CLOUD ATLAS


Pada review film saya sebelumnya, saya mengutip quote dari partner saya yang mengatakan: “Film bukan hanya dilihat dari segi actionnya saja, tapi juga dari segi cerita.” Dan ternyata pada film berikut yang saya tonton bersama partner saya itu, hal ini terbukti.
Weekend kemarin kami memutuskan untuk menonton Cloud Atlas, sebuah film dengan multiple sutradara, multiple stories, multiple era dan multiple plot. Film berdurasi 171 menit yang diadaptasi dari sebuah novel buah karya David Mitchell dengan judul yang sama ini disutradarai oleh dua bersaudara Lana dan Andy Wachowski yang sudah terbukti sangat sukses menyajikan trilogy The Matrix yang fenomenal. Dan bukan hanya Wachowski bersaudara saja, tapi kursi penyutradaraan juga disandangkan pada Tom Tykwer, seorang sutradara asal Jerman yang juga sukses menyutradarai berbagai film, termasuk Run Lolla Run dan Perfume: The Story of a Murderer yang dipuji banyak kritikus.
Film ini menceritakan enam kisah yang berbeda di mana keenam kisah tersebut terjadi pada era yang berbeda dengan tokoh yang berbeda pula. Berikut saya coba jabarkan kisahnya satu per satu.
Pertama, kisah yang terjadi pada tahun 1849. Seorang pengacara yang berasal dari San Fransisco bernama Adam Ewing (Jim Sturgess) melakukan perjalanan bisnis ke Chatham Island sebagai utusan ayah mertuanya, Haskell Moore (Hugo Weaving). Tapi dalam perjalanannya dia tidak sengaja meyaksikan penyiksaan terhadap seorang budak bernama Autua (David Gyasi) yang membuatnya pingsan. Dr. Henry Goose (Tom Hanks) berusaha menolong Adam dengan mengatakan bahwa dia terserang penyakit dari sebuah cacing di tubuhnya. Padahal Dr. Hendry hanyalah seorang pembohong yang meracuninya dengan perlahan untuk mendapatkan kekayaan Adam. Sementara itu dalam perjalanan kembali ke San Fransisco dengan keadaan yang tidak sehat, Adam bertemu lagi dengan Autua. Sang budak menjadi penumpang gelap di kapal itu dalam usahanya melarikan diri dari perbudakan. Saat Ewing mengetahui keberadaannya, sang budak memintanya untuk membujuk kapten kapal agar tidak melemparkannya ke laut karena sudah berani menjadi penumpang gelap. Tanpa disengaja Adam berhasil meyakinkan kapten kapal yang ternyata merupakan keputusan yang tepat karena Autua akan berperan sangat penting dalam hidupnya.
Kisah kedua terjadi pada tahun 1936 yang menceritakan mengenai kisah seorang musisi Inggris biseksual miskin bernama Robert Forbisher (Ben Whishaw). Dia memutuskan untuk meninggalkan kekasihnya, Rufus Sixsmith (James D’Arcy) dan bekerja para seorang composer tua bernama Vyvyan Ayrs (Jim Broadbent). Sambil bekerja membantu Vyvyan dalam menciptakan berbagai music, Robert berharap suatu saat dia akan bisa membuat musicnya sendiri. Dan kerja kerasnya itu akhirnya membuahkan hasil. Robert berhasil menciptakan sebuah simfoni yang dia beri judul ‘Cloud Atlas Sextet’. Mengetahui keberhasilan anak buahnya, Vyvyan tidak terima dan  menuntut namanya ikut dicantumkan sebagai salah satu penciptanya. Tentu saja Robert tidak setuju dan mereka pun bertengkar hingga dengan tidak sengaja Robert menembak Vyvyan hingga meninggal. Dalam keadaan kalut, Robert kabur dan akhirnya memutuskan untuk bunuh diri dengan meninggalkan surat-surat yang ditujukan kepada kekasihnya: Rufus.
