RAPID FIRE QUESTION

wahhh.... saya dapet rangkaian pertanyaan yang menarik banget dari sahabat saya, +Ria Tumimomor
karena pertanyaannya seputar buku dan tulis menulis, jadi saya mau banget ikutan jawab....
ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab, antara lain:

- Pertanyaan WAJIB:
1. nambah atau ngurangin timbunan buku?
Me: nambah. tapi untungnya saya cukup pemilih soal buku yang saya beli, jadi nambahnya nggak terlalu banyak. kecuali dapet buku bagus yang lagi discount. hehehehe...
2. pinjam atau beli buku?
Me: lebih suka beli. lebih bebas bacanya. :D
3. baca buku atau nonton film?
Me: wah susah nih. saya suka dua-duanya. suka banget. tapi saya lebih suka baca buku, sih. lebih seru dan lebih bebas berimajinasi. :)
4. beli buku online atau offline (tobuk yang temboknya bisa disentuh)?
Me: offline,  bisa lebih bebas milih soalnya....
5. (penting) buku bajakan atau ori?
Me: ori dong.... biasanya kualitasnya lebih bagus...
6. gratisan atau diskonan?
Me: diskonan aja deh. soalnya kalo yang gratisan belum tentu buku yang saya mau.
7. beli pre-order atau menanti dengan sabar?
Me: menanti dengan sabar juga nggak masalah....
8. buku asing (terjemahan) atau lokal?
Me: jujur aja, nih. saya lebih suka buku terjemahan soalnya materinya (biasanya) lebih menarik.
9. pembatas buku penting atau biasa aja?
Me: kalau ada sih ya bagus, kalo nggak ada juga nggak apa-apa. saya kan punya koleksi bookmark yang lain. hehehe....
10. bookmarks atau bungkus chiki?
Me: maksudnya apa yah ini? kalo buat buku ya mendingan bookmark, tapi kalo lagi laper yah chiki aja deh! :D

- Pertanyaan tambahan:
1. novel atau komik?
Me: dulu sih dua-duanya, sekarang lebih suka novel.
2. disampul atau nggak?
Me: disampul dong... biar covernya awet!
3. notes FB atau blog?
Me: defenitely BLOG!
4. cover atau sinopsis?
Me: sinopsis. cover bisa menipu!
5. dijual atau disumbangkan?
Me: pengennya sih dijual biar bisa beli buku baru lagi. hehehehe.... XD

- Pertanyaan tambahan dari Sista Ria:
1. Facebook atau Twitter?
Me: Twitter. di facebook udah banyak yang nyebelin. paling cuma share twit aja ke FB.
2. tidur di angkot atau membaca di angkot?
Me: tidur. baca di dalam angkot suka bikin pusing.
3. mengetik atau menulis?
Me: menulis, ada sensasi lebih dari pada mengetik walaupun tetep aja ujung-ujungnya harus mengetik juga. hehehehe....
4. lebih enak buku atau e-book?
Me: buku. baca e-book terlalu lama bisa bikin pusing dan sakit mata. entar minus mata bisa nambah lagi.....
5. buku baru atau baju baru?
Me: BUKU DONGGGGG..... udah beli buku baru beli baju. hahahaha....

yes, udah dijawab! saya nggak bakal nge-tag yang lain deh. kan saya baik.... apa coba...
buat kalian yang mau menjawab pertanyaan macam ini, silahkan bikin di blog masing-masing dan mention linknya ke saya via twitter @black_rabbit13. nanti saya RT deh... (^_^)

