Cumberbatch KEREN banget! Dia ganteng! Actingnya keren banget! Dan dia orang Inggris! Sumpeh, Benedict I Love You!!!
… … …
Ehm! Oke, kali ini saya mau membahas tentang filmnya, jadi saya harus serius dan melupakan sejenak ‘cinta pada pandangan pertama’ saya ini.  Ehm-ehm!
Secara keseluruhan saya sangat suka dengan cerita Star Trek kali ini. Scene pembuka film ini cukup seru dan menggugah adrenalin sekaligus rasa penasaran. Alurnya cepat, shocking scene-nya terasa tepat, para tokoh juga memiliki ciri khas yang kuat dan penuh karakter. Beberapa twist memang dibuat dengan kompleksitas yang cukup tinggi sehingga bisa sedikit membingungkan, tapi akhir dari twist-twist tersebut tidak mudah ditebak dan cukup menghibur. Jika berbicara tentang animasi, tentu saja tema Star Trek dan paduan tangan dingin J.J Abrams tidak perlu diragukan lagi.
Gabungan semua ini terasa begitu pas dan begitu menghibur sehingga dengan senang hati saya akan memberikan empat dari lima bintang untuk film ini. Tentunya dengan dengan nilai paling besar saya berikan kepada pemeran sang tokoh antagonis Benedict Cumberbatch yang bisa mengalahkan sang tokoh utamanya untuk hampir di semua aspek.
Jadi, untuk kalian pecinta franchise yang diciptakan sejak tahun 1966 ini atau untuk kalian pecinta film bergenre science fiction yang penuh animasi memanjakan mata dan kualitas acting yang mumpuni dari para pemerannya, film ini benar-benar sayang untuk dilewatkan. Dan kalau kalian berniat untuk menonton Star Trek Into Darkness ini, saya titip salam untuk Khan yah… ;3



Questions Book ( page 66 )


Ada saat di mana aku begitu ingin menghambur ke pelukanmu
Berteduh di sana dengan nyaman
Di tempat yang kau sebut sebagai tempatku berlindung
Aku yakin ada rasa aman di sana
Ada rasa nyaman yang bisa aku dapatkan
Tempat kedua di bumi di mana aku bisa merasakan semua itu
Ada saatnya aku ingin melupakan ketidaksanggupan yang melingkupi kita
Ketidakberdayaan yang diam-diam membuatku lemah
Membuat setengah hatiku lumpuh
Kau ingat dengan bayangan kita yang saling melepas rindu itu?
Kau ingat rasa menggebu-gebu itu?
Aku yakin kau ingat
Sebagaimana aku bisa mengingat dengan jelas kata-katamu waktu itu
“Sayang tak selamanya harus memiliki”
Tapi aku yakin sayang itu masih terasa manis
Tak akan pernah hilang
Seperti pancaran binar matamu yang masih sama
Tak peduli apakah setengah hatiku telah membatu atas nama orang lain
Perasaan itu akan tetap sama
Entah sampai kapan.

130513 ~Black Rabbit~