Berikutnya menceritakan kisah yang terjadi pada tahun 1973 mengenai seorang jurnalis bernama Luisa Rey (Halle Berry). Gadis ini bertemu dengan Rufus Sixsmith tua (James D’Arcy) yang telah berprofesi sebagai peneliti tenaga nuklir. Rufus menawarkan berita kepada Luisa mengenai sebuah reactor nuklir yang dimiliki oleh Llyod Hooks (Hugh Grant). Tapi belum sempat memberikan info yang dimaksud, Rufus dibunuh oleh seorang pembunuh bayaran yang disewa Hooks bernama Bill Smoke (Hugo Weaving). Lalu Rey bertemu dengan seorang peneliti lain bernama Isaac Sachs (Tom Hanks) yang mau membantunya, tapi Isaac juga dibunuh oleh Smoke sementara Luisa sendiri ditabrak hingga jatuh dari jembatan. Untungnya nasib baik masih menaungi Luisa. Dia selamat dari maut dan akhirnya mendapatkan bantuan dari Joe Napier (Keith David), salah satu mantan bodyguard Hooks yang ternyata adalah sahabat ayah Luisa.
Kisah keempat terjadi pada tahun 2012 yang menceritakan kisah mengenai seorang penerbit berumur 65 tahun bernama Timothy Cavendish (Jim Broadbent). Hidupnya yang biasa saja tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat saat salah satu penulisnya yang berhasil membuatnya kaya bernama Dermot Hoggins (Tom Hanks) memerintahkan teman-teman premannya untuk meminta sejumlah uang kepada Timothy atas hasil penjualan buku biografinya. Timothy tidak mempunyai uang sebanyak itu. Dengan panic dia meminta bantuan sang kakak, Denholme Cavendish (Hugh Grant) untuk meminjam sejumlah uang. Tapi Denholme yang sudah sangat kesal dengan sang adik malah menjebak Timothy sehingga dia terkurung di sebuah panti jompo. Dengan bantuan dari teman-teman sesama penghuni panti yang juga ingin melarikan diri, Timothy berhasil melarikan diri dan akhirnya membuat sebuah novel yang kemudian difilmkan berdasarkan kisah hidup Luisa Rey.
Yang kelima bercerita mengenai seorang ‘genetically-engineered fabricant’ atau hasil cloning bernama Sonmi-451 (Donna Bae). Kisah ini mengambil setting di Noe Seoul pada tahun 2144 di masa depan, di mana Sunmi sedang diinterogasi sebelum detik-detik hukuman matinya dilaksanakan. Sunmi menceritakan bahwa dia dan beberapa cloning lainnya bekerja pada sebuah restoran cepat saji yang terkenal bernama Papa Song’s yang dikelola oleh Seer Rhee (Hugh Grant). Sebagai cloning, dia bekerja seperti robot dengan jadwal yang sudah ditentukan, wajah yang tanpa ekspresi dan kemampuan berpikir yang nyaris nol. Tapi suatu ketika salah seorang cloning mengajaknya ‘memberontak’ dari Seer Rhee, Sunmi akhirnya bertemu dengan Hae-Joo Chang (Jim Sturgess), seorang komandan pemberontak yang menamai kelompok mereka dengan sebutan ‘Union’. Hae-Joo membantu Sunmi untuk mengetahui tentang hal buruk yang dilakukan manusia terhadap para cloning seperti dirinya dan meminta Sunmi untuk membantu pemberontakan mereka. Tapi yang tidak disangka-sangka, Sunmi malah jatuh cinta kepada Hae-Joo dan akhirnya Sunmi pun setuju untuk membantu Union membeberkan kebenaran tentang perbudakan yang dialaminya.
Dan kisah yang terakhir terjadi di suatu tempat bernama ‘Big Island’ pada 106 winter setelah ‘The Fall’ (dalam novelnya dituliskan tahun 2321). Diceritakan pada masa itu sebuah kelompok primitive bernama The Valley adalah salah satu dari sedikit kelompok manusia yang tersisa di bumi setelah ‘The Fall’ terjadi dan seorang laki-laki bernama Zachry (Tom Hanks) tinggal bersama kakak dan keponakannya dalam kelompok itu. Suatu saat penduduk The Valle kedatangan salah satu anggota ‘Prescients’ bernama Meronym (Halle Berry) yang meminta Zachry menemaninya mendaki sebuah gunung. Di gunung itu terdapat sebuah stasiun komunikasi yang telah lama ditinggalkan yang dipercaya Meronym bisa mengirimkan sinyal bantuan ke luar angkasa. Tapi gunung itu juga dikuasai oleh kelompok kanibal bernama Kona yang mengejar mereka dan juga menghabisi penduduk The Valley. Dan bukan hanya itu, Zachry mempunyai ‘seorang sisi gelap’ dalam dirinya yang bernama ‘Old Gorgie’ (Hugo Weaving) yang sering kali menghasut Zachry untuk melakukan berbagai hal jahat.