LAWLESS


Hai! Ketemu lagi di rublik review film. Jangan bosen baca review film saya yang suka ngaco ini, yah… J
Kali ini saya akan membahas sebuah historical crime drama film yang baru saja saya tonton hari Sabtu kemarin, judulnya Lawless.
Film ini menceritakan kisah mengenai keluarga Bondurant pada tahun 1931 yang memproduksi minuman keras sejenis Whiskey terenak dan cukup terkenal di wilayah Franklin Country, Virginia. Di daerah tersebut keluarga Bondurant memang termasuk keluarga yang disegani dan terkenal sebagai keluarga keturunan Indian yang bersifat keras, kuat dan ‘tidak bisa mati’. Sang kakak tertua, Howard Bondurant (Jason Clarke), terkenal sebagai seorang kakak yang sangat melindungi adik-adiknya. Sedangkan anak kedua, Forrest Bondurant (Tom Hardy) begitu idealis, karismatik dan cukup ditakuti semua orang. Sementara itu, anak bungsu keluarga Bondurant, yaitu Jack Bondurant (Shia LaBeouf) sedang berada di usia puber di mana keinginan untuk membuktikan diri dan ‘menyamaratakan’ namanya dengan kedua kakaknya begitu menggebu-gebu. Tapi keinginan tersebut malah sering kali membuatnya terjerumus pada keadaan sulit.
Suatu ketika, seorang petugas perwakilan dari Virginia Commonwealth Attorney Mason Wardell bernama Charley Rakes (Guy Pearce) datang ke wilayah tersebut untuk meminta pajak yang cukup besar kepada para pengusaha di daerah tersebut. Forrest yang cukup keras kepala dan idealis sama sekali tidak ingin membayar dan mengancam akan membunuh Rakes jika dia berani datang menemuinya lagi. Tapi Rakes tidak menyerah begitu saja. Dengan bantuan Sheriff dan petugas lain yang terpaksa mematuhinya, Rakes mengintai keluarga Bondurant untuk mengetahui tempat pembuatan minuman keras mereka yang terkenal itu.
Sementara itu, Jack yang masih berniat membuktikan diri kepada kedua kakaknya mencoba membuat minuman baru yang jauh lebih enak dengan bantuan sahabatnya: Criket Pate (Dane DeHaan). Tapi karena masih begitu ceroboh, Rakes malah menemukan gubuk tempat Jack dan Criket menyuling minuman mereka dan memukuli Jack. Jack kembali kepada kedua kakaknya dengan wajah babak belur dan mengirimkan pesan bahwa Rakes ingin Forrest tunduk kepada perintahnya. Tapi tentu saja Forrest tidak mau. Tindakan Forrest yang keras kepala ini membuat Rakes semakin kesal. Dia membayar dua orang preman untuk datang ke restoran keluarga Bondurant dan mengganggu pramusaji mereka yang baru: Maggie Beauford (Jessica Chastein). Forrest yang diam-diam menaruh hati kepada Maggie memukul kedua preman tersebut dan mengusir mereka. Tapi saat restoran itu sudah tutup, kedua preman itu kembali untuk menggorok leher Forrest dan memperkosa Maggie.
Saat Forrest sedang dalam masa pemulihan, Jack merasa mendapat kesempatan untuk membuktikan diri kepada kedua kakaknya. Dia menjual semua persediaan minuman keras yang sudah dikumpulkan Forrest kepada seorang gangster bernama Floyd Banner (Gary Oldman) dengan harga dua kali lipat. Dan bukan hanya itu, Floyd juga memberikan alamat kedua preman yang telah menganiyaya Forrest dan Maggie sehingga Forrest dengan bantuan Howard bisa membunuh preman-preman itu untuk membalas dendam. Walau pada awalnya Forrest dan Howard begitu kesal dengan kelancangan sang adik, tapi pada akhirnya Floyd Banner menjadi pelanggan tetap mereka. Dengan harga yang lebih mahal dan jumlah pesanan yang banyak, kakak beradik Bondurant akhirnya mampu mengembangkan produksi minuman keras mereka menjadi lebih besar dan berhasil mengumpulkan lebih banyak uang lagi.
Rakes naik pitam mengetahui hal ini. Dengan mengikuti Jack yang membawa pacarnya, Bertha Minnix (Mia Wasikowska) ke tempat penyulingan terbesar mereka di pinggir hutan, Rakes menggerebek tempat itu, meledakkannya sehingga rata dengan tanah dan membunuh Criket. Hal ini membuat seluruh anggota keluarga Bondurant marah sehingga pertempuran berdarah pun tak bisa dihindari lagi.
Film yang disutradarai oleh John Hilcoat, salah seorang sutradara asal Australia yang cukup menjanjikan ini terasa begitu pas untuk saya. Saya suka ceritanya yang diangkat dari sebuah novel berjudul The Wettest Country In The World karangan Matt Bondurant yang memang diambil dari kisah nyata sang kakek beserta paman sang penulis sendiri. Alurnya juga tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat, dengan detail cerita yang rapi, dialog yang mudah dimengerti dan twist yang tidak berlebihan. Setting cerita juga bagus, dengan costum dan make up yang pas. Para tokohnya juga unik dengan karakter tokoh yang terbentuk kuat. Apa lagi para actor dan actress yang berperan di dalam film ini memang sudah tidak perlu diragukan lagi kemampuan beraktingnya, sehingga emosi penonton dapat tercipta dengan baik. Saya secara pribadi ingin ‘mengangkat topi’ setinggi-tingginya untuk acting Tom Hardy dan Guy Pearce yang spectacular di film ini.
Memang adegan kekerasan dan pertumpahan darah dalam film ini cukup sadis dan bisa membuat bulu kuduk merinding, tapi saya sempat merasa heran karena film yang menyandang rating R (Resticted) ini justru tidak terlalu menonjolkan unsur nuditynya. Sejujurnya, kenyataan yang satu ini membuat saya senang karena selama saya menonton film bioskop, sebagian besar film dengan genre serupa akan dengan senang hati  menambahkan adegan nude sebagai salah satu daya tariknya. Tapi bahkan costum para actress pun tidak menonjolkan keseksian yang terlalu berlebihan atau dibuat-buat. Paling tidak dengan begini saya yakin film ini digarap dengan serius.
Saya dengan senang hati memberikan empat dari lima bintang untuk film ini. Dan dengan jajaran nama besar lain yang muncul, seperti Gary Oldman yang legendaries, Shia LeBauf yang sedang naik daun dan juga Jessica Chastain yang baru saja memenangkan Golden Globe Awards untuk kategori Best Actress-Drama dan Best Actress In a Movie pada Critics’ Choice Movie Awards, film ini tentunya akan sangat sayang untuk dilewatkan. Apa lagi bagi kalian penggemar historical movie yang penuh drama serta action sekaligus.



