Ny. Lars – Part 23 -


Black Rabbit
" NY. LARS "
- Part 23 -

 
… Episode sebelumnya …
Hubungan Jenny, Kevin dan Lars semakin membaik, mereka bertiga semakin akrab. Untuk sejenak, Jenny bisa melupakan hubungan dan perasaannya yang membingungkan antara dia dan Lars. Tapi suatu siang Jenny melihat Cherry sedang jalan berdua dengan seorang perempuan tomboy. Siapa perempuan itu, ya? …

 
Ayah Jenny bernama Alexander Muller. Dia seorang pelukis yang cukup terkenal di Jerman, negara asalnya. Setelah berpisah dengan Lili yang sangat dicintainya, Alex memilih hidup sendiri dan mengabdikan dirinya untuk melukis. Kini sang ayah mengajak Jenny menemuinya di studio lukisnya, mengizinkan Jenny datang kapan pun dia mau. Jenny benar-benar gembira mendengar kabar ini. Jadi hari minggu itu, pagi-pagi sekali dia sudah mandi dan berpakaian rapi, dia akan menemui ayahnya.
Studio lukis milik ayahnya berada dipinggir kota, disebuah rumah kayu dipinggir danau. Sebenarnya studio lukis itu adalah villa keluarga Muller. Saat berpisah dengan istrinya, ayah Jenny mendapatkan villa itu sebagai bagian dari harta gono gininya. Karena tidak ada tempat lagi, maka villa itu yang dijadikan sebagai studionya. Perlu waktu sekitar satu jam untuk sampai ke villa itu, dan begitu sampai Jenny langsung disambut oleh Mbok Ilah yang sudah menjaga villa itu dari dulu dan sekarang sudah menjadi pembantu ayahnya.
" Ya ampun, neng… Apa kabar? Udah lama nggak ketemu, neng makin cantik aja… "
" Makasih, mbok… " Jenny tersenyum. " Ayah mana, mbok? "
" Ada di studio, neng. " Jenny melangkah ke studio, tapi mbok Ilah buru-buru menghentikannya. " Katanya, Tuan nggak boleh diganggu. "
" Kenapa? "
" Tuan lagi ada tamu. " Jawab mbok Ilah dengan sedikit berbisik.
" Tamu? Yang mobilnya ada di depan, ya? " Mbok Ilah mengangguk. Tadi Jenny memang melihat ada sebuah mobil di tempat parkir. " Nggak pa-pa deh, mbok. Kan Jenny mau ngasih kejutan… "
" Tapi, neng… "
Terlambat. Jenny sudah melangkah tanpa bisa di hentikan lagi.
Jenny melenggang melewati ruangan-ruangan kayu yang sudah sangat dirindukannya. Sudah hampir dua tahun dia tidak kesana menemui ayahnya, bukan karena dia tidak merindukan ayahnya, tapi lebih karena dia menghormati kesendirian ayahnya. Ayahnya memang seorang penyendiri, dia lebih suka menghabiskan waktunya dengan melukis sendirian. Karena itu, Jenny hanya mau menemui ayahnya kalau ayahnya itu memanggilnya datang.
Jenny masih berjalan melewati ruangan-ruangan yang penuh dengan wangi lilin dan cat ke pintu di pojok ruangan yang besar. Tanpa mengetuk lebih dulu, Jenny masuk dan langsung berteriak: " Ayah! "
Tapi pemandangan yang menyambut teriakannya membuatnya langsung terdiam. Jenny melihat ayahnya duduk di balik kanvas besar, menggenggam sebuah kuas di tangan kiri (ayahnya kidal) dan palet di tangan kanannya. Seperti biasa, ayahnya mengenakan topi baret kotak-kotak berwarna hijau tua dan celemek lusuh yang sudah dipenuhi noda cat berwarna-warni. Dan sebuah kaca mata bergagang tanduk menutupi mata birunya.
Pemandangan didepan ayahnya-lah yang membuat Jenny tercengang-cengang. Terdapat dua orang wanita disana, berbaring di atas tempat tidur rotan yang diselimuti kain putih dan bantal-bantal berwarna putih juga. Sepertinya kedua wanita itu sedang berpose: satu wanita berambut panjang tidur diatas kasur tanpa busana, badannya yang coklat mulus hanya ditutupi selembar kain putih dari dada sampai pahanya; disampingnya terdapat wanita yang lebih tinggi tidur disamping wanita yang pertama, juga tidak mengenakan apa-apa, juga diselimuti kain putih yang sama. Mereka berdua saling berpelukan dengan sangat mesra. Jenny tidak pernah melihat adegan se-vulgar ini, apa lagi di rumah ayahnya. Lagipula kedua wanita itu adalah orang yang dikenalnya: yang berambut panjang Jenny yakini sebagai Cherry dan wanita yang lain adalah wanita yang sama yang dilihatnya bersama Cherry di depan restoran beberapa hari yang lalu.
Kedua wanita itu dan ayahnya menatap Jenny dengan wajah terkejut yang sama.
" Jenny, kok dateng nggak telepon dulu? " Tanya ayahnya.
" Kata ayah, Jenny boleh datang kapan aja, jadi Jenny pikir… " Jenny tidak bisa menyelesaikan perkataannya, dia sedang sibuk menelaah wajah Cherry dan mencari kebenaran kalau dia tidak salah lihat.
" Ya udah, gua masih ada tamu, kamu tunggu aja di kamar dulu, entar lagi kita selesai. " Kata ayahnya lagi.
Jenny mengangguk. Dia mundur dan menutup pintu pelan-pelan sambil meyakini dirinya kalau wanita yang dilihatnya itu benar-benar adalah Cherry. Bahkan Jenny sempat melihat wajah Cherry yang memucat diatas ranjang tadi.
Kamar ayahnya berada di lantai dua, kamar yang lebih mirip gudang. Bedanya, gudang itu mempunyai sebuah ranjang ukuran dua di pojok ruangan dan ada sebuah lemari yang berisi buku-buku melukis dan sebuah meja kerja, membuat keadaan ruangan menjadi lebih mirip sebuah kamar. Kamar itu di dominasi dengan lukisan-lukisan ayahnya yang menumpuk, jumlahnya mungkin hampir seratus buah. Ayahnya memang bercita-cita untuk mengadakan pameran seratus lukisan master piece-nya sekaligus, karena itulah selama ini lukisannya tidak pernah dia jual satu pun, walaupun sudah ditawar ratusan juta rupiah. Semua lukisannya dia kumpulkan di dalam kamar itu.
Jenny berjalan menyeberangi ruangan ke arah meja kerja ayahnya dan menemukan selembar amplop coklat. Karena penasaran dengan isinya, Jenny mengambil amplop itu dan berjalan ke arah balkon yang menyajikan pemandangan danau yang luas dan membuka amplop itu disana. Jenny kembali terkaget-kaget.
Dia menemukan tiga lembar foto ukuran besar didalam sana. Foto pertama menunjukkan gambar dua orang wanita mengenakan pakaian dalam Victoria's Secret warna hitam. Saling berpelukan erat dan berciuman mesra. Foto kedua memperlihatkan dua orang wanita yang sama berdiri sejajar. Wanita yang jangkung memeluk wanita yang satu lagi dari belakang dan mencium pundak wanita itu dengan mesra. Dan foto ketiga memperlihatkan sesuatu yang lebih vulgar lagi. Dua orang wanita yang sama, berdiri sejajar. Kali ini gambar yang ditunjukkan hanya setengah badan, wanita yang lebih tinggi berada di depan, memejamkan mata dan menelentangkan tangan, sementara wanita yang lain berdiri di belakangnya, memeluk wanita yang tadi sambil menutupi payudara wanita yang jangkung tadi dengan kedua tangannya. Dan keduanya tanpa berbusana.