Nah, bisa kalian bayangkan bagaimana enam cerita dengan enam plot berbeda dan seting era yang berbeda pula bisa berada dalam satu film? Well, mungkin hanya Wachowski bersaudaralah yang bisa dan berani menyajikan semua itu PLUS mengeksekusinya dengan indah. Semua kisah memang diceritakan sepenggal demi sepenggal dan pada awalnya akan membuat penonton kebingungan. Tapi seiring berputarnya roll film, semua kisah bergulir dengan lincah. Uniknya lagi, semua kisah saling berhubungan, baik itu secara nyata atau hanya hubungan samar yang ternyata cukup berperan penting pada detail cerita. Para tokoh masing-masing memiliki kerekteristik yang kuat, dengan kisah mereka yang unik. Film ini juga menceritakan bagaimana masa lalu, masa kini dan masa depan seseorang dapat saling berhubungan, entah kita menyadarinya atau pun tidak.
Make up yang digunakan dalam film ini pun sangat-amat layak diacungkan empat jempol. Para actor dan aktris yang berperan di dalam film ini harus memerankan begitu banyak tokoh, mulai dari tokoh utama, pemeran pembantu hingga para cameo. Tapi bahkan untuk memerankan seorang cameo saja, para actor dan aktris menggunakan make up yang sangat luar biasa sehingga wajah mereka sulit dikenali lagi. Saya dan partner saya bahkan sangat terkejut saat melihat bahwa beberapa pemeran pembantu unik di dalam film ternyata diperankan oleh salah satu pemeran utamanya. Benar-benar luar biasa.
Memang tidak ada cukup banyak adegan action dalam film ini. Dan bahkan saya sangat yakin untuk sebagian besar penonton film ini akan terasa sangat membosankan dan membingungkan. Tapi dari segi cerita, film ini sangat kuat. Para penonton benar-benar diberi kebebasan untuk merangkai semua cerita dan mencari hubungan antar cerita itu sendiri. Bagi saya dan partner saya, sepanjang film kami juga cukup sibuk menebak-nebak siapa yang memerankan setiap tokoh unik di dalam film ini, dan itu cukup menyenangkan.
Saya dengan senang hati memberikan empat dari lima bintang untuk film ini. Para actor dan aktris terkenal yang berperan di dalamnya seperti Tom Hanks, Halle Berry, Jim Broadbent, Hugo Weaving, Jim Sturgess, Ben Whishaw, James D’Arcy, Susan Sarandon dan lain-lain memang sangat menentukan keberhasilan film ini. Tapi cara pengambilan gambar yang bagus, efek yang menakjubkan, scenario yang indah, juga cerita yang menarik, plot yang unik dan make up yang luar biasa pun sangat-amat mengagumkan. Saran saya sih, bagi kalian yang tidak terlalu suka menonton film dengan tema yang cukup ‘berat’, lebih baik hindari film ini. tapi untuk kalian yang ingin mencari suasana baru dalam menonton film dan tidak hanya mencari serunya adegan action yang penuh kejar-kejaran dan kegiatan penghancuran, film ini adalah salah satu rekomendasi terbaik saya. Jadi, silahkan mempertimbangkan dulu matang-matang, yah. (^_^)


THE HOST


Apa yang ada di pikiran kalian jika saya menyebutkan nama Stephenie Meyer? Kisah cinta segitiga antara Vampire ganteng, gadis lugu nan emosional dan seorang Warewolf yang tidak terlalu suka memakai kaos? Bisa saya bayangkan, para cewek akan langsung teringat dengan sosok ganteng dan cantik para pemain dan kisah cinta romantisnya. Dan para cowok pasti akan langsung berdecak kesal dan memutar mata mereka dengan bosan. Tapi eit, tunggu dulu! Kali ini Stephenie Meyer menuliskan kisah baru yang tidak hanya menyajikan sebuah kisah cinta biasa tapi juga menawarkan kisah mengenai makhluk luar angkasa yang unik. Novel yang kali ini ditujukan untuk para pembaca yang lebih dewasa ini berjudul The Host dan seorang sutradara bernama Andrew Niccol yang sudah lebih dulu cukup berhasil menelurkan karya seperti In Time, Gaattaca dan The Truman Show berhasil memfilmkannya.