IRON MAN 3


Apa yang kalian harapkan dari film superhero yang menampilkan tokoh yang sama untuk ketiga kalinya di bioskop? Sebuah prekuel mungkin? Atau sebuah sekuel lain yang menampilkan musuh yang jauh lebih kuat atau jauh lebih terkenal dari pada dua film sebelumnya? Well, kurang lebih pertanyaan semacam inilah yang memenuhi otak saya saat mendengar bahwa salah satu film superhero jebolan Marvel, Iron Man, akan dirilis pada akhir bulan April ini.
Film yang kali ini disutradarai oleh Shane Black yang sebelumnya menyutradarai Kiss Kiss Bang Bang pada tahun 2005 ini masih menceritakan kisah seputar Tony Stark (Robert Downey Jr.) dengan alter egonya sebagai Iron Man. Pada film ketiga ini, Tony mengalami hubungan yang tidak terlalu harmonis dengan kekasih/assistentnya, Virginia ‘Pepper’ Potts (Gwyneth Paltrow) karena Tony terlalu berlebihan mengurusi armor-armornya. Walaupun pada akhirnya Tony malah menjadikan Pepper sebagai CEO Stark Industries tapi Pepper tetap merasa Tony masih kurang memperhatikannya.
Sementara itu, Tony dihadapkan oleh kesalahan masa lalunya di mana pada penghujung tahun 1999 lalu dia dengan seenaknya membuat seorang penemu bernama Aldrich Killian (Guy Pearce) menunggu di atas gedung hotel yang dingin pada malam tahun baru sendirian. Tadinya Tony mengatakan bahwa dia berniat mendanai penelitian yang dilakukan Aldrich, tapi Tony malah menghabiskan waktu dengan Dr. Maya Hansen (Rebecca Hall) yang merupakan seorang Botanis. Merasa sakit hati karena tidak ditanggapi, Aldrich berusaha mengembangkan penelitiannya sendiri dan bertahun-tahun kemudian datang ke Stark Industries untuk ‘membalas dendam’ dengan menawarkan penelitiannya lagi kepada Pepper yang merupakan CEO baru di perusahaan besar itu. Tidak disangka bahwa ternyata sebelumnya Pepper dan Aldrich pernah menjalin hubungan.
Di lain pihak, sebuah terror terjadi dalam pemerintahan Amerika. Seseorang yang mengaku bernama Mandarin (Ben Kingsley), meng-hack semua stasiun televisi dan menyiarkan aksi terorisme yang dilakukannya untuk mengancam Presiden Ellis. Semua pemboman yang dilakukan Mandarin merupakan pemboman yang tidak biasa karena keberadaan bom tersebut tidak bisa terdeteksi dan tidak ada jejak yang ditinggalkan selain bayangan hitam para korban yang seolah lenyap ditelan api bersuhu 3000°C. Kemudian Mandarin berhasil menjebak Col. James Rhodes (Don Cheadle) yang digunakan pemerintah Amerika sebagai Iron Patriot/War Machine dan menangkapnya lalu menggunakan armor itu untuk menculik Presiden Ellis yang sedang berada di dalam Air Force One. Aksi terror Mandarin tidak hanya sampai di situ. Dilatarbelakangi dengan kekesalan Tony karena salah satu bodyguard paling setianya menjadi korban bom misterius itu, Tony dengan penuh emosi menantang Mandarin untuk mendatangi alamatnya sehingga dia ‘dihadiahi’ penyerbuan besar-besaran yang mengakibatkan rumah Tony beserta isinya hancur berantakan.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya? Apakah kali ini Iron Man akan benar-benar berakhir? Dan bagaimana hubungannya dengan Pepper? Dan juga bagaimana nasib Presiden Ellis yang disandera oleh Mandarin?
Sebelum saya melanjutkan untuk ‘membedah’ film ini, perlu saya kabarkan bahwa sebelum menonton film ini di bioskop, sebuah stasiun televisi sudah sangat baik hati menayangkan dua film Iron Man sebelumnya berturut-turut sehingga otak saya merasa disegarkan kembali. Dan otomatis akan lebih mudah bagi saya untuk membandingkan film terbaru dengan kedua film sebelumnya. Jadi, bersiap-siap saja yah, pembedahan saya kali ini sepertinya akan cukup ‘menyakitkan’. Hohohohoho…. *evil laugh*
