wahhh.... saya dapet rangkaian pertanyaan yang menarik banget dari sahabat saya, +Ria Tumimomor
karena pertanyaannya seputar buku dan tulis menulis, jadi saya mau banget ikutan jawab....
ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab, antara lain:
- Pertanyaan WAJIB:
1. nambah atau ngurangin timbunan buku?
Me: nambah. tapi untungnya saya cukup pemilih soal buku yang saya beli, jadi nambahnya nggak terlalu banyak. kecuali dapet buku bagus yang lagi discount. hehehehe...
2. pinjam atau beli buku?
Me: lebih suka beli. lebih bebas bacanya. :D
3. baca buku atau nonton film?
Me: wah susah nih. saya suka dua-duanya. suka banget. tapi saya lebih suka baca buku, sih. lebih seru dan lebih bebas berimajinasi. :)
4. beli buku online atau offline (tobuk yang temboknya bisa disentuh)?
Me: offline, bisa lebih bebas milih soalnya....
5. (penting) buku bajakan atau ori?
Me: ori dong.... biasanya kualitasnya lebih bagus...
6. gratisan atau diskonan?
Me: diskonan aja deh. soalnya kalo yang gratisan belum tentu buku yang saya mau.
7. beli pre-order atau menanti dengan sabar?
Me: menanti dengan sabar juga nggak masalah....
8. buku asing (terjemahan) atau lokal?
Me: jujur aja, nih. saya lebih suka buku terjemahan soalnya materinya (biasanya) lebih menarik.
9. pembatas buku penting atau biasa aja?
Me: kalau ada sih ya bagus, kalo nggak ada juga nggak apa-apa. saya kan punya koleksi bookmark yang lain. hehehe....
10. bookmarks atau bungkus chiki?
Me: maksudnya apa yah ini? kalo buat buku ya mendingan bookmark, tapi kalo lagi laper yah chiki aja deh! :D
- Pertanyaan tambahan:
1. novel atau komik?
Me: dulu sih dua-duanya, sekarang lebih suka novel.
2. disampul atau nggak?
Me: disampul dong... biar covernya awet!
3. notes FB atau blog?
Me: defenitely BLOG!
4. cover atau sinopsis?
Me: sinopsis. cover bisa menipu!
5. dijual atau disumbangkan?
Me: pengennya sih dijual biar bisa beli buku baru lagi. hehehehe.... XD
- Pertanyaan tambahan dari Sista Ria:
1. Facebook atau Twitter?
Me: Twitter. di facebook udah banyak yang nyebelin. paling cuma share twit aja ke FB.
2. tidur di angkot atau membaca di angkot?
Me: tidur. baca di dalam angkot suka bikin pusing.
3. mengetik atau menulis?
Me: menulis, ada sensasi lebih dari pada mengetik walaupun tetep aja ujung-ujungnya harus mengetik juga. hehehehe....
4. lebih enak buku atau e-book?
Me: buku. baca e-book terlalu lama bisa bikin pusing dan sakit mata. entar minus mata bisa nambah lagi.....
5. buku baru atau baju baru?
Me: BUKU DONGGGGG..... udah beli buku baru beli baju. hahahaha....
yes, udah dijawab! saya nggak bakal nge-tag yang lain deh. kan saya baik.... apa coba...
buat kalian yang mau menjawab pertanyaan macam ini, silahkan bikin di blog masing-masing dan mention linknya ke saya via twitter @black_rabbit13. nanti saya RT deh... (^_^)
LAWLESS
Hai! Ketemu lagi di rublik review
film. Jangan bosen baca review film saya yang suka ngaco ini, yah… J
Kali ini saya akan membahas
sebuah historical crime drama film yang baru saja saya tonton hari Sabtu
kemarin, judulnya Lawless.