Jenny menutup mulut dengan salah satu tangannya karena kaget. Lebih kaget lagi karena dia tahu kalau kedua wanita itu adalah wanita yang sama, yang sedang berpose di depan ayahnya tadi, tamu ayahnya.
Pintu diketuk dan mbok Ilah masuk membawa segelas jus jeruk. Jenny memasukkan kembali foto-foto itu kedalam amplop dengan tangan gemetar.
" Neng, katanya neng disuruh tunggu dulu. Ini mbok bawain jus jeruk. "
Jenny hanya mangut-mangut karena belum bisa berkata apa-apa, hanya tangannya yang masih bergetar hebat.
" Neng kenapa? " Tanya mbok Ilah khawatir.
Jenny buru-buru menggeleng. " Nggak pa-pa, mbok. Tolong taruh aja minumannya disitu. " Kata Jenny menunjuk meja kerja ayahnya. Mbok Ilah menuruti perintah Jenny lalu keluar kamar dan meninggalkan Jenny sendirian lagi.
Jenny mencoba mengatur napasnya lagi, melangkah masuk untuk mengambil jus jeruk tadi dan meneguknya. Asam jeruk itu membuatnya sedikit tenang. Ditaruhnya lagi amplop coklat itu di tempat semula dan kembali ke balkon dengan membawa jus jeruk. Dia sedang berusaha mencerna semua yang sudah dilihatnya, menyangkut pautkan dengan semua kenyataan yang ada dan mencoba menentukan sendiri mana yang benar dan mana yang salah.
Cherry adalah wanita yang cantik, sedang berhubungan dengan Lars lebih dari sebulan ini. Tapi sekarang Jenny menemukan Cherry yang sedang berpose sangat-sangat-sangat 'berani'. Bukan dengan laki-laki lain_ini mungkin masih bisa dimakluminya_tapi Cherry dengan seorang wanita. Ini mencengangkan dan jelas sangat membingungkan. Sebenarnya Cherry sedang melakukan apa? Berpose seperti itu hanya untuk sebuah lukisan? Dan bagaimana dengan foto-foto itu? Begitu banyak pertanyaan dan berbagai penjelasaan yang cukup masuk akal bagi Jenny untuk dikategorikan sebagai 'alasan yang pas'. Mungkin Cherry sedang bekerja sampingan menjadi seorang model yang mau berpose vulgar. Atau Cherry hanya sedang iseng membuat lukisan dirinya bersama sahabat terdekatnya saja, tidak ada alasan aneh lain. Atau diam-diam Cherry bekerja sebagai foto model majalah playboy?
Ayah Jenny masuk ke dalam kamar dan langsung menemui putrinya yang berdiri di balkon sambil memandangi danau yang luas dan dalam itu.
" Sorry ya, gua kelamaan. "
Jenny memeluk dan mencium pipi ayahnya lalu duduk di atas pagar balkon. Ayahnya masih mengenakan baju dan kaca mata yang sama seperti yang dilihat Jenny di studio tadi, hanya saja celemek penuh cat tadi sudah tidak dipakai dan topi baret kotak-kotak itu sudah dilepas, memperlihatkan kepala ayahnya yang mulai botak karena penuaan dan warna rambutnya mulai berubah putih. Ayahnya kelihatan bertambah tua dibandingkan saat Jenny melihatnya terakhir kali, tapi semangatnya tidak pernah berubah.
" Gua tau dari Louise kalo lo udah pindah ke rumah Mommy lo. " Ayahnya memulai percakapan dengan nada cuek yang tidak pernah berubah dari dulu. Cuek tapi bersahabat, malah membuat Jenny rileks, seperti mengobrol dengan sahabatnya saja.
" Cuma tiga bulan, mom sendirian di rumah gede itu, jadi dia minta gua nemenin dia. "
" Lancar? "
Jenny menggeleng cepat. " Kacau! Ayahkan tau mom orangnya kayak gimana? Gua kayak dipenjara, ini salah, itu salah. Ngomong aja salah. "
" Yah… Mommy lo emang kayak gitu. Dia nggak pernah berubah dan terlalu keras kepala. "
Jenny memperhatikan wajah ayahnya saat dia sedang membicarakan soal ibunya. Ada pandangan sendu disana, tapi senyum lepas yang mengiringinya malah terlihat seperti senyum penyesalan. Menyesal karena istrinya_ralat_mantan istrinya, tidak berubah sedikit pun untuk menjadi seseorang yang lebih baik.
" Wie ghet dein tage? ( Bagaimana harimu?) " Ayahnya memandang Jenny dan mata mereka saling bertemu. Kehangatan yang kali ini terpancar dari matanya.
" Nein gut. (Tidak bagus) Gua baru patah hati. "
" Sama siapa? Cowok yang lo ceritain itu? Siapa namanya? Lars, ya? " Jenny mengangguk, dia memang pernah menceritakan Lars kepada ayahnya. " Kenapa? Kalian cocok kok. " Lanjut ayahnya masih dengan semangat yang sama.
" Dia nggak cinta sama gua, dia cinta sama orang lain. " Jenny mendadak teringat kembali dengan Cherry dan Lars yang sedang bermesraan juga Cherry dan teman wanitanya difoto tadi.
" Nggak usah sedih, masih banyak cowok di dunia ini. Lo berhak ngedapetin cowok yang lebih baik dari pada dia. " Jawab ayahnya sambil menepuk pundak Jenny dengan lembut. Jenny tersenyum, berpikir bahwa 'banyak cowok lain di dunia ini' mungkin salah satunya adalah Kevin. Kevin yang sekarang sudah memiliki rambut model Tintin yang membuat Jenny lebih lega waktu mengingat sosoknya.
" Gua mau ngomongin lukisan ke lo, Jen. " Kata ayahnya lagi, kali ini kelihatan lebih serius. " Lo tau kalo gua punya cita-cita pengen ngadain pameran seratus lukisan sekaligus, kan? " Jenny mengangguk. " Well, semuanya udah di depan mata sekarang. "
" Maksudnya? "
" Tinggal beberapa lukisan lagi, semuanya genap seratus buah. Gua juga udah dapet sponsor dan mereka mau gua buka pameran di Jerman. "
" Jerman? "
" Iya, Jerman. " Ayahnya mengangguk. " Jadi nggak lama lagi, gua bakal pulang ke Jerman. "
" Kapan? "
" Secepetnya. Gua baru dapet order bikin empat lukisan, tiga dari foto. " Jenny langsung ingat lagi dengan foto-foto tadi. Jadi itu akan dijadikan lukisan? " Gua bisa selesain kira-kira satu bulan, bisa lebih. Dan gua mau, lo ikut sama gua ke Jerman. "
Jenny terkejut. Ayahnya mengajaknya tinggal bersama! Di Jerman lagi!
" Ke… Jerman… " Kata Jenny seperti mengigau.
" Nggak usah jawab sekarang, gua tau lo masih bingung. Pikirin aja dulu. " Ayahnya mengelus kepala Jenny dengan lembut dan memandang Jenny dengan pandangan yang seolah mengatakan: 'I want the best for you'. Dan Jenny akhirnya terdiam.
Oke, kembali ke permasalahan awal yang ingin ditanyakan Jenny sedari tadi, yang membingungkan dan membuatnya penasaran.
" Yah… Tadi yang si studio itu siapa? " Tanya Jenny akhirnya.
" Oh… Mereka orang yang mau dilukis dan yang pesen lukisan dari foto itu. " Jenny diam, berpikir. " Posenya memang terlalu vulgar, ya? " Ayahnya melanjutkan dan Jenny tersenyum seadanya. " Gua hanya ngelukis, mereka sendiri yang mau berpose kayak gitu. "