Oke, dari mana saya harus memulai? Oh, seperti biasa, saya akan mulai dengan membedah ceritanya terlebih dahulu. Dan satu kata untuk film Iron Man 3 kali ini: kacau. Ide cerita mengenai terorisme sebenarnya merupakan ide yang menarik, tapi bumbu dendam pribadi yang ditambahkan malah membuat ceritanya bertambah aneh. Alurnya kacau, kadang melompat-lompat ke sana kemari. Terlalu banyak adegan kebetulan, juga penuh dengan joke yang sama dengan dua film sebelumnya sehingga terasa basi. Dialognya tidak terlalu mudah dimengerti. Bayangkan jika kalian tidak diingatkan kembali pada dua film sebelumnya sementara cukup banyak unsur joke atau dialog yang berkaitan dengan kedua film tersebut tapi tidak mendapatkan penjelasan yang cukup. Saya rasa penonton akan cukup bingung dibuatnya. Juga cerita yang cukup rumit ini membuat film ini tidak cocok bagi anak-anak.
Tokoh yang dihadirkan terlalu banyak sehingga karakter masing-masing tokoh tidak bisa tergali dengan baik. Walau begitu, seperti biasa, animasinya masih patut diacungi jempol. Tapi beberapa armor tambahan hanya mampu memukau saya sebentar saja dan akhirnya terlupakan. Dan apa yang terjadi dengan tokoh antagonisnya?! Aduh, saya berusaha untuk tidak memberi terlalu banyak spoiler di sini, tapi saya tidak tahan untuk tidak menjerit tentang hal ini: KENAPA MANDARIN MENJADI SEPERTI ITU?!?! Memang saya tidak terlalu kenal sosok Mandarin sebelumnya, saya hanya tahu bahwa Mandarin adalah tokoh antagonis utama dalam komik Iron Man. Dengan begitu, saya kira tokoh ini akan begitu memukau, tapi ternyata…. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa acting Ben Kingsley tidak bagus, malah menurut saya actingnyalah yang paling memukau di sini. Tapi, sekali lagi, kenapa Mandarin jadi seperti itu, sih?!?!?!
Belum lagi, menurut saya, endingnya terlalu memaksakan dan tidak masuk akal. Ada begitu banyak pertanyaan yang menggantung di dalam hati dan tidak ada perasaan puas saat film ini selesai saya tonton. Oh iya, jika kisah para tokoh superhero Marvel ini diurutkan, maka Iron Man 3 seharusnya merupakan kisah kelanjutan setelah kisah The Avenger terjadi. Ini bisa dibuktikan dengan sedikit trauma yang dirasakan Tony Stark di film ini, walaupun mungkin fakta ini tidak bisa ditangkap penonton dengan mudah. Tapi kok, Tony sama sekali tidak menyinggung mengenai superhero yang lain? Atau bahkan nama salah satu tokoh The Avenger pun tidak. Bahkan S.H.I.E.L.D pun berperan sangat sedikit di film ini. Itu merupakan salah satu pertanyaan yang tidak saya temukan jawabannya bahkan setelah film ini selesai.
Mungkin sebelumnya saya terlalu banyak berekspektasi pada film ini. Atau mungkin saya sudah terlalu banyak mendapat beberapa bocoran adegan kerennya melalui berbagai preview dan iklan yang beredar sehingga akhirnya saat saya menonton adegan itu secara langsung, tidak ada lagi sensasi takjub yang saya rasakan. Dan yang lebih disayangkan lagi, ternyata tidak ada adegan wow lain yang disisakan untuk bisa memukau penonton lagi.
Mohon maaf untuk para penggemar Iron Man yang membaca review saya kali ini, tapi dengan sangat terpaksa saya hanya memberika dua setengah dari lima bintang untuk film ini. Eit, jangan marah-marah dulu. Saya juga termasuk salah satu fans Iron Man dan Robert Downey Jr. tapi saya tetap harus menilai secara objectif dan seperti inilah penilaian saya. Yah, sebagai tambahan saja nih, partner saya sampai mengatakan kalau di film Superman berikutnya tokoh Lex Luthor yang merupakan antagonis utama mendapatkan nasib yang sama dengan Mandarin, dia akan ‘membunuh’ sutradaranya. Sebagai penggemar berat Superman sekaligus Lex Luthor, saya rasa dia cukup serius :D.