Film ini menceritakan kisah
mengenai keluarga Bondurant pada tahun 1931 yang memproduksi minuman keras
sejenis Whiskey terenak dan cukup terkenal di wilayah Franklin Country,
Virginia. Di daerah tersebut keluarga Bondurant memang termasuk keluarga yang
disegani dan terkenal sebagai keluarga keturunan Indian yang bersifat keras,
kuat dan ‘tidak bisa mati’. Sang kakak tertua, Howard Bondurant (Jason Clarke),
terkenal sebagai seorang kakak yang sangat melindungi adik-adiknya. Sedangkan anak
kedua, Forrest Bondurant (Tom Hardy) begitu idealis, karismatik dan cukup
ditakuti semua orang. Sementara itu, anak bungsu keluarga Bondurant, yaitu Jack
Bondurant (Shia LaBeouf) sedang berada di usia puber di mana keinginan untuk
membuktikan diri dan ‘menyamaratakan’ namanya dengan kedua kakaknya begitu
menggebu-gebu. Tapi keinginan tersebut malah sering kali membuatnya terjerumus
pada keadaan sulit.
Suatu ketika, seorang petugas
perwakilan dari Virginia Commonwealth Attorney Mason Wardell bernama Charley
Rakes (Guy Pearce) datang ke wilayah tersebut untuk meminta pajak yang cukup
besar kepada para pengusaha di daerah tersebut. Forrest yang cukup keras kepala
dan idealis sama sekali tidak ingin membayar dan mengancam akan membunuh Rakes
jika dia berani datang menemuinya lagi. Tapi Rakes tidak menyerah begitu saja. Dengan
bantuan Sheriff dan petugas lain yang terpaksa mematuhinya, Rakes mengintai
keluarga Bondurant untuk mengetahui tempat pembuatan minuman keras mereka yang
terkenal itu.
Sementara itu, Jack yang masih
berniat membuktikan diri kepada kedua kakaknya mencoba membuat minuman baru
yang jauh lebih enak dengan bantuan sahabatnya: Criket Pate (Dane DeHaan). Tapi
karena masih begitu ceroboh, Rakes malah menemukan gubuk tempat Jack dan Criket
menyuling minuman mereka dan memukuli Jack. Jack kembali kepada kedua kakaknya
dengan wajah babak belur dan mengirimkan pesan bahwa Rakes ingin Forrest tunduk
kepada perintahnya. Tapi tentu saja Forrest tidak mau. Tindakan Forrest yang
keras kepala ini membuat Rakes semakin kesal. Dia membayar dua orang preman
untuk datang ke restoran keluarga Bondurant dan mengganggu pramusaji mereka
yang baru: Maggie Beauford (Jessica Chastein). Forrest yang diam-diam menaruh
hati kepada Maggie memukul kedua preman tersebut dan mengusir mereka. Tapi saat
restoran itu sudah tutup, kedua preman itu kembali untuk menggorok leher
Forrest dan memperkosa Maggie.
Saat Forrest sedang dalam masa
pemulihan, Jack merasa mendapat kesempatan untuk membuktikan diri kepada kedua
kakaknya. Dia menjual semua persediaan minuman keras yang sudah dikumpulkan
Forrest kepada seorang gangster bernama Floyd Banner (Gary Oldman) dengan harga
dua kali lipat. Dan bukan hanya itu, Floyd juga memberikan alamat kedua preman
yang telah menganiyaya Forrest dan Maggie sehingga Forrest dengan bantuan
Howard bisa membunuh preman-preman itu untuk membalas dendam. Walau pada
awalnya Forrest dan Howard begitu kesal dengan kelancangan sang adik, tapi pada
akhirnya Floyd Banner menjadi pelanggan tetap mereka. Dengan harga yang lebih
mahal dan jumlah pesanan yang banyak, kakak beradik Bondurant akhirnya mampu mengembangkan
produksi minuman keras mereka menjadi lebih besar dan berhasil mengumpulkan
lebih banyak uang lagi.