 
...Bersambung...

Cinta me-Revolusi


Aku bukanlah seseorang yang cukup nyaman dengan diriku sendiri. Maksudku, aku suka dengan tubuhku, aku mensyukuri semua yang ada karena bagaimanapun semua itu adalah anugerah dari Yang Kuasa. Tapi selama ini aku tidak pernah berani memandangi tubuhku sendiri di depan kaca. Jangan salah sangka. Aku masih bisa memandangi dandananku sendiri di depan cermin sebelum aku memutuskan untuk pergi keluar. Aku juga masih bisa menilai make up yang aku kenakan di wajahku melalui cermin. Tapi untuk memandangi seluruh citra diriku yang sebenarnya di cermin, aku tidak pernah melakukannya.
Tapi kali ini kebiasaan itu telah aku dobrak. Sekarang aku berada di depan cermin besar di kamarku. Lampu kamarku menerangi seluruh tubuhku dengan cukup baik sehingga aku bisa memperhatikannya dengan cermat. Walaupun aku sangat jarang memperhatikan diriku sendiri di depan cermin, tapi aku tahu bahwa apa yang aku lihat saat ini adalah sesuatu yang lain. Itu bukanlah bayanganku yang biasa, ada sesuatu yang berbeda dari apa yang aku temukan. Itu bukan bayanganku, aku… berubah.
Dulu mataku tidak seperti itu. Walaupun tidak terlalu besar dan bagus, tapi mataku yang berwarna coklat tua selalu terlihat berbinar-binar penuh semangat, seolah tidak pernah ragu untuk melihat ke seluruh dunia yang terbentang luas di hadapanku. Tapi kini, mata itu sayu. Sebuah bayangan yang cukup hitam dan besar menggantung di bawah kelopak mataku, membuat binar semangat itu meredup dan nyaris hilang.
Dulu bibirku tidak seperti itu. Dengan ukuran yang cukup tebal, bibirku selalu bersemburat merah jambu alami tanpa perlu di pulas lipstick warna apa pun. Dan senyum manis dan nakal tidak pernah lepas dari sana. Tapi kini warnanya terlalu pucat dan guratan merah lipstick yang aku kenakan telah memudarkan gurat merah jambu alami itu. Senyum itu juga perlahan menghilang, digantikan dengan kerut cemberut dan senyum kaku yang penuh waspada.
Dulu wajahku tidak seperti itu. Walaupun tidak menggunakan make up sama sekali, tapi pipiku yang mulus dan montok selalu bersemburat merah dan cantik. Tapi sekarang dengan tumpukan bedak tebal, alas bedak dan segala peralatan dempul membuat aku merasa memakai sebuah topeng yang sama setiap hari.
Dulu tubuhku tidak seperti itu. Tubuhku tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu gemuk, tapi dulu kulitku mulus tanpa perlu dipoles dan postur tubuhku tegap dan kuat. Tapi sekarang kulitku mulai dipenuhi keriput dan tulang punggungku mulai melengkung seiring dengan bertambahnya jumlah lilin yang aku tiup disetiap perayaan ulang tahunku.
Memang benar, aku berubah. Dan secara perlahan aku mulai menyadari perubahan paling besar yang aku rasakan.
Dulu, aku kira aku akan bisa menaklukkan dunia. Dulu, aku kira aku akan bisa melakukan semua yang ingin aku lakukan. Dulu, aku kira aku akan bisa mendapatkan apa yang aku inginkan. Dulu, aku kira akulah sang penakluk dunia. Dulu, setiap pagi aku akan bangun dengan semangat dan tekad kuat. Aku akan menaklukkan tantangan hidupku hari itu, besok dan bahkan sampai aku mati. Dulu, rasanya tidak sulit untuk melangkah dengan tegap, membusungkan dada dan berkata kepada dunia bahwa aku bisa melewati semuanya. Tidak perduli sebesar apa tembok yang menghalangiku, tidak perduli sekuat apa badai yang akan menerjang, aku yakin akan bisa melewatinya. Dulu, begitu mudahnya aku melangkahkan kakiku melewati segala macam rintangan dan mara bahaya yang menghadang. Seolah Gatot Kaca telah mewariskan otot kawat dan tulang bajanya kepadaku. Dulu, dengan keyakinan penuh dan tanpa setitik pun keraguan aku akan berkata bahwa aku mampu berdiri di atas kakiku sendiri. Tidak perlu kaki ketiga, tidak butuh seseorang yang mendorongku dari belakang, dan bahkan aku tidak menginginkan seseorang yang melindungiku. Aku yakin, sepasang kaki dan tanganku akan mampu melewati semuanya dengan baik.
Tapi itu dulu. Aku baru sadar kalau ternyata selama ini aku terlalu sombong. Sekarang aku sadar kalau aku tidak akan bisa dan tidak akan sanggup manghadapi semuanya sendirian.
Sesuatu telah melumpuhkan kaki dan tanganku. Sesuatu telah merobohkan tembok kepercayaan diriku. Sesuatu telah berhasil menerobos masuk ke system pertahananku. Aku terpenjara selama beberapa saat, aku diculik dan di bawa pergi ke tempat yang asing, yang sama sekali belum pernah aku datangi sebelumnya. Tentu saja awalnya aku sangat ketakutan. Rasanya aku ingin berlari saat itu juga, menyelamatkan diriku sebelum semuanya terlambat. Seharusnya semua itu bukan sesuatu yang sulit untuk aku lakukan. Bagaimana pun aku cukup bebas untuk melakukan apa pun yang aku inginkan, bahkan untuk melarikan diri, karena tidak ada sesuatu apa pun yang menahan atau membelengguku. Memang, aku mengikuti dan membiarkan semua itu terjadi atas kehendakku sendiri.
Awalnya aku kira akan bisa menahan diri. Aku kira aku tidak akan terjerumus terlalu dalam, dan dapat dengan mudah keluar dan kembali kepada diriku sendiri kapan pun aku inginkan. Aku pikir aku sudah sangat berhati-hati dan berusaha meminimalkan segala resiko yang mungkin akan terjadi. Tapi, sekali lagi, ternyata aku salah. Aku jatuh tergelincir terlalu dalam, dan aku membiarkannya. Akhirnya, aku tidak tahu bagaimana caranya untuk bisa menyelamatkan diriku sendiri. Aku sudah hanyut terlalu dalam, aku sudah terbawa terlalu jauh. Aku kehilangan arah dan cara untuk bisa keluar, atau bahkan melarikan diri. Aku sudah terikat terlalu kencang.
Sekarang, aku tidak yakin akan bisa hidup tanpanya. Sekarang, aku tahu bahwa aku akan selalu membutuhkannya dalam hidupku. Sekarang, kehadirannya bagaikan semacam candu bagiku, yang memabukkan, yang membuatku ketagihan, yang membuatku sakau.
Aku tahu bahwa aku telah melakukan kesalahan terbesar karena menyerah kepadanya. Seharusnya aku menghindari jeratnya yang memikat itu, kalau tidak aku akan merasakan kesakitan. Dia memang selalu meninggalkan rasa itu pada akhirnya. Tapi… aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Aku terperangkap.
Entah bagaimana hidupku tanpanya… tanpa… cinta.
Sekarang secara perlahan aku keluar dari bingkai cermin yang sedari tadi telah merefleksikan bayanganku. Aku tidak merasa telah menemukan sesuatu yang membuatku cukup tenang, malah aku merasa semakin nelangsa karena menyadari semua kenyataan itu. Tapi tidak ada yang bisa aku lakukan, aku hanya memutuskan untuk mematikan lampu kamarku dan menjatuhkan diriku ke tempat tidur, memasuki alam mimpiku seperti biasa.

 
070610 ~ Black Rabbit ~

 

Ny. Lars – Part 22 -


Black Rabbit
" NY. LARS "
- Part 22 -

 
… Episode sebelumnya …
Kevin berusaha mengorek tentang sejauh mana hubungan yang sudah dijalani Lars dan Cherry dengan cara mewawancarai Lars secara langsung. Lars memang tidak menjawab pertanyaan sekaligus kekhawatiran Kevin secara langsung, Tapi Lars berkali-kali meyakinka kavin bahwa hubungannya dengan Cherry baik-baik saja. Lars bahkan mengaku benar-benar jauh cinta dengan Cherry. Tapi bukannya lega, Kevin malah semakin khawatir …