Kisah ini terjadi dengan latar belakang bumi masa depan di mana saat itu sebagian besar bumi telah berhasil dikuasai oleh makhluk luar angkasa jenis parasit yang disebut ‘Souls’. Tapi tidak seperti alien pada umumnya, alien yang satu ini menginvansi bumi dengan mengambil tubuh para manusia dan menjadikannya inang bagi para Souls. Mereka tidak berniat menghancurkan bumi, tapi mereka ingin tinggal di bumi dan ‘memperbaiki’ bumi dengan menghilangkan semua sisi negative dalam diri manusia. Mereka berperilaku dengan sangat baik, tidak melakukan tindak kejahatan apa pun, tidak saling mencurigai, tidak saling bertengkar dan tidak melanggar hukum. Singkat kata, mereka menjadikan manusia dan bumi menjadi tempat yang lebih baik dari pada sebelumnya.
Tapi tidak semua manusia berhasil ‘diambil alih’ oleh para Souls. Beberapa manusia yang berhasil menyelamatkan diri bersembunyi dan mencoba mencari berbagai cara untuk memberontak. Begitu pula dengan Melanie Stryder (Saoirse Ronan). Dia dan adik laki-lakinya, Jamie (Chandler Canterbury) berhasil selamat dari penangkapan dan secara tidak sengaja bertemu dengan Jared (Max Irons). Mereka bertiga akhirnya bekerja sama dan saling melindungi hingga pada akhirnya Melanie dan Jared pun saling jatuh cinta.
Suatu kelita seorang Seeker (Diane Kruger) dan anak buahnya mengetahui tempat persembunyian mereka. Karena ingin mengalihkan perhatian dan menyelamatkan adiknya, Melanie pun tertangkap. Dalam keadaan sekarat, sebuah Souls bernama Wanderer ‘dimasukkan’ ke dalam tubuh Melanie agar Seeker bisa mengetahui di mana tempat persembunyian para pemberontak yang lain. Tapi Melanie bukanlah seorang gadis yang lemah. Walaupun tubuhnya sudah ‘diambil alih’ tapi jiwanya yang kuat masih tetap memberontak sehingga Wanderer yang akhirnya dipanggil Wanda itu harus terbiasa mendengarkan keluh kesah Melanie di dalam kepalanya. Melanie juga ‘membagi’ semua memorinya mengenai kisah cintanya dengan Jared yang lama kelamaan membuat Wanda bersimpati.
Setelah berdebat dengan dirinya sendiri dan merasakan sikap Seeker yang mulai berubah, akhirnya Wanda bersedia membantu Melanie untuk mencari tempat para pemberontak yang kini dipimpin oleh pamannya, Jeb (William Hurt). Akhirnya Wanda dan Melanie berhasil menemui para pemberontak itu, namun pada awalnya hampir semua orang tidak percaya bahwa Wanda bukan mata-mata alien yang sengaja dikirimkan ke tengah-tengah mereka dan Wanda memang mengenal Melanie yang masih berada ‘di dalam kepalanya’. Tapi pada akhirnya para pemberontak mulai mau menerima keberadaannya. Bahkan Wanda mulai menyukai Ian (Jake Abel) yang baik dan simpatik. Tapi Seeker tidak tinggal diam dengan kepergian Wanda. Semakin lama dia semakin terobsesi untuk mengejar Wanda dan mencari keberadaan para pemberontak sementara kisah cinta yang membingungkan antara Melanie-Jared dan Wanda-Ian semakin bergulir.
Apa saya sudah menyinggung bahwa saya sangat suka dengan kisah yang satu ini? Maksud saya, sejak bukunya terbit dan saya membelinya dengan riang gembira, kisah ini langsung ‘nyantol’ di kepala saya. Ini bukan kisah yang terlalu ringan tapi juga bukan kisah yang rumit. Sebelumnya saya memang sangat suka dengan cara Meyer menulis yang sangat pintar mengaduk emosi para pembacanya, tapi saat saya membaca buku ini, saya langsung jatuh cinta dengan ide ceritanya yang tidak biasa. Memang tema tentang alien sudah menjadi tema umum, apa lagi sejak Superman menjadi sangat populer di seluruh dunia. Tapi di mana kalian bisa membaca kisah romance mengenai alien yang datang ke bumi bukan untuk menjajah melainkan untuk ‘memperbaiki’ bumi? Dan di mana ada kisah alilen yang sifatnya bahkan jauh lebih baik dari pada manusia itu sendiri sehingga membuat posisi manusia menjadi jauh lebih jahat dari pada sifat sang alien yang notabennya penjajah manusia bumi? Itulah yang menjadi keunikan novel yang satu ini.