Rakes naik pitam mengetahui hal ini.
Dengan mengikuti Jack yang membawa pacarnya, Bertha Minnix (Mia Wasikowska) ke
tempat penyulingan terbesar mereka di pinggir hutan, Rakes menggerebek tempat
itu, meledakkannya sehingga rata dengan tanah dan membunuh Criket. Hal ini
membuat seluruh anggota keluarga Bondurant marah sehingga pertempuran berdarah
pun tak bisa dihindari lagi.
Film yang disutradarai oleh John
Hilcoat, salah seorang sutradara asal Australia yang cukup menjanjikan ini
terasa begitu pas untuk saya. Saya suka ceritanya yang diangkat dari sebuah
novel berjudul The Wettest Country In The World karangan Matt Bondurant yang
memang diambil dari kisah nyata sang kakek beserta paman sang penulis sendiri. Alurnya
juga tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat, dengan detail cerita yang
rapi, dialog yang mudah dimengerti dan twist yang tidak berlebihan. Setting cerita
juga bagus, dengan costum dan make up yang pas. Para tokohnya juga unik dengan karakter
tokoh yang terbentuk kuat. Apa lagi para actor dan actress yang berperan di
dalam film ini memang sudah tidak perlu diragukan lagi kemampuan beraktingnya,
sehingga emosi penonton dapat tercipta dengan baik. Saya secara pribadi ingin ‘mengangkat
topi’ setinggi-tingginya untuk acting Tom Hardy dan Guy Pearce yang spectacular
di film ini.
Memang adegan kekerasan dan
pertumpahan darah dalam film ini cukup sadis dan bisa membuat bulu kuduk merinding,
tapi saya sempat merasa heran karena film yang menyandang rating R (Resticted)
ini justru tidak terlalu menonjolkan unsur nuditynya. Sejujurnya, kenyataan yang
satu ini membuat saya senang karena selama saya menonton film bioskop, sebagian
besar film dengan genre serupa akan dengan senang hati menambahkan adegan nude sebagai salah satu
daya tariknya. Tapi bahkan costum para actress pun tidak menonjolkan keseksian
yang terlalu berlebihan atau dibuat-buat. Paling tidak dengan begini saya yakin
film ini digarap dengan serius.
Saya dengan senang hati
memberikan empat dari lima bintang untuk film ini. Dan dengan jajaran nama
besar lain yang muncul, seperti Gary Oldman yang legendaries, Shia LeBauf yang
sedang naik daun dan juga Jessica Chastain yang baru saja memenangkan Golden
Globe Awards untuk kategori Best Actress-Drama dan Best Actress In a Movie pada
Critics’ Choice Movie Awards, film ini tentunya akan sangat sayang untuk dilewatkan.
Apa lagi bagi kalian penggemar historical movie yang penuh drama serta action
sekaligus.
IRON MAN 3
Apa yang kalian harapkan dari
film superhero yang menampilkan tokoh yang sama untuk ketiga kalinya di
bioskop? Sebuah prekuel mungkin? Atau sebuah sekuel lain yang menampilkan musuh
yang jauh lebih kuat atau jauh lebih terkenal dari pada dua film sebelumnya? Well,
kurang lebih pertanyaan semacam inilah yang memenuhi otak saya saat mendengar
bahwa salah satu film superhero jebolan Marvel, Iron Man, akan dirilis pada
akhir bulan April ini.
Film yang kali ini disutradarai
oleh Shane Black yang sebelumnya menyutradarai Kiss Kiss Bang Bang pada tahun
2005 ini masih menceritakan kisah seputar Tony Stark (Robert Downey Jr.) dengan
alter egonya sebagai Iron Man. Pada film ketiga ini, Tony mengalami hubungan
yang tidak terlalu harmonis dengan kekasih/assistentnya, Virginia ‘Pepper’
Potts (Gwyneth Paltrow) karena Tony terlalu berlebihan mengurusi
armor-armornya. Walaupun pada akhirnya Tony malah menjadikan Pepper sebagai CEO
Stark Industries tapi Pepper tetap merasa Tony masih kurang memperhatikannya.