 
Siang itu, Jenny yang sudah merasa jauh lebih baik tapi masih belum mendapat izin_baik dari Lars maupun dari Kevin_untuk bekerja lagi, sedang berada di sebuah restoran dengan Lars dan juga Kevin untuk makan siang. Sebenarnya Lars yang mengundangnya, tapi Kevin bersikeras menemaninya karena takut Jenny pingsan lagi kapan saja. Jenny kesal sekali saat tahu kalau ternyata Lars tidak keberatan kalau dia harus mengajak Kevin juga, Lars malah kelihatan sangat senang.
" Jadi mulai besok, lo masuk kerja lagi, Jen? " Lars bertanya sambil menggulung spagetinya dengan garpu. Jenny menggangguk.
" Lo yakin udah sembuh? " Kini giliran Kevin yang bertanya setelah menelan potongan daging di mulutnya.
" Gua kan udah istirahat hampir dua minggu, masa belum sembuh-sembuh juga? " Lars dan Kevin sama-sama diam. " Lagian, sebenernya gua udah sembuh dari beberapa hari yang lalu, hanya nyokap gua sama lo aja-" Jenny menunjuk Kevin dengan sendok. " –yang terlalu khawatir. "
" Gua nggak mau kena sasaran nyokap lo kalo lo tiba-tiba pingsan di jalan. " Kevin membalas menunjuk Jenny dengan garpunya.
" Gua nggak selemah itu. " Jenny manyun.
" Kalian beruda makin akrab aja, ya? " Omongan Lars yang melenceng dari topik pembicaraan ini ternyata ampuh untuk menyudahi pertengkaran kecil tadi, membuat keduanya terdiam dan melanjutkan acara makan masing-masing. Lars hanya tersenyum.
" Cherry apa kabarnya, Lars? " Tanya Jenny mencairkan suasana setelah terdiam tadi.
" Baik. "
" Kenapa dia nggak ikut makan sama kita sekalian? " Tanya Jenny lagi.
" Dia lagi sibuk banget. Siang ini dia ada rapat dikantornya. "
" Rapat? Jam makan siang gini? Emangnya dia kerja dimana sih? "
" Periklanan. "
" Perkembangannya kayak gimana? " Kevin tiba-tiba ikut bertanya.
" Perkembangan apa? " Tanya Jenny bingung.
" Baik-baik aja. Lo sendiri? " Jawab Lars tanpa memperdulikan pertanyaan Jenny.
" Baik juga. Nggak ada perkembangan apa-apa? "
" Gua udah seminggu nggak ketemuan, jadi belum ada perkembangan apa-apa. " Lars tersenyum sedangkan Kevin hanya mangut-mangut. Dan apa yang dilakukan Jenny? Dia hanya menatap Kevin lalu menatap Lars dan kembali menatap Kevin tanpa mengerti apa-apa. Dan karena kesal tidak dilibatkan dalam percakapan itu, dia berkata kesal:
" Kalian berdua lagi ngomongin apa, sih? Gua nggak ngerti sama sekali, deh. "
" Ini urusan cowok sayang… " Kevin menjawab sambil mencubit pipi kanan Jenny.
" Aw! Urusan cowok apaan sih? "
" Ra-ha-sia. Nggak hanya cewek aja yang bisa ngomongin sesuatu yang hanya mereka sendiri yang ngerti. " Kata Lars penuh misteri.
" Hah? "
Tak ada satu orangpun diantara Kevin ataupun Lars yang mau menjelaskan lebih rinci apa yang mereka bicarakan, membuat Jenny semakin sebal saja saat dia menghabiskan makanannya. Bahkan sampai Lars yang berperan sebagai tuan rumah pergi ke kasir untuk membayar, sedangkan Kevin dan Jenny berjalan ke tempat parkir dimana Lars menyimpan mobil Mercedes-nya, masih saja tidak ada yang bersedia memberikan penjelasan kepada Jenny. Jenny memutuskan untuk tidak bertanya lagi.
Jenny mengamati sekeliling tempat parkir yang berada di pinggir jalan. Kedua sisi jalan itu ramai dipadati pengunjung mal yang berdiri di samping restoran, tidak perduli dengan panasnya sinar matahari yang tidak segan-segan menyengat kulit siapa saja yang berdiri dibawahnya. Diantara orang-orang yang hilir mudik itu, Jenny menemukan satu sosok yang sepertinya dia kenal, wanita berambut hitam panjang sedang menggandeng seorang wanita lain yang jangkung dengan kemeja dan celana tentara, terlihat sangat tomboi. Mereka kelihatan sangat akrab berjalan beriringan sambil bergandengan tangan seperti sepasang kekasih. Dan wanita berambut panjang itu Jenny yakini sebagai Cherry.
" Kev, itu Cherry, kan? " Jenny memanggil Kevin sambil tetap memandangi wanita yang dikiranya Cherry itu. Wanita itu masih memunggungi Jenny dan berjalan menjauh. Kevin melihat ke arah yang ditunjuk Jenny dan terkejut, tapi buru-buru bersikap tidak ada apa-apa.
" Kata Lars, Cherry rapat di kantornya, kok dia ada disini? " Tanya Jenny tidak yakin dengan siapa.
" Bukan, itu bukan Cherry. " Kata Kevin.
" Bener, itu Cherry! Liat, rambutnya hitam panjang! "
" Emang cuma Cherry yang punya rambut panjang warna hitam? Udah jangan mikir yang macem-macem. " Kevin menggiring Jenny ke mobil Lars yang sudah keluar dari restoran dan melepaskan kunci mobilnya melalui remote control dari pintu restoran. Sebelum masuk ke dalam mobil, Kevin sempat menoleh ke tempat dimana Jenny melihat wanita-yang-dikira-Cherry tadi. Wanita itu berbalik sehingga Kevin bisa melihat wajah wanita itu. Kevin tertegun.
Setelah Kevin, Jenny dan Lars berada di dalam mobil dan meninggalkan restoran, Jenny mengadukan hasil penemuannya tadi kepada Lars.
" Lars, tadi gua ngeliat Cherry loh! "
" Oh iya? " Tanggap Lars datar.
" Iya, tadi dia sama cewek jangkung! "
" Nggak mungkin lah, dia kan lagi rapat dikantornya. " Lagi-lagi Lars menjawab dengan santai.
Sikap Lars itu membuat Jenny terdiam. Jenny melihat kearah Kevin dan Kevin balas memandangnya seolah mengatakan; ' See? I told you! '
" Well, mungkin gua salah liat kali… " Kata Jenny lagi.
Lars langsung mengangguk setuju, Kevin hanya diam dan Jenny sendiri kini sibuk mengingat-ingat apa selama ini dia mengalami gejala-gejala kerusakan mata? Atau demam tinggi yang dideritanya kemarin telah mengganggu syaraf matanya?
Jenny baru saja sampai didepan pintu kamarnya setelah Lars dan Kevin mengantarnya pulang dari makan siang tadi (Kevin menitipkan salam untuk ibu Jenny, sementara Lars diam saja) saat ibunya datang menghampirinya sambil membawa corong telepon tanpa kabel. Wajahnya kelihatan cemberut.
" Ada telepon untukmu. " Kata ibunya menyodorkan telepon itu sambil masih mengerucutkan bibirnya.
" Dari siapa? " Tanya Jenny penasaran.
" Orang Jerman itu. "
' Ayah! ' Jenny menjerit dalam hati dan langsung menyambar telepon itu. Wajah ibunya semakin cemberut.
Jenny menjawab telepon itu dengan cepat, berkata 'Iya' dan 'Oke' berulang-ulang lalu berkata dengan manis: " Yah, ich liebe dich. ". Setelah mendengar jawaban dari ayahnya di ujung sana (" Ich liebe dich auch. "), Jenny menggembalikan telepon ke tangan ibunya yang masih saja cemberut.
" Dia mengatakan apa? " Tanya ibunya ingin tahu. Jenny menghela napas panjang. Dia tahu kalau ibunya akan bertanya seperti itu. " Apa dia takut kamu tinggal denganku? Takut kalau aku mempengaruhimu yang tidak-tidak? "
" Mom-- "
" Atau dia takut aku menyiksamu? Ayahmu selalu saja begitu, dia selalu menjelek-jelekkan aku. "
" Mom, ayah—"
" Memangnya dia sudah baik? Dia menganggap dirinya seorang malaikat, selalu saja benar. Dia—"
" Mom!! " Ibunya langsung terdiam. " Mom tau kan kalo Jenny nggak suka Mom kayak gitu! Ayah cuma mau ketemu Jenny! "
" Iya, tapi dia—"
" Jenny mau istirahat… "
Akhirnya ibu Jenny terdiam melihat anak kesayangannya masuk ke kamar dan membiarkannya berdiri sendirian diluar.

 

 
...Bersambung...

Ny. Lars – Part 21 -


Black Rabbit
" NY. LARS "
- Part 21 -

 
… Episode sebelumnya …
Cherry tidak bisa melupakan Tommy, mantan pacarnya yang saat ini kembali ke Indonesia dengan keadaan stress. Walaupun dia sudah pernah berjanji untuk bisa mencintai orang lain dan berusaha menjadi seperti wanita lain yang mencintai orang yang tepat, tapi Cherry tidak bisa memungkiri harinya sendiri kalau ternyata dia memang mencintai Tommy. Untuk sementara Cherry melupakan Lars …