Tapi menurut saya filmnya sendiri tidak sekelam novelnya. Bahkan cara sang sutradara menuangkan citra para alien yang menggunakan berbagai peralatan termasuk: motor,mobil maupun obat-obatan dengan warna chrome adalah brilian. Beberapa penonton mungkin akan cukup bingung dengan kisah ini pada awalnya karena latar belakang kisah diceritakan sedikit demi sedikit sepanjang film. Dan penonton mungkin akan sedikit mengerutkan kening mendengar perdebatan batin yang dialami Wanda dan Melanie, karena hal ini memang tidak biasa. Tapi pelan dan pasti emosi dan empati para penonton atas sosok Wanda/Melanie dibangun dengan pondasi yang kuat sehingga pada saat lelucon atau ironi kecil terjadi dalam diri sang tokoh utama, para penonton pun akan ikut bereaksi kesal atau tertawa bersama-sama.
Alurnya memang sedikit membingungkan dan para penonton dibiarkan merangkai sendiri tentang berbagai penggalan ingatan Melanie. Tapi karakter para tokohnya dibangun cukup kuat dan para penggemar novelnya pasti akan gembira karena sang sutradara tetap berpegang teguh dengan jalan cerita di novel. Memang ada beberapa adegan percintaan yang terlalu didramatisir dan pastinya akan membuat para cowok mencibir, apalagi film ini memang sangat minim adegan action. Tapi secara garis besar kisahnya yang unik juga mampu membuat para penonton tetap penasaran hingga akhir cerita. Lagi pula, jika dibandingkan dengan Twilight Saga, kisah yang ditampilkan dalam The Host memang jauh lebih menarik.
Sampai sekarang masih menjadi perdebatan tentang bagus atau tidaknya film ini. Sebagian besar kritikus mencibir film ini dengan mengatakan bahwa terlalu banyak adegan ‘cheesy’ di dalamnya dan tidak ada hal istimewa dalam film ini yang layak untuk diapresiasikan lebih. Tapi para penggemar Meyer, termasuk saya sendiri, menganggap bahwa film ini cukup berhasil. Saya rasa film Meyer kali ini terasa ‘lebih Meyer’ dari pada Saga terkenal itu. Dan saya cukup yakin bahkan para penonton cowok pun akan mengatakan bahwa film ini ‘cukup lumayan’. Karena seperti yang dikatakan partner saya: ‘film bukan hanya dilihat dari segi actionnya saja, tapi juga dari segi cerita’, dan The Host cukup berhasil dalam hal ini.
Saya memberikan tiga setengah dari lima bintang untuk film ini. Bukan hanya untuk berbagai alasan yang saya kemukakan di atas, tapi juga untuk acting Ronan yang keren dan juga untuk ending menggantung yang bisa mengindikasikan kisah lanjutannya bergulir. (^_^)


D’PADJADJARAN SPA AND ME: NEW BESTFRIEND


Saya bukan orang yang suka ke salon atau pun spa. Yah, kebanyakan uang yang saya punya dihabiskan untuk membeli buku, sih. Tapi begitu mendapatkan undangan dari D’Padjadjaran Spa Bandung untuk menghadiri acara pembukaannya, saya langsung setuju dan datang bersama dengan teman-teman Blogger yang lain seperti Bang Aswi (@bangaswi), Mbak Nchie (@nchiehanie1), Mbah Alaika (@alaikaabdul), Mbak Evi (@EviSriRezeki), Bang Argun, Bang Edo (@Eduard777) juga Mbak Angela Devina dari Looxperiments (@looxperiment). Dan saya memang tidak menyesal sama sekali karena ternyata D’Padjadjaran Spa Sundanese Spa and Reflexology yang terletak di salah satu mall besar di kota Bandung ini memang sangat menyenangkan untuk dikunjungi.
D’Padjadjaran Spa mengklaim sebagai tempat spa pertama dan satu-satunya di dunia yang menggunakan konsep pemijatan a la Sunda yang disebut peuseul. Tapi, masih banyak nih yang bingung: apa bedanya Spa dan tempat pijat biasa, sih? Menurut sang pemilik, ibu Susi, yang juga berkesempatan menerangkan secara langsung kepada kami mengenai konsep D’Padjadjaran Spa yang dianutnya, bersedia menerangkan. Berbeda dengan tempat pijat biasa, Spa harus terdapat hydro terapinya di mana unsur utamanya berupa air, pijat dan aroma terapi, sehingga seseorang yang mendapatkan perawatan Spa bukan hanya akan merasakan kesehatan raga tapi juga kesehatan jiwanya.