Sementara itu, Tony dihadapkan
oleh kesalahan masa lalunya di mana pada penghujung tahun 1999 lalu dia dengan
seenaknya membuat seorang penemu bernama Aldrich Killian (Guy Pearce) menunggu
di atas gedung hotel yang dingin pada malam tahun baru sendirian. Tadinya Tony
mengatakan bahwa dia berniat mendanai penelitian yang dilakukan Aldrich, tapi
Tony malah menghabiskan waktu dengan Dr. Maya Hansen (Rebecca Hall) yang
merupakan seorang Botanis. Merasa sakit hati karena tidak ditanggapi, Aldrich
berusaha mengembangkan penelitiannya sendiri dan bertahun-tahun kemudian datang
ke Stark Industries untuk ‘membalas dendam’ dengan menawarkan penelitiannya
lagi kepada Pepper yang merupakan CEO baru di perusahaan besar itu. Tidak disangka
bahwa ternyata sebelumnya Pepper dan Aldrich pernah menjalin hubungan.
Di lain pihak, sebuah terror terjadi
dalam pemerintahan Amerika. Seseorang yang mengaku bernama Mandarin (Ben
Kingsley), meng-hack semua stasiun televisi dan menyiarkan aksi terorisme yang
dilakukannya untuk mengancam Presiden Ellis. Semua pemboman yang dilakukan
Mandarin merupakan pemboman yang tidak biasa karena keberadaan bom tersebut
tidak bisa terdeteksi dan tidak ada jejak yang ditinggalkan selain bayangan
hitam para korban yang seolah lenyap ditelan api bersuhu 3000°C. Kemudian
Mandarin berhasil menjebak Col. James Rhodes (Don Cheadle) yang digunakan
pemerintah Amerika sebagai Iron Patriot/War Machine dan menangkapnya lalu
menggunakan armor itu untuk menculik Presiden Ellis yang sedang berada di dalam
Air Force One. Aksi terror Mandarin tidak hanya sampai di situ. Dilatarbelakangi
dengan kekesalan Tony karena salah satu bodyguard paling setianya menjadi
korban bom misterius itu, Tony dengan penuh emosi menantang Mandarin untuk
mendatangi alamatnya sehingga dia ‘dihadiahi’ penyerbuan besar-besaran yang
mengakibatkan rumah Tony beserta isinya hancur berantakan.
Apakah yang akan terjadi
selanjutnya? Apakah kali ini Iron Man akan benar-benar berakhir? Dan bagaimana
hubungannya dengan Pepper? Dan juga bagaimana nasib Presiden Ellis yang
disandera oleh Mandarin?
Sebelum saya melanjutkan untuk ‘membedah’
film ini, perlu saya kabarkan bahwa sebelum menonton film ini di bioskop,
sebuah stasiun televisi sudah sangat baik hati menayangkan dua film Iron Man
sebelumnya berturut-turut sehingga otak saya merasa disegarkan kembali. Dan otomatis
akan lebih mudah bagi saya untuk membandingkan film terbaru dengan kedua film
sebelumnya. Jadi, bersiap-siap saja yah, pembedahan saya kali ini sepertinya
akan cukup ‘menyakitkan’. Hohohohoho…. *evil laugh*
Oke, dari mana saya harus memulai?
