DISORIENTASI TOKOH

Pernahkah kalian berada di situasi saat kalian menonton film Real Steel yang dibintangi Hugh Jackman sang Wolverine dan membayangkan bahwa tokoh yang diperankan Jackman akan mengeluarkan cakar adamentiumnya di tengah-tengah cerita dan menghancurkan semua robot yang ada lalu mengambil cerutunya dan kembali bergabung dengan teman sesama mutannya?

Aneh bukan? Well, kira-kira seperti itulah yang saya maksud dengan disorientasi tokoh. Masih belum 'ngeh' juga?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia atau yang disingkat dengan KBBI, disorientasi sendiri berarti kekacauan kiblat; kesamaran arah: pandangan (yang) akan timbul apabila terdapat kesenjangan antara organisasi sosial dan sistem nilai kebudayaankehilangan daya untuk mengenal lingkungan, terutama yang berkenaan dengan waktu tempat dan orang.

Secara gamblang, disorientasi tokoh yang saya maksud adalah ketika kita terjebak di dalam situasi di mana saat kita sedang menonton film aktor atau aktris favorit dan membayangkan bahwa aktor atau aktris tersebut akan kembali memerankan tokoh yang sebelumnya pernah mereka perankan.

Situasi ini bisa kita alami jika terdapat jarak yang terlalu dekat antara dua film atau lebih yang diperankan oleh satu pemeran yang sama. Atau situasi serupa juga dapat terjadi jika film tersebut diperankan oleh aktor atau aktris yang pernah memerankan tokoh yang cukup ikonik dan sulit untuk dilupakan begitu saja. Contoh yang paling mudah adalah tokoh yang diperankan oleh Daniel Radcliffe, sang Harry Potter. Jika Daniel Radcliffe bermain di film lain maka kita tidak akan bisa mengenyahkan bayangan Harry Potter dari dirinya.

Ini merupakan sebuah anugerah sekaligus kutukan bagi sang aktor atau aktris itu karena sekali mereka memerankan tokoh yang sangat ikonik dan melekat di hati para penonton maka akan sangat sulit melepaskan imej tersebut dan 'move on'. Tapi di sisi lain namanya yang melambung akibat peran ikonik tersebut akan memberi keuntungan seumur hidup pula.

Tidak percaya? Robert Pattinson yang terkenal dengan tokoh Edward Cullen sang Vampire tampan pun pernah berkata di salah satu wawancaranya bahwa dia sama sekali tidak suka dengan tokoh yang dia perankan dan berharap tidak pernah menerima tawaran itu. Daniel Radcliffe sendiri membutuhkan waktu yang lama dan usaha yang ekstra keras untuk dapat menghilangkan imej Harry Potter yang telah dia perankan selama lebih dari sepuluh tahun. Sedangkan Emma Watson, sang pemeran Hermione Granger dalam seri Harry Potter tidak mau lagi memerankan tokoh yang sama.

Hehehe.... rumit yah....

Situasi seperti ini akan berdampak sedikit berbeda jika dilihat dari kaca mata perfilman dalam negeri. Di perfilman nusantara disorientasi tokoh yang saya alami terjadi karena seorang aktor atau aktris yang memerankan tokoh yang berbeda di dua film yang berbeda dalam jarak yang berdekatan dengan karakteristik tokoh yang mirip.

Mau saya beri contoh?

Sebenarnya saya tidak mau menyebutkan satu atau dua nama aktor atau aktris dalam negeri, karena jujur saja, saya tidak terlalu mengikuti perkembangan perfilman dalam negeri. Tapi saya yakin kalian pasti bisa menyebutkan sendiri satu-dua atau bahkan tiga nama aktor atau aktris yang sangat sering hilir mudik di layar bioskop dengan berbagai judul film yang berbeda. Dan ini membuat saya miris. Maksud saya, please! Memangnya tidak ada aktor atau aktris lain yang mempunyai potensi untuk bisa berakting dengan baik? Memang sih akting mereka memang mumpuni, tapi tetap saja....

Tapi ada lagi fenomena lain yang tidak kalah menariknya untuk disimak dan sering kali memicu saya mengalami disorientasi tokoh. Biasanya fenomena yang satu ini terjadi saat saya menonton film-film yang dibintangi oleh aktor atau aktris tertentu yang memiliki nama besar melebihi karakter ikonik yang pernah mereka perankan. Biasanya lagi karakter tokoh yang mereka perankan memiliki tipe yang mirip sehingga ending cerita pun akan dapat mudah ditebak. Dan biasanya lagi dan lagi sang aktor atau aktris lebih dominan karakternya dibandingkan dengan karakter tokoh yang mereka perankan.

Fenomena ini sering saya alami jika saya menonton film yang dibintangi oleh Tom Cruise atau Will Smith. Apakah kalian sudah bisa melihat polanya? Aktor yang saya sebutkan tadi memang cenderung 'menguasai' film yang mereka perankan. Sehingga pada akhir cerita saya akan merasa menonton akting yang 'Tom Cruise banget' atau 'Will Smith banget'.

Jangan salah sangka, fenomena ini bukanlah suatu hal tabu yang sangat menyebalkan untuk saya rasakan karena sebagian besar saat fenomena ini terjadi saya toh masih tetap bisa menikmati film yang saya tonton. Tapi jika mau dinilai lebih kritis dengan kaca mata yang lebih cerewet, hal ini tentulah sedikit mengganggu. Dan sudah tentu fenomena seperti ini tidak akan bisa membawa sebuah film melangkah ke ranah tingkat perfilman yang lebih tinggi, semisal Oscar atau Golden Globe.

Kalau menurut kalian bagaimana?
Apakah kalian juga sering mengalami disorientasi tokoh seperti saya?