Sesuai dengan konsepnya, D’Padjadjaran Spa menawarkan berbagai macam fasilitas yang kental dengan tema Sunda. D’Padjadjaran Spa memakai ramuan tradisional yang juga digunakan oleh para Putri, Raja dan Ratu kerajaan Pajajaran di mana mereka memang terkenal senang menggunakan berbagai rempah untuk melakukan perawatan baluran, peuseul maupun luwuran dan siraman. Spa ini juga menawarkan suasana khas Sunda yang menyenangkan. Begitu saya masuk, para terapis atau yang disebut juga dengan abdi dalem akan menyapa dengan salam khas Sunda sambil tersenyum ramah. Lalu sebelum mulai, setiap tamu akan mendapatkan pelayanan pencucian kaki seperti yang dilakukan para abdi dalem untuk menghormati Raja dan Ratu mereka. Dan bukan hanya itu saja, setelah melakukan perawatan, para abdi dalem juga akan menyediakan berbagai minuman hangat khas Sunda yang bisa kita pilih, misalnya bajigur, bandrek, atau minuman sejenisnya.

Dekorasinya pun menarik. Suasananya sengaja didesain dengan penerangan yang tidak terlalu terang sehingga meninggalkan kesan remang-remang yang nyaman dan menenangkan. Penggunaan lantai batu dengan dinding bilik yang terbuat dari anyaman bambu, juga berbagai ornament dan tanaman bambu ramping yang juga digunakan sebagai pembatas ruangan membuat kita seolah menyatu dengan alam. Tempat ini juga mengenakan fasilitas dan berbagai furniture yang minimalis tapi elegan. Kimono, celana pendek dan sandalnya pun terbuat dari kain batik yang selalu baru sehingga terasa bersih dan nyaman dipakai. Para abdi dalem tadi berpakaian serba kebaya/sarung dan batik yang bersikap sangat ramah, membuat para pengunjung semakin betah saja.
Macam-macam perawatan Spa yang ditawarkan pun cukup menarik. Pengunjung bisa memilih fasilitas mana saja sesuai selera yang semuanya menggunakan berbagai macam rempah yang diracik langsung oleh ibu Susi sendiri, sang pemilik. Misalnya pada fasilitas Siram Waras Raga para pengunjung akan mendapatkan sensasi perawatan Spa, mulai dari Peuseul (pijatan khas Sunda), Luwuran (Body Scrub), Baluran (Body Mask) dan Mandi Rendaman dengan menggunakan rempah-rempah alami yang dibungkus dalam punch lalu dibungkus dengan daun pisang yang dihangatkan. Unik sekali, yah. Dan ternyata rempah-rempah dan daun pisang itu sangat bermanfaat untuk melancarkan peredaran darah dan melemaskan otot yang kaku setelah beraktifitas, loh.
Tapi ramuan yang digunakan bukan hanya ramuan tradisional saja. Jika kalian tidak terlalu suka menggunakan ramuan jamu-jamuan yang memancarkan bau yang khas itu, kalian bisa memilih menggunakan coklat seperti pada fasilitas Siram Langgeng Arum, green tea pada fasilitas Siram Tepis Wiring, buah-buahan pada fasilitas Siram Endah Raga atau pun susu pada fasilitas Siram Weningsari. Atau kalian tidak punya banyak waktu untuk melakukan spa? Pelayanan MassageSpa dan Reflexology yang ditawarkan di sini juga sangat beragam dan menarik.
Saya mendapatkan kesempatan langka untuk mencoba Yoga Massage. Menurut saya, perawatan yang satu ini memang sangat cocok untuk saya. Sebagai seorang ibu rumah tangga yang harus mengurusi keperluan suami seorang diri dan juga menghabiskan delapan jam sehari di balik meja kantor menghadap computer dan berbagai data sepanjang hari, mendapatkan pelayanan Yoga Massaga sungguh-sangat-amat menyenangkan. Berbeda dengan fasilitas pijat pada umumnya, Yoga Massage adalah cara pemijatan modern yang tidak menggunakan minyak atau ramuan apa pun. Hanya saja, Yoga Massage menggunakan metode pijatan yang cukup keras dengan teknik pijat pada persendian dan peregangan. Selama dua jam, saya mendapatkan pijatan nikmat di setiap persendian yang dapat membantu melancarkan peredaran darah dan menghilangkan pegal-pegal. Bahkan sakit kepala yang sempat saya rasakan beberapa hari belakangan ini pun hilang!