Oh, seperti biasa, saya akan mulai dengan membedah ceritanya terlebih dahulu. Dan
satu kata untuk film Iron Man 3 kali ini: kacau. Ide cerita mengenai terorisme
sebenarnya merupakan ide yang menarik, tapi bumbu dendam pribadi yang
ditambahkan malah membuat ceritanya bertambah aneh. Alurnya kacau, kadang
melompat-lompat ke sana kemari. Terlalu banyak adegan kebetulan, juga penuh
dengan joke yang sama dengan dua film sebelumnya sehingga terasa basi. Dialognya
tidak terlalu mudah dimengerti. Bayangkan jika kalian tidak diingatkan kembali
pada dua film sebelumnya sementara cukup banyak unsur joke atau dialog yang
berkaitan dengan kedua film tersebut tapi tidak mendapatkan penjelasan yang
cukup. Saya rasa penonton akan cukup bingung dibuatnya. Juga cerita yang cukup
rumit ini membuat film ini tidak cocok bagi anak-anak.
Tokoh yang dihadirkan terlalu
banyak sehingga karakter masing-masing tokoh tidak bisa tergali dengan baik. Walau
begitu, seperti biasa, animasinya masih patut diacungi jempol. Tapi beberapa
armor tambahan hanya mampu memukau saya sebentar saja dan akhirnya terlupakan. Dan
apa yang terjadi dengan tokoh antagonisnya?! Aduh, saya berusaha untuk tidak
memberi terlalu banyak spoiler di sini, tapi saya tidak tahan untuk tidak
menjerit tentang hal ini: KENAPA MANDARIN MENJADI SEPERTI ITU?!?! Memang saya
tidak terlalu kenal sosok Mandarin sebelumnya, saya hanya tahu bahwa Mandarin
adalah tokoh antagonis utama dalam komik Iron Man. Dengan begitu, saya kira
tokoh ini akan begitu memukau, tapi ternyata…. Saya tidak bermaksud mengatakan
bahwa acting Ben Kingsley tidak bagus, malah menurut saya actingnyalah yang
paling memukau di sini. Tapi, sekali lagi, kenapa Mandarin jadi seperti itu,
sih?!?!?!
Belum lagi, menurut saya, endingnya
terlalu memaksakan dan tidak masuk akal. Ada begitu banyak pertanyaan yang
menggantung di dalam hati dan tidak ada perasaan puas saat film ini selesai
saya tonton. Oh iya, jika kisah para tokoh superhero Marvel ini diurutkan, maka
Iron Man 3 seharusnya merupakan kisah kelanjutan setelah kisah The Avenger
terjadi. Ini bisa dibuktikan dengan sedikit trauma yang dirasakan Tony Stark di
film ini, walaupun mungkin fakta ini tidak bisa ditangkap penonton dengan mudah.
Tapi kok, Tony sama sekali tidak menyinggung mengenai superhero yang lain? Atau
bahkan nama salah satu tokoh The Avenger pun tidak. Bahkan S.H.I.E.L.D pun
berperan sangat sedikit di film ini. Itu merupakan salah satu pertanyaan yang
tidak saya temukan jawabannya bahkan setelah film ini selesai.
Mungkin sebelumnya saya terlalu
banyak berekspektasi pada film ini. Atau mungkin saya sudah terlalu banyak
mendapat beberapa bocoran adegan kerennya melalui berbagai preview dan iklan
yang beredar sehingga akhirnya saat saya menonton adegan itu secara langsung,
tidak ada lagi sensasi takjub yang saya rasakan. Dan yang lebih disayangkan
lagi, ternyata tidak ada adegan wow lain yang disisakan untuk bisa memukau
penonton lagi.
Mohon maaf untuk para penggemar
Iron Man yang membaca review saya kali ini, tapi dengan sangat terpaksa saya
hanya memberika dua setengah dari lima bintang untuk film ini. Eit, jangan
marah-marah dulu. Saya juga termasuk salah satu fans Iron Man dan Robert Downey
Jr. tapi saya tetap harus menilai secara objectif dan seperti inilah penilaian
saya. Yah, sebagai tambahan saja nih, partner saya sampai mengatakan kalau di
film Superman berikutnya tokoh Lex Luthor yang merupakan antagonis utama
mendapatkan nasib yang sama dengan Mandarin, dia akan ‘membunuh’ sutradaranya. Sebagai
penggemar berat Superman sekaligus Lex Luthor, saya rasa dia cukup serius :D.