 
" Gua nggak nyangka kalo lo udah berubah. "
" Gua nggak bakal terus-terusan jadi 'Lars si playboy', kan? "
" Jadi lo serius sama Cherry? "
" No doubt. "
Siang itu Lars dan Kevin sedang menghabiskan waktu makan siangnya di sebuah fast food yang cukup terkenal. Kelihatannya percakapan mereka tidak hanya percakapan biasa, terlihat dari wajah Kevin yang sangat serius, walaupun Lars kelihatan santai-santai saja.
" Kalian udah berapa lama jalan bareng? " Tanya Kevin lagi, menyelidiki.
" Sebulan ini. " Jawab Lars sambil menggigit burgernya.
" Baru sebulan tapi lo udah yakin banget sama dia? "
" Iya. " Kevin kelihatan tidak percaya, sehingga Lars perlu menambahkan. " Jujur aja, gua nggak pernah ketemu sama cewek kayak Cherry, she's so different than any other girl. Mangkanya gua yakin, dia nggak hanya bisa jadi pacar gua, tapi juga bisa jadi pendamping hidup gua. Karena gua ngerasa nyaman sama dia, Kev. Gua jatuh cinta sama dia. "
Kevin berhenti menguyah makanannya. Ini sama seperti yang pernah dirasakannya dulu saat Cherry masih jadi kekasihnya. Cherry yang enak diajak ngobrol, Cherry yang bisa akrab dengan siapa saja, termasuk Cherry yang misterius, yang tidak bisa ditebak dengan mudah, yang cantik dan seksi, yang menggoda dan selalu menjadi pusat perhatian semua orang.
" Itu sama sekali nggak kayak lo, Lars. "
" Maksud lo? " Tanya Lars aneh.
" Lars yang gua kenal adalah Lars yang playboy, yang bisa tidur sama siapa aja yang dia mau, yang bisa dapetin semua cewek yang dia mau, bukan yang bisa terikat sama satu cewek. "
Lars tersenyum, sedikit bangga dengan pujian Kevin tadi. " Kan gua udah bilang, gua nggak bakal jadi playboy seumur hidup. Ada waktunya seorang harus pensiun dari citra lamanya. Lagian, Cherry bener-bener cewek yang baik, dia bahkan nggak bisa gua ajak tidur sembarangan. "
Kevin serasa mendapat jawaban baru. Cherry yang tidak mudah diajak tidur oleh laki-laki manapun. Itu satu poin tambahan sekaligus satu poin yang patut dipertanyakan, bahkan sejak pertama kali Kevin kenal dengan Cherry.
" Sama kayak Jenny, kan? " Lars menambahkan, Kevin bingung.
" Apa? "
" Sama kayak Jenny. Dia juga bukan gadis sembarangan yang bisa dengan mudah diajak intim. She's had …something. Sesuatu yang nggak rela lo rusak hanya dengan ngajak dia tidur sama lo. She's value more than that. "
Kevin mengangguk. Kalau dipikir-pikir, Lars yang mengatakan akan bisa luluh dengan wanita yang berbeda dengan wanita-wanita lain yang dikenalnya bisa masuk akal juga. Kevin juga merasa seperti itu saat ini. Dia jatuh cinta dengan Jenny, yang berbeda dengan wanita kebanyakan, yang mempunyai 'sesuatu'_seperti kata Lars_yang tidak di punyai orang lain, tapi yang membuatnya sangat berharga. Dan barang berharga itu sangat ingin dimiliki Kevin saat ini.
" Semua cewek memang punya sesuatu. " Kata Kevin akhirnya.
" Sesuatu yang ngebuat kita selalu harus nyari strategi yang pas buat meluluhkan mereka. " Jawab Lars menyetujui.
" Tapi dari dulu, strategi lo selalu dateng telat. " Kata Kevin meremehkan, Lars mengernyit minta penjelasan. " Inget Laura? Gadis Australia yang lo ajak nge-date waktu kelas 7? " Lars mengangguk. " Dia ninggalin lo dan balik ngejer gua waktu lo lagi nyusun strategi buat nyium dia. "
" Iya! And finally, you kissed her! Damn you! " Lars menyelesaikan dengan kesal dan meninju lengan Kevin.
" Itu artinya, gua lebih beruntung dari pada lo. Kita harus bergerak cepat supaya nggak keduluan orang, jangan terlalu banyak mikir. "
" Gua bukannya terlalu banyak mikir, tapi itu namanya hati-hati. " Lars membela diri. " Lo lupa, ya? Gua bisa ngedapetin lebih banyak cewek dari pada lo. "
" Lo emang lebih banyak dapet cewek dari pada gua, tapi rata-rata semuanya kandas di tengah jalan dan akhirnya lo dijulukin playboy sama orang-orang. Tapi gua lebih serius dari pada lo. "
" Ya-ya-ya… whatever… " Lars memutar matanya lalu melangkah meninggalkan kursinya saat dia dan Kevin selesai menghabiskan makanan mereka. Sekarang mereka berjalan ke tempat parkir.
" Balik lagi ke masalah cewek baru lo itu, menurut gua lo harus lebih tau tentang dia sebelum lo mutusin buat serius sama dia. Nanti lo bisa kecewa. Kayak pepatah yang bilang: 'Don't jugde a book by it's cover'. Lo harus tau dulu 'dalemnya' sebelum lo mutusin she's the one. Ngerti kan lo? " Kata Kevin lagi sambil berjalan beriringan dengan Lars. Lars sendiri malah tersenyum.
" Lo kayak kakek-kakek aja, ngomong pepatah segala. "
" Gua serius, Lars. "
" Gua tau. Jangan mentang-mentang lo udah pacaran lama sama Jenny, berarti lo udah tau semua hal tentang cinta. I know what I'm doing. "
" I don't meant that… " Lars dan Kevin sudah berada di depan mobil masing-masing yang bersebelahan. Lars sekarang memegang pundak Kevin dan berkata:
" I know. Pokoknya lo nggak usah mikirin tentang gua dan Cherry. We'll be fine. " Sekarang dia melangkah ke pintu mobilnya dan membukanya. " Just be good with Jenny. Dia asisten kesayangan gua, gua nggak mau dia 'cacat' gara-gara lo. Oke? " Lars masuk ke dalam mobilnya, menyalakan mesin lalu memundurkan mobilnya keluar area parkir. Kevin masih di tempat, tidak bergerak sampai Lars yang berada di dalam mobil menghampirinya dan berkata: " Gua duluan, ya. " Dan pergi. Apa maksud Lars dengan kata 'cacat' tadi? Tanya Kevin dalam hati.
Xena the warrior princess adalah salah satu pendekar wanita kesukaan Jenny, karena Jenny menganggap Xena begitu begitu keren dengan pakaian dan tubuh seksinya sekaligus dapat memberantas kejahatan dan bersikap ksatria. Xena adalah salah satu simbol Kartini imajiner masa kini yang patut di contoh dengan meruntuhkan diskriminasi kaum perempuan yang tidak mungkin bisa menjadi pendekar. Sikapnya tegar dan mau membela kaum yang tertindas. Dia memegang prinsip dengan sangat teguh kalau dia tahu prinsip yang dipegangnya adalah benar.
Jenny belajar banyak dari tokoh favoritnya itu, terutama mengenai memegang prinsip yang benar itu dengan teguh. Seperti sekarang misalnya saat dia sudah merasa jauh lebih baik setelah demamnya turun, dia memegang prinsip tidak akan minum minuman beralkohol lagi, kecuali kepepet. Karena_sesuai dengan pengalamannya sendiri_minuman beralkohol bisa sangat memabukkan dan membahayakan kesehatan. Jadi sekarang minuman itu sudah dihapusnya dari daftar minuman favorit Jenny.
Tapi sebenarnya demam yang menyerangnya kemarin tidak hanya membawa dampak buruk, kerena dengan sakitnya itu Jenny jadi bisa beristirahat. Bahkan dia juga bisa mengistirahatkan pikirannya sehingga hatinya bisa sedikit tenang. Dia sudah bisa menerima kenyataan kalau Lars memang pacaran dengan Cherry. Kesempatannya untuk menjadi pendamping Lars semakin tersingkir jauh, tapi Jenny tidak begitu bersedih karena ternyata keberadaan Kevin yang selama dia sakit selalu mendampinginya dan mengisi hari-harinya dengan hal-hal lucu yang dapat membuatnya lupa dengan hal lain yang sebelum ini pasti akan membuatnya stress. Iya, Kevin berhasil merubah citranya di depan Jenny. Dari 'pacar sementara' menjadi 'laki-laki yang patut diperhitungkan' dan sekarang menjadi 'laki-laki yang bisa membuat Jenny tertawa'. Kevin sadar benar dengan perubahan statusnya itu, dan mau tidak mau dia jadi tambah bersemangat mengejar Jenny. Sekarang dia sudah maju lagi beberapa langkah, garis finish sudah ada di depan mata.

 
...Bersambung...

The Two Rings ( #1 Chapter: Caraveena )