Tidak diragukan lagi, saya dan D’Padjadjaran Spa ini bisa jadi sahabat yang sangat baik. Bagaimana tidak? Setelah pengalaman pertama yang sangat menyenangkan ini, saya tidak akan keberatan untuk datang dan menikmati fasilitas Spa atau Massage lagi di sini. Lagi pula tidak ada batasan umur atau pantangan lain agar bisa mendapatkan fasilitas di sini. Bahkan ibu hamil pun diperbolehkan walaupun tidak dianjurkan untuk ibu yang sedang hamil muda dan tidak disarankan mengambil fasilitas Yoga Massage. Tapi jangan kecewa, masih ada begitu banyak fasilitas Spa dan Massage lain yang bisa dipilih. Lagi pula, D’Padjadjaran Spa ini terdapat di salah satu mall terkenal di Bandung, jadi kalian bisa datang bersama dengan anggota keluarga dan melakukan Spa atau Massage bersama. Atau kalian juga bisa memanjakan diri di sini sendirian sementara anggota keluarga yang lain bisa berjalan-jalan di mall yang menyenangkan ini, kan?
Jadi, langsung saja datang ke Paris Van Java (PVJ) dan kunjungi D’Padjadjaran Spa di “Resort Lifestyle Place” Glamour Level, GL-C-07A dan buktikan sendiri kenyamanannya. (^_^)





THE CROODS


Dream Works Animation kembali meluncurkan film animasi terbaru mereka berjudul: The Croods. Film ini bercerita mengenai sebuah keluarga manusia purba jenis homo neanderthalensis terakhir yang berhasil bertahan hidup di bumi. Keluarga ini terdiri dari sang ayah: Grug (Nicholas Cage), sang istri: Ugga (Catherine Keener), putri sulung mereka: Eep (Emma Stone), putra satu-satunya: Thunk (Clark Duke), adik kecil mereka: Sandy (Randy Thom) dan sang nenek tua: Grand (Cloris Leachman). Selama ini mereka berhasil bertahan hidup karena tinggal di dalam gua selama matahari terbenam dan berburu dengan sangat kompak. Grug berperan sebagai kepala keluarga yang kuat, sangat sayang dan melindungi keluarganya tapi terlalu konservatif dan penuh ketakutan. Untuk menjaga anggota keluarganya dari bahaya, selama ini Grug menceritakan berbagai cerita seram mengenai betapa ‘menakutkannya’ keingintahuan dan gelap. Tapi putri tertuanya, Eep, selalu berusaha kabur dari rumah. Menurut Eep yang sangat senang dengan petulangan dan selalu ingin tahu tentang berbagai hal baru, sang ayah terlalu penakut.
Suatu saat, Eep yang berhasil kabur dari dalam gua pada malam hari tidak sengaja bertemu dengan Guy (Ryan Reynold), salah satu homo sapiens yang lebih pintar. Guy juga sudah biasa menggunakan api, memakai sepatu, memasak dan berjelajah. Guy mengatakan bahwa dia sedang dalam perjalanan menuju tempat yang lebih aman untuk menghindari sebuah ‘akhir dunia’ yang dipercayainya dan Guy dengan senang hati mengundang keluarga Croods pergi dari gua mereka yang nyaman untuk ikut dengannya. Tentu saja, Grug menolak mentah-mentah ajakan Guy. Dengan sombong Grug mengatakan bahwa dia bisa melindungi keluarganya sendiri tanpa bantuan siapa pun.
Lalu tiba-tiba, seperti yang dikatakan Guy sebelumnya, sebuah gempa bumi besar terjadi dan menghancurkan tebing dan gua mereka hingga berkeping-keping, membuat mereka kehilangan tempat tinggal dalam waktu sekejap. Gempa itu juga membuka jalan baru yang menghantarkan mereka pada sebuah ‘dunia baru’, dunia yang selama ini tidak berani mereka jelajahi sebelumnya. Karena tidak ada lagi tempat berlindung yang bisa mereka tinggali, mau tidak mau Grug pun membawa keluarganya memasuki ‘dunia baru’ itu untuk mencari gua yang baru.
Di dunia yang baru itu semuanya kelihatan asing bagi keluarga Croods. Ada begitu banyak tanaman aneh, tempat dan makhluk luar biasa yang sama sekali tidak pernah mereka jumpai sebelumnya. Semua pengetahuan baru ini membuat mereka bingung. Belum lagi semua makhluk itu ternyata tidak bersahabat dan berniat menjadikan mereka santapan. Untunglah Eep membunyikan sebuah terompet dari kerang yang diberikan Guy sebelum dia pergi sehingga Guy datang menyelamatkan mereka tepat pada waktunya.