THE TWO RINGS 1st PARAGRAPH
My name is
Caraveena, twenty-years-old girl with curls wavy long hair, dazzling brown
eyes, and an expression that people say as God's most perfect sculpture. That
means I’m pretty. Well, it’s because I was one of Malaveena and Antonius
Veena’s daughter, a pair of legendary sorcerers who is not only known for their
position at the Government but also with their position at society. They were
very amazed and respected by all the peoples who lives at Merlin. But no matter
how famous they are, my parents can’t resist to have a daughter like me,
because I do not like my eldest brother or my little sister, nor like all
sorcerers in this town. I’m not a sorcerer, I’m an oracle.
please visit our link at goodreads here: http://www.goodreads.com/book/show/13496819-the-two-rings
OBLIVION
Ternyata film mengenai bumi
setelah ‘kiamat’ memang sedang menjadi tema yang banyak dipakai saat ini, yah. Buktinya
setelah the Host dan Cloud Atlas, bahkan film terbaru Will Smith akan datang
yang berjudul After Earth mengambil tema yang sama, yaitu: post apocalyptic,
masa di mana kemanusiaan di bumi terancam musnah karena sebuah kejadian, entah
itu penyerangan alien, bencana alam, perang nuklir atau penyebaran virus dan
lain sebagainya. Nah, film terbarunya Tom Cruise ini menggunakan tema yang
sama.
Kisah film yang berdurasi cukup
singkat (hanya 124 menit) ini terjadi sekitar tahun 2077. Enam puluh tahun yang
lalu, bulan diserang oleh sekelompok alien pemakan bangkai yang dikenal dengan
sebutan Scavengers (Scavs). Keadaan bulan yang hancur itu mempengaruhi bumi, di
mana dengan tidak adanya bulan, bumi mengalami serangkaian tsunami, gempa bumi
dan berbagai bencana alam lain yang nyaris menghancurkan bumi itu sendiri. Segelintir
manusia yang selamat mengungsi ke planet Titan, salah satu satelit planet
Saturnus. Sementara itu, enam puluh tahun kemudian, bumi hanya dihuni oleh
beberapa orang yang bertugas untuk mengawasi para robot yang menjaga beberapa
mesin tambang. Mesin-mesin itu berfungsi untuk menyedot air laut yang akan
digunakan di planet Titan. Semua robot dan mesin-mesin itu berada di bawah
kendali sebuah stasiun luar angkasa bernama ‘The Tet’ yang mengorbit bumi
menggantikan bulan.
Jack Harper (Tom Cruise) adalah
salah seorang teknisi yang bertugas di Sky Tower 49 bersama Victoria Olsen
(Andrea Riseborough). Tugas mereka adalah memperbaiki para robot pengawas yang
rusak dan juga mencari berbagai robot yang hilang atas perintah Sally (Mellisa
Leo) yang ada di The Tet. Hubungan mereka begitu dekat sehingga mereka terlibat
jalinan asmara, tapi ternyata cita-cita mereka bertolak belakang. Sementara Victoria
sudah sangat tidak sabar untuk kembali ke ‘rumah’ di planet Titan dalam dua
minggu lagi, Jack malah merasa ragu. Walaupun sudah akan hancur, Jack merasa
bahwa bumi tetaplah tanah airnya.
Selama berkeliling untuk mencari
para robot yang rusak atau hilang, Jack sering kali menemukan berbagai benda
yang mengingatkannya kepada kehidupan di bumi pada masa lalu. Semua barang-barang
itu dia simpan di sebuah kabin yang dibangun di lembah hijau yang tidak sengaja
dia temukan. Selain itu, beberapa waktu belakangan Jack mendapatkan mimpi aneh
mengenai seorang wanita. Walaupun Jack sadar ingatan tentang masa lalunya
dihapus guna kepentingan misi yang sedang ditugaskan kepadanya dan Victoria,
tapi Jack merasa wanita itu sangat penting baginya walaupun dia tidak bisa
mengingat siapa wanita itu.