THE TWO RINGS
1st Chapter : Caraveena

Caraveena itu adalah aku, gadis berusia dua puluh tahun, memiliki rambut panjang yang ikal seperti ombak, mata coklat yang cemerlang, raut wajah yang orang bilang seperti pahatan Tuhan yang paling sempurna. Itu artinya mereka bilang aku cantik. Yah, itu karena aku adalah salah satu putri dari pasangan Malaveena dan Antonius Veena, sepasang penyihir legendaris yang bukan hanya dikenal karena peran besar mereka di Pemerintahan. Mereka orang besar_kedua orang tuaku itu_ sangat disegani, dikagumi dan dihormati di negeri Merlin ini. Tapi mereka tidak bisa melawan takdir yang membiarkan mereka mendapatkan anak gadis seperti aku, karena aku tidak seperti kakak laki-lakiku atau adik perempuanku, tidak juga seperti semua penyihir di kota ini. Aku bukan penyihir, tapi aku seorang peramal.
Bukan berarti di negeri Merlin yang indah ini tidak ada peramal. Ada beberapa orang yang memang diberi kemampuan meramal, tapi tidak ada seorang peramal seperti aku. Kalau peramal biasa akan memfokuskan diri mereka dengan meneliti bola kristal, kartu tarot, garis tangan, zodiak atau semua jenis meramal lainnya, tapi untukku ada satu hal yang lebih menarik perhatianku, yaitu dunia kematian. Kedengarannya mengerikan, aku tahu. Tapi apa kau tidak tertarik untuk mengetahui apa yang terjadi setelah seseorang meninggal dunia? Tidak ada satu penyihir, satu peramal atau satu orang pun di dunia ini yang bisa menjawabnya, dan itu malah membuatku semakin penasaran dan lebih tertarik untuk mencari tahu hal itu lebih lanjut.
Nah, itulah yang menjadikanku orang aneh, padahal aku tidak merasa aneh, aku hanya ingin tahu dan melakukan begitu banyak hal yang tidak biasa dilakukan orang lain untuk menemukan jawabannya. Mungkin itu yang membuatku kelihatan seperti orang aneh. Ayah dan ibuku sudah tidak mampu lagi melakukan apa pun untuk menyadarkanku. Kakakku_Carloveena_dan adikku_Ninavenna_juga sudah sangat lelah mengata-ngataiku aneh dan meledekku habis-habisan tapi aku sudah tidak perduli dengan pendapat mereka. Yang aku pedulikan hanyalah penelitianku.
Karena itu, tidak ada yang bisa mencegahku untuk mengurung diri di dalam kamarku selama berjam-jam, berhari-hari atau bahkan berbulan-bulan untuk melakukan penelitianku. Aku sudah membuat kamarku seperti sebuah laboratorium. Ada begitu banyak buku-buku tebal berserakan di salah satu sudut, begitu banyak tabung-tabung eksperimen, alat-alat kedokteran dan beberapa kandang kecil di atas meja panjang yang terletak di sudut kamar yang lain. Ada juga alat-alat meramalku, buku-bukuku, lemari pakaianku dan tempat tidurku di sudut yang lain lagi. Dan semua itu adalah nyawaku, hartaku yang paling berharga. Aku mungkin tidak akan bisa tidur atau bahkan tidak bisa hidup tanpa semua benda-benda ini di dalam kamarku.
Seperti sekarang misalnya, aku sedang berada di dalam kamarku, duduk memandangi sebuah buku yang sangat tebal yang terbuka di atas meja dan seekor kelinci dengan nasib mengenaskan tergeletak di samping kananku. Kelinci itu terpaksa aku belah dadanya untuk melihat bagaimana jantung yang katanya adalah sumber kehidupan semua makhluk di dunia ini bekerja. Keadaan kelinci itu membuatku mengerutkan kening dan bertanya aneh di dalam hati: kenapa kelinci itu langsung mati begitu aku baru saja membelah dadanya? Padahal menurut buku tebal yang aku baca ini, kelinci itu belum boleh mati supaya aku bisa melihat keadaan jantungnya yang sedang berdetak. Ini aneh, aku pasti sudah melakukan kesalahan, aku harus mengecek lagi buku tebal di hadapanku ini.
Tok-tok-tok.
Tahu tidak apa hal yang paling menyebalkan di dunia selain melihat kelinci yang kau belah dadanya mati sebelum waktunya? Jawabannya sudah aku dengar untuk kedua kalinya dalam waktu kurang dari satu menit ini: suara ketukan di pintu kamarku. Apa mereka tidak bisa mengerti kalau aku sangat tidak suka diganggu jika sedang berada di dalam kamarku sendiri? Apa lagi saat aku sedang berusaha mengartikan tulisan di buku tebal ini yang perlu konsentrasi yang sangat tinggi?
Tok-tok-tok.
Itu dia ketukan ketiga. Ya ampun, orang-orang di rumah ini begitu menyebalkan. Aku terpaksa beranjak naik dari kursiku dan membawa kakiku ke pintu kamar lalu berteriak kesal karena ketukan keempat sudah terdengar lagi di pintu.
" Iya-iya! Bisa sabar sedikit tidak!? "
Aku memutar kunci pintuku, membukanya dan menemukan Nina disana, berdiri dengan memegang sebuah nampan besar yang dipenuhi mangkuk-mangkuk makanan di atasnya. Untung saja aku baru membuka pintu sedikit jadi aku bisa tetap membiarkan pintu itu membuka sebesar itu saja dan menjawab sekenanya sehingga Nina tidak perlu masuk ke dalam kamarku.
" Aku sama sekali tidak lapar, terima kasih. "
" Jangan bodoh, kau belum makan apa pun hari ini. " Jawab Nina sambil meletakkan kaki kirinya di depan pintu supaya menghalangiku menutup pintu kamarku dengan terburu-buru. Aku memandanginya dengan kesal dan menjawab lagi: " Aku benar-benar sudah kenyang. " Lalu aku buru-buru menutup pintu sebelum Nina bisa menjawab apa-apa, tapi tiba-tiba sesuatu yang kuat mendorong pintu hingga menjeblak terbuka dan membuatku jatuh terpelanting dengan pantat yang lebih dulu menyentuh lantai. Aku kembali menegakkan kepala dan menemukan Nina yang masih berdiri di depan pintu, tapi kali ini dengan tangan kiri yang memegangi nampan makanan dan tangan kanan yang mengacungkan tongkat sihir ke arah pintu yang kini sudah tidak ada di tempatnya lagi, melainkan sudah menjeblak terbuka. Dia baru saja mendobrak pintu kamarku dengan sihir, sialan.
" Sudah kubilang kau jangan bodoh, kakakku sayang. Kau sudah berhari-hari di dalam kamar tanpa keluar. " Adikku yang kurang ajar ini menjawab lagi sambil melangkah masuk dengan santai lalu menggoyangkan tongkat sihirnya sekali lagi sehingga pintu kamarku tertutup lagi dibelakangnya.
" Memangnya apa perdulimu? " Tanggapku masih dengan sangat kesal sambil beranjak naik dari posisi jatuhku yang menyakitkan.
" Bukan aku yang perduli, tapi ibu. Dia tidak mau kau mati kelaparan di dalam ka—tempat apa sih ini? " Nina mengakhiri kata-katanya dengan bertanya aneh sambil berkeliling memandangi kamarku.
" Kamarku, seperti yang kau mau bilang tadi. " Jawabku yang makin kesal.
" Tempat ini seperti... gudang. "
" Laboratorim, mungkin lebih tepat. "
" Apa ini? " Nina sudah meletakkan nampan makanannya di atas meja kosong dan mulai melihat meja panjangku di seberang ruangan. Dia memandang gelas ukurku dengan aneh dan hampir saja ingin menyentuhnya.
" Jangan sentuh apa pun! " Aku buru-buru berteriak dan Nina menarik tangannya dengan kaget lalu meletakkan kedua tangannya ke atas bahu seperti seorang penjahat yang sedang menyerah di depan seorang polisi. Tapi lalu matanya kembali meneliti semua benda-bendaku di atas meja dan saat melihat kelinci percobaanku yang mati di dekat buku tebalku, dia menggelengkan kepala dengan dramatis dan mendecak menyebalkan.
" Ck-ck-ck, kalau kau ini bukan penyihir dan peramal, sebenarnya kau ini siapa? "
" Kalau urusanmu sudah selesai lebih baik kau pergi, jangan menggangguku. " Aku menanggapinya dengan jauh lebih kesal lagi. Orang seperti Nina, yang berpikiran begitu dangkal, sama seperti kebanyakan orang di luar sana, tidak akan memahami apa yang aku pikirkan. Ingin mengerti pun tidak, karena mereka hanya bisa menerima segala hal yang diberitahukan orang lain tanpa ingin tahu kenapa semua hal harus seperti itu. Tidak ada gunanya berdebat dengan orang-orang seperti itu, hanya akan membuang waktuku dengan sia-sia.
" Sebenarnya aku tidak ingin mengganggu, kakakku sayang. " Sekarang Nina sudah memutuskan untuk menyelesaikan acara melihat-lihatnya. Dia menggoyangkan tongkat sihirnya sekali lagi dan sebuah kursi melesat kearahnya dengan anggun. Nina meraih kursi itu dan duduk di atasnya, lalu memandangiku dengan serius. Jadi sekarang aku juga bisa duduk santai di atas tempat tidurku sambil membawa sebuah roti isi yang dibawa Nina tadi dan menguyahnya. Ternyata aku lapar juga. " Hanya saja ada satu hal yang harus aku sampaikan kepadamu. Ini menyangkut ayah. "
" Memangnya ada apa dengan ayah? " Tanyaku di sela-sela acara menguyahku.