Tapi kehadiran Guy tidak membuat Grug senang, dan Grug tidak bisa tahan saat menyadari bahwa hampir seluruh anggota keluarganya sangat menyukai Guy yang pintar dan penuh hal baru. Belum lagi, Grug juga baru menyadari bahwa putri sulungnya mulai menyukai Guy dan melupakan Grug sebagai panutannya. Jadi walaupun akhirnya, didorong dengan keputusan anggota keluarga Croods yang lain, Grug mau melanjutkan perjalanan bersama Guy sebagai penunjuk jalan dan mempercayai cerita Guy mengenai ‘akhir dunia’. Tapi sepanjang perjalanan itu Grug merasa tertantang untuk membuktikan kepada pendatang baru ini bahwa dia adalah seorang ayah yang baik dan jauh lebih bisa diandalkan dibandingkan anak ingusan seperti Guy. Yah, tentu saja, perjalanan mereka untuk menyelamatkan diri menjadi jauh lebih menegangkan sekaligus menyenangkan dari pada yang dikira Grug sebelumnya.
Film ini mengambil tema yang cukup sederhana tapi dikemas dengan menarik. Alurnya cepat sehingga tidak membosankan. Penonton diajak untuk tertawa di hampir sepanjang film dengan joke yang segar pada saat yang tepat. Saya juga sangat menyukai twist ceritanya, kejutan-kejutannya dan dialog para tokohnya yang lucu dan karakter para tokohnya yang kuat dan cukup familier. Misalnya tokoh Grug digambarkan sebagai seorang ayah yang sangat protektif pada keluarga dan khususnya anak gadisnya dan selalu berusaha agar citranya sebagai kepala keluarga bisa tetap terjaga, sama seperti sikap para ayah pada umumnya. Istrinya, Ugga, juga digambarkan seperti seorang ibu rumah tangga pada umumnya, yang lemah lembut, lebih berpandangan maju tapi juga sangat melindungi. Ugga juga merupakan sosok ibu yang selalu berusaha menjadi penengah bagi suami dan anak sulungnya yang selalu berselisih pendapat, seperti hubungan ayah dan anak sulung pada umumnya. Sementara itu Eep digambarkan seperti anak remaja biasa, yang penuh dengan rasa ingin tahu, yang senang berpetualang dan mudah jatuh cinta. Ditambah lagi dengan tiga anggota keluarga lain yang tak kalah konyol tapi sangat menghibur.
Oh iya, saya juga sangat menyukai para hewan peliharaan mereka yang sangat-amat menggemaskan. Terutama si sloth: Belt, hewan peliharaan Guy yang bisa mengerti bahasa manusia dan sering kali membantu Guy setiap anak laki-laki itu berada dalam bahaya. Saya juga sangat menyukai seekor Cybertooth yang takut gelap dan hampir saja menjadikan Grug makan malam tapi akhirnya malah menjadi hewan peliharaan Grug. Dan jangan lupa dengan Douglas, hewan peliharaan Thunk yang tidak sengaja dia temukan di dalam labirin batu.
Pokoknya saya suka film ini! Rasanya sudah cukup lama saya tidak menyaksikan film animasi yang bercerita mengenai keluarga manusia dan problematikanya sejak The Incredable. Memang film ini mengambil tokoh para manusia purba di zaman batu, tapi problematika yang mereka alami sangat umum dialami juga oleh para manusia di era modern seperti sekarang ini. Dilihat dari kaca mata tersebut, film ini cukup sarat makna dan nilai positif yang dapat dipetik. Bagaimana sang ayah menyadari bahwa keyakinannya adalah salah dan belajar menerima perubahan baru untuk memperjuangkan keadaan yang lebih baik bagi anggota keluarganya walaupun harus melunturkan ego dan mempertaruhkan nyawanya sendiri. Film ini juga mengajarkan bahwa bagaimana pun sulit dan buruknya situasi yang kita hadapi, kita harus tetap tidak gampang putus asa dan memiliki keyakinan bahwa semua akan ada jalan keluarnya. Akan selalu ada hari esok yang lebih baik.
Dengan senang hati saya memberikan empat dari lima bintang untuk film animasi drama comedy ini karena film ini memang salah satu film yang sangat menyenangkan untuk ditonton bahkan untuk seluruh anggota keluarga.
Jadi, silahkan kunjungi bioskop terdekat di kota anda, tonton filmnya dan selamat menikmati. (^_^)