THE TWO RINGS 1st PARAGRAPH


My name is Caraveena, twenty-years-old girl with curls wavy long hair, dazzling brown eyes, and an expression that people say as God's most perfect sculpture. That means I’m pretty. Well, it’s because I was one of Malaveena and Antonius Veena’s daughter, a pair of legendary sorcerers who is not only known for their position at the Government but also with their position at society. They were very amazed and respected by all the peoples who lives at Merlin. But no matter how famous they are, my parents can’t resist to have a daughter like me, because I do not like my eldest brother or my little sister, nor like all sorcerers in this town. I’m not a sorcerer, I’m an oracle.

please visit our link at goodreads here: http://www.goodreads.com/book/show/13496819-the-two-rings

OBLIVION


Ternyata film mengenai bumi setelah ‘kiamat’ memang sedang menjadi tema yang banyak dipakai saat ini, yah. Buktinya setelah the Host dan Cloud Atlas, bahkan film terbaru Will Smith akan datang yang berjudul After Earth mengambil tema yang sama, yaitu: post apocalyptic, masa di mana kemanusiaan di bumi terancam musnah karena sebuah kejadian, entah itu penyerangan alien, bencana alam, perang nuklir atau penyebaran virus dan lain sebagainya. Nah, film terbarunya Tom Cruise ini menggunakan tema yang sama.
Kisah film yang berdurasi cukup singkat (hanya 124 menit) ini terjadi sekitar tahun 2077. Enam puluh tahun yang lalu, bulan diserang oleh sekelompok alien pemakan bangkai yang dikenal dengan sebutan Scavengers (Scavs). Keadaan bulan yang hancur itu mempengaruhi bumi, di mana dengan tidak adanya bulan, bumi mengalami serangkaian tsunami, gempa bumi dan berbagai bencana alam lain yang nyaris menghancurkan bumi itu sendiri. Segelintir manusia yang selamat mengungsi ke planet Titan, salah satu satelit planet Saturnus. Sementara itu, enam puluh tahun kemudian, bumi hanya dihuni oleh beberapa orang yang bertugas untuk mengawasi para robot yang menjaga beberapa mesin tambang. Mesin-mesin itu berfungsi untuk menyedot air laut yang akan digunakan di planet Titan. Semua robot dan mesin-mesin itu berada di bawah kendali sebuah stasiun luar angkasa bernama ‘The Tet’ yang mengorbit bumi menggantikan bulan.
Jack Harper (Tom Cruise) adalah salah seorang teknisi yang bertugas di Sky Tower 49 bersama Victoria Olsen (Andrea Riseborough). Tugas mereka adalah memperbaiki para robot pengawas yang rusak dan juga mencari berbagai robot yang hilang atas perintah Sally (Mellisa Leo) yang ada di The Tet. Hubungan mereka begitu dekat sehingga mereka terlibat jalinan asmara, tapi ternyata cita-cita mereka bertolak belakang. Sementara Victoria sudah sangat tidak sabar untuk kembali ke ‘rumah’ di planet Titan dalam dua minggu lagi, Jack malah merasa ragu. Walaupun sudah akan hancur, Jack merasa bahwa bumi tetaplah tanah airnya.
Selama berkeliling untuk mencari para robot yang rusak atau hilang, Jack sering kali menemukan berbagai benda yang mengingatkannya kepada kehidupan di bumi pada masa lalu. Semua barang-barang itu dia simpan di sebuah kabin yang dibangun di lembah hijau yang tidak sengaja dia temukan. Selain itu, beberapa waktu belakangan Jack mendapatkan mimpi aneh mengenai seorang wanita. Walaupun Jack sadar ingatan tentang masa lalunya dihapus guna kepentingan misi yang sedang ditugaskan kepadanya dan Victoria, tapi Jack merasa wanita itu sangat penting baginya walaupun dia tidak bisa mengingat siapa wanita itu.