" Soal acara besok malam—"
" Ck! Sudah ku bilang, aku tidak tertarik. " Langsung saja aku potong perkataan Nina. Aku tahu ini masalah acara Pemerintahan yang akan diadakan besok malam. Ibu sudah memberitahukanku sejak seminggu yang lalu dan sejak awal aku sudah mengatakan dengan tegas kalau aku tidak tertarik ikut acara itu. Aku tidak begitu suka keramaian.
" Cara, kau tahu betapa pentingnya acara ini bagi ayah, dia akhirnya mendapatkan posisinya sebagai menteri, hal yang diinginkannya seumur hidup! Kau harus datang di acara pelantikannya besok malam. "
Nina mati-matian membujukku, aku tahu dia rela melakukan itu demi ayah. Sebenarnya aku tahu seberapa penting acara ini bagi ayah, aku mengerti sekali. Masalahnya, ini menyangkut acara besar dimana aku dan seluruh keluargaku akan menjadi pusat perhatian tamu-tamu lain. Itu sedikit mengganggu. Bagiku yang sudah terbiasa dipandang aneh oleh orang-orang di sekelilingku, berada sejauh mungkin dari keramaian adalah satu-satunya cara untuk menghindari pandangan yang menyebalkan itu. Tapi ini memang acara penting untuk ayahku, aku tahu dia begitu ingin seluruh keluarganya hadir dan merasakan kebahagiaan yang dirasakannya juga. Tapi...
" Cara, tolong dong... "
" Kau harus memanggilku ' kakak ', bodoh. "
" Iya, kakakku sayang... kau harus mau datang. Ini demi ayah, bukan orang lain. "
Aku terdiam selama beberapa saat lagi, tidak jelas juga sedang memikirkan apa. Sebenarnya aku tidak ingin datang ke acara itu karena aku tidak ingin ayah dan ibuku malu karena anak mereka yang satu ini selalu menjadi bahan pembicaraan dan tertawaan bagi orang lain. Mereka hanya akan dipermalukan olehku, lebih baik mereka membawa Carlo atau Nina saja yang jauh lebih membanggakan dari pada aku. Tapi... kalau mereka memang mau aku ikut dan mempermalukan mereka, kalau mereka tetap mau aku hadir di acara itu dan mengacaukan suasana, kenapa tidak? Bukan aku yang menginginkannya, tapi mereka yang memintaku jadi aku tidak bisa disalahkan kalau ternyata nantinya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Lagipula, sebenarnya aku memang menyayangi ayahku dan tidak ingin membuat beliau sedih. Jadi akhirnya aku menghela napas panjang lalu menjawab:
" Baiklah, aku mau—"
" Bagus. " Nina memotong perkataanku, padahal aku belum selesai. Dia berdiri sambil bertepuk tangan lalu berkata lagi: " Kalau begitu, besok malam kau harus tampil cantik. Jangan biarkan rambutmu bau asap seperti biasa. " Nina menggoyangkan tongkat sihirnya sekali lagi dan pintu menjeblak terbuka lalu mengatakan sesuatu lagi sebelum melenggang pergi.
" Oh, kalau kau ingin membelah dada binatang, lebih baik kau coba memakai katak, jangan kelinci. Aku dengar dada katak lebih mudah dibelah dari pada kelinci. " Lalu dia menutup pintu kamarku dengan lambaian tongkatnya lagi.
" Dasar sok pamer. " Umpatku kesal sambil memandang pintu kamarku yang baru saja mengayun tertutup.
# # #
" Ayolah nona, saya mohon. Anda harus segera mengenakan gaun anda, kalau tidak anda akan terlambat datang diacara pelantikan ayah anda. "
Miranda atau yang sering aku panggil Mira adalah pelayanku yang sudah menjadi sahabat bagiku karena dia sebaya denganku. Dia sudah bersamaku sejak aku dan dia sama-sama masih kecil, jadi kami bukan saja memiliki hubungan sebagai majikan dan pelayan tapi juga sebagai teman masa kecil dan sahabat. Dia satu-satunya yang paling bisa mengerti aku, mungkin karena dia takut dipecat, tapi aku merasa paling nyaman kalau berada di dekatnya. Soalnya dia tidak pernah meledekku, menghinaku atau menganggap aku orang aneh.
Saat ini dia sedang berjuang sekuat tenaga untuk membujukku agar mau mengenakan gaun yang sudah dipilihkannya untukku sementara aku sendiri masih begitu sibuk duduk diatas meja panjangku dan memandangi buku tebal dan katak yang sudah berhasil aku belah dadanya dan dia masih hidup.
" Nona, aku mohon—"
" Aku tahu, Mira. Beri aku waktu beberapa menit lagi. "
Mira harus puas dengan jawabanku yang satu itu karena aku tidak bisa dibantah lagi. Sejauh ini aku sudah berhasil melakukan eksperimenku kali ini. Jantung katak ini masih berdetak, dan sekarang aku hanya ingin tahu bagaimana caranya jantung ini bisa aku hentikan selama beberapa waktu. Kalau itu bisa aku lakukan dengan tidak benar-benar membunuh katak itu sehingga jantung katak itu akan kembali berdetak setelah beberapa waktu, mungkin aku bisa memasuki jiwa katak ini dan merasakan apa yang dialaminya saat berada di beberapa waktu tanpa kehidupan itu. Jadi dengan hati-hati aku meraba sisi jantung katak itu dengan jari tanganku, tapi tidak sengaja aku meraba terlalu keras. Jantung katak itu berdetak kaget dalam sekali gerakan tapi lalu berhenti berdetak sama sekali. Aku mendecak kesal lalu menggerbak meja dengan kedua tanganku. Katak itu mati, aku gagal lagi.
Mira melonjak kaget mendengar aku menggebrak meja dengan sangat kencang, karena saat itu dia sedang duduk termenung di atas tempat tidurku, melamunkan sesuatu, entah apa, yang membuat senyumnya mengembang. Saat sadar aku sudah tidak membaca atau melakukan apa-apa lagi, Mira langsung menghampiriku dan menyodorkan gaun yang akan aku kenakan dengan terburu-buru, takut aku berubah pikiran lagi dan mulai melakukan percobaan lain. Sebenarnya Mira tidak perlu terburu-buru begitu, eksperimenku yang satu ini lagi-lagi gagal, aku belum tahu harus melakukan apa lagi.
" Kau tadi memikirkan Rama lagi, kan? " Tanyaku kepada Mira dengan nada penuh menggoda karena ingin mengalihkan rasa kesalku karena gagal lagi. Rama adalah kekasih Mira. Aku yakin Mira tadi memikirkan pacarnya itu, kalau tidak bagaimana mungkin senyum aneh bisa mengembang di bibirnya tadi? Mira terkejut mendengar pertanyaanku lalu menjawab sambil tetap sibuk membantuku berganti pakaian.
" Tidak nona. "
" Jangan bohong, wajahmu memerah. " Jawabku dan wajah Mira berubah jauh lebih merah lagi. " Wah-wah... orang yang jatuh cinta... aku bingung sekali kenapa semua orang bisa merasakannya. " Lanjutku dengan maksud menggoda Mira lagi. Aku ingin tahu wajahnya bisa semerah apa.
" Apa nona tidak pernah jatuh cinta? " Mira malah menanggapiku dengan bertanya, pertanyaannya seperti itu lagi. Aku hanya menjawab dengan cuek.
" Belum. Dan kalau dipikir-pikir lagi, aku tidak mau merasakannya. "
" Memangnya kenapa? " Mira bertanya lagi dengan lebih penasaran sambil mengancingkan gaunku di punggung.
" Karena aku tidak mau menjadi orang gila. " Jawabku dengan cepat. " Kalau aku jatuh cinta, maka aku akan sering duduk termenung dan tiba-tiba tersenyum seperti orang gila, seperti kau tadi. " Mira tersenyum mendengar jawabanku.
" Lagipula, aku juga akan menderita nantinya. " Lanjutku, kali ini lebih pelan.
" Menderita kenapa? " Tanya Mira lagi yang sekarang sedang menyisir rambut ikalku.
" Banyak sekali orang yang merasakan jatuh cinta tapi malah menderita pada akhirnya. Aku tidak mau menderita, jadi lebih baik aku tidak pernah jatuh cinta. "
Mira malah menanggapi perkataanku dengan menggeleng-gelengkan kepala dan tersenyum, tapi lalu berkata lagi: " Tidak semua orang yang mengalami jatuh cinta itu akan menderita, nona. Anda harus merasakannya sendiri supaya bisa mengerti bagaimana rasa jatuh cinta yang sebenarnya. "
Wajah Mira kelihatan begitu bahagia, matanya berbinar-binar dan senyumnya lagi-lagi terkembang saat menjawab kata-kataku tadi. Aku tidak pernah melihatnya seperti ini, dia seperti bercahaya.
" Sudahlah. Toh aku tidak akan bisa merasakannya karena aku terlalu sibuk mengurusi eksperimenku. Tidak perlu dibahas lagi, kau sendiri yang bilang kalau aku akan terlambat kalau tidak buru-buru. "
Setelah aku ingatkan seperti itu Mira akhirnya seperti tersadar dari lamunannya dan mulai terburu-buru lagi menemaniku berdandan.