Suatu ketika sebuah benda luar
angkasa jatuh ke area 17 di mana sebelumnya area tersebut dicurigai ada
hubungannya dengan para Scavs. Walaupun sudah dilarang, Jack tetap mendatangi
tempat itu untuk mencari tahu dan menemukan sebuah pesawat luar angkasa yang
mengangkut beberapa manusia yang tertidur di dalam cryo-pods selama enam puluh
tahun. Dan ternyata salah satu korban yang selamat adalah seorang wanita yang
selama ini datang ke dalam mimpi Jack. Jack memutuskan untuk membawa wanita itu
kembali ke Sky Tower 49 dan bertemu dengan Victoria. Tapi betapa kagetnya Jack
karena saat wanita bernama Julia Rusakova (Olga Kurylenko) itu sadar, dia
mengaku sebagai istri Jack.
Masalah yang harus dihadapi Jack
makin rumit ketika dia tertangkap oleh sekelompok Scavs yang ternyata adalah
kelompok manusia yang berhasil bertahan hidup di bumi. Tapi bukannya ingin
bergabung dengan manusia lain di planet Titan, mereka malah ingin memberontak
dan menghancurkan The Tet. Jack semakin bingung tujuh keliling mana kala para
Scavs yang dipimpin oleh Malcolm Beech (Morgan Freeman) menceritakan hal yang
bertolak belakang dengan apa yang dipercayai dan diketahuinya mengenai The Tet
selama ini. Informasi dari manakah yang harus Jack percayai? Dan benarkah Julia
adalah istrinya?
Memang yah, tema yang dipakai
untuk berbagai film boleh saja sama, tapi jika disajikan dengan berbeda akan
menghasilkan film yang sangat layak ditonton dan sama sekali tidak membosankan.
Menurut saya, film Oblivion ini bisa termasuk dalam film kategori ini. Walaupun
menggunakan tema yang sedang ‘in’ saat ini, tapi cara penyajian ceritanya
dibuat dengan unik. Bukannya menceritakan kisah dari sisi tokoh protagonist seperti
yang biasa dilakukan para pembuat film pada umumnya, sang sutradara yang juga
merupakan penulis naskah, Joseph Kosinski, memutuskan untuk menceritakan kisah
ini dari sudut pandang kaki tangan tokoh antagonis.
Tom Cruise memang selalu memilih
cerita yang tidak biasa untuk dia bintangi dan saya sangat salut dengan
kemampuannya membaca cerita dan melihat peluang unik itu. Hampir setiap film
yang dibintanginya memiliki karakter cerita tersendiri yang tidak biasa tapi
menarik. Dan aktingnya pun tidak perlu diragukan lagi. Begitu pula dengan acting
para pemeran lainnya yang tidak kalah bermutu, membuat film ini semakin sayang
untuk dilewatkan.
Awal cerita memang bergulir
dengan cukup banyak teka-teki yang belum terpecahkan dan cukup membuat bingung,
tapi tenang saja, pada akhir cerita semua pertanyaan akan terjawab PLUS dengan
ending yang tidak terduga-duga. Sinematografinya juga indah, grafisnya pun
memanjakan mata dan adegan aksinya cukup mendebarkan. Dengan cerita yang kuat
dan para pemeran yang mumpuni, saya nyaris tidak bisa menemukan kekurangan pada
film ini.
Saya memberikan empat dari lima
bintang untuk film ini. Dan bagi kalian penggemar Tom Cruise yang juga menyukai
film bergenre scince fiction, jangan lewatkan film ini. Pokoknya jangan! (^_^)
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)

.jpg)
.jpg)