Suatu ketika sebuah benda luar angkasa jatuh ke area 17 di mana sebelumnya area tersebut dicurigai ada hubungannya dengan para Scavs. Walaupun sudah dilarang, Jack tetap mendatangi tempat itu untuk mencari tahu dan menemukan sebuah pesawat luar angkasa yang mengangkut beberapa manusia yang tertidur di dalam cryo-pods selama enam puluh tahun. Dan ternyata salah satu korban yang selamat adalah seorang wanita yang selama ini datang ke dalam mimpi Jack. Jack memutuskan untuk membawa wanita itu kembali ke Sky Tower 49 dan bertemu dengan Victoria. Tapi betapa kagetnya Jack karena saat wanita bernama Julia Rusakova (Olga Kurylenko) itu sadar, dia mengaku sebagai istri Jack.
Masalah yang harus dihadapi Jack makin rumit ketika dia tertangkap oleh sekelompok Scavs yang ternyata adalah kelompok manusia yang berhasil bertahan hidup di bumi. Tapi bukannya ingin bergabung dengan manusia lain di planet Titan, mereka malah ingin memberontak dan menghancurkan The Tet. Jack semakin bingung tujuh keliling mana kala para Scavs yang dipimpin oleh Malcolm Beech (Morgan Freeman) menceritakan hal yang bertolak belakang dengan apa yang dipercayai dan diketahuinya mengenai The Tet selama ini. Informasi dari manakah yang harus Jack percayai? Dan benarkah Julia adalah istrinya?
Memang yah, tema yang dipakai untuk berbagai film boleh saja sama, tapi jika disajikan dengan berbeda akan menghasilkan film yang sangat layak ditonton dan sama sekali tidak membosankan. Menurut saya, film Oblivion ini bisa termasuk dalam film kategori ini. Walaupun menggunakan tema yang sedang ‘in’ saat ini, tapi cara penyajian ceritanya dibuat dengan unik. Bukannya menceritakan kisah dari sisi tokoh protagonist seperti yang biasa dilakukan para pembuat film pada umumnya, sang sutradara yang juga merupakan penulis naskah, Joseph Kosinski, memutuskan untuk menceritakan kisah ini dari sudut pandang kaki tangan tokoh antagonis.
Tom Cruise memang selalu memilih cerita yang tidak biasa untuk dia bintangi dan saya sangat salut dengan kemampuannya membaca cerita dan melihat peluang unik itu. Hampir setiap film yang dibintanginya memiliki karakter cerita tersendiri yang tidak biasa tapi menarik. Dan aktingnya pun tidak perlu diragukan lagi. Begitu pula dengan acting para pemeran lainnya yang tidak kalah bermutu, membuat film ini semakin sayang untuk dilewatkan.
Awal cerita memang bergulir dengan cukup banyak teka-teki yang belum terpecahkan dan cukup membuat bingung, tapi tenang saja, pada akhir cerita semua pertanyaan akan terjawab PLUS dengan ending yang tidak terduga-duga. Sinematografinya juga indah, grafisnya pun memanjakan mata dan adegan aksinya cukup mendebarkan. Dengan cerita yang kuat dan para pemeran yang mumpuni, saya nyaris tidak bisa menemukan kekurangan pada film ini.
Saya memberikan empat dari lima bintang untuk film ini. Dan bagi kalian penggemar Tom Cruise yang juga menyukai film bergenre scince fiction, jangan lewatkan film ini. Pokoknya jangan! (^_^)