Acara pelantikan ayahku berjalan cukup meriah. Aku datang terlambat sehingga melewatkan acara puncak saat ayahku mengucapkan sumpah tugasnya, tapi tampaknya ayahku memaafkanku dan memelukku dengan gembira saat melihatku ditengah perayaan yang diadakan setelah acara puncak itu. Ayahku tampak begitu ceria dengan segelas sampange di tangan kanannya, memeluk semua rekan yang menyelamatinya. Ibuku berada di samping ayahku sepanjang malam, mengucapkan terima kasih berulang-ulang dan tak berhenti tersenyum. Carlo dan Nina juga sama sibuknya dengan ayah dan ibuku, mereka terus saja menyambut uluran tangan tanda selamat yang disampaikan hampir setiap tamu yang mereka temui. Dan sementara itu, dimana aku? Aku berada dipojok ruangan, mencoba menyendiri dan menemukan sedikit ketenangan di sana. Walaupun tetap tidak bisa menghindari ucapan selamat yang diucapkan para tamu yang kebetulan melihatku di pojok ruangan, paling tidak aku bisa sedikit bersembunyi dari pandangan orang-orang disini. Aku tahu, setelah mereka memberikan selamat kepadaku, mereka akan berkumpul membentuk lingkaran dan mulai membicarakan semua sifat anehku.
Sudahlah, aku tidak perduli. Aku sudah cukup lelah menghindari orang lain, jadi aku hanya bisa bersandar di dinding ruangan dan meneguk cocktail yang aku ambil dari sebuah nampan yang melayang untuk menawarkan minuman kepada para tamu melewatiku. Cokctail ini asam juga, tapi paling tidak berhasil membuatku sedikit tenang. Aku pejamkan mataku dan menarik napas panjang untuk menenangkan diri.
" Akhirnya Antonius berhasil mendapatkan posisi ini, dia pasti puas sekali. Posisi ini sudah sangat lama dia inginkan. "
Ya ampun, tidak bisakah aku mendapatkan sedikit ketenangan disini? Baru saja aku kira bisa bernapas lega, tapi ternyata aku dipaksa mendengar orang lain yang lagi-lagi membicarakan keluargaku. Kali ini ayahku yang menjadi sasarannya, ternyata bukan hanya aku yang menjadi bahan gosip. Yang aku dengar barusan adalah suara seorang laki-laki yang sudah berumur, lalu seorang wanita membalasnya.
" Benar, kau lihatkan bagaimana bahagianya raut wajah Antonius? Dan kau juga lihat wajah istrinya? Senyumnya tidak bisa berhenti. "
Lalu seorang wanita lain yang memiliki suara lebih serak menanggapi. " Benar, mereka kelihatan bahagia. Tapi coba lihat gaun berwarna biru yang digunakan Mala itu? Baju itu benar-benar norak dan membuatnya kelihatan terlalu kurus. "
Tadinya aku ingin pergi mencari sudut ruangan lain yang lebih tenang, tapi saat aku mendengar mereka menyinggung mengenai ibuku, aku langsung mengurungkan niatku untuk pergi. Aku tidak tahu orang lain bisa membicarakan ibuku seperti itu, selama ini aku kira mereka begitu mengagumi ibuku yang selalu tampil cantik, bukan menghujat ibuku dari belakang. Ini menarik.
" Dan pakaian yang dipakai Antonius juga membuatnya kelihatan jauh lebih tua. " Wanita yang pertama menanggapi lagi, diikuti dengan gumam setuju wanita yang bersuara serak. Aneh sekali, menurutku ayahku kelihatan ganteng memakai pakaian yang dikenakannya sekarang.
" Dan kalian lihat putra-putri mereka juga datang dan kelihatan bahagia, kan? " Suara laki-laki yang pertama terdengar lagi. Ini dia, mereka pasti akan mulai membicarakanku.
" Anak gadisnya yang aneh itu, siapa namanya? Oh iya, Cara. Ternyata dia datang juga, aku kira dia tidak akan datang ke acara ini. "
Lihat kan, aku bilang juga apa? Aku adalah topik pembicaraan mereka yang paling menarik, tidak bisa dipungkiri lagi.
" Dua anaknya yang lain juga datang, kan? Carlo dan Nina, mereka kelihatan ganteng dan cantik. " Wanita dengan suara serak menanggapi lagi yang langsung ditanggapi dengan seru oleh wanita yang pertama lagi.
" Ngomong-ngomong mengenai kedua anak itu, apakah kau tahu kalau Carlo ternyata menjalin hubungan dengan seorang wanita yang bekerja di pub pinggir kota? "
Hah, yang benar?!
" Aku juga dengar tentang itu. " Wanita bersuara serak menanggapi lagi. " Dan kau dengar kabar mengenai Nina? Dia berhubungan dengan dosennya sendiri yang berumur jauh lebih tua darinya! "
Wah, ini menjadi sangat menarik. Aku tidak tahu ada gosip mengenai Carlo dan Nina yang satu ini. Carlo berpacaran dengan gadis pub dan Nina berpacaran dengan dosen tua, bagaimana kalau gosip ini ternyata benar dan didengar oleh ayah dan ibuku? Ternyata gosip-gosip seperti ini bisa berkembang sampai sejauh ini, aku tidak menyangka bisa seperti ini.
" Bagaimana rasanya mendengar orang lain membicarakanmu, nak? "
Aku kaget sekali mendengar suara seorang laki-laki di sampingku. Aku buru-buru menengok ke asal suara dan menemukan seorang laki-laki tua, mengenakan jas hitam dan kemeja putih bersandar di sampingku. Bibirnya di hiasi senyum dan rambut hitamnya yang di selingi uban berwarna putih di tata rapi dengan belah tengah. Aku sempat mengira kalau laki-laki tua ini adalah dosen Nina yang dibicarakan wanita-wanita tadi, tapi tentu saja itu tidak mungkin, jadi buru-buru aku singkirkan pikiran konyol itu dan membalas sapaannya.
" Aku sudah terbiasa dengan itu. "
" Ah—sepertinya namaku juga disebut-sebut di sana. "
Laki-laki tua itu menyelesaikan kata-katanya lalu diam untuk mendengarkan. Aku juga ikut terdiam untuk ikut mendengarkan dengan penasaran.
" – Cara, gadis itu masih terus mengurung diri sama seperti si tua Klain. Mereka berdua sama-sama aneh dan sama-sama mengatakan mengenai kematian. Begitu menyeramkan... " Wanita bersuara serak itu menyelesaikan perkataannya dengan dramatis. Sedangkan aku, setelah selesai mendengar lalu menatap laki-laki tua di sebelahku yang tadi menyapaku duluan.
" Jadi, anda yang bernama Prof. Klain? "
" Mereka memanggilku begitu. " Jawab Prof. Klain sambil tersenyum dan mengangkat gelas cocktailnya.
Aku pernah mendengar berbagai cerita mengenai laki-laki yang satu ini. Dia adalah penyihir aneh yang menjadi bahan gosip para penyihir lain, sama seperti aku. Tapi bedanya aku seorang peramal, bukan penyihir. Dan sama seperti aku juga, Prof. Klain sangat tertarik dengan dunia kematian. Dia sudah melakukan berbagai eksperimen aneh dan sudah mencapai suatu kesimpulan bahwa kematian bukanlah akhir dari segalanya. Orang-orang menganggapnya sudah gila saat dia mengatakan pendapatnya itu kepada masyarakat, tapi bagiku Prof. Klain adalah idolaku. Eksperimennya luar biasa, teori-teori yang ditemukannya sangat diluar dugaan dan mengakjubkan dan dialah yang membuatku ingin mengetahui hal-hal aneh yang terjadi di sekitar kematian. Wah, Prof. Klain yang begitu aku idolakan ada di sampingku!
" Dan kau adalah Caraveena, benar? Anak gadis keluarga Veena yang terkenal itu? " Prof. Klain bertanya kepadaku setelah sekian lama aku terdiam karena kaget, lalu aku mengangguk untuk menjawab pertanyaannya itu.
" Kau anak gadis yang menarik, kau tahu? Dan keingin tahuan kita yang sama mengenai dunia kematian membuatku ingin sekali bertemu denganmu. Kau ingin berbagi pengetahuan denganku? " Prof. Klain berkata lagi dan aku mendengarnya dengan penuh takjub dan tidak percaya. Dan saat Prof. Klain sudah selesai berbicara sehingga sekarang adalah giliranku menjawab, aku malah menjawab dengan terbata-bata.
" Ten-tentu! Tentu saja aku mau! " Aku mulai bisa berbicara lancar lagi. " Aku begitu kagum dengan hasil teori anda tentang kematian yang bukan akhir dari kehidupan itu! Aku sangat setuju malah! "
" Benarkah? "
" Iya, benar! Aku sangat senang kalau bisa membagi apa yang sudah aku dapat dari penelitian-penelitianku sendiri kepada anda. Aku—"
" Cara, kemana saja kau? " Tepat pada saat itu Carlo datang menghampiriku dan memotong pembicaraanku. Wajahnya kelihatan kesal dan sedikit berkeringat.
" Aku mencarimu kemana-mana, bodoh! Ayah dan ibu mencarimu, mereka ingin kita berkumpul bersama mereka. " Carlo berkata dengan kesal kepadaku tanpa perduli dengan Prof. Klain yang berdiri di sampingku.
" Tapi aku—"
" Tidak ada waktu, ayo cepat! "
Sepertinya Carlo begitu terburu-buru, dia bahkan tidak mau mendengar jawabanku dan langsung pergi begitu saja. Aku menatap Prof. Klain lagi lalu berkata dengan penuh penyesalan.
" Aku harus pergi. "
" Kelihatannya memang begitu. Kalau kau memang tertarik berbagi cerita denganku, kau tahu kemana bisa mencariku. " Prof. Klain menjawab dengan penuh kesabaran lalu berpamitan sambil mengangkat gelas cocktailnya tinggi-tinggi dan melangkah pergi. Aku terdiam di sana untuk beberapa saat, tidak yakin harus bersikap bagaimana karena semua kejadian yang baru saja terjadi begitu cepat berlalu, seperti mimpi. Tapi lalu aku melihat Carlo melambaikan tangannya dengan kesal di ujung ruangan, jadi aku berjalan menghampirinya.